Posts tagged ‘pangasius’

Patin Bumbu Rica

Patin Bumbu Rica

Patin Bumbu Rica

Foto: Agus Dwianto

Bahan:
2 ekor ikan patin
1 bh jeruk nipis, ambil airnya
1 sdm garam
1 lt minyak, untuk menggoreng

Bumbu Rica:
3 sdm minyak, untuk menumis
10 btr bawang merah, iris
5 siung bawang putih, iris
100 gr cabai merah besar, tumbuk kasar
2 bh tomat, potong-potong
2 btg serai, iris tipis
2 cm lengkuas, memarkan
1 lbr daun pandan, iris halus
1 sdt garam
½ sdt penyedap rasa

Cara Membuat:
Bersihkan ikan, potong menjadi 3 bagian, lumuri dengan air jeruk nipis dan garam, diamkan selama 10 menit.

Panaskan minyak, goreng ikan sampai matang dan kering. Angkat dan tiriskan. Sisihkan.

Bumbu Rica : Panaskan minyak, tumis bawang bawang merah dan bawang putih sampai harum dan matang. Masukkan cabai merah, tomat, serai, lengkuas, daun pandan, garam, dan penyedap rasa, aduk rata, masak sampai matang.

Masukkan ikan patin yang sudah digoreng, aduk rata. Sajikan hangat bersama nasi.

Resep : Dahrani Putri | Uji Dapur : Dewi | Penata Saji : T. Firta Hapsari | Foto : Agus Dwianto

sumber : tabloidnova.com

Patin 2015: Analisa Kosong.

Target pemerintah untuk produksi ikan patin tahun 2013 gak main-main 1,1 juta ton. Dengan target ekspor sekitar 5 Milyar USD. Angka yang fantastis 2x lebih banyak dari tahun 2012.

Produksi Patin Indonesia mulai berkembang pesat sejak tahun 2008, saat produksi Patin dari Vietnam banyak ditolak masuk ke berbagai negara dengan sebab tidak memenuhi standar sehat untuk dikonsumsi.

Akibat penolakan tersebut, industri Patin di Vietnam jadi issue rumit, pembudidaya banyak yang tidak sanggup membayar pinjaman Bank, pihak bank menolak permohonan pinjaman baru untuk industri patin.

Pada 20 Juni 2011, Menteri Kelautan dan Perikanan Bapak Fadel Muhammad, memberlakukan Peraturan Menteri nomer PER.15/MEN/2011 tentang PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN YANG MASUK KE DALAM WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA.

Dengan diberlakukan PER.15/MEN/2011 tersebut maka import Patin yang masuk ke Indonesia makin berkurang.

Wal hasil produksi Patin yang banyak di negeri Vietnam, tidak sebanding dengan pasar ekspor yang makin merosot sejak tahun 2008. (vietnamexport.com)

Pemerintah Vietnam tidak tinggal diam, mereka cepat berbenah, melibatkan Aquaculture Stewardship Council (ASC), badan independen non profit yang bermarkas di Belanda, membuat ASC PANGASIUS STANDARD yang dipakai untuk memperbaiki kwalitas produksi. Standar tersebut disusun dari tahun 2007 sampai 2011 hasil berdialog dengan lebih dari 600 orang stakeholder di industri patin.

Sementara untuk perbaikan genetik indukan ikan Patin yang bebas dari virus dan antibiotik, dimana keduanya menjadi issue utama terpuruknya industri Patin Vietnam.Maka pada Juli 2013 pemerintah Vietnam mengeluarkan KepMen no.1673, tentang Pangasius Broodstock Management.(pangasius-vietnam.com)

Nantinya induk pilihan akan dipasang Chip untuk mendukung manajemen broodstock yg terkontrol, sehingga nantinya akan diproduksi produk olahan ikan patin yang bebas virus, antibotic dan pestisida. Sehingga tidak ada alasan produk industri Patin Vietnam ditolak untuk masuk pasar dunia seperti masa kejayaannya sebelum tahun 2008.

Jika proyek tersebut berjalan baik, maka pada tahun 2015 pembudidaya patin di negeri tercinta Republik Indonesia harus segera berbenah untuk bisa bersaing secara profesional dengan negeri asal ikan Patin. Dukungan pemerintah sangat dibutuhkan untuk pembudidaya meningkatkan produksi bukan hanya pada kwantitas saja tapi harus juga menekankan pada kwalitas.

Adalah tanggung jawab semua stakeholder perikanan untuk selalu ramah terhadap lingkungan. Bijak dalam menggunakan antibiotik. Lebih mengutamakan kwalitas bibit, kwantitas diurutan berikutnya.

image

Semoga perikanan Indonesia terus dapat menjadi penyumbang devisa bagi negeriku tercinta ini.

Amiiin.

Ada apa dengan Agustus 2013

bismillah

Pasir Gaok, 5 Syawal 1434 H.

Sudah berlalu Ramadhan dengan segala kemuliaannya, sebulan penuh menahan segala asa dan keinginan untuk berkarya. Namun penghormatan terhadap bulan kerinduan, yang mana didalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, ikhlas tertunda semua harapan.

Syawal pun datang bertepatan dengan 9 Agustus 2013, dimulainya cerita baru dengan semangat dan kepemimpinan yang baru untuk kembali memproduksi bibit patin yang bermutu.

Senin, 2 September 2013, Insya Allah panen bibit 3/4 inci.

Chronological Journal

clock_e0

Kamis, 29 Agustus 2013

  • Grading bibit patin pemijahan tanggal 14 Agustus 2013,

Jum’at, 23 Agustus 2013

  • Tanda-tanda kehidupan mulai bermunculan, Alhamdulillah ala kullihal, Hatching Rate kembali dibawah standard, ini kemungkinan disebabkan oleh kondisi indukan yang memang belum saatnya untuk dipijahkan.

Rabu, 21 Agustus 2013

  • Pemijahan kedua dibulan Agustus kembali dilakukan,

Jum’at, 16 Agustus 2013

  • Tanda-tanda kehidupan telah tampak,

Kamis, 15 Agustus 2013

  • Kehidupan baru bibit patin dimulai
  • Alhamdulillah 25% kapasitas Farm-1 sudah terisi,
  • Insya Allah pada tanggal 19 Agustus 2013 dilakukan seleksi induk kembali.

Rabu, 14 Agustus 2013

  • Stripping time
  • Tebar telur 34 Aquariums

Selasa, 13 Agustus 2013

  • Persiapan amunisi
  • Peralatan induced breeding

Senin, 12 Agustus 2013

  • Seleksi induk betina dan jantan
  • Pemberokan

dolphin-leaping-out-of-water-doing-an-aerial-loop

Minggu, 11 Agustus 2013

  • Pengisian tandon
  • Cek dan perbaikan semua instalasi dan system

pH air tandon

Salam,

Pasir Gaok Fish Farm

Contact Me

Pasar Ritel Buru Ikan Patin Lokal Impor Diperketat

Karawang – Kebijakan pemerintah yang memperketat impor ikan membuat pasar ritel modern mengalihkan pasokan produk khususnya untuk ikan patin ke produk lokal. Sebelumnya, hampir sebagian besar produk-produk ikan patin didatangkan dari Vietnam. Hal tersebut seperti diungkapkan Senior Merchendiser Manager Fresh Food Lotte Mart Widya Sulaksono saat ditemui usai menghadiri panen Udang Vaneme Nusantara I di Kerawang, Jawa Barat, akhir pekan kemarin. Ia menuturkan bahwa minat konsumen terhadap ikan patin cukup besar. Dalam sebulan, pihaknya mengaku telah berhasil menjual 400 kg vilet patin. “Ikan patin memang belum termasuk 5 besar produk fresh good yang digemari masyarakat. Namun selalu ada peningkatan,” tuturnya.

Pada Agustus nanti, pihaknya memastikan bahwa produk vilet ikan patin lokal sudah bisa ditemui di store Lotte Mart yang tersebar di 8 Lotte Mart. “Saat ini baru ikan patin lokal yang telah kita jual. Namun kedepannya, kami juga akan menjual udang, ikan gurame, ikan nila lokal,” ucapnya.

Sementara itu, salah satu distributor untuk produk fresh good yaitu PT Adib Food Supplies memastikan bahwa pihaknya telah siap untuk mendistribusikan vilet ikan patin untuk pasar-pasar ritel. Saat ini, pihaknya telah mendistribusikan beberapa produk segar seperti ikan patin, ikan lele, dan gurame kepada beberapa pasar ritel seperti Hypermart, Hero, Giant, Carefour dan Ranch Market. General Manager PT Adib Food Supplies Ahmad Shodiq mengaku kapasitas produksi perusahaannya bisa mencapai 5 ton sehari. Namun, hingga saat ini baru mencapai 1,5 ton. “Dengan bisa memasok ke Lotte Mart, tentunya akan bertambah lagi produksinya,” katanya.

Hingga kini, pihaknya masih mengandalkan pasokan ikan patin dari Balai Layanan Umum Perikanan Budidaya (BLUPBB) Kerawang. Hal itu lantaran kualitas ikan dari tambak BLUPBB sudah terjamin. Bahkan pihaknya sudah merencanakan untuk diekspor menyusul serangan virus yang telah melanda salah satu negara ekportir terbesar ikan patin yaitu Vietnam. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto membenarkan bahwa pemerintah telah memperketat impor ikan patin pada tahun ini. Bahkan, menurut Slamet, kuota impor ikan patin pada tahun ini sudah habis. Akan tetapi kuota impor pada tahun lalu masih tersisa sehingga pengusaha masih memanfaatkan sisa impor tahun lalu untuk tahun 2013. “Izin impor untuk 2013 sudah habis. Namun jatah di tahun lalu masih ada. Makanya hal itu dimanfaatkan,” lanjutnya.

Slamet menuturkan bahwa saat ini produksi ikan patin nasional bisa mencapai 1 juta ton. Namun, pada triwulan I, pihaknya mendapatkan laporan baru mencapai 250 ribu ton. “Dengan diperketat impor dan serangan virus di Vietnam merupakan hal yang positif bagi produsen ikan patin nasional untuk bisa memproduksi lebih banyak sehingga bisa menjadi raja di rumah sendiri,” ucapnya.
 
Target Produksi

Sebelumnya, Slamet juga menegaskan bahwa untuk mencapai target produksi ikan patin maka dibutuhkan pakan ikan sebesar 1,3 juta ton. Kebutuhan pakan ini terus meningkat menjadi 2,2 juta ton pada tahun 2014 karena target produksi patin juga meningkat menjadi 1,8 juta ton. Peningkatan kebutuhan pakan ikan seiring dengan peningkatan produksi ikan, tidak akan bisa dihindari. Untuk itu diperlukan adanya kerjasama antara pabrik pakan dan pemerintah, baik pusat dan daerah.

Menurut Slamet, pakan hingga saat ini masih menjadi kendala dalam budidaya perikanan. Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha budidaya ikan, hingga mencapai 70%  hingga  80%. Untuk itu ketersediaan pakan yang berkualitas, terutama dengan pendirian pabrik pakan ikan di dekat lokasi budidaya menjadi sangat penting.

Lebih lanjut lagi, Slamet menuturkan jenis daging patin Indonesia tidak ada masalah dan menunjukkan performance yang bagus. “Ini yang saya kira menjadi kesempatan ke depan untuk diekspor. Kabar baiknya Amerika Serikat saat ini menerima daging putih, dengan distopnya impor Vietnam,” lanjut dia. Sementara itu, terkait dengan masih rendahnya serapan pasar dunia akan patin dan produk olahan Indonesia, ia mengakui masih kurang ada industrialisasi atau hilirisasi patin.

sumber: NERACA.CO.ID