Posts tagged ‘Methylene blue’

KLASIFIKASI OBAT IKAN

Pada awalnya penggunaan obat, bahan kimia dan bahan biologi dalam budidaya perikanan baru dikenal di Indonesia terutama setelah adanya wabah penyakit Motile Aeromonas Septicemia (MAS) yang menyerang ikan mas pada tahun 1980 yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophyilla dan penyakit udang TSV (Taura Syndrome Virus), White Spot, Vibriosis. Wabah penyakit ini telah mengakibatkan kematian ikan yang menyebabkan para pembudidaya ikan mengalami kerugian. Di sisi lain perkembangan global dan berkembangnya ilmu pengetahuan tentang bahan-bahan yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia, membuat semakin selektifnya penggunaan obat, bahan kimia lainnya dalam kegiatan budidaya. Hal ini didorong oleh persyaratan standar yang ditetapkan negara tujuan ekspor terhadap seluruh produk perikanan budidaya. Terbukti dengan di blokirnya 49 coldstorage Indonesia yang tidak dapat lagi melakukan ekspor ke Eropa.

Untuk mengantisipasi dampak yang dapat ditimbulkan baik terhadap produk hasil budidaya maupun lingkungan, pemerintah Indonesia melakukan pengaturan terhadap peredaran dan penggunaan obat ikan, bahan kimia dan bahan biologi. Hal tersebut dimulai dengan menindaklanjuti Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.04/MEN/2012 tentang Obat Ikan seperti yang telah diubah dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 14/PERMEN-KP/2013. Kementerian Kelautan dan Perikanan telah meninjau kembali Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.20/MEN/2003 tentang Klasifikasi Obat Ikan dan diganti dengan KEPMEN N0. 52 Tahun 2014 yang dikeluarkan pada 19 September 2014. Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menetapkan klasifikasi obat ikan berdasarkan klasifikasi bahaya yang ditimbulkan dalam penggunaannya, yang terdiri atas obat keras, obat bebas terbatas dan obat bebas. Penetapan klasifikasi obat ikan dibuat dengan ketentuan:

1. OBAT KERAS, merupakan obat ikan yang apabila penggunaannya tidak sesuai dengan ketentuan dapat menimbulkan bahaya bagi ikan, lingkungan dan/atau manusia yang mengkonsumsi ikan tersebut;

2. OBAT BEBAS TERBATAS, merupakan obat keras untuk ikan yang diberlakukan sebagai obat bebas untuk jenis ikan tertentu dengan ketentuan disediakan dengan jumlah, aturan dosis, bentuk sediaan dan cara pemakaian tertentu serta diberi tanda peringatan khusus;

3. OBAT BEBAS, merupakan obat ikan yang dapat diperoleh dan dipakai secara bebas tanpa resep dokter hewan dan/atau rekomendasi dari ahli kesehatan ikan.

1. OBAT KERAS, merupakan obat ikan yang apabila penggunaannya tidak sesuai dengan ketentuan dapat menimbulkan bahaya bagi ikan, lingkungan dan/atau manusia yang mengkonsumsi ikan tersebut;

2. OBAT BEBAS TERBATAS, merupakan obat keras untuk ikan yang diberlakukan sebagai obat bebas untuk jenis ikan tertentu dengan ketentuan disediakan dengan jumlah, aturan dosis, bentuk sediaan dan cara pemakaian tertentu serta diberi tanda peringatan khusus;

3. OBAT BEBAS, merupakan obat ikan yang dapat diperoleh dan dipakai secara bebas tanpa resep dokter hewan dan/atau rekomendasi dari ahli kesehatan ikan.

Perlu diketahui bersama bahwa, obat ikan baru yang mengandung zat berkhasiat baru, atau berkhasiat lama tetapi indikasinya baru, atau mengandung kombinasi baru dari zat berkhasiat lama, atau formulasi baru termasuk zat tambahannya, diperlakukan sebagai obat keras.

A. OBAT KERAS, terdiri dari:

1. OBAT KERAS YANG DIPERBOLEHKAN YAITU:

a) Antimikroba (Antibiotik, Antibakteria Non Antibiotik, Antifungal dan Antiprotozoa)

1. Tetrasiklina, dengan zat aktif: Klortetrasiklina, Oksitetrasiklina dan Tetrasiklina

2. Makrolida, dengan zat aktif: Eritromisina

3. Kuinolon, dengan zat aktif: Enrofloksasina

b) Lain – lain

1. Anthelmentik, dengan zat aktif: Pyrantel pamoat, Levamisol dan Prazikuantel

2. Zat Pewarna, dengan zat aktif: Methylene blue, Basic Bright Green Oxalate, Acriflavine, Briliant Blue, Tartrazin, Alura Red, Ponceau-4R dan Sunset Yellow

3. Hormon, dengan zat aktif Gonadothropin Releazing Hormon (GnRH), Luteinizing Hormon Realizing Hormon analoque (LHRHa) dan Human Chorionic Gonadothropin (HCG)

4. Vaksin, dengan zat aktif Semua vaksin yang penyakitnya sudah ada di Indonesia

2. OBAT KERAS YANG DILARANG YAITU:

a) Antimikroba (Antibiotik, Antibakteria Non Antibiotik, Antifungal dan Antiprotozoa)

1. Amfenikol, dengan zat aktif: Thiamfenikol, Chloramfenikol dan Fluorfenikol

2. Nitroimidazole, dengan zat aktif: Dimetridazole, Metronidazole, Fluconazole dan Tinidazole

3. Nitrofuran, dengan zat aktif: Nitrofurantoin, Nifurpirinol, Furazolidone dan Nifurtoinol

4. Makrolida, dengan zat aktif: Virginiamisina, Tilosina dan Spiramisina

5. Polipeptida, dengan zat aktif: Zink Basitrasina

6. Lain-lain, dengan zat aktif: Ronidazole, Dapson, Chlorpromazine dan Cholichicin

b) Lain-lain

1. Zat Pewarna, dengan zat aktif: Malachite Green dan Leuco Malachite Green dan Crystal Violet (gentian violet) dan Leucocrystal Violet

2. Hormon, dengan zat aktif: Estradiol Sintetis (dietil stilbestrol, benestrol, dienestrol), 17α-Metiltestoteron dan HGPs (Hormon Growth Promotors)

3. Anestetika dan sedative, dengan zat aktif: MS-22 (Tricaine methanesulfonate)

4. Organofosfat, dengan zat aktif: Ether, Trifluralin, Dichlorvos dan Trichlorfon

5. Tumbuh-tumbuhan, dengan zat aktif: Aristolochia spp

6. Vaksin, dengan zat aktif: Semua vaksin yang penyakitnya belum ada di Indonesia

B. OBAT BEBAS TERBATAS, terdiri dari:

1. Desinfektan dan Antiseptik, dengan zat aktif: Merthiolat (Thiomersal), Benzalkonium Chlorida, Boric Acid, Klorin, Chloramine, Copper Sulfat, Formalin, Iodine, Povidone Iodine, Phenoxethol, Potassium Permanganat (PK, KMnO4), Persenyawaan Peroksida, Kresol, Thymol G,lutaraldehyde dan Sodium Thiosulfate

2. Lain-lain, dengan zat aktif: Vitamin Mineral dan Asam Amino

C. OBAT BEBAS, terdiri dari:

1. Imuno Stimulan;

2. Probiotik;

3. Prebiotik, Sinbiotik;

4. Obat Alami;

5. Enzym; dan

6. Asam organik.

Penggunaan obat ikan, bahan kimia dan bahan biologi harus tetap memperhatikan sifat fisik dan kimianya. Terdapat bahan-bahan kimia dan obat-obatan yang berdampak langsung terhadap kesehatan manusia dan sebagian lainnya tidak mudah terurai sehingga terakumulasi dalam tubuh ikan dan lingkungan perairan. Residu obat dan bahan kimia pada tubuh ikan dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit degeneratif dan menurunnya kekbalan pada tubuh manusia yang mengkonsumsinya. Penggunaan bahan biologi yang kurang tepat dapat menimbulkan gangguan pada lingkungan sumberdaya perikanan.

Produk perikanan juga rentan terhadap pengaruh pencemaran terutama senyawa logam berat. Keberadaan logam berat dapat terakumulasi dalam daging ikan dan jika dikonsumsi manusia dapat merusak kesehatan. Oleh sebab itu, sebagai masyarakat perikanan baik itu penyuluh perikanan, pelaku utama maupun pelaku usaha kita harus bersama-sama untuk mengsosialisasikan “KLASIFIKASI OBAT IKAN” seperti yang sudah tertera pada Kepmen No 52 Tahun 2014 ini dalam rangka meningkatkan produksi perikanan budidaya yang sehat, bermutu, dan aman untuk dikonsumsi dan berdaya saing. ndk108

Sumber: Kepmen No 52 Tahun 2014 tentang Klasifikasi Obat Ikan.

Gangguan Infeksi Pada Ikan

Penyakit akibat infeksi Organisme patogen yang menyebabkan infeksi biasanya berupa parasit, jamur, bakteri, dan virus. Produksi benih ikan secara masal masih menemui beberapa kendala antara lain karena sering mendapat serangan parasit Ichthyoptirus multifilis (white spot) sehingga banyak benih ikan yang mati, terutama benih yang berumur 1-2 bulan. Dalam usaha pembesaran ikan belum ada laporan yang mengungkapkan secara lengkap serangan penyakit pada ikan, untuk pencegahan, beberapa penyakit akibat infeksi berikut ini sebaiknya diperhatikan.

Penyakit parasit

Penyakit white spot (bintik putih) disebabkan oleh parasit dari bangsa protozoa dari jenis Ichthyophthirius Multifiliis.

white-spot

Ichthyophthirius Multifiliis.

Pengendalian:
Menggunakan Methylene Blue konsentrasi 1% (satu gram metil biru dalam 100 cc air). Ikan yang sakit dimasukkan ke dalam bak air yang bersih, kemudian kedalamnya masukkan larutan tadi. Ikan dibiarkan dalam larutan selama 24 jam. Lakukan pengobatan berulang-ulang selama tiga kali dengan selang waktu sehari.

Penyakit jamur

Penyakit jamur biasanya terjadi akibat adanya luka pada badan ikan, atau dengan kata lain penyakit jamur adalah penyakit sekunder yang diawali dengan luka pada badan ikan.

Penyebab penyakit jamur adalah Saprolegnia sp. dan Achlya sp. Pada kondisi air yang jelek, kemungkinan ikan terserang jamur lebih besar.

Saprolegnia

Saprolegnia Sp.

Pencegahan penyakit jamur dapat dilakukan dengan cara menjaga kualitas air agar kondisinya selalu ideal bagi kehidupan ikan. Ikan yang terlanjur sakit harus segera diobati. Obat yang biasanya dipakai adalah Malachite green oxalate sejumlah 2 –3 g/m air (1 liter) selama 30 menit.

Achlya

Achlya

Caranya rendam ikan yang sakit dengan larutan tadi, dan diulang sampai tiga hari berturut- turut.

Penyakit bakteri

Penyakit bakteri juga menjadi ancaman bagi ikan. Bakteri yang sering menyerang adalah Aeromonas sp. dan Pseudo-monas sp. Ikan yang terserang akan mengalami pendarahan pada bagian tubuh terutama di bagian dada, perut, dan pangkal sirip. Penyakit bakteri yang mungkin menyerang ikan patin adalah penyakit bakteri yang juga biasa menyerang ikan-ikan air tawar jenis lainnya, yaitu Aeromonas sp. dan Pseudomonas sp. Ikan patin yang terkena penyakit akibat bakteri, ternyata mudah menular, sehingga ikan yang terserang dan keadaannya cukup parah harus segera dimusnahkan.

Aeromonas Hydrophila

Aeromonas Hydrophila

Sementara yang terinfeks, tetapi belum parah dapat dicoba dengan beberapa cara pengobatan. Antara lain:

– Dengan merendam ikan dalam larutan kalium permanganat (PK) 10-20 ppm selama 30–60 menit,
– Merendam ikan dalam larutan Nitrofuran 5- 10 ppm selama 12–24 jam,
– Merendam ikan dalam larutan Oxytetracycline 5 ppm selama 24 jam.

sumber : http://www.iptek.net.id

Gangguan Kesehatan Bibit Ikan Patin

Prevention is better than cure

Dalam dunia kesehatan ada ungkapan yang sangat popular, Mencegah lebih baik dari pada mengobati. Begitu pula didunia perikanan, ungkapan tersebut harus benar-benar menjadi prioritas utama sebelum mulai memelihara ikan, khususnya pada usaha budidaya ikan Patin.

Langkah-langkah pencegahan penyakit :
(1) Menjaga kebersihan wadah pemeliharaan,
(2) Menjaga stabilitas suhu agar tetap panas antara 28-31°C,
(3) Pakan terbebas dari parasit dan jamur,
(4) Menjaga kondisi air agar tetap baik yang selalu bersih dari sisa pakan.

Gangguan kesehatan pada bibit patin dapat disebabkan oleh bakteri, parasit dan jamur. Cara pengobatan dan obat yang digunakan terhadap penyakit tersebut berbeda-beda.

Bakteri yang umum menyerang benih ikan patin adalah bakteri Aeromonas hydrophylla.
Tanda klinis bila ikan terserang penyakit ini bervariasi dan terkadang menyerupai penyakit lain,

Ciri ikan Patin terserang Aeromonas hydrophylla:
• Permukaan tubuh ikan ada bagian-bagian yang berwarna merah darah, terutama pada bahagian dada, pangkal sirip dan perut,
• Selaput lendir berkurang, tidak licin,
• Di beberapa bagian tubu ikan kulitnya melepuh,
• Sirip rusak dan pecah-pecah,
• Insang rusak dan berwarna keputih-putihan sampai kebiru-biruan,
• Ikan lemah, hilang keseimbangan serta mudah ditangkap.

Cara pengobatan:
Sebelum pengobatan dimulai, air disipon dari wadah pemeliharan sekitar 30%, buang endapan kotoran sebersih mungkin dan jangan dulu ditambahkan air.

aeromonas

Awal ciri keberadaan bakteri Aeromonas

Bila bibit Patin yang belum terinfeksi parah dapat diobati dengan Kalium Permanganat (PK) dengan dosis 2 gram/m3 dicampur dengan 1 liter air bersih aduk hingga rata lalu tebarkan pada wadah pemeliharaan. Biarkan selama 30 – 60 menit, dan amati perkembangan bibit Patin yang sakit. Apabila ikan memperlihatkan gejala keracunan – berenang tidak seperti biasanya, segera tambahkan air tendon ke dalam wadah pemeliharan.

Aeromonas

Akibat bakteri Aeromonas

Bila bibit Patin sudah cukup parah terinfeksi, gunakan pengobatan dengan Oxytetracyclin (OTC) sebanyak 5 gram/m3 dicampur dengan 1 liter air diaduk sampai obat larut sempurna, lalu tebarkan larutan tersebut ke dalam wadah pemeliharaan. Biarkan selama 3 jam, setelah itu tambahkan air segar. Pengobatan dengan OTC disarankan tidak lebih dari 3 hari.

Gangguan selain bakteri yang sering menghinggapi bibit Patin adalah parasit Ichthyopthirius multifilis atau yang umum dikenal dengan nama White spot. Jenis parasit ini sering muncul pada awal, akhir, dan selama musim hujan. Bila bibit Ikan patin terjangkit parasit ini terlihat jelas, kesat mata, bintik putih pada badan ikan, yang demikian pertanda parasit white spot sudah berkembang pesat. Dengan bantuan mikroskop dapat dilihat bentuk white spot seperti dalam pada gambar.

Cara pengobatannya gangguan parasit:

Sebelum melakukan pengobatan parasit white spot, diwajibkan menyipon air wadah pemeliharaan rata diseluruh dasar wadah. Mengingat spora white spot akan berada didasar wadah sebelum menetas dan gentayangan mencari inang sebagai media hidup. Hati-hati dengan air buangan dari wadah pemeliharaan bibit ikan yang terserang, jangan sampai mengalir ke wadah pemeliharaan ikan lainnya.

Bila serangan white spot belum begitu parah, dapat dicoba dengan pengobatan 1 ppt (1 kg/m3 air) garam ikan. Diasumsikan wadah pemeliharaan berisi 1 m3 air, gunakan 1 kg garam ikan ke dalam 2 liter air, kemudian aduk sampai sempurna lalu tebarkan larutan tadi ke dalam wadah pemeliharaan. Biarkan selama 1 jam dan lakukan pengawasan secara terus menerus. Apabila benih ikan terlihat gelisah, segera tambahkan air tandon ke dalam wadah pemeliharaan,

Bila serangan white spot sudah cukup parah, maka dapat juga menggunakan Formalin.
Pengobatan dengan formalin menggunakan dosis 10 ml formalin teknis per 1 m3 air wadah pemeliharaan benih patin. Formalin teknis adalah formalin dengan kadar 40%. Cara pengobatan, semprotkan 10 ml formalin ke dalam 1 m3 air dalam wadah pemeliharaan secara merata lalu aduk air dalam wadah pemeliharaan menggunakan alat dengan lembut, agar bibit ikan yang memang sudah stress semakin stress hingga memperburuk kondisi ikan. Biarkan selama 3 jam dalam pengawasan terus menerus, apabila ikan memperlihatkan gejala tidak kuat biarkan selama 3 atau 5 menit, lalu segera tambahkan air segar ke dalam media pemeliharaan. Pengobatan dengan Formalin sebaiknya dihindari mengingat sulitnya mendapatkan Formalin dipasaran akibat ulah oknum pengrajin makanan yang menggunakan formalin sebagai campuran bahan pengawet makanan.
.
Bila Formalin sulit didapatkan, gunakan Methylene blue. Caranya dengan mencampur 1 gram serbuk Methylene blue dengan 100 cc air bersih (matang). Selanjutnya campurkan 1-2 cc larutan tersebut untuk 1 liter air pemeliharaan kemudian diaduk secara merata dan biarkan selama 24 jam. Apabila masih belum sembuh bisa dilakukan pengobatan dengan cara diatas sampai 3 kali pengobatan.

Aeromonas hydrophylla dan White Spot adalah dua gangguan kesehatan pada bibit ikan yang paling menimbulkan kerugian, untuk itu pengetahuan pengenai siklus hidup kedua makhluk tersebut sangat membantu pembudidaya mencegah dan mengobatinya.

dolphin-leaping-out-of-water-doing-an-aerial-loop