Posts tagged ‘Ikan Patin’

Kelayakan Usaha Pembenihan Ikan Patin

FB Upload -indoor hatchery
Ikan patin (Pangasius spp.) merupakan salah satu komoditi perikanan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Permintaan lokal dan ekspor ikan patin semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan karena daging ikan patin memiliki kandungan kalori dan protein yang cukup tinggi, rasa dagingnya khas, enak, lezat, dan gurih. Ikan ini dinilai lebih aman untuk kesehatan karena kadar kolesterolnya rendah dibandingkan dengan daging ternak. Keunggulan ini menjadikan patin sebagai salah satu primadona perikanan tawar.

Ikan patin adalah ikan perairan tawar yang termasuk ke dalam famili pangasidae dengan nama umum adalah catfish. Populasi di alam ditemukan di sungai-sungai besar di daerah Sumatera, Kalimantan, dan sebagian di Jawa. Di daerah penyebarannya tersebut di Indonesia, terdapat sekitar 14 jenis ikan patin, termasuk ikan patin siam (Slembrouck et al., 2005). Selain di Indonesia, ikan patin juga banyak ditemukan di kawasan Asia seperti di Vietnam, Thailand, dan China. Diantara beberapa jenis patin tersebut, yang telah berhasil dibudidayakan, baik dalam pembenihan maupun pembesaran dalam skala usaha mikro, kecil, dan menengah adalah 2 spesies, yakni ikan patin siam (Pangasius hypophthalmus; nama latin sebelumnya adalah P. sutchi) dan patin jambal (Pangasius djambal).

Patin siam mulai berhasil dipijahkan di Indonesia pada tahun 1981, sedangkan patin jambal pada tahun 1997. Di samping itu terdapat patin hasil persilangan (hibrida) antara patin siam betina dengan patin jambal jantan, yang dilakukan oleh Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar (LRPTBPAT) dan dikenal dengan “patin pasupati” (Pangasius sp.). Ketiga jenis ikan patin tersebut mempunyai beberapa kelebihan dan kendala tersendiri dalam budidaya, baik dari kegiatan pembenihan maupun pembesaran. Kendala yang relatif besar dihadapi dalam pembenihan ikan adalah terhadap ikan patin jambal.

FB Upload -Pasir Gaok Animasi 3

Sumber : Bank Indonesia, Direktorat Kredit, BPR dan UMKM

Ikan Patin Bumbu Kuning

Ikan Patin dimasak bumbu kuning atau bumbu kunyit memang sudah bukan hal baru. Hal ini karena kunyit terutama untuk menghilangkan bau amis, yang lebih tinggi dari ikan patin. Bumbu lain yang diperlukan juga mudah, cara memasaknya yang sederhana, serta hasilnya yang pasti disukai oleh Anda dan keluarga.

image

Berikut resep cara memasak ikan patin dengan bumbu kuning atau menggunakan kunyit.

Bahan :

– 2 ekor ikan patin, buang isi perutnya dan bersihkan
– 1 batang sereh, memarkan
– 2 cm lengkuas, memarkan
– 1 sdm gula pasir
– 5 buah belimbing wuluh, belah menjadi 2 bagian
– Jeruk nipis
– Daun salam
– 2 buah Cabe merah besar, belah, buang bijinya, dan iris-iris menyerong
– 2 buah tomat sedang, masing-masing diiris menjadi 4 bagian
– Daun bawang, diiris menyerong (jika suka)
– 1/2 sdt garam atau secukupnya
– Minyak goreng secukupnya
– 400ml santan (jika tak suka santan bisa diganti air)

Bumbu dihaluskan :

– 3 siung bawang putih
– 6 siung  bawang merah
– 1 sdm ketumbar
– 5 cm  kunyit
– 2 biji kemiri

Cara Memasak :

Ambil garam dan perasan jeruk nipis pada wadah, Ulet ikan Patin hingga rata untuk menghilangkan amis, biarkan selama 15  menit.Tuangkan minyak kedalam wajan, panaskan  sebenar, lalu masukkan ikan Patin untuk digoreng hingga matang. Angkat dan sisihkan.
Panaskan sedikit minyak, kemudian tumis bumbu yang dihaluskan hingga mengeluarkan aroma sedap. Tambahkan santan, garam, gula, daun bawang iris, tomat iris, belimbing wuluh  dibelah, cabai merah iris, daun salam, dan sereh.
Masukkan ikan Patin yang sudah digoreng tadi, tutup agar bumbu meresap, dan masak hingga air meletup-letup.
Matikan kompor, dan biarkan dulu sejenak sebelum dihidangkan.

Demikian resep sederhana memasak ikan pating bumbu kuning atau mengunakan kunyit yang lezat dan pasti diukai oleh keluarga Anda.

Sumber: http://resepcaramemasak.org

Budidaya Ikan Patin di Desa Cipayung

Entah tepat atau tidak penggunaan kata ‘pedaging’ untuk petani budidaya ikan patin yang membeli bibit ikan dengan ukuran 10-15 ekor per kilogram dan dipanen 3 – 4 bulan kemudian saat ikan berukuran diatas 500 gram per ekor.

image

Desa Cipayung di Cikarang Timur banyak dijumpai empang bekas pengrajin genteng. Ukurannya beragam seadanya galian tanah membentuk kolam yang tergenang air.

Kang Uus salah satu petani disana bercerita, bahwa biaya sewa satu kolam ukuran 150 – 200 m2 sekitar 5 juta rupiah pertahun. Kemudian beliau merinci biaya yang dikeluarkan sampai panen

1. Pembelian Bibit 3 kwintal ukuran sangkal (10-15 ekor/kg) @ Rp 12.000/kg, total Rp. 3.600.000
2. Pelet 1 karung, Rp. 250.000 hanya untuk awal pemeliharaan.
3. Limbah ketering 20 mobil pick-up, perminggu 1 mobil @ Rp. 250.000/mobil, total Rp. 5.000.000.

Bibit ikan Patin sangkal (1kg isi 10 - 15 ekor)

Bibit ikan Patin sangkal (1kg isi 10 – 15 ekor)

Pada 20 minggu kemudian saat panen, biasanya dapat menghasilkan ikan Patin konsumsi kisaran 1.4 ton per kolam, dengan harga jual berkisar antara Rp.11.000 – Rp.12.000 /kg. Total panen dalam 20 minggu diatas 15 juta rupiah. Untuk biaya operasinal penangkapan pada saat panen ditanggung oleh pembeli.

Kalau dihitung keuntungan dengan kolam sewa 1.7 juta per musim tanam, 3.6 juta untuk bibit, 5,24 juta untuk pakan maka total biaya yang dikeluarkan sekitar 10,5 juta. Sedang hasil yang didapat untuk satu kolam adalah 15 juta rupiah. Kang Uus yang pekerjaan utamanya adalah pengrajin furniture dari kayu-kayu sisa, membudidaya ikan patin dijadikan kegiatan untuk tambahan modal bagi usaha tetapnya,

No Pain No Gain.

no-pain-no-gain

Disetiap kesuksesan selalu saja ada rintangan, kang Uus menceritakan beberapa permasalahan, katanya kadang ikan yang dipelihara terkena penyakit atau berprilaku aneh.

Kang Uus bercerita pengalamannya, untuk yang berprilaku aneh biasanya akibat salah makan ransum sisa ketring, ada sambel yang ikut dalam ransum. Ini dapat diatasi dengan mensorit dan mencuci ransum sisa ketring sebelum disimpan dalam wadah pakan. Atau bisa juga disebabkan oleh pemberian makan pada waktu yang salah. Misalkan saat panas yang terik, atau setelah hujan lebat.Kalau untuk gejala ikan sakit,seperti berkeliaran di atas permukaan air, atau menggantung, kang Uus kurang faham cara mengobatinya.
Permasalahan lain adalah saat pengadaan benih ukuran sangkal, sekarang  ini belum ada kesepakatan antara penjual dan pembeli. Kang Uus bercerita, katanya penjual tidak berkenan untuk menimbang bibitnya sebelum bibit dilepaskan ke dalam empang. Anehnya lagi pembeli juga tidak diperkenankan melihat menjual menimbang di tempat penjual. Yang diinginkan penjual saat benih ukuran sangkal sampai di kolam pembeli, langsung dilepas dan pembeli membayar sesuai tagihan.Sebuah cerita yang aneh, tapi kang Uus bercerita penuh keseriusan.Kalau boleh kami saran untuk pembelian bibit patin sebaiknya dihitung perekor saja dari mulai ukuran 3 inci sampai ukuran sangkal. Banyak keuntungan dengan menghitung perekor

  1. Pembeli dan penjual sama-sama memastikan jumlah ikan,
  2. Bibit ikan tidak stress atau terluka saat proses penimbangan,
  3. Ikan lebih sehat

“Kang Uus, coba lihat 6,000 ekor bibit ikan 4 – 6 inci yang baru saya jual, bibit ikan berenang sehat, gak ada satu ekorpun yang mengambang”

Perlu diketahui oleh pembeli bahwa sudah menjadi standard pengangkutan bibit ikan, sebelum dilakukan pengangkutan atau pengepakan selalu dilakukan proses pemberokan atau ikan dipuasakan, minimal 1 hari sebelum diangkut. Tujuannya untuk menjaga kwalitas ikan sampai dikolam pembeli. Bila bibit ikan yang diterima pembeli dalam kondisi sehat (walau sedang puasa) maka akan mudah bagi pembeli untuk membudidayakan ikan dengan tidak terlalu banyak kendala.

Dengan menerapkan standard pengangkutan maka terjawab cerita aneh penjual yang tidak mau menimbang barang dagangannya. Bagai mana pedagang bibit ikan harus menimbang ikan yang sedang puasa ? pasti terjadi penyusutan berat timbangan, yang pasti merugikan penjual.

Ada trik untuk mencari keuntungan penjual dengan cara bibit ditimbang, alih-alih bibit dipuasakan sebelum diangkut, ini malah diberi makan potongan usus ayam atau sosis, dengan maksud timbangan akan meningkat dengan harga pakan Rp. 2.000,-/kg dan harga jual bibit Rp. 12.000,-/ekor, akibatnya banyak ikan keracunan amoniak selama perjalanan yang mengancam kesehatan ikan, bahkan menjadi sebab kematian jumlah besar selama pengangkutan.

image

Cara terbaik adalah sepakati ukuran bibit dan harga perekor bibit, hitung sama-sama antara penjual dan pembeli, ekor per ekor. Penjual senang pembeli senang, ikanpun senang.

EmpangQQ.COM