Posts tagged ‘Gurame’

Penyakit Ikan Narsis: VIRAL INFECTIONS

Foto-foto dengan mikroskop Parasit, Infeksi dan Penyakit ikan di Afrika,

Bagian 1: Infeksi Virus

Plate 1. Viral infections: a,b. Transmission electron microscopic (TEM) view of Herpes-like infection in gold fish, naked (80–100 nm in size) and coated viral particles (106–153 nm) formed in the nucleus (N) and spread into the cytoplasm (Cy). c,d. Viral particles (size about 100 nm) recovered from tilapia fry affected by whirling disease (by TEM). e. Hypertrophic virus infected endothelial cell in the lamina propria of gourami (Trichogaster trichopterus) gut (Histology by light microscopy [LM]). f–h. TEM view of virus infected endothelial cell from the gourami; the corona-like particles are 111–141 nm in size. A. host-cell peripheral cytoplasmic layer; C, debris filled interior space of the cell; V, virus forming layer.

Plate 1. Viral infections: a,b. Transmission electron microscopic (TEM) view of Herpes-like infection in gold fish, naked (80–100 nm in size) and coated viral particles (106–153 nm) formed in the nucleus (N) and spread into the cytoplasm (Cy). c,d. Viral particles (size about 100 nm) recovered from tilapia fry affected by whirling disease (by TEM). e. Hypertrophic virus infected endothelial cell in the lamina propria of gourami (Trichogaster trichopterus) gut (Histology by light microscopy [LM]). f–h. TEM view of virus infected endothelial cell from the gourami; the corona-like particles are 111–141 nm in size. A. host-cell peripheral cytoplasmic layer; C, debris filled interior space of the cell; V, virus forming layer.

Plate 2. Lymphocystis and other iridovirus-like infections: a. Tilapia amphimelas (50 mm long) from L. Kitangiri, Kenya, infected with lymphocystis (arrow). b. Tail of Haplochromis sp. from L. Victoria (Entebbe), with cluster of lymphocystis cells. c,d. Histological sections of a cluster of hypertrophic lymphocystis cells from L. Victoria Haplochromis sp. (cells' diam. 0.25–0.3 mm). e. Histological section (in LM) of an hypertrophic lymphocystic cell (size 0.13–0.16 mm) from gourami, virus particles are visible as fine dots. f–h. Lymphocystis virus particles (166–216 nm wide) from gourami, in active (g,h) and aged (f) cells. i,j. Iridovirus-like particles (size 141–193 nm) from viscera of gourami.

Plate 2. Lymphocystis and other iridovirus-like infections: a. Tilapia amphimelas (50 mm long) from L. Kitangiri, Kenya, infected with lymphocystis (arrow). b. Tail of Haplochromis sp. from L. Victoria (Entebbe), with cluster of lymphocystis cells. c,d. Histological sections of a cluster of hypertrophic lymphocystis cells from L. Victoria Haplochromis sp. (cells’ diam. 0.25–0.3 mm). e. Histological section (in LM) of an hypertrophic lymphocystic cell (size 0.13–0.16 mm) from gourami, virus particles are visible as fine dots. f–h. Lymphocystis virus particles (166–216 nm wide) from gourami, in active (g,h) and aged (f) cells. i,j. Iridovirus-like particles (size 141–193 nm) from viscera of gourami.

Source: http://www.fao.org/docrep/008/v9551e/V9551E03.htm#plt1

SNI – PERIKANAN AIR TAWAR

DAFTAR SNI – PERIKANAN AIR TAWAR

header KKP GO ID

NOMOR TAHUN TENTANG
6138:2009 2009 Induk ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok
6139:2009 2009 Produksi induk ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok
6140:2009 2009 Benih ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar
6141:2009 2009 Produksi benih ikan nilah hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar
7583:2010 2010 Pengemasan benih ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) pada sarana angkutan darat
7584:2010 2010 Pengemasan benih ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) pada sarana angkutan udara
02-6730.1-2002 2002 Benih kodok lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas benih sebar
02-6730.2-2002 2002 Induk kodok lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas induk pokok (Parent Stock)
02-6730.3-2002 2002 Produksi benih kodok lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas benih sebar
02-6730.4-2002 2002 Produksi induk kodok lembu (bull frog) (Rana catesbeiana Shaw) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6486.1-2000 2000 Induk udang galah (Macrobranchium rosenbergii de Man) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6486.2-2000 2000 Benih udang galah (Macrobranchium rosenbergii de Man) kelas benih sebar
02-6486.2-2002 2002 Produksi induk udang galah (Macrobrachium rosenbergii de Man) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6486.3-2000 2000 Produksi benih udang galah (Macrobranchium rosenbergii de Man) kelas benih sebar
01-6489-2000 2000 Metode pengambilan contoh benih ikan dan udang
01-6491-2000 2000 Metode pengujian mutu daya tetas artemia
01-6485.1-2000 2000 Induk ikan gurame (Osphronemus goramy, Lac) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6485.2-2000 2000 Benih ikan gurame (Osphronemus goramy, Lac) kelas benih sebar
01-6485.3-2000 2000 Produksi benih ikan gurame (Osphronemus goramy, Lac) kelas benih sebar
01-6483.1-2000 2000 Induk ikan patin siam (Pangasius hypophthalmus) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6483.2-2000 2000 Benih ikan patin siam (Pangasius hypophthalmus) kelas benih sebar
01-6483.3-2000 2000 Produksi Induk ikan patin siam (Pangasius hypophthalmus) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6483.4-2000 2000 Produksi benih ikan patin siam (Pangasius hypophthalmus) kelasenih sebar
01-7256-2006 2006 Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar
01-7471.1-2009 2009 Ikan patin jambal (Pangasius djambal) Bagian 1: induk kelas induk pokok (parent stock)
01-7471.2-2009 2009 Ikan patin jambal (Pangasius djambal) Bagian 2: Produksi induk kelas induk pokok (parent stock)
01-7471.3-2009 2009 Ikan patin jambal (Pangasius djambal) Bagian 3: Benih kelas benih sebar
01-6484.1-2000 2000 Induk ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6484.2-2000 2000 Benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas benih sebar
01-6484.3-2000 2000 Produksi induk ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6484.4-2000 2000 Produksi benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas benih sebar
01-6130-1999 1999 Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6131-1999 1999 Produksi Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6132-1999 1999 Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas benih sebar
01-6133-1999 1999 Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas benih sebar
01-6134-1999 1999 Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6135-1999 1999 Produksi Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6136-1999 1999 Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas benih sebar
01-6137-1999 1999 Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas benih sebar
01-6138-1999 1999 Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6139-1999 1999 Produksi Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6140-1999 1999 Benih Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar
01-6141-1999 1999 Produksi Benih Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar

Tak Ada Patin, Gurame Pun Jadi

Ikan Patin atau Pangasius sutchii atau Pangasius hypophthalmus, aslinya ikan ini berasal dari Sungai Mekong, Sungai Chaopraya dan mungkin cekungan Mekong di Kamboja, Laos, Thailand dan Vietnam, bersama-sama dengan cekungan Ayeyawady dari Myanmar, dalam berbagai 19 ° N sampai 8 ° N. Spesies ini memiliki berbagai nama dalam bahasa Inggris antara lain Sutchi Catfish, Iridescent Shark-Catfish dan Striped Catfish. Orang Laos menyebutnya dengan  ‘Pa sooai’ dan ‘Pa sooai khaeo’, di Thailand dikenal dengan nama ‘Pla Sawai’, rakyat Khmer bilang ‘Pra’ dan ‘Trey pra’, dan di Viatenam disebut ‘Cá Tra’. Indonesia sendiri dikenal dengan Ikan Patin atau Sius.

Ikan Patin dewasa bisa mencapai panjang total standar maksimum 130 cm dengan bobot mencapai 44 kg. Biasanya hidup dalam rentang pH 6,5-7,5 dan suhu 22-26 ° C. Di penakaran atau empang budidaya , Patin betina berumur setidaknya tiga tahun untuk mencapai kematangan seksual (yang kemudian lebih dari 3 kg berat badan), sementara Patin jantan sudah matang seksual pada umur dua tahun. Seekor induk betina dengan berat 10 kg betina dapat bertelur lebih dari satu juta telur. Dialam bebas induk betina biasanya bertelur dua kali setahun, tapi di kolam budidaya di Vietnam telah dicatat, induk betina patin mampu memijahan pada rentang waktu 6 sampai 17 minggu setelah pemijahan sebelumnya.

Siklus hidup P. hypophthalmus sangat terkait dengan musim hujan tahunan, dengan pemijahan berlangsung Mei-Juni pada awal musim hujan. Pada musim kemarau ikan Patin mencari tempat yang lebih dalam.

Pada umumnya pembudidaya ikan Patin di Kabupaten Bogor akan mengalami masa sulit telur dimulai dari pertengahan Juni sampai September. Belum ditemukan cara untuk merawat indukan agar tetap menghasilkan telur dimasa-masa sulit seperti sekarang ini.

Indoor Hatchery

Indoor Hatchery

Budidaya ikan Patin secara intensif memerlukan infrastuktur yang tidak murah, akan sangat disayangkan bila indoor hatchery tidak dimanfaatkan walau pun induk Patin sedang tidak bertelur.

Telur Gurame

Gurame umur 4 hari

Salah satu pemanfaatan indoor hatchery adalah dengan cara membudidayakan ikan Gurame, memang sepertinya terlalu mewah bila pembenihan gurame pada indoor hatchery yang biasa digunakan untuk mengembang biakan ikan Patin. Namun tidak ada salahnya dicoba, dari pada pembudidaya harus libur 2 sampai 3 bulan.

IMG00222-20130602-1532

Senang berkumpul di atas daun Ketapang

Pemalu dalam 'rumah' permanen

Pemalu dalam ‘rumah’ permanen

Tak ada Patin, Gurame pun jadi