Posts tagged ‘Bibit Patin’

Pengertian Sertifikasi dan Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB)

Sertifikasi adalah adalah rangkaian kegiatan dimana lembaga sertifikasi pemerintah atau lembaga sertifikasi yang telah diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional memberikan jaminan tertulis bahwa produk, jasa, proses atau individu telah memenuhi persyaratan standar atau spesifikasi teknis tertentu yang dipersyaratkan (Direktorat Perbenihan Dirjen Perikanan Budidaya, 2014).

Dalam Pedoman Umum CPIB (2008) disebutkan bahwa Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) adalah cara mengembangbiakan ikan dengan cara melakukan manajemen induk, pemijahan,  penetasan telur, pemeliharaan larva/benih dalam lingkungan yang terkontrol, melalui penerapan teknologi yang memenuhi persyaratan  biosecurity, mampu telusur (traceability) dan keamanan pangan (food safety).

Dijelaskan lebih lanjut dalam Panduan Check List Audit CPIB Skala Kecil (2014), bahwa persyaratan yang harus dipenuhi dalam CPIB adalah sebagai berikut :

A.      Persyaratan Teknis

1)   Persyaratan lokasi : Bebas banjir dan bahan cemaran, mudah dijangkau, tersedia sumber energi / listrik, serta tersedianya sarana komunikasi dan transportasi.

2)   Persyaratan prasarana dan sarana, meliputi :

a.       Ruangan/Tempat : pengemasan, administrasi, mesin, penyimpanan peralatan, dan penyimpanan pakan, bahan kimia, dan obat-obatan.

b.      Bak/kolam : pengendapan/filterisasi/tandon, karantina induk, pemeliharaan induk, pemijahan dan penetasan, pemeliharaan benih, kultur pakan hidup, penampungan benih hasil panen, dan pengolahan limbah.

c.       Peralatan/mesin : kelengkapan peralatan produksi dan peralatan laboratorium (pH meter dan termometer).

3)   Pengelolaan air, meliputi :

a.       Pengendapan / filtrasi / sterilisasi sehingga air layak untuk pemeliharaan induk/benih dan produksi pakan hidup,

b.      Pengukuran parameter kualitas air (suhu, pH dan Salinitas)

4)   Pengelolaan induk, meliputi :

a.       Pemilihan induk : umur, ukuran dan kualitas sesuai persyaratan serta memiliki Surat Keterangan Asal (SKA)

b.      Karantina induk untuk mencegah masuknya organisme pathogen

c.       Pemeliharaan Induk: kondisi ruangan dan wadah sesuai untuk pematangan gonad, perkawinan, pemijahan, fertilisasi dan penetasan.

5)      Persyaratan pakan, meliputi :

a.       Pakan komersial :

1.      Pakan Komersial yang digunakan telah terdaftar di KKP

2.      Kandungan nutrisi pakan sesuai dengan kebutuhan nutrisi induk/benih

3.      Kemasan pakan harus mencantumkan kandungan nutrisi, cara penyimpanan dan waktu kadaluarsa

4.      Penyimpanan sesuai persyaratan label kemasan

5.      Penyimpanan terpisah dari bahan kontaminan berbahaya

6.      Pemberian pakan sesuai jenis, dosis dan frekuensi

b.      Pakan formula buatan sendiri :

1.      Bahan yang digunakan tidak berbahaya dan tidak dilarang

2.      Kandungan nutrisi pakan sesuai dengan kebutuhan nutrisi induk dan benih yang didukung dengan hasil uji

3.      Penyimpanan sesuai dengan persyaratan

4.      Pemberian pakan sesuai dengan jenis, dosis dan frekuensi

c.       Pakan hidup :

1.      Wadah pakan hidup terpisah dengan bagian lainnya dan tidak mudah terkontaminasi

2.      Pupuk/bahan yang digunakan tidak dilarang

3.      Dilakukan treatment (disinfeksi / bahan lain yang tidak dilarang) untuk pakan hidup dari alam

d.      Pakan segar : Penyimpanan pakan segar harus pada lemari pembeku (freezer)

6)      Pengelolaan Benih : Aklimasi benih di setiap tahapan pemeliharaan, Pengamatan pertumbuhan, sintasan,keseragaman dan abnormalitas, serta Pengamatan kesehatan dilakukan berkala secara visual

7)      Pemanenan Benih : Peralatan dan bahan panen bersih dan sesuai kebutuhan dan Pemanenan benih dilakukan dengan baik untuk mencegah kerusakan fisik dan stress

8)      Pengemasan Benih : Peralatan dan bahan pengemasan bersih dan sesuai kebutuhan dan Kepadatan benih sesuai jenis, umur dan ukuran ikan serta waktu tempuh.

B.       Persyaratan Manajemen

1)      Struktur Organisasi dan SDM

2)      Dokumentasi dan Rekaman

C.       Persyaratan Keamanan Pangan

1)      Sumber air terbebas dari pencemaran

2)      Tidak menggunakan bahan kimia dan obat-obatan yang dilarang oleh KKP

D.      Persyaratan Lingkungan

1)      Sanitasi lingkungan

2)      Melakukan biosecurity

Penulis: Miskun Susilo, A.Md. (Penyuluh Perikanan Pelaksana Lanjutan) 

DPR Apresiasi Minapolitan Perikanan Budidaya

Neraca.co.id – Kamis, 26/02/2015

Banjar-Pengembangan kawasan minapolitan telah mendorong peningkatan produksi secara signifikan. Kawasan minapolitan berbasis perikanan budidaya yang merupakan konsepsi pembangunan ekonomi yang berbasis kawasan berdasarkan prinsip – prinsip terintegrasi, efisiensi, dan percepatan pembangunan, telah memunculkan kawasan perikanan budidaya yang baru dan mendukung perekonomian daerah.

“Minapolitan perikanan budidaya telah berhasil menjadi contoh daerah lain yang memiliki potensi serupa, sehingga memberikan dampak yang positif bagi daerah lainnya,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto, pada saat mendampingi Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI di Cindai Alus, Kab. Banjar, Kalimantan Selatan, kemarin.

Kabupaten Banjar salah satu sentra budidaya ikan Patin

Kabupaten Banjar salah satu sentra budidaya ikan Patin

Kabupaten Banjar merupakan salah satu kabupaten minapolitan berbasis perikanan budidaya dengan komoditas utama adalah patin. “Kawasan minapolitan perikanan budidaya di Kabupaten Banjar ini, mampu secara nyata mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Dalam satu hari mampu menghasilkan 35 – 40 ton patin untuk dipasarkan ke Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Disamping itu, kawasan minapolitan ini telah mampu menyerap tenaga kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya,” papar Slamet.

Pakan Mandiri

Gerakan Pakan Mandiri (GERPARI) yang telah dicanangkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan juga telah di terapkan di kawasan budidaya patin Cindai Alus. Pabrik pakan mandiri yang di kelola oleh Bapak Suhadi telah mampu memproduksi pakan patin setiap hari secara rutin. Menurut Pak Suhadi, produksi pakan mandiri yang dia kelola, mampu memproduksi 5 ton pakan setiap hari. “Pakan yang saya produksi ini belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pakan di wilayah Cindai Alus. Tetapi dengan Pakan Mandiri ini, kami bisa menurunkan biaya produksi karena harga pakan yang kita produksi harganya lebih murah di banding dengan pakan komersil tetapi kualitasnya tidak kalah dengan pakan pabrikan. Margin yang kita dapat dari budidaya menggunakan pakan mandiri juga meningkat sampai 30 %”, ungkap Suhadi.

FB Upload -Indukan - 1 small

Produksi patin dari kolam Pak Suhadi dengan ukuran 20 x 24 m2, benih 3 inch sebanyak 40 ribu ekor, lama waktu budidaya 7 – 8 bulan, dapat dihasilkan patin ukuran > 800 gr sebanyak 40 ton dengan harga saat ini Rp. 20.000,-/kg.

Data sementara produksi Patin di Propinsi Kalimantan Selatan pada 2014 adalah 25,5 ribu ton. Volume ini setara dengan 6,3 % produksi patin nasional yang mencapai 403 ribu ton. Target produksi patin nasional pada 2015 adalah 604,7 ribu ton dengan target kontribusi produksi dari Kalimantan Selatan sebesar 48,6 ribu ton.

Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, menambahkan bahwa program GERPARI adalah salah satu cara untuk mewujudkan Perikanan Budidaya yang Mandiri, berdaya Saing dan Berkelanjutan. “Dengan kemandirian dalam hal pakan, maka margin atau keuntungan pembudidaya akan meningkat dan kesejahteraannya pun akan meningkat. Melalui GERPARI akan di dorong untuk dibentuk Kelompok Pakan Mandiri yang terpisah dari Kelompok Pembudidaya. Kelompok Pakan Mandiri tugasnya adalah memproduksi pakan untuk di gunakan atau dijual ke pembudidaya. Pemerintah akan mensertifikasi pakan yang di produksi oleh Kelompok Pakan Mandiri ini sehingga kualitasnya terjaga. Ini sejakan dengan kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan, Ibu Susi Pudjiastuti, untuk menjadikan pembudidaya ini menjadi pengusaha UMKM bukan hanya buruh. Sehingga upaya ini harus di dukung dan didorong untuk diwujudkan,” jelas Slamet.

Ditambahkan pula bahwa melalui GERPARI maka minat pembudidaya untuk meningkatkan produksi ikannya menjadi lebih besar karena keuntungan yang dihasilkan akan meningkat. Ini sejalan dengan target produksi perikanan budidaya yang terus di tantang untuk meningkat setiap tahunnya.

Di tempat yang sama, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, mengatakan bahwa DPR cukup puas dengan keberhasilan pembudidaya patin di kawasan minapolitan perikanan budidaya yang berlokasi di Cindai Alus , Kab. Banjar ini.

“Produksi pakan mandiri terbukti mampu meningkatkan gairah pembudidaya untuk berbudidaya. Karena lebih menguntungkan dan terbukti menyerap tenaga kerja. Masyarakat sekitar lokasi budidaya juga lebih sejahtera. Lokasi ini dapat dijadikan contoh kawasan lain sehingga keberhasilan ini bisa di tularkan. DPR terus mendukung program pemerintah yang berpihak pada rakyat dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Titiek.

Sumber: http://www.Neraca.co.id

MEMONITOR DAN MEREKONDISI KIMIA AIR

24 Februari 2015, dapat kiriman JBL TESTLAB dengan spesifikasi

JBL pH Test-Set 3,0-10,0
JBL pH Test-Set 6,0-7,6
JBL GH-Test
JBL KH-Test
JBL Phosphate TestSet PO4
JBL Ammonium TestSet NH4
JBL Nitrite TestSet NO2
JBL Nitrate TestSet NO3
JBL Iron Test-Set Fe

testlab JBL

Langkah selanjutnya adalah memahami kimia air seperti berikut

Kekerasan Air / Total Hardness (gH)
Saran monitor : Mingguan atau pada saat penggantian air.
Nilai ideal : 6 – 16 dGH
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan : memberikan kondisioner untuk menurunkan kekerasan air atau mengganti air secara parsial dengan air yang lebih lunak.
o menaikan : memberikan kondisioner untuk menaikan kekerasan air.

Kekerasan Karbon / Carbonate Hardess (kH)
Saran monitor : Mingguan
Nilai ideal : 5 – 10 dKH
Nilai ideal : 8 – 12 dKH
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan : memberikan kondisioner untuk menurunkan kekerasan air atau mengganti air secara parsial dengan air yang lebih lunak.
o menaikan : memberikan kondisioner untuk menaikan kekerasan air.

Ke – asam / basa -an Air (pH)
Saran monitor : Mingguan
Nilai ideal : 6 – 8 ( untuk kebanyakan ikan ), 7.5 – 8.5 untuk jenis ikan Cichlid yang berasal dari Malawi & Tanganyika
Nilai ideal untuk akuarium air laut : 8.2 – 8.4
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan : menambahkan karbondioksida (CO2 ) untuk air tawar, mengganti air secara parsial dengan air yang lebih asam, memberikan kondisioner untuk menurunkan pH air (pH Down)
o menaikan : memberikan kondisioner untuk menaikan pH air, mengganti air secara parsial dengan air yang lebih basa

Ammonium / Ammonia (NH4 / NH3)
Saran monitor : Mingguan atau pada saat diperlukan seperti ada gejala / gerakan yang tidak normal pada ikan.
Nilai ideal : 0.0 mg/l (ppm)
Nilai bahaya : 0.02 mg/l (ppm) – tergantung nilai pH
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan :

– mengganti air secara parsial dan memeriksa pH air
– dalam keadaan yang akut ammonium/ammonia dapat diturunkan dengan memberikan kondisioner penurun nilai pH
– memberikan kondisioner untuk menurunkan jumlah kandungan ammonium/ammonia pada air.
– memeriksa biofilter filter
– mengurangi populasi ikan dan tidak memberikan makanan ikan yang berlebihan
– menambah jumlah tanaman

Nitrit / Nitrite (NO2)
Saran monitor : Mingguan atau pada saat diperlukan seperti ada gejala ikan sakit.
Nilai ideal  : 0.0 mg/l (ppm)
Nilai cukup bahaya : 0.3 – 0.9 mg/l (ppm)
Nilai bahaya : 0.9 mg/l (ppm)
Nilai sangat bahaya : 3.3 mg/l (ppm)
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan :

– memberikan kondisioner untuk menurunkan kadar Nitrit
– memeriksa filter – biofilter
– mengurangi populasi ikan dan pemberian makanan ikan yang berlebihan
– periksa apakah ada ikan yang hilang (mati)
– memeriksa penyebab yang berasal dari polutan lainnya
– mengganti 30% air secara parsial, ulangi penggantian air ini setelah 12-24 jam

Nitrat / Nitrate (NO3)
Saran monitor : Mingguan atau pada saat diperlukan seperti adanya pertumbuhan lumut (algae)
Nilai ideal : 20 mg/l (ppm)
Nilai cukup : 20 mg/l (ppm)
Nilai bahaya : 100 mg/l (ppm)
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan :

– memberikan kondisioner untuk menurunkan kadar nitrat
– menambah tanaman air yang cepat tumbuh pada akuarium air tawar / kolam, atau
– menambah makro-alga pada akuarium air laut
– mengganti air secara parsial dengan yang rendah nitrat
– mengurangi jumlah / populasi ikan
– mengurangi penggunaan makanan ikan yang berlebihan
– mengganti 30% air secepatnya, dan kemudian diberikan kondisioner kembali

Besi / Iron (Fe)
Saran monitor : Mingguan atau pada saat diperlukan seperti adanya pertumbuhan lumut (algae) dan penurunan perkembangan tanaman air.
Nilai ideal .: 0.5 – 1.0 mg/l (ppm)
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan : memberikan kondisioner untuk menurunkan kadar besi, dan mengganti air secara parsial
o menaikan : memberikan kondisioner untuk meningkatkan kadar besi, dan memberi pupuk tanaman yang mengandung besi

Oksigen / Oxygen (O2)
Saran monitor : dua mingguan pada pagi dan sore hari, kadar oksigen pada pagi hari lebih rendah dari sore hari adalah normal , atau ada gerakan tidak normal pada ikan seperti kesulitan bernafas / megap-megap pada permukaan air.
Nilai ideal : 4 mg/l (ppm)
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menaikan :

– meningkatkan kadar oksigen dengan tambahan kondisioner
– memberi tambahan aerasi
– memeriksa apa yang menjadi penyebab turunnya kadar oksigen, dan segera perbaiki

Karbondioksida / Carbon dioxide (CO2)
Saran monitor : setiap hari
Nilai ideal : 10 – 40 mg/l (ppm)
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan : mengurangi (penggunaan) karbondioksida
o menaikan : menambahkan kondisioner penambah CO2

Tembaga / Copper (Cu)
Saran monitor : setiap penggantian air, terutama penggunaan dengan air ledeng (PAM)
Nilai ideal : 0.0 mg/l (ppm), diatas 0.3 mg/l (ppm) fatal untuk jenis keong dan invertebrata, diatas 1.0 mg/l (ppm) fatal bagi kehidupan air tawar, kolam, dan laut.
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan : mengganti sebagian besar air dengan air yang bebas tembaga.

Fosfat / Phosphate (PO4)
Saran monitor : mingguan atau adanya pertumbuhan lumut (algae)
Nilai ideal : 1.0 mg/l (ppm)
Nilai ideal : 0.1 mg/l (ppm)
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan :

– mengganti air secara mingguan (10-30%)
– menambah tanaman air yang cepat tumbuh
– mengurangi jumlah populasi ikan dan pemberian makanan yang berlebihan

Klorin / Chlorine (Cl)
Saran monitor : setiap penggantian air, terutama penggunaan dengan air ledeng (PAM)
Nilai ideal : dibawah 0.02 mg/l (ppm)
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan : memberikan kondisioner penurun klorin dan meng-aerasi-kan air dengan baik

Kalsium / Calsium (Ca)
Saran monitor : mingguan atau ada gejala pertumbuhan koral yang lambat / melambat
Nilai ideal untuk akuarium air laut : 400 – 450 mg/l (ppm)
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan : mengganti air secara parsial
o menaikan : memberikan kondisioner penambah kalsium

Magnesium (Mg)
Saran monitor : mingguan atau ada gejala pertumbuhan invertebrata dan alga merah melambat
Nilai ideal untuk akuarium air laut : sekitar 1300 mg/l (ppm)
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan : mengganti air secara parsial
o menaikan : memberikan kondisioner penambah kalsium

Catatan :
1. Dalam penggunaan air untuk memelihara ikan hias dan tanaman air sebaiknya air diendapkan dahulu     selama sehari.
2. Dalam keadaan tertentu dapat didahulukan penggunaan air tersebut, terutama air yang berasal dari
air ledeng (PAM) dengan penambahan kondisioner untuk mengatasi kandungan berbahaya pada air     tersebut, seperti klorin, tembaga, dll.
3. Oleh karena hal tersebut diatas, sebaiknya dilakukan pengujian terlebih dahulu terhadap air yang akan     digunakan.
4. Untuk mengetahui kondisioner mana yang sesuai kebutuhan, ada beberapa referensi yang dapat     digunakan, silahkan klik ” Produk Kondisioner Air ” .
5. Dalam memilih dan membeli kondisioner air perlu diperhatikan baik-baik tanggal kadaluarsanya, tabel     tester (jika ada), penggunaannya apakah untuk air tawar, kolam atau laut.
6. Kegiatan untuk merekondisi, baik untuk kegiatan menurunkan dan menaikan berurut mulai dari tindakan     untuk mengatasi kondisi yang ringan sampai ke berat.

Sumber: http://www.jelambaraquaticlife.com

Ketidakseragaman Ukuran Larva Ikan Patin

FB Upload -IMG00368-20130625-2109
Ikan Patin (Pangasionodon hypophthalamus) merupakan komoditas primadona pada sektor kegiatan perikanan budidaya, baik untuk pasar lokal maupun mancanegara. Hal tersebut terindikasi dari nilai permintaan yang kian meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan laporan pasar oleh Global Aquaculture Advocate (GAA) (2014), nilai impor daging ikan patin pada pasar Amerika pada tahun 2014 mencapai 42 juta ton (meningkat sebesar 46% dari tahun 2013). Bahkan nilai tersebut dipredikasi akan terus meningkat, seiring dengan peningkatan populasi masyarakat dan kesadaran terhadap pentingnya konsumsi ikan. Oleh karena itu segala hal terkait faktor input khususnya kualitas dan kuantitas benih perlu menjadi perhatian khusus untuk keberhasilan pada proses budidayanya.

Ketidakseragaman ukuran larva merupakan salah satu permasalahan utama pada kegiatan pembenihan ikan patin (Pangasionodon hypophthalamus). Kastemont et al. (2003) menyatakan, ketidakseragaman ukuran larva merupakan permasalahan umum pada kegiatan pembenihan ikan. Faktor penyebabnya antara lain adalah genetik dan lingkungan (biotik dan abiotik). Dampak dari kondisi tersebut, paling utama yaitu diskriminasi ukuran antara satu saudara dan dapat berujung pada kanibalisme dan persaingan pakan. Berdasarkan hasil studi Baras dan Almeida (2001) ketidakseragaman ukuran larva (pasca menetas) pada catfish (Clarias gariepinus) merupakan salah satu faktor utama penyebab tingginya kejadian kanibalisme. Oleh karena itu, upaya untuk menekan nilai ketidakseragaman tersebut perlu dilakukan khususnya dalam rangka meningkatkan produktivitas.
Beberapa upaya untuk menekan tingginya ketidakseragaman ukuran pada larva dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya yaitu dengan aplikasi probiotik. Berdasarkan hasil studi Lobo et al. (2013) aplikasi probiotik pada pemeliharaan larva Senegalese sole mampu menurunkan nilai ketidakseragaman ukuran pada populasi, sama halnya dengan hasil studi yang diperoleh Gisbert et al. (2013) pada juvenil ikan salmon (Onchorynchus mykiss). Keduanya berpendapat, salah satu kemungkinan minimnya nilai heterogenitas tersebut karena faktor efektivitas dan efisiensi penyerapan nutrisi pakan oleh ikan uji. Teori yang sama juga diungkapkan oleh Verschuere et al. (2000).

Terkait dengan metode aplikasi probiotik pada larva guna meningkatkan kinerja pertumbuhan dan menurunkan ketidakseragaman ukuran, Verschuere et al. (2000) berpendapat terdapat tiga metode aplikasi, diantaranya yaitu aplikasi langsung pada media pemeliharaan (kultur bersama), bioenkapsulasi pada pakan alami (rotifer, daphnia dan artemia) serta pencampuran langsung dalam pakan buatan. Aplikasi probiotik multispesies Bacillus sp. (Avella et al. 2010) telah dilakukan pada larva sea bream (Sparus auratus) menggunakan metode bioenkapsulasi pada pakan alami dan introduksi pada media pemeliharaan. Hasil yang diperoleh menunjukkan performa positif (peningkatan kinerja pertumbuhan) dari kedua metode tersebut terhadap ikan uji, jika dibandingkan dengan kontrol. Hasil yang sama, yaitu peningkatan kinerja pertumbuhan dan penurunan ketidakseragaman ukuran juga diperoleh Lobo et al (2013) pada larva Senegelase sole melalui metode bioenkapsulasi pada pakan alami (Artemia sp.). Hingga saat ini aplikasi probiotik Bacillus sp. pada larva ikan patin masih jarang dilakukan, khususnya terkait penerapan metode bioenkapsulasi dalam pakan alami ataupun introduksi pada media pemeliharaan guna meningkatkan kinerja pertumbuhan dan menurunkan ketidakseragaman ukuran.

Penulis: WAHYU DWI PUTRANTO

USAHA PEMBENIHAN IKAN PATIN

Kepadatan Tinggi

Ikan patin (Pangasius spp.) merupakan salah satu komoditi perikanan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Permintaan lokal dan ekspor ikan Patin semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai salah satu primadona perikanan air tawar, masyarakat mulai melakukan budidaya pembesaran patin karena produksinya dari alam semakin menurun. Wilayah produsen ikan patin di Indonesia meliputi Sumatera, seluruh wilayah provinsi di Kalimantan dan Jawa.
Beberapa alasan dari para pengusaha dalam menjalankan usaha pembenihan ikan patin, antara lain karena 1) harga benih patin relatif baik dan stabil; 2) secara ekonomis menguntungkan; 3) permintaan pasar akan benih patin tergolong tinggi; 4) teknologi pembenihan ikan patin sudah dikuasai; dan 5) kondisi alam/potensi sumber daya dan ekologi wilayah mendukung.

Pemilihan pola usaha digunakan kriteria minimal bahwa usaha tersebut bersifat ekonomis dan bankable, baik dari segi jumlah dan ukuran benih yang dijual serta harganya sesuai dengan harga pasar yang berlaku saat ini.
Pola usaha yang dipilih dalam pembenihan ikan patin adalah :

1. Produksi benih kategori PIIA (ukuran 1-2 inchi) minimal adalah 110.000 ekor per-siklus dengan 8 siklus per-tahun atau produksi dan penjualan benih >880.000 ekor per-tahun. Benih tersebut adalah benih patin kelas sebar hasil pemeliharaan di dalam bak larva dan atau kolam pendederan. Waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi benih ukuran 1-2 inchi tersebut sekitar
25-35 hari per-siklus, sedangkan produksi 8 siklus per-tahun disebabkan karena induk patin betina mempunyai frekuensi tingkat kematangan gonad yang rendah pada musim kemarau.

2. Induk yang diperlukan untuk memproduksi benih yang demikian adalah sekitar 1-2 ekor induk betina dengan berat 3-5 kg per-ekor dan 2-5 ekor induk jantan dengan berat 2-4 kg per-ekor. Dengan menggunakan pakan buatan berprotein tinggi (28-35%), satu induk betina ukuran tersebut dapat menghasilkan telur (fekunditas) sekitar 150-500 ribu butir setiap pemijahan dan dapat dipijahkan sekitar 2-3 kali dalam setahun dengan umur produktif 2-3 tahun.

3. Dalam menjaga kontinuitas produksi maka jumlah indukan secara keseluruhan berkisar antara 1:1,5-2. Disamping itu, minimal tersedia 6-10 pasang induk dalam kondisi usia produktif untuk memulai usaha.

4. Penetasan telur hasil pemijahan dapat menggunakan tali atau corong, dengan rata-rata tingkat keberhasilan penetasan (hatching rate) dan sintasan/kelangsungan
hidup (survival rate) masing-masing adalah 70%.

Sumber: KKP DJPB download

 

Penggunaan Obat untuk Akuakultur

12-12-6Fish1a

Penggunaan obat-obatan dalam produksi hewan air ditiap negara bervariasi. Hal ini terjadi sebagai konsekuensi dari persyaratan persetujuan dan peraturan yang berbeda. Jepang misalnya, memiliki 29 individu atau kombinasi antibiotik yang disetujui untuk digunakan pada hewan air (Okamoto 1992), sementara AS hanya 2 saja (Oxytetracycline dan potentiated sulfonamide / sulfadimethoxine:ormetoprim). US FDA (Young 2002) baru-baru mengeluarkan daftar obat yang digunakan secara internasional dalam produksi hewan akuatik yang tidak disetujui untuk digunakan di Amerika Serikat.

US Food and Drug Administration (FDA) hanya menyetujui obat yang untuk digunakan dalam budidaya domestik.sebagai berikut:
o Chorulon® (NADA 140-927)
o Finquel® (NADA 042-427)
o Tricaine – S (ANADA 200-226)
o Formalin – F® (NADA 137-687)
o Paracide – F® (NADA 140-831)
o Parasite – S® (NADA 140-989)
o Terramycin® (NADA 038-439)
o Romet – 30® (NADA 125-933)
o Sulfamerazine (NADA 033-950)

Obat yang digunakan di negara lain dalam budidaya ikan termasuk Jepang adalah sebagai berikut:

o Acriflavine
o Amoxicillin
o Ampicillin
o Benzocaine
o Bicozamycin
o Chloramphenicol
o Colistin sulfate
o Doxycyline
o Erythromycin
o Florfenicol
o Flumequine
o Fosfomycin
o Fruluphenicol
o Furanace
o Furazolidone
o Josamycin
o Kanamyacin
o Kitasamycin
o Lincomycin
o Malachite green
o Methyldihydrotestosterone
o Methylene blue
o Miroxis acin
o Nalidixic acid
o Nitrofurantoin
o Novobiocin
o Nifurstyrenate (bahan ELBAYOU)
o Oleandomycin
o Oxolinic acid
o Spiramycin
o Thimphenicol

Di Indonesia penggunaan obat untuk ikan diatur dalam Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.20/MEN/2003 Tentang Klasifikasi Obat Ikan.

Ada penelitian ilmiah yang merekomedasikan bahwa penggunaan antibiotik dalam industri akuakultur menyebabkan kerugian bagi manusia atau lingkungan. Gunakan obat untuk akuakultur dengan bijak. 

fish-antibiotics

Sumber: thenaa.net dan DKP

PENGERTIAN AKLIMASI, ADAPTASI, AKLIMATISASI

Morphology Adaptation

Aklimasi adalah perubahan fisiologis dapat balik yang membantu mempertahankan fungsi dari organisme dalam kondisi lingkungan yang berubah.

A. Pengetian, Arti Definisi Adaptasi

Adaptasi adalah kemampuan atau kecenderungan makhluk hidup dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru untuk dapat tetap hidup dengan baik.

B. Jenis-Jenis Dan Macam-Macam Adaptasi

1. Adaptasi Morfologi
Adaptasi morfologi adalah penyesuaian pada bentuk organ tubuh yang disesuaikan dengan kebutuhan organisme hidup. Misalnya seperti gigi singa, harimau, citah, macan, dan sebagainya yang runcing dan tajam untuk makan daging. Sedangkan pada gigi sapi, kambing, kerbau, biri-biri, domba dan lain sebagainya tidak runcing dan tajam karena giginya lebih banyak dipakai untuk memotong rumput atau daun dan mengunyah makanan.

2. Adaptasi Fisiologi
Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang menyebabkan adanya penyesuaian pada alat-alat tubuh untuk mempertahankan hidup dengan baik. Contoh adapatasi fisiologis adalah seperti pada binatang / hewan onta yang punya kantung air di punuknya untuk menyimpan air agar tahan tidak minum di padang pasir dalam jangka waktu yang lama serta pada anjing laut yang memiliki lapisan lemak yang tebal untuk bertahan di daerah dingin.

3. Adaptasi Tingkah Laku
Adaptasi tingkah laku adalah penyesuaian mahkluk hidup pada tingkah laku / perilaku terhadap lingkungannya seperti pada binatang bunglon yang dapat berubah warna kulit sesuai dengan warna yang ada di lingkungan sekitarnya dengan tujuan untuk menyembunyikan diri.

Proses Aklimatisasi Pada Tebar Benur

Pengertian dasar dari proses aklimatisasi seperti telah disebutkan di atas adalah proses penyesuaian dua kondisi lingkungan yang berbeda (dari hatchery ke perairan tambak) sehingga perubahan kondisi tersebut tidak menimbulkan stress bagi benur. Kegiatan ini perlu dilakukan secara cermat dan penuh kesabaran agar tingkat stress benur terhadap perubahan lingkungan dapat ditekan seminimal mungkin sehingga secara kualitas dan kondisi benur dapat dipertahankan secara optimal.

Tahapan-tahapan yang biasa digunakan dalam proses aklimatisasi mencakup:

Pemindahan benur-benur yang masih dalam kemasan ke perairan tambak. Usahakan agar kemasan-kemasan benur tersebut dikumpulkan pada suatu tempat yang mudah untuk dijangkau di dalam petakan tambak (biasanya di pinggir petakan tambak atau di pojok petakan tambak) yang diberi pembatas sehingga kemasan benur tidak menyebar. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengamatan kondisi dan aktivitas benur selama proses aklimatisasi.

Selama proses ini kemasan benur sebaiknya tidak dibuka terlebih dahulu (kecuali kemasan yang telah digunakan untuk sampling benur) dan biarkan selama beberapa saat di dalam perairan dalam keadaan tertutup. Selanjutnya lakukan pengamatan pada beberapa kemasan benur tersebut, jika di dalam kemasan benur tersebut telah terlihat berembun maka kemasan benur sudah dapat dibuka. Indikator ini menunjukkan bahwa suhu antara perairan tambak dan kemasan benur relatif telah sama. Lakukan hal sama pada kemasan-kemasan benur yang telah menunjukkan indikator yang sama.
Pada saat membuka kemasan benur, lakukan penambahan air tambak ke dalam kemasan benur tersebut secara perlahan dengan menggunakan telapak tangan sehingga sebagian kemasan benur dalam kondisi berada di dalam perairan tambak. Biarkan kondisi tersebut untuk beberapa saat, dan lakukan kegiatan yang sama untuk kemasan-kemasan benur lainnya.

Selanjutnya lakukan pengamatan terhadap kondisi dan aktifitas benur pada beberapa kemasan tersebut. Jika benur-benur di dalam kemasan sudah terlihat secara aktif di pinggir kemasan (pada beberapa kasus benur terlihat konvoi) maka hal ini menunjukkan bahwa benur sudah siap dipindahkan ke dalam perairan tambak. Indikator ini menunjukkan bahwa kondisi kualitas air secara umum antara perairan tambak dan kemasan benur relatif telah sama
Pindahkan benur di dalam kemasan ke perairan tambak secara perlahan-lahan jika hasil pengamatan telah menunjukkan indikator seperti item no.2 di atas. Lakukan kegiatan yang sama untuk kemasan-kemasan benur lainnya.
Lakukan pembersihan perairan tambak terhadap sampah/kotoran yang ditimbulkan oleh proses tebar benur ini agar tidak menimbulkan kendala dalam proses budidaya udang berikutnya.

Secara umum hal yang perlu diperhatikan dalam proses tebar benur selain faktor teknis budidaya adalah faktor kecermatan, ketekunan/kesabaran baik dalam melakukan proses tebar maupun pengamatan terhadap indikator-indikator dalam proses aklimatisasi agar tidak menimbulkan kesalahan dalam pengambilan keputusan terkait dengan teknis budidaya udang.

SUMBER :
– Arber A. 1950. The Natural Philosophy of Plant Form. London: Cambridge University.
– Albaugh TJ, Allen HL, Dougherty PM, Kress LW, King JS: Leaf area and above- and          belowground growth responses of loblolly pine to nutrient and water additions. For Sci 1998, 44:317-328.

Sumber: http://hansa07.student.ipb.ac.id