Posts tagged ‘Bakteri’

Columnaris: Pencegahan dan Pengobatan

Penyebab penyakit Columnaris pada ikan adalah bakteri Flavobacterium columnare atau Fexibacterium columnare
Bio-Ekologi patogen:

• Bakteri gram negatif, berbentuk batang kecil, bergerak meluncur, dan terdapat di ekosistem air tawar.

• Sifat bakteri ini adalah berkelompok membentuk kumpulan seperti column.

• Serangan sering terjadi pada ikan pasca transportasi atau penyortiran.

• Sifat serangan umumnya sub akut, apabila insang yang dominan sebagai target organ, ikan akan mati lemas dan kematian yang ditimbulkannya bisa mencapai 100%.

Pencegahan

Dalam sertifikasi CPIB, dianjurkan setiap ikan yang baru dibeli ditampung terlebih dahulu dalam kolam karantina 1 atau 2 minggu untuk memastikan ikan tidak membawa penyakit. 

Penting untuk memiliki mineral yang memadai di dalam air kolam. Air yang cukup memiliki kandungan minral biasanya ditandai dengan kesadahan air (General Hardeness – GH) dan alkalinitas diatas 20 ppm, lebih baik bila 60 ppm. 

Hindari kepadatan tinggi diwadah dalam transportasi atau dipenampungan ketika melakukan penyortiran. Ikan dalam keadaan lemah ketika mereka dalam kondisi stress.

Hindari suhu air tinggi (diatas 26℃) ketika mengirim ikan atau dalam hapa penampungan ketika sortir. Karena bakteri flavobacterium penyebab penyakit Columnaris sangat cepat berkembang biak dengab suhu air tinggi. 

Baca juga halaman Mengenal Gejala Penyakit Columnaris

Pengobatan

Turunkan suhu air kolam sampai 24℃ untuk membantu memperlambat penyebaran penyakit. Untuk pengobatan penyakit ini, orang Amerika biasanya menggunakan kombinasi antibiotika dengan kandungan Kanaplex dan Nitrofurazon, dari merek obat ikan yang dibolehkan FDA. Diantaranya obat ikan tersebut adalah API Furan-2 atau Tetra Fungus Guard atau Jungle Fungus Clear. 

Kalau sulit mendapatkan obat dengan kandungan Kanaplex dan Nitrofurazon, bisa juga menggunakan antibiotik dengan kandungan minocycline. 

Menggunakan antibiotik dengan kandungan Erthyromycin atau Tetracycline atau Oxytetracycline untuk mengobati Columnaris sepertinya satu kesia-siaan. Karena obat tersebut untuk bakteri gram positif, sedangkan penyebab penyakit Columnaris bakteri negatif.

Pengobatan dengan Garam

Gunakan garam ikan dengan dosis 2 ppt (2 gram/liter air), aduk dulu dalam wadah sebelum ditebar rata ke kolam.  Setelah 12 jam, ulangi lagi tebar garam ikan dengan dosis yang sama. Sekarang salinitas air kolam berada level 4 ppt yang efektif untuk memberantas bakteri dan parasit. Sebagian besar ikan bermasalah dengan salinitas tinggi selama dua minggu. Ada beberapa ikan tidak tahan dengan salinitas tinggi. Bagaimana  dengan ikan Lele, mampukah bertahan dengan salinitas 4 ppt ? Ambil gelas, isi air, tuangkan 1 sendok teh garem ikan, aduk sampai larut, masukkan benih Lele 34, perhatikan sampai esok hari. (Salinitas 12 ppt)

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga bisa (membantu Anda yang sedang berurusan dengan penyakit yang sering menghantui ikan Lele, Moncong Putih atau Punggung Putih (Saddleback Disease) atau Columnaris atau Sudden Death (mendadak mati, kemarin sehat hari ini mati).

Mengenal Bakteri : Klebsiella Pneumonia

Klebsiella

Bakteri dari genus Klebsiella tersebar luas di alam, di dalam tanah dan di air. Mereka juga merupakan bagian dari flora normal saluran usus, namun biasanya dalam jumlah rendah dibandingkan dengan E. coli. Klebsiella, terutama strain dari spesies K. pneumonia, adalah patogen oportunistik yang dapat menyebabkan pneumonia, infeksi saluran kencing, dan bakteremia. Dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi peningkatan infeksi Klebsiella, terutama di rumah sakit dan karena strain resisten antibiotik ganda. Perbedaan yang paling mencolok antara kebanyakan strain Klebsiella dan kerabat dekatnya E. coli dan Salmonella adalah bahwa sel Klebsiella memiliki lapisan lendir tebal poliakarida atau ekstraselular yang disebut “kapsul”. Kapsul ini melindungi sel dari dessication, dan mungkin juga melindungi mereka dari fagositosis saat berada di hewan pembawa. Anehnya, banyak strain Klebsiella dapat memperbaiki nitrogen, yaitu, dapat mengurangi nitrogen atmosfer menjadi amonia dan asam amino.

(diadaptasi dari PubMed 18654632). (HAMAP: KLEP3)

Sumber : BacMap

Resistensi Antibiotik

Resistensi antibiotik adalah kemampuan mikroorganisme untuk mengatasi pengaruh antibiotik.

Dengan kata lain, mikroorganisme yang resisten terhadap antibiotik, misalnya bakteri, akan kebal dan tidak mati walau diberi antibiotik.

Resistensi bakteri terhadap obat terdiri atas beberapa jenis, yaitu

  • Resistensi primer yang merupakan resistensi alamiah terhadap kuman, contohnya bakteri Staphylococcus yang mengandung enzim penisilinase dapat mengubah penisilin menjadi asam penisilinoat yang tidak mampu membunuh kuman itu;
  • Resistensi sekunder, yaitu karena adanya muatan-muatan yang berkembang biak menjadi spesies yang resisten;
  • Resisten episomal atau plasmid yang dapat terjadi karena bakteri mentransfer DNA kepada bakteri lain melalui kontak antarsel bakteri sejenis dan antarbkateri yang berlainan jenis;
  • Resistensi silang, yaitu resistensi bakteri terhadap suatu antibiotic dengan semua derivatnya. Sebagai contoh, penisilin dengan ampisilin, rifampisin dengan rifamisin, dan berbagai jenis sulfonamide. Untuk menghindari resistensi silang, digunakna dosis antibiotic yang relative lebih tinggi daripada dosis efektif minimum dalam waktu singkat.

Cara kerja antibiotik diantaranya:

  • melumpuhkan produksi dinding sel bakteri yang melindungi sel dari lingkungan eksternal
  • mengganggu sintesis protein dengan mengikat mesin yang membangun protein, asam amino dengan asam amino
  • mendatangkan malapetaka dengan proses metabolisme, seperti sintesis asam folat, sebuah vitamin B yang dibutuhkan bakteri untuk berkembang
  • memblokir sintesis DNA dan RNA (1)

Bahaya resistensi antibiotika merupakan salah satu masalah yang dapat mengancam kesehatan ikan. Hampir semua jenis bakteri saat ini menjadi lebih kuat dan kurang responsif terhadap pengobatan antibiotika. Bakteri yang telah mengalami resistensi terhadap antibiotika ini dapat menyebar dari satu akuarium ke akuarium yang lain, dari satu hatchery ke hatchery tetangga lain, sehingga mengancam usaha perikanan dengan hadirnya jenis penyakit infeksi baru yang lebih sulit untuk diobati dan lebih mahal juga biaya pengobatannya.

Gunakan antibiotik dengan bijak untuk Akuakultur yang bertanggung jawab.

Mencegah lebih baik daripada mengobati.

Penyakit Ikan Karantina Golongan Bakteri

image

Hama dan penyakit ikan karantina golongan bakteri yailtu Aeromonas salmonicida, Renibacterium salmoninarum, Nocardia spp., Edwardsiella ictaluri, Pasteurella piscicida, Aerococcus viridans (var) homari, Mycobacterium spp., Edwardsiella tarda, Streptococus spp. dan Yersinia ruckeri.

Beberapa jenis bakteri tersebut dilaporkan telah terdapat di Indonesia namun belum tersebar luas, yaitu Aeromonas salmonicida di Jawa, Mycobacterium sp. di Jawa dan Sumatera, Edwardsiella tarda di Jawa serta Streptococcus sp. di Sulawesi.

Upaya pencegahan melalui tindakan karantina terhadap ikan-ikan yang diimpor dari luar negeri maupun yang dilalulintaskan di dalam wilayah Indonesia harus dilakukan untuk mencegah masuknya jenis-jenis bakteri yang belum terdapat atau sudah terdapat di Indonesia tetapi belum tersebar luas.

BIOLOGI
Aeromonas salmonicida adalah bakteri yang berbentuk batang pendek dengan ukuran 1,3-2,0 x 0,8-1,3 µm, bersifat gram negatif, tidak bergerak, tidak membentuk spora maupun kapsul, dan bersifat aerob. Bakteri ini tidak dapat hidup lama tanpa inangnya dan suhu optimal bagi pertumbuhannya antara 22-28oC, sedangkan pada suhu 35oC pertumbuhannya terhambat. Dapat dijumpai di lingkungan air tawar maupun air laut dan dikenal sebagai penyebab penyakit “furunculosis”.

Renibacterium salmoninarum yang dikenal sebagai penyebab “kidney disease” adalah bakteri yang berbentuk batang pendek dengan ukuran 0,3-1,5 x 0, 1-1,0 µm, bersifat gram positif, tidak bergerak, tanpa kapsul, sering terdapat berpasangan dan bersifat aerob. Bakteri ini dapat dijumpai di lingkungan air tawar maupun air laut dengan suhu optimal pertumbuhannya antara 15-18oC, sedangkan pada suhu 25oC perturnbuhannya akan terhambat.

Mycobacterium sp. yang dikenal sebagai penyebab penyakit ” tuberkulosis ikan” (Fish TB), adalah bakteri yang berbentuk batang, dengan ukuran 0,2-0,6 x 1,0-10 µm, bersifat gram positif lemah, tidak bergerak, tidak membentuk spora atau kapsul dan bersifat aerob. Bakteri ini banyak dijumpai di perairan tawar dan laut maupun tanah dengan suhu optimal pertumbuhannya 25-30oC. Tidak dapat tumbuh pada suhu 37oC kecuali M. marinum, M. fortuitum dan M. chelonei.

Nocardia sp. adalah bakteri yang bentuknya bervariasi yaitu bulat, oval dan batang berfilamen, dengan ukuran diameter 0,5-1,2 µm, bersifat gram positif, bergerak, tidak membentuk kapsul dan bersifat aerob. Bakteri ini tersebar di alam termasuk di air dan tanah. Suhu optimal bagi pertumbuhan Nocardia asteroides antara 28-35oC, sedangkan N. kampachi tidak tumbuh pada suhu 10oC atau 37oC.

Edwardsiella tarda dan E. Ictaluriberbentuk batang bengkok, dengan ukuran 1 x 2-3 µm, bersifat gram negatif bergerak dengan bantuan flagella, tidak membentuk spora atau kapsul dan bersifat fakultatif anaerob. Bakteri ini dapat dijumpai di lingkungan air tawar dan air laut, dengan suhu optimal bagi pertumbuhannya sekitar 35oC, sedangkan pada suhu di bawah 10oC atau di atas 45oC tidak dapat tumbuh.

Pasteurella piscicida berbentuk batang pendek, berukuran 0,6-1,2 x 0,8-2,6 µm, bersifat gram negatif, tidak bergerak, tidak membuat kapsul maupun spora dan bersifat fakultatif anaerob. Bakteri ini dapat hidup di lingkungan air laut dengan kisaran suhu untuk pertumbuhannya 10-39oC. Umumnya yang diisolasi dari ikan dapat tumbuh baik pada suhu 25oC.

Streptoccocus sp. berbentuk bulat atau oval, memanjang seperti rantai, bersifat gram positif, tidak bergerak, tidak membentuk spora atau kapsul dan bersifat fakultatif aerob. Diameter bakteri berukuran 0,7-1,4 µm. Bakteri ini dapat hidup di air tawar dan air laut dengan kisaran suhu bagi pertumbuhannya antara 10-45oC.

Yersinia ruckeri berbentuk batang, dengan ukuran 0,5-0,8 x 1,3 µm, bersifat gram positif, tidak membentuk spora atau kapsul, bergerak dengan flagella peritrichous pada suhu di bawah 30oC, sedangkan pada suhu 37oC tidak membentuk flagella. Bakteri ini dapat dijumpai di air dengan suhu optimal pertumbuhannya 22-25oC.

Aerococcus viridans (var.) homari adalah bakteri yang berbentuk bulat, ada yang berpasangan atau seperti rantai, bersifat gram positif, tidak bergerak dan tidak membentuk spora. Bakteri ini dapat ditemukan di air tawar atau juga air laut.

Pada umumnya sumber dan cara penularan penyakit akibat serangan bakteri-bakteri tersebut di atas antara lain melalui ikan yang sakit, ikan karir, air yang terkontaminasi, makanan yang terkontaminasi, telur yang terkontaminasi, alat atau pakaian yang terkontaminasi atau melalui bulu burung air.

Untuk Mycobacterium sp. cara penularannya belum diketahui dengan pasti diduga beberapa yang mungkin adalah melalui makanan dan air yang terkontaminasi. Cara penularan Nocardiasp. pada ikan juga belurn jelas diketahui, sedangkan penularan Aerococcus viridansmelalui ikan yang sakit.

Renibacterium salmoninarum dan Yersinia ruckeri dilaporkan menyerang ikan famili Salmonidae, sedangkan Aeromonas salmonicida selain menyerang ikan-ikan famili Salmonilidae juga menyerang ikan-ikan non salmon seperti sidat (Anguillaspp.), chubs (Coregonus zenithicus), dace, tenc, carp, catfish, pike, sculpins, perch, gold fish (Carassius auratus) dan spesies ikan lainnya. Ada indikasi bahwa semua spesies ikan baik tawar ataupun laut dapat bersifat rentan terhadapAeromonas salmonicida.

Selain menyerang berbagai ikan air tawar ataupun air laut, Mycobacterium sp. dilaporkan juga menyerang katak, jenis-jenis kadal, ular, buaya dan kura-kura maupun penyu. Nocardia sp. dilaporkan menyerang berbagai ikan air tawar dan air laut antara lain rainbaow trout(Oncorhynchus mykiss), brook trout(Salvelinus fontinalis), neon tetra, sepat (Trichogaster trichopterus), paradise fish,gurami dan yellow tail (Seriolla quinquiradiata).

Edwardseilla tarda dilaporkan menyerang ikan-ikan air tawar dan laut antara lainchannel catfish (Ictalurus punctatus),chinook salmon (Onchorhynchus tshawyscha). Common carp (Cyprinus carpio), crimson seabream (Evynnis japonicus), japanese flounder (Paralichthys olivaceus), japanese eel (Anguilla japonica),Largemouth bass (Mycropterus salmoides), mullet (Mugil cephalus), red sea bream(Chrysophrys major), striped bass (Morone saxatilis), Tilapia (Tilapia nilotica), Yellow tail (Seriolla quinquiradiata), ular, buaya dan singa laut, sedangkan Edwardseilla ictaluri dilaporkan menyerang channel catfish (Ictalurus furcatus), brown bullhead (Ictalurus nebulosus), blus catfish (Ictalurus furcatus), Danio (Danio devario), green knifefish (Eigemannia virens), Walking catfish (darias batrachus), White catfish (Ictalurus catus).

Stireptococcus dilaporkan menyerang jenis-jenis ikan air tawar dan laut antara lain rainbow trout (Onchorhynchus mykiss), sea trout (Cynoscion regalis), silver trout (Cynoscion nothus), golden shiner (Notemigonus crysoleucas), yellow tail (Seriola quinquiradiata), menhaden (Brevoortia patronus), Sea Catfish (Arius felis), striped mullet (Mugil cephalus), pinfish (Lagodon rhomboides), Atlantic croaker (Macropogon undulatus), spot (Leiostomus exanthus), Sting ray (Dasyatissp.), Dolphin air tawar (Iniageoffrensis), Sidat (Angulla japonica), Ayu (Leicoglossus altivelis), Amago salmon (Onchorhynchus rhodurus), Jacopever (Paralichthys olivaceus), Striped bass (Morone saxatilis), Blue fish (Pomatomous saltatic), Siganids (Siganus cahaliculatus), Sea Bream (Pagrus major), tilapia (Oreochromis sp.) dan Channel catfish (Ictalurus punctatus).

Pasteurella piscicida dilaporkan menyerang ikan-ikan laut antara lain Ayu (Plecoglossus altivelis), black seabream (Mylio macrocephalus), red seabrearn (Pagrus major), kerapu merah (Epinephelus akaara), yellow tail (Seriola quinquiradiata) dan menhaden (Brevoortia patronus), sedangkanAerococcus virridans dilaporkan meyerang lobster Amerika.

GEJALA PENYAKIT
Gejala klinis akibat serangan Aeromonas salmonicida pada ikan adalah pembengkakan di bawah kulit yang biasanya menjadi luka terbuka berisi nanah, darah, dan jaringan yang rusak di puncak luka tersebut seperti cekungan, sirip putus atau patah, pendarahan pada insang, petikiae pada otot, usus bagian belakang lengket dan bersatu, serta pembengkakan limpa dan ginjal yang berkembang menjadi nekrosis atau kernatian jaringan.

lkan yang terserang Renibacterium salmoninarum menunjukkan tanda-tanda luar dan dalam seperti mata menonjol, perut kembung, sisik berdiri, pendarahan, abses di beberapa bagian tubuh dan wama kehitam-hitaman, ginjal luka dan berwama abu-abu, kernudian ginjal bengkak dan terjadi nekrosis.

Serangan Mycobacterium sp. pada ikan menunjukkan tanda-tanda seperti mata menonjol, pembengkakan vena, dan adanya luka pada tubuh, mama pucat, lordosis, skeliosis, ulser atau luka dan rusaknya sirip (patah-patah). Adanya bintil berwama putih keabu-abuan pada hati, ginjal dan empedu. Benjolan terdapat di berbagai organ seperti insang, pericardium, mata, empedu, ginjal dan hati.

Gejala klinis pada ikan yang terserangNocardia sp. adalah pembengkakan pada organ yang terserang (seperti tumor), ulser atau luka pada permukaan tubuh, lemah, nafsu makan menurun dan kurus.

Serangan Edwardsiella tarda dan E. ictaluri pada ikan dalarn tahap infeksi ringan hanya menampakkan luka-luka kecil, Sebagai perkembangan penyakit lebih lanjut, luka bernanah berkembang dalarn otot rusuk dan lambung. Pada kasus akut, luka bernanah secara cepat bertambah dengan berbagai ukuran, kemudian luka-luka terisi gas dan terlihat bentuk cembung menyebar ke seluruh tubuh. Warna tubuh hilang, dan luka-luka merata diseluruh tubuh, jika luka digores, akan tercium bau busuk (H2S).

Ikan yang terserang Streptococcus sp, menunjukkan gejala seperti mata menonjol, pendarahan pada kelopak mata, ginjal membengkak, hati menjadi merah tua dan kerusakan usus.

Gejala yang terlihat akibat seranganPasteurella piscicida pada ikan adalah wrna tubuh menjadi gelap, pendarahan pada tutup insang dan sirip, serta Iuka pada ginjal dan limpa.

Ikan yang terserang Yersinia ruckeri akan terlihat lamban, warna tubuh menjadi gelap cairan kuning pada usus, perut berisi cairan yang tidak berwarna, pendarahan pada otot dan organ dalam, serta radang pada bagian tertentu seperti mulut, langit-langit, tutup insang dan pangkal sirip.

Tanda-tanda klinis akibat seranganAerococcus viridans pada lobster tidak jelas, kadang-kadang terlihat warna merah muda pada perut bagian atas.

DAERAH SEBARAN
Furunculosis yang disebabkan olehAeromonas salmonicida dilaporkan teiah tersebar luas di dunia yaitu Amerika Serikat, Kanada, Negara-negara Eropa (Perancis, Norwegia, Belgia, Austria dan Swiss), Australia dan Asia termasuk Indonesia (Jawa).

Renibacterium salmoninarum penyebab “kidney disease” sudah menyebar di negara-negara Eropa (Jerman, Spanyol, Italia, Norwegia, Swedia, Yugoslavia, Inggris, Perancis dan Islandia), AS, Kanada, Chili dan Jepang.

Mycobacterium sp. penyebab tuberculosis dan Nocardia sp. penyebab nocardiosis kemungkinan sudah terdapat di seluruh dunia, khusus untuk Mycobacteriumsudah terdapat di Indonesia (Sumatera), sedangkan Pasteurella piscicidadilaporkan terdapat di AS, negara-negara Eropa dan Jepang.

Penyebab penyakit Edwardsiellosis, E. tarda dan E. ictaluri sudah terdapat di AS, Jepang, dan Afrika Selatan, khusus untukE. tarda sudah menyebar sampai Asia Tenggara termasuk Indonesia (Jawa).Streptococcus sp. sudah terdapat di AS, Inggris, Norwegia, Jepang, Afrika Selatan, Teluk Mexico, China dan Indonesia (Jawa), sedangkan Aerococcus viridansdilaporkan terdapat di AS.

KERUGIAN YANG DITIMBULKAN
Serangan penyakit mempunyai dampak negaTif yang segera dapat dirasakan, seperti misalnya kerugian ekonomi yang tinggi. Pada akhir tahun 1980, di Indonesia terjadi kematian sebanyak 125 ribu ekor ikan mas dan 30% induk ikan terjadi di daerah budidaya di Jawa Barat diakibatkan oleh serangan bakteriAeromonas spp. antara lain A. salmonicidadan menyebabkan penurunan produksi dan kerugian kira-kira 4 milyar rupiah. Pada tahun 1989, di Skotlandia terjadi wabah furunculosis sebanyak 15 kali pada ikan-ikan air tawar dan 127 kali pada ikan-ikan air laut.

Pasteurella piscicida dilaporkan telah menyebabkan kernatian masal ikan ekor kuning (Seriola sp.) di Jepang dengan kerugian sebesar 10 juta poundsterling atau 30 milyar rupiah. Edwardsiella tardamerupakan penyebab penyakit bakteri yang paling serius pada budidaya ikan sidat di Taiwan dan Jepang, sedangkan E. ictaluri pada akhir tahun 1980 dilaporkan telah menyebabkan kernatian masal (lebih dari 50%) anak ikan dan induk ikan lele Amerika di AS. Kerugian yang ditimbulkan mencapai puluhan juta dolar atau puluhan milyar rupiah.

Pada tahun 1970 sampai 1980-an, di Jepang tedadi wabah akibat seranganStreptococcus pada ikan ekor kuning, sidat, ayu dan tilapia yang menimbulkan kerugian sejumlah 30 juta poundsterling atau kira-kira 90 milyar rupiah.

TINDAKAN KARANTINA
Pencegahan sebaiknya dilakukan untuk menghindari tedadinya kerugian besar yang dapat ditimbulkan akibat serangan bakteri.

Tindak karantina mutlak diperlukan dalam usaha pencegahan masuknya jenis-jenis bakteri bersama-sama ikan impor yang sebelumnya tidak terdapat di Indonesia. Selain itu karantina juga mencegah menyebarnya jenis bakteri yang sudah terdapat di daerah pulau tertentu ke daerah / pulau lainnya di dalam wilayah Indonesia. Dengan meningkatkan sistern dan tindakan-tindakan karantina ikan di Indonesia maka usaha peningkatan produksi perikanan dan penyelamatan sumberdaya ikan diharapkan semakin berhasil.

Sumber :
Pusat Karantina Ikan, Departemen Kelautan dan Perikanan
Jl. MT Haryono Kav. 52-53, Jakarta 12770
Telp. 021-79180303, Fax : 021-79183218

Penggunaan Obat untuk Akuakultur

12-12-6Fish1a

Penggunaan obat-obatan dalam produksi hewan air ditiap negara bervariasi. Hal ini terjadi sebagai konsekuensi dari persyaratan persetujuan dan peraturan yang berbeda. Jepang misalnya, memiliki 29 individu atau kombinasi antibiotik yang disetujui untuk digunakan pada hewan air (Okamoto 1992), sementara AS hanya 2 saja (Oxytetracycline dan potentiated sulfonamide / sulfadimethoxine:ormetoprim). US FDA (Young 2002) baru-baru mengeluarkan daftar obat yang digunakan secara internasional dalam produksi hewan akuatik yang tidak disetujui untuk digunakan di Amerika Serikat.

US Food and Drug Administration (FDA) hanya menyetujui obat yang untuk digunakan dalam budidaya domestik.sebagai berikut:
o Chorulon® (NADA 140-927)
o Finquel® (NADA 042-427)
o Tricaine – S (ANADA 200-226)
o Formalin – F® (NADA 137-687)
o Paracide – F® (NADA 140-831)
o Parasite – S® (NADA 140-989)
o Terramycin® (NADA 038-439)
o Romet – 30® (NADA 125-933)
o Sulfamerazine (NADA 033-950)

Obat yang digunakan di negara lain dalam budidaya ikan termasuk Jepang adalah sebagai berikut:

o Acriflavine
o Amoxicillin
o Ampicillin
o Benzocaine
o Bicozamycin
o Chloramphenicol
o Colistin sulfate
o Doxycyline
o Erythromycin
o Florfenicol
o Flumequine
o Fosfomycin
o Fruluphenicol
o Furanace
o Furazolidone
o Josamycin
o Kanamyacin
o Kitasamycin
o Lincomycin
o Malachite green
o Methyldihydrotestosterone
o Methylene blue
o Miroxis acin
o Nalidixic acid
o Nitrofurantoin
o Novobiocin
o Nifurstyrenate (bahan ELBAYOU)
o Oleandomycin
o Oxolinic acid
o Spiramycin
o Thimphenicol

Di Indonesia penggunaan obat untuk ikan diatur dalam Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.20/MEN/2003 Tentang Klasifikasi Obat Ikan.

Ada penelitian ilmiah yang merekomedasikan bahwa penggunaan antibiotik dalam industri akuakultur menyebabkan kerugian bagi manusia atau lingkungan. Gunakan obat untuk akuakultur dengan bijak. 

fish-antibiotics

Sumber: thenaa.net dan DKP

Akuakultur dengan Sistem Resirkulasi

FB Upload -IMG00562-20130820-2154

Dimusim panas seperti sekarang ini, budidaya sistem resirkulasi semakin penting bagi industri akuakultur, karena persediaan air bersih jadi terbatas.

Pada sistem sirkuiasi tertutup, wajib diperlu biofiltrasi untuk menjaga air yang diresirkulasi menjadi lebih bersih. Biofiltrasi yang baik sebaiknya mengandung bakteri Nitrosomonas dan Nitrobacter bertugas mengubah sampah organik (dalam bentuk amines) menjadi nitrat, sebuah proses yang serupa dengan apa yang terjadi di alam.

Di sungai, konsentrasi bakteri secara alami hadir dan berguna dalam keseimbangan dengan konsentrasi amonia / amina menghasilkan kehidupan seperti ikan.

Dalam budidaya ikan modern kepadatan ikan sangat tinggi, sehingga efek yang sama hanya dapat dicapai dengan menempatkan konsentrasi yang sangat tinggi dari bakteri pengurai amonia yang menjadi peran penting biofilter.

recirculatingfullPembudidaya dapat memilih desinfeksi yang dijual dipasaran untuk diaplikasikan dalam sistem tersebut. Dengan syarat tentunya disinfektan yang digunakan tidak mengganggu kinerja bakteri pengurai dalam biofiltrasi.

Definisi Part Per Million (ppm)

FB Upload -indoor hatchery

Pendederan bibit Patin tahap awal, yaitu memelihara larva Patin yang baru menetas sampai ukuran 3/4″ biasanya membutuhkan waktu sekitar 20 hari. Dengan standarad kelangsungan hidup (SR) menurut FAO berkisar antara 40-50%.

Di Jawa Barat, ada pembudidaya yang mampu meningkatakan SR dikisaran 70%, bahkan kadang mencapai 100% dengan melibatkan zat kimia dalam berbudidaya. Penggunaan obat antibiotik tertentu dengan dosis 3 ppm menurut sebuah penelitian mampu mendapatkan SR dikisaran 83%.

Menjaga dosis obat sesuai peruntukan adalah penting guna menjaga lingkungan tetap mudah dikontrol. Untuk itu perlu diketahui tentang ukuran dosis obat yang biasa diukur dengan satuan ppm (part per million).

Apakah ppm itu.

ppm adalah istilah dalam ilmu kimia singkatan dari part per milion atau dapat diartikan perbandingan konsentrasi zat terlarut dan pelarutnya. Berarti untuk dosis obat mengatakan gunakan 1 ppm, maka gunakan 1 bagian obat itu untuk satu juta bagian pelarutnya misalkan air.

Bila obat itu berbentuk cair dan akan digunakan dalam air, karena sama-sama air yang berat jenis atau BJ=1, maka hitung-hitungannya jadi mudah. Kalau dosis 1 ppm obat cair, artinya gunakan obat tersebut 1 cc untuk 1.000.000 cc air.

chloramine-t-250x250Namun bila tertera dosis 1 mg/L maka akan setara dengan 1.001142303 ppm, sehingga terkadang disebutkan 1 mg/L sama dengan 1 ppm.

Contoh:

Sebuah aquarium ukuran 100cm x 200cm ketinggian air 40cm, maka volume dalam aquarium tersebut adalah 800.000 cm3 sama dengan 800 Liter.

Bila menggunakan Halamid® untuk meningkatkan SR dan bobot larva patin dengan dosis 1.5 ppm dalam satu aquarium 800 Liter air dibutuhkan Halamid® seberat 1.2 gram.

Dengan dosis Halamid® 1.5 ppm dalam sebuah pernelitian mampu mendapatkan SR sebesar 81.1%. Dosis tersebut setara dengan penggunaan Oxytetracycline dengan dosis 10 ppm.

Halamid® diklaim tidak meninggalkan residu pada ikan dan tidak bertentangan dengan MRL (Maximum Residue Limit) yang ditetapkan oleh EMEA (European Medicines Agency). Di Indonesia Halamid® memiliki kandungan zat yang setara dengan Unides produk dari PT Polaris Surya Indonesia

Halamid DosisEmpangQQ dari berbagai sumber.