Posts tagged ‘antibiotik’

Resistensi Antibiotik

Resistensi antibiotik adalah kemampuan mikroorganisme untuk mengatasi pengaruh antibiotik.

Dengan kata lain, mikroorganisme yang resisten terhadap antibiotik, misalnya bakteri, akan kebal dan tidak mati walau diberi antibiotik.

Resistensi bakteri terhadap obat terdiri atas beberapa jenis, yaitu

  • Resistensi primer yang merupakan resistensi alamiah terhadap kuman, contohnya bakteri Staphylococcus yang mengandung enzim penisilinase dapat mengubah penisilin menjadi asam penisilinoat yang tidak mampu membunuh kuman itu;
  • Resistensi sekunder, yaitu karena adanya muatan-muatan yang berkembang biak menjadi spesies yang resisten;
  • Resisten episomal atau plasmid yang dapat terjadi karena bakteri mentransfer DNA kepada bakteri lain melalui kontak antarsel bakteri sejenis dan antarbkateri yang berlainan jenis;
  • Resistensi silang, yaitu resistensi bakteri terhadap suatu antibiotic dengan semua derivatnya. Sebagai contoh, penisilin dengan ampisilin, rifampisin dengan rifamisin, dan berbagai jenis sulfonamide. Untuk menghindari resistensi silang, digunakna dosis antibiotic yang relative lebih tinggi daripada dosis efektif minimum dalam waktu singkat.

Cara kerja antibiotik diantaranya:

  • melumpuhkan produksi dinding sel bakteri yang melindungi sel dari lingkungan eksternal
  • mengganggu sintesis protein dengan mengikat mesin yang membangun protein, asam amino dengan asam amino
  • mendatangkan malapetaka dengan proses metabolisme, seperti sintesis asam folat, sebuah vitamin B yang dibutuhkan bakteri untuk berkembang
  • memblokir sintesis DNA dan RNA (1)

Bahaya resistensi antibiotika merupakan salah satu masalah yang dapat mengancam kesehatan ikan. Hampir semua jenis bakteri saat ini menjadi lebih kuat dan kurang responsif terhadap pengobatan antibiotika. Bakteri yang telah mengalami resistensi terhadap antibiotika ini dapat menyebar dari satu akuarium ke akuarium yang lain, dari satu hatchery ke hatchery tetangga lain, sehingga mengancam usaha perikanan dengan hadirnya jenis penyakit infeksi baru yang lebih sulit untuk diobati dan lebih mahal juga biaya pengobatannya.

Gunakan antibiotik dengan bijak untuk Akuakultur yang bertanggung jawab.

Mencegah lebih baik daripada mengobati.

KLASIFIKASI OBAT IKAN

Pada awalnya penggunaan obat, bahan kimia dan bahan biologi dalam budidaya perikanan baru dikenal di Indonesia terutama setelah adanya wabah penyakit Motile Aeromonas Septicemia (MAS) yang menyerang ikan mas pada tahun 1980 yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophyilla dan penyakit udang TSV (Taura Syndrome Virus), White Spot, Vibriosis. Wabah penyakit ini telah mengakibatkan kematian ikan yang menyebabkan para pembudidaya ikan mengalami kerugian. Di sisi lain perkembangan global dan berkembangnya ilmu pengetahuan tentang bahan-bahan yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia, membuat semakin selektifnya penggunaan obat, bahan kimia lainnya dalam kegiatan budidaya. Hal ini didorong oleh persyaratan standar yang ditetapkan negara tujuan ekspor terhadap seluruh produk perikanan budidaya. Terbukti dengan di blokirnya 49 coldstorage Indonesia yang tidak dapat lagi melakukan ekspor ke Eropa.

Untuk mengantisipasi dampak yang dapat ditimbulkan baik terhadap produk hasil budidaya maupun lingkungan, pemerintah Indonesia melakukan pengaturan terhadap peredaran dan penggunaan obat ikan, bahan kimia dan bahan biologi. Hal tersebut dimulai dengan menindaklanjuti Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.04/MEN/2012 tentang Obat Ikan seperti yang telah diubah dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 14/PERMEN-KP/2013. Kementerian Kelautan dan Perikanan telah meninjau kembali Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.20/MEN/2003 tentang Klasifikasi Obat Ikan dan diganti dengan KEPMEN N0. 52 Tahun 2014 yang dikeluarkan pada 19 September 2014. Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menetapkan klasifikasi obat ikan berdasarkan klasifikasi bahaya yang ditimbulkan dalam penggunaannya, yang terdiri atas obat keras, obat bebas terbatas dan obat bebas. Penetapan klasifikasi obat ikan dibuat dengan ketentuan:

1. OBAT KERAS, merupakan obat ikan yang apabila penggunaannya tidak sesuai dengan ketentuan dapat menimbulkan bahaya bagi ikan, lingkungan dan/atau manusia yang mengkonsumsi ikan tersebut;

2. OBAT BEBAS TERBATAS, merupakan obat keras untuk ikan yang diberlakukan sebagai obat bebas untuk jenis ikan tertentu dengan ketentuan disediakan dengan jumlah, aturan dosis, bentuk sediaan dan cara pemakaian tertentu serta diberi tanda peringatan khusus;

3. OBAT BEBAS, merupakan obat ikan yang dapat diperoleh dan dipakai secara bebas tanpa resep dokter hewan dan/atau rekomendasi dari ahli kesehatan ikan.

1. OBAT KERAS, merupakan obat ikan yang apabila penggunaannya tidak sesuai dengan ketentuan dapat menimbulkan bahaya bagi ikan, lingkungan dan/atau manusia yang mengkonsumsi ikan tersebut;

2. OBAT BEBAS TERBATAS, merupakan obat keras untuk ikan yang diberlakukan sebagai obat bebas untuk jenis ikan tertentu dengan ketentuan disediakan dengan jumlah, aturan dosis, bentuk sediaan dan cara pemakaian tertentu serta diberi tanda peringatan khusus;

3. OBAT BEBAS, merupakan obat ikan yang dapat diperoleh dan dipakai secara bebas tanpa resep dokter hewan dan/atau rekomendasi dari ahli kesehatan ikan.

Perlu diketahui bersama bahwa, obat ikan baru yang mengandung zat berkhasiat baru, atau berkhasiat lama tetapi indikasinya baru, atau mengandung kombinasi baru dari zat berkhasiat lama, atau formulasi baru termasuk zat tambahannya, diperlakukan sebagai obat keras.

A. OBAT KERAS, terdiri dari:

1. OBAT KERAS YANG DIPERBOLEHKAN YAITU:

a) Antimikroba (Antibiotik, Antibakteria Non Antibiotik, Antifungal dan Antiprotozoa)

1. Tetrasiklina, dengan zat aktif: Klortetrasiklina, Oksitetrasiklina dan Tetrasiklina

2. Makrolida, dengan zat aktif: Eritromisina

3. Kuinolon, dengan zat aktif: Enrofloksasina

b) Lain – lain

1. Anthelmentik, dengan zat aktif: Pyrantel pamoat, Levamisol dan Prazikuantel

2. Zat Pewarna, dengan zat aktif: Methylene blue, Basic Bright Green Oxalate, Acriflavine, Briliant Blue, Tartrazin, Alura Red, Ponceau-4R dan Sunset Yellow

3. Hormon, dengan zat aktif Gonadothropin Releazing Hormon (GnRH), Luteinizing Hormon Realizing Hormon analoque (LHRHa) dan Human Chorionic Gonadothropin (HCG)

4. Vaksin, dengan zat aktif Semua vaksin yang penyakitnya sudah ada di Indonesia

2. OBAT KERAS YANG DILARANG YAITU:

a) Antimikroba (Antibiotik, Antibakteria Non Antibiotik, Antifungal dan Antiprotozoa)

1. Amfenikol, dengan zat aktif: Thiamfenikol, Chloramfenikol dan Fluorfenikol

2. Nitroimidazole, dengan zat aktif: Dimetridazole, Metronidazole, Fluconazole dan Tinidazole

3. Nitrofuran, dengan zat aktif: Nitrofurantoin, Nifurpirinol, Furazolidone dan Nifurtoinol

4. Makrolida, dengan zat aktif: Virginiamisina, Tilosina dan Spiramisina

5. Polipeptida, dengan zat aktif: Zink Basitrasina

6. Lain-lain, dengan zat aktif: Ronidazole, Dapson, Chlorpromazine dan Cholichicin

b) Lain-lain

1. Zat Pewarna, dengan zat aktif: Malachite Green dan Leuco Malachite Green dan Crystal Violet (gentian violet) dan Leucocrystal Violet

2. Hormon, dengan zat aktif: Estradiol Sintetis (dietil stilbestrol, benestrol, dienestrol), 17α-Metiltestoteron dan HGPs (Hormon Growth Promotors)

3. Anestetika dan sedative, dengan zat aktif: MS-22 (Tricaine methanesulfonate)

4. Organofosfat, dengan zat aktif: Ether, Trifluralin, Dichlorvos dan Trichlorfon

5. Tumbuh-tumbuhan, dengan zat aktif: Aristolochia spp

6. Vaksin, dengan zat aktif: Semua vaksin yang penyakitnya belum ada di Indonesia

B. OBAT BEBAS TERBATAS, terdiri dari:

1. Desinfektan dan Antiseptik, dengan zat aktif: Merthiolat (Thiomersal), Benzalkonium Chlorida, Boric Acid, Klorin, Chloramine, Copper Sulfat, Formalin, Iodine, Povidone Iodine, Phenoxethol, Potassium Permanganat (PK, KMnO4), Persenyawaan Peroksida, Kresol, Thymol G,lutaraldehyde dan Sodium Thiosulfate

2. Lain-lain, dengan zat aktif: Vitamin Mineral dan Asam Amino

C. OBAT BEBAS, terdiri dari:

1. Imuno Stimulan;

2. Probiotik;

3. Prebiotik, Sinbiotik;

4. Obat Alami;

5. Enzym; dan

6. Asam organik.

Penggunaan obat ikan, bahan kimia dan bahan biologi harus tetap memperhatikan sifat fisik dan kimianya. Terdapat bahan-bahan kimia dan obat-obatan yang berdampak langsung terhadap kesehatan manusia dan sebagian lainnya tidak mudah terurai sehingga terakumulasi dalam tubuh ikan dan lingkungan perairan. Residu obat dan bahan kimia pada tubuh ikan dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit degeneratif dan menurunnya kekbalan pada tubuh manusia yang mengkonsumsinya. Penggunaan bahan biologi yang kurang tepat dapat menimbulkan gangguan pada lingkungan sumberdaya perikanan.

Produk perikanan juga rentan terhadap pengaruh pencemaran terutama senyawa logam berat. Keberadaan logam berat dapat terakumulasi dalam daging ikan dan jika dikonsumsi manusia dapat merusak kesehatan. Oleh sebab itu, sebagai masyarakat perikanan baik itu penyuluh perikanan, pelaku utama maupun pelaku usaha kita harus bersama-sama untuk mengsosialisasikan “KLASIFIKASI OBAT IKAN” seperti yang sudah tertera pada Kepmen No 52 Tahun 2014 ini dalam rangka meningkatkan produksi perikanan budidaya yang sehat, bermutu, dan aman untuk dikonsumsi dan berdaya saing. ndk108

Sumber: Kepmen No 52 Tahun 2014 tentang Klasifikasi Obat Ikan.

Diagnosa Infeksi Aeromonas hydrophila

Hemorrhagic liver due to Aeromonas hydrophila infection

Bakteri Aeromonas pada Liver ikan

Infeksi bakteri merupakan salah satu masalah yang serius dalam pemeliharaan ikan, karena itu diagnosa yang dilakukan terhadap penyakit bakterial harus dilakukan dengan setepat mungkin. Selama bertahun-tahun banyak bakteri yang sudah dapat diidentifikasi sebagai penyebab sakit pada ikan salah satunya Aeromonas (Dixon, 1990). Aeromonas terdapat di air tawar, tanah dan pada ikan (Post, 1987). Merupakan bakteri patogen oportunik yang dapat menjadi fatal jika lingkungan kurang bagus, hospes lemah, atau patogen utama.

Bakteri Aeromonas termasuk ke dalam family Pseudomonadaceae dan terdiri dari tiga spesies utama, yaitu A. punctata, A.hydrophila dan A.liquiefacieus yang bersifat patogen. Bakteri Aeromonas umumnya hidup di air tawar, terutama yang mengandung bahan organik tinggi. Ada pula yang berpendapat bahwa bakteri Aeromonas dapat hidup dalam saluran pencernaan (Afrianto dan Liviawaty, 1992).

Aeromonas hydrophila merupakan bakteri bersifat Gram negatif dan berbentuk batang. Merupkan agensia penyebab penyakit hemoragik septikemia (Bacterial Hemorrhagic Septicemia) atau MAS (Motile Aeromonas Septicaemia) atau ulcer disease atau red sore disease pada beragam spesies ikan air tawar (White, 1991). Pada umumnya Aeromonas hydrophila merupakan oportunis karena penyakit yang disebabkannya mewabah pada ikan-ikan yang mengalami stress atau pada pemeliharaan dengan padat tebaran yang tinggi.

Aeromonas hydrophila dapat diisolasi dari ginjal atau darah pada media nutrien biasa. Koloni berwarna putih kekuningan, circular, conveks terbentuk dalam waktu 24 jam pada suhu 22-28°C.  Aeromonas hydrophila mungkin penyebab paling penting wabah penyakit yang parah pada ikan air tawar yang dibudidaya di kolam dan ikan liar (Roberts, 2001).

Aeromonas hydrophila dapat dibedakan dari Aeromonas salmonicida dengan uji-uji biokemis. Perbedaan karakter atau sifat-sifat biokimia antara Aeromonas salmonicida dengan Aeromonas hydrophila:

Diagosa Infeksi Aeromonas

Ikan yang terinfeksi Aeromonas hydrophila biasanya pada keadaan stress karena suatu faktor dan menunjukkan warna yang lebih gelap dengan hemoragi iregular yang luas pada permukaan tubuh dan basis (pangkal) sirip serta ascites. Hemoragi pada permukaan tubuh mungkin mengalami ulserasi membentuk lesi nekrotik yang dangkal. Terdapat lesi kulit dasar sirip dengan area hemoragi yang bervariasi dan nekrosis hingga ke otot.  Organ internal pada ikan yang dinekropsi terlihat kongesti dengan hemorhagi pada organ dalam (Roberts, 2001). Hemorrhagic septicaemia juga ditandai dengan adanya lesi permukaan yang kecil, sering diikuti dengan lepasnya sisik, hemorhagi lokal biasanya pada insang, ulser, abses, exopthalmia dan distensi abdominal. Organ bagian dalam mungkin mengalami akumulasi cairan asites, anemia dan kerusakan organ terutama ginjal dan hati (Austin dan Austin, 1987).

Tampak adanya nekrosis pada ren, jaringan hemopoetik lien, begitu pula terjadi pada jantung, hati, dan pankreas. Selaput mukosa intestinal biasanya mengalami nekrosis dan terlepas ke lumen, kulit mengalami oedema yang parah pada bagian dermis dan hiperemia pada stratum retikularis, epidermis mengalami spongiosis dan ulserasi diikuti nekrosis hemorhagik sampai ke otot bagian bawah, tetapi biasanya lesinya lebih superfisial daripada vibriosis (Moeller, 2001).

Pengendalian dilakukan dengan antibiotik atau sulfonamid yang poten, tetapi ikan yang terinfeksi biasanya anoreksia, pengobatan secara parenteral mungkin diperlukan. Pengobatan harus diikuti dengan perbaikan lingkungan dan menghilangkan stressor (Roberts, 2001).

Penulis : drh Dewi Murni

Penggunaan Obat untuk Akuakultur

12-12-6Fish1a

Penggunaan obat-obatan dalam produksi hewan air ditiap negara bervariasi. Hal ini terjadi sebagai konsekuensi dari persyaratan persetujuan dan peraturan yang berbeda. Jepang misalnya, memiliki 29 individu atau kombinasi antibiotik yang disetujui untuk digunakan pada hewan air (Okamoto 1992), sementara AS hanya 2 saja (Oxytetracycline dan potentiated sulfonamide / sulfadimethoxine:ormetoprim). US FDA (Young 2002) baru-baru mengeluarkan daftar obat yang digunakan secara internasional dalam produksi hewan akuatik yang tidak disetujui untuk digunakan di Amerika Serikat.

US Food and Drug Administration (FDA) hanya menyetujui obat yang untuk digunakan dalam budidaya domestik.sebagai berikut:
o Chorulon® (NADA 140-927)
o Finquel® (NADA 042-427)
o Tricaine – S (ANADA 200-226)
o Formalin – F® (NADA 137-687)
o Paracide – F® (NADA 140-831)
o Parasite – S® (NADA 140-989)
o Terramycin® (NADA 038-439)
o Romet – 30® (NADA 125-933)
o Sulfamerazine (NADA 033-950)

Obat yang digunakan di negara lain dalam budidaya ikan termasuk Jepang adalah sebagai berikut:

o Acriflavine
o Amoxicillin
o Ampicillin
o Benzocaine
o Bicozamycin
o Chloramphenicol
o Colistin sulfate
o Doxycyline
o Erythromycin
o Florfenicol
o Flumequine
o Fosfomycin
o Fruluphenicol
o Furanace
o Furazolidone
o Josamycin
o Kanamyacin
o Kitasamycin
o Lincomycin
o Malachite green
o Methyldihydrotestosterone
o Methylene blue
o Miroxis acin
o Nalidixic acid
o Nitrofurantoin
o Novobiocin
o Nifurstyrenate (bahan ELBAYOU)
o Oleandomycin
o Oxolinic acid
o Spiramycin
o Thimphenicol

Di Indonesia penggunaan obat untuk ikan diatur dalam Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.20/MEN/2003 Tentang Klasifikasi Obat Ikan.

Ada penelitian ilmiah yang merekomedasikan bahwa penggunaan antibiotik dalam industri akuakultur menyebabkan kerugian bagi manusia atau lingkungan. Gunakan obat untuk akuakultur dengan bijak. 

fish-antibiotics

Sumber: thenaa.net dan DKP

Kematian awal larva Patin dan solusinya.

FB Upload -IMG00368-20130625-2109Baik di Indonesia dan Vietnam, pemeliharaan larva Patin mempunyai tingkat kesulitan tersendiri. Karena survival rate (SR) yang didapatkan pembudidaya sangat berragam, dan umumnya SR yang didapat rendah bila tidak memberikan perlakuan khusus pada air sebagai media hidup larva.

Minggu pertama merupakan periode paling kritis bagi larva Patin, dan perilaku kanibalisme disinyalir sebagai penyebab utama rendahnya tingkat kelangsungan hidup.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Jojo Subagja, Jacques Slembrouck,Le Thanh Hung dan Marc Legendre, dengan dua macam percobaan dalam rangka untuk lebih memahami evolusi dan penyebab kematian larva Patin, dari menetas 0 hari hingga usia 8 hari. Percobaan dimaksud untuk menemukan langkah-langkah dalam meningkatkan ketahanan hidup bibit Patin.

Halamid DosisHasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup larva Patin, tergantung pada kualitas awal larva atau telur dan mortalitas larva itu lebih merupakan konsekuensi dari infeksi patogen dari efek langsung dari kanibalisme. Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup larva secara sistematis meningkat ketika membesarkan dilakukan dalam air yang mengandung antibiotik (oxytetracycline dengan dosis 5 sampai 20 mg/L). Tingkat kelangsungan hidup dan berat badan rata-rata akhir larva lebih tinggi jika menggunakan antibiotik. Hasil yang sama juga dicapai dengan cara mengaplikasikan desinfektan seperti chloramineT dan formalin.

fish onepennysheet dot comDengan demikian para peneliti lebih merekomendasikan penggunaan disinfektan dari pada penggunaan antibiotik untuk memproduksi bibit Patin.

SR tinggi tanpa antibiotik

SR tinggi tanpa antibiotik

Sumber: http://www.sciencedirect.com

Definisi Part Per Million (ppm)

FB Upload -indoor hatchery

Pendederan bibit Patin tahap awal, yaitu memelihara larva Patin yang baru menetas sampai ukuran 3/4″ biasanya membutuhkan waktu sekitar 20 hari. Dengan standarad kelangsungan hidup (SR) menurut FAO berkisar antara 40-50%.

Di Jawa Barat, ada pembudidaya yang mampu meningkatakan SR dikisaran 70%, bahkan kadang mencapai 100% dengan melibatkan zat kimia dalam berbudidaya. Penggunaan obat antibiotik tertentu dengan dosis 3 ppm menurut sebuah penelitian mampu mendapatkan SR dikisaran 83%.

Menjaga dosis obat sesuai peruntukan adalah penting guna menjaga lingkungan tetap mudah dikontrol. Untuk itu perlu diketahui tentang ukuran dosis obat yang biasa diukur dengan satuan ppm (part per million).

Apakah ppm itu.

ppm adalah istilah dalam ilmu kimia singkatan dari part per milion atau dapat diartikan perbandingan konsentrasi zat terlarut dan pelarutnya. Berarti untuk dosis obat mengatakan gunakan 1 ppm, maka gunakan 1 bagian obat itu untuk satu juta bagian pelarutnya misalkan air.

Bila obat itu berbentuk cair dan akan digunakan dalam air, karena sama-sama air yang berat jenis atau BJ=1, maka hitung-hitungannya jadi mudah. Kalau dosis 1 ppm obat cair, artinya gunakan obat tersebut 1 cc untuk 1.000.000 cc air.

chloramine-t-250x250Namun bila tertera dosis 1 mg/L maka akan setara dengan 1.001142303 ppm, sehingga terkadang disebutkan 1 mg/L sama dengan 1 ppm.

Contoh:

Sebuah aquarium ukuran 100cm x 200cm ketinggian air 40cm, maka volume dalam aquarium tersebut adalah 800.000 cm3 sama dengan 800 Liter.

Bila menggunakan Halamid® untuk meningkatkan SR dan bobot larva patin dengan dosis 1.5 ppm dalam satu aquarium 800 Liter air dibutuhkan Halamid® seberat 1.2 gram.

Dengan dosis Halamid® 1.5 ppm dalam sebuah pernelitian mampu mendapatkan SR sebesar 81.1%. Dosis tersebut setara dengan penggunaan Oxytetracycline dengan dosis 10 ppm.

Halamid® diklaim tidak meninggalkan residu pada ikan dan tidak bertentangan dengan MRL (Maximum Residue Limit) yang ditetapkan oleh EMEA (European Medicines Agency). Di Indonesia Halamid® memiliki kandungan zat yang setara dengan Unides produk dari PT Polaris Surya Indonesia

Halamid DosisEmpangQQ dari berbagai sumber.