Scoliosis – Bibit Ikan Patin Yang Seperti Keris

untitled

Scoliosis adalah lekukan yang tidak normal pada tulang belakang (tulang belakang bengkok). Kelainan pertumbuhan ini paling sering ditemukan pada tahap larva atau bibit ikan usia beberapa minggu, jarang ditemukan pada ikan yang sudah dewasa. Bila diamati, terkadang kelengkungan tulang belakang ditemukan pada saat larva mulai menetas. Tulang belakang melengkung bisa di mana saja, baik daerah vertikal maupun horisontal. Umumnya, kelainan fisik ini akan mengalami gangguan pertumbuhan, walau nafsu makannya tetap baik.

Scoliosis - variability

Scoliosis kelainan ikan yang cukup umum, ditandai dengan kelengkungan tulang belakang. Tidak ada pendapat bulat dalam aetiology (ilmu tentang penyebab penyakit) tentang kelainan ini. Beberapa ilmuwan menganggap bahwa scoliosis disebabkan oleh:

–                      penanganan yang kurang hati-hati pada tahap larva atau saat sortir,

–                      kwalitas telur dari betina yang kurang nutrisi,

–                      inbreeding (kawin antara kerabat dekat) yang menyebabkan berbagai mutasi pada generasi berikutnya.

–                      kurangnya garam mineral, kalsium atau garam magnesium,

–                      hypoxia (kekurangan oxygen terlarut dalam air)

–                      kepadatan ikan yang tinggi,

–                      suhu air dingin,

Tidak ada obat dikenal untuk kondisi ini. Ikan yang badannya melengkung adalah dibuang.

Persentasi Penyakit Pada Ikan Patin

Pada budidaya ikan kemampuan mendeteksi penyakit dan melakukan pengobatan yang tepat adalah kunci penting untuk meraih kesuksesan.

Sampling diambil dari April 2004 sampai Maret 2005 dari 100 petani ikan di Kabupaten Mymensingh, Bangladesh.

Berikut penyakit yang sering ditemukan pada ikan patin.

 

 

Persentasi Penyakit Ikan Patin

 

 

Potensi Perikanan Budidaya Belum Optimal

Selasa, 08 Januari 2013, 07:25 WIB 

Kepadatan ikan yang tinggi

Kepadatan ikan yang tinggi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Potensi perikanan budidaya belum dimanfaatkan secara optimal. Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C Sutadjo mengatakan masih banyak sektor pengembangan perikanan budidaya di atas lahan tambak, kolam, perairan umum, sawah dan laut yang masih bisa digarap.

Tingkat pemanfaatan perikanan budidaya payau tambah baru seluas 682.857 hektar (ha) atau 23,04 persen dari potensinya sebesar 2,96 juta ha. Sementara untuk pemanfaatan budidaya laut, terhitung masih relatif rendah yaitu sekitar 117.649 hektare atau 0,94 persen dari potensi budidaya laut yang mencapai luasan 12,55 juta hektare.

Di sisi lain, menurut dia, potensi perikanan budidaya ini akan semakin besar karena terdapat potensi budidaya air tawar seperti kolam 541.100 ha. Budidaya di perairan umum mencapai 158.125 ha dan mina-padi 1,54 juta ha.

Jika ditilik, dengan pemanfaatan potensi areal budidaya perikanan tersebut, mampu menghasilkan produksi ikan sebesar 6,28 juta ton pada 2011.

Apabila potensi lahan budidaya perikanan ini dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan, maka peran dan peluang produksi perikanan di dalam pembangunan nasional untuk mensejahterakan masyarakat, menjadi semakin besar.

Sharif mengatakan peluang usaha budi daya air tawar ternyata kian menjanjikan. Misalnya untuk permintaan ikan patin. Permintaan ikan patin baik di pasar domestik maupun untuk pangsa ekspor, kata Sharif, semakin meningkat.

“Karena itu, KKP secara aktif terus mendorong pengembangan perikanan budidaya ikan air tawar, agar dapat menjadi alternatif kegiatan usaha masyarakat,” ujar Sharif, di Jakarta, Senin (7/1).

Sharif mengatakan perlu upaya nyata menekan biaya produksi serta meningkatnya kualitas mutu daging patin yang memenuhi persyaratan pasar ekspor. Ia mengatakan perlu mendorong lembaga penelitian untuk mengembangkan kajian teknologi terapan untuk menekan biaya produksi terutama penggunaan pakan dan benih unggul.

Benih Unggul

Benih Unggul

Selain itu, kata dia, langkah efisiensi budidaya patin lainnya dapat dilakukan dengan melakukan budidaya secara terintegrasi dari hulu sampai dengan hilir.

Langkah tersebut dinilai mampu mengoptimalkan dari semua bagian ikan patin yang dihasilkan, untuk mendapatkan ragam produk mulai dari daging fillet patin, tepung ikan dari tulang dan kepala ikan patin, serta produk lainnya.

Sejak 2012, KKP telah menetapkan empat komoditas industrialisasi, yaitu udang, bandeng, rumput laut dan patin sebagai model percontohan industrialisasi perikanan budidaya. Kegiatan usaha budidaya patin, kata dia, telah mengalami kemajuan pesat, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Berkembangnya budidaya patin ditopang sumberdaya perairan berupa sungai, danau, waduk maupun perkolaman. Ia menargetkan capaian target produksi patin secara nasional sebesar 651 ribu ton.

Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (APPPPI) Thomas Darmawan mengatakan pengembangan ikan patin masih ‘maju-mundur’. Menurutnya, pengembangan ikan patin masih bisa dikembangkan lebih maksimal. Ikan patin di Indonesia, masih cukup tertinggal dibandingkan Vietnam.

Pemerintah Genjot Produksi Ikan Patin

JAKARTA – Kementerian Kelautan dan Perikanan akan mengadopsi teknik budi daya ikan patin dari Vietnam dan Thailand agar dalam beberapa tahun ke depan Indonesia bisa menjadi eksportir ikan patin. Selama ini produksi ikan patin hanya untuk memenuhi pasar dalam negeri, kata Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan Victor Nikijuluw, karena produksinya yang masih rendah.

Selain itu, ikan patin masih belum memenuhi kualitas premium yang menjadi kebutuhan utama pasar internasional. “Adopsi bisa saja dengan mendatangkan tenaga dari Vietnam untuk kemudian dipekerjakan di sini atau mengadopsi teknik produksi dari Thailand,” kata Victor kemarin.

Vietnam saat ini merupakan negara eksportir ikan patin utama di pasar dunia, yang mengekspor 689 ribu ton atau setara dengan USS 1.42 miliar tahun lalu. Negara tujuan ekspor ikan patin dari Vietnam di antaranya Uni Eropa, Amerika Serikat, Meksiko, Rusia, dan ASEAN.

Penasihat Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Wirausaha dan Badan Usaha Milik Negara, Adji Suratman, menyatakan perbaikan kualitas ikan patin Indonesia akan dimulai dengan membangun kawasan sentra ikan patin terintegrasi dari hulu , sampai hilir di Kabupaten Kampar, Riau

Bibit Patin 3/4 inci

Bibit Patin 3/4 inci


Selama ini produksi ikan patin dalam negeri meningkat tiap tahun. Tahun lalu ikan patin yang diproduksi mencapai 147.888 ton atau naik dibanding tahun lalu sebesar 109.685 ton. Tahun depan produksi ikan patin diperkirakan mencapai 651 ribu ton atau melampaui pencapaian tahun ini yang diprediksi mencapai 383 ribu ton.

Lokasi sentra produksi ikan patin tersebar di 10 provinsi yang meliputi Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Ikan patin Indonesia saat ini banyak diolah menjadi produk fillet dengan 8 unit pengolahan fillet yang berada di Jakarta, Surabaya, dan Banjarmasin. Dari kapasitas maksimal dari seluruh unit pengolahan tersebut sebesar 80 ton per hari, saat ini baru terpakai 30 ton per hari.

Sumber: KoranTempo,10Oktober2011, Hal.B4

Amonia

Source : - http://elmhcx9_elmhurst_edu

Picture source : – http://elmhcx9_elmhurst_edu

Amonia adalah senyawa kimia yang terdiri dari satu atom Nitrogen dan tiga atom Hidrogen terikat erat, dengan simbol kimia NH3. Amonia dapat berbentuk cairan atau gas yang berbau tajam. Senyawa kimia ini berbahaya, dalam konsentrasi rendah sekalipun, menghirup atau terkena kulit mungkin dapat mengakibatkan kematian, terbakar atau pingsan.

Pada budidaya ikan, terutama disegmen pembibitan, Amonia adalah produk limbah utama ikan, dikeluarkan terutama melalui jaringan insang, dan juga pada tingkat yang lebih rendah dikeluarkan melalui ginjal. Amonia juga dapat menumpuk dari pembusukan jaringan ikan, makanan dan sampah organik lainnya yang berasal dari protein. Akumulasi amonia menyebabkan kemerahan pada kulit dan kerusakan insang yang disebabkan oleh efek pemanasan pada permukaan kulit ikan. Ikan akan kepayahan bila kandungan ammonia dalam air tinggi, ikan tidak merasa nyaman, mengisolasi diri, berbaring di bagian bawah, penjepit sirip mereka, mengeluarkan lendir berlebih, dan akan lebih mudah terjangkit infeksi parasit dan bactrerial.

Kepadatan ikan yang tinggi

Kepadatan ikan yang tinggi

Meningkatkan DO dalam Air

Meningkatkan DO dalam Air

Amonia adalah masalah besar dalam akuarium baru karena bakteri baik yang secara alami mengurai kandungan amonia dalam air belum stabil. Bahkan dalam lingkungan yang sudah stabil pun, amonia dapat terakumulasi dimusim penghujan ketika air dingin, saat ikan sedang mengalami penurunan daya tahan tubuh.
Air dengan pH dibawah 7.4 akan mengurai Amonia menjadi Amonium, dalam kondisi ini penguraian Amonia tidak membahayakan untuk ikan. Sedang bila pH 8,0 atau lebih amonia lebih mudah terurai, sehingga menjadi lebih beracun.

 

Sangat penting dalam budidaya ikan segmen pembibitan untuk menjagakestabilan pH air agar terhidar dari kerugian karena kematian masal akibat keracunan Amonia. Jika pH turun drastic, maka segera naikan pH dikisaran 7, sehingga bakteri baik pengurai amonia dapat tumbuh untuk menurunkan kadar amonia dalam air.

Thermometer air raksa lebih akurat

Thermometer air raksa lebih akurat memantau suhu air

Parameter seperti air yang hangat, pH yang tinggi atau kekurangan oksigen akan meningkatkan kadar racun ketika ammonia terakumulasi. Ini semua adalah pertimbangan penting ketika kita mencoba untuk menafsirkan tanda-tanda klinis yang bervariasi dari ikan pada tingkat amonia yang sama, tetapi terpengaruh sangat berbeda.

Hal yang wajib dilakukan untuk menjaga kadar Amonia yang normal dalam akuarium adalah

–        Lakukan penyiponan secara berkala atau apabila banyak sisa pakan atau fases didasar akuarium,

–        Jangan berlebihan memberikan pakan, pemberian pakan terbaik adalah sedikit tapi terjadwal dan sering,

–        Jaga kestabilan pH disekitar 6.5 sampai dengan 7.5

–        Bila air akuarium tercium bau, kurangi air 40% nya, tambahkan dengan air baru. Usahakan suhu dan kadar oksigen terlarut air baru dan air lama mendekati sama.

Semoga berguna.

 

Trichodina Yang Menjengkelkan

Parasit yang berberbentuk seperti ban truck yang sedang berputar ini bernama Trichodina.
Adalah tidak umum menemukan populasi kecil (hanya 1,2,3 ekor) parasit Trichodina pada ikan, pada ikan sakit yang sudah kepayahan berenang mungkin akan ditemukan lebih dari 30 ekor parasit ‘ban truck’ Trichodina. Pada tingkat populasi yang rendah mereka tidak menimbulkan ancaman bagi kesehatan ikan. Tidak seperti banyak parasit, mereka tidak benar-beTrichodina-3nar melukai ikan, parasit ini hanya menggunakan tubuh ikan sebagai rumah dan sarana transportasi! Namun, dalam jumlah besar mereka sangat menjengkelkan dan berpeluang merusakan selaput jaringan ikan akibat dari lingkaran penghisap yang digunakan Trichodina untuk menempelkan diri pada tubuh ikan. Trichodina dapat berkembang biak dengan cepat dengan cara membelah diri pada tubuh ikan yang lemah, sedang ikan yang sehat dapat mengendalikan sendiri jumlah parasit ini. Serangan trichodinid parah biasanya akibat dari dengan kualitas air yang buruk atau kepadatan jumlah ikan yang dibudidayakan. Dalam kondisi demikian parasit ‘ban truck’ ini dapat berkembang biak dengan cepat.
Gejala yang timbul bila Ikan terserang Trichodina adalah ikan terlihat kusam, bila koloni Trichodina banyak berkumpul di ekor, gerakan ikan akan sulit berenang kepermukaan mengambil nafas, bila bersembunyi disirip samping maka gerakan ikan akan cenderung Trichodina-1kekanan atau kekiri. Mungkin juga terlihat spot daerah memerah. Pada tahap selanjutnya ikan akan lesu, mereka dapat mengisolasi diri, berhenti makan dan berbaring di bawah dengan sirip menutup.

Tidak seperti parasit lain, semisal white-spot, Trichodina tidak segera mengancam jiwa ikan, hanya saja terlalu banyak koloni dalam tubuh seekor ikan cukup menyebabkan ikan stres dan kondisi ini tidak jarang untuk dijadikan momentum bakteri lainnya untuk mengambil keuntungan yang menyebabkan infeksi sekunder. Atau pemangsa seperti katak, uncrit atau kini-kini lebih mudah memangsa karena gerakan ikan jadi lamban.

Pengalaman kami adalah bahwa parasit ini rumit untuk dibasmi. Dalam skala mikroskopis (glass object) setitik garam dapa250px-Trich2 Scanning electron micrograph of Trichodina on the gills of a mullett membasmi keberadaan Trichodina, namun pada skala kolam 144 m2 dengan 2 ember garam tidak serta merta menyelesaikan masalah.

Cara berikutnya kami akan buang air kolam sampai 50% (untuk skala akuarium 30% sepertinya cukup), kemudian diberikan garam dan seluruh permukaan kolam diseprot dengan cairan PK.

Bila cara tersebut masih belum memuaskan, maka cara berikutnya adalah, mengangkat bibit yang baru berukuran 1 inci ke bak fiber bundar diameter 200cm untuk dilakukan perendaman pada air garam dan PK.

‘Ban Truk’ Parasit Pada Ikan

Parasit Trichodina

Menarik memperhatikan bibit Patin ukuran ¾ inci yang berenang bebas di empang berukuran 12 x 12 meter.  Sesedok teh pelet PF-500 ditebarkan, tidak menunggu lama, beberapa ikan mulai muncul kepermukaan aktif menyantap pelet, lama kelamaan mulai bermunculan bibit, mereka berdesakan berebut makan.

Ada satu atau dua ikan yang muncul kepermukaan dengan gerak renang seperti berat membawa beban, diperhatikan seksama seperti ada parasit dibadannya. Penasaran, ikan tersebut kami tangkap dan dilihat dengan mikroskop. Wow… kereeen ada banyak ‘ban truk’ melayang-layang hidup dihapir sekujur tubuhnya.

Ya kami mengistilakan parasit tersebut dengan ‘ban truk’ karena bentuknya yang mirip dengan ban truk dengan gerakan berputar. Bahasa ilmiah parasit ini adalah Trichodina. Berikut penampakannya

Trichodina

Masih dibawah pengamatan mikroskop, setitik garam didekatkan pada area berkumpul Trichodina yang sedang aktif bergerak dalam jumlah banyak. Terlihat jelas garam mulai larut dalam air tempat Trichodina hidup berkoloni. Satu demi satu ‘ban truk’ tersebut diam tak bergerak, sepertinya mati atau lumpuh sementara. Tunggu punya tunggu sambil terus diteteskan air bila media mulai akan mengering, dan beberapa menit berlalu, Trichodina sudah tidak bergerak lagi.

 

Garam adalah obat mujarab untuk mengurangi koloni parasit  ‘bun truck’ Trichodina.

Selengkapnya http://goldfish2care4.com/goldfish-diseases/trichodina.html

Salam,