Posts from the ‘Predator’ Category

Larva Patin: Kanibal ?

Alhamdulillah,

Puja dan puji hanya milik Allah semata, hanya dengan kehendak-Nya lah setiap peristiwa dapat terjadi.

Sore hari yang lumayan agak panas didalam farm tidak begitu terasa walau peluh bercucuran, sebanyak 38 aquarium ukuran 100cm x 200xm pada Farm-I ditebar larva sebanyak 5 sendok makan, dan di Farm-II dengan ukuran aquarium dan padat tebar yang sama telah terisi 15 aquarium. Perkiraan total larva patin ditebar sekitar 2.5 juta.

Setiap kali bibit patin masih berupa larva selalu menjadi perhatian adalah ada saja larva patin yang bertumpuk satu sama lain saling menggigit. Apakah ini yang disebut kabibalisme larva patin ?

Ternyata tidak, kanibalisme sama sekali bukan sifat larva patin atau bibit patin. Menurut artikel ilmiah dari sciencedirect, kabibalisasi larva patin lebih disebabkan karena faktor morfologi, yaitu bentuk dan struktur mulut larva patin.

Artikel tersebut membuat penasaran untuk membuktikan kebenaranya, maka saat waktu rutin penyiponan tiba diambil contoh dari tumpukan larva patin yang mati,

Tumpukan Larva Patin yang mati

Tumpukan Larva Patin yang mati

Namun sulit dilihat, bentuk dan struktur dari mulut patin, karena tumpukan tersebut sudah berlendir bercampur dengan kotoran.

Begitu juga dengan sample dari dua larva patin yang saling menggigit satu sama lain, separuh rahang larva patin menempel pada larva patin lainnya (gb.1A). Tidak begitu jelas terlihat bentuk dan struktur  mulut larva patin, padahal sudah menggunakan pembesaran mikroskop 10 x 12.5.

Akhirnya, sample larva patin yang diambil diletakan pada kaca objek, hanya sedikit air tersisa, tidak cukup bebas larva patin bergerak. Sehingga dapat dilihat posisi larva patin sedang membuka mulutnya.

Sayangnya mikroskop belum dilengkapi dengan electronic eyepiece yang dapat digunakan untuk merekam atau menyimpan penampakan bentuk dan struktur mulut larva patin.

Apa yang terlihat dengan mikroskop seperti gambar yang didapat dari internet berikut

Gambar 2. C dan D, adalah gambar seperti yang kami lihat di mikroskop dengan pembesaran 10 x 12.5, terlihat gigi larva patin sudah muncul pada umur 40 jam setelah menetas, Dan persis apa yang kami saksikan, mulut patin kadang terbuka kecil (gambar 2.C) dan kadang terbuka lebar (gambar 2.D)

Bila bentuk gigi diperbesar seperti gambar 3. diatas, maka tidak heran bila larva patin yang berenang sehat lincah dengan kondisi mulut larva yang kadang terbuka lebar dan keadaan gigi yang sudah muncul diusia beberapa jam setelah menetas, maka bila dua atau lebih larva patin bertabrakan dimana salah satu mullut larva patin terbuka lebar, mengenai larva lainnya, -bagian manapun, maka larva dengan mulut yang terbuka tersebut akan menempel pada larva lainnya tanpa mampu dilepaskan.

Sekarang kami faham bahwa ikan Patin bukan jenis ikan kanibal, mortalitas tinggi larva patin lebih dikarenakan bentuk dan struktur mulut yang sudah ditumbuhi gigi tajam sejak menetas.

Bacaan :
Morphological factors behind the early mortality of cultured larvae of the Asian catfish, Pangasianodon hypophthalmus

Trichodina Yang Menjengkelkan

Parasit yang berberbentuk seperti ban truck yang sedang berputar ini bernama Trichodina.
Adalah tidak umum menemukan populasi kecil (hanya 1,2,3 ekor) parasit Trichodina pada ikan, pada ikan sakit yang sudah kepayahan berenang mungkin akan ditemukan lebih dari 30 ekor parasit ‘ban truck’ Trichodina. Pada tingkat populasi yang rendah mereka tidak menimbulkan ancaman bagi kesehatan ikan. Tidak seperti banyak parasit, mereka tidak benar-beTrichodina-3nar melukai ikan, parasit ini hanya menggunakan tubuh ikan sebagai rumah dan sarana transportasi! Namun, dalam jumlah besar mereka sangat menjengkelkan dan berpeluang merusakan selaput jaringan ikan akibat dari lingkaran penghisap yang digunakan Trichodina untuk menempelkan diri pada tubuh ikan. Trichodina dapat berkembang biak dengan cepat dengan cara membelah diri pada tubuh ikan yang lemah, sedang ikan yang sehat dapat mengendalikan sendiri jumlah parasit ini. Serangan trichodinid parah biasanya akibat dari dengan kualitas air yang buruk atau kepadatan jumlah ikan yang dibudidayakan. Dalam kondisi demikian parasit ‘ban truck’ ini dapat berkembang biak dengan cepat.
Gejala yang timbul bila Ikan terserang Trichodina adalah ikan terlihat kusam, bila koloni Trichodina banyak berkumpul di ekor, gerakan ikan akan sulit berenang kepermukaan mengambil nafas, bila bersembunyi disirip samping maka gerakan ikan akan cenderung Trichodina-1kekanan atau kekiri. Mungkin juga terlihat spot daerah memerah. Pada tahap selanjutnya ikan akan lesu, mereka dapat mengisolasi diri, berhenti makan dan berbaring di bawah dengan sirip menutup.

Tidak seperti parasit lain, semisal white-spot, Trichodina tidak segera mengancam jiwa ikan, hanya saja terlalu banyak koloni dalam tubuh seekor ikan cukup menyebabkan ikan stres dan kondisi ini tidak jarang untuk dijadikan momentum bakteri lainnya untuk mengambil keuntungan yang menyebabkan infeksi sekunder. Atau pemangsa seperti katak, uncrit atau kini-kini lebih mudah memangsa karena gerakan ikan jadi lamban.

Pengalaman kami adalah bahwa parasit ini rumit untuk dibasmi. Dalam skala mikroskopis (glass object) setitik garam dapa250px-Trich2 Scanning electron micrograph of Trichodina on the gills of a mullett membasmi keberadaan Trichodina, namun pada skala kolam 144 m2 dengan 2 ember garam tidak serta merta menyelesaikan masalah.

Cara berikutnya kami akan buang air kolam sampai 50% (untuk skala akuarium 30% sepertinya cukup), kemudian diberikan garam dan seluruh permukaan kolam diseprot dengan cairan PK.

Bila cara tersebut masih belum memuaskan, maka cara berikutnya adalah, mengangkat bibit yang baru berukuran 1 inci ke bak fiber bundar diameter 200cm untuk dilakukan perendaman pada air garam dan PK.