Posts from the ‘Pangasius Suchi’ Category

Bakso Ikan Patin

Bagi Anda yang suka makan bakso tapi khawatir kolesterol meningkat, Anda bisa membuat Bakso ikan Patin sebagai pilihan alternatif agar tetap bisa makan bakso dan tetap menjaga kesehatan.

image

Bakso Ikan Patin

Bahan-bahan:
✩ Daging ikan Patin 700gr
✩ Garam 10,5 gr
✩ Lada 1,75 gr
✩ Bawang putih 3,5 gr
✩ Bawang merah 7 gr
✩ Tepung tapioka 87,5 gr
✩ Baking soda 0,7 gr
✩ Air es 150 gr

Cara membuat Bakso Ikan Patin
✩ Ikan Patin diambil dagingnya saja, rendam daging ikan patin kedalam larutan garam 3% (21 gr),
✩ Daging ikan Patin dibilas dan dipotong-potong, kemudian dilumatkan menggunakan Silent Cutter/Food Processor/Mixer/Blander, tambahkan air es,
✩ Terlebih dahulu tambahkan garam sambil terus diaduk hingga terbentuk adonan yang lengket,
✩ Selanjutnya tambahkan bumbu-bumbu lainnya dan dicampur hingga benar-benar homogen. Pengadukan kira-kira 15 menit,
✩ Cetak adonan dengan menggunakan alat pencetak bakso atau dicetak manual menggunakan tangan dan sendok,
✩ Tampung bakso ikan Patin hasil cetakan pada wada yang berisi air hangat (40°C) selama 20 menit,
✩ Rebus bakso ikan Patin dengan suhu air 90°C selama 20 menit atau sampai bakso ikan Patin mengapung.
✩ Angkat dan tiriskan, Bakso ikan Patin siap dihidangkan.

Klik disini untuk membuat Kuah Bakso Ikan Patin
Mudahkan, ayo perbanyak makan ikan Patin untuk hidup lebih sehat.

Kelayakan Usaha Pembenihan Ikan Patin

FB Upload -indoor hatchery
Ikan patin (Pangasius spp.) merupakan salah satu komoditi perikanan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Permintaan lokal dan ekspor ikan patin semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan karena daging ikan patin memiliki kandungan kalori dan protein yang cukup tinggi, rasa dagingnya khas, enak, lezat, dan gurih. Ikan ini dinilai lebih aman untuk kesehatan karena kadar kolesterolnya rendah dibandingkan dengan daging ternak. Keunggulan ini menjadikan patin sebagai salah satu primadona perikanan tawar.

Ikan patin adalah ikan perairan tawar yang termasuk ke dalam famili pangasidae dengan nama umum adalah catfish. Populasi di alam ditemukan di sungai-sungai besar di daerah Sumatera, Kalimantan, dan sebagian di Jawa. Di daerah penyebarannya tersebut di Indonesia, terdapat sekitar 14 jenis ikan patin, termasuk ikan patin siam (Slembrouck et al., 2005). Selain di Indonesia, ikan patin juga banyak ditemukan di kawasan Asia seperti di Vietnam, Thailand, dan China. Diantara beberapa jenis patin tersebut, yang telah berhasil dibudidayakan, baik dalam pembenihan maupun pembesaran dalam skala usaha mikro, kecil, dan menengah adalah 2 spesies, yakni ikan patin siam (Pangasius hypophthalmus; nama latin sebelumnya adalah P. sutchi) dan patin jambal (Pangasius djambal).

Patin siam mulai berhasil dipijahkan di Indonesia pada tahun 1981, sedangkan patin jambal pada tahun 1997. Di samping itu terdapat patin hasil persilangan (hibrida) antara patin siam betina dengan patin jambal jantan, yang dilakukan oleh Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar (LRPTBPAT) dan dikenal dengan “patin pasupati” (Pangasius sp.). Ketiga jenis ikan patin tersebut mempunyai beberapa kelebihan dan kendala tersendiri dalam budidaya, baik dari kegiatan pembenihan maupun pembesaran. Kendala yang relatif besar dihadapi dalam pembenihan ikan adalah terhadap ikan patin jambal.

FB Upload -Pasir Gaok Animasi 3

Sumber : Bank Indonesia, Direktorat Kredit, BPR dan UMKM

Meningkatkan SR larva Patin: Gelap, Redup atau Terang ?

Sebuah penelitian yang baru saja direlease secara online pada tanggal 11 Desember 2013 yang dilakukan oleh Yukinori Mukai, Nai Han Tan dan Tian Leong Seng Lim.

Larva Patin Menetas Sudah Bergigi

Mendapatkan kesimpulan bahwa tingkat kelangsungan hidup larva Patin menjadi tiga kali lebih tinggi dalam kondisi cahaya ruangan redup 0,1 lux (kira-kira redup bulan purnama dengan langit mendung) dari pada larva yang dibudidaya didalam ruangan dengan intensitas cahaya 100 lux (kira-kira kondisi siang hari langit mendung sangat gelap).

Cahaya Redup

Cahaya Redup

Dalam studi ini , perilaku larva ikan patin sutchi diperiksa dalam berbagai intensitas cahaya ( <0,01, 0,1, 1, 10 dan 100 lux ) menggunakan kamera khusus (CCD – Charge-Coupled Device) untuk mengetahui variasi tingkat kelangsungan hidup dibawah intensitas cahaya yang berbeda pada larva patin berusia dibawah 5 hari.
Dari penelitian tersebut dicatat bahwa dengan intensitas cahaya dibawah 1 lux larva Patin berenang normal, sedangkan dengan intensitas cahaya 10 dan 100 lux larva Patin menunjukan prilaku yang lebih agresif.
Penelitian ini memberikan bukti bahwa tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi diamati tergantung pada frekuensi yang lebih rendah dari perilaku agresif dalam kondisi gelap atau redup . Oleh karena itu disarankan agar pemeliharaan larva dari ikan Patin dilakukan di bawah kondisi cahaya redup ( kurang dari 1 lux ).

Cahaya Terang

Cahaya Terang

Source: http://onlinelibrary.wiley.com

Bijaksana dalam menerapkan sebuah penelitian sangatlah menentukan keberhasilan dalam memproduksi bibit patin dengan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi. Tulisan diatas hanyalah ringkasan dari sebuah penelitian yang tidak disebutkan kepadatan larva yang diteliti.

Tulisan terkait: Apakah Larva Patin Kanibal ?

 

Contoh kondisi cahaya

Illuminance Surfaces illuminated by
0.0001 lux Moonless, overcast night sky (starlight)
0.002 lux Moonless clear night sky with airglow
0.27–1.0 lux Full moon on a clear night
3.4 lux Dark limit of civil twilight under a clear sky
50 lux Family living room lights (Australia, 1998)
80 lux Office building hallway/toilet lighting
100 lux Very dark overcast day
320–500 lux Office lighting
400 lux Sunrise or sunset on a clear day.
1000 lux Overcast day; typical TV studio lighting
10000–25000 lux Full daylight (not direct sun)
32000–130000 lux Direct sunlight

Daya Tarik Usaha Pembenihan Ikan Patin

Usaha pembenihan menjadi usaha yang lebih menarik dengan beberapa kelebihan, antara lain:

Kepadatan Tinggi

Kepadatan Tinggi

1. Pembenihan adalah awal siklus dari usaha perikanan.
Ibarat membangun rumah, pembenihan adalah membangun pondasi dasar keberhasilan perikanan budidaya. Pada segmen usaha pembenihan ini kwalitas bibit yang dihasilkan lebih diutamakan dari kwantitas produksi. Oleh karena usaha pembenihan adalah awal siklus usaha perikanan, maka tanpa pembenihan, kegiatan pembesaran tidak dapat berjalan. Mutlak kegiatan usaha pembenihan dibutuhkan.

2. Resiko penjualan tidak terlalu besar
Terkadang hasil dari pembenihan tidak dapat diserap pasar seluruhnya sehingga penjualan harus ditunda. Menunda penjualan bibit Patin tidak berarti akan mengalami kerugian, justru dengan penambahan biaya pakan yang sedikit akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar.

3. Periode singkat
Siklus usaha pembenihan ikan Patin relative singkat, dari mulai 4 hari panen (produksi larva) sampai dengan 2 bulan (produksi ukuran 3inci up). Dengan siklus yang pendek maka perputaran uang akan semakin cepat.

4. Area usaha tidak terlalu luas
Hanya dengan kwalitas air yang baik dan kwantitas yang banyak dengan lahan seluas 3 x 4 meter, usaha pembenihan ikan Patin sudah dapat dimulai untuk memproduksi bibit Patin ukuran 1”+ sebanyak 100.000 ekor.

5. Ikan Patin multi fungsi
Pada saat masih kecil (2” – 4”) ikan Patin dengan tubuh yang berwarna keperakan akan berkilap bila terkena cahaya, untuk kilauan tersebut ikan Patin diberi nama iridescent shark (warna warni, seperti pelangi)

Ikan Patin Albino

Ikan Patin Albino

Baca juga:
KEP-02-MEN-2007 tentang Cara Budidaya Ikan yang Baik
SNI 7471.3-2009 Ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar

PENGARUH PENAMBAHAN DOSIS KARBON YANG BERBEDA TERHADAP PRODUKSI BENIH IKAN PATIN (Pangasius sp) PADA SISTEM PENDEDERAN INTENSIF

Kepadatan Tinggi

Kepadatan Tinggi

Akuakultur adalah kegiatan yang memproduksi biota (organisme) akuatik di
lingkungan terkontrol dalam rangka mendapatkan keuntungan (profit).
Keuntungan ini dapat diperoleh melalui pengelolaan sistem dan penerapan
teknologi, terutama pada sistem budidaya intensif. Sistem yang intensif
menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air akibat meningkatnya produk sisa metabolisme berupa nitrogen organik. Rasio C/N adalah salah satu cara untuk perbaikan sistem pada budidaya intensif dan termasuk teknologi yang murah dan aplikatif. Penerapan teknologi pada rasio C/N berupa bioteknologi karena mengaktifkan kerja bakteri heterotrof. Perkembangan bakteri heterotrof melalui manipulasi rasio C/N yang menggunakan bahan organik sebagai sumber karbon dalam sistem akuakultur dapat mengurangi konsentrasi amonia. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh rasio C/N pada sistem pendederan ikan patin di akuarium melalui pemberian karbon dengan jumlah yang berbeda-beda.

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 3 Juni 2008 sampai dengan 30 Juni
2008, bertempat di laboratorium Sistem dan Teknologi, Departemen Budidaya
Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Hewan uji yang digunakan adalah benih ikan patin berukuran panjang awal 2,66 ± 0,12 cm dan bobot awal 0,370 ± 0,05 gram. Bakteri yang digunakan adalah bakteri heterotrof yang merupakan produk komersil dengan konsentrasi 109 CFU/ml.

Bakteri ditambahkan sebanyak 0,6 ml ke dalam air yang bervolume 30 L. Untuk
mengoptimalkan kerja bakteri heterotrof digunakan sumber karbon berupa molase yang memiliki kandungan unsur karbon sebesar 37%. Benih ikan patin dipelihara selama 28 hari. Wadah pemeliharaan berupa akuarium dengan volume air 30 L.

Pakan yang diberikan adalah pakan buatan dengan kandungan protein 30%.
Jumlah pakan yang diberikan 8% dari biomassa. Pakan diberikan 3 kali sehari
(pagi, siang dan sore hari) dengan cara ditebar merata. Penambahan karbon
disesuaikan dengan rasio C/N yang ditentukan dan disesuaikan dengan jumlah
pakan yang diberikan setiap hari. Parameter yang diukur antara lain derajat
kelangsungan hidup (SR), pertumbuhan panjang dan bobot, pertumbuhan panjang baku, laju pertumbuhan harian, biomassa, produksi dan efisiensi pakan. Analisis data dilakukan dengan analisis ragam dan uji lanjut polinom ortogonal. Selain itu dilakukan pengukuran kualitas air yang meliputi temperatur, kandungan oksigen terlarut, pH, amonia dan kekeruhan. Data kualitas air dianalisis secara deskriptif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan molase pada sistem
pemeliharaan yang stagnan berpengaruh nyata terhadap peningkatan parameter laju pertumbuhan harian, pertumbuhan panjang baku, biomassa, efisiensi pakan dan produksi, serta diperoleh hubungan yang linear. Walaupun parameter SR telah menurun pada perlakuan rasio C/N 10 dan 15, tetapi kecenderungan dari kurva kuadratik yang dibentuk masih kecil. Data kualitas air menunjukkan bahwa kondisi físika kimia sistem pemeliharaan masih berada pada kisaran toleransi ikan untuk hidup dan tumbuh. Berdasarkan hasil tersebut, penambahan molase sebagai sumber karbon memberikan pengaruh yang positif pada sistem pemeliharaan yang stagnan sehingga dapat diterapkan pada kegiatan akuakultur karena merupakan cara yang praktis dan murah untuk mengurangi penumpukan atau mempercepat penurunan konsentrasi nitrogen anorganik yang toksik di dalam air.

 

Indoor Hatchery Bersih untuk kwalitas super

Indoor Hatchery
Bersih untuk kwalitas super

Berdasarkan hasil yang diperoleh, produksi tertinggi diperoleh pada rasio
C/N 15 yaitu sebesar 7,98 gram/hari, sedangkan produksi terendah diperoleh pada perlakuan kontrol atau rasio C/N 0 yaitu sebesar 1,95 gram/hari. Dari hasil
tersebut, secara umum rasio C/N perlu ditingkatkan lagi yaitu lebih dari 15.

 

Penulis MUSYAWARAH NAJAMUDDIN
Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.