Posts from the ‘Pangasius Suchi’ Category

Meningkatkan SR larva Patin: Gelap, Redup atau Terang ?

Sebuah penelitian yang baru saja direlease secara online pada tanggal 11 Desember 2013 yang dilakukan oleh Yukinori Mukai, Nai Han Tan dan Tian Leong Seng Lim.

Larva Patin Menetas Sudah Bergigi

Mendapatkan kesimpulan bahwa tingkat kelangsungan hidup larva Patin menjadi tiga kali lebih tinggi dalam kondisi cahaya ruangan redup 0,1 lux (kira-kira redup bulan purnama dengan langit mendung) dari pada larva yang dibudidaya didalam ruangan dengan intensitas cahaya 100 lux (kira-kira kondisi siang hari langit mendung sangat gelap).

Cahaya Redup

Cahaya Redup

Dalam studi ini , perilaku larva ikan patin sutchi diperiksa dalam berbagai intensitas cahaya ( <0,01, 0,1, 1, 10 dan 100 lux ) menggunakan kamera khusus (CCD – Charge-Coupled Device) untuk mengetahui variasi tingkat kelangsungan hidup dibawah intensitas cahaya yang berbeda pada larva patin berusia dibawah 5 hari.
Dari penelitian tersebut dicatat bahwa dengan intensitas cahaya dibawah 1 lux larva Patin berenang normal, sedangkan dengan intensitas cahaya 10 dan 100 lux larva Patin menunjukan prilaku yang lebih agresif.
Penelitian ini memberikan bukti bahwa tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi diamati tergantung pada frekuensi yang lebih rendah dari perilaku agresif dalam kondisi gelap atau redup . Oleh karena itu disarankan agar pemeliharaan larva dari ikan Patin dilakukan di bawah kondisi cahaya redup ( kurang dari 1 lux ).

Cahaya Terang

Cahaya Terang

Source: http://onlinelibrary.wiley.com

Bijaksana dalam menerapkan sebuah penelitian sangatlah menentukan keberhasilan dalam memproduksi bibit patin dengan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi. Tulisan diatas hanyalah ringkasan dari sebuah penelitian yang tidak disebutkan kepadatan larva yang diteliti.

Tulisan terkait: Apakah Larva Patin Kanibal ?

 

Contoh kondisi cahaya

Illuminance Surfaces illuminated by
0.0001 lux Moonless, overcast night sky (starlight)
0.002 lux Moonless clear night sky with airglow
0.27–1.0 lux Full moon on a clear night
3.4 lux Dark limit of civil twilight under a clear sky
50 lux Family living room lights (Australia, 1998)
80 lux Office building hallway/toilet lighting
100 lux Very dark overcast day
320–500 lux Office lighting
400 lux Sunrise or sunset on a clear day.
1000 lux Overcast day; typical TV studio lighting
10000–25000 lux Full daylight (not direct sun)
32000–130000 lux Direct sunlight

Daya Tarik Usaha Pembenihan Ikan Patin

Usaha pembenihan menjadi usaha yang lebih menarik dengan beberapa kelebihan, antara lain:

Kepadatan Tinggi

Kepadatan Tinggi

1. Pembenihan adalah awal siklus dari usaha perikanan.
Ibarat membangun rumah, pembenihan adalah membangun pondasi dasar keberhasilan perikanan budidaya. Pada segmen usaha pembenihan ini kwalitas bibit yang dihasilkan lebih diutamakan dari kwantitas produksi. Oleh karena usaha pembenihan adalah awal siklus usaha perikanan, maka tanpa pembenihan, kegiatan pembesaran tidak dapat berjalan. Mutlak kegiatan usaha pembenihan dibutuhkan.

2. Resiko penjualan tidak terlalu besar
Terkadang hasil dari pembenihan tidak dapat diserap pasar seluruhnya sehingga penjualan harus ditunda. Menunda penjualan bibit Patin tidak berarti akan mengalami kerugian, justru dengan penambahan biaya pakan yang sedikit akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar.

3. Periode singkat
Siklus usaha pembenihan ikan Patin relative singkat, dari mulai 4 hari panen (produksi larva) sampai dengan 2 bulan (produksi ukuran 3inci up). Dengan siklus yang pendek maka perputaran uang akan semakin cepat.

4. Area usaha tidak terlalu luas
Hanya dengan kwalitas air yang baik dan kwantitas yang banyak dengan lahan seluas 3 x 4 meter, usaha pembenihan ikan Patin sudah dapat dimulai untuk memproduksi bibit Patin ukuran 1”+ sebanyak 100.000 ekor.

5. Ikan Patin multi fungsi
Pada saat masih kecil (2” – 4”) ikan Patin dengan tubuh yang berwarna keperakan akan berkilap bila terkena cahaya, untuk kilauan tersebut ikan Patin diberi nama iridescent shark (warna warni, seperti pelangi)

Ikan Patin Albino

Ikan Patin Albino

Baca juga:
KEP-02-MEN-2007 tentang Cara Budidaya Ikan yang Baik
SNI 7471.3-2009 Ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar

PENGARUH PENAMBAHAN DOSIS KARBON YANG BERBEDA TERHADAP PRODUKSI BENIH IKAN PATIN (Pangasius sp) PADA SISTEM PENDEDERAN INTENSIF

Kepadatan Tinggi

Kepadatan Tinggi

Akuakultur adalah kegiatan yang memproduksi biota (organisme) akuatik di
lingkungan terkontrol dalam rangka mendapatkan keuntungan (profit).
Keuntungan ini dapat diperoleh melalui pengelolaan sistem dan penerapan
teknologi, terutama pada sistem budidaya intensif. Sistem yang intensif
menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air akibat meningkatnya produk sisa metabolisme berupa nitrogen organik. Rasio C/N adalah salah satu cara untuk perbaikan sistem pada budidaya intensif dan termasuk teknologi yang murah dan aplikatif. Penerapan teknologi pada rasio C/N berupa bioteknologi karena mengaktifkan kerja bakteri heterotrof. Perkembangan bakteri heterotrof melalui manipulasi rasio C/N yang menggunakan bahan organik sebagai sumber karbon dalam sistem akuakultur dapat mengurangi konsentrasi amonia. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh rasio C/N pada sistem pendederan ikan patin di akuarium melalui pemberian karbon dengan jumlah yang berbeda-beda.

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 3 Juni 2008 sampai dengan 30 Juni
2008, bertempat di laboratorium Sistem dan Teknologi, Departemen Budidaya
Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Hewan uji yang digunakan adalah benih ikan patin berukuran panjang awal 2,66 ± 0,12 cm dan bobot awal 0,370 ± 0,05 gram. Bakteri yang digunakan adalah bakteri heterotrof yang merupakan produk komersil dengan konsentrasi 109 CFU/ml.

Bakteri ditambahkan sebanyak 0,6 ml ke dalam air yang bervolume 30 L. Untuk
mengoptimalkan kerja bakteri heterotrof digunakan sumber karbon berupa molase yang memiliki kandungan unsur karbon sebesar 37%. Benih ikan patin dipelihara selama 28 hari. Wadah pemeliharaan berupa akuarium dengan volume air 30 L.

Pakan yang diberikan adalah pakan buatan dengan kandungan protein 30%.
Jumlah pakan yang diberikan 8% dari biomassa. Pakan diberikan 3 kali sehari
(pagi, siang dan sore hari) dengan cara ditebar merata. Penambahan karbon
disesuaikan dengan rasio C/N yang ditentukan dan disesuaikan dengan jumlah
pakan yang diberikan setiap hari. Parameter yang diukur antara lain derajat
kelangsungan hidup (SR), pertumbuhan panjang dan bobot, pertumbuhan panjang baku, laju pertumbuhan harian, biomassa, produksi dan efisiensi pakan. Analisis data dilakukan dengan analisis ragam dan uji lanjut polinom ortogonal. Selain itu dilakukan pengukuran kualitas air yang meliputi temperatur, kandungan oksigen terlarut, pH, amonia dan kekeruhan. Data kualitas air dianalisis secara deskriptif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan molase pada sistem
pemeliharaan yang stagnan berpengaruh nyata terhadap peningkatan parameter laju pertumbuhan harian, pertumbuhan panjang baku, biomassa, efisiensi pakan dan produksi, serta diperoleh hubungan yang linear. Walaupun parameter SR telah menurun pada perlakuan rasio C/N 10 dan 15, tetapi kecenderungan dari kurva kuadratik yang dibentuk masih kecil. Data kualitas air menunjukkan bahwa kondisi físika kimia sistem pemeliharaan masih berada pada kisaran toleransi ikan untuk hidup dan tumbuh. Berdasarkan hasil tersebut, penambahan molase sebagai sumber karbon memberikan pengaruh yang positif pada sistem pemeliharaan yang stagnan sehingga dapat diterapkan pada kegiatan akuakultur karena merupakan cara yang praktis dan murah untuk mengurangi penumpukan atau mempercepat penurunan konsentrasi nitrogen anorganik yang toksik di dalam air.

 

Indoor Hatchery Bersih untuk kwalitas super

Indoor Hatchery
Bersih untuk kwalitas super

Berdasarkan hasil yang diperoleh, produksi tertinggi diperoleh pada rasio
C/N 15 yaitu sebesar 7,98 gram/hari, sedangkan produksi terendah diperoleh pada perlakuan kontrol atau rasio C/N 0 yaitu sebesar 1,95 gram/hari. Dari hasil
tersebut, secara umum rasio C/N perlu ditingkatkan lagi yaitu lebih dari 15.

 

Penulis MUSYAWARAH NAJAMUDDIN
Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

SNI – PERIKANAN AIR TAWAR

DAFTAR SNI – PERIKANAN AIR TAWAR

header KKP GO ID

NOMOR TAHUN TENTANG
6138:2009 2009 Induk ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok
6139:2009 2009 Produksi induk ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok
6140:2009 2009 Benih ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar
6141:2009 2009 Produksi benih ikan nilah hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar
7583:2010 2010 Pengemasan benih ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) pada sarana angkutan darat
7584:2010 2010 Pengemasan benih ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) pada sarana angkutan udara
02-6730.1-2002 2002 Benih kodok lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas benih sebar
02-6730.2-2002 2002 Induk kodok lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas induk pokok (Parent Stock)
02-6730.3-2002 2002 Produksi benih kodok lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas benih sebar
02-6730.4-2002 2002 Produksi induk kodok lembu (bull frog) (Rana catesbeiana Shaw) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6486.1-2000 2000 Induk udang galah (Macrobranchium rosenbergii de Man) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6486.2-2000 2000 Benih udang galah (Macrobranchium rosenbergii de Man) kelas benih sebar
02-6486.2-2002 2002 Produksi induk udang galah (Macrobrachium rosenbergii de Man) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6486.3-2000 2000 Produksi benih udang galah (Macrobranchium rosenbergii de Man) kelas benih sebar
01-6489-2000 2000 Metode pengambilan contoh benih ikan dan udang
01-6491-2000 2000 Metode pengujian mutu daya tetas artemia
01-6485.1-2000 2000 Induk ikan gurame (Osphronemus goramy, Lac) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6485.2-2000 2000 Benih ikan gurame (Osphronemus goramy, Lac) kelas benih sebar
01-6485.3-2000 2000 Produksi benih ikan gurame (Osphronemus goramy, Lac) kelas benih sebar
01-6483.1-2000 2000 Induk ikan patin siam (Pangasius hypophthalmus) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6483.2-2000 2000 Benih ikan patin siam (Pangasius hypophthalmus) kelas benih sebar
01-6483.3-2000 2000 Produksi Induk ikan patin siam (Pangasius hypophthalmus) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6483.4-2000 2000 Produksi benih ikan patin siam (Pangasius hypophthalmus) kelasenih sebar
01-7256-2006 2006 Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar
01-7471.1-2009 2009 Ikan patin jambal (Pangasius djambal) Bagian 1: induk kelas induk pokok (parent stock)
01-7471.2-2009 2009 Ikan patin jambal (Pangasius djambal) Bagian 2: Produksi induk kelas induk pokok (parent stock)
01-7471.3-2009 2009 Ikan patin jambal (Pangasius djambal) Bagian 3: Benih kelas benih sebar
01-6484.1-2000 2000 Induk ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6484.2-2000 2000 Benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas benih sebar
01-6484.3-2000 2000 Produksi induk ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6484.4-2000 2000 Produksi benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas benih sebar
01-6130-1999 1999 Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6131-1999 1999 Produksi Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6132-1999 1999 Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas benih sebar
01-6133-1999 1999 Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas benih sebar
01-6134-1999 1999 Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6135-1999 1999 Produksi Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6136-1999 1999 Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas benih sebar
01-6137-1999 1999 Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas benih sebar
01-6138-1999 1999 Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6139-1999 1999 Produksi Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6140-1999 1999 Benih Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar
01-6141-1999 1999 Produksi Benih Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar

Penetasan Artemia

Berikut cara paling mudah untuk menetaskan artemia.

brineshrimp_photo4

Yang harus diperhatikan sebelum menetaskan artemia

  • Artemia sehat, dalam keadaan baik,
  • pastikan tidak kadaluarsa,
  • disimpan dengan benar .

Cara menyimpan yang benar

  • dalam wadah tertutup rapat,
  • kering, bebas dari kelembaban,
  • dalam ruang yang dingin 0 – 10° C ( disimpan kurang dari 4 Minggu),
  • dalam ruang dibawah 0° C (untuk penyimpanan jangka panjang)

Bila satu kaleng tidak dihabiskan dalam waktu 3 – 4 minggu, disarankan untuk membagi artemia dalam jumlah yang cukup untuk kebutuhan 3 – 4 minggu, disimpan dalam lemari es (jangan di freezernya) dan didalam wadah tertutup rapat. Sisanya yang akan digunakan nanti sebulan kemudian, simpan didalam freezer dengan suhu dibawah 0° C . Perlu diingat bahwa pembekuan dapat menurunkan aktivitas metabolik dan dapat menunda penetasan artemia. Untuk itu artemia yang disimpan dalam freezer harus dikeluarkan satu hari sebelum digunakan.

Aturan penyimpanan di atas berlaku untuk semua Artemia, baik masih dalam kaleng yang belum dibuka atau yang sudah dibuka .

Pedoman penetasan untuk hasil terbaik :

    • Salinitas :
      25 ppt larutan garam , atau sekitar 1.75 sendok makan garam per liter air . Ini setara dengan sekitar 1.018 berat jenis yang diukur dengan hydrometer . Pastikan untuk menggunakan garam ikan kristal (garam laut).
    • pH :
      PH yang tepat adalah penting dalam penetasan artemia. pH yang dianjurkan diatas 8,0.
    • Suhu :
      Suhu air optimum untuk penetasan sempurna dalam waktu 24 jam adalah 26-28° C. Artemia akan butuh waktu lebih lama untuk menetas dengan suhu dibawah 25° C. Jaga suhu jangan sampai melebihi 30° C.
    • Cahaya :
      Cahaya diperlukan untuk memicu mekanisme penetasan dalam embrio artemia selama beberapa jam pertama inkubasi . Meletakan lampu bohlam (bukan lampu hemat energi) sebagain sumber cahaya selama periode inkubasi sangat dianjurkan untuk mendapatkan hasil optimal.
    • Aerasi :
      Aerasi terus menerus diperlukan untuk menjaga kista tetap bergerak dan untuk memberikan kadar oksigen yang cukup untuk kista menetas . Minimal 3 ppm oksigen terlarut selama inkubasi dianjurkan . Aerasi yang kuat tidak akan merusak atau menyakiti nauplii .
    • Kepadatan :
      Dianjurkan menggunakan 1 gram per liter atau sekitar 1/2 sdt per liter. Dengan kepadatan tebar yang tinggi akan menghasilkan persentase menetas lebih rendah .
    • Tempat Penetasan:
      Hindari wadah penetasan yang dasarnya datar. Wadah dengan bentuk corong didasarnya diyakini sebagai wadah terbaik untuk memastikan bahwa kista tetap teraduk sempurna selama proses penetasan .Pastikan untuk benar-benar mencuci wadah penetasan dengan larutan klorin ringan, bilas dan dijemur hingga kering. Hindari menggunakan sabun . Sabun akan meninggalkan sedikit residu yang akan membuat busa dari aerasi selama menetas dan dapat menyebabkan kista terdampar di atas permukaan air.
    • Waktu Inkubasi:
      Umumnya, waktu inkubasi optimum adalah 24 jam . Telur yang telah benar disimpan selama lebih dari 2-3 bulan mungkin memerlukan tambahan waktu inkubasi 30 sampai 36 jam. Sering kali , telur akan menetas dalam sedikitnya 18 jam . Jika menginginkan ukuran nauplii yang lebih kecil, dianjurkan untuk memanen nauplii dalam kurun waktu sekitar 20 jam.

hatching_illust2

EmpangQQ.COM

Ada apa dengan Agustus 2013

bismillah

Pasir Gaok, 5 Syawal 1434 H.

Sudah berlalu Ramadhan dengan segala kemuliaannya, sebulan penuh menahan segala asa dan keinginan untuk berkarya. Namun penghormatan terhadap bulan kerinduan, yang mana didalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, ikhlas tertunda semua harapan.

Syawal pun datang bertepatan dengan 9 Agustus 2013, dimulainya cerita baru dengan semangat dan kepemimpinan yang baru untuk kembali memproduksi bibit patin yang bermutu.

Senin, 2 September 2013, Insya Allah panen bibit 3/4 inci.

Chronological Journal

clock_e0

Kamis, 29 Agustus 2013

  • Grading bibit patin pemijahan tanggal 14 Agustus 2013,

Jum’at, 23 Agustus 2013

  • Tanda-tanda kehidupan mulai bermunculan, Alhamdulillah ala kullihal, Hatching Rate kembali dibawah standard, ini kemungkinan disebabkan oleh kondisi indukan yang memang belum saatnya untuk dipijahkan.

Rabu, 21 Agustus 2013

  • Pemijahan kedua dibulan Agustus kembali dilakukan,

Jum’at, 16 Agustus 2013

  • Tanda-tanda kehidupan telah tampak,

Kamis, 15 Agustus 2013

  • Kehidupan baru bibit patin dimulai
  • Alhamdulillah 25% kapasitas Farm-1 sudah terisi,
  • Insya Allah pada tanggal 19 Agustus 2013 dilakukan seleksi induk kembali.

Rabu, 14 Agustus 2013

  • Stripping time
  • Tebar telur 34 Aquariums

Selasa, 13 Agustus 2013

  • Persiapan amunisi
  • Peralatan induced breeding

Senin, 12 Agustus 2013

  • Seleksi induk betina dan jantan
  • Pemberokan

dolphin-leaping-out-of-water-doing-an-aerial-loop

Minggu, 11 Agustus 2013

  • Pengisian tandon
  • Cek dan perbaikan semua instalasi dan system

pH air tandon

Salam,

Pasir Gaok Fish Farm

Contact Me

POTENSI IKAN PATIN DI KECAMATAN CIKARANG TIMUR KAB. BEKASI

Kecamatan Cikarang Timur merupakan salah satu dari 23 kecamatan yang ada di Kabupaten Bekasi. Walaupun merupakan daerah penyangga ibukota Jakarta, tetapi potensi lahan usaha tani di Kecamatan Cikarang Timur masih cukup besar. Desa Cipayung yang berada di Kecamatan Cikarang Timur juga merupakan daerah potensial pertanian, karena lahan sawahnya masih cukup luas yaitu 395 Ha yang berpengairan teknis dan 353 Ha merupakan daerah dataran, selain itu 70% penduduknya masih berusaha di bidang pertanian, seperti petani tanaman pangan (padi), peternak domba/sapi dan peternak ikan. Desa Cipayung sendiri sebenarnya adalah daerah subur dengan jenis tanah podsolik merah dan alluvial kelabu, petani di sana lebih banyak menggunakan lahan-lahan tersebut untuk berusahatani tanaman pangan yaitu padi sawah. Namun ada sebagian kecil tanah di sana bersifat lempung/liat, sehingga apabila digunakan untuk menanam padi kurang cocok, karena perbandingan antara lapisan liat/lempung, pasir dan debu tidak seimbang, yang berakibat tidak terserapnya makanan/pupuk dengan baik. Oleh sebab itu banyak warga di Desa Cipayung menggunakan lahan-lahan tersebut untuk pembuatan batu bata, karena memang kondisi tanahnya cocok untuk pembuatan bata, dan jika dianalisis pun, usaha pembuatan batu bata sangat menguntungkan.

Pada awalnya lahan-lahan tanah bekas galian batu bata tersebut dibiarkan terbengkalai, tapi akhirnya ada cara untuk mengisi kolam-kolam bekas galian batu bata tersebut yaitu dengan menanam ikan, salah satu ikan yang dibudidayakan di bekas galian tersebut adalah ikan patin.

Pemilihan Induk

Pemilihan Induk

Ikan Patin (Pangasius pangasius) merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan panjang, berwarna putih seperti perak, punggung berwarna kebiru-biruan. Kepala ikan patin relatif kecil, mulut terletak di ujung kepala agak ke sebelah bawah (merupakan ciri khas golongan catfish). Pada sudut mulutnya terdapat 2 pasang kumis pendek yang berfungsi sebagai peraba. Ikan patin banyak dibudidayakan di Desa Cipayung, Desa Tanjung Baru dan Desa Jatibaru Kecamatan Cikarang Timur karena mempunyai keunggulan antara lain: tahan terhadap kekurangan O2, karena mempunyai labirin seperti juga yang dimiliki oleh ikan lele, gurame dan tembakang. Selain itu ikan senang hidup pada kedalaman +/- 3 m, yang banyak terdapat pada kolam-kolam bekas galian batu bata. Ikan patin yang banyak dibudidayakan di sini adalah berasal dari varietas siam dan patin jambal, karena lebih tahan terhadap penyakit dan telurnya banyak, sehingga lebih menguntungkan. Budidaya ikan patin dimulai dengan menebar benih ikan ukuran 3 inch yang diberi pakan berupa pelet sampai umur 2 bulan, setelah itu diberi pakan limbah makanan/catering. Setelah berumur 6 bulan, ikan-ikan tersebut disortir dengan diambil yang beratnya lebih dari 0,5 Kg, setelah itu setiap sebulan sekali disortir lagi sampai habis. Ada satu sisi yang cukup menggiurkn bagi para peternak ikan patin, yaitu penggunaan limbah catering sebagai pakan, karena untuk daerah Bekasi sendiri limbah catering cukup murah harganya, bahkan sebelum booming nya budidaya ikan patin, limbah catering dapat diperoleh dengan gratis, sehingga dengan rendahnya biaya pakan akan mengurangi biaya produksi dan keuntungan maksimalpun dapat diperoleh. Keberhasilan beberapa peternak dalam membudidayakan ikan patin seperti Bapak Sadar dari Desa Jatibaru dan Bapak Udin dari Desa Cipayung memberikan motivasi tersendiri bagi para peternak yang lain untuk membudidayakan ikan patin secara lebih serius, karena permintaan ikan patin cukup besar yaitu sekitar 500.000 Kg/bulan, permintaan tersebut selain untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal juga untuk di jual ke daerah Karawang, Bandung, Lampung dan Jakarta. Sampai saat ini di Desa Cipayung terdapat +/- 200 peternak ikan patin dengan luas kepemilikan kolam ikan antara 500 sampai dengan 3.000 m2 dan setiap peternak rata-rata memiliki 2 sampai 3 kolam ikan patin. Karena kesamaan kebutuhan dan untuk lebih memudahkan dalam berusaha tani maka para peternak ikan patin membentuk kelompok tani yaitu di Desa Cipayung kelompok tani Mekar Mukti yang diketuai oleh Bapak Kari sedangkan di Desa Jatibaru terbentuk kelompok tani Berkah Jaya yang di ketuai oleh Bapak Sadar dan pada tahun 2010 memperoleh dana bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP). Pada akhirnya, dukungan beberapa pihak seperti Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Pemerintah Kecamatan Cikarang Timur, Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bekasi, Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan Kehutanan dan Ketahanan Pangan (BP4KKP) Kabupaten Bekasi, serta para stakeholder tentunya akan sangat membantu pertumbuhan dan perkembangan ikan patin di Kecamatan Cikarang Timur pada khususnya, sehingga harapan akan kesejahteraan petani/peternak akan segera tercapai dan menjadikan Kecamatan Cikarang Timur sebagai sentra budidaya ikan patin juga akan terwujud.

 

(Nurlita, S.Pt. THL-TBPP Kecamatan Cikarang Timur Kabupaten Bekasi)

source: deptan.go.id