Posts from the ‘Pangasius Jambal’ Category

Kelayakan Usaha Pembenihan Ikan Patin

FB Upload -indoor hatchery
Ikan patin (Pangasius spp.) merupakan salah satu komoditi perikanan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Permintaan lokal dan ekspor ikan patin semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan karena daging ikan patin memiliki kandungan kalori dan protein yang cukup tinggi, rasa dagingnya khas, enak, lezat, dan gurih. Ikan ini dinilai lebih aman untuk kesehatan karena kadar kolesterolnya rendah dibandingkan dengan daging ternak. Keunggulan ini menjadikan patin sebagai salah satu primadona perikanan tawar.

Ikan patin adalah ikan perairan tawar yang termasuk ke dalam famili pangasidae dengan nama umum adalah catfish. Populasi di alam ditemukan di sungai-sungai besar di daerah Sumatera, Kalimantan, dan sebagian di Jawa. Di daerah penyebarannya tersebut di Indonesia, terdapat sekitar 14 jenis ikan patin, termasuk ikan patin siam (Slembrouck et al., 2005). Selain di Indonesia, ikan patin juga banyak ditemukan di kawasan Asia seperti di Vietnam, Thailand, dan China. Diantara beberapa jenis patin tersebut, yang telah berhasil dibudidayakan, baik dalam pembenihan maupun pembesaran dalam skala usaha mikro, kecil, dan menengah adalah 2 spesies, yakni ikan patin siam (Pangasius hypophthalmus; nama latin sebelumnya adalah P. sutchi) dan patin jambal (Pangasius djambal).

Patin siam mulai berhasil dipijahkan di Indonesia pada tahun 1981, sedangkan patin jambal pada tahun 1997. Di samping itu terdapat patin hasil persilangan (hibrida) antara patin siam betina dengan patin jambal jantan, yang dilakukan oleh Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar (LRPTBPAT) dan dikenal dengan “patin pasupati” (Pangasius sp.). Ketiga jenis ikan patin tersebut mempunyai beberapa kelebihan dan kendala tersendiri dalam budidaya, baik dari kegiatan pembenihan maupun pembesaran. Kendala yang relatif besar dihadapi dalam pembenihan ikan adalah terhadap ikan patin jambal.

FB Upload -Pasir Gaok Animasi 3

Sumber : Bank Indonesia, Direktorat Kredit, BPR dan UMKM

Daya Tarik Usaha Pembenihan Ikan Patin

Usaha pembenihan menjadi usaha yang lebih menarik dengan beberapa kelebihan, antara lain:

Kepadatan Tinggi

Kepadatan Tinggi

1. Pembenihan adalah awal siklus dari usaha perikanan.
Ibarat membangun rumah, pembenihan adalah membangun pondasi dasar keberhasilan perikanan budidaya. Pada segmen usaha pembenihan ini kwalitas bibit yang dihasilkan lebih diutamakan dari kwantitas produksi. Oleh karena usaha pembenihan adalah awal siklus usaha perikanan, maka tanpa pembenihan, kegiatan pembesaran tidak dapat berjalan. Mutlak kegiatan usaha pembenihan dibutuhkan.

2. Resiko penjualan tidak terlalu besar
Terkadang hasil dari pembenihan tidak dapat diserap pasar seluruhnya sehingga penjualan harus ditunda. Menunda penjualan bibit Patin tidak berarti akan mengalami kerugian, justru dengan penambahan biaya pakan yang sedikit akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar.

3. Periode singkat
Siklus usaha pembenihan ikan Patin relative singkat, dari mulai 4 hari panen (produksi larva) sampai dengan 2 bulan (produksi ukuran 3inci up). Dengan siklus yang pendek maka perputaran uang akan semakin cepat.

4. Area usaha tidak terlalu luas
Hanya dengan kwalitas air yang baik dan kwantitas yang banyak dengan lahan seluas 3 x 4 meter, usaha pembenihan ikan Patin sudah dapat dimulai untuk memproduksi bibit Patin ukuran 1”+ sebanyak 100.000 ekor.

5. Ikan Patin multi fungsi
Pada saat masih kecil (2” – 4”) ikan Patin dengan tubuh yang berwarna keperakan akan berkilap bila terkena cahaya, untuk kilauan tersebut ikan Patin diberi nama iridescent shark (warna warni, seperti pelangi)

Ikan Patin Albino

Ikan Patin Albino

Baca juga:
KEP-02-MEN-2007 tentang Cara Budidaya Ikan yang Baik
SNI 7471.3-2009 Ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar

PENGARUH PENAMBAHAN DOSIS KARBON YANG BERBEDA TERHADAP PRODUKSI BENIH IKAN PATIN (Pangasius sp) PADA SISTEM PENDEDERAN INTENSIF

Kepadatan Tinggi

Kepadatan Tinggi

Akuakultur adalah kegiatan yang memproduksi biota (organisme) akuatik di
lingkungan terkontrol dalam rangka mendapatkan keuntungan (profit).
Keuntungan ini dapat diperoleh melalui pengelolaan sistem dan penerapan
teknologi, terutama pada sistem budidaya intensif. Sistem yang intensif
menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air akibat meningkatnya produk sisa metabolisme berupa nitrogen organik. Rasio C/N adalah salah satu cara untuk perbaikan sistem pada budidaya intensif dan termasuk teknologi yang murah dan aplikatif. Penerapan teknologi pada rasio C/N berupa bioteknologi karena mengaktifkan kerja bakteri heterotrof. Perkembangan bakteri heterotrof melalui manipulasi rasio C/N yang menggunakan bahan organik sebagai sumber karbon dalam sistem akuakultur dapat mengurangi konsentrasi amonia. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh rasio C/N pada sistem pendederan ikan patin di akuarium melalui pemberian karbon dengan jumlah yang berbeda-beda.

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 3 Juni 2008 sampai dengan 30 Juni
2008, bertempat di laboratorium Sistem dan Teknologi, Departemen Budidaya
Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Hewan uji yang digunakan adalah benih ikan patin berukuran panjang awal 2,66 ± 0,12 cm dan bobot awal 0,370 ± 0,05 gram. Bakteri yang digunakan adalah bakteri heterotrof yang merupakan produk komersil dengan konsentrasi 109 CFU/ml.

Bakteri ditambahkan sebanyak 0,6 ml ke dalam air yang bervolume 30 L. Untuk
mengoptimalkan kerja bakteri heterotrof digunakan sumber karbon berupa molase yang memiliki kandungan unsur karbon sebesar 37%. Benih ikan patin dipelihara selama 28 hari. Wadah pemeliharaan berupa akuarium dengan volume air 30 L.

Pakan yang diberikan adalah pakan buatan dengan kandungan protein 30%.
Jumlah pakan yang diberikan 8% dari biomassa. Pakan diberikan 3 kali sehari
(pagi, siang dan sore hari) dengan cara ditebar merata. Penambahan karbon
disesuaikan dengan rasio C/N yang ditentukan dan disesuaikan dengan jumlah
pakan yang diberikan setiap hari. Parameter yang diukur antara lain derajat
kelangsungan hidup (SR), pertumbuhan panjang dan bobot, pertumbuhan panjang baku, laju pertumbuhan harian, biomassa, produksi dan efisiensi pakan. Analisis data dilakukan dengan analisis ragam dan uji lanjut polinom ortogonal. Selain itu dilakukan pengukuran kualitas air yang meliputi temperatur, kandungan oksigen terlarut, pH, amonia dan kekeruhan. Data kualitas air dianalisis secara deskriptif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan molase pada sistem
pemeliharaan yang stagnan berpengaruh nyata terhadap peningkatan parameter laju pertumbuhan harian, pertumbuhan panjang baku, biomassa, efisiensi pakan dan produksi, serta diperoleh hubungan yang linear. Walaupun parameter SR telah menurun pada perlakuan rasio C/N 10 dan 15, tetapi kecenderungan dari kurva kuadratik yang dibentuk masih kecil. Data kualitas air menunjukkan bahwa kondisi físika kimia sistem pemeliharaan masih berada pada kisaran toleransi ikan untuk hidup dan tumbuh. Berdasarkan hasil tersebut, penambahan molase sebagai sumber karbon memberikan pengaruh yang positif pada sistem pemeliharaan yang stagnan sehingga dapat diterapkan pada kegiatan akuakultur karena merupakan cara yang praktis dan murah untuk mengurangi penumpukan atau mempercepat penurunan konsentrasi nitrogen anorganik yang toksik di dalam air.

 

Indoor Hatchery Bersih untuk kwalitas super

Indoor Hatchery
Bersih untuk kwalitas super

Berdasarkan hasil yang diperoleh, produksi tertinggi diperoleh pada rasio
C/N 15 yaitu sebesar 7,98 gram/hari, sedangkan produksi terendah diperoleh pada perlakuan kontrol atau rasio C/N 0 yaitu sebesar 1,95 gram/hari. Dari hasil
tersebut, secara umum rasio C/N perlu ditingkatkan lagi yaitu lebih dari 15.

 

Penulis MUSYAWARAH NAJAMUDDIN
Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

SNI – PERIKANAN AIR TAWAR

DAFTAR SNI – PERIKANAN AIR TAWAR

header KKP GO ID

NOMOR TAHUN TENTANG
6138:2009 2009 Induk ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok
6139:2009 2009 Produksi induk ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok
6140:2009 2009 Benih ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar
6141:2009 2009 Produksi benih ikan nilah hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar
7583:2010 2010 Pengemasan benih ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) pada sarana angkutan darat
7584:2010 2010 Pengemasan benih ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) pada sarana angkutan udara
02-6730.1-2002 2002 Benih kodok lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas benih sebar
02-6730.2-2002 2002 Induk kodok lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas induk pokok (Parent Stock)
02-6730.3-2002 2002 Produksi benih kodok lembu (Rana catesbeiana Shaw) kelas benih sebar
02-6730.4-2002 2002 Produksi induk kodok lembu (bull frog) (Rana catesbeiana Shaw) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6486.1-2000 2000 Induk udang galah (Macrobranchium rosenbergii de Man) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6486.2-2000 2000 Benih udang galah (Macrobranchium rosenbergii de Man) kelas benih sebar
02-6486.2-2002 2002 Produksi induk udang galah (Macrobrachium rosenbergii de Man) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6486.3-2000 2000 Produksi benih udang galah (Macrobranchium rosenbergii de Man) kelas benih sebar
01-6489-2000 2000 Metode pengambilan contoh benih ikan dan udang
01-6491-2000 2000 Metode pengujian mutu daya tetas artemia
01-6485.1-2000 2000 Induk ikan gurame (Osphronemus goramy, Lac) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6485.2-2000 2000 Benih ikan gurame (Osphronemus goramy, Lac) kelas benih sebar
01-6485.3-2000 2000 Produksi benih ikan gurame (Osphronemus goramy, Lac) kelas benih sebar
01-6483.1-2000 2000 Induk ikan patin siam (Pangasius hypophthalmus) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6483.2-2000 2000 Benih ikan patin siam (Pangasius hypophthalmus) kelas benih sebar
01-6483.3-2000 2000 Produksi Induk ikan patin siam (Pangasius hypophthalmus) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6483.4-2000 2000 Produksi benih ikan patin siam (Pangasius hypophthalmus) kelasenih sebar
01-7256-2006 2006 Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar
01-7471.1-2009 2009 Ikan patin jambal (Pangasius djambal) Bagian 1: induk kelas induk pokok (parent stock)
01-7471.2-2009 2009 Ikan patin jambal (Pangasius djambal) Bagian 2: Produksi induk kelas induk pokok (parent stock)
01-7471.3-2009 2009 Ikan patin jambal (Pangasius djambal) Bagian 3: Benih kelas benih sebar
01-6484.1-2000 2000 Induk ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6484.2-2000 2000 Benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas benih sebar
01-6484.3-2000 2000 Produksi induk ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6484.4-2000 2000 Produksi benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus x C.fuscus) kelas benih sebar
01-6130-1999 1999 Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6131-1999 1999 Produksi Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6132-1999 1999 Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas benih sebar
01-6133-1999 1999 Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas benih sebar
01-6134-1999 1999 Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6135-1999 1999 Produksi Induk Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6136-1999 1999 Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas benih sebar
01-6137-1999 1999 Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas benih sebar
01-6138-1999 1999 Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6139-1999 1999 Produksi Induk Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas induk pokok (Parent Stock)
01-6140-1999 1999 Benih Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar
01-6141-1999 1999 Produksi Benih Ikan Nila Hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) kelas benih sebar

FOOD SAFETY, SYARAT MUTLAK EKSPOR

IMG00102-20130302-1448
Ekspor produk perikanan Indonesia pada kuartal pertama tahun 2013 sudah menyentuh angka USD$ 3,9 milyar. Nilai ekspor ini berjalan parallel dengan perbaikan pengendalian mutu dan keamanan pangan atau food safety, yang terus dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). “Keamanan pangan, tidak bisa ditawar. Bahan tambahan formalin, borak atau mercury sekecil apapun akan menggagalkan produk perikanan masuk ke pasar”. Demikian dikatakan Pelaksana Tugas Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Achmad Poernomo, di Jakarta (6/09).

Ketentuan keamanan pangan atau food safety merupakan syarat mutlak bagi setiap produk perikanan yang akan masuk pasar ekspor. Setiap negara sangat ketat pada ketentuan penerapan keamanan pangannya. Bahkan, mereka berbeda menerapkan ketentuan berdasarkan Risk Assessment (RA) masing masing negara. Risk Assessment merupakan proses penilaian yang digunakan untuk mengidentifikasi resiko atau bahaya yang mungkin terjadi pada produk perikanan. “Upaya pengendalian mutu harus dibarengi dengan risk assessment. Untuk produk perikanan, kendatipun harga RA mahal, tetapi tetap harus dilakukan. Assessment bisa semakin kuat, bisa menopang pengendalian mutu dan keamanan pangan,” tegasnya.

Untuk meminimalkan biaya risk assessment, bisa dilakukan kerjasama antar berbagai instansi dan institusi terkait. Untuk produk perikanan, risk assessment bisa dilakukan dengan asosiasi, perguruan tinggi serta lembaga yang berkompeten seperti Kementerian Perindustrian dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta para stakeholder perikanan. Para Stakeholder ini bisa saling kerjasama untuk memperkuat komitmen di dalam negeri. Bahkan stekeholder bisa melakukan pendekatan ke importir untuk penguatan citra produk perikanan ke luar negeri. “Risk assessment harus dibarengi dengan survey. Termasuk pemeriksaan terhadap masing-masing orang. Apalagi setiap orang akan berbeda kekuatannya dalam menerima bahan kimia misalnya. Prosedur seperti ini sudah dilakukan oleh BPOM dan ITB dalam melakukan riset keamanan pangan,” jelasnya.

KKP sendiri menurut Achmad Poernomo sudah memiliki alat pendeteksi bahan berbahaya yang terdapat pada produk perikanan. Untuk mendeteksi formalin atau borak, kini konsumen tidak perlu lama menunggu hasil laboratorium. KKP telah menciptakan Kit Antilin, sebagai alat pendeteksi kandungan bahan berbahaya yang terdapat pada ikan. Kit Antilin ini cukup mudah penggunaannya serta hasilnya cepat untuk diketahui. Bahkan KKP sudah mengembangkan bahan tambahan atau pengawet produk perikanan yang aman untuk dikonsumsi. “Sebenarnya kualitas ikan masih bisa dinegosiasikan, misalnya warna tidak apa-apa. Namun untuk kandungan bahan berbahaya demi keamanan pangan, tidak bisa ditolerir,” katanya.

Diversifikasi Produk

Menurut Ahmad Poernomo, produk ekspor perikanan paling banyak didominasi adalah komoditi udang dan tuna. Kemudian menyusul produk rumput laut kering. Untuk lebih kompetitif di pasar ekspor, perlu dilakukan diversifikasi produk olahan. Terutama produk olahan yang bisa masuk ke pasar-pasar retail pack. Bahkan produk ke retail pack harus diperbanyak, karena produk ini bisa langsung dipasarkan di super market yang kini jumlahnya terus meningkat. “Diversifikasi olahan ikan untuk luar negeri memang harus diperbanyak jenisnya. Apalagi, kini trend pasar lebih banyak menyukai produk siap saji dan dikemas secara cantik, praktis dalam bentuk tas menarik. Contoh produk seperti ini banyak kita jumpai dipasar luar negeri,” ujarnya.

Saat ini produk perikanan olahan masih bertumpu pada udang. Dari segi volume, produk udang olahan masih besar. Kemudian disusul kelompok tuna, rajungan dan kepiting. Patin, sementara hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, jadi tidak perlu impor, karena produk patin terus berkembang. Dari semua produk ekspor, sebagian besar dalam bentuk frozen, karena relatif lebih mudah dilakukan dan tahan lama. Sedangkan pasar terbesar masih didominasi Amerika dengan nilai USD$ 1,2 milyar per tahun. Kedua, Jepang USD$ 800 juta dan yang ketiga Uni Eropa (27 negara) dengan nilai USD$ 400-500 juta.

Jakarta, 6 September 2013

Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi

Pelaksana Tugas
Anang Noegroho

Sumber : http://www.kkp.go.id

Penetasan Artemia

Berikut cara paling mudah untuk menetaskan artemia.

brineshrimp_photo4

Yang harus diperhatikan sebelum menetaskan artemia

  • Artemia sehat, dalam keadaan baik,
  • pastikan tidak kadaluarsa,
  • disimpan dengan benar .

Cara menyimpan yang benar

  • dalam wadah tertutup rapat,
  • kering, bebas dari kelembaban,
  • dalam ruang yang dingin 0 – 10° C ( disimpan kurang dari 4 Minggu),
  • dalam ruang dibawah 0° C (untuk penyimpanan jangka panjang)

Bila satu kaleng tidak dihabiskan dalam waktu 3 – 4 minggu, disarankan untuk membagi artemia dalam jumlah yang cukup untuk kebutuhan 3 – 4 minggu, disimpan dalam lemari es (jangan di freezernya) dan didalam wadah tertutup rapat. Sisanya yang akan digunakan nanti sebulan kemudian, simpan didalam freezer dengan suhu dibawah 0° C . Perlu diingat bahwa pembekuan dapat menurunkan aktivitas metabolik dan dapat menunda penetasan artemia. Untuk itu artemia yang disimpan dalam freezer harus dikeluarkan satu hari sebelum digunakan.

Aturan penyimpanan di atas berlaku untuk semua Artemia, baik masih dalam kaleng yang belum dibuka atau yang sudah dibuka .

Pedoman penetasan untuk hasil terbaik :

    • Salinitas :
      25 ppt larutan garam , atau sekitar 1.75 sendok makan garam per liter air . Ini setara dengan sekitar 1.018 berat jenis yang diukur dengan hydrometer . Pastikan untuk menggunakan garam ikan kristal (garam laut).
    • pH :
      PH yang tepat adalah penting dalam penetasan artemia. pH yang dianjurkan diatas 8,0.
    • Suhu :
      Suhu air optimum untuk penetasan sempurna dalam waktu 24 jam adalah 26-28° C. Artemia akan butuh waktu lebih lama untuk menetas dengan suhu dibawah 25° C. Jaga suhu jangan sampai melebihi 30° C.
    • Cahaya :
      Cahaya diperlukan untuk memicu mekanisme penetasan dalam embrio artemia selama beberapa jam pertama inkubasi . Meletakan lampu bohlam (bukan lampu hemat energi) sebagain sumber cahaya selama periode inkubasi sangat dianjurkan untuk mendapatkan hasil optimal.
    • Aerasi :
      Aerasi terus menerus diperlukan untuk menjaga kista tetap bergerak dan untuk memberikan kadar oksigen yang cukup untuk kista menetas . Minimal 3 ppm oksigen terlarut selama inkubasi dianjurkan . Aerasi yang kuat tidak akan merusak atau menyakiti nauplii .
    • Kepadatan :
      Dianjurkan menggunakan 1 gram per liter atau sekitar 1/2 sdt per liter. Dengan kepadatan tebar yang tinggi akan menghasilkan persentase menetas lebih rendah .
    • Tempat Penetasan:
      Hindari wadah penetasan yang dasarnya datar. Wadah dengan bentuk corong didasarnya diyakini sebagai wadah terbaik untuk memastikan bahwa kista tetap teraduk sempurna selama proses penetasan .Pastikan untuk benar-benar mencuci wadah penetasan dengan larutan klorin ringan, bilas dan dijemur hingga kering. Hindari menggunakan sabun . Sabun akan meninggalkan sedikit residu yang akan membuat busa dari aerasi selama menetas dan dapat menyebabkan kista terdampar di atas permukaan air.
    • Waktu Inkubasi:
      Umumnya, waktu inkubasi optimum adalah 24 jam . Telur yang telah benar disimpan selama lebih dari 2-3 bulan mungkin memerlukan tambahan waktu inkubasi 30 sampai 36 jam. Sering kali , telur akan menetas dalam sedikitnya 18 jam . Jika menginginkan ukuran nauplii yang lebih kecil, dianjurkan untuk memanen nauplii dalam kurun waktu sekitar 20 jam.

hatching_illust2

EmpangQQ.COM

Ada apa dengan Agustus 2013

bismillah

Pasir Gaok, 5 Syawal 1434 H.

Sudah berlalu Ramadhan dengan segala kemuliaannya, sebulan penuh menahan segala asa dan keinginan untuk berkarya. Namun penghormatan terhadap bulan kerinduan, yang mana didalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, ikhlas tertunda semua harapan.

Syawal pun datang bertepatan dengan 9 Agustus 2013, dimulainya cerita baru dengan semangat dan kepemimpinan yang baru untuk kembali memproduksi bibit patin yang bermutu.

Senin, 2 September 2013, Insya Allah panen bibit 3/4 inci.

Chronological Journal

clock_e0

Kamis, 29 Agustus 2013

  • Grading bibit patin pemijahan tanggal 14 Agustus 2013,

Jum’at, 23 Agustus 2013

  • Tanda-tanda kehidupan mulai bermunculan, Alhamdulillah ala kullihal, Hatching Rate kembali dibawah standard, ini kemungkinan disebabkan oleh kondisi indukan yang memang belum saatnya untuk dipijahkan.

Rabu, 21 Agustus 2013

  • Pemijahan kedua dibulan Agustus kembali dilakukan,

Jum’at, 16 Agustus 2013

  • Tanda-tanda kehidupan telah tampak,

Kamis, 15 Agustus 2013

  • Kehidupan baru bibit patin dimulai
  • Alhamdulillah 25% kapasitas Farm-1 sudah terisi,
  • Insya Allah pada tanggal 19 Agustus 2013 dilakukan seleksi induk kembali.

Rabu, 14 Agustus 2013

  • Stripping time
  • Tebar telur 34 Aquariums

Selasa, 13 Agustus 2013

  • Persiapan amunisi
  • Peralatan induced breeding

Senin, 12 Agustus 2013

  • Seleksi induk betina dan jantan
  • Pemberokan

dolphin-leaping-out-of-water-doing-an-aerial-loop

Minggu, 11 Agustus 2013

  • Pengisian tandon
  • Cek dan perbaikan semua instalasi dan system

pH air tandon

Salam,

Pasir Gaok Fish Farm

Contact Me