Posts from the ‘Kolam’ Category

Penyakit Gas Bubble pada ikan

gas babble disease in fish mata Penyakit gelembung gas atau udara mengacu pada pengembangan gas dalam aliran darah ikan. Hal ini dapat terjadi ketika akuarium atau kolam airnya jenuh dengan gas.

Gejala dan Jenis
Penyakit Gas Bubble adalah penyakit kerusakan jaringan ikan, menyebabkan muncul gelembung gas atau udara kecil pada insang, sirip, atau disekitar mata ikan. Kerusakan jaringan ini, jika luas, dapat menyebabkan kematian ikan.
gas babble disease in fish ekorPenyebab
Ikan adalah makhluk berdarah dingin, yang berarti suhu tubuh ikan tergantung pada suhu lingkungan. Air yang ada di aliran darah ikan, dapat menjadi jenuh dengan gas bila ada kenaikan mendadak suhu atau kenaikan mendadak tekanan air.
Ketika air dingin di akuarium tiba-tiba dipanaskan, dapat melepaskan udara dan perangkap dalam air menyebabkan penyakit gelembung gas dalam akuarium ikan. Demikian pula, kolam atau air tangki dapat menjadi jenuh dengan gas ketika mereka diisi dengan air sumur melalui selang terendam. Gas-gas inilah yang dapat menyebabkan penyakit Gas Bubble.
 
Pencegahan
Penyakit ini dapat dicegah dengan perlahan memanas air ketika ditambahkan ke akuarium. Juga, jangan menenggelamkan selang ketika mengisi air kedalam aquarium.

sumber: http://www.petmd.com

Daya Tarik Usaha Pembenihan Ikan Patin

Usaha pembenihan menjadi usaha yang lebih menarik dengan beberapa kelebihan, antara lain:

Kepadatan Tinggi

Kepadatan Tinggi

1. Pembenihan adalah awal siklus dari usaha perikanan.
Ibarat membangun rumah, pembenihan adalah membangun pondasi dasar keberhasilan perikanan budidaya. Pada segmen usaha pembenihan ini kwalitas bibit yang dihasilkan lebih diutamakan dari kwantitas produksi. Oleh karena usaha pembenihan adalah awal siklus usaha perikanan, maka tanpa pembenihan, kegiatan pembesaran tidak dapat berjalan. Mutlak kegiatan usaha pembenihan dibutuhkan.

2. Resiko penjualan tidak terlalu besar
Terkadang hasil dari pembenihan tidak dapat diserap pasar seluruhnya sehingga penjualan harus ditunda. Menunda penjualan bibit Patin tidak berarti akan mengalami kerugian, justru dengan penambahan biaya pakan yang sedikit akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar.

3. Periode singkat
Siklus usaha pembenihan ikan Patin relative singkat, dari mulai 4 hari panen (produksi larva) sampai dengan 2 bulan (produksi ukuran 3inci up). Dengan siklus yang pendek maka perputaran uang akan semakin cepat.

4. Area usaha tidak terlalu luas
Hanya dengan kwalitas air yang baik dan kwantitas yang banyak dengan lahan seluas 3 x 4 meter, usaha pembenihan ikan Patin sudah dapat dimulai untuk memproduksi bibit Patin ukuran 1”+ sebanyak 100.000 ekor.

5. Ikan Patin multi fungsi
Pada saat masih kecil (2” – 4”) ikan Patin dengan tubuh yang berwarna keperakan akan berkilap bila terkena cahaya, untuk kilauan tersebut ikan Patin diberi nama iridescent shark (warna warni, seperti pelangi)

Ikan Patin Albino

Ikan Patin Albino

Baca juga:
KEP-02-MEN-2007 tentang Cara Budidaya Ikan yang Baik
SNI 7471.3-2009 Ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar

Budidaya Ikan Patin Konsumsi

Ikan patin adalah ikan air tawar yang mulai populer dibudidayakan karena permintaan pasar cukup baik, terutama di daerah Jawa Barat (Purwakarta dan Cikarang), Sumatera (Palembang dan Jambi) dan Kalimantan (Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah).

wpid-2013-08-03-09.22.12.jpg

Pelepasan Bibit di desa Cipayung di Cikarang

Salah satu keunggulan ikan patin adalah cara memeliharanya tidak terlalu sulit. Untuk budidaya Patin konsumsi, ikan ini tidak memerlukan air yang terlalu jernih atau air mengalir dan bisa hidup dalam air dengan kandungan oksigen rendah.

Karena itu ikan patin bisa dipelihara di lahan marginal (lahan yang kurang produktif), asalkan ada sumber air. Ada beberapa jenis ikan patin yang dipelihara di Indonesia, yang paling umum adalah ikan patin Siam, tetapi ikan patin asli Indonesia sebenarnya adalah ikan patin Djambal. Jenis patin yang baru adalah Pasopati (Patin Super Harapan Petani).

Untuk kebutuhan konsumsi, Ikan Patin dapat dipelihara di kolam tanah biasa, mulai ukuran 300 sampai 2.000 m2. Bisa juga dipelihara di keramba apung di sungai atau dengan jaring tancap dengan kedalaman 1,5 sampai 3 m.

Jika patin dipelihara di kolam maka kolamnya perlu dipersiapkan.  Persiapan kolam yang biasa dilakukan adalah dengan penebaran kapur (kaptan atau dolomit) dengan dosis 10 sampai 25 gram/m2, diikuti dengan pemupukan sebanyak 500 sampai 600 gram/m2.

Bibit Ikan Patin Ukuran Sangkal

Bibit Ikan Patin Ukuran Sangkal

Benih patin yang ditebar biasanya berukuran 2 – 3 inci (5 – 7,5 cm).  Padat tebar untuk di kolam hanya sekitar 15 sampai 20 ekor/m2. Namun kalau di jaring atau keramba kepadatan bisa sangat tinggi (intensif), yaitu mencapai 100 sampai 200 ekor/m2 dengan ukuran tebar 4- 5 inci (10 – 12,5 cm). Hasil panen di jaring/keramba lebih tinggi dibandingkan kolam.

Gangguan Kesehatan Bibit Ikan Patin

Prevention is better than cure

Dalam dunia kesehatan ada ungkapan yang sangat popular, Mencegah lebih baik dari pada mengobati. Begitu pula didunia perikanan, ungkapan tersebut harus benar-benar menjadi prioritas utama sebelum mulai memelihara ikan, khususnya pada usaha budidaya ikan Patin.

Langkah-langkah pencegahan penyakit :
(1) Menjaga kebersihan wadah pemeliharaan,
(2) Menjaga stabilitas suhu agar tetap panas antara 28-31°C,
(3) Pakan terbebas dari parasit dan jamur,
(4) Menjaga kondisi air agar tetap baik yang selalu bersih dari sisa pakan.

Gangguan kesehatan pada bibit patin dapat disebabkan oleh bakteri, parasit dan jamur. Cara pengobatan dan obat yang digunakan terhadap penyakit tersebut berbeda-beda.

Bakteri yang umum menyerang benih ikan patin adalah bakteri Aeromonas hydrophylla.
Tanda klinis bila ikan terserang penyakit ini bervariasi dan terkadang menyerupai penyakit lain,

Ciri ikan Patin terserang Aeromonas hydrophylla:
• Permukaan tubuh ikan ada bagian-bagian yang berwarna merah darah, terutama pada bahagian dada, pangkal sirip dan perut,
• Selaput lendir berkurang, tidak licin,
• Di beberapa bagian tubu ikan kulitnya melepuh,
• Sirip rusak dan pecah-pecah,
• Insang rusak dan berwarna keputih-putihan sampai kebiru-biruan,
• Ikan lemah, hilang keseimbangan serta mudah ditangkap.

Cara pengobatan:
Sebelum pengobatan dimulai, air disipon dari wadah pemeliharan sekitar 30%, buang endapan kotoran sebersih mungkin dan jangan dulu ditambahkan air.

aeromonas

Awal ciri keberadaan bakteri Aeromonas

Bila bibit Patin yang belum terinfeksi parah dapat diobati dengan Kalium Permanganat (PK) dengan dosis 2 gram/m3 dicampur dengan 1 liter air bersih aduk hingga rata lalu tebarkan pada wadah pemeliharaan. Biarkan selama 30 – 60 menit, dan amati perkembangan bibit Patin yang sakit. Apabila ikan memperlihatkan gejala keracunan – berenang tidak seperti biasanya, segera tambahkan air tendon ke dalam wadah pemeliharan.

Aeromonas

Akibat bakteri Aeromonas

Bila bibit Patin sudah cukup parah terinfeksi, gunakan pengobatan dengan Oxytetracyclin (OTC) sebanyak 5 gram/m3 dicampur dengan 1 liter air diaduk sampai obat larut sempurna, lalu tebarkan larutan tersebut ke dalam wadah pemeliharaan. Biarkan selama 3 jam, setelah itu tambahkan air segar. Pengobatan dengan OTC disarankan tidak lebih dari 3 hari.

Gangguan selain bakteri yang sering menghinggapi bibit Patin adalah parasit Ichthyopthirius multifilis atau yang umum dikenal dengan nama White spot. Jenis parasit ini sering muncul pada awal, akhir, dan selama musim hujan. Bila bibit Ikan patin terjangkit parasit ini terlihat jelas, kesat mata, bintik putih pada badan ikan, yang demikian pertanda parasit white spot sudah berkembang pesat. Dengan bantuan mikroskop dapat dilihat bentuk white spot seperti dalam pada gambar.

Cara pengobatannya gangguan parasit:

Sebelum melakukan pengobatan parasit white spot, diwajibkan menyipon air wadah pemeliharaan rata diseluruh dasar wadah. Mengingat spora white spot akan berada didasar wadah sebelum menetas dan gentayangan mencari inang sebagai media hidup. Hati-hati dengan air buangan dari wadah pemeliharaan bibit ikan yang terserang, jangan sampai mengalir ke wadah pemeliharaan ikan lainnya.

Bila serangan white spot belum begitu parah, dapat dicoba dengan pengobatan 1 ppt (1 kg/m3 air) garam ikan. Diasumsikan wadah pemeliharaan berisi 1 m3 air, gunakan 1 kg garam ikan ke dalam 2 liter air, kemudian aduk sampai sempurna lalu tebarkan larutan tadi ke dalam wadah pemeliharaan. Biarkan selama 1 jam dan lakukan pengawasan secara terus menerus. Apabila benih ikan terlihat gelisah, segera tambahkan air tandon ke dalam wadah pemeliharaan,

Bila serangan white spot sudah cukup parah, maka dapat juga menggunakan Formalin.
Pengobatan dengan formalin menggunakan dosis 10 ml formalin teknis per 1 m3 air wadah pemeliharaan benih patin. Formalin teknis adalah formalin dengan kadar 40%. Cara pengobatan, semprotkan 10 ml formalin ke dalam 1 m3 air dalam wadah pemeliharaan secara merata lalu aduk air dalam wadah pemeliharaan menggunakan alat dengan lembut, agar bibit ikan yang memang sudah stress semakin stress hingga memperburuk kondisi ikan. Biarkan selama 3 jam dalam pengawasan terus menerus, apabila ikan memperlihatkan gejala tidak kuat biarkan selama 3 atau 5 menit, lalu segera tambahkan air segar ke dalam media pemeliharaan. Pengobatan dengan Formalin sebaiknya dihindari mengingat sulitnya mendapatkan Formalin dipasaran akibat ulah oknum pengrajin makanan yang menggunakan formalin sebagai campuran bahan pengawet makanan.
.
Bila Formalin sulit didapatkan, gunakan Methylene blue. Caranya dengan mencampur 1 gram serbuk Methylene blue dengan 100 cc air bersih (matang). Selanjutnya campurkan 1-2 cc larutan tersebut untuk 1 liter air pemeliharaan kemudian diaduk secara merata dan biarkan selama 24 jam. Apabila masih belum sembuh bisa dilakukan pengobatan dengan cara diatas sampai 3 kali pengobatan.

Aeromonas hydrophylla dan White Spot adalah dua gangguan kesehatan pada bibit ikan yang paling menimbulkan kerugian, untuk itu pengetahuan pengenai siklus hidup kedua makhluk tersebut sangat membantu pembudidaya mencegah dan mengobatinya.

dolphin-leaping-out-of-water-doing-an-aerial-loop

Industri Patin 2013: Perlu 1.3 juta ton pakan

Jakarta, 21/6 (ANTARA) –

image

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah mematok produksi ikan Patin tahun 2013 mencapai 1,1 juta ton. Dari terget ini diperkirakan akan  membutuhkan pakan ikan sebesar 1,3 juta ton. Kebutuhan pakan ini terus meningkat menjadi 2,2 juta ton pada tahun 2014 karena target produksi patin juga meningkat menjadi 1,8 juta ton. Peningkatan kebutuhan pakan ikan seiring dengan peningkatan produksi ikan, tidak akan bisa dihindari. Untuk itu diperlukan adanya kerjasama antara pabrik pakan dan pemerintah, baik pusat dan daerah. Program ini untuk mendukung ketersediaan pakan bermutu dengan harga terjangkau, sehingga tidak membebani pembudidaya. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya , Slamet Soebjakto, ketika mengunjungi pabrik pakan PT. Sinta Prima Feedmill bersama Gubernur Jambi di Cileungsi, Bogor (19/6/2013
)

Menurut Slamet, pakan hingga saat ini masih menjadi kendala dalam budidaya perikanan. Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha budidaya ikan, hingga mencapai 70%  hingga  80%. Untuk itu ketersediaan pakan yang berkualitas, terutama dengan pendirian pabrik pakan ikan di dekat lokasi budidaya menjadi sangat penting. Provinsi Jambi menjadi salah satu contoh daerah yang mampu memadukan industri perikanan budidaya dengan pabrik pakan ikan dalam satu wilayah. Jambi sebagai salah satu sentra patin di Indonesia, telah berinisiatif untuk mendukung program ini melalui jalinan kerjasama dengan PT. Sinta Prima Feedmill untuk menyediakan pakan ikan patin. Program tersebut dengan tujuan untuk lebih mendekatkan pasar dan produsen pakan, sehingga dapat mengurangi harga pakan yang selama ini menjadi kendala dalam budidaya patin. “Pendirian pabrik pakan ikan, seperti di Jambi ini akan mendukung program industrialisasi perikanan budidaya, khususnya komoditas patin,” tegasnya.

Slamet menjelaskan, program Industrialisasi perikanan budidaya khususnya untuk komoditas patin terus menunjukkan hasil. Salah satu contohnya adalah budidaya Patin di Jambi. Bahkan, selain kerjasama dalam penyediaan pakan ikan patin dengan dengan PT. Sinta Prima Feedmill, provinsi Jambi juga menjalin kerjasama dalam hal penyediaan jagung sebagai bahan baku pakan. “Kerjasama dan sinergi yang berkelanjutan antara pemerintah, baik pusat dan daerah, swasta dan seluruh stake holder, akan menjadikan semua permasalahan menjadi mudah untuk diatasi. Kita semua harus bekerjasama untuk kemajuan perikanan budidaya, dengan tujuan akhir peningkatan kesejahteraan pembudidaya ikan,” tandas Slamet.

Slamet menambahkan, selain benih berkualitas, penerapan teknologi terkini dalam produksi pakan ikan juga diperlukan. Salah satunya adalah Maggot sebagai bahan baku pembuatan pakan ikan. Untuk itu, KKP terus mengembangkan  penggunaan berbagai bahan baku, seperti maggot sebagai bahan baku pakan ikan. Hanya saja, untuk maggot terdapat persoalan yang harus diselesaikan yaitu mahalnya media pertumbuhan maggot. Kendala ini perlu dukungan pemerintah daerah melalui pembuatan kebijakan, terkait ketersediaan limbah produksi minyak kelapa sawit atau ampas minyak kelapa sawit. Dimana, pengusaha minyak kelapa sawit diharapkan tidak menjual limbah tersebut dengan harga tinggi sehingga dapat dimanfaatkan oleh pembudidaya atau oleh pabrik pakan, untuk memproduksi maggot.”Jika pola tersebut terbangun, hal ini dapat menjadi bukti keberpihakan perusahaan kepada masyarakat”, tegasnya.

Sumber: antaranews.com