Posts from the ‘Amonia’ Category

Keseimbangan: Ikan, Lingkungan dan Patogen.

Setidaknya ada tiga penyebab utama penyakit pada ikan:

  • Keberadaan patogen lingkungan
  • Daya tampung kolam.
  • Lingkungan air yang tidak nyaman.

Keseimbangan.

Patogen (misalnya bakteri, virus, jamur dan parasit) umumnya ditemukan di semua perairan, namun ikan memiliki daya tahan yang cukup terhadap pantogen. Mereka juga dapat menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan dan sehingga dapat menghindari penyakit akibat infeksi patogen.

Keseimbangan Ikan, Patogen dan Lingkungan

Patogen Meningkat

Bila keberadaan patogen dalam air meningkat tajam karena faktor eksternal, dan ketahanan alami ikan tidak dapat mengatasi jumlah patogen yang semakin meningkat, ikan akan menjadi rentan terhadap infeksi dan penyakit.

Pantogen Meningkat


Lingkungan Memburuk

Selain itu, faktor eksternal juga dapat menyebabkan perubahan drastis pada kualitas air, sehingga kesehatan ikan memburuk dan daya tahan  ikan menjadi rendah. Menjadi rawan terhadap infeksi patogen dan penyakit ikan atau kematian meningkat.

Lingkungan Tidak Memadahi


#CatfishFabrication

MEKANISME KERJA BAKTERI

1.Bacillus

Bacillus adalah golongan bakteri pengurai bahan organik (heterotrof) dan penghasil senyawa antimikroba serta hasil metabolisme yang membantu proses penguraian limbah. Cara kerja bakteri bacillus dalam menguraikan limbah organik adalah dengan cara memotong ikatan polisakarida maupun ikatan peptida menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga mudah diuraikan oleh golongan bakteri sejenis yang strain nya berdekatan. Setiap jenis bakteri bacillus bekerja dengan cara spesifik dalam memotong ikatan senyawa organik ini. Limbah pakan mengandung protein dengan kandungan asam amino yang komplek, oleh karena itu diperlukan kompleksitas spesies bakteri yang beragam. Semakin banyak macam/jenis spesies bakteri bacillus yang digunakan maka semakin efektif kerja bakteri tersebut dalam penguraian limbah yang komplek. Dari hasil analisa susunan limbah protein dari pakan mengandung 20 macam asam amino seperti yang tercantum dalam struktur senyawa protein berikut.

Protein tersebut mengandung 20 asam amino dengan berbagai macam jenis ikatan kimia (peptide, beta, gamma, alfa, kovalen, primer, sekunder, tertier, dll) yang harus dipecahkan oleh bakteri pengurai. Oleh karena itu penambahan tiga jenis bakteri bacillus saja kadang tidak cukup memberikan hasil yang diharapkan, karena untuk menguraikan ikatan kimia yang komplek itu diperlukan kerja sinergis beberapa jenis bakteri.

Bakteri bacillus banyak digunakan sebagai probiotik karena kemampuanya dalam menghasilkan senyawa antimikroba yang dapat menghambat perkembangan mikroorganisme lain yang merugikan. Semua jenis golongan bacillus akan menghasilkan senyawa antimikroba ini dalam kondisi tertentu apabila ada senyawa inducer yang mampu menginduksi biosintesis senyawa antimikroba ini dalam sel nya. Seperti halnya tiram dalam memproduksi mutiara harus diinduksi oleh benda asing yang masuk dalam cangkangnya. Begitu juga dengan biosintesis antimikroba ini akan terjadi apabila diinduksi oleh senyawa-senyawa tertentu.

Kandungan senyawa inducer ini terdapat dalam PREBIOTIK yang mengatur alur metabolisme bakteri melaui modifikasi nutrisi yang komplek. Jadi agar probiotik berfungsi maksimal maka harus dilengkapi dengan PREBIOTIK yang mengandung senyawa-senyawa inducer yang menginduksi metabolisme bakteri supaya menghasilkan metabolit-metabolit yang menguntungkan.

Selain senyawa inducer, keberhasilan probiotik juga tergantung dari pH optimum spesies bakteri yang terkandung dalam probiotik tersebut. Masing-masing spesies bakteri tersebut punya karakter spesifik dan dan punya daya kerja pH optimum. Berikut adalah daya kerja pH optimum dari masing-masing bakteri sbb:

Beberapa produk sediaan bakteri mengandung lebih dari tiga macam bakteri dengan maksud untuk mengantisipasi fluktuasi parameter kimia dilingkungan tersebut. Sehingga semakin beragam kandungan bakteri dalam suatu produk maka semakin besar kemungkinan beberapa spesies dapat bekerja optimum.

2. Thiobacillus

Thiobacillus adalah bakteri chemototroph yang mampu menguraikan senyawa-senyawa kimia sederhana yang beracun menjadi senyawa-senyawa kimia yang tidak beracun. Thiobacillus berperan penting dalam reaksi penguraian sulfur (H2S). Ada beberapa macam spesies bakteri Thiobacillus, diantaranya T. denitrificans, T. thiooxidans, T. novellus dan T. ferooxidans. Masing-masing spesies bakteri punya kerja yang spesifik, beberapa spesies thiobacillus efektif pada pH rendah dan beberapa spesies efektif pada pH tinggi.

Selain itu masing-masing spesies punya fungsi tambahan yang spesifik sbb:

  • Thiobacillus denitrificans berfungsi menetralkan racun H2S dan nitrit melalui reaksi denitrifikasi,
  • Thiobacillus ferrooxidans dapat mentetralkan racun H2S dan mengoksidasi ion besi yang menghambat respirasi dan pertumbuhan udang,
  • Thiobacillus thiooxidans berfungsi mengoksidasi senyawa sulfur menjadi senyawa yang tidak beracun dan menstabilkan air dan
  • Thiobacillus novellus dapat menetralkan racun H2S dalam lingkungan dasar tambak yang sangat asam pada lahan gambut dan pirit.

Bakteri thiobacillus bekerja dengan cara system reaksi oksidasi-reduksi pada senyawa-senyawa sulfur (H2S), sebagaimana tercantum dalam reaksi dibawah ini.

Senyawa H2S terdapat di tambak sebagai hasil proses dekomposisi bahan organik dan air laut yang banyak mengandung sulfat. Senyawa H2S ini dapat dideteksi dengan jelas pada saat melakukan pengeringan dasar tambak. Dasar tambak yang mengandung banyak sulfur (H2S) akan bewarna hitam dan tercium bau belerang. Kadar senyawa H2S ditambak pembesaran sebaiknya di bawah 0,1 mg/l. Senyawa H2S dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat, penurunan daya tahan terhadap penyakit dan meningkatnya kematian udang dan ikan.

Disamping mengkonsumsi H2S, Tiobacillus denitrificans juga menguraikan nitrat (NO3) menjadi nitrogen (N2) yang dilepas ke udara melalui proses denitrifikasi sesuai reaksi berikut:

NO3 à NO2 à NO à N2 (N2 dilepaskan ke udara)

Sehingga dalam kondisi tertentu bakteri ini mampu berkompetisi dengan plankton dalam memperebutkan nitrat, yang berdampak pada reaksi kesetimbangan populasi plankton dan bakteri, sehingga performa air lebih stabil.

3. Actinobacteria

Actinobacteria adalah bakteri yang bekerja dengan cara memblokir ion phosphate, sehingga ion phosphate tersebut tidak dapat dimanfaatkan oleh mikroorganisme lainnya, dalam hal ini plankton. Actinobacteria berfungsi untuk memblokir ion phosphate dalam air budidaya aquaculture yang sering bermasalah dengan blooming plankton dan serangan plankton merugikan, seperti BGA dan Dinoflagellate. Actinobacteria secara mikrobiologi digolongkan menjadi Polyphosphate-accumulating organisms (PAOs) yang dalam kondisi tertentu mampu memblokir ion phosphate sehingga ion phosphate tidak dapat digunakan oleh plankton merugikan.

Bakteri Actinobacteria di perairan mampu berkompetisi dengan plankton dalam penyerapan phosphate, sehingga akan menjaga keseimbangan populasi bakteri dan plankton dalam perairan. Walaupun secara pengukuran kadar phosphate dalam air tinggi karena pelarutan phosphate dari sumber air, namun dengan introduksi bakteri Actinobacteria secara rutin dapat menjaga kestabilan mikroflora lingkungan tambak. Berikut adalah gambar cara kerja bakteri Actinobacteria :

(Ion Phosphate dalam air)

(Senyawa anhidrolyzed polyphosphate)

Ion phosphate dalam air diblokir oleh bacteri Actinobacteria menjadi senyawa phosphate dalam bentuk polyphosphate yang stabil dan tidak dapat digunakan oleh alga merugikan.

Sumber : Shrimp-Biotek

Trik Mas Kesit untuk Kesehatkan Si Kumis

image

Pembudidaya harus memperhatikan kesehatan lele dan lingkungan budidaya.

Hujan turun yang tidak menentu bisa mengganggu proses budidaya ikan berkumis ini hingga menimbulkan kematian. Curah hujan tinggi seharian penuh dan tanpa perlindungan tambahan menyebabkan lele siap panen berukuran 5 ekor/kg milik salah seorang pembudidaya lele sistem bioflok di Sukabumi, Jawa Barat, mengalami kematian massal. Akibatnya, pembudidaya rugi dan kehilangan sebanyak 180 kg lele siap panen. Lantas, bagaimana mencegahnya?

Waspada Hujan

Menurut Kesit Tisna Wibawa, perekayasa di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat, hujan yang datang terus menerus bisa menyebabkan rendahnya kualitas lingkungan budidaya secara mendadak. Yaitu: perubahan derajat keasaman (pH), fluktuasi suhu, kematian plankton dan bakteri bermanfaat, dominasi amonium, hingga penumpukan logam berat yang terbawa air hujan.

Perubahan lingkungan budidaya yang mendadak membuat lele kaget dan menjadi stres. “Awalnya pasti stres, nggak mau makan, terus imun tubuh menurun karena tidak ada nutrisi yang mendukung dia, hasilnya rentan penyakit. Penyakit akan gampang menyerang ditambah dengan kondisi lingkungan yang tidak mendukung,” ulas Kesit terperinci. Apalagi pada budidaya lele sistem probiotik dan bioflok yang mengandalkan padat tebar tinggi, kualitas air kolam budidaya memerlukan perhatian intensif. Salah kelola, kerugianlah yang didapat.

Secara fisik, lele stres terlihat pucat dengan produksi lendir meningkat sehingga lapisan lendirnya menipis dan aktif melompat-lompat di di pinggiran kolam. Kesit menjabarkan, “Kalau lendirinya tipis, akan mudah ditempeli jamur. Apalagi dia bergesekan sama temennya, akhirnya ada yang luka. Di situ mulai diserang.” Kolam yang awalnya hijau atau cokelat juga akan berubah menjadi bening karena kematian plankton dan bakteri. Lele juga bisa keracunan amonium yang mendorong kematian massal secara mendadak. Jika kondisi ini dibiarkan, dalam hitungan jam hingga dua hari, lele yang dibudidaya mulai menggantung di permukaan air, respon makan hilang, kemudian mati massal.

Imunostimulan

Menurut Kesit, saat cuaca tidak menentu antara panas dan hujan, kunci utama keberhasilan budidaya adalah kesehatan ikan. Caranya dengan meningkatkan daya tahan tubuh pemilik nama ilmiah Clarias battracus itu dengan memberikan imunostimulan dan vitamin. “Itu harus selalu tersedia. Karena kalau sudah lingkungan yang penyebabnya, tidak ada cara lagi kecuali kita harus membikin daya tahan tubuh lele benar-benar kuat,” papar penemu kolam sistem paket padat tebar tinggi (budidaya lele sistem probiotik) ini.

Kesit menerangkan, saat musim penghujan dengan intensitas tinggi nafsu makan lele akan berkurang sehingga mudah terserang penyakit. Imunostimulan meningkatkan daya tahan lele dengan cara mendorong nafsu makan seperti pada cuaca normal. Ia menyarankan penggunaan imunostimulan herbal yang mengandung ekstrak bawang putih, kencur, rumput teki, dan bakteri Bacillus karena efeknya lebih terlihat. Imunostimulan ini diberikan cukup satu hari sekali jika hujan berlangsung terus menerus. Bilaintensitas hujan mulai menurun, imunostimulan cukup diimbuhkan 2 – 7 hari sekali.

Imunostimulan

Imunostimulan

Sementara, pemberian vitamin C akan memberikan efek hangat dalam tubuh ikan sehingga nyaman untuk makan. Vitamin rutin disajikan sekali setiap hari sesuai dosis yang tertera pada label kemasan. Kesit memberikan dua jenis pakan, yaitu pakan apung dan pakan tenggelam. Pakan apung diberikan berdasarkan adlibitum (sekenyangnya),sedangkan pakan tenggelam sebanyak 3% – 5% bobot tubuh. “Karena kalau pakan apung dia kenyang atau tidak ‘kan kelihatan dari respon makan dan kecepatan makannya,” ulas dia.

Lingkungan Budidaya

Untuk menjaga lingkungan budidaya, sambung Kesit, perlu perlakuan khusus seperti penambahan kapur dolomit atau kapur tohor sebanyak 15 – 25 gr/msore hari. “Tergantung ukuran ikan. Kalau masih ukuran 3 – 7 cm, kasih 15 gr/m3,” sarannya. Penambahan kapur bertujuan menstabilkan pH agar perairan tidak masam dan perubahan suhu tidak terlalu rendah. Suhu air pada cuaca normal berkisar 26° – 29°C. Namun, saat musim penghujan suhu bisa turun hingga 24°C. Yang harus dihindarkan pembudidaya, imbuhnya, suhu meluncur tajam dari 29°C langsung ke 24°C.

Selanjutnya, tambahkan mineral air berupa garam dengan dosis sebanyak dolomit selepas hujan turun. Probiotik pun wajib diberikan. Probiotik bermanfaat menguraikan sisa-sisa makanan yang terbuang dan menjaga kestabilan komposisi bakteri dalam air. Kesit mengingatkan,  setidaknya probiotik harus mengandung dua jenis bakteri. Yakni, bakteri yang berfungsi untuk menguraikan nitrit seperti Bacillus atau Nitrobacter dan bakteri yang menguraikan amoniak, seperti Nitrosomonas.

Kolam yang berbau terjdi karena banyak sisa pakan dan menghasilkan amoniak. Ini memerlukan kerja bakteri Nitrosomonas untuk menguraikan amoniak agar tidak meracuni ikan. Amoniak diurai menjadi nitrit. Selanjutnya, nitrit dimanfaatkan Bacillus atau Nitrobacter menjadi nitrat yang dimanfaatkan sebagai unsur hara bagi fitoplankton. Kesit menilai, hal inilah yang kurang diperhatikan pembudidaya. Mereka memberikan probiotik tanpa melihat komposisi bakteri yang terkandung di dalamnya sehingga probiotik tidak bisa bekerja secara efektif. “Makanya banyak kejadian kolam bau walaupun dikasih probiotik yang harganya mahal, itu karena fungsinya tidak sesuai,”cetusnya.

Kandungan amoniak tinggi akan sangat bahaya kala hujanturun. Polutan kondisi air yang menurun karena amoniak tinggi masih dibebani tambahan polutan logam berat atau asam yang terbawa air hujan. Lele pun semakin stres.

Windi Listianingsih
Sumber: http://www.agrina-online.com

Tulisan terkait:

Rumput Teki

Alicin Bawang Putih

Kimia Air Kolam

Kimia Air Kolam

Sengaja artikel ini saya cantumkan di blog ini karena menurut saya sangat berguna sebagai salah satu tambahan pengetahuan bagi para pecinta dan pemilik kolam ikan, khususnya ikan koi. Secara garis besar, tulisan ini mengacu pada artikel yang ditulis oleh Norm Meck (Koi Club of San Diego, 1996) dengan beberapa perubahan dan tambahan.

Tulisan ini berkaitan dengan cara untuk memperbaiki kandungan kimia air kolam ikan, khususnya untuk kolam dengan sistem air yang disirkulasikan (recyrcle water). Bagaimana cara mengukur, apa yang terkandung, apa yang terbaik, apa yang terburuk, dan bagaimana cara mengatasinya. Untuk kolam yang memiliki sistem panggantian air secara kontinu, asalkan air yang masuk ke dalam kolam, kondisi kolam dan lubang air pembuangan memenuhi syarat, maka artikel ini hanya memberikan sedikit kontribusi tambahan.

Selain itu, secara pribadi saya percaya bahwa sebagian besar penyakit ikan yang disebabkan oleh bakteri atau jamur terkait dengan kualitas air karena bakteri penyebab penyakit akan tumbuh subur pada kualitas air yang buruk. Demikian pula sebaliknya jika kualitas air cukup bagus, maka tingkat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit ini akan tertekan. Jika anda bertanya pada Mbah Google tentang bagaimana cara menanggulangi penyakit ikan, maka sebagian besar dari mereka akan menyarankan anda untuk memperbaiki kualitas air. Berdasarkan pengamatan saya, ikan yang terserang penyakit bakteri atau jamur sebagian besar dapat sembuh sendiri di dalam kolam dengan kualitas air yang sangat bagus, tanpa harus dikarantina. Akan tetapi untuk kasus-kasus tertentu, karantina memang akan sangat dibutuhkan.

Terlebih dahulu, akan dijelaskan apa yang disebut sebagai “bio-filter” atau “bio-converter”. Secara umum, filter adalah sebuah alat penyaring berpori di mana air atau gas dapat mengalir melewatinya yang berfungsi untuk memisahkannya air dari partikel suspensinya. Akan tetapi, filter ini tidak dapat bekerja untuk memisahkan komponen terlarut di dalam air, walaupun ukuran pori filter tersebut sudah sangat halus. Filter ini biasanya disebut sebagai filter mekanis. Di sisi lain, aktivitas biologis yang terdapat di dalam kolam atau media filter tidak dapat menangkap material partikel suspensi, akan tetapi bekerja pada material terlarut. Namun demikian, alat filtrasi ini juga dapat berperan ganda, bukan hanya sebagai filter mekanis yang bertujuan untuk memisahkannya air dari partikel suspensinya namun juga dapat bekerja pada material terlarut. Sehingga, filter yang dimaksud di dalam artikel ini mengacu pada terminologi converter biologis atau bio-converter, bukan hanya sebagai filter biasa.

Jika ikan baru yang ditambahkan di dalam kolam, maka anda sebagai pemilik kolam telah berasumsi bahwa anda telah memiliki tanggung jawab akan makhluk tersebut. Hal ini berkaitan bukan hanya pada pemberian pakan, tapi termasuk juga pada pemeliharaan kesehatan lingkungan di mana ikan itu hidup dan berkembang. Penilaian kualitas kesehatan lingkungan liquid ini secara parsial dapat dilakukan dengan melakukan pengukuran secara kimiawi.

Terlihat sangat konyol ketika seeorang dapat mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk membangun sebuah kolam dan mengisinya dengan ikan koi yang sangat cantik dan mahal akan tetapi tidak membeli dan belajar  bagaimana menggunakan uang puluhan ribu rupiah untuk perlengkapan test Nitrite. Hal ini juga tidak berarti bahwa seseorang harus melakukan test air setiap beberapa menit atau mungkin setiap beberapa hari. Kolam yang telah baik dan establis  dengan ikan yang terlihat sehat dapat dicek setiap bulan. Hal ini dapat terjadi jika telihat ada sesuatu yang janggal atau mungkin ketika terjadi perubahan musim, maka beberapa tambahan test mungkin dibutuhkan. Test yang sangat sederhana pada waktu yang tepat dapat mengantisipasi permasalahan kecil yang dapat menjadi masalah besar. Pada saat ingin memulai kolam baru atau sistem bio-converter, test setiap hari dapat dilakukan sampai bio-converter bekerja sempurna, kemudian setiap minggu sampai beberapa bulan hingga sistem stabil.

Perlengkapan Test dan Estimasi Tingkat Kebutuhannya

Dibutuhkan:

pHAmmoniaNitriteThermometer

Baik jika ada:

Alkalinity
Salinity
Nitrate
Dissolve Oxigen

Tidak terlalu dibutuhkan:

Chlorine
Hardness

Untuk kebutuhan pengobatan kolam, sangat diperlukan untuk mengetahui jumlah total air di dalam kolam dan di dalam sistem converter/filter seakurat mungkin. Penanganan yang berlebihan atau kekurangan dengan menggunakan bahan kimia dapat berakibat fatal. Jangan hanya menebak jumlahnya, tapi ukur.

Jangan terkecoh oleh terminologi kualitas air dan kejernihan air. Air yang sangat jernih dapat mengandung bahan yang berbahaya bagi ikan. Air berwarna hijau yang disebabkan oleh pertumbuhan phytoplankton berlebih justru dapat memberikan keuntungan bagi ikan walaupun tidak terlalu disukai oleh para pemelihara kolam karena ikan tidak terlihat. Kejernihan air mengindikasikan bahwa filter mekanis telah bekerja efektif.

Siklus Nitrogen di Kolam
image

Sebuah kolam dengan converter biologis (bio-converter) dan diisi dengan ikan akan membentuk sebuah sistem ekologi tersendiri yang sangat komplek. Setiap komponen dari sistem tersebut membutuhkan komponen lain untuk bertahan dan tumbuh. Diagram lingkaran sederhana dari sistem ekologi terlihat pada diagram di atas. Awalnya, kotoran ikan dan kotoran organik lainnya diubah oleh bakteri dan jamur menjadi senyawa Amonia dan selanjutnya diubah menjadi Nitrite. Sayangnya, seperti halnya Amonia, Nitrite juga merupakan racun bagi ikan. Namun demikian, converter biologis yang memiliki populasi bakteri Nitrobacter dapat mengubah Nitrite menjadi Nitrate. Senyawa Nitrate pada dasarnya tidak memberikan reaksi pada ikan, tapi digunakan oleh tumbuhan dan alga di dalam kolam. Ketika tumbuhan dan alga tumbuh dan dimakan oleh ikan, siklus di atas dimulai kembali. Bakteri Nitrosomonas dan Nitrobacter merupakan bakteri aerobic karena mereka membutuhkan oksigen untuk mengubah makanannya menjadi energi sama halnya seperti ikan.

AMONIA

Amonia (NH3), diukur dengan satuan part per million (ppm), adalah sebagai acuan utama tingkat kesehatan bio-converters. Amonia seharusnya tidak terdeteksi di dalam kolam yang memiliki bio-converter yang sehat. Idealnya, jumlah kandungan Amonia adalah nol. Ketika Amonia terlarut di dalam air, senyawa ini mengalami ionisasi secara parsial tergantung pada pH dan temperatur. Amonia yang terionisasi ini disebut sebagai Amonium dan tidak beracun bagi ikan. Turunnya pH dan temperatur dapat meningkatkan proses ionisasi yang menyebabkan kadar Amonium meningkat sehingga tingkat racun menurun. Sebagai panduan secara garis besar, untuk air dengan temperatur 70F (21C), sebagian besar koi diharapkan dapat bertoleransi pada kadar Amonia di level 1 ppm jika pH nya 7, atau dapat bertahan pada kada Amonia 10 ppm pada pH 6 pada temperatur yang sama. Pada pH 8 dengan temperatur yang sama, maka kadar Amonia yang hanya 0,1 ppm dapat sangat berbahaya bagi ikan koi.

Perlengkapan test Amonia secara garis besar terbagi menjadi dua tipe test. Keduanya dapat membaca kadar total Amonia dan Amonium, jadi tanpa mengetahui temperatur dan pH, tingkat racun tidak dapat diidentifikasi. Yang terbaik adalah kadar Amonia nol. Test tipe pertama adalah dengan metoda Nessler yang pada umumnya menggunakan tetes dengan acuan chart warna. Test metoda Nessler dapat mendetekasi kandungan Amonia/Amonium bebas dan juga Amonia/Amonium yang terikat secara kimia dengan senyawa anti-Ammonia. Tipe kedua yaitu test Silicylate yang memiliki dua tahapan. Tipe test ini menggunakan cairan, pill atau serbuk yang juga dibandingkan dengan acuan chart warna. Test ini memakan waktu yang agak lama untuk mengukur kadar Amonia/Amonium bebas. Oleh karena hanya Amonia bebas yang dapat berpengaruh pada ikan, test Nessler pada kondisi tertentu menghasilkan data yang misleading, tapi dapat memberikan informasi lain untuk keperluan tertentu. Perlengkapan test yang disarankan harus dapat mendeteksi kadar Amonia pada kisaran 0 – 1 ppm, khusunya untuk kolam dengan pH di atas 7. Rentang pengukuran, 0 – 5 ppm, akan sangat berguna, khusunya untuk kolam dengan tingkat pH di bawah 7. Sebuah perlengkapan test Amonia disarankan untuk dimiliki.

Efek Amonia:

Amonia dapat memutus transfer oksigen dari insang ke darah dan dapat menyebabkan kerusakan insang yang lama dan tiba-tiba. Mucous yang memproduksi membran dapat rusak, sehingga mengurangi lapisan lendir luar dan merusak permukaan intestinal dalam. Biasanya, ikan akan terlihat malas dan bernafas dengan mulut yang berada di permukaan air.

Sumber Amonia:

Amonia merupakan senyawa gas yang awalnya dilepaskan dari insang ikan sebagai kotoran dari hasil pencernaan protein. Sumber lain Amonia dengan jumlah lebih sedikit dihasilkan dari reaksi bakteri pada kotoran padat dan urea (urin).

Kontrol Amonia:

Amonia dapat dicerna oleh bakteri di dalam bio-converter dan beberapa di antaranya secara langsung di assimilasi oleh alga di kolam. Bakteri Nitrosomonas mengkonsumsi Amonia dan menghasilkan Nitrite sebagai kotoran. Proses ini dapat terjadi di dinding kolam atau di dalam bio-converter. Jumlah Amonia dapat meningkat secara tiba-tiba di dalam bio-converter sampai koloni bakteri tumbuh dan dapat menerima tambahan material Amonia untuk dicerna. Ini dapat terjadi sebagai akibat dari penambahan ikan yang banyak ke dalam kolam atau ketika musim panas di saat temperatur air meningkat. Aktivitas ikan dapat lebih meningkat sangat tajam karena kenaikan temperatur dibandingkan dengan aktivitas bakteri. Sebuah bio-converter menjadi terhalangi secara parsial oleh karena limbah dan atau pembentukan channel yang menembus media sehingga dapat menurunkan keefektifan bio-converter tersebut yang dapat berakibat kadar Amonia meningkat.

Penanganan Amonia:

Penanganan secara kimia untuk mengurangi kadar racun akibat adanya Amonia tersedia secara komersial dengan berbagai macam merk. Penanganan ini, pada umumnya menggunakan senyawa Formaldehyde yang dapat membentuk ikatan kimia dengan Amonia sehingga mencegah dampak buruk ke ikan. Akan tetapi, hal ini tidak dapat menghilangkan kandungan Amonia di dalam kolam. Namun bio-converter dapat menghilangkan kadar Amonia. Walaupun pada umumnya produk-produk tersebut menggunakan dosis 50ml untuk 100 gallon (sekitar 400L) untuk mengikat sampai 1 ppm Amonia, pastikan dan check petunjuk penggunaannya sebelum digunakan. Catatan bahwa tipe perlengkapan test Nessler masih akan dapat mendeteksi keberadaan Amonia yang terikat ini sampai bakteri yang ada di dalam bio-converter mekonsumsinya. Jika sebuah kolam memiliki bio-converter yang sehat, pengikat Amonia (Ammonia binding treatment) secara kimia tidak dibutuhkan sama sekali.

Ketika Amonia terdeteksi (asumsi pH sekitar 7.5):

Tingkatkan level aerasi sampai maksimum. Tambahkan suplemen udara jika mungkin.Hentikan pemberian pakan pada ikan di dalam kolam yang telah establis, turunkan porsi makan setengahnya jika memulai memasang bio-converter baru di kolam.Check kemungkinan bio-converter untuk dibersihkan.Pada level Amonia di 0.1 ppm, lakukan penggantian 10% air. Untuk level Amonia 1 ppm, lakukan penggantian air 25%. Hati-hati: Jika air yang ditambahkan memiliki pH lebih dari angka di atas, penggantian air dapat memperburuk masalah.Penanganan secara kimia diperlukan jika level Amonia berlipat.Pertimbangkan untuk memindahkan ikan jika level Amonia telah mencapai 2.5 ppm.Jika bio-converter baru digunakan, matikan penggunaan UV sterilizer, Ozone generator dan alat foam fractionation (Protein skimmers).Lakukan test dalam interval 12 sampai 24 jam.Pada kondisi darurat, turunkan pH secara kimiawi sampai setengah unit (tidak di bawah 6.0).

NITRITE

Nitrite (NO2-N), diukur pada part per million (ppm), adalah ukuran kimia kedua untuk menilai tingkat kesehatan bio-converter. Nitrite seharusnya tidak boleh terdeteksi di dalam kolam yang memiliki bio-converter sempurna. Maka kondisi ideal dan normal untuk Nitrite adalah nol.

Kandungan Nitrite yang rendah pada kondisi Amonia tinggi memperlihatkan bahwa Amonia-Nitrite bio-converter belum berperan sempurna, akan tetapi jika kandungan Amonia rendah dengan kandungan Nitrite tinggi, menunjukkan bakteri pengkonversi Nitrite-Nitrate belum aktif bekerja. Perlengkapan test tersedia dalam bentuk pill, bubuk, atau droplet dengan panduan chart warna. Perlengkapan test yang disarankan memiliki kisaran bacaan antara 0 – 4 ppm. Sebuah test perlengkapan Nitrite test dibutuhkan oleh para pemelihara kolam.

Sumber Nitrite:

Nitrite dihasilkan dari bakteri authotrophic Nitrosomonas yang menggabungkan Oksigen dan Amonia di dalam bio-converter dan di dinding kolam. Sama halnya seperti Amonia, kandungan Nitrite dapat meningkat secara tiba-tiba di dalam bio-converter sampai bakteri berkembang dan dapat menerima tambahan material Nitrite baru. Hal ini dapat terjadi oleh karena adanya banyaknya penambahan ikan baru di kolam atau terjadi ketika musim panas di mana suhu meningkat. Meningkatnya aktivitas ikan oleh karena naiknya temperatur dapat meningkatkan kadar Nitrite lebih cepat karena reaksi bakteri yang lambat. Sebuah bio-converter dapat rusak sebagian oleh karena racun atau channeling media yang mengurangi tingkat keefektifitasannya, sehingga kandungan Nitrite meningkat.

Efek Nitrite:

Nitrite merupakan pembunuh yang tidak terlihat. Air kolam dapat terlihat baik tapi Nitrite tidak dapat terlihat. Hal ini dapat mengakibatkan kematian, khususnya pada ikan kecil, walaupun pada konsentrasi di bawah 0.25 ppm. Nitrite merusak sistem syaraf, hati, limpa, dan ginjal ikan. Bahkan pada konsentrasi yang sangat rendah pada selang waktu yang agak lama dapat memberikan kerusakan yang lama. Intensitas tinggi dalam waktu singkat “spike” yang biasanya dapat terjadi ketika baru memasang bio-converter yang tidak terdeteksi menyebabkan masalah yang akan terlihat sebulan kemudian. Indikasi umum terhadap ikan yang terkena lonjakan Nitrite secara tiba-tiba di waktu sebelumnya adalah pada penutup insang yang melengkung keluar di tepinya. Penutup insang tersebut tidak dapat tertutup rata pada badan ikan.

Kontrol Nitrite:

Cara untuk mengontrol kandungan Nitrite adalah dengan menjaga kesehatan bio-converter. Di dalam media, bakteri Nitrobacter menyatukan oksigen dengan Nitrite untuk mengubahnya menjadi Nitrate yang relatif lebih tidak berhaya. Bakteri Nitrobacter mendapatkan lebih sedikit energi dari proses pengubahan Nitrite dibandingkan dengan bakteri Nitrosomonas pada proses Amonia menjadi Nitrite. Maka dari itu, bakteri Nitrobacter agak sulit dan lambat tumbuh dan menjadi yang pertama bermasalah di dalam bio-converter. Penggantian air dapat mengurangi konsentrasinya sesaat sejumlah persentasi air yang digantikan. Penambahan garam dapat membantu untuk mengurangi tingkat keracunan secara signifikan untuk sementara waktu, tapi tidak untuk jangka waktu yang panjang.

Ketika kandungan Nitrite di atas 0.25 ppm di dalam kolam:

Maksimumkan tingkat aerasi. Untuk kandungan Nitrite di atas 1 ppm, tambahkan suplemen udara jika mungkin.Berhenti pemberian pakan pada ikan di kolam yang telah establis, kurangi jumlah pemberian pakan sampai setengahnya di kolam yang memiliki bio-converter baru.Matikan UV sterilizer, Ozon generator, dan foam fraksionation (Protein skimmer).Untuk Nitrite di bawah 1 ppm, lakukan penggantian 10% air dan tambahkan 0.5kg garam setiap 400 liter air yang digantikan.Untuk Nitrite di antara 1 sampai 2 ppm, lakukan penggantian 25% air dan tambahkan 1kg garam setiap 400 liter air yang digantikan.Untuk Nitrite di atas 3 ppm, lakukan penggantian 50% air dan tambahkan 1.5kg garam setiap 400 liter air yang digantikan.Ulangi test 24 jam kemudian.Untuk level Nitrite di atas 4 ppm, usahakan untuk memindahkan ikan.

 NITRATE

Nitrate (NO3-N), diukur dalam satuan ppm, adalah pentunjuk ketiga untuk menilai tingkat kesehatan bio-converter. Nitrate diproduksi oleh bakteri authotropic yang mengkombinasikan Oksigen dengan Nitrite di dalam bio-converter dan beberapa di dinding kolam. Kandungan Nitrate nol dan Nitrite yang tidak nol mengindikasikan bakteri pengkonversi Nitrite-Nitrate belum bekerja. Perlengkapan test yang tersedia adalah dalam bentuk dual droplet atau pill dengan panduan chart warna. Perlengkapan test yang disarankan memiliki kisaran ukuran 0 -200 ppm. Sebuah perlengkapan test Nitrate lebih ideal untuk dimiliki, tapi tidak terlalu penting. Pada sebuah kolam yang telah establis dengan maintenance rutin termasuk penggantian air 5% – 10% setiap 2 atau 4 minggu, pada umumnya memiliki kandungan Nitrate sekitar 50 – 100 ppm. Konsentrasi Nitrate sampai 200 ppm masih dapat diterima.

Amonia dan Nitrite sangat beracun bagi ikan, sedangkan Nitrate lebih bersahabat. Beberapa artikel menyatakan bahwa tingginya kandungan Nitrate dapat mengurangi warna koi, tapi beberapa di antaranya menyatakan sebaliknya, bahwa tingginya kandungan Nitrate justru dapat mencerahkan warna. Namun demikian, beberapa artikel yang berbeda menyatakan bahwa tingginya kandungan Nitrate dapat menstimulasi aktivitas ikan untuk berkembang biak. Jika konsentrasi Nitrate menjadi tinggi, bakteri pengkonversi Nitrite-Nitrate (Nitrobacter) mungkin tidak dapat bekerja secara efektif yang mengakibatkan naikknya kandungan Nitrite.

Nitrate adalah hasil akhir dari lingkaran proses nirtifikasi dan sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk hidup. Hal ini tercermin kenapa tanaman di taman dapat tumbuh dengan subur oleh karena disirami dengan air buangan dari kolam (dengan asumsi bahwa kolam tidak diberikan banyak garam).

Catatan bahwa perbedaan yang sangat mencolok di dalam ukuran untuk mengukur Nitrate (200 ppm) yang berbeda untuk Amonia dan Nitrite yang memiliki level 1 – 4 ppm. Dengan asumsi bahwa bio-converter telah mengkonversikan 1 ppm ekuivalen Amonia menjadi 1 ppm ekuivalen Nitrite dan kemudia menjadi 1 ppm ekuivalen Nitrate per hari, maka akan dibutuhkan 100 hari atau 3 bulan untuk mencapai kadar Nitrate menjadi 100 ppm (akan lebih lama lagi jika penggantian air dilakukan). Konsentrasi Nitrate secara alami sangat dikontrol oleh penggantian air dan sedikit dipengaruhi oleh besarnya konsumsi tumbuhan/alga.

TEMPERATURE

Apapun ukuran yang digunakan untuk mengukur temperatur (Celcius atau Fahrenheit), sebuah termometer sangat dibutuhkan oleh para pemilik/pemelihara kolam. Disarankan termometer berada terapung di sistem filter/converter atau terikat di titik yang mudah dijangkau di kolam.

Temperatur ideal berkisar antara 65F – 75F (20C – 25C)

Temperatur yang masih dapat diterima 35F – 85F (2C – 30C)

Temperatur kolam pada umumnya mengikuti kondisi lingkungan sekitarnya walaupun memiliki keterlambatan penyesuaian yang tergantung pada besarnya kolam. Kolam terbuka dapat menyebabkan perubahan temperatur yang besar. Sinar matahari di siang hari dapat mengakibatkan temperatur meningkat tajam dan kehilangan panas dapat terjadi di malam hari lebih besar dibandingkan dengan kolam yang tertutupi. Kondisi malam hari yang cerah dapat mengabsorsi sejumlah besar panas dari kolam berukuran kecil sehingga temperatur kolam tersebut dapat berada di bawah temperatur udara sekitar.

Bahkan, pada umumnya perubahan temperatur dapat terjadi lebih cepat pada temperatur yang panas dan pada kolam yang lebih kecil. Di atas kisaran temperatur normal, aktivitas biologis meningkat dua kali lipat untuk setiap kenaikan 5 derajat Celcius. Tingkat racun Amonia meningkat seiring dengan meningkatnya temperatur dan jumlah Oksigen terlarut di dalam air menurun. Walaupun koi dapat bertahan sampai pada batas 100F (38C) atau lebih tinggi, tingkat kematian ikan tinggi pada suhu di atas 75F (23C) dan meningkat lebih tajam di atas suhu 85F(30C). Di atas 80F (27C), tambahan udara mungkin sangat dibutuhkan. Di bawah suhu 55F (12C), koi berhenti memproduksi antibody dan pada suhu sekitar 45F (7C) ikan akan memasuki area yang setara dengan hibernasi. Bio-converter akan berhenti bereproduksi pada suhu sekitar 40F (5C).

Pemberian pakan terhadap temperatur

Di bawah 50F (30C) ………… jangan beri pakan

Pada semua kondisi, disarankan untuk memberi ikan dengan pakan yang dapat habis dalam waktu sekitar 10 menit. Buang pakan yang tersisa/tidak termakan di kolam kurang dari satu jam.

Ikan tidak menyukai perubahan yang terjadi di lingkungannya, termasuk temperatur. Setiap perubahan akan meningkatkan stress ikan. Semakin besar tingkat perubahan dan semakin cepat, maka semakin tinggi efek stress yang ditimbulkan. Hal ini kenapa dijadikan alasan utama untuk menempatkan ikan pada kolam yang cukup besar.

Hal lain yang dapat menyebabkan koi stress akibat perubahan temperatur adalah ketika dimasukkan ke kolam dari tempat lain. Disarankan untuk membungkus ikan tidak lebih dari 2 jam, lebih baik melepaskannya secara langsung daripada terus mendiamkannya di dalam kantung dengan kondisi air yang buruk lebih dari sentengah jam kemudian. 30 menit terapung akan dapat mengakibatkan shok yang tiba-tiba jika perbedaan temperaturnya terlalu besar, ikan tidak dapat menyesuaikan diri terhadap kondisi temperatur yang baru. Penyesuaian temperatur pada ikan sebenarnya membutuhkan waktu beberapa hari, sama seperti manusia mengatasi jet lag.

Selain itu, bukan hanya temperatur, ikan juga haru menyesuikan diri terhadap pH, hardness, alkalinity, “rasa”, dll terhadap kondisi di sekitarnya.

Lebih banyak hal harus dilakukan untuk mengontrol temperatur kolam yang berada di area terbuka dibandingkan dengan kolam yang tertutup.

Referensi:

Meck, N. (1996), Pond Water Chemistry, Koi Club of San Diego.

Sumber: http://www.cgama.wordpress.com

Bibit Ikan: Pembelian, Pengangkutan dan Penampungan

Penulis

Michael McGee dan Charles Cichra

Mendapatkan bibit ikan dari pemasok yang punya reputasi baik adalah langkah pertama menuju kesuksesan bisnis perikan. Beberapa pertimbangan yang paling penting berkaitan dengan pembelian, pengangkutan, dan ketersediaan bibit ikan dikaji di bawah ini.

Pembelian,

Carilah pembudidaya yang memproduksi bibit ikan disekitar Anda, untuk mendapatkan harga terbaik untuk kuantitas dan ukuran ikan yang dibutuhkan. Ingat, bibit ikan dengan harga termurah mungkin tidak berkwalitas atau penjual tidak bisa menjamin kesehatan dan kelangsungan hidup mereka.

Tentukan reputasi pemasok bibit ikan dengan cara mendapatakan informasi sebanyak mungkin dari teman atau lingkungan sekitar untuk menentukan apakah pembeli yang pernah beli dari pemasok bibit tersebut telah puas dengan bibit ikan yang diperoleh. Pemasok seharusnya menjamin kesehatan dan kelangsungan hidup ikan sampai mereka ditebar di kolam pembeli. Biasanya, penjual menambahkan beberapa ekor kelebihan ikan dalam rangka untuk mengkompensasi sejumlah kecil kematian.IMG00419-20130704-1959

Pastikan ukuran bibit seseragam mungkin dan yang terpenting adalah bibit ikan dalam keadaan sehat. Penjual bibit harus menjamin ikan yang dijual bebas dari penyakit, bila perlu ada statement tertulis untuk mengganti jika bibit yang diterima pembeli tidak sehat dan kematian bibit dalam jumlah besar (lebih dari 30%). Sementara pembeli bertanggung jawab atas kerugian jika penjual dapat membuktikan bahwa pembeli tidak mengikuti prosedur yang direkomendasikan untuk penanganan bibit yang baru dibeli.

Pengangkutan,

Jika ikan yang akan dikirim melalui jalan darat atau angkutan udara, maka pemasok atau pengirim akan bertanggung jawab atas keamanan ikan selama dalam perjalanan. Bibit ikan biasanya dikemas dalam kantong plastik berisi air dan oksigen. Untuk pengiriman jalan darat yang terbaik diangkut dalam tangki atau drum plastik yang dilengkapi dengan mesin blower udara (airasi). Air harus tetap bersih dan sejuk selama transportasi. Ikan harus dimuat dan dibongkar dengan penanganan yang hati-hati untuk menghindari ikan stres. Dalam kebanyakan kasus pemasok harus mengatur waktu pengiriman ikan atau memastikan bahwa pembeli memiliki peralatan memadahi demi keberhasil pengangkut  benih ikan.

Pengepakan

Pengepakan

Penampungan,

Ikan biasanya “kaget” (perlahan menyesuaikan diri terhadap perubahan yang signifikan dalam suhu air atau kimia), ketika dipindahkan dari wadah pengangkutan (drum atau kantong plastic) ke lingkungan baru. Setidaknya perlu waktu 20 menit untuk menurunkan suhu menurun sampai 12°C. Jika tidak ada termometer, perbedaan suhu antara dua lingkungan harus disesuaikan secara bertahap sampai ada perbedaan dapat dirasakan dengan menggunakan tangan Anda. Jika ikan diterima dikemas dalam kantong plastik dengan oksigen, apungkan kantong di permukaan kolam penampungan tanpa membuka ikatan sampai ikan menyesuaikan diri (kira-kira 10 sampai 15 menit). Bila kantong sudah dibuka tentunya oksigen keluar dari kantong maka ikan harus segera dilepaskan secara bertahap, usahkan ikan berenang dengan sendirinya. Jika ikan dibawa menggunakan drum, secara bertahap campur air kolam penampungan ke dalam drum sampai suhu air sama.

Bibit Patin Berkwalitas

Bibit Patin Berkwalitas

Ikan yang awalnya sehat dari penjual dan ditangani dengan prosedur yang benar, akan tetap aktif berenang menuju kedalaman air tertentu begitu dilepas  ke kolam penampungan. Ikan yang stres dari pengangkutan dan perubahan suhu tidak berenang ke dasar, atau berenang lemah dipermukaan air. Kematian akibat salah penanganan biasanya akan terjadi dalam hitungan jam sampai beberapa hari setelah dilepaskan. Sering kali, stres yang berlebihan pada ikan menyebabkan wabah penyakit atau terjangkit parasit, kemudian kematian beberapa ikan mungkin terjadi sampai beberapa hari setelah tebar.

Pemasok bibit yang punya reputasi baik akan sangat memperhatikan kepuasan pembeli. Dalam kebanyakan kasus, jika masalah timbul dengan ikan, pemasok akan menanggung  kerugian yang terjadi apabila bukan akibat kelalaian dipihak pembeli. Biasanya penjual akan mengatur atau merekomendasikan bagaimana ikan harus diangkut dan memberikan petunjuk tentang metode yang tepat dalam menangani bibit ikan yang masih lemah, lelah dan stress.

Tentang Penulis

Michael McGee, mantan assistant professor aquaculture specialist;

Charles Cichra, professor pada Department of Fisheries and Aquatic Science, Cooperative Extension Service, Institute of Food and Agricultural Sciences, University of Florida, Gainesville, FL 32611.)

 

 

Transportasi Bibit

Produksi gas beracun seperti amonia dan kelebihan jumlah karbon dioksida sebagai produk limbah metabolik adalah penyebab utama dari kondisi stres dan kematian ikan. Beberapa obat-obatan dan bahan kimia dapat digunakan untuk mengurangi tingkat metabolisme, sehingga mengurangi tingkat produksi amonia dan karbon dioksida. Dengan beberapa perlakuan tingkat stres pada ikan dapat dikurangi. Dalam kondisi stres ikan menjadi lebih rentan terhadap serangan bakteri patogen. Penggunaan antibiotik dan beberapa terapi dapat membantu dalam mengurangi risiko mortalitas yang tinggi saat ikan diangkut menggunakan kantong plastik

Beberapa anestesi (obat bius) tersedia dipasaran, seperti Novocaine dengan dosis 50 mg / kg ikan, natrium barbital dosis 50 mg / kg ikan dan tertiary amyl alcohol dengan dosis 2 mg, dapat digunakan untuk anestetik ikan yang akan diangkut. Ms 222 juga merupakan obat penenang yang umum yang dapat digunakan untuk induk ikan. Asam karbonat dengan konsentrasi 500 ppm dapat membatu menenangkan burayak selama waktu transportasi benih ikan.

Pemberian obat anti stres dan luka

Pemberian obat anti stres dan luka

Standard Operasional Prosedur Pengepakan Larva atau Bibit Ikan

  • Puasakan ikan 1-2 hari sebelum transportasi,
  • Lakukan pengepakan ditempat yang teduh,
  • Gunakan air sumur yang sudah diendapkan,
  • Pilih hanya larva atau bibit ikan yang sehat dan kuat saja,
  • kantong plastik harus diperiksa sebelum dan sesudah oksigen diisi kedalam kemasan untuk memeriksa kemungkin kebocoran;
  • Plastik yang sudah berisi ikan ditutup untuk menghindari sinar matahari langsung;
  • Ketika beristirahat selama perjalanan, pembawa bibit harus memarkirkan kendaraan ditempat teduh,
  • Jika suhu udara sekitar tinggi, sesekali memercikkan air dingin (gunakan wadah dari logam) untuk menurunkan suhu
  • Sebelum melepaskan bibit ke kolam, letakan kantong bibit diatas air di mana benih akan dilepaskan, setidaknya selama 10-15 menit untuk menyamakan suhu,
  • perlahan campurkan air kolam dan secara bertahap melepaskan ikan;
  • jika menggunakan anestesi (obat bius), lakukan percobaan dulu untuk menentukan dosis yang bervariasi tergantung dari kualitas air dan jenis ikan.

Bibit diterima dalam keadaan sehat oleh pembeli

Bibit diterima dalam keadaan sehat oleh pembeli

Source: fao.org

Salam,

EmpangQQ.com

Amonia

Source : - http://elmhcx9_elmhurst_edu

Picture source : – http://elmhcx9_elmhurst_edu

Amonia adalah senyawa kimia yang terdiri dari satu atom Nitrogen dan tiga atom Hidrogen terikat erat, dengan simbol kimia NH3. Amonia dapat berbentuk cairan atau gas yang berbau tajam. Senyawa kimia ini berbahaya, dalam konsentrasi rendah sekalipun, menghirup atau terkena kulit mungkin dapat mengakibatkan kematian, terbakar atau pingsan.

Pada budidaya ikan, terutama disegmen pembibitan, Amonia adalah produk limbah utama ikan, dikeluarkan terutama melalui jaringan insang, dan juga pada tingkat yang lebih rendah dikeluarkan melalui ginjal. Amonia juga dapat menumpuk dari pembusukan jaringan ikan, makanan dan sampah organik lainnya yang berasal dari protein. Akumulasi amonia menyebabkan kemerahan pada kulit dan kerusakan insang yang disebabkan oleh efek pemanasan pada permukaan kulit ikan. Ikan akan kepayahan bila kandungan ammonia dalam air tinggi, ikan tidak merasa nyaman, mengisolasi diri, berbaring di bagian bawah, penjepit sirip mereka, mengeluarkan lendir berlebih, dan akan lebih mudah terjangkit infeksi parasit dan bactrerial.

Kepadatan ikan yang tinggi

Kepadatan ikan yang tinggi

Meningkatkan DO dalam Air

Meningkatkan DO dalam Air

Amonia adalah masalah besar dalam akuarium baru karena bakteri baik yang secara alami mengurai kandungan amonia dalam air belum stabil. Bahkan dalam lingkungan yang sudah stabil pun, amonia dapat terakumulasi dimusim penghujan ketika air dingin, saat ikan sedang mengalami penurunan daya tahan tubuh.
Air dengan pH dibawah 7.4 akan mengurai Amonia menjadi Amonium, dalam kondisi ini penguraian Amonia tidak membahayakan untuk ikan. Sedang bila pH 8,0 atau lebih amonia lebih mudah terurai, sehingga menjadi lebih beracun.

 

Sangat penting dalam budidaya ikan segmen pembibitan untuk menjagakestabilan pH air agar terhidar dari kerugian karena kematian masal akibat keracunan Amonia. Jika pH turun drastic, maka segera naikan pH dikisaran 7, sehingga bakteri baik pengurai amonia dapat tumbuh untuk menurunkan kadar amonia dalam air.

Thermometer air raksa lebih akurat

Thermometer air raksa lebih akurat memantau suhu air

Parameter seperti air yang hangat, pH yang tinggi atau kekurangan oksigen akan meningkatkan kadar racun ketika ammonia terakumulasi. Ini semua adalah pertimbangan penting ketika kita mencoba untuk menafsirkan tanda-tanda klinis yang bervariasi dari ikan pada tingkat amonia yang sama, tetapi terpengaruh sangat berbeda.

Hal yang wajib dilakukan untuk menjaga kadar Amonia yang normal dalam akuarium adalah

–        Lakukan penyiponan secara berkala atau apabila banyak sisa pakan atau fases didasar akuarium,

–        Jangan berlebihan memberikan pakan, pemberian pakan terbaik adalah sedikit tapi terjadwal dan sering,

–        Jaga kestabilan pH disekitar 6.5 sampai dengan 7.5

–        Bila air akuarium tercium bau, kurangi air 40% nya, tambahkan dengan air baru. Usahakan suhu dan kadar oksigen terlarut air baru dan air lama mendekati sama.

Semoga berguna.