Posts from the ‘Fillet’ Category

Kuah Bakso Ikan Patin

Kuah bakso ikan tentu saja berbeda dengan kuah untuk bakso sapi. Disini, kita akan menambahkan daging ikan dan tulang ikan Patin agar citarasa ikannya semakin kental.

image

Bahan:
✩ Bawang merah 8 butir, haluskan
✩ Garam 2 sdt
✩ Merica 1 sdt
✩ Seledri 2 batang, cincang halus
✩ Daun bawang 1 batang, iris tipis
✩ Tulang ikan Patin
✩ Air 1 liter
✩ Minyak untuk menumis

Cara Membuat Kuah Bakso Ikan
★ Tumis bawang merah, garam, dan merica hingga harum.
★ Masukkan daun bawang, aduk rata.
★ Tuangkan air, kecilkan api, lalu masukkan tulang dan daging ikan Patin.
★ Biarkan hingga mendidih dan aromanya mantap.
★ Taburi seledri, sajikan bersama Bakso ikan Patin

DPR Apresiasi Minapolitan Perikanan Budidaya

Neraca.co.id – Kamis, 26/02/2015

Banjar-Pengembangan kawasan minapolitan telah mendorong peningkatan produksi secara signifikan. Kawasan minapolitan berbasis perikanan budidaya yang merupakan konsepsi pembangunan ekonomi yang berbasis kawasan berdasarkan prinsip – prinsip terintegrasi, efisiensi, dan percepatan pembangunan, telah memunculkan kawasan perikanan budidaya yang baru dan mendukung perekonomian daerah.

“Minapolitan perikanan budidaya telah berhasil menjadi contoh daerah lain yang memiliki potensi serupa, sehingga memberikan dampak yang positif bagi daerah lainnya,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto, pada saat mendampingi Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI di Cindai Alus, Kab. Banjar, Kalimantan Selatan, kemarin.

Kabupaten Banjar salah satu sentra budidaya ikan Patin

Kabupaten Banjar salah satu sentra budidaya ikan Patin

Kabupaten Banjar merupakan salah satu kabupaten minapolitan berbasis perikanan budidaya dengan komoditas utama adalah patin. “Kawasan minapolitan perikanan budidaya di Kabupaten Banjar ini, mampu secara nyata mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Dalam satu hari mampu menghasilkan 35 – 40 ton patin untuk dipasarkan ke Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Disamping itu, kawasan minapolitan ini telah mampu menyerap tenaga kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya,” papar Slamet.

Pakan Mandiri

Gerakan Pakan Mandiri (GERPARI) yang telah dicanangkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan juga telah di terapkan di kawasan budidaya patin Cindai Alus. Pabrik pakan mandiri yang di kelola oleh Bapak Suhadi telah mampu memproduksi pakan patin setiap hari secara rutin. Menurut Pak Suhadi, produksi pakan mandiri yang dia kelola, mampu memproduksi 5 ton pakan setiap hari. “Pakan yang saya produksi ini belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pakan di wilayah Cindai Alus. Tetapi dengan Pakan Mandiri ini, kami bisa menurunkan biaya produksi karena harga pakan yang kita produksi harganya lebih murah di banding dengan pakan komersil tetapi kualitasnya tidak kalah dengan pakan pabrikan. Margin yang kita dapat dari budidaya menggunakan pakan mandiri juga meningkat sampai 30 %”, ungkap Suhadi.

FB Upload -Indukan - 1 small

Produksi patin dari kolam Pak Suhadi dengan ukuran 20 x 24 m2, benih 3 inch sebanyak 40 ribu ekor, lama waktu budidaya 7 – 8 bulan, dapat dihasilkan patin ukuran > 800 gr sebanyak 40 ton dengan harga saat ini Rp. 20.000,-/kg.

Data sementara produksi Patin di Propinsi Kalimantan Selatan pada 2014 adalah 25,5 ribu ton. Volume ini setara dengan 6,3 % produksi patin nasional yang mencapai 403 ribu ton. Target produksi patin nasional pada 2015 adalah 604,7 ribu ton dengan target kontribusi produksi dari Kalimantan Selatan sebesar 48,6 ribu ton.

Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, menambahkan bahwa program GERPARI adalah salah satu cara untuk mewujudkan Perikanan Budidaya yang Mandiri, berdaya Saing dan Berkelanjutan. “Dengan kemandirian dalam hal pakan, maka margin atau keuntungan pembudidaya akan meningkat dan kesejahteraannya pun akan meningkat. Melalui GERPARI akan di dorong untuk dibentuk Kelompok Pakan Mandiri yang terpisah dari Kelompok Pembudidaya. Kelompok Pakan Mandiri tugasnya adalah memproduksi pakan untuk di gunakan atau dijual ke pembudidaya. Pemerintah akan mensertifikasi pakan yang di produksi oleh Kelompok Pakan Mandiri ini sehingga kualitasnya terjaga. Ini sejakan dengan kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan, Ibu Susi Pudjiastuti, untuk menjadikan pembudidaya ini menjadi pengusaha UMKM bukan hanya buruh. Sehingga upaya ini harus di dukung dan didorong untuk diwujudkan,” jelas Slamet.

Ditambahkan pula bahwa melalui GERPARI maka minat pembudidaya untuk meningkatkan produksi ikannya menjadi lebih besar karena keuntungan yang dihasilkan akan meningkat. Ini sejalan dengan target produksi perikanan budidaya yang terus di tantang untuk meningkat setiap tahunnya.

Di tempat yang sama, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, mengatakan bahwa DPR cukup puas dengan keberhasilan pembudidaya patin di kawasan minapolitan perikanan budidaya yang berlokasi di Cindai Alus , Kab. Banjar ini.

“Produksi pakan mandiri terbukti mampu meningkatkan gairah pembudidaya untuk berbudidaya. Karena lebih menguntungkan dan terbukti menyerap tenaga kerja. Masyarakat sekitar lokasi budidaya juga lebih sejahtera. Lokasi ini dapat dijadikan contoh kawasan lain sehingga keberhasilan ini bisa di tularkan. DPR terus mendukung program pemerintah yang berpihak pada rakyat dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Titiek.

Sumber: http://www.Neraca.co.id

Kandungan Gizi dan Manfaat Ikan Patin Bagi Kesehatan Tubuh

Sajian Ikan Patin

Apakah anda pehobi ikan, terutama ikan patin ? jika “ya” maka anda termasuk orang berpotensi hidup sehat, karena manfaat ikan patin sangatlah baik untuk kesehatan manusia, oleh sebab itu ikan patin termasuk  jenis ikan yang banyak dipilih untuk dibudidayakan oleh para peternak ikan, hal ini untuk memenuhi banyaknya permintaan pasar. Ikan patin termasuk jenis ikan yang relatif gampang diternakan asalkan kita tahu cara membudidayakannya serta dapat mengenali hama dan penyakit ikan patin yang sering menjadi masalah dalam proses pembesarannya. Seperti halnya jenis ikan lain, ikan patin kaya akan kandungan gizi oleh sebab itu banyak orang yang mengkonsumsi ikan ini sebagai sumber protein kualitas tinggi, vitamin dan mineral. Nilai kandungan gizi yang berupa kadar protein hewani yang terkandung dalam ikan patin memiliki keunggulan relatif lebih besar dari pada protein yang dihasilkan oleh ikan tawar jenis lain. Sumber protein yang tersedia dalam daging ikan patin adalah sekitar 23-28 persen.

Manfaat ikan patin bagi kesehatan ditandai dengan adanya kandungan lemak lebih rendah dibanding ikan jenis lain, terutama dua asam lemak esensial DHA yaitu kira-kira sebesar 4,74 % dan EPA yaitu kira-kira sebesar 0,31 %. Kedua jenis omega-3 asam lemak ini biasanya dihasilkan dari jenis ikan yang hidup di air dingin seperti ikan salmon, ikan tuna, dan ikan sarden. Kadar lemak total yang terkandung dalam daging ikan patin adalah sebesar 2,55 % sampai dengan 3,42 %, dimana asam lemak tak jenuh nya adalah di atas 50 %.  Asam oleat adalah asam lemak tak jenuh tunggal yang paling banyak terkandung di dalam daging ikan patin yaitu sebesar 8,43 %.

Berdasarkan hasil dari penelitian, kandungan gizi di dalam ikan patin yang berupa lemak tak jenuh (USFA sebesar 50 %) sangatlah bagus untuk mencegah terjadinya resiko penyakit Kardiovaskular. Lemak tak jenuh juga bermanfaat untuk menurunkan besarnya kadar kolesterol total dan kolesterol LDL yang terkandung di dalam darah sehingga dapat mencegah dan mengurangi terkena penyakit jantung koroner.

Jika di lihat dari rendahnya kadar kolesterol yang terkandung dalam daging ikan patin ( 21-39mg/100 gram),  maka manfaat ikan patin  sangatlah bagus bagi anda yang sedang menjalankan program diet karena bisa mengurangi asupan kolesterol harian di dalam menu makanan anda.

Sumber: http://www.mancingmania.org

Oven-baked Patin Fish

Roasted Pangasius Fish
Bahan

350 gram fillet ikan patin
Air jeruk
Garam dan merica secukupnya
15 gram bawang bombay mentah
20 gram paprika kuning, iris
40 gram tepung roti
0.66 sendok makan minyak zaitun
Siapkan piring oven anti lengket (berbahan teflon).

Cara

Letakan fillet Patin diatas piring,
Taburi  dengan garam dan merica sesuai selera,
Taburkan berturut-turut irisan tipis bawang bombay, paprika,  tepung roti dan lumuri minyak zaitun.
Panggang dalam oven pada 180 derajat sampai matang (sekitar 20 menit)

Sajikan dengan campuran salad.

Jumlah Porsi: 2

source: http://recipes.sparkpeople.com

FOOD SAFETY, SYARAT MUTLAK EKSPOR

IMG00102-20130302-1448
Ekspor produk perikanan Indonesia pada kuartal pertama tahun 2013 sudah menyentuh angka USD$ 3,9 milyar. Nilai ekspor ini berjalan parallel dengan perbaikan pengendalian mutu dan keamanan pangan atau food safety, yang terus dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). “Keamanan pangan, tidak bisa ditawar. Bahan tambahan formalin, borak atau mercury sekecil apapun akan menggagalkan produk perikanan masuk ke pasar”. Demikian dikatakan Pelaksana Tugas Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Achmad Poernomo, di Jakarta (6/09).

Ketentuan keamanan pangan atau food safety merupakan syarat mutlak bagi setiap produk perikanan yang akan masuk pasar ekspor. Setiap negara sangat ketat pada ketentuan penerapan keamanan pangannya. Bahkan, mereka berbeda menerapkan ketentuan berdasarkan Risk Assessment (RA) masing masing negara. Risk Assessment merupakan proses penilaian yang digunakan untuk mengidentifikasi resiko atau bahaya yang mungkin terjadi pada produk perikanan. “Upaya pengendalian mutu harus dibarengi dengan risk assessment. Untuk produk perikanan, kendatipun harga RA mahal, tetapi tetap harus dilakukan. Assessment bisa semakin kuat, bisa menopang pengendalian mutu dan keamanan pangan,” tegasnya.

Untuk meminimalkan biaya risk assessment, bisa dilakukan kerjasama antar berbagai instansi dan institusi terkait. Untuk produk perikanan, risk assessment bisa dilakukan dengan asosiasi, perguruan tinggi serta lembaga yang berkompeten seperti Kementerian Perindustrian dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta para stakeholder perikanan. Para Stakeholder ini bisa saling kerjasama untuk memperkuat komitmen di dalam negeri. Bahkan stekeholder bisa melakukan pendekatan ke importir untuk penguatan citra produk perikanan ke luar negeri. “Risk assessment harus dibarengi dengan survey. Termasuk pemeriksaan terhadap masing-masing orang. Apalagi setiap orang akan berbeda kekuatannya dalam menerima bahan kimia misalnya. Prosedur seperti ini sudah dilakukan oleh BPOM dan ITB dalam melakukan riset keamanan pangan,” jelasnya.

KKP sendiri menurut Achmad Poernomo sudah memiliki alat pendeteksi bahan berbahaya yang terdapat pada produk perikanan. Untuk mendeteksi formalin atau borak, kini konsumen tidak perlu lama menunggu hasil laboratorium. KKP telah menciptakan Kit Antilin, sebagai alat pendeteksi kandungan bahan berbahaya yang terdapat pada ikan. Kit Antilin ini cukup mudah penggunaannya serta hasilnya cepat untuk diketahui. Bahkan KKP sudah mengembangkan bahan tambahan atau pengawet produk perikanan yang aman untuk dikonsumsi. “Sebenarnya kualitas ikan masih bisa dinegosiasikan, misalnya warna tidak apa-apa. Namun untuk kandungan bahan berbahaya demi keamanan pangan, tidak bisa ditolerir,” katanya.

Diversifikasi Produk

Menurut Ahmad Poernomo, produk ekspor perikanan paling banyak didominasi adalah komoditi udang dan tuna. Kemudian menyusul produk rumput laut kering. Untuk lebih kompetitif di pasar ekspor, perlu dilakukan diversifikasi produk olahan. Terutama produk olahan yang bisa masuk ke pasar-pasar retail pack. Bahkan produk ke retail pack harus diperbanyak, karena produk ini bisa langsung dipasarkan di super market yang kini jumlahnya terus meningkat. “Diversifikasi olahan ikan untuk luar negeri memang harus diperbanyak jenisnya. Apalagi, kini trend pasar lebih banyak menyukai produk siap saji dan dikemas secara cantik, praktis dalam bentuk tas menarik. Contoh produk seperti ini banyak kita jumpai dipasar luar negeri,” ujarnya.

Saat ini produk perikanan olahan masih bertumpu pada udang. Dari segi volume, produk udang olahan masih besar. Kemudian disusul kelompok tuna, rajungan dan kepiting. Patin, sementara hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, jadi tidak perlu impor, karena produk patin terus berkembang. Dari semua produk ekspor, sebagian besar dalam bentuk frozen, karena relatif lebih mudah dilakukan dan tahan lama. Sedangkan pasar terbesar masih didominasi Amerika dengan nilai USD$ 1,2 milyar per tahun. Kedua, Jepang USD$ 800 juta dan yang ketiga Uni Eropa (27 negara) dengan nilai USD$ 400-500 juta.

Jakarta, 6 September 2013

Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi

Pelaksana Tugas
Anang Noegroho

Sumber : http://www.kkp.go.id