Posts from the ‘Empang’ Category

Industri Patin 2013: Perlu 1.3 juta ton pakan

Jakarta, 21/6 (ANTARA) –

image

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah mematok produksi ikan Patin tahun 2013 mencapai 1,1 juta ton. Dari terget ini diperkirakan akan  membutuhkan pakan ikan sebesar 1,3 juta ton. Kebutuhan pakan ini terus meningkat menjadi 2,2 juta ton pada tahun 2014 karena target produksi patin juga meningkat menjadi 1,8 juta ton. Peningkatan kebutuhan pakan ikan seiring dengan peningkatan produksi ikan, tidak akan bisa dihindari. Untuk itu diperlukan adanya kerjasama antara pabrik pakan dan pemerintah, baik pusat dan daerah. Program ini untuk mendukung ketersediaan pakan bermutu dengan harga terjangkau, sehingga tidak membebani pembudidaya. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya , Slamet Soebjakto, ketika mengunjungi pabrik pakan PT. Sinta Prima Feedmill bersama Gubernur Jambi di Cileungsi, Bogor (19/6/2013
)

Menurut Slamet, pakan hingga saat ini masih menjadi kendala dalam budidaya perikanan. Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha budidaya ikan, hingga mencapai 70%  hingga  80%. Untuk itu ketersediaan pakan yang berkualitas, terutama dengan pendirian pabrik pakan ikan di dekat lokasi budidaya menjadi sangat penting. Provinsi Jambi menjadi salah satu contoh daerah yang mampu memadukan industri perikanan budidaya dengan pabrik pakan ikan dalam satu wilayah. Jambi sebagai salah satu sentra patin di Indonesia, telah berinisiatif untuk mendukung program ini melalui jalinan kerjasama dengan PT. Sinta Prima Feedmill untuk menyediakan pakan ikan patin. Program tersebut dengan tujuan untuk lebih mendekatkan pasar dan produsen pakan, sehingga dapat mengurangi harga pakan yang selama ini menjadi kendala dalam budidaya patin. “Pendirian pabrik pakan ikan, seperti di Jambi ini akan mendukung program industrialisasi perikanan budidaya, khususnya komoditas patin,” tegasnya.

Slamet menjelaskan, program Industrialisasi perikanan budidaya khususnya untuk komoditas patin terus menunjukkan hasil. Salah satu contohnya adalah budidaya Patin di Jambi. Bahkan, selain kerjasama dalam penyediaan pakan ikan patin dengan dengan PT. Sinta Prima Feedmill, provinsi Jambi juga menjalin kerjasama dalam hal penyediaan jagung sebagai bahan baku pakan. “Kerjasama dan sinergi yang berkelanjutan antara pemerintah, baik pusat dan daerah, swasta dan seluruh stake holder, akan menjadikan semua permasalahan menjadi mudah untuk diatasi. Kita semua harus bekerjasama untuk kemajuan perikanan budidaya, dengan tujuan akhir peningkatan kesejahteraan pembudidaya ikan,” tandas Slamet.

Slamet menambahkan, selain benih berkualitas, penerapan teknologi terkini dalam produksi pakan ikan juga diperlukan. Salah satunya adalah Maggot sebagai bahan baku pembuatan pakan ikan. Untuk itu, KKP terus mengembangkan  penggunaan berbagai bahan baku, seperti maggot sebagai bahan baku pakan ikan. Hanya saja, untuk maggot terdapat persoalan yang harus diselesaikan yaitu mahalnya media pertumbuhan maggot. Kendala ini perlu dukungan pemerintah daerah melalui pembuatan kebijakan, terkait ketersediaan limbah produksi minyak kelapa sawit atau ampas minyak kelapa sawit. Dimana, pengusaha minyak kelapa sawit diharapkan tidak menjual limbah tersebut dengan harga tinggi sehingga dapat dimanfaatkan oleh pembudidaya atau oleh pabrik pakan, untuk memproduksi maggot.”Jika pola tersebut terbangun, hal ini dapat menjadi bukti keberpihakan perusahaan kepada masyarakat”, tegasnya.

Sumber: antaranews.com

Budidaya Ikan Patin di Desa Cipayung

Entah tepat atau tidak penggunaan kata ‘pedaging’ untuk petani budidaya ikan patin yang membeli bibit ikan dengan ukuran 10-15 ekor per kilogram dan dipanen 3 – 4 bulan kemudian saat ikan berukuran diatas 500 gram per ekor.

image

Desa Cipayung di Cikarang Timur banyak dijumpai empang bekas pengrajin genteng. Ukurannya beragam seadanya galian tanah membentuk kolam yang tergenang air.

Kang Uus salah satu petani disana bercerita, bahwa biaya sewa satu kolam ukuran 150 – 200 m2 sekitar 5 juta rupiah pertahun. Kemudian beliau merinci biaya yang dikeluarkan sampai panen

1. Pembelian Bibit 3 kwintal ukuran sangkal (10-15 ekor/kg) @ Rp 12.000/kg, total Rp. 3.600.000
2. Pelet 1 karung, Rp. 250.000 hanya untuk awal pemeliharaan.
3. Limbah ketering 20 mobil pick-up, perminggu 1 mobil @ Rp. 250.000/mobil, total Rp. 5.000.000.

Bibit ikan Patin sangkal (1kg isi 10 - 15 ekor)

Bibit ikan Patin sangkal (1kg isi 10 – 15 ekor)

Pada 20 minggu kemudian saat panen, biasanya dapat menghasilkan ikan Patin konsumsi kisaran 1.4 ton per kolam, dengan harga jual berkisar antara Rp.11.000 – Rp.12.000 /kg. Total panen dalam 20 minggu diatas 15 juta rupiah. Untuk biaya operasinal penangkapan pada saat panen ditanggung oleh pembeli.

Kalau dihitung keuntungan dengan kolam sewa 1.7 juta per musim tanam, 3.6 juta untuk bibit, 5,24 juta untuk pakan maka total biaya yang dikeluarkan sekitar 10,5 juta. Sedang hasil yang didapat untuk satu kolam adalah 15 juta rupiah. Kang Uus yang pekerjaan utamanya adalah pengrajin furniture dari kayu-kayu sisa, membudidaya ikan patin dijadikan kegiatan untuk tambahan modal bagi usaha tetapnya,

No Pain No Gain.

no-pain-no-gain

Disetiap kesuksesan selalu saja ada rintangan, kang Uus menceritakan beberapa permasalahan, katanya kadang ikan yang dipelihara terkena penyakit atau berprilaku aneh.

Kang Uus bercerita pengalamannya, untuk yang berprilaku aneh biasanya akibat salah makan ransum sisa ketring, ada sambel yang ikut dalam ransum. Ini dapat diatasi dengan mensorit dan mencuci ransum sisa ketring sebelum disimpan dalam wadah pakan. Atau bisa juga disebabkan oleh pemberian makan pada waktu yang salah. Misalkan saat panas yang terik, atau setelah hujan lebat.Kalau untuk gejala ikan sakit,seperti berkeliaran di atas permukaan air, atau menggantung, kang Uus kurang faham cara mengobatinya.
Permasalahan lain adalah saat pengadaan benih ukuran sangkal, sekarang  ini belum ada kesepakatan antara penjual dan pembeli. Kang Uus bercerita, katanya penjual tidak berkenan untuk menimbang bibitnya sebelum bibit dilepaskan ke dalam empang. Anehnya lagi pembeli juga tidak diperkenankan melihat menjual menimbang di tempat penjual. Yang diinginkan penjual saat benih ukuran sangkal sampai di kolam pembeli, langsung dilepas dan pembeli membayar sesuai tagihan.Sebuah cerita yang aneh, tapi kang Uus bercerita penuh keseriusan.Kalau boleh kami saran untuk pembelian bibit patin sebaiknya dihitung perekor saja dari mulai ukuran 3 inci sampai ukuran sangkal. Banyak keuntungan dengan menghitung perekor

  1. Pembeli dan penjual sama-sama memastikan jumlah ikan,
  2. Bibit ikan tidak stress atau terluka saat proses penimbangan,
  3. Ikan lebih sehat

“Kang Uus, coba lihat 6,000 ekor bibit ikan 4 – 6 inci yang baru saya jual, bibit ikan berenang sehat, gak ada satu ekorpun yang mengambang”

Perlu diketahui oleh pembeli bahwa sudah menjadi standard pengangkutan bibit ikan, sebelum dilakukan pengangkutan atau pengepakan selalu dilakukan proses pemberokan atau ikan dipuasakan, minimal 1 hari sebelum diangkut. Tujuannya untuk menjaga kwalitas ikan sampai dikolam pembeli. Bila bibit ikan yang diterima pembeli dalam kondisi sehat (walau sedang puasa) maka akan mudah bagi pembeli untuk membudidayakan ikan dengan tidak terlalu banyak kendala.

Dengan menerapkan standard pengangkutan maka terjawab cerita aneh penjual yang tidak mau menimbang barang dagangannya. Bagai mana pedagang bibit ikan harus menimbang ikan yang sedang puasa ? pasti terjadi penyusutan berat timbangan, yang pasti merugikan penjual.

Ada trik untuk mencari keuntungan penjual dengan cara bibit ditimbang, alih-alih bibit dipuasakan sebelum diangkut, ini malah diberi makan potongan usus ayam atau sosis, dengan maksud timbangan akan meningkat dengan harga pakan Rp. 2.000,-/kg dan harga jual bibit Rp. 12.000,-/ekor, akibatnya banyak ikan keracunan amoniak selama perjalanan yang mengancam kesehatan ikan, bahkan menjadi sebab kematian jumlah besar selama pengangkutan.

image

Cara terbaik adalah sepakati ukuran bibit dan harga perekor bibit, hitung sama-sama antara penjual dan pembeli, ekor per ekor. Penjual senang pembeli senang, ikanpun senang.

EmpangQQ.COM

Tak Ada Patin, Gurame Pun Jadi

Ikan Patin atau Pangasius sutchii atau Pangasius hypophthalmus, aslinya ikan ini berasal dari Sungai Mekong, Sungai Chaopraya dan mungkin cekungan Mekong di Kamboja, Laos, Thailand dan Vietnam, bersama-sama dengan cekungan Ayeyawady dari Myanmar, dalam berbagai 19 ° N sampai 8 ° N. Spesies ini memiliki berbagai nama dalam bahasa Inggris antara lain Sutchi Catfish, Iridescent Shark-Catfish dan Striped Catfish. Orang Laos menyebutnya dengan  ‘Pa sooai’ dan ‘Pa sooai khaeo’, di Thailand dikenal dengan nama ‘Pla Sawai’, rakyat Khmer bilang ‘Pra’ dan ‘Trey pra’, dan di Viatenam disebut ‘Cá Tra’. Indonesia sendiri dikenal dengan Ikan Patin atau Sius.

Ikan Patin dewasa bisa mencapai panjang total standar maksimum 130 cm dengan bobot mencapai 44 kg. Biasanya hidup dalam rentang pH 6,5-7,5 dan suhu 22-26 ° C. Di penakaran atau empang budidaya , Patin betina berumur setidaknya tiga tahun untuk mencapai kematangan seksual (yang kemudian lebih dari 3 kg berat badan), sementara Patin jantan sudah matang seksual pada umur dua tahun. Seekor induk betina dengan berat 10 kg betina dapat bertelur lebih dari satu juta telur. Dialam bebas induk betina biasanya bertelur dua kali setahun, tapi di kolam budidaya di Vietnam telah dicatat, induk betina patin mampu memijahan pada rentang waktu 6 sampai 17 minggu setelah pemijahan sebelumnya.

Siklus hidup P. hypophthalmus sangat terkait dengan musim hujan tahunan, dengan pemijahan berlangsung Mei-Juni pada awal musim hujan. Pada musim kemarau ikan Patin mencari tempat yang lebih dalam.

Pada umumnya pembudidaya ikan Patin di Kabupaten Bogor akan mengalami masa sulit telur dimulai dari pertengahan Juni sampai September. Belum ditemukan cara untuk merawat indukan agar tetap menghasilkan telur dimasa-masa sulit seperti sekarang ini.

Indoor Hatchery

Indoor Hatchery

Budidaya ikan Patin secara intensif memerlukan infrastuktur yang tidak murah, akan sangat disayangkan bila indoor hatchery tidak dimanfaatkan walau pun induk Patin sedang tidak bertelur.

Telur Gurame

Gurame umur 4 hari

Salah satu pemanfaatan indoor hatchery adalah dengan cara membudidayakan ikan Gurame, memang sepertinya terlalu mewah bila pembenihan gurame pada indoor hatchery yang biasa digunakan untuk mengembang biakan ikan Patin. Namun tidak ada salahnya dicoba, dari pada pembudidaya harus libur 2 sampai 3 bulan.

IMG00222-20130602-1532

Senang berkumpul di atas daun Ketapang

Pemalu dalam 'rumah' permanen

Pemalu dalam ‘rumah’ permanen

Tak ada Patin, Gurame pun jadi

I have a dream that one day…

Martin Luther King Jr. seorang yang berani bermimpi bahwa satu yang sulit diwujudkan, akan mudah bila hati tetap memiliki keinginan walau hanya dalam mimpi.

Mimpi kami adalah mewujudkan Recirculating Aquaculture System terpasang baik pada 2 unit farm kami.

EmpangQQ - RAS

Recirculation Aquaculture System (RAS)

Khayalan, satu meja terpasang 15 unit aquarium yang semuanya diberi satu lubang diameter 1 inci, sehingga dapat mengalirkan air yang sudah dipasang saringan.

Masing-masing lubang akan terhubung satu sama lain dengan pipa peralon 2 inci.

Air yang keluar dari pipa akan masuk ke filter air yang berisi kerikil, ijuk, arang aktif dan batu zeolit.

 

image

Arang Aktif

Arang Aktif

Tinggi permukaan filter harus sama tinggi dengan tinggi permukaan aquarium. Ini untuk mencegah bila aliran listrik mati, aquarium tidak kehabisan air.

Filter tersebut bisa dibuat dari drum plastik kapasitas 100 liter.

Filter

Filter

Jangan lupa buat lubang dibawah drum plastik untuk menguras atau mengganti air, sambil membilas/ membersihkan filter. Cukup buat lubang 2 inci yang dilengkapi stop kran.

image

Air yg sudah bersih keluar dari filter drum plastik, akan mengalir secara gravitasi, melewati instalasi lampu UV menuju filter kedua yang terbuat dari kaca 10mm, dengan 3 sekat ruang filter.

Lampu UV

Lampu UV

Air yang sudah bersih dari filter kaca, disedon dengan pompa ke waterheater ukuran 15 liter bertenaga gas LPG, didistribusikan ke 15 aquarium ukuran 50x100x200cm, melalui pipa pvc diameter 3/4 inci.

Dengan instalasi RAS tersebut diharapkan akan memberikan manfaat banyak, antara lain:
1. Konsumsi LPG berkurang, biasanya untuk memanaskan air dalam aquarium, yang dipanaskan ruangannya, perlu 4, 6 atau 8 kompor, tergantung cuaca. Dengan system ini hanya dibutuhkan 3 LPG saja. Karena yang dihangatkan airnya bukan ruangan.

2. Ramah lingkungan, hemat air. Selama 15 hari masa budidaya, diperkirakan ganti air 3 sampai 5 kali saja.

3. Hemat waktu dan tenaga.

4. Kesehatan ikan dan pembudidaya meningkat, sehingga kwalitas ikan semakin baik.

tank syphon

Farm pertama pernah produksi sampai 1,7 juta ekor bibit ukuran 3/4 inci pada bulan Mei 2013.

Dengan adanya Farm kedua, kami bermimpi Insya Allah tersedia minimum 1 juta bibit patin ukuran 3/4 inci setiap 15 hari.

Tujuan bukan yang paling utama,
karena keberhasilan atau kegagalan adalah kehendak Yang Maha Kuasa.
Yang terpenting adalah proses dalam mencapai tujuan.

Indonesia bisa menyamai budidaya patin Vietnam

 
 
JAKARTA. Budidaya ikan di Indonesia masih banyak tertinggal dari negara-negara lain, contohnya untuk budidaya ikan patin. Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan sungai yang jauh lebih besar dari Vietnam, tapi tidak ada yang mengoptimalkan. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berencana memanfaatkan serta menghidupkan kembali lahan budidaya patin yang mangkrak.
 
Vietnam saat ini adalah negara penghasil dan pengekspor ikan patin terbesar di dunia. Bahkan saat ini konsumsi patin di Eropa yang mencapai 25% berasal dari Vietnam. Budidaya ikan patin Vietnam dilakukan di Karamba dan delta Sungai Mekong. Luas lahan budidaya Vietnam pada tahun 2009 saja sudah mencapai 1,1 juta hektare.
Dibutuhkan Bibit Berkwalitas

Dukungan Bibit Berkwalitas

Rahasia kesuksesan budidaya ikan patinVietnam ternyata berasal dari keberhasilan memanfaatkan kondisi pasang surut Sungai Mekong dengan baik. Di sepanjang pinggiran Sungai Mekong, budi daya ikan patin tumbuh subur. Kondisi pasang surut yang bagus sangat penting bagi perkembangan kualitasdaging ikan patin. “Jadi kenapa ikan patin Vietnam berdaging putih dan tebal, karena sirkulasi air bagus yang diakibatkan pasang surut yang bagus,” ujar Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, saat diwawancarai Kontan, Selasa (7/5). kunjungan kerja di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, Jumat (3/5).
 
Melihat kondisi geografis Indonesia yang lebih luas serta memiliki sumber daya perairan yang amat kaya seperti sungai, danau, waduk maupun perkolaman diyakini menjadi modal penting agar budidaya Patin bisa menyamai Vietnam. Indonesia memiliki banyak sekali sungai besar dengan tingkat pasang surut yang tinggi seperti Sungai Barito, Sungai Kapuas, Sungai Batanghari, Sungai Musi.
Bahkan sungai-sungai di Pulau Jawa sekalipun meski kecil bisa dibudidayakan ikan patin karena memiliki tingkat pasang surut yang tinggi. “Yang terpenting adalah tingkat pasang surut. Karena itu yang menentukan kualitas sirkulasi air yang menjadi penentu utama perkembangan kualitas daging ikan patin itu,” jelas Slamet.
 
Selain memanfaatkan sungai, KKP dalam waktu dekat akan mengoptimalkan berbagai lahan budi daya ikan patin yang selama ini mangkrak. Salah satunya di Provinsi Jambi. KKP akan bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jambi. Selama ini banyak lahan budidaya patin yang terbengkalai karena pasar untuk menjual produk ikan patin tidak ada. Infrastruktur pengolahan ikan patin belum ada. “Kondisi inilah yang dulu membuat pembudidaya ikan patin banyak yang berhenti,” kata Slamet.
 
Untuk itulah, Slamet menegaskan Pemerintah provinsi Jambi berencana untuk membangun pabrik pakan, khususnya untuk mendukung budidaya Patin di wilayah Jambi. Kerjasama pembangunan pabrik pakan ini akan melibatkan pemerintah pusat maupun daerah, Asosiasi Pembudidaya Patin Jambi (AP2J), Swasta serta dukungan perbankan. “Nantinya ini juga akan dikembangkan ke daerah lain,” pungkas Slamet.
 
 
Sumber: KONTAN.CO.ID Tanggal 07 Mei 2013 Hal.1