Posts from the ‘Empang’ Category

Tak Ada Patin, Gurame Pun Jadi

Ikan Patin atau Pangasius sutchii atau Pangasius hypophthalmus, aslinya ikan ini berasal dari Sungai Mekong, Sungai Chaopraya dan mungkin cekungan Mekong di Kamboja, Laos, Thailand dan Vietnam, bersama-sama dengan cekungan Ayeyawady dari Myanmar, dalam berbagai 19 ° N sampai 8 ° N. Spesies ini memiliki berbagai nama dalam bahasa Inggris antara lain Sutchi Catfish, Iridescent Shark-Catfish dan Striped Catfish. Orang Laos menyebutnya dengan  ‘Pa sooai’ dan ‘Pa sooai khaeo’, di Thailand dikenal dengan nama ‘Pla Sawai’, rakyat Khmer bilang ‘Pra’ dan ‘Trey pra’, dan di Viatenam disebut ‘Cá Tra’. Indonesia sendiri dikenal dengan Ikan Patin atau Sius.

Ikan Patin dewasa bisa mencapai panjang total standar maksimum 130 cm dengan bobot mencapai 44 kg. Biasanya hidup dalam rentang pH 6,5-7,5 dan suhu 22-26 ° C. Di penakaran atau empang budidaya , Patin betina berumur setidaknya tiga tahun untuk mencapai kematangan seksual (yang kemudian lebih dari 3 kg berat badan), sementara Patin jantan sudah matang seksual pada umur dua tahun. Seekor induk betina dengan berat 10 kg betina dapat bertelur lebih dari satu juta telur. Dialam bebas induk betina biasanya bertelur dua kali setahun, tapi di kolam budidaya di Vietnam telah dicatat, induk betina patin mampu memijahan pada rentang waktu 6 sampai 17 minggu setelah pemijahan sebelumnya.

Siklus hidup P. hypophthalmus sangat terkait dengan musim hujan tahunan, dengan pemijahan berlangsung Mei-Juni pada awal musim hujan. Pada musim kemarau ikan Patin mencari tempat yang lebih dalam.

Pada umumnya pembudidaya ikan Patin di Kabupaten Bogor akan mengalami masa sulit telur dimulai dari pertengahan Juni sampai September. Belum ditemukan cara untuk merawat indukan agar tetap menghasilkan telur dimasa-masa sulit seperti sekarang ini.

Indoor Hatchery

Indoor Hatchery

Budidaya ikan Patin secara intensif memerlukan infrastuktur yang tidak murah, akan sangat disayangkan bila indoor hatchery tidak dimanfaatkan walau pun induk Patin sedang tidak bertelur.

Telur Gurame

Gurame umur 4 hari

Salah satu pemanfaatan indoor hatchery adalah dengan cara membudidayakan ikan Gurame, memang sepertinya terlalu mewah bila pembenihan gurame pada indoor hatchery yang biasa digunakan untuk mengembang biakan ikan Patin. Namun tidak ada salahnya dicoba, dari pada pembudidaya harus libur 2 sampai 3 bulan.

IMG00222-20130602-1532

Senang berkumpul di atas daun Ketapang

Pemalu dalam 'rumah' permanen

Pemalu dalam ‘rumah’ permanen

Tak ada Patin, Gurame pun jadi

I have a dream that one day…

Martin Luther King Jr. seorang yang berani bermimpi bahwa satu yang sulit diwujudkan, akan mudah bila hati tetap memiliki keinginan walau hanya dalam mimpi.

Mimpi kami adalah mewujudkan Recirculating Aquaculture System terpasang baik pada 2 unit farm kami.

EmpangQQ - RAS

Recirculation Aquaculture System (RAS)

Khayalan, satu meja terpasang 15 unit aquarium yang semuanya diberi satu lubang diameter 1 inci, sehingga dapat mengalirkan air yang sudah dipasang saringan.

Masing-masing lubang akan terhubung satu sama lain dengan pipa peralon 2 inci.

Air yang keluar dari pipa akan masuk ke filter air yang berisi kerikil, ijuk, arang aktif dan batu zeolit.

 

image

Arang Aktif

Arang Aktif

Tinggi permukaan filter harus sama tinggi dengan tinggi permukaan aquarium. Ini untuk mencegah bila aliran listrik mati, aquarium tidak kehabisan air.

Filter tersebut bisa dibuat dari drum plastik kapasitas 100 liter.

Filter

Filter

Jangan lupa buat lubang dibawah drum plastik untuk menguras atau mengganti air, sambil membilas/ membersihkan filter. Cukup buat lubang 2 inci yang dilengkapi stop kran.

image

Air yg sudah bersih keluar dari filter drum plastik, akan mengalir secara gravitasi, melewati instalasi lampu UV menuju filter kedua yang terbuat dari kaca 10mm, dengan 3 sekat ruang filter.

Lampu UV

Lampu UV

Air yang sudah bersih dari filter kaca, disedon dengan pompa ke waterheater ukuran 15 liter bertenaga gas LPG, didistribusikan ke 15 aquarium ukuran 50x100x200cm, melalui pipa pvc diameter 3/4 inci.

Dengan instalasi RAS tersebut diharapkan akan memberikan manfaat banyak, antara lain:
1. Konsumsi LPG berkurang, biasanya untuk memanaskan air dalam aquarium, yang dipanaskan ruangannya, perlu 4, 6 atau 8 kompor, tergantung cuaca. Dengan system ini hanya dibutuhkan 3 LPG saja. Karena yang dihangatkan airnya bukan ruangan.

2. Ramah lingkungan, hemat air. Selama 15 hari masa budidaya, diperkirakan ganti air 3 sampai 5 kali saja.

3. Hemat waktu dan tenaga.

4. Kesehatan ikan dan pembudidaya meningkat, sehingga kwalitas ikan semakin baik.

tank syphon

Farm pertama pernah produksi sampai 1,7 juta ekor bibit ukuran 3/4 inci pada bulan Mei 2013.

Dengan adanya Farm kedua, kami bermimpi Insya Allah tersedia minimum 1 juta bibit patin ukuran 3/4 inci setiap 15 hari.

Tujuan bukan yang paling utama,
karena keberhasilan atau kegagalan adalah kehendak Yang Maha Kuasa.
Yang terpenting adalah proses dalam mencapai tujuan.

Indonesia bisa menyamai budidaya patin Vietnam

 
 
JAKARTA. Budidaya ikan di Indonesia masih banyak tertinggal dari negara-negara lain, contohnya untuk budidaya ikan patin. Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan sungai yang jauh lebih besar dari Vietnam, tapi tidak ada yang mengoptimalkan. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berencana memanfaatkan serta menghidupkan kembali lahan budidaya patin yang mangkrak.
 
Vietnam saat ini adalah negara penghasil dan pengekspor ikan patin terbesar di dunia. Bahkan saat ini konsumsi patin di Eropa yang mencapai 25% berasal dari Vietnam. Budidaya ikan patin Vietnam dilakukan di Karamba dan delta Sungai Mekong. Luas lahan budidaya Vietnam pada tahun 2009 saja sudah mencapai 1,1 juta hektare.
Dibutuhkan Bibit Berkwalitas

Dukungan Bibit Berkwalitas

Rahasia kesuksesan budidaya ikan patinVietnam ternyata berasal dari keberhasilan memanfaatkan kondisi pasang surut Sungai Mekong dengan baik. Di sepanjang pinggiran Sungai Mekong, budi daya ikan patin tumbuh subur. Kondisi pasang surut yang bagus sangat penting bagi perkembangan kualitasdaging ikan patin. “Jadi kenapa ikan patin Vietnam berdaging putih dan tebal, karena sirkulasi air bagus yang diakibatkan pasang surut yang bagus,” ujar Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, saat diwawancarai Kontan, Selasa (7/5). kunjungan kerja di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, Jumat (3/5).
 
Melihat kondisi geografis Indonesia yang lebih luas serta memiliki sumber daya perairan yang amat kaya seperti sungai, danau, waduk maupun perkolaman diyakini menjadi modal penting agar budidaya Patin bisa menyamai Vietnam. Indonesia memiliki banyak sekali sungai besar dengan tingkat pasang surut yang tinggi seperti Sungai Barito, Sungai Kapuas, Sungai Batanghari, Sungai Musi.
Bahkan sungai-sungai di Pulau Jawa sekalipun meski kecil bisa dibudidayakan ikan patin karena memiliki tingkat pasang surut yang tinggi. “Yang terpenting adalah tingkat pasang surut. Karena itu yang menentukan kualitas sirkulasi air yang menjadi penentu utama perkembangan kualitas daging ikan patin itu,” jelas Slamet.
 
Selain memanfaatkan sungai, KKP dalam waktu dekat akan mengoptimalkan berbagai lahan budi daya ikan patin yang selama ini mangkrak. Salah satunya di Provinsi Jambi. KKP akan bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jambi. Selama ini banyak lahan budidaya patin yang terbengkalai karena pasar untuk menjual produk ikan patin tidak ada. Infrastruktur pengolahan ikan patin belum ada. “Kondisi inilah yang dulu membuat pembudidaya ikan patin banyak yang berhenti,” kata Slamet.
 
Untuk itulah, Slamet menegaskan Pemerintah provinsi Jambi berencana untuk membangun pabrik pakan, khususnya untuk mendukung budidaya Patin di wilayah Jambi. Kerjasama pembangunan pabrik pakan ini akan melibatkan pemerintah pusat maupun daerah, Asosiasi Pembudidaya Patin Jambi (AP2J), Swasta serta dukungan perbankan. “Nantinya ini juga akan dikembangkan ke daerah lain,” pungkas Slamet.
 
 
Sumber: KONTAN.CO.ID Tanggal 07 Mei 2013 Hal.1

Potensi Perikanan Budidaya Belum Optimal

Selasa, 08 Januari 2013, 07:25 WIB 

Kepadatan ikan yang tinggi

Kepadatan ikan yang tinggi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Potensi perikanan budidaya belum dimanfaatkan secara optimal. Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C Sutadjo mengatakan masih banyak sektor pengembangan perikanan budidaya di atas lahan tambak, kolam, perairan umum, sawah dan laut yang masih bisa digarap.

Tingkat pemanfaatan perikanan budidaya payau tambah baru seluas 682.857 hektar (ha) atau 23,04 persen dari potensinya sebesar 2,96 juta ha. Sementara untuk pemanfaatan budidaya laut, terhitung masih relatif rendah yaitu sekitar 117.649 hektare atau 0,94 persen dari potensi budidaya laut yang mencapai luasan 12,55 juta hektare.

Di sisi lain, menurut dia, potensi perikanan budidaya ini akan semakin besar karena terdapat potensi budidaya air tawar seperti kolam 541.100 ha. Budidaya di perairan umum mencapai 158.125 ha dan mina-padi 1,54 juta ha.

Jika ditilik, dengan pemanfaatan potensi areal budidaya perikanan tersebut, mampu menghasilkan produksi ikan sebesar 6,28 juta ton pada 2011.

Apabila potensi lahan budidaya perikanan ini dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan, maka peran dan peluang produksi perikanan di dalam pembangunan nasional untuk mensejahterakan masyarakat, menjadi semakin besar.

Sharif mengatakan peluang usaha budi daya air tawar ternyata kian menjanjikan. Misalnya untuk permintaan ikan patin. Permintaan ikan patin baik di pasar domestik maupun untuk pangsa ekspor, kata Sharif, semakin meningkat.

“Karena itu, KKP secara aktif terus mendorong pengembangan perikanan budidaya ikan air tawar, agar dapat menjadi alternatif kegiatan usaha masyarakat,” ujar Sharif, di Jakarta, Senin (7/1).

Sharif mengatakan perlu upaya nyata menekan biaya produksi serta meningkatnya kualitas mutu daging patin yang memenuhi persyaratan pasar ekspor. Ia mengatakan perlu mendorong lembaga penelitian untuk mengembangkan kajian teknologi terapan untuk menekan biaya produksi terutama penggunaan pakan dan benih unggul.

Benih Unggul

Benih Unggul

Selain itu, kata dia, langkah efisiensi budidaya patin lainnya dapat dilakukan dengan melakukan budidaya secara terintegrasi dari hulu sampai dengan hilir.

Langkah tersebut dinilai mampu mengoptimalkan dari semua bagian ikan patin yang dihasilkan, untuk mendapatkan ragam produk mulai dari daging fillet patin, tepung ikan dari tulang dan kepala ikan patin, serta produk lainnya.

Sejak 2012, KKP telah menetapkan empat komoditas industrialisasi, yaitu udang, bandeng, rumput laut dan patin sebagai model percontohan industrialisasi perikanan budidaya. Kegiatan usaha budidaya patin, kata dia, telah mengalami kemajuan pesat, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Berkembangnya budidaya patin ditopang sumberdaya perairan berupa sungai, danau, waduk maupun perkolaman. Ia menargetkan capaian target produksi patin secara nasional sebesar 651 ribu ton.

Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (APPPPI) Thomas Darmawan mengatakan pengembangan ikan patin masih ‘maju-mundur’. Menurutnya, pengembangan ikan patin masih bisa dikembangkan lebih maksimal. Ikan patin di Indonesia, masih cukup tertinggal dibandingkan Vietnam.

sumber: http://www.republika.co.id

Trichodina Yang Menjengkelkan

Parasit yang berberbentuk seperti ban truck yang sedang berputar ini bernama Trichodina.
Adalah tidak umum menemukan populasi kecil (hanya 1,2,3 ekor) parasit Trichodina pada ikan, pada ikan sakit yang sudah kepayahan berenang mungkin akan ditemukan lebih dari 30 ekor parasit ‘ban truck’ Trichodina. Pada tingkat populasi yang rendah mereka tidak menimbulkan ancaman bagi kesehatan ikan. Tidak seperti banyak parasit, mereka tidak benar-beTrichodina-3nar melukai ikan, parasit ini hanya menggunakan tubuh ikan sebagai rumah dan sarana transportasi! Namun, dalam jumlah besar mereka sangat menjengkelkan dan berpeluang merusakan selaput jaringan ikan akibat dari lingkaran penghisap yang digunakan Trichodina untuk menempelkan diri pada tubuh ikan. Trichodina dapat berkembang biak dengan cepat dengan cara membelah diri pada tubuh ikan yang lemah, sedang ikan yang sehat dapat mengendalikan sendiri jumlah parasit ini. Serangan trichodinid parah biasanya akibat dari dengan kualitas air yang buruk atau kepadatan jumlah ikan yang dibudidayakan. Dalam kondisi demikian parasit ‘ban truck’ ini dapat berkembang biak dengan cepat.
Gejala yang timbul bila Ikan terserang Trichodina adalah ikan terlihat kusam, bila koloni Trichodina banyak berkumpul di ekor, gerakan ikan akan sulit berenang kepermukaan mengambil nafas, bila bersembunyi disirip samping maka gerakan ikan akan cenderung Trichodina-1kekanan atau kekiri. Mungkin juga terlihat spot daerah memerah. Pada tahap selanjutnya ikan akan lesu, mereka dapat mengisolasi diri, berhenti makan dan berbaring di bawah dengan sirip menutup.

Tidak seperti parasit lain, semisal white-spot, Trichodina tidak segera mengancam jiwa ikan, hanya saja terlalu banyak koloni dalam tubuh seekor ikan cukup menyebabkan ikan stres dan kondisi ini tidak jarang untuk dijadikan momentum bakteri lainnya untuk mengambil keuntungan yang menyebabkan infeksi sekunder. Atau pemangsa seperti katak, uncrit atau kini-kini lebih mudah memangsa karena gerakan ikan jadi lamban.

Pengalaman kami adalah bahwa parasit ini rumit untuk dibasmi. Dalam skala mikroskopis (glass object) setitik garam dapa250px-Trich2 Scanning electron micrograph of Trichodina on the gills of a mullett membasmi keberadaan Trichodina, namun pada skala kolam 144 m2 dengan 2 ember garam tidak serta merta menyelesaikan masalah.

Cara berikutnya kami akan buang air kolam sampai 50% (untuk skala akuarium 30% sepertinya cukup), kemudian diberikan garam dan seluruh permukaan kolam diseprot dengan cairan PK.

Bila cara tersebut masih belum memuaskan, maka cara berikutnya adalah, mengangkat bibit yang baru berukuran 1 inci ke bak fiber bundar diameter 200cm untuk dilakukan perendaman pada air garam dan PK.

‘Ban Truk’ Parasit Pada Ikan

Parasit Trichodina

Menarik memperhatikan bibit Patin ukuran ¾ inci yang berenang bebas di empang berukuran 12 x 12 meter.  Sesedok teh pelet PF-500 ditebarkan, tidak menunggu lama, beberapa ikan mulai muncul kepermukaan aktif menyantap pelet, lama kelamaan mulai bermunculan bibit, mereka berdesakan berebut makan.

Ada satu atau dua ikan yang muncul kepermukaan dengan gerak renang seperti berat membawa beban, diperhatikan seksama seperti ada parasit dibadannya. Penasaran, ikan tersebut kami tangkap dan dilihat dengan mikroskop. Wow… kereeen ada banyak ‘ban truk’ melayang-layang hidup dihapir sekujur tubuhnya.

Ya kami mengistilakan parasit tersebut dengan ‘ban truk’ karena bentuknya yang mirip dengan ban truk dengan gerakan berputar. Bahasa ilmiah parasit ini adalah Trichodina. Berikut penampakannya

Trichodina

Masih dibawah pengamatan mikroskop, setitik garam didekatkan pada area berkumpul Trichodina yang sedang aktif bergerak dalam jumlah banyak. Terlihat jelas garam mulai larut dalam air tempat Trichodina hidup berkoloni. Satu demi satu ‘ban truk’ tersebut diam tak bergerak, sepertinya mati atau lumpuh sementara. Tunggu punya tunggu sambil terus diteteskan air bila media mulai akan mengering, dan beberapa menit berlalu, Trichodina sudah tidak bergerak lagi.

 

Garam adalah obat mujarab untuk mengurangi koloni parasit  ‘bun truck’ Trichodina.

Selengkapnya http://goldfish2care4.com/goldfish-diseases/trichodina.html

Salam,

Pemijahan Ikan Patin (bagian I)

Keberhasilan memijahkan ikan patin sangat tergantung pada perlakuan terhadap indukan. Berikut perlakuan yang kami berikan untuk induk patin sebelum dilakukan penyuntikan.

1. Memelihara Indukan.
image

Induk betina dan induk jantan dipelihara pada kolam terpisah. Pakan yang diberikan berupa pelet apung khusus indukan setiap pagi dan sore hari. Dan setiap tiga hari sekali diberi pakan tambahan berupa keong mas dan bekicot.
Dua minggu sebelum hari penyuntikan, indukan betina dipilih dan dikarantina dikolam tembok ukuran 3 x 6 meter kedalaman 1 meter. Dikolam ini induk dirawat lebih intensif, aliran air masuk agak lebih deras untuk menghilangkan lemak. Diberi pakan pelet dicampur extract bawang putih dan daun sirih. Tujuannya adalah agar induk sehat menekan pertumbuhan bakteri aeromonas.

2. Persiapan Farm.
Lima hari sebelum penyuntikan, aquarium perlatan farm seperti net scoope, pisau cacah cacing, bantalan cacah cacing, botol kultur artemia, baskom wadah telur dicuci bersih dan dikeringkan, dijemur dibawah terik matahari bila memungkinkan. Lalu seluruh area farm dilakukan penyemprotan dengan disinfektan. image

Tujuan kegiatan ini adalah berupaya agar benih patin yang dihasilkan tidak terserang penyakit. Selain merugikan pembudidaya, ikan yang pernah terserang penyakit akan berdampak pada hasil panen pembeli.

3. Seleksi Indukan.

image

Dua hari sebelum penyuntikan, induk yang sudah terpilih dan dirawat intensif dikolam khusus dilakukan seleksi. Dengan menggunakan kateter dan microskop, sample telur yang diambil menggunakan kateter diteliti dengan mikroskop. Secara kesat mata telur yang matang berwarna putih kekuningan, besar seragam, bila diusap lembut gumpalan telur terpisah sempurna. Dengan mikroskop dapat terlihat sisi gelap yang merapat kediding telur dan ada titik mata embrio serta ada secercah ruang kosong bening.
Untuk telur yang belum waktunya dipijahkan secara kesat mata berwarna putih dengan besar tidak.seragam. Bila dilihat dengan mikroskop telur yang belum matang terlihat putih kapas semua atau disisi dinding telur terlihat guratan darah.
image

Untuk induk yang benar-benar matang gonad ditimbang dan dipindahkan ke kolam khusus ukuran 3 x 7 meter kedalaman 50 cm. Induk tidak diberi makan sampai dipijahkan. Antara betina dan jantan dipisahkan.

(bersambung… Insya Allah)