Posts from the ‘Empang’ Category

Ketidakseragaman Ukuran Larva Ikan Patin

FB Upload -IMG00368-20130625-2109
Ikan Patin (Pangasionodon hypophthalamus) merupakan komoditas primadona pada sektor kegiatan perikanan budidaya, baik untuk pasar lokal maupun mancanegara. Hal tersebut terindikasi dari nilai permintaan yang kian meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan laporan pasar oleh Global Aquaculture Advocate (GAA) (2014), nilai impor daging ikan patin pada pasar Amerika pada tahun 2014 mencapai 42 juta ton (meningkat sebesar 46% dari tahun 2013). Bahkan nilai tersebut dipredikasi akan terus meningkat, seiring dengan peningkatan populasi masyarakat dan kesadaran terhadap pentingnya konsumsi ikan. Oleh karena itu segala hal terkait faktor input khususnya kualitas dan kuantitas benih perlu menjadi perhatian khusus untuk keberhasilan pada proses budidayanya.

Ketidakseragaman ukuran larva merupakan salah satu permasalahan utama pada kegiatan pembenihan ikan patin (Pangasionodon hypophthalamus). Kastemont et al. (2003) menyatakan, ketidakseragaman ukuran larva merupakan permasalahan umum pada kegiatan pembenihan ikan. Faktor penyebabnya antara lain adalah genetik dan lingkungan (biotik dan abiotik). Dampak dari kondisi tersebut, paling utama yaitu diskriminasi ukuran antara satu saudara dan dapat berujung pada kanibalisme dan persaingan pakan. Berdasarkan hasil studi Baras dan Almeida (2001) ketidakseragaman ukuran larva (pasca menetas) pada catfish (Clarias gariepinus) merupakan salah satu faktor utama penyebab tingginya kejadian kanibalisme. Oleh karena itu, upaya untuk menekan nilai ketidakseragaman tersebut perlu dilakukan khususnya dalam rangka meningkatkan produktivitas.
Beberapa upaya untuk menekan tingginya ketidakseragaman ukuran pada larva dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya yaitu dengan aplikasi probiotik. Berdasarkan hasil studi Lobo et al. (2013) aplikasi probiotik pada pemeliharaan larva Senegalese sole mampu menurunkan nilai ketidakseragaman ukuran pada populasi, sama halnya dengan hasil studi yang diperoleh Gisbert et al. (2013) pada juvenil ikan salmon (Onchorynchus mykiss). Keduanya berpendapat, salah satu kemungkinan minimnya nilai heterogenitas tersebut karena faktor efektivitas dan efisiensi penyerapan nutrisi pakan oleh ikan uji. Teori yang sama juga diungkapkan oleh Verschuere et al. (2000).

Terkait dengan metode aplikasi probiotik pada larva guna meningkatkan kinerja pertumbuhan dan menurunkan ketidakseragaman ukuran, Verschuere et al. (2000) berpendapat terdapat tiga metode aplikasi, diantaranya yaitu aplikasi langsung pada media pemeliharaan (kultur bersama), bioenkapsulasi pada pakan alami (rotifer, daphnia dan artemia) serta pencampuran langsung dalam pakan buatan. Aplikasi probiotik multispesies Bacillus sp. (Avella et al. 2010) telah dilakukan pada larva sea bream (Sparus auratus) menggunakan metode bioenkapsulasi pada pakan alami dan introduksi pada media pemeliharaan. Hasil yang diperoleh menunjukkan performa positif (peningkatan kinerja pertumbuhan) dari kedua metode tersebut terhadap ikan uji, jika dibandingkan dengan kontrol. Hasil yang sama, yaitu peningkatan kinerja pertumbuhan dan penurunan ketidakseragaman ukuran juga diperoleh Lobo et al (2013) pada larva Senegelase sole melalui metode bioenkapsulasi pada pakan alami (Artemia sp.). Hingga saat ini aplikasi probiotik Bacillus sp. pada larva ikan patin masih jarang dilakukan, khususnya terkait penerapan metode bioenkapsulasi dalam pakan alami ataupun introduksi pada media pemeliharaan guna meningkatkan kinerja pertumbuhan dan menurunkan ketidakseragaman ukuran.

Penulis: WAHYU DWI PUTRANTO

Budidaya Ikan Patin Kolam Dalam

FB Upload -Indukan - 3 small

1. PENDAHULUAN
Ikan patin sudah mulai populer di hampir seluruh wilayah tanah air. Ada beberapa metode budidaya pembesaran ikan patin antara lain karamba, KJA, serta di kolam tanah baik itu kolam dangkal maupun di kolam dalam.
Diantara metode-metode budidaya pembesaran ikan patin tersebut, budidaya dikolam dalam adalah yang paling unggul karena dapat meningkatkan produksi sampai 2 (dua) kali lipat serta dapat memperbaiki kualitas daging ikan patin itu sendiri, yaitu mencegah daging patin berbau lumpur mengingat sifat patin yang membawa makanannya ke dasar lumpur. Dengan kolam yang dalam, pakan langsung cepat masuk ke mulutnya. Sebaliknya apabila kolam tidak dalam, maka lumpur akan termakan ikan patin.
2. TEKNIS BUDIDAYA IKAN PATIN KOLAM DALAM

2.1. Lokasi
Penentuan lokasi pembesaran ikan patin di kolam dalam, perlu mempertimbangkan persyaratan sebagai berikut :
1. Lokasi dekat dengan sumber air dan bebas banjir.
2. Tidak tercemar limbah serta jauh dari berbagai sumber polusi, seperti perumahan, industri, pertanian atau peternakan.
3. Tekstur tanah liat berpasir
4. Kemiringan lahan 1%.

2.2. Kualitas Air
Persyaratan kualitas air untuk budidaya pembesaran ikan patin adalah :
a. Suhu antara 25-32oC dengan pH 5-9;
b. Kadar ammoniak (NH3) < 0,01 mg/l;
c. Kecerahan kolam hingga 50 cm;
d. Perairan agak tenang;
e. Kadar oksigen minimum 4 mg/liter air;
f. Kandungan karbondioksida kurang dari 5 mg/liter air.

2.3. Wadah Budidaya
Kolam yang digunakan dalam perhitungan analisa keuangan adalah kolam berbentuk persegi panjang dengan luas 10.000 m2 dengan kedalaman 3 s/d 4 m.

2.4. Sarana
a. Benih
Ukuran benih yang digunakan 3 – 6 inchi, bobot 16-20 gr dengan kepadatan 33 ekor/m2.
b. Pakan
Pakan buatan dengan kandungan protein >25%.
c. Peralatan
Peralatan yang diperlukan adalah genset/tenaga listrik, pompa air, timbangan, ember, drum, hapa, scoop net/lambit, dan jaring. Sedangkan peralatan laboratorium antara lain pengukur kualitas air (termometer, DO meter, refraktometer, kertas lakmus) dan kincir air yang digunakan untuk meningkatkan oksigen di tambak .

2.5. Proses Produksi

a. Persiapan Kolam
1. Persiapan kolam dimulai dengan pengeringan selama 1 minggu sampai dasar kolam mengalami retak-retak dan diikuti dengan pembuatan kemalir/parit dan perbaikan pematang;
2. Setelah pengeringan dasar kolam, kemudian dilanjutkan dengan pengapuran pada tanah yang mempunyai pH rendah (<6) dengan kapur CaO dosis 100 gram/m2 yang bertujuan untuk meningkatkan pH dan membunuh bibit penyakit/hama;
3. Selanjutnya dilakukan pemupukan untuk meningkatkan kesuburan (merangsang pertumbuhan pakan alami) dengan menggunakan pupuk kandang atau pupuk hijau dengan dosis 250-500 gr/m2. Setelah selesai pengolahan kolam dilakukan pengisian air.
4. Pengisian air tawar, yang berasal dari saluran irigasi primer air tawar, dengan menggunakan menggunakan pompa Submersible 8 inci.

b. Penebaran Benih
Benih ditebar pada sore hari yang didahului dengan aklimatisasi antara suhu dalam kolam dengan suhu air yang ada dalam wadah benih, dengan cara kantong benih di masukkan ke dalam kolam terlebih dahulu selama ± 5-10 menit

c. Pemeliharaan
Pakan diberikan 3 kali sehari dan dosis 2-3% dari total biomassa dengan rasio konversi pakan/Food Convertion Ratio (FCR) 1:1,5 yang artinya dibutuhkan sekitar 1 kg pakan untuk 1,5 kg ikan patin yang akan dihasilkan.

d. Pengendalian Hama dan Penyakit
Dalam pembesaran ikan patin di kolam dalam, perlu dilakukan beberapa tindakan preventif (pencegahan) untuk menanggulangi munculnya hama dan penyakit. Tindakan preventif yang dilakukan dengan penerapan biosecurity dan aplikasi probiotik sedangkan untuk mendeteksi adanya serangan penyakit dilakukan secara morfologis dan Polymerase Chain Reaction (PCR) di laboratorium secara teratur.

e. Panen
Panen dilakukan setelah pemeliharaan mencapai 8 bulan (ukuran mencapai +600 gr sangat dibutuhkan untuk bahan filled). Panen dapat dilakukan dengan panen total.

3. ANALISA USAHA
Analisa usaha budidaya ikan patin di kolam dalam sangatlah bervariasi dan ini disebabkan oleh perhitungan biaya operasional yang dipengaruhi oleh besarnya unit usaha, alat dan bahan yang digunakan, serta letak lokasi usaha.

Analisa Usaha Budidaya Patin Kolam Dalam

Sumber: KKP download PDF

Budidaya Ikan Patin Konsumsi

Ikan patin adalah ikan air tawar yang mulai populer dibudidayakan karena permintaan pasar cukup baik, terutama di daerah Jawa Barat (Purwakarta dan Cikarang), Sumatera (Palembang dan Jambi) dan Kalimantan (Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah).

wpid-2013-08-03-09.22.12.jpg

Pelepasan Bibit di desa Cipayung di Cikarang

Salah satu keunggulan ikan patin adalah cara memeliharanya tidak terlalu sulit. Untuk budidaya Patin konsumsi, ikan ini tidak memerlukan air yang terlalu jernih atau air mengalir dan bisa hidup dalam air dengan kandungan oksigen rendah.

Karena itu ikan patin bisa dipelihara di lahan marginal (lahan yang kurang produktif), asalkan ada sumber air. Ada beberapa jenis ikan patin yang dipelihara di Indonesia, yang paling umum adalah ikan patin Siam, tetapi ikan patin asli Indonesia sebenarnya adalah ikan patin Djambal. Jenis patin yang baru adalah Pasopati (Patin Super Harapan Petani).

Untuk kebutuhan konsumsi, Ikan Patin dapat dipelihara di kolam tanah biasa, mulai ukuran 300 sampai 2.000 m2. Bisa juga dipelihara di keramba apung di sungai atau dengan jaring tancap dengan kedalaman 1,5 sampai 3 m.

Jika patin dipelihara di kolam maka kolamnya perlu dipersiapkan.  Persiapan kolam yang biasa dilakukan adalah dengan penebaran kapur (kaptan atau dolomit) dengan dosis 10 sampai 25 gram/m2, diikuti dengan pemupukan sebanyak 500 sampai 600 gram/m2.

Bibit Ikan Patin Ukuran Sangkal

Bibit Ikan Patin Ukuran Sangkal

Benih patin yang ditebar biasanya berukuran 2 – 3 inci (5 – 7,5 cm).  Padat tebar untuk di kolam hanya sekitar 15 sampai 20 ekor/m2. Namun kalau di jaring atau keramba kepadatan bisa sangat tinggi (intensif), yaitu mencapai 100 sampai 200 ekor/m2 dengan ukuran tebar 4- 5 inci (10 – 12,5 cm). Hasil panen di jaring/keramba lebih tinggi dibandingkan kolam.

Management By Objective

Pada tahun 2002, sebuah perusahaan multi nasional mempekerjakan seorang professional muda sebagai General Manager atau Kepala Divisi. Beliau membawa sebuah konsep management yang tidak umum diterapkan untuk budaya kerja perusahaan tersebut pada saat itu.

Manajemen yang beliau bawa adalah Management By Objective (MBO) , sebuah konsep management yang dipopulerkan oleh Peter Drucker Ferdinand dalam bukunya yang berjudul The Practice of Management pada tahun 1954.

Management By Objective  (MBO) adalah sebuah sistem manajemen dimana tujuan dari suatu organisasi disepakati oleh manajemen dan karyawan, sehingga keduanya tahu persis jalan yang harus dilalui ke depan.

Tujuan MBO bertujuan untuk
–  efisiensi kerja melalui penetapan sistematis prosedur ,
–  memotivasi karyawan dan komitmennya untuk ikut serta dalam proses perencanaan,
–  perencanaan untuk hasil bukan hanya untuk perencanaan kerja .

Proses MBO dimulai dari menetapkan tujuan khusus oleh manajer bersama bawahan mereka, secara periodik dievaluasi tingkat kemajuan dari tujuan yang disepakati, hasil akhir dievaluasi, dan penghargaan dialokasikan atas dasar kemajuan.

image
Tujuan harus memenuhi lima kriteria
(1)  diatur dalam urutan kepentingannya,
(2)  sedapat mungkin dinyatakan secara kuantitatif,
(3)  realistis,
(4)  saling mendukung satu sama lain.
(5)  sejalan dengan kebijakan institusi,

MBO sangat popularitas selama beberapa waktu tetapi segera jatuh karena dinilai terlalu kaku dan membebani proses administrasi. Akan tetapi konsep dasar yang menekankan pada pengaturan tujuan yang jelas, telah diakui memiliki pengaruh besar bagi kemajuan institusi.

Penyelarasan tujuan masih digunakan di beberapa institusi keuangan, dimana biasanya diawal tahun setiap pegawai akan diminta untuk mengisi formulir target kerja pada tahun berjalan dan akan dievaluasi pada akhir tahun untuk menentukan nilai kinerja kerjanya.

image

Pada umumnya seorang pegawai akan melihat siapa yang mengerjakan (subjeknya), bukan apa yang dikerjakan (objeknya). Sehingga apabila terjadi penyimpangan yang tidak sesuai dengan tujuan perusahaan atau institusi, seperti penggelapan, korupsi dan hal lain yang merugikan perusahaan atau institusi, maka terkadang tidak ada seorang pun yang berani meluruskan apabila subjek yang melakukan adalah atasan atau pimpinan atau preman. Lebih dari itu, banyak pegawai datang ke kantor terkadang tidak tahu akan mengerjakan apa kecuali sekedar memenuhi absensi, pegawai tidak mengerti apa tujuan kelompoknya, divisinya dan institusinya dalam kurun waktu tertentu.

Mungkinkah konsep ini diterapkan kepada ABK dengan tingkat pendidikan seadanya? Harusnya mungkin selama ada keinginan diri untuk berkembang selangkah lebih maju setiap hari setiap saat.

Gangguan Kesehatan Bibit Ikan Patin

Prevention is better than cure

Dalam dunia kesehatan ada ungkapan yang sangat popular, Mencegah lebih baik dari pada mengobati. Begitu pula didunia perikanan, ungkapan tersebut harus benar-benar menjadi prioritas utama sebelum mulai memelihara ikan, khususnya pada usaha budidaya ikan Patin.

Langkah-langkah pencegahan penyakit :
(1) Menjaga kebersihan wadah pemeliharaan,
(2) Menjaga stabilitas suhu agar tetap panas antara 28-31°C,
(3) Pakan terbebas dari parasit dan jamur,
(4) Menjaga kondisi air agar tetap baik yang selalu bersih dari sisa pakan.

Gangguan kesehatan pada bibit patin dapat disebabkan oleh bakteri, parasit dan jamur. Cara pengobatan dan obat yang digunakan terhadap penyakit tersebut berbeda-beda.

Bakteri yang umum menyerang benih ikan patin adalah bakteri Aeromonas hydrophylla.
Tanda klinis bila ikan terserang penyakit ini bervariasi dan terkadang menyerupai penyakit lain,

Ciri ikan Patin terserang Aeromonas hydrophylla:
• Permukaan tubuh ikan ada bagian-bagian yang berwarna merah darah, terutama pada bahagian dada, pangkal sirip dan perut,
• Selaput lendir berkurang, tidak licin,
• Di beberapa bagian tubu ikan kulitnya melepuh,
• Sirip rusak dan pecah-pecah,
• Insang rusak dan berwarna keputih-putihan sampai kebiru-biruan,
• Ikan lemah, hilang keseimbangan serta mudah ditangkap.

Cara pengobatan:
Sebelum pengobatan dimulai, air disipon dari wadah pemeliharan sekitar 30%, buang endapan kotoran sebersih mungkin dan jangan dulu ditambahkan air.

aeromonas

Awal ciri keberadaan bakteri Aeromonas

Bila bibit Patin yang belum terinfeksi parah dapat diobati dengan Kalium Permanganat (PK) dengan dosis 2 gram/m3 dicampur dengan 1 liter air bersih aduk hingga rata lalu tebarkan pada wadah pemeliharaan. Biarkan selama 30 – 60 menit, dan amati perkembangan bibit Patin yang sakit. Apabila ikan memperlihatkan gejala keracunan – berenang tidak seperti biasanya, segera tambahkan air tendon ke dalam wadah pemeliharan.

Aeromonas

Akibat bakteri Aeromonas

Bila bibit Patin sudah cukup parah terinfeksi, gunakan pengobatan dengan Oxytetracyclin (OTC) sebanyak 5 gram/m3 dicampur dengan 1 liter air diaduk sampai obat larut sempurna, lalu tebarkan larutan tersebut ke dalam wadah pemeliharaan. Biarkan selama 3 jam, setelah itu tambahkan air segar. Pengobatan dengan OTC disarankan tidak lebih dari 3 hari.

Gangguan selain bakteri yang sering menghinggapi bibit Patin adalah parasit Ichthyopthirius multifilis atau yang umum dikenal dengan nama White spot. Jenis parasit ini sering muncul pada awal, akhir, dan selama musim hujan. Bila bibit Ikan patin terjangkit parasit ini terlihat jelas, kesat mata, bintik putih pada badan ikan, yang demikian pertanda parasit white spot sudah berkembang pesat. Dengan bantuan mikroskop dapat dilihat bentuk white spot seperti dalam pada gambar.

Cara pengobatannya gangguan parasit:

Sebelum melakukan pengobatan parasit white spot, diwajibkan menyipon air wadah pemeliharaan rata diseluruh dasar wadah. Mengingat spora white spot akan berada didasar wadah sebelum menetas dan gentayangan mencari inang sebagai media hidup. Hati-hati dengan air buangan dari wadah pemeliharaan bibit ikan yang terserang, jangan sampai mengalir ke wadah pemeliharaan ikan lainnya.

Bila serangan white spot belum begitu parah, dapat dicoba dengan pengobatan 1 ppt (1 kg/m3 air) garam ikan. Diasumsikan wadah pemeliharaan berisi 1 m3 air, gunakan 1 kg garam ikan ke dalam 2 liter air, kemudian aduk sampai sempurna lalu tebarkan larutan tadi ke dalam wadah pemeliharaan. Biarkan selama 1 jam dan lakukan pengawasan secara terus menerus. Apabila benih ikan terlihat gelisah, segera tambahkan air tandon ke dalam wadah pemeliharaan,

Bila serangan white spot sudah cukup parah, maka dapat juga menggunakan Formalin.
Pengobatan dengan formalin menggunakan dosis 10 ml formalin teknis per 1 m3 air wadah pemeliharaan benih patin. Formalin teknis adalah formalin dengan kadar 40%. Cara pengobatan, semprotkan 10 ml formalin ke dalam 1 m3 air dalam wadah pemeliharaan secara merata lalu aduk air dalam wadah pemeliharaan menggunakan alat dengan lembut, agar bibit ikan yang memang sudah stress semakin stress hingga memperburuk kondisi ikan. Biarkan selama 3 jam dalam pengawasan terus menerus, apabila ikan memperlihatkan gejala tidak kuat biarkan selama 3 atau 5 menit, lalu segera tambahkan air segar ke dalam media pemeliharaan. Pengobatan dengan Formalin sebaiknya dihindari mengingat sulitnya mendapatkan Formalin dipasaran akibat ulah oknum pengrajin makanan yang menggunakan formalin sebagai campuran bahan pengawet makanan.
.
Bila Formalin sulit didapatkan, gunakan Methylene blue. Caranya dengan mencampur 1 gram serbuk Methylene blue dengan 100 cc air bersih (matang). Selanjutnya campurkan 1-2 cc larutan tersebut untuk 1 liter air pemeliharaan kemudian diaduk secara merata dan biarkan selama 24 jam. Apabila masih belum sembuh bisa dilakukan pengobatan dengan cara diatas sampai 3 kali pengobatan.

Aeromonas hydrophylla dan White Spot adalah dua gangguan kesehatan pada bibit ikan yang paling menimbulkan kerugian, untuk itu pengetahuan pengenai siklus hidup kedua makhluk tersebut sangat membantu pembudidaya mencegah dan mengobatinya.

dolphin-leaping-out-of-water-doing-an-aerial-loop

Industri Patin 2013: Perlu 1.3 juta ton pakan

Jakarta, 21/6 (ANTARA) –

image

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah mematok produksi ikan Patin tahun 2013 mencapai 1,1 juta ton. Dari terget ini diperkirakan akan  membutuhkan pakan ikan sebesar 1,3 juta ton. Kebutuhan pakan ini terus meningkat menjadi 2,2 juta ton pada tahun 2014 karena target produksi patin juga meningkat menjadi 1,8 juta ton. Peningkatan kebutuhan pakan ikan seiring dengan peningkatan produksi ikan, tidak akan bisa dihindari. Untuk itu diperlukan adanya kerjasama antara pabrik pakan dan pemerintah, baik pusat dan daerah. Program ini untuk mendukung ketersediaan pakan bermutu dengan harga terjangkau, sehingga tidak membebani pembudidaya. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya , Slamet Soebjakto, ketika mengunjungi pabrik pakan PT. Sinta Prima Feedmill bersama Gubernur Jambi di Cileungsi, Bogor (19/6/2013
)

Menurut Slamet, pakan hingga saat ini masih menjadi kendala dalam budidaya perikanan. Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha budidaya ikan, hingga mencapai 70%  hingga  80%. Untuk itu ketersediaan pakan yang berkualitas, terutama dengan pendirian pabrik pakan ikan di dekat lokasi budidaya menjadi sangat penting. Provinsi Jambi menjadi salah satu contoh daerah yang mampu memadukan industri perikanan budidaya dengan pabrik pakan ikan dalam satu wilayah. Jambi sebagai salah satu sentra patin di Indonesia, telah berinisiatif untuk mendukung program ini melalui jalinan kerjasama dengan PT. Sinta Prima Feedmill untuk menyediakan pakan ikan patin. Program tersebut dengan tujuan untuk lebih mendekatkan pasar dan produsen pakan, sehingga dapat mengurangi harga pakan yang selama ini menjadi kendala dalam budidaya patin. “Pendirian pabrik pakan ikan, seperti di Jambi ini akan mendukung program industrialisasi perikanan budidaya, khususnya komoditas patin,” tegasnya.

Slamet menjelaskan, program Industrialisasi perikanan budidaya khususnya untuk komoditas patin terus menunjukkan hasil. Salah satu contohnya adalah budidaya Patin di Jambi. Bahkan, selain kerjasama dalam penyediaan pakan ikan patin dengan dengan PT. Sinta Prima Feedmill, provinsi Jambi juga menjalin kerjasama dalam hal penyediaan jagung sebagai bahan baku pakan. “Kerjasama dan sinergi yang berkelanjutan antara pemerintah, baik pusat dan daerah, swasta dan seluruh stake holder, akan menjadikan semua permasalahan menjadi mudah untuk diatasi. Kita semua harus bekerjasama untuk kemajuan perikanan budidaya, dengan tujuan akhir peningkatan kesejahteraan pembudidaya ikan,” tandas Slamet.

Slamet menambahkan, selain benih berkualitas, penerapan teknologi terkini dalam produksi pakan ikan juga diperlukan. Salah satunya adalah Maggot sebagai bahan baku pembuatan pakan ikan. Untuk itu, KKP terus mengembangkan  penggunaan berbagai bahan baku, seperti maggot sebagai bahan baku pakan ikan. Hanya saja, untuk maggot terdapat persoalan yang harus diselesaikan yaitu mahalnya media pertumbuhan maggot. Kendala ini perlu dukungan pemerintah daerah melalui pembuatan kebijakan, terkait ketersediaan limbah produksi minyak kelapa sawit atau ampas minyak kelapa sawit. Dimana, pengusaha minyak kelapa sawit diharapkan tidak menjual limbah tersebut dengan harga tinggi sehingga dapat dimanfaatkan oleh pembudidaya atau oleh pabrik pakan, untuk memproduksi maggot.”Jika pola tersebut terbangun, hal ini dapat menjadi bukti keberpihakan perusahaan kepada masyarakat”, tegasnya.

Sumber: antaranews.com

Budidaya Ikan Patin di Desa Cipayung

Entah tepat atau tidak penggunaan kata ‘pedaging’ untuk petani budidaya ikan patin yang membeli bibit ikan dengan ukuran 10-15 ekor per kilogram dan dipanen 3 – 4 bulan kemudian saat ikan berukuran diatas 500 gram per ekor.

image

Desa Cipayung di Cikarang Timur banyak dijumpai empang bekas pengrajin genteng. Ukurannya beragam seadanya galian tanah membentuk kolam yang tergenang air.

Kang Uus salah satu petani disana bercerita, bahwa biaya sewa satu kolam ukuran 150 – 200 m2 sekitar 5 juta rupiah pertahun. Kemudian beliau merinci biaya yang dikeluarkan sampai panen

1. Pembelian Bibit 3 kwintal ukuran sangkal (10-15 ekor/kg) @ Rp 12.000/kg, total Rp. 3.600.000
2. Pelet 1 karung, Rp. 250.000 hanya untuk awal pemeliharaan.
3. Limbah ketering 20 mobil pick-up, perminggu 1 mobil @ Rp. 250.000/mobil, total Rp. 5.000.000.

Bibit ikan Patin sangkal (1kg isi 10 - 15 ekor)

Bibit ikan Patin sangkal (1kg isi 10 – 15 ekor)

Pada 20 minggu kemudian saat panen, biasanya dapat menghasilkan ikan Patin konsumsi kisaran 1.4 ton per kolam, dengan harga jual berkisar antara Rp.11.000 – Rp.12.000 /kg. Total panen dalam 20 minggu diatas 15 juta rupiah. Untuk biaya operasinal penangkapan pada saat panen ditanggung oleh pembeli.

Kalau dihitung keuntungan dengan kolam sewa 1.7 juta per musim tanam, 3.6 juta untuk bibit, 5,24 juta untuk pakan maka total biaya yang dikeluarkan sekitar 10,5 juta. Sedang hasil yang didapat untuk satu kolam adalah 15 juta rupiah. Kang Uus yang pekerjaan utamanya adalah pengrajin furniture dari kayu-kayu sisa, membudidaya ikan patin dijadikan kegiatan untuk tambahan modal bagi usaha tetapnya,

No Pain No Gain.

no-pain-no-gain

Disetiap kesuksesan selalu saja ada rintangan, kang Uus menceritakan beberapa permasalahan, katanya kadang ikan yang dipelihara terkena penyakit atau berprilaku aneh.

Kang Uus bercerita pengalamannya, untuk yang berprilaku aneh biasanya akibat salah makan ransum sisa ketring, ada sambel yang ikut dalam ransum. Ini dapat diatasi dengan mensorit dan mencuci ransum sisa ketring sebelum disimpan dalam wadah pakan. Atau bisa juga disebabkan oleh pemberian makan pada waktu yang salah. Misalkan saat panas yang terik, atau setelah hujan lebat.Kalau untuk gejala ikan sakit,seperti berkeliaran di atas permukaan air, atau menggantung, kang Uus kurang faham cara mengobatinya.
Permasalahan lain adalah saat pengadaan benih ukuran sangkal, sekarang  ini belum ada kesepakatan antara penjual dan pembeli. Kang Uus bercerita, katanya penjual tidak berkenan untuk menimbang bibitnya sebelum bibit dilepaskan ke dalam empang. Anehnya lagi pembeli juga tidak diperkenankan melihat menjual menimbang di tempat penjual. Yang diinginkan penjual saat benih ukuran sangkal sampai di kolam pembeli, langsung dilepas dan pembeli membayar sesuai tagihan.Sebuah cerita yang aneh, tapi kang Uus bercerita penuh keseriusan.Kalau boleh kami saran untuk pembelian bibit patin sebaiknya dihitung perekor saja dari mulai ukuran 3 inci sampai ukuran sangkal. Banyak keuntungan dengan menghitung perekor

  1. Pembeli dan penjual sama-sama memastikan jumlah ikan,
  2. Bibit ikan tidak stress atau terluka saat proses penimbangan,
  3. Ikan lebih sehat

“Kang Uus, coba lihat 6,000 ekor bibit ikan 4 – 6 inci yang baru saya jual, bibit ikan berenang sehat, gak ada satu ekorpun yang mengambang”

Perlu diketahui oleh pembeli bahwa sudah menjadi standard pengangkutan bibit ikan, sebelum dilakukan pengangkutan atau pengepakan selalu dilakukan proses pemberokan atau ikan dipuasakan, minimal 1 hari sebelum diangkut. Tujuannya untuk menjaga kwalitas ikan sampai dikolam pembeli. Bila bibit ikan yang diterima pembeli dalam kondisi sehat (walau sedang puasa) maka akan mudah bagi pembeli untuk membudidayakan ikan dengan tidak terlalu banyak kendala.

Dengan menerapkan standard pengangkutan maka terjawab cerita aneh penjual yang tidak mau menimbang barang dagangannya. Bagai mana pedagang bibit ikan harus menimbang ikan yang sedang puasa ? pasti terjadi penyusutan berat timbangan, yang pasti merugikan penjual.

Ada trik untuk mencari keuntungan penjual dengan cara bibit ditimbang, alih-alih bibit dipuasakan sebelum diangkut, ini malah diberi makan potongan usus ayam atau sosis, dengan maksud timbangan akan meningkat dengan harga pakan Rp. 2.000,-/kg dan harga jual bibit Rp. 12.000,-/ekor, akibatnya banyak ikan keracunan amoniak selama perjalanan yang mengancam kesehatan ikan, bahkan menjadi sebab kematian jumlah besar selama pengangkutan.

image

Cara terbaik adalah sepakati ukuran bibit dan harga perekor bibit, hitung sama-sama antara penjual dan pembeli, ekor per ekor. Penjual senang pembeli senang, ikanpun senang.

EmpangQQ.COM