Posts from the ‘Penyakit Hati’ Category

Hukum merendahkan waliyyul Amr

Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

image

Syariat yang lurus telah melarang dari tindakan merendahkan waliyyul amri karena hal itu akan menyebabkan hilangnya ketaatan yang semestinya diberikan kepada mereka. Melemahkan kewibawaan waliyyul amri dan sibuk mencelanya, mencari-cari kekurangannya, adalah satu kesalahan besar dan pelanggaran yang fatal serta pangkal terjadinya kerusakan agama dan dunia.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Para tokoh dan pembesar dari sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kami dari merendahkan dan mencela umara.”

Asy-Syaikh Abdurrahman as- Sa’di rahimahumallah juga menegaskan bahwa kewajiban semua orang adalah menahan kesalahan-kesalahannya (waliyyul amri) dan tidak boleh menyibukkan diri dengan mencelanya, tetapi hendaknya berdoa memohon taufik kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk waliyyul amri, sebab mencelanya justru akan menimbulkan kerusakan yang besar dan bahaya yang merata. (ad-Dur al-Mantsur)

Barang siapa merendahkan waliyyul amri atau pemerintah, berarti ia melepaskan ikatan Islam dari lehernya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُ كَائِنٌ بَعْدِي سُلْطَانٌ فَلَا تُذِلُّوهُ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُذِلَّهُ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ اْلإِسْلَامِ مِن عنُقِهِ

“Sesungguhnya akan ada setelahku penguasa, maka janganlah kalian merendahkannya. Siapa yang hendak merendahkannya, sungguh ia melepas ikatan Islam dari lehernya.” (HR. Ahmad dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu)

Segala hal yang mengandung unsur penghinaan dan merendahkan waliyyul amri adalah haram. Yang wajib adalah menghormatinya, karena menghormati waliyyul amri berarti menghormati Islam dan muslimin. Mereka layak dihormati karena kedudukannya.

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzanhafizhahullah berkata, “Perkara ini (menghormati waliyyul amri) wajib mendapatkan perhatian serius, karena di sinilah letak kemaslahatan Islam dan muslimin. Kemaslahatan yang akan kembali kepada kaum muslimin dalam menghormati waliyyul amri jauh lebih banyak dibandingkan kemaslahatan yang kembali kepada waliyyul amri itu sendiri. Maka dari itu, mengetahui perkara ini dan mengamalkannya adalah hal yang dituntut. Sebab, kaum muslimin sangat membutuhkan persatuan dan kerja sama dengan waliyyul amr, terkhusus pada masa yang banyak keburukan seperti sekarang ini. Tidak sedikit dai yang justru mengajak kepada kesesatan. Mereka menyebarkan kejelekannya di tengah-tengah kaum muslimin dengan segala cara untuk merusak kewibawaan pemerintah dan melemahkan pemerintahan. Seluruh kaum muslimin hendaknya betul-betul memerhatikan hal ini. Apabila ada pihak yang ingin memecah belah urusan kaum muslimin dan menggunjing waliyyul amri, hendaknya dinasihati dan diberitahu bahwa hal ini tidak boleh, bukan jalan keluar dari problem.” (al-‘Ilam bi kaifiyyati Tanshibil Imam fil Islam)

Sumber: http://asysyariah.com/kajian-utama-hukum-merendahkan-waliyyul-amri/

Uji Kejujuran

Oleh : Al-Ustadz Abu Nasiim Mukhtar “iben” Rifai La Firlaz

image

Berkawan dengan seseorang yang jujur itu sangat menyenangkan.Bukan hanya terbatas pada kawan saja, kejujuran akan menjadi anugrah indah yang melekat seorang tetangga, pegawai, pimpinan, anak, suami, istri, murid, guru, relasi bisnis atau siapa saja yang berinteraksi dengan kita…Marilah bersama melatih diri untuk bersikap jujur…

Dahulu kala…
Abul Hasan An Najjar –seorang ulama di masa itu- bertetangga dengan seseorang yang dikenal dermawan. Kita sebut saja tetangga beliau dengan Si Fulan. Dalam sebuah kesempatan di malam hari, seorang buta melintas di depan rumah Si Fulan. Orang buta itu belum pernah dikenal sebelumnya oleh Si Fulan. Rasa iba yang berdasar dari sikap dermawannya, mendorong Si Fulan ingin berbagi dengan cara bersedekah.

Apa yang ia lakukan?

Ada dua kantong uang yang selalu dibawa oleh Si Fulan kemanapun ia pergi. Satu kantong berisi uang dinar, kantong lainnya berisi uang dirham. Ketika itu, Si Fulan hendak bersedekah sebesar satu dirham..akan tetapi ia keliru memilih kantong sehingga justru sekeping uang dinar yang malah berpindah tangan ke orang buta tersebut.

Senang sekali orang yang buta itu!

Keesokan harinya…si buta berangkat menuju sebuah toko kelontong yang berada tak jauh dari rumahnya untuk sekadar berbelanja..Ia berjalan dengan penuh keyakinan, sekeping uang pemberian dari Si Fulan adalah sekeping uang dirham.. “Silahkan Anda menerima sekeping dirham ini…Untuk membayar barang belanjaanku,maka sisanya adalah sekian”, kata orang buta itu kepada si penjual setelah memilih barang-barang belanjaan.

Si penjual terheran-heran dengan kejadian tersebut,” He…darimana kamu mempunyai uang dinar ini????!!!”

“Tadi malam aku diberi oleh Si Fulan”,jawab si buta. Kata si penjual menerangkan,”Uang yang engkau bayarkan bukan sekeping dirham..Uang ini adalah sekeping dinar”

Tahukah Anda berapa besaran uang dinar dan dirham???

Sekeping dinar adalah uang emas dengan berat 4,25 gr…sementara sekeping dirham adalah uang perak dengan berat 2,975 gr…

Hari berikutnya…si buta berusaha menemui kembali Si Fulan yang telah bersedekah untuknya.Setelah bertemu,sambil menyerahkan sekeping dinar itu…

“Anda kemarin bersedekah untukku dengan uang ini. Saya berpikir ; sebenarnya Anda ingin bersedekah dengan sekeping dirham, namun Anda keliru mengambil. Dan saya tidak ingin menerima pemberian yang keliru semacam ini…Silahkan Anda mengambil kembali sekeping dinar ini”,kata si buta kepada Si Fulan.

 Mendengar kejujuran luar biasa semacam itu, Si Fulan langsung menyatakan,

“Kalau begitu,uang dinar ini aku berikan untuk Anda saja..Kemudian, silahkan Anda datang menemui saya di setiap awal bulan agar saya bisa membalas kejujuran Anda”

Sejak hari itu…setiap awal bulan si buta datang menemui Si Fulan untuk menerima lima keping dirham sebagai pemberian darinya.

Subhaanallah! Sangat…dan sangat-sangat luar biasa sekali!

Si buta mampu mengendapkan rasanya untuk tidak terseret oleh arus “mengejar kesempatan”…ia bisa mengendapkan rasanya untuk tidak terbawa oleh gelombang “menangkap peluang”…Dengan tenang dan indahnya ia mengatur perasaan agar berjalan dan bersikap di atas kejujuran…Padahal bisa saja ia bersukacita karena telah memperoleh sekeping dinar.. Namun, ia tidak ingin bersukacita dengan cara semacam itu.

 Begitupun sang penjual…Sebenarnya ia memiliki kesempatan untuk menipu orang buta.Ia cukup mengiyakan jika uang itu memang benar-benar sekeping dirham sebagaimana keyakinan dan pengakuan si buta.Sejatinya ia mempunyai peluang untuk memperoleh untung besar dalam waktu sepersekian menit hanya dengan bersikap diam tanpa perlu menjelaskan bahwa uang yang dibawa si buta adalah sekeping uang dinar.

Namun….sang penjual sangat pandai mengendapkan rasa..

Jika saja hal di atas terjadi pada diri kita..kira-kira bagaimana perasaan kita???

Mungkin nafas menjadi naik turun tidak teratur,pandangan mata berbinar-binar dan gejolak-gejolak perasaan lainnya. Bayangkan jika Anda menjadi si buta! Bayangkan jika Anda menjadi si penjual !

Dan bagaimanakah sikap dengan keputusan Anda jika Anda menjadi Si Fulan???

Abul Hasan An Najjar mengatakan, “Aku belum pernah menemui kejadian yang lebih menakjubkan dari kejujuran si penjual dan orang buta itu.Seandainya hal semacam ini ada di zaman kita,pasti akan terjadi yang sebaliknya”

Nikmat Pedang Bermata Dua

image

Dari sekian banyak kenikmatan yang Allah SWT limpahkan kepada hamba-hamba-Nya, termasuk yang paling agung adalah nikmat lisan. Dengan lisannya, seorang hamba akan mampu berkomunikasi dan mengungkapkan apa yang ada pada dirinya. Allah SWT berfirman:

Lisan yang kecil tak bertulang seperti pedang bermata dua. Jika tidak memberi manfaat kepada pelakunya, maka dia justru akan membinasakan tuannya. Allah SWT berfirman:

ﻣَﺎ ﻳَﻠْﻔِﻆُ ﻣِﻦْ ﻗَﻮْﻝٍ ﺇِﻻَّ ﻟَﺪَﻳْﻪِ ﺭَﻗِﻴﺐٌ ﻋَﺘِﻴﺪٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 18)

Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata: “Sungguh, as-salafush shalih rahimahumullah telah sepakat bahwa malaikat yang ada di samping kanan seorang hamba adalah malaikat yang akan mencatat seluruh amal kebaikan. Sedangkan malaikat yang ada di samping kirinya adalah malaikat yang akan mencatat amalan kejelekan.” (Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, 1/336)

Rasulullah n bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِكَلِمَةٍ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِكَلِمَةٍ مِنْ سُخْطِ اللهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا إِلَى جَهَنَّمَ

“Sungguh seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang diridhai Allah, yang dia tidak ingat atau pikirkan, yang dengannya Allah akan mengangkat derajatnya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang dimurkai Allah yang dia tidak ingat atau pikirkan, maka dengan sebab itu, dia akan masuk ke dalam Jahannam.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Abu Hurairah ra)

Sehingga, orang yang bijak adalah orang yang berpikir sebelum berbicara; apakah perkataan yang ingin dia ucapkan akan mendatangkan keridhaan Allah SWT atau kemurkaan-Nya? Akan mendatangkan keuntungan di akhirat ataukah kerugian?

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَـحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa menjamin apa yang ada di antara dua tulang rahangnya (yakni lisan), dan apa yang ada di antara kedua kakinya (yakni kemaluan), niscaya aku menjamin jannah (surga) baginya.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Sahl bin Sa’d)

Rasulullah SAW juga bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.” (Muttafaqun ‘alaih dari hadits Abu Hurairah ra)

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Makna hadits ini adalah apabila seorang hamba ingin berbicara, hendaknya dia berpikir terlebih dahulu. Apabila telah nampak jelas baginya bahwa tidak ada kerugian/madharat terhadap dirinya, hendaknya dia mengatakannya. Namun apabila nampak jelas baginya kerugian/madharat atau dia ragu-ragu, maka hendaknya dia diam.” (Syarh Shahih Muslim, 1/222)

Sumber: Majalah Asy-Syariah