Posts from the ‘Motifasi’ Category

Hukum merendahkan waliyyul Amr

Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

image

Syariat yang lurus telah melarang dari tindakan merendahkan waliyyul amri karena hal itu akan menyebabkan hilangnya ketaatan yang semestinya diberikan kepada mereka. Melemahkan kewibawaan waliyyul amri dan sibuk mencelanya, mencari-cari kekurangannya, adalah satu kesalahan besar dan pelanggaran yang fatal serta pangkal terjadinya kerusakan agama dan dunia.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Para tokoh dan pembesar dari sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kami dari merendahkan dan mencela umara.”

Asy-Syaikh Abdurrahman as- Sa’di rahimahumallah juga menegaskan bahwa kewajiban semua orang adalah menahan kesalahan-kesalahannya (waliyyul amri) dan tidak boleh menyibukkan diri dengan mencelanya, tetapi hendaknya berdoa memohon taufik kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk waliyyul amri, sebab mencelanya justru akan menimbulkan kerusakan yang besar dan bahaya yang merata. (ad-Dur al-Mantsur)

Barang siapa merendahkan waliyyul amri atau pemerintah, berarti ia melepaskan ikatan Islam dari lehernya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُ كَائِنٌ بَعْدِي سُلْطَانٌ فَلَا تُذِلُّوهُ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُذِلَّهُ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ اْلإِسْلَامِ مِن عنُقِهِ

“Sesungguhnya akan ada setelahku penguasa, maka janganlah kalian merendahkannya. Siapa yang hendak merendahkannya, sungguh ia melepas ikatan Islam dari lehernya.” (HR. Ahmad dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu)

Segala hal yang mengandung unsur penghinaan dan merendahkan waliyyul amri adalah haram. Yang wajib adalah menghormatinya, karena menghormati waliyyul amri berarti menghormati Islam dan muslimin. Mereka layak dihormati karena kedudukannya.

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzanhafizhahullah berkata, “Perkara ini (menghormati waliyyul amri) wajib mendapatkan perhatian serius, karena di sinilah letak kemaslahatan Islam dan muslimin. Kemaslahatan yang akan kembali kepada kaum muslimin dalam menghormati waliyyul amri jauh lebih banyak dibandingkan kemaslahatan yang kembali kepada waliyyul amri itu sendiri. Maka dari itu, mengetahui perkara ini dan mengamalkannya adalah hal yang dituntut. Sebab, kaum muslimin sangat membutuhkan persatuan dan kerja sama dengan waliyyul amr, terkhusus pada masa yang banyak keburukan seperti sekarang ini. Tidak sedikit dai yang justru mengajak kepada kesesatan. Mereka menyebarkan kejelekannya di tengah-tengah kaum muslimin dengan segala cara untuk merusak kewibawaan pemerintah dan melemahkan pemerintahan. Seluruh kaum muslimin hendaknya betul-betul memerhatikan hal ini. Apabila ada pihak yang ingin memecah belah urusan kaum muslimin dan menggunjing waliyyul amri, hendaknya dinasihati dan diberitahu bahwa hal ini tidak boleh, bukan jalan keluar dari problem.” (al-‘Ilam bi kaifiyyati Tanshibil Imam fil Islam)

Sumber: http://asysyariah.com/kajian-utama-hukum-merendahkan-waliyyul-amri/

Akhlaq Terhadap Sesama

Para ulama, di antaranya Al Hasan Al Bashri mengatakan bahwa akhlaq yang baik terhadap mahluk berputar pada tiga perkara, yaitu:

Pertama: Menahan dari gangguan (Kafful Adzzaa)

Dirty-ThunderstormMaknanya adalah bahwa seseorang menahan dirinya dari mengganggu orang atau lingkungan, baik itu gangguan yang berhubungan dengan harta, jiwa, maupun kehormatan. Orang yang tidak bisa menahan dirinya dari mengganggu orang dan lingkungan, maka ia tidak mempunyai akhlaq yang baik.

Jika seseorang berbuat aniaya kepada manusia dengan melakukan pengkhianatan, atau berbuat aniaya dengan memukul, dan kejahatan, atau berbuat aniaya kepada manusia dalam kehormatannya, atau mencela, atau ghibah, maka hal ini tidak termasuk berakhlaq baik kepada manusia, karena ia tidak menahan diri dari mengganggu orang lain. Dan dosanya semakin besar manakala perbuatan aniaya itu dilakukan kepada seseorang yang mempunyai hak paling besar dari Anda.

Misalnya jika seseorang berbuat jahat kepada kedua orangtua, maka dosanya lebih besar, dan akan lebih besar daripada dosa perbuatan jahat kepada selain mereka. Perbuatan jahat kepada karib kerabat lebih besar dosanya daripada dosa perbuatan jahat kepada orang yang lebih jauh hubungan kekerabatannya. Perbuatan jahat kepada tetangga lebih besar dosanya dari perbuatan jahat kepada selain tetangga. Karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَاللهِ لاَ يُؤْمِن، وَاللهِ لاَ يُؤْمِن ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِن

“Demi Allah, tidaklah beriman! Demi Allah, tidaklah beriman! Demi Allah, tidaklah beriman!”

Para sahabat bertanya, “Siapa yang tidak beriman wahai Rasulullah?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بِوَائِقِهِ

“Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya”.

2. Suka Membantu/Dermawan (Badzlun Nada)

rescuekitten_1753783cMakna “Badzlun Nada” adalah bersikap dermawan dan suka membantu. Kedermawanan di sini tidaklah seperti yang dipahami oleh sebagian orang bahwa terbatas pada harta saja. Tapi yang dimaksud kedermawanan di sini adalah mendermakan jiwa, kedudukan, dan harta.  Jika kita melihat seseorang memenuhi kebutuhan manusia, membantu mereka, menyebarkan ilmu di antara manusia, mendermakan hartanya kepada manusia, maka kita pun akan mensifati orang tersebut sebagai orang yang berakhlaq baik, karena ia adalah seorang yang dermawan dan suka menolong. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Bertaqwalah kepada Allah di manapun engkau berada. Ikutilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapuskan perbuatan jelek. Dan bergaul-lah dengan manusia dengan akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad, At Tirmidzi dan Ad Darimi)

Dan termasuk dalam sifat ini adalah jika Anda dianiaya atau dipergauli dengan perbuatan buruk, maka Anda pun memberi maaf. Sungguh Allah telah memuji orang-orang yang memaafkan kesalahan manusia, Allah berfirman tentang penghuni surga,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran:134)

Allah ta’ala berfirman,

وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

“Dan jika kalian memaafkan maka itu lebih dekat kepada takwa.” (Al Baqarah: 237)

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada.” (An Nur: 22)

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

“Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah” (Asy Syuura: 40)

Dalam berhubungan dengan sesama manusia, seseorang pasti akan mengalami suatu gangguan. Maka dalam menghadapi menghadapi seperti ini, hendaknya dia memaafkan dan berlapang dada. Dan hendaknya ia berkeyakinan kuat bahwa sikap pemaaf dan lapang dada serta berharap untuk mendapatkan balasan kebaikan kelak di akhirat bisa merubah permusuhan antara dia dengan saudaranya menjadi kasih sayang dan persaudaraan.

Allah ta’ala berfirman,

وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman setia.” (Al Fushilat: 34)

Ketiga: Wajah yang Berseri (Thalaqatul Wajh)

Senyumlah

Senyumlah

Yaitu seseorang selalu berwajah ceria, tidak bermuka masam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لا تَحْقِرنَّ مِنَ المَعرُوفِ شَيئاً وَلَوْ أنْ تَلقَى أخَاكَ بِوَجْهٍ طَليقٍ

“Janganlah meremehkan sesuatu kebaikan sekecil apapun, walaupun engkau berjumpa dengan saudaramu dengan wajah berseri-seri.” (HR. Muslim)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya tentang apa itu kebaikan. Beliau menjawab, “Kebaikan itu adalah wajah yang ceria dan lisan yang lembut.”

Berwajah ceria akan memasukkan kegembiraan pada manusia, mendatangkan rasa kasih sayang dan cinta, mendatangkan kelapangan dalam hati, bahkan mendatangkan rasa lapang dada bagi Anda sendiri dan orang-orang yang Anda temui. Sebaliknya, jika Anda bermuka masam, maka manusia akan menjauh dari diri Anda. Mereka tidak akan suka untuk duduk bersama dan bicara dengan Anda. Dan bisa jadi karena ini Anda ditimpa stress dan tekanan jiwa. Wajah yang ceria dan berseri adalah obat yang mencegah dari penyakit stress atau tekanan jiwa.

Tahukah Anda kalau para dokter menasehati orang yang ditimpa penyakit stress untuk untuk menjauhi dari perkara-perkara yang bisa memicu amarah, karena amarah hanya akan menambah tekanan jiwanya?

Sebaliknya wajah yang ceria akan mengobati penyakit ini, karena orang-orang di sekitar Anda akan mencintai Anda dan Anda menjadi mulia di sisi mereka.

Ditulis oleh: Abu Umar Al Bankawy
Referensi:
– Makaarimul Akhlaq karya Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Uji Kejujuran

Oleh : Al-Ustadz Abu Nasiim Mukhtar “iben” Rifai La Firlaz

image

Berkawan dengan seseorang yang jujur itu sangat menyenangkan.Bukan hanya terbatas pada kawan saja, kejujuran akan menjadi anugrah indah yang melekat seorang tetangga, pegawai, pimpinan, anak, suami, istri, murid, guru, relasi bisnis atau siapa saja yang berinteraksi dengan kita…Marilah bersama melatih diri untuk bersikap jujur…

Dahulu kala…
Abul Hasan An Najjar –seorang ulama di masa itu- bertetangga dengan seseorang yang dikenal dermawan. Kita sebut saja tetangga beliau dengan Si Fulan. Dalam sebuah kesempatan di malam hari, seorang buta melintas di depan rumah Si Fulan. Orang buta itu belum pernah dikenal sebelumnya oleh Si Fulan. Rasa iba yang berdasar dari sikap dermawannya, mendorong Si Fulan ingin berbagi dengan cara bersedekah.

Apa yang ia lakukan?

Ada dua kantong uang yang selalu dibawa oleh Si Fulan kemanapun ia pergi. Satu kantong berisi uang dinar, kantong lainnya berisi uang dirham. Ketika itu, Si Fulan hendak bersedekah sebesar satu dirham..akan tetapi ia keliru memilih kantong sehingga justru sekeping uang dinar yang malah berpindah tangan ke orang buta tersebut.

Senang sekali orang yang buta itu!

Keesokan harinya…si buta berangkat menuju sebuah toko kelontong yang berada tak jauh dari rumahnya untuk sekadar berbelanja..Ia berjalan dengan penuh keyakinan, sekeping uang pemberian dari Si Fulan adalah sekeping uang dirham.. “Silahkan Anda menerima sekeping dirham ini…Untuk membayar barang belanjaanku,maka sisanya adalah sekian”, kata orang buta itu kepada si penjual setelah memilih barang-barang belanjaan.

Si penjual terheran-heran dengan kejadian tersebut,” He…darimana kamu mempunyai uang dinar ini????!!!”

“Tadi malam aku diberi oleh Si Fulan”,jawab si buta. Kata si penjual menerangkan,”Uang yang engkau bayarkan bukan sekeping dirham..Uang ini adalah sekeping dinar”

Tahukah Anda berapa besaran uang dinar dan dirham???

Sekeping dinar adalah uang emas dengan berat 4,25 gr…sementara sekeping dirham adalah uang perak dengan berat 2,975 gr…

Hari berikutnya…si buta berusaha menemui kembali Si Fulan yang telah bersedekah untuknya.Setelah bertemu,sambil menyerahkan sekeping dinar itu…

“Anda kemarin bersedekah untukku dengan uang ini. Saya berpikir ; sebenarnya Anda ingin bersedekah dengan sekeping dirham, namun Anda keliru mengambil. Dan saya tidak ingin menerima pemberian yang keliru semacam ini…Silahkan Anda mengambil kembali sekeping dinar ini”,kata si buta kepada Si Fulan.

 Mendengar kejujuran luar biasa semacam itu, Si Fulan langsung menyatakan,

“Kalau begitu,uang dinar ini aku berikan untuk Anda saja..Kemudian, silahkan Anda datang menemui saya di setiap awal bulan agar saya bisa membalas kejujuran Anda”

Sejak hari itu…setiap awal bulan si buta datang menemui Si Fulan untuk menerima lima keping dirham sebagai pemberian darinya.

Subhaanallah! Sangat…dan sangat-sangat luar biasa sekali!

Si buta mampu mengendapkan rasanya untuk tidak terseret oleh arus “mengejar kesempatan”…ia bisa mengendapkan rasanya untuk tidak terbawa oleh gelombang “menangkap peluang”…Dengan tenang dan indahnya ia mengatur perasaan agar berjalan dan bersikap di atas kejujuran…Padahal bisa saja ia bersukacita karena telah memperoleh sekeping dinar.. Namun, ia tidak ingin bersukacita dengan cara semacam itu.

 Begitupun sang penjual…Sebenarnya ia memiliki kesempatan untuk menipu orang buta.Ia cukup mengiyakan jika uang itu memang benar-benar sekeping dirham sebagaimana keyakinan dan pengakuan si buta.Sejatinya ia mempunyai peluang untuk memperoleh untung besar dalam waktu sepersekian menit hanya dengan bersikap diam tanpa perlu menjelaskan bahwa uang yang dibawa si buta adalah sekeping uang dinar.

Namun….sang penjual sangat pandai mengendapkan rasa..

Jika saja hal di atas terjadi pada diri kita..kira-kira bagaimana perasaan kita???

Mungkin nafas menjadi naik turun tidak teratur,pandangan mata berbinar-binar dan gejolak-gejolak perasaan lainnya. Bayangkan jika Anda menjadi si buta! Bayangkan jika Anda menjadi si penjual !

Dan bagaimanakah sikap dengan keputusan Anda jika Anda menjadi Si Fulan???

Abul Hasan An Najjar mengatakan, “Aku belum pernah menemui kejadian yang lebih menakjubkan dari kejujuran si penjual dan orang buta itu.Seandainya hal semacam ini ada di zaman kita,pasti akan terjadi yang sebaliknya”

Nikmat Pedang Bermata Dua

image

Dari sekian banyak kenikmatan yang Allah SWT limpahkan kepada hamba-hamba-Nya, termasuk yang paling agung adalah nikmat lisan. Dengan lisannya, seorang hamba akan mampu berkomunikasi dan mengungkapkan apa yang ada pada dirinya. Allah SWT berfirman:

Lisan yang kecil tak bertulang seperti pedang bermata dua. Jika tidak memberi manfaat kepada pelakunya, maka dia justru akan membinasakan tuannya. Allah SWT berfirman:

ﻣَﺎ ﻳَﻠْﻔِﻆُ ﻣِﻦْ ﻗَﻮْﻝٍ ﺇِﻻَّ ﻟَﺪَﻳْﻪِ ﺭَﻗِﻴﺐٌ ﻋَﺘِﻴﺪٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 18)

Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata: “Sungguh, as-salafush shalih rahimahumullah telah sepakat bahwa malaikat yang ada di samping kanan seorang hamba adalah malaikat yang akan mencatat seluruh amal kebaikan. Sedangkan malaikat yang ada di samping kirinya adalah malaikat yang akan mencatat amalan kejelekan.” (Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, 1/336)

Rasulullah n bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِكَلِمَةٍ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِكَلِمَةٍ مِنْ سُخْطِ اللهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا إِلَى جَهَنَّمَ

“Sungguh seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang diridhai Allah, yang dia tidak ingat atau pikirkan, yang dengannya Allah akan mengangkat derajatnya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang dimurkai Allah yang dia tidak ingat atau pikirkan, maka dengan sebab itu, dia akan masuk ke dalam Jahannam.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Abu Hurairah ra)

Sehingga, orang yang bijak adalah orang yang berpikir sebelum berbicara; apakah perkataan yang ingin dia ucapkan akan mendatangkan keridhaan Allah SWT atau kemurkaan-Nya? Akan mendatangkan keuntungan di akhirat ataukah kerugian?

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَـحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa menjamin apa yang ada di antara dua tulang rahangnya (yakni lisan), dan apa yang ada di antara kedua kakinya (yakni kemaluan), niscaya aku menjamin jannah (surga) baginya.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Sahl bin Sa’d)

Rasulullah SAW juga bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.” (Muttafaqun ‘alaih dari hadits Abu Hurairah ra)

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Makna hadits ini adalah apabila seorang hamba ingin berbicara, hendaknya dia berpikir terlebih dahulu. Apabila telah nampak jelas baginya bahwa tidak ada kerugian/madharat terhadap dirinya, hendaknya dia mengatakannya. Namun apabila nampak jelas baginya kerugian/madharat atau dia ragu-ragu, maka hendaknya dia diam.” (Syarh Shahih Muslim, 1/222)

Sumber: Majalah Asy-Syariah

Sabar… Sabar… Sabar…

Sabar seperti air, sejuk mengalir tak pernah berakhir.

Sabar seperti air,
sejuk mengalir tak pernah berakhir.

Tak ada seorang pun yang menginginkan hidup dalam keadaan sulit. Tidak ada seorang pun menginginkan musibah terjadi atas dirinya. Namun, kenyataan hidup berbeda dengan apa yang diinginkan oleh setiap manusia. Hidup manusia tak selalu diwarnai dengan kebahagiaan dan kesenangan. Tidak pula hidup selalu diliputi kesuksesan. Terkadang manusia harus jatuh bangun menghadapi kehidupan. Ia harus menghadapi sekian banyak cobaan. Beruntunglah orangorang yang sabar.

Apa itu Sabar?

Secara bahasa sabar adalah

الْحَبْسُ وَالْمَنْعُ

Artinya, menahan atau mencegah.

Adapun secara istilah dimaknai:

حَبْسُ اللِّسَانِ عَنِ التَّشَكِّي وَالتَّسَخُّطِ وَالنَّفْسِ عَنِ الْجَزَعِ وَالْجَوَارِحِ عَنْ لَطْم الْخُدُودِ وَشَقِّ الْجُيُوبِ

Artinya, kemampuan seseorang untuk menahan lisan, mengendalikan diri (jiwa), serta menahan anggota tubuh dari memukul wajah dan merobek kerah baju (pakaian). (It-hafu al-’Uqul bi Syarhi Tsalati al-Ushul, asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri)

Penyebutan “memukul wajah dan merobek kerah baju (pakaian)” dalam definisi di atas, terkait dengan kebiasaan orang-orang Arab jahiliah (sebelum Islam datang) ketika ditimpa musibah kematian orang yang dicintai. Mereka menunjukkan perilaku memukul-mukul wajah dan merobek kerah baju. Ini dilakukan sebagai wujud kesedihan yang mendalam.

Berdasar definisi di atas, sabar memiliki tiga unsur pokok: pengendalian diri (jiwa), pengendalian lisan, dan pengendalian anggota tubuh. Kesabaran seseorang akan tecermin dari sejauh mana tingkat dan kemampuan dirinya melakukan pengendalian diri, lisan, dan anggota tubuhnya.

Seseorang belum dikatakan bersabar manakala tangan atau kakinya melakukan aksi perusakan saat dirinya emosi menghadapi ketidakpuasan. Dia melakukan tindakan agresif secara membabi buta. Seseorang belum juga dikatakan bersabar manakala dirinya ditimpa musibah lantas lisannya mengeluarkan kata-kata kekufuran atau kesyirikan, kata-kata tidak terpuji, umpatan atau sumpah serapah, caci maki, dan yang sejenis.

Seseorang juga belum bisa dikatakan bersabar saat dirinya didera musibah lantas jiwanya goncang dan hilang kontrol diri. Dia tidak bisa mengendalikan diri, dan justru menampakkan kemarahan dan sikap emosi. Lebih dari itu, dalam keadaan goncang, dirinya terjatuh pada perbuatan syirik atau bid’ah. Dirinya tak sabar menghadapi kesulitan hidup lantas mendatangi dan meminta-minta kepada yang ada di dalam kubur atau mendatangi dukun, wal ’iyadzu billah. Maka dari itu, seseorang bisa dikatakan bersabar manakala dirinya mampu mengendalikan dan mengontrol emosi, lisan, dan segenap anggota badannya saat menghadapi musibah atau situasi tidak menyenangkan yang menimpanya. Ia tetap dalam garis ketaatan seraya tawakal (berserah diri) dan memohon pertolongan-Nya.

Macam Kesabaran

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahumallah menyebutkan bahwa kesabaran itu meliputi tiga macam.

1. Bersabar dalam rangka menaati Allah Subhanahu wata’ala. Ini sebagaimana difirmankan Allah Subhanahu wata’ala,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ

“Perintahlah keluargamu untuk menegakkan shalat dan bersabarlah dalam menunaikannya.” (Thaha: 132)

Firman-Nya pula,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ تَنزِيلًا () فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ

“Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan al-Qur’an kepadamu secara bertahap, maka bersabarlah dalam menetapi hukum Rabb-mu.” (al-Insan: 23—24)

Sabar dalam menaati Allah Subhanahu wata’ala  ialah bentuk kesabaran merealisasikan perintah-perintah Allah Subhanahu wata’ala.

2. Bersabar dari berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala

Bentuk kesabaran ini sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Yusuf ‘Alaihissalam. Saat seorang wanita berkedudukan dan terpandang mengajaknya melakukan perbuatan maksiat, Nabi Yusuf ‘Alaihissalam justru menghindar. Nabi Yusuf ‘Alaihissalam bersabar (menahan) diri untuk tidak terseret pada perilaku durhaka. Dia memilih untuk mendekam dalam penjara daripada harus melakukan kedurhakaan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman mengungkapkan kisah itu,

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الْجَاهِلِينَ

“Yusuf berkata, ‘Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh’.” (Yusuf: 33)

3. Bersabar atas segala takdir Allah Subhanahu wata’ala.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِل لَّهُمْ

“Bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran para rasul yang memiliki keteguhan hati, dan janganlah engkau meminta agar azab disegerakan untuk mereka.” (al-Ahqaf: 35)

Termasuk kesabaran ini ialah kesabaran ketika menyampaikan risalah dan menghadapi berbagai gangguan yang dilancarkan oleh anggota masyarakat.

Ujian Hidup Pasti Ada

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ () الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ () أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu, orangorang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami akan kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Rabbnya (yaitu, Allah Subhanahu wata’ala) dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-Baqarah: 155—157)

Di dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wata’ala menegaskan bahwa setiap manusia akan mendapat ujian di dalam kehidupannya. Ujian tersebut bisa dalam bentuk gagal panen, kehilangan modal usaha (harta), kehilangan orang yang dicintai (kematian), atau hilangnya rasa aman (ketakutan), dan lainnya. Meski demikian, orang-orang yang beriman, akan menyikapi semua ujian hidup tersebut dengan penuh kesabaran. Orang yang beriman memiliki keyakinan bahwa musibah yang menimpanya akan memberikan kebaikan pada dirinya.

Betapa tidak, dengan musibah itu dia harus bersabar. Manakala dirinya bisa bersabar, maka Allah Subhanahu wata’ala akan memberikan pahala. Misal, seseorang yang diuji oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan rasa sakit. Jika dirinya bersabar dengan apa yang menimpanya, niscaya dia akan mendapat ganjaran. Dia akan mendapat ampunan, yaitu dosa-dosanya dihapus dan mendapat rahmat dari Allah Subhanahu wata’ala Dalam sebuah hadits dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَاهَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tiadalah seorang muslim yang ditimpa kepayahan, sakit (yang berkepanjangan/lama), kecemasan (gundah), kesedihan, kesakitan, dan dukacita hingga (ditimpa musibah) tertusuk duri, kecuali Allah l akan menghapuskan dosa-dosanya.” ( HR. al-Bukhari, no. 5642 dan Muslim, no. 52, 2573)

Demikianlah, ujian hidup itu pasti ada. Dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ  أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟  فَقَالَ: الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ رَقِيقَ الدِّينِ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ ذَاكَ، وَإِنْ كَانَ صُلْبَ الدِّينِ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ ذَاكَ. قَالَ: فَمَا تَزَالُ الْبَلَايَا بِالرَّجُلِ حَتَّى يَمْشِيَ فِي الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, siapakah manusia yang paling berat mendapat ujian?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallampun lantas menjawab, “Para nabi lalu yang semisal dengan mereka kemudian yang semisal dengan mereka. Seseorang akan mendapat ujian sesuai dengan keadaan agamanya. Jika agamanya kokoh, keras pula ujiannya. Bila keadaan agamanya lemah, ia akan diuji sebanding dengan keadaan agamanya. Ujian itu tak akan terlepas dari seseorang hingga dirinya berjalan di muka bumi dengan tanpa dosa.” ( HR. Ahmad, at-Tirmidzi, dan selainnya. Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah, no. 143)

Sabar Menghadapi Ujian dalam Dakwah

Saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berupaya mengembangkan dakwah ke wilayah Thaif, yang beliau temui bukanlah sambutan yang baik. Beliau bersama seorang sahabat mendapat cercaan, hinaan, dan kekerasan fisik. Beliau dilempari batu. Tubuh beliau yang mulia terluka. Dari wajah beliau mengucur darah. Mengajak manusia menuju kebaikan malah dibalas kejelekan.

Betapa kejahilan yang begitu akut telah melekat pada masyarakat Thaif kala itu. Kejahiliahan yang ada pada mereka sedemikian menggulita sehingga tak mampu mencerna isi ajakan yang disampaikan manusia pilihan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hati mereka buta dan tuli, tiada mampu membedakan kebaikan dan keburukan.

Meski demikian, Rasulullah n tetap bersabar. Lisan beliau terjaga, tidak membalas umpatan dan caci maki dengan yang semisal. Demikian pula anggota tubuh beliau tak membalas dengan balasan yang semisal. Jiwa beliau tetap kokoh, tak lantas goncang, dan berputus asa dari menebar kebaikan. Kesabaran terhunjam kukuh pada diri beliau. Abdullah bin Mas’ud z pernah bertutur bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bercerita,

“Ada seorang nabi dari kalangan nabi-nabi shalawatullah wa salamuhu ‘alaihim dipukul oleh kaumnya. Lantas mengucurlah darahnya. Nabi itu pun mengusap darah dari wajahnya seraya berdoa,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

‘Ya Allah, ampunilah kaumku. Sesungguhnya mereka tidak mengetahui.’ (HR. al-Bukhari, no. 3477 dan Muslim, no. 1792).”

Dikisahkan pula dari Abu Abdillah Khabbab bin al-Aratt radhiyallahu ‘anhu. Katanya,

أَتَيْنَا رَسُولَ اللهِ  وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً فِي ظِلِّ  الْكَعْبَةِ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ فَقُلْنَا: أَلَا تَسْتَنْصِرُ لَنَا أَلَا تَدْعُو اللهَ لَنَا؟ فَجَلَسَ مُحْمَرًّا وَجْهُهُ فَقَالَ قَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ يُؤْخَذُ الرَّجُلُ فَيُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُؤْتَى بِالْمِنْشَارِ فَيُجْعَلُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُجْعَلُ فِرْقَتَيْنِ مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ عَظْمِهِ مِنْ لَحْمٍ وَعَصَبٍ مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِه وَاللهِ لَيُتِمَّنَّ اللهُ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مَا بَيْنَ صَنْعَاءَ وَحَضْرَمُوتَ مَا يَخَافُ إِلَّا اللهَ تَعَالَى وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَعْجَلُونَ

“Kami mengeluh kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang kala itu tengah berbantal dengan kain burdahnya di bawah Ka’bah. Kami sampaikan, ‘Mengapa engkau tidak memintakan tolong dan mendoakan kami?’ Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Ada seorang laki-laki yang hidup sebelum kalian ditangkap dan ditanam di dalam tanah. Kemudian gergaji diletakkan di kepalanya sehingga terbelahlah kepala laki-laki itu menjadi dua. Dengan sisir dari besi, kepala itu pun disisir sehingga terkelupas daging dan tulangnya. Semua itu tak lantas memalingkan dirinya dari agamanya. Demi Allah, sungguh Allah Subhanahu wata’ala akan menyempurnakan perkara ini (Islam) hingga orang yang berkendara dari Shan’a ke Hadramaut tidak ada yang ditakuti kecuali hanya Allah Subhanahu wata’ala dan serigala yang mengancam kambingnya. Akan tetapi, kalian begitu tergesa-gesa’.” (HR. al-Bukhari, no. 2943, 3852)

Demikianlah ujian itu akan senantiasa ada. Telah menjadi tabiat dalam dakwah adanya beragam tantangan menghadang. Terkhusus, bagi para da’i yang menyerukan dakwah salafiyah. Beragam upaya untuk meruntuhkan sendi-sendi dakwah akan senantiasa dilakukan. Mulai dari upaya melakukan taqrib, upaya mendekatkan antarjamaah, hingga upaya pengaburan pemahaman dengan melalui berbagai media yang ada. Mereka bersinergi untuk mengoyak dakwah nan mulia ini. Mereka tuduh orang-orang yang bersikukuh di atas manhaj yang haq sebagai kelompok garis keras atau pernyataan yang semisal. Selama hawa nafsu mereka belum tercapai, mereka akan terus menggerogoti dakwah ini dengan berbagai syubhat dan syahwat. Nas’alullahu as-salamah (Kita memohon keselamatan kepada Allah Subhanahu wata’ala).

Terkait adanya ujian ini, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ () وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan ‘Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orangorang yang dusta.” (al-Ankabut: 2—3)

Dalam berbagai keadaan, kesabaran harus senantiasa ada. Saat menghadapi masalah, apabila tidak disertai kesabaran, niscaya akan bisa mengarah pada keadaan yang lebih buruk. Dengan sikap sabar, seseorang akan mampu mengendalikan diri dan mengambil tindakan yang lebih baik (dengan izin Allah Subhanahu wata’ala). Sikap sabar akan mengantarkan seseorang pada kebaikan. Disebutkan dari Abi Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Menakjubkan untuk urusan yang menimpa seorang mukmin. Sungguh, seluruh urusannya membawa kebaikan. Tidaklah yang demikian itu bisa diperoleh seseorang kecuali hanya oleh seorang mukmin. Jika dirinya mendapatkan kesenangan lantas bersyukur, sikap syukurnya itu membawa kebaikan baginya. Jika dirinya ditimpa musibah lantas bersabar, sikap sabarnya itu membawa kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Dengan sikap sabar seseorang bisa meraup pahala nan tak terkira. Wallahu a’lam.

 

Penulis: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Sumber: http://asysyariah.com/manhaji-meraih-pahala-dengan-bersabar/

Kehati-hatian dalam berdo’a

bismillah

Allah Subhanahu Wata’ala akan mengabulkan do’a bagi hambanya yang dikehendaki, dengan syarat hambanya seorang yang beriman dan patuh terhadap perintahnya,

Firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 186,

Al Baqarah 186

Al Baqarah 186

Artinya

‘Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.’ (QS.2:186)

dan firman Allah dalam surat Ghafir ayat 60, (surat Ghafir dikenal juga dengan nama surat Al Mukmin)

Ak Mukmin 60

Ghafir 60

Artinya:

‘Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina”.’ (QS.40:60)

Imam Hafizh Ibnu Hajar menuturkan bahwa Syaikh Taqiyuddin Subki berkata : Yang dimaksud doa dalam ayat di atas adalah doa yang bersifat permohonan, dan ayat berikutnya ‘an ‘ibaadatiy menunjukkan bahwa berdoa lebih khusus daripada beribadah, artinya barangsiapa sombong tidak mau beribadah, maka pasti sombong tidak mau berdoa.

Dari Nu’man bin Basyir bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Doa adalah ibadah”, kemudian beliau membaca ayat : “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu”. [Ghafir : 60].

Imam Hafizh Ibnu Hajar menuturkan bahwa Imam At-Thaibi berkata : Sebaiknya hadits Nu’man di atas difahami secara arti bahasa, artinya berdoa adalah memperlihatkan sikap berserah diri dan membutuhkan Allah, karena tidak dianjurkan ibadah melainkan untuk berserah diri dan tunduk kepada Pencipta serta merasa butuh kepada Allah. Oleh karena itu Allah mengakhiri ayat tersebut dengan firman-Nya : “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu”. Dalam ayat ini orang yang tidak mau tunduk dan berserah diri kepada Allah disebut orang-orang yang sombong, sehingga berdoa mempunyai keutamaan di dalam ibadah, dan ancaman bagi mereka yang tidak mau berdoa adalah hina dina. [Fathul Bari 11/98].

Berdoa umumnya mencakup semua kebaikan di dunia dan memalingkan semua keburukannya. Kebaikan di dunia itu mencakup semua yang didambakan dalam kehidupan dunia, seperti kesehatan, rumah yang luas, istri yang cantik, rezeki yang berlimpah, ilmu yang bermanfaat, amal saleh, kendaraan yang nyaman, sebutan atau jabatan yang tinggi, dan masih banyak lagi yang kesemuanya tercakup dalam pengertian kebaikan di dunia.

Adapun mengenai kebaikan di akhirat, yang paling utama adalah dimasukan kedalam Jannah Allah dan hal-hal yang berkaitan dengan segala kenikmatan Jannah, seperti rasa aman dan jauh dari rasa takut yang amat sangat besar di padang mahsyar, dimudahkan dalam proses hisab, dan harapan lainnya yang dapaknya baru akan dirasakan setelah ruh berpisah dengan raga.

Bila do’a adalah ibadah, maka tata cara berdoa sudah diatur Allah yang disampaikan Rasulillah Salallahu ‘alaihi wasalam.

Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 200-203

2_200 2_201 2_202

Artinya:

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”

Wallahu A’lam Bishawab

Parasit Malas

Malas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia

Definisi malas KBBI

Rasa malas sepertinya merupakan sejenis penyakit mental. Siapa pun yang dihinggapi parasit malas akan kacau kinerjanya dan ini jelas-jelas sangat merugikan. Seperti bibit ikan yang dihinggapi puluhan parasit trichodina ‘si ban truk’, sulit bergerak, susah bernafas, berdiam diri dipinggir-pinggir empang menanti kebinasaan.

a,b. Trichodina heterodentata: a, live, carp, Israel; silver impregnated, O. aureus x niloticus, Israel. c. Scanning electron microscopic (SEM) view of T. reticulata of goldfish. d,e. SEM view of O. aureus x niloticus gill infection with Tripartiella cichlidarum; f. same as d, in histology. Source: FAO.ORG

a,b. Trichodina heterodentata: a, live, carp, Israel; silver impregnated, O. aureus x niloticus, Israel. c. Scanning electron microscopic (SEM) view of T. reticulata of goldfish. d,e. SEM view of O. aureus x niloticus gill infection with Tripartiella cichlidarum; f. same as d, in histology.
Source: FAO.ORG

Sukses dalam karir, bisnis, dan kehidupan umumnya tidak pernah datang pada orang yang malas. Parasit malas juga menggambarkan hilangnya motivasi seseorang untuk melakukan pekerjaan atau apa yang sesungguhnya dia inginkan. Celakanya, bila parasit malas pesat menghinggapi anggota tim kerja lainnya, maka akan rusak tatanan kerja dan akan menurunkan kinerja tim. Bagaimana bisa stakeholder yang malas dalam budidaya perikanan mengidentifikasi serangan parasit trichodina apabila parasit malas dalam dirinya dianggap hal biasa?

Menurut (Edy Zaqeus: 2008) Rasa malas diartikan sebagai keengganan seseorang untuk melakukan sesuatu yang seharusnya atau sebaiknya dia lakukan. Masuk dalam keluarga besar rasa malas adalah menolak tugas, tidak disiplin, tidak tekun, rasa sungkan, suka menunda sesuatu, mengalihkan diri dari kewajiban, bersembunyi dari pimpinan (khawatir diberi tugas atau diberi teguran) dan lain sebagainya.

Pendapat lain menyebutkan bahwa malas juga merupakan salah satu bentuk perilaku negatif yang merugikan. Pasalnya pengaruh malas ini cukup besar terhadap produktivitas.
Dalam meraih kesuksesan harus bertekad bersungguh-sungguh dalam mewujudkannya karena bersakit-sakit dahulu bersenang senang kemudian, jadi berusaha harus bersusah payah dahulu sebelum dapat meraih kesuksesan dan menggapai tujuan yang diharapkan.Semua itu tidak akan dapat dicapai hanya dengan bermalas-malasan dan duduk manis berpangku tangan, tetapi dengan usaha keras untuk meraihnya dan mewujudkannya menjadi sebuah kenyataan.
lezy fish 1
Beberapa nasehat yang mungkin membantu mengusir rasa malas,
“Seseorang yang membaca terlalu banyak dan menggunakan otaknya terlalu sedikit akan menjadi kebiasaan malas untuk berpikir.” (Albert Einstein)
“Menyalahkan adalah cara orang malas untuk menciptakan kekacauan.”
“Orang malas cenderung tidak mengambil peluang, tapi mengekspresikan diri dengan menghancurkan pekerjaan lain.”
“Terbitkan suatu ambisi untuk tidak memiliki rasa ingin malas”
“Intermittent adalah perisai orang malas yang tidak tahu lagi cara berfikir positif”
“Saya seorang pemalas. Karenanya saya menemukan roda dan menciptakan sepeda, dengannya mereka tidak seperti berjalan atau membawa sesuatu.”
dolphin-leaping-out-of-water-doing-an-aerial-loop