Posts from the ‘Cahaya Hati’ Category

ETIKA BUDIDAYA PERAIRAN

Panduan Pembudidaya Pemula

(Sukses Budidaya Perikanan dalam Kolam Nurani dan Ilmu)

Oleh: Agus Chandra, S.Pi

(Pengurus FORKOMNAS P2MKP)

do_fish_feel_pain1

PENDAHULUAN

Seiring dengan program pemerintah untuk meningkatkan jumlah penggiat usaha dibidang perikanan di Indonesia, maka muncul ribuan wirausaha baru bidang perikanan, khususnya dibidang Perikanan budidaya. Masyarakat yang sebelumnya berprofesi bukan “tukang ikan”, setelah berlatih beberapa  hari  di P2MKP (Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan) yaitu lembaga pelatihan yang dimiliki dan dikelola oleh para pelaku usaha yang mau berbagi pengetahuan dan ketrampilan dalam usaha dibidang perikanan, Peserta pelatihan menjelma menjadi “wirausahawan baru sebagai pembudidaya”.  Ada  yang tidak berhasil  dan kembali pada profesi semula atau tetap menganggur setelah mengikuti pelatihan, namun tidak sedikit yang berhasil dan sukses dengan menerapkan hasil pelatihan telah   meningkatkan produksi usahanya, menambah karyawan atau banyak yang  mulai merintis usaha dibidang budidaya yang sebelumnya tidak pernah terpikir untuk menjadi seorang wirausaha dibidang perikanan.

Perikanan Indonesia ini akan maju pesat melalui program pelatihan di P2MKP, Pembudidaya memang adalah ujung tombak perikanan budidaya, untuk itu tumbuhnya pembudidaya baru yang handal sangat diharapkan.

 Kegiatan budidaya khususnya dibidang perikanan merupakan kegiatan usaha yang sangat  komplek masalah. Menurut penulis, masalah terbesar wirausahawan dibidang budidaya perikanan bukan hanya terletak pada ketersediaan lahan,  dana (modal) dan ilmu saja, namun jauh lebih penting adalah pada kesiapan mental dan spritual  pelaku/ pembudidaya itu sendiri. Tak terhitung berapa banyak pembudidaya ikan tergolong besar di negeri ini yang tutup kolam dan gulung terpal, padahal sudah mengeluarkan banyak modal dan tingkat pengetahuan (ilmu) tentang teknik budidaya cukup mumpuni.  Namun sebaliknya, tidak sedikit pembudidaya kecil dipelosok negeri yang tetap eksis dan tetap tersenyum ketika harga pakan pabrikan melonjak naik. Kenapa bisa begini? Hasil pengamatan dan diskusi dengan beberapa pembudidaya dilapangan, dapat disimpulkan bahwa  pembudidaya kecil nan eksis tadi sudah menjalankan usaha budidaya ikan dengan menggabungkan antara Hati, Nurani dan ilmu serta keuletan yang tinggi.

Apakah pembudidaya seperti diatas bisa dilahirkan atau ditumbuhkan? Bukan suatu yang mustahil. Salah satu upayanya adalah disamping memberikan  ilmu tentang teknik budidaya yang tepat, peserta latih (pembudidaya) harus dibekali dengan pengetahuan dasar atau konsep berpikir yang dalam mengarah pada spiritualitas tentang usaha yang dikelola.

Berdasarkan studi pustaka, pengalaman dilapangan, diskusi dan berbagi pengetahuan  dengan beberapa pembudidaya yang berhasil serta peneliti dan perekayasa perikanan budidaya, akhirnya penulis dapat menuangkan tulisan dalam artikel berjudul “Etika budidaya ikan” yang kiranya dapat menjadi bahan pembelajaran bagi pembudidaya pemula.

Panduan ini disajikan dalam bahasa yang sederhana, mudah dipahami dengan harapan dapat mengurangi kegagalan-kegagalan dalam usaha yang baru mulai dijalani oleh para pembaca. Artikel ini masih jauh dari sempurna, kritik dan saran pembaca sangat penulis harapkan.

 

Tujuan

  1. Pembudidaya baru tidak mengalami kegagalan serupa yang pernah dialami oleh para pembudidaya sebelumnya.
  2. Pembudidaya dapat memahami karakteristik lingkungan dan potensi yang dapat dikembangkan.
  3. Mengajak pembudidaya perairan untuk kreatif berpikir dan berkarya
  4. Membentuk mental dan spiritual pembudidaya yang tangguh

URAIAN

Etika berasal dari bahasa yunani yaitu “Ethos” yang berarti adat istiadat atau kebiasaan. Ada tiga teori mengenai pengertian etika, yaitu: etika Deontologi, etika Teologi, dan etika Keutamaan. Etika Deontologi adalah suatu tindakan di nilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. Etika Teologi adalah baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan atau akibat suatu tindakan. Sedangkan Etika keutamaan adalah mengutamakan pengembangan karakter moral pada diri setiap orang

 Apa itu BUDIDAYA?

Kata budidaya dalam beberapa literatur diterjemahkan berbeda-beda, namun mengandung makna yang hampir sama yaitu: Usaha yang bermanfaat dan memberikan hasil, dengan menggunakan suatu sistem untuk memproduksi dibawah kondisi buatan.

Budidaya perikanan umumnya disebut budidaya perairan atau akuakultur, mengingat organisme air yang dibudidayakan bukan hanya dari jenis ikan saja, tetapi organisme air lainnya seperti kerang-kerangan (Bivalve), udang (Crustacea) dan tumbuhan air (Hidrophytic). Istilah akuakultur diambil dari bahasa Inggris yaitu aquaculture.

Menurut Bardach dkk., Akuakultur merupakan upaya produksi biota atau organisme perairan melalui penerapan teknik domestikasi (membuat kondisi lingkungan yang mirip dengan habitat asli organisme yang dibudidayakan),  penumbuhan hingga pengelolaan usaha yang berorientasi ekonomi. Namun terlepas dari arti budidaya yang sudah ada, mari kita mencoba kaji lebih dalam makna BUDIDAYA. Bila kata budidaya dipenggal (BUDI –  DAYA) maka akan didapat dua kata mengandung makna yang masing-masing berdiri sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, BUDI adalah alat batin yg merupakan paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk. Sedangkan DAYA adalah kemampuan melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak. Kalau digabungkan makna dari dua kata tersebut, berarti BUDIDAYA adalah Paduan Akal dan Perasaan (naluri) serta tenaga untuk menciptakan suatu kegiatan yang bermanfaat/menguntungkan.

Menyikapi makna Budidaya diatas berarti seorang pembudidaya disamping memiliki bekal ilmu dan pengetahuan tentang teknik budidaya yang baik juga harus membekali diri dengan perasaan dan naluri yang baik pula.

Dengan naluri yang baik pembudidaya diharapkan dapat kreatif mengatasi masalah di lapangan, diantaranya kreatif mengatasi masalah pakan, penanggulangan penyakit, pemilihan induk dan bibit yang baik (unggul), menentukan jadwal panen dan sampai kepada yang paling utama manajemen kualitas air.

Untuk mengasah ketajaman naluri pembudidaya dapat melalui tuntunan dengan metode mengenal lebih dekat tentang Air sebagai media utama dan biota yang dibudidayakan, dengan kata lain pembudidaya harus “bersatu” dengan air dan organisme yang dipeliharanya. Upaya untuk menimbulkan naluri budidaya yang baik dapat melalui jalan yang akan dijabarkan dibawah ini.

Air adalah Mahluk Hidup?

Profesor Masaru Emoto, seorang peneliti dari Hado Institute di Tokyo, Jepang pada tahun 2003 melalui penelitiannya mengungkapkan suatu keanehan pada sifat air. Melalui pengamatannya terhadap lebih dari dua ribu contoh foto kristal air yang dikumpulkannya dari berbagai penjuru dunia, Emoto menemukan bahwa partikel molekul air ternyata bisa berubah-ubah tergantung perasaan manusia disekelilingnya, yang secara tidak langsung mengisyaratkan pengaruh perasaan terhadap klasterisasi molekul air yang terbentuk oleh adanya ikatan hidrogen.

Dr. Emoto berkeliling dunia melakukan percobaan dengan air di Swiss, Berlin, Prancis, Palestina, dan ia kemudian diundang ke Markas Besar PBB di New York untuk mempresentasikan temuannya pada bulan Maret 2005. Ternyata air bisa “mendengar” kata-kata, bisa “membaca” tulisan, dan bisa “mengerti” pesan. Dalam bukunya The Hidden Message in Water, Dr. Masaru Emoto menguraikan bahwa air bersifat bisa merekam pesan, seperti pita magnetik atau compact disk. Emoto juga menemukan bahwa partikel kristal air terlihat menjadi “indah” dan “mengagumkan” apabila mendapat reaksi positif disekitarnya, misalnya dengan kegembiraan dan kebahagiaan.

Namun partikel kristal air terlihat menjadi “buruk” dan “tidak sedap dipandang mata” apabila mendapat efek negatif disekitarnya, seperti kesedihan dan bencana. Lebih dari dua ribu buah foto kristal air terdapat didalam buku Message from Water (Pesan dari Air) yang dipajangnya sebagai pembuktian kesimpulannya, sehingga hal ini berpeluang menjadi suatu terobosan dalam meyakini kebesaran keajaiban alam. Emoto menyimpulkan bahwa partikel air dapat dipengaruhi oleh suara musik, doa-doa dan kata-kata yang ditulis dan dicelupkan kedalam air tersebut.

Dr. Masaru Emoto memang tidak secara langsung menyebutkan bahwa air adalah mahkluk atau benda hidup, namun paling tidak pesan yang diungkap Emoto menggambarkan bahwa air adalah benda atau mahluk hidup yang membutuhkan perlakukan atau adab khusus. Sebenarnya secara tidak langsung pula Emoto telah mengungkapkan kebenaran  keterangan dalam Al-Quran : “……Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup” (Q.S. Al Anbiya:30)

 Berkaitan dengan budidaya, informasi tentang air ini jelas sangat penting untuk diketahui dan dipahami oleh pembudidaya. Seorang pembudidaya harus benar-benar bisa “bersatu” dengan air sebagai media usahanya. Air mempunyai “hak” untuk menerima atau tidak biota (ikan) dimasukkan dalam “dirinya”. Maka dari itu pembudidaya harus memperlakukan air dengan benar sesuai dengan kaidah budidaya yang baik (menjaga kualitas air), dan juga yang tak kalah penting “meminta izin” dan “berharaplah” terhadap air dengan baik, berdoa menurut Agama dan kepercayaan masing-masing setiap melakukan aktifitas di air/kolam.

Sebagai ilustrasi, beberapa kali penulis bertandang kebeberapa pesantren yang kebetulan ada kolam ikan, terutama di Jawa Barat. Bila diperhatikan ikan yang dipelihara di kolam-kolam tersebut tumbuh relatif cepat, sehat dan berkembang dengan baik walau tidak dipelihara secara intensif. Bila ditanya pada pimpinan pesantren atau pengelola kolam tersebut ikannya dikasih pakan apa? Pasti mereka akan menjawab dikasih “seaya-aya” atau “seadanya” (bahasa Sunda), padahal sepanjang sepengetahuan penulis, belum pernah ada pellet bermerk “seaya-aya”. Kenapa ini bisa terjadi?  Bisa jadi salah satu faktornya karena ditempat tersebut tak henti dibacakan ayat Suci, Shalawat dan Doa, sehingga berpengaruh pada kenyamanan air yang selanjutnya dapat memberikan dampak positif terhadap makhluk yang ada didalamnya.

 Bersatu dengan Ikan

Pepatah mengatakan semakin banyak yang kita tahu maka akan semakin banyak pula yang kita tidak tahu. Kita mengenal banyak sekali jenis ikan, bilamana seseorang menyebut ikan lele misalnya, maka yang ada dibenak kita terbayang seekor ikan berbentuk panjang agak bulat pipih, mempunyai kumis dan bertubuh licin tanpa sisik. Namun berapa banyak diantara kita yang tahu sejarah, cara bertahan hidup dan berkembang biak, makanan asli dan lain sebagainya dari lele tersebut? Padahal info dasar tentang biota yang akan dipelihara ini merupakan modal utama demi suksesnya budidaya. Pembudidaya harus paham betul dengan sifat dan karakteristik mahluk/ biota yang sudah menjadi tanggung jawabnya untuk memelihara dan mengasuh demi mendapatkan hasil yang diharapkan.

Beberapa faktor yang harus diketahui pembudidaya sebagai upaya mempersatukan diri terhadap organisme yang dibudidayakan;

  1. Karakteristik dan Tingkah laku

Sebagian besar ikan yang saat ini dibudidayakan di Indonesia adalah ikan introduksi (bukan asli Indonesia), yang sudah beradaptasi (menyesuaikan diri) dengan perairan Indonesia sesuai dengan sifat dan kebutuhan hidupnya. Beberapa jenis ikan introduksi diantaranya Lele Dumbo (Clarias sp.), Nila (Oreochromis sp.), dan Mas (Cyprinus carpio).

Masing-masing jenis ikan berasal dan membutuhkan perairan yang berbeda, hal ini sesuai dengan daya dukung organ ikan tersebut. Pembudidaya diharapkan mendapatkan info pasti tentang habitat atau cara hidup dilingkungan aslinya, hal ini berkaitan dengan karakteristik dan tingkah laku yang menentukan manipulasi lingkungan yang akan dilakukan. Sebagai contoh, lele di habitat aslinya hidup diperairan yang keruh/berlumpur, artinya lele tidak/kurang cocok dipelihara di air yang bening, begitu sebaliknya dengan ikan Mas yang tidak cocok di air yang keruh/berlumpur.

Sifat dan tingkah laku lainnya, ada ikan yang aktif dimalam hari dan ada yang siang hari. Tingkah laku waktu aktifitas ikan tersebut tentu berpengaruh pada pola makan. Ikan yang aktif dimalam hari mencari atau membutuhkan makan lebih banyak di malam hari. Dengan demikian pembudidaya harus lebih banyak memberi makan pada malam hari, begitu juga sebaliknya.

Tak sedikit pembudidaya pemula mengalami kegagalan menjalankan usahanya gara-gara tidak memahami karakter ikan yang dibudidayakan. Pembudidaya yang berhasil umumnya sudah sangat mengenal tingkah laku biota/ ikan yang dipeliharanya, dengan kata lain jiwanya seakan sudah “menyatu” dengan ikan tersebut. Apabila rasa bersatu itu sudah didapat, maka lambat laun pembudidaya sudah bisa mengatasi permasalahan yang ada pada biota yang dipeliharanya, misalnya soal penyakit dan obatnya, pakan “kesukaan” si ikan dan lain sebagainya termasuk tingkah laku ikan ketika ingin memijah.

Contoh, pembudidaya ikan gurame yang cukup terkenal dan berhasil salah satunya H. Suryadi yang juga pengelola P2MKP di Bogor. Beliau sudah berpuluh tahun menggeluti usaha budidaya ikan gurame. Menurut penuturannya, pada awal memulai usaha dirinya hampir tiap waktu “bergaul” dan mengamati tingkah pola gurame, sampai Suryadi  sangat hapal apa maunya ikan pilihan budidayanya itu. “Kalau mau pelihara ikan atau binatang lainnya lebih bagus dimulai dari hobi, harus ditumbuhkan rasa sayang dan cinta kepada apa yang kita pelihara, artinya seorang pembudidaya harus  memulai dari sini,” kata Suryadi sambil menunjuk dada sebelah kirinya.

Hal senada dijelaskan oleh salah seorang peneliti senior Perikanan Budidaya di Badan Penelitian dan Pengembangan Perikanan KKP, Sidi Asih. Peneliti yang kerap meneliti ikan endemik (ikan asli Indonesia) yang masih liar untuk dijadikan ikan budidaya ini, mengatakan bahwa selain penguasaan ilmu dan teknologi, kunci keberhasilan domestikasi dan budidaya adalah penggunaan naluri dan hati, berupa kasih sayang dan penuh perhatian yang terus-menerus atau dari generasi ke generasi berikutnya sepanjang waktu.

Lebih jauh Sidi Asih menjelaskan, pada prinsipnya biota budidaya harus diperlakukan sedemikian rupa sehingga tercipta suasana nyaman dan aman diluar habitat aslinya (eksitu). Salah satu contoh bentuk menciptakan rasa aman dan nyaman tersebut ketika akan memegang ikan, seorang pembudidaya harus terlebih dahulu mencelupkan tangan dalam air tempat ikan tersebut berada. Tujuan dari perlakuan ini untuk berusaha menyamakan suhu tangan terhadap suhu badan ikan, sehingga ikan tidak stress dan nyaman bila dipegang.

“Terlebih pada induk ikan yang siap pijah, pembudidaya harus menanam pemikiran bahwa didalam perut ikan tersebut terdapat ribuan telur yang sangat sensitif terhadap perlakuan yang kasar. Mulai dari cara menangkap, memegang, meletakkan, dan sebagainya harus menggunakan perasaan yang halus. Artinya kita harus sadar bahwa ikan adalah mahluk hidup yang peka sehingga kita harus menjadi pelindung sekaligus pengasuh,” jelas Sidi Asih, yang telah berhasil memijahkan ikan-ikan liar Indonesia diantaranya Ikan Tangadak, Kalabo dan Torsoro.

 

  1. Pakan dan Pola Makan

Semua mahkluk hidup sudah dijamin rizkinya oleh sang Pencipta, keterangan ini harus diyakini bahwa benar adanya. Bagaimana dalam konteks budidaya? Bukankah mahluk hidup tersebut dibatasi ruang gerak dalam mencari rizkinya,  “dikurung” dengan sengaja oleh manusia/ pembudidaya? Sudah menjadi resiko, Tentu pembudidaya harus ikut bertanggung jawab menyediakan makanan yang sesuai dengan keperluan ikan yang dipelihara.

Dalam memberi pakan yang tepat tentu harus kembali ke pengetahuan dan naluri dasar pembudidaya, sebab masing-masing jenis ikan memiliki sifat menentukan  makanan yang berbeda, terbagi dalam tiga golongan, yaitu herbivora (pemakan tumbuhan), karnivora (pemakan daging) dan omnivora (pemakan segala). Begitu juga dalam kategori pakan, ada makanan utama dan ada makanan bersifat pelengkap.

Seorang pembudidaya ikan yang sudah menggunakan naluri dalam budidaya tidak akan pernah panik ketika harga pakan pabrikan (pellet) merembet naik. Sebab pembudidaya tersebut sadar betul, jauh sebelum pellet ada, ikan sudah ada dimuka bumi ini, dan hidup normal serta berkembang dengan sangat baik di habitatnya. Disinilah daya pikir dan naluri pembudidaya harus diasah, mencoba menempatkan diri sendiri pada ikan yang dipelihara, “andaikan aku jadi lele, aku pilih pellet apa maggot atau keong?” atau ”andai aku jadi gurame, aku pilih pellet apa daun sente?”.

Dengan mengetahui sifat, pola dan jenis makanan yang dibutuhkan oleh ikan yang akan dipelihara, paling tidak sebelum pembudidaya bertanya pada ahli atau pedagang pakan tentang jenis makanan yang cocok buat ikannya, terlebih dahulu hendaknya mulailah belajar untuk ”bertanya” pada ikan itu sendiri, apa sesungguhnya makanan kesukaannya?.

Bila hal ini sudah diketahui, mulailah kreatif menciptakan pakan yang sesuai dengan keinginan ikan yang dipelihara, perhatikan lingkungan seputar kita, apa yang bisa menjadi sumber makanan ikan, karena pada prinsipnya alam sudah menyediakan makanan tersebut, lengkapi pengetahuan dengan menyaring banyak info, yang tentunya juga harus mempertimbangkan banyak aspek, terutama dampak dari terciptanya hasil kreatifitas tersebut, yaitu kesehatan terhadap ikan, air dan manusia yang mengkonsumsinya.

Saat ini sudah ada pembudidaya yang kreatif menciptakan pakan sendiri, ada yang sifatnya hanya menekan penggunaan pellet pabrikan bahkan ada yang sama sekali sudah tidak menggunakan pakan pabrikan. Beberapa instansi pemerintah dibawah kementerian Kelautan dan Perikanan dan Dinas Perikanan Propinsi dan Kabupaten juga gencar memberikan bantuan berupa mesin pakan dan ilmu cara meramu pakan dengan memanfaatkan sumber daya alam lokal. Dengan harapan upaya ini bisa menekan biaya produksi budidaya dan menaikkan pendapatan pembudidaya menuju kehidupan yang makmur.

Dalam pemberian pakan harus memperhatikan beberapa hal, yaitu:

  1. Tepat ukuran,
  2. Tepat Kandungan
  3. Tepat takaran,
  4. Tepat waktu
  5. Tepat cara penyajian.

Pengertian dari tepat cara penyajian yaitu bagaimana seorang pemberi pakan menciptakan suasana nyaman pada ikan ketika memberikan makanan, sehingga ikan merasa dekat, tanpa ada rasa takut bahkan sebaliknya menjadi jinak. Menurut Sidi Asih, ikan yang jinak memberikan kecenderungan efisiensi  pakan lebih baik, sehingga pertumbuhannya optimal, hal ini karena energi yang digunakan untuk memperoleh pakan tidak besar.

Sebaiknya sebelum dikasih pakan, ikan dibiasakan untuk berkumpul terlebih dahulu di area tempat pemberian pakan dengan cara pemberian kode, misalnya dengan menepuk air atau memberi nada tertentu. Metode seperti ini juga bermanfaat untuk menciptakan rasa adil pada ikan dalam memperoleh jatah pakannya, dengan kata lain pemerataan dengan harapan semua ikan mendapat asupan yang sama dan pada akhirnya ikan akan tumbuh seragam.

  1. Induk dan Benih Unggul

Salah satu faktor penentu keberhasilan dalam budidaya adalah pemakaian  induk dan benih unggul. Unggul adalah mempunyai sifat yang istimewa seperti laju pertumbuhan yang cepat, dan relatif tahan terhadap penyakit. Dalam sektor perbenihan keberadaan induk unggul sangat menentukan hasil, pembudidaya tentu berharap induk yang digunakan mengandung telur yang banyak dan berkualitas baik sehingga tingkat kelangsungan hidup (survival rate) benih  tinggi.

Dalam usaha pembesaran juga demikian, hendaknya seorang pembudidaya mengetahui sumber dan keunggulan benih sebelum dimasukkan dalam wadah pembesaran. Artinya pembudidaya harus membiasakan diri bertanya tentang asal usul benih, mengetahui dengan pasti “bapak-ibu” benih yang akan dibeli. Hal ini untuk menghindari benih yang didapatkan tersebut hasil inbreeding atau kawin sedarah. Karena benih inbreeding cenderung berpengaruh pada laju pertumbuhan  dan rentan terhadap penyakit. Untuk itu pembudidaya hendaknya mendapatkan benih dari sumber atau pembenih yang memang paham dan menjaga kualitas benih.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah bahwa keunggulan satu jenis atau varietas ikan tertentu akan lebih berpengaruh positif bila ditunjang oleh lingkungan yang sesuai. Ahli Genetik Ikan Institut Pertanian Bogor, Alimuddin, mengatakan saat ini belum ada satu jenis ikan yang cocok untuk semua daerah di Indonesia. Maka dari itu menyikapi banyaknya jenis lele yang sekarang beredar di masyarakat,  Alimuddin menganggapnya ini sebuah fenomena yang wajar, karena karakter alam setiap daerah di Indonesia berbeda-beda, sementara belum ada data atau bukti laporan yang menyebutkan satu varietas lele bagus dibudidayakan disemua lingkungan.

Bogor, Januari 2015

Sumber : ETIKA BUDIDAYA PERAIRAN

Imam Ahmad Bin Hambal (164 – 241)

kitab-musnad-imam-ahmad-2-0-s-307x512
Nama dan Nasab :
Kunyah beliau Abu Abdillah, namanya Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad Al Marwazi Al Baghdadi. Ayah beliau seorang komandan pasukan di Khurasan di bawah kendali Dinasti Abbasiyah. Kakeknya mantan Gubernur Sarkhas di masa Dinasti Bani Umayyah, dan di masa Dinasti Abbasiyah menjadi da’i yang kritis.
Kelahiran Beliau :
Beliau dilahirkan di kota Baghdad pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 164 Hijriyah. Beliau tumbuh besar di bawah asuhan kasih sayang ibunya, karena bapaknya meninggal dunia saat beliau masih berumur belia, tiga tahun. Meski beliau anak yatim, namun ibunya dengan sabar dan ulet memperhatian pendidikannya hingga beliau menjadi anak yang sangat cinta kepada ilmu dan ulama karena itulah beliau kerap menghadiri majlis ilmu di kota kelahirannya.Awal mula Menuntut Ilmu
Ilmu yang pertama kali dikuasai adalah Al Qur’an hingga beliau hafal pada usia 15 tahun, beliau juga mahir baca-tulis dengan sempurna hingga dikenal sebagai orang yang terindah tulisannya. Lalu beliau mulai konsentrasi belajar ilmu hadits di awal umur 15 tahun itu pula.

Keadaan fisik beliau :
Muhammad bin ‘Abbas An-Nahwi bercerita, Saya pernah melihat Imam Ahmad bin Hambal, ternyata Badan beliau tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, wajahnya tampan, di jenggotnya masih ada yang hitam. Beliau senang berpakaian tebal, berwarna putih dan bersorban serta memakai kain.
Yang lain mengatakan, “Kulitnya berwarna coklat (sawo matang)”

Keluarga beliau :
Beliau menikah pada umur 40 tahun dan mendapatkan keberkahan yang melimpah. Beliau melahirkan dari istri-istrinya anak-anak yang shalih, yang mewarisi ilmunya, seperti Abdullah dan Shalih. Bahkan keduanya sangat banyak meriwayatkan ilmu dari bapaknya.

Kecerdasan beliau :
Putranya yang bernama Shalih mengatakan, Ayahku pernah bercerita, “Husyaim meninggal dunia saat saya berusia dua puluh tahun, kala itu saya telah hafal apa yang kudengar darinya”.

Abdullah, putranya yang lain mengatakan, Ayahku pernah menyuruhku, “Ambillah kitab mushannaf Waki’ mana saja yang kamu kehendaki, lalu tanyakanlah yang kamu mau tentang matan nanti kuberitahu sanadnya, atau sebaliknya, kamu tanya tentang sanadnya nanti kuberitahu matannya”.

Abu Zur’ah pernah ditanya, “Wahai Abu Zur’ah, siapakah yang lebih kuat hafalannya? Anda atau Imam Ahmad bin Hambal?” Beliau menjawab, “Ahmad”. Beliau masih ditanya, “Bagaimana Anda tahu?” beliau menjawab, “Saya mendapati di bagian depan kitabnya tidak tercantum nama-nama perawi, karena beliau hafal nama-nama perawi tersebut, sedangkan saya tidak mampu melakukannya”. Abu Zur’ah mengatakan, “Imam Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits”.

Pujian Ulama terhadap beliau :

Abu Ja’far mengatakan, “Ahmad bin Hambal manusia yang sangat pemalu, sangat mulia dan sangat baik pergaulannya serta adabnya, banyak berfikir, tidak terdengar darinya kecuali mudzakarah hadits dan menyebut orang-orang shalih dengan penuh hormat dan tenang serta dengan ungkapan yang indah. Bila berjumpa dengan manusia, maka ia sangat ceria dan menghadapkan wajahnya kepadanya. Beliau sangat rendah hati terhadap guru-gurunya serta menghormatinya”.Imam Asy-Syafi’i berkata, “Ahmad bin Hambal imam dalam delapan hal, Imam dalam hadits, Imam dalam Fiqih, Imam dalam bahasa, Imam dalam Al Qur’an, Imam dalam kefaqiran, Imam dalam kezuhudan, Imam dalam wara’ dan Imam dalam Sunnah”.

Ibrahim Al Harbi memujinya, “Saya melihat Abu Abdillah Ahmad bin Hambal seolah Allah gabungkan padanya ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan dari berbagai disiplin ilmu”.

Kezuhudannya :
Beliau memakai peci yang dijahit sendiri. Dan kadang beliau keluar ke tempat kerja membawa kampak untuk bekerja dengan tangannya. Kadang juga beliau pergi ke warung membeli seikat kayu bakar dan barang lainnya lalu membawa dengan tangannya sendiri. Al Maimuni pernah berujar, “Rumah Abu Abdillah Ahmad bin Hambal sempit dan kecil”.

Tekunnya dalam ibadah
Abdullah bin Ahmad berkata, “Bapakku mengerjakan shalat dalam sehari-semalam tiga ratus raka’at, setelah beliau sakit dan tidak mampu mengerjakan shalat seperti itu, beliau mengerjakan shalat seratus lima puluh raka’at.

Wara’ dan menjaga harga diri
Abu Isma’il At-Tirmidzi mengatakan, “Datang seorang lelaki membawa uang sebanyak sepuluh ribu (dirham) untuk beliau, namun beliau menolaknya”. Ada juga yang mengatakan, “Ada seseorang memberikan lima ratus dinar kepada Imam Ahmad namun beliau tidak mau menerimanya”. Juga pernah ada yang memberi tiga ribu dinar, namun beliau juga tidak mau menerimanya.

Tawadhu’ dengan kebaikannya :
Yahya bin Ma’in berkata, “Saya tidak pernah melihat orang yang seperti Imam Ahmad bin Hambal, saya berteman dengannya selama lima puluh tahun dan tidak pernah menjumpai dia membanggakan sedikitpun kebaikan yang ada padanya kepada kami”.

Beliau (Imam Ahmad) mengatakan, “Saya ingin bersembunyi di lembah Makkah hingga saya tidak dikenal, saya diuji dengan popularitas”.

Al Marrudzi berkata, “Saya belum pernah melihat orang fakir di suatu majlis yang lebih mulia kecuali di majlis Imam Ahmad, beliau perhatian terhadap orang fakir dan agak kurang perhatiannya terhadap ahli dunia (orang kaya), beliau bijak dan tidak tergesa-gesa terhadap orang fakir. Beliau sangat rendah hati, begitu tinggi ketenangannya dan sangat memuka kharismanya”.

Beliau pernah bermuka masam karena ada seseorang yang memujinya dengan mengatakan, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas jasamu kepada Islam?” beliau mengatakan, “Jangan begitu tetapi katakanlah, semoga Allah membalas kebaikan terhadap Islam atas jasanya kepadaku, siapa saya dan apa (jasa) saya?!”

Sabar dalam menuntut ilmu
Tatkala beliau pulang dari tempat Abdurrazzaq yang berada di Yaman, ada seseorang yang melihatnya di Makkah dalam keadaan sangat letih dan capai. Lalu ia mengajak bicara, maka Imam Ahmad mengatakan, “Ini lebih ringan dibandingkan faidah yang saya dapatkan dari Abdirrazzak”.

Hati-hati dalam berfatwa :
Zakariya bin Yahya pernah bertanya kepada beliau, “Berapa hadits yang harus dikuasai oleh seseorang hingga bisa menjadi mufti? Apakah cukup seratus ribu hadits? Beliau menjawab, “Tidak cukup”. Hingga akhirnya ia berkata, “Apakah cukup lima ratus ribu hadits?” beliau menjawab. “Saya harap demikian”.

Kelurusan aqidahnya sebagai standar kebenaran
Ahmad bin Ibrahim Ad-Dauruqi mengatakan, “Siapa saja yang kamu ketahui mencela Imam Ahmad maka ragukanlah agamanya”. Sufyan bin Waki’ juga berkata, “Ahmad di sisi kami adalah cobaan, barangsiapa mencela beliau maka dia adalah orang fasik”.

Masa Fitnah :
Pemahaman Jahmiyyah belum berani terang-terangan pada masa khilafah Al Mahdi, Ar-Rasyid dan Al Amin, bahkan Ar-Rasyid pernah mengancam akan membunuh Bisyr bin Ghiyats Al Marisi yang mengatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluq. Namun dia terus bersembunyi di masa khilafah Ar-Rasyid, baru setelah beliau wafat, dia menampakkan kebid’ahannya dan menyeru manusia kepada kesesatan ini.

Di masa khilafah Al Ma’mun, orang-orang jahmiyyah berhasil menjadikan paham jahmiyyah sebagai ajaran resmi negara, di antara ajarannya adalah menyatakan bahwa Al Qur’an makhluk. Lalu penguasa pun memaksa seluruh rakyatnya untuk mengatakan bahwa Al Qur’an makhluk, terutama para ulamanya.

Barangsiapa mau menuruti dan tunduk kepada ajaran ini, maka dia selamat dari siksaan dan penderitaan. Bagi yang menolak dan bersikukuh dengan mengatakan bahwa Al Qur’an Kalamullah bukan makhluk maka dia akan mencicipi cambukan dan pukulan serta kurungan penjara.

Karena beratnya siksaan dan parahnya penderitaan banyak ulama yang tidak kuat menahannya yang akhirnya mengucapkan apa yang dituntut oleh penguasa zhalim meski cuma dalam lisan saja. Banyak yang membisiki Imam Ahmad bin Hambal untuk menyembunyikan keyakinannya agar selamat dari segala siksaan dan penderitaan, namun beliau menjawab, “Bagaimana kalian menyikapi hadits Khabbab, yaitu sabda Nabi Muhammad  “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian ada yang digergaji kepalanya namun tidak membuatnya berpaling dari agamanya”. HR. Bukhari 12/281. lalu beliau menegaskan, “Saya tidak peduli dengan kurungan penjara, penjara dan rumahku sama saja”.

Ketegaran dan ketabahan beliau dalam menghadapi cobaan yang menderanya digambarkan oleh Ishaq bin Ibrahim, “Saya belum pernah melihat seorang yang masuk ke penguasa lebih tegar dari Imam Ahmad bin Hambal, kami saat itu di mata penguasa hanya seperti lalat”.

Di saat menghadapi terpaan fitnah yang sangat dahsyat dan deraan siksaan yang luar biasa, beliau masih berpikir jernih dan tidak emosi, tetap mengambil pelajaran meski datang dari orang yang lebih rendah ilmunya. Beliau mengatakan, “Semenjak terjadinya fitnah saya belum pernah mendengar suatu kalimat yang lebih mengesankan dari kalimat yang diucapkan oleh seorang Arab Badui kepadaku, “Wahai Ahmad, jika anda terbunuh karena kebenaran maka anda mati syahid, dan jika anda selamat maka anda hidup mulia”. Maka hatiku bertambah kuat”.

Ahli hadits sekaligus juga Ahli Fiqih
Ibnu ‘Aqil berkata, “Saya pernah mendengar hal yang sangat aneh dari orang-orang bodoh yang mengatakan, “Ahmad bukan ahli fiqih, tetapi hanya ahli hadits saja. Ini adalah puncaknya kebodohan, karena Imam Ahmad memiliki pendapat-pendapat yang didasarkan pada hadits yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia, bahkan beliau lebih unggul dari seniornya”.

Bahkan Imam Adz-Dzahabi berkata, “Demi Allah, beliau dalam fiqih sampai derajat Laits, Malik dan Asy-Syafi’i serta Abu Yusuf. Dalam zuhud dan wara’ beliau menyamai Fudhail dan Ibrahim bin Adham, dalam hafalan beliau setara dengan Syu’bah, Yahya Al Qaththan dan Ibnul Madini. Tetapi orang bodoh tidak mengetahui kadar dirinya, bagaimana mungkin dia mengetahui kadar orang lain!!

Guru-guru Beliau
Imam Ahmad bin Hambal berguru kepada banyak ulama, jumlahnya lebih dari dua ratus delapan puluh yang tersebar di berbagai negeri, seperti di Makkah, Kufah, Bashrah, Baghdad, Yaman dan negeri lainnya. Di antara mereka adalah:

1. Ismail bin Ja’far
2. Abbad bin Abbad Al-Ataky
3. Umari bin Abdillah bin Khalid
4. Husyaim bin Basyir bin Qasim bin Dinar As-Sulami
5. Imam Asy-Syafi’i.
6. Waki’ bin Jarrah.
7. Ismail bin Ulayyah.
8. Sufyan bin ‘Uyainah
9. Abdurrazaq
10. Ibrahim bin Ma’qil.

Murid-murid Beliau :
Umumnya ahli hadits pernah belajar kepada imam Ahmad bin Hambal, dan belajar kepadanya juga ulama yang pernah menjadi gurunya, yang paling menonjol adalah :

1. Imam Bukhari.
2. Muslim
3. Abu Daud
4. Nasai
5. Tirmidzi
6. Ibnu Majah
7. Imam Asy-Syafi’i. Imam Ahmad juga pernah berguru kepadanya.
8. Putranya, Shalih bin Imam Ahmad bin Hambal
9. Putranya, Abdullah bin Imam Ahmad bin Hambal
10. Keponakannya, Hambal bin Ishaq
11. dan lain-lainnya.

Wafat beliau :
Setelah sakit sembilan hari, beliau Rahimahullah menghembuskan nafas terakhirnya di pagi hari Jum’at bertepatan dengan tanggal dua belas Rabi’ul Awwal 241 H pada umur 77 tahun. Jenazah beliau dihadiri delapan ratus ribu pelayat lelaki dan enam puluh ribu pelayat perempuan.

Karya beliau sangat banyak, di antaranya :

1. Kitab Al Musnad, karya yang paling menakjubkan karena kitab ini memuat lebih dari dua puluh tujuh ribu hadits.
2. Kitab At-Tafsir, namun Adz-Dzahabi mengatakan, “Kitab ini hilang”.
3. Kitab Az-Zuhud
4. Kitab Fadhail Ahlil Bait
5. Kitab Jawabatul Qur’an
6. Kitab Al Imaan
7. Kitab Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah
8. Kitab Al Asyribah
9. Kitab Al Faraidh

Terlalu sempit lembaran kertas untuk menampung indahnya kehidupan sang Imam. Sungguh sangat terbatas ungkapan dan uraian untuk bisa memaparkan kilauan cahaya yang memancar dari kemulian jiwanya. Perjalanan hidup orang yang meneladai panutan manusia dengan sempurna, cukuplah itu sebagai cermin bagi kita, yang sering membanggakannya namun jauh darinya.

Dikumpulkan dan diterjemahkan dari kitab Siyar A’lamun Nubala
Karya Al Imam Adz-Dzahabi Rahimahullah

Sumber: Majalah As Salam

Indahnya Tidur Siang

napping

Sebagian orang mengira tidur sejenak di siang hari merupakan kebiasaan pemalas. Sebab orang malas akan lebih cenderung untuk menghabiskan waktu luang dengan tidur dan istirahat dari pada memanfaatkannya untuk beraktivitas, bekerja, atau menyelesaikan tugas. Pemahaman tersebut tentu tidak benar. Dan itu diantara sebabnya, dilatarbelakangi oleh ketidaktahuan mereka akan tuntunan tidur atau istirahat sejenak di siang hari dalam padangan Islam. Atau, hal itu muncul dari mereka yang belum mengetahui, bahwa tidur sejenak di siang hari merupakan salah satu sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karenanya, sangat perlu untuk kami ketengahkan sebuah tulisan yang menerangkan bahwa tidur atau istirahat sejenak di siang hari adalah sunnah. Semoga bermanfaat.

Definisi Qoilulah

Al-Qoilulah berasal dari kata Qoola, Yaqiilu, Qoilan, wa Qoo-ilatan, wa Qoilulatan, wa Maqoolan, wa Maqiilan.Para ahli bahasa mendefinisikannya dengan tidur di siang hari. Atau istirahat di siang hari, meskipun tidak dibarengi dengan tidur. (an-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar, juz 4, hlm 116-117, Lisanul ‘Arab, juz 11, hlm 688-689)

Abdullah bin Rowahah radhiyallahu ‘anhu, salah seorang penyair Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata dalam sebuah bait syairnya:

اليَوْمَ نَضْرِبْكُمْ عَلَى تَنْزِيْلِهِ      ضَرْباً يُزِيْلُ الهَـامَ عَنْ مَقِيْلِهِ

Hari ini kami pukul (kalahkan) kalian dengan ayat-Nya

Laksana pukulan yang melenyapkan kantuk dari tidur siangnya

Padahal dalam agama Islam, istilah yang satu ini tidak asing lagi di telinga para ulama dan para penuntut ilmu. Begitu banyak kitab-kitab yang menyebutkan hadits tentang qoilulah dan membahasnya. Didukung dengan beberapa hadits dan atsar sahabat yang lebih memperjelasnya. Bahkan dalam sebuah ayat al-Qur’an, Allah telah mengisyaratkan tentangnya (lihat pula surat al-Furqon: 24). Allah ta’ala berfirman:

وَكَمْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا فَجَاءَهَا بَأْسُنَا بَيَاتًا أَوْ هُمْ قَائِلُوْنَ

“Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari.” (QS. al-A’rof: 4)

Ibnu Katsir rahimahullah bertutur: Yakni dari kata al-Qoilulah, yang berarti tidur tengah hari. Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata: Al-Qoilulah adalah tidur tengah hari. Ada juga yang berpendapat, hanya sekedar istirahat di waktu tersebut lantaran panas yang berlebihan, tanpa dibarengi dengan tidur. (Tafsir Ibnu Katsir dan Fathul Qadir, surat al-A’rof: 4)

Qoilulah Adalah Sunnah

Qoilulah adalah sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pernyataan tersebut dapat kita simpulkan setelah kita membaca hadits dan atsar yang dengan jelas memerintahkan kepada kita untuk mengerjakan qoilulah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قِيْلُوْا، فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ لاَ تَقِيْلُ

Tidur sianglah kalian, sebab setan itu tidak tidur siang. (Hadis hasan. Lihat ash-Shahihah, no. 1647, Shahihul Jami’, no. 4431)

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata: “Hadits tersebut memiliki bukti penguat riwayat mauquf (terhenti hanya pada sahabat) yang dikeluarkan oleh Ibnu Nashr dalam kitab Qiyamul Lail, halaman 40. Dari Mujahid rahimahullah: Tatkala sampai kepada Umar radhiyallahu ‘anhu sebuah kabar bahwa seorang pekerjanya tidak tidur siang, Umar mengirim surat kepadanya: “Amma ba’du, tidur sianglah engkau, karena setan itu tidak tidur siang.”

Komentar Syaikh al-Albani rahimahullah: “Atsar tersebut, meskipun mauquf, namun pernyataan seperti ini tidak mungkin diucapkan begitu saja dari akal pikiran. Bahkan, padanya terdapat petunjuk, bahwa hadits ini telah tenar di kalangan mereka. Oleh sebab itu, Umar radhiyallahu ‘anhu tidak perlu lagi berterus-terang mengatakan akan marfu’-nya riwayatnya itu. (Lihat: ash-Shahihah, penjelasan hadits no. 1647)

Sunnah qoilulah ini tidak hanya sebatas ucapan pada lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja. Bahkan beliau sendiri pernah tidur qoilulah. Kabar ini pernah diceritakan oleh Anas bin Malik rahimahullah.

Ia berkata: “Ummu Harom bercerita kepadaku, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari pernah tidur siang di rumahku. Lalu beliau terbangun dari tidurnya seraya tertawa. Ummu Harom bertanya: Wahai Rasulullah, mengapa engkau tertawa? Beliau menjawab: Aku merasa takjub terhadap suatu kaum dari umatku yang mengarungi lautan, (mereka) bagaikan raja di atas singgasananya. Ummu Harom berkata: Wahai Rasulullah, mohonlah kepada Allah, agar aku termasuk dari kaum itu. Beliau bersabda: Engkau termasuk dari mereka.” (HR. al-Bukhari, no. 2788, 2789, 2799, 2877, 2894, 2895, 6282, 7001)

Waktu Pelaksanaan Qoilulah

Para sahabat dahulu mengerjakan qoilulah setelah pelaksanaan shalat zhuhur/jumat. Hal ini pernah ditegaskan oleh Anas bin Malik dan Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhuma.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berucap: “Kami dahulu bersegera pergi ke shalat jum’at, kemudian kami tidur siang setelah mengerjakan shalat jum’at.” (HR. al-Bukhari, No. 905 & 940.)

Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kami dahulu tidak tidur qoilulah dan tidak makan siang, melainkan setelah mengerjakan shalat jum’at.” Dalam riwayat lain ia berkata: “Kami dahulu mengerjakan shalat jum’at bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian baru tidur siang.” (HR. al-Bukhari, no. 939, 941, 2349, 5403, 6248, dan Muslim, no. 859.)

Di sisi lain, mereka juga terkadang tidur qoilulah sebelum pelaksanaan shalat. Yang demikian mereka kerjakan, jikalau panas siang hari begitu menyengat dan berlebihan. Tujuannya adalah untuk menunggu turunnya suhu udara yang terlalu panas hingga terasa agak dingin. Sehingga, mereka dapat melaksanakan shalat zhuhur dengan khusyu’.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Bahwasanya sahabat mengerjakan shalat terlebih dahulu sebelum tidur siang. Hal ini menyelisihi kebiasaan mereka dalam mengerjakan shalat zhuhur ketika panas begitu menyengat. Yang mana mereka melakukan tidur siang terlebih dahulu, setelah itu baru mengerjakan shalat zhuhur. Alasannya, menunggu suhu udara hingga terasa dingin merupakan perkara yang disyariatkan. (Fathul Bari, juz 2, hal. 493)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا اشْتَدَّ الحَرُّ فَأَبْرِدُوا بِالصَّلاَةِ، فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ

“Apabila suhu udara terlalu panas, maka tundalah pelaksanaan shalat hingga udara terasa dingin. Karena sesungguhnya panasnya udara merupakan hembusan Jahannam.” (HR. al-Bukhari, no. 533, 534, 535, 536, 538, 539)

Khalid bin Dinar rahimahullah berkata: “Aku pernah mendengar Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu apabila udara dingin, beliau menyegerakan pelaksanaan shalat. Dan apabila udara terasa panas, beliau menunda pelaksanaan shalat hingga udara terasa dingin.” (HR. al-Bukhari, no. 906)

Dari keterangan singkat di atas, dapat kita simpulkan bahwa qoilulah merupakan salah satu sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sudahkah anda menerapkannya?

Sumber: http://abumusa81.wordpress.com/2012/12/03/indah-sunnah-qoilulah/

Hukum merendahkan waliyyul Amr

Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

image

Syariat yang lurus telah melarang dari tindakan merendahkan waliyyul amri karena hal itu akan menyebabkan hilangnya ketaatan yang semestinya diberikan kepada mereka. Melemahkan kewibawaan waliyyul amri dan sibuk mencelanya, mencari-cari kekurangannya, adalah satu kesalahan besar dan pelanggaran yang fatal serta pangkal terjadinya kerusakan agama dan dunia.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Para tokoh dan pembesar dari sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kami dari merendahkan dan mencela umara.”

Asy-Syaikh Abdurrahman as- Sa’di rahimahumallah juga menegaskan bahwa kewajiban semua orang adalah menahan kesalahan-kesalahannya (waliyyul amri) dan tidak boleh menyibukkan diri dengan mencelanya, tetapi hendaknya berdoa memohon taufik kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk waliyyul amri, sebab mencelanya justru akan menimbulkan kerusakan yang besar dan bahaya yang merata. (ad-Dur al-Mantsur)

Barang siapa merendahkan waliyyul amri atau pemerintah, berarti ia melepaskan ikatan Islam dari lehernya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُ كَائِنٌ بَعْدِي سُلْطَانٌ فَلَا تُذِلُّوهُ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُذِلَّهُ فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ اْلإِسْلَامِ مِن عنُقِهِ

“Sesungguhnya akan ada setelahku penguasa, maka janganlah kalian merendahkannya. Siapa yang hendak merendahkannya, sungguh ia melepas ikatan Islam dari lehernya.” (HR. Ahmad dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu)

Segala hal yang mengandung unsur penghinaan dan merendahkan waliyyul amri adalah haram. Yang wajib adalah menghormatinya, karena menghormati waliyyul amri berarti menghormati Islam dan muslimin. Mereka layak dihormati karena kedudukannya.

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzanhafizhahullah berkata, “Perkara ini (menghormati waliyyul amri) wajib mendapatkan perhatian serius, karena di sinilah letak kemaslahatan Islam dan muslimin. Kemaslahatan yang akan kembali kepada kaum muslimin dalam menghormati waliyyul amri jauh lebih banyak dibandingkan kemaslahatan yang kembali kepada waliyyul amri itu sendiri. Maka dari itu, mengetahui perkara ini dan mengamalkannya adalah hal yang dituntut. Sebab, kaum muslimin sangat membutuhkan persatuan dan kerja sama dengan waliyyul amr, terkhusus pada masa yang banyak keburukan seperti sekarang ini. Tidak sedikit dai yang justru mengajak kepada kesesatan. Mereka menyebarkan kejelekannya di tengah-tengah kaum muslimin dengan segala cara untuk merusak kewibawaan pemerintah dan melemahkan pemerintahan. Seluruh kaum muslimin hendaknya betul-betul memerhatikan hal ini. Apabila ada pihak yang ingin memecah belah urusan kaum muslimin dan menggunjing waliyyul amri, hendaknya dinasihati dan diberitahu bahwa hal ini tidak boleh, bukan jalan keluar dari problem.” (al-‘Ilam bi kaifiyyati Tanshibil Imam fil Islam)

Sumber: http://asysyariah.com/kajian-utama-hukum-merendahkan-waliyyul-amri/

Akhlaq Terhadap Sesama

Para ulama, di antaranya Al Hasan Al Bashri mengatakan bahwa akhlaq yang baik terhadap mahluk berputar pada tiga perkara, yaitu:

Pertama: Menahan dari gangguan (Kafful Adzzaa)

Dirty-ThunderstormMaknanya adalah bahwa seseorang menahan dirinya dari mengganggu orang atau lingkungan, baik itu gangguan yang berhubungan dengan harta, jiwa, maupun kehormatan. Orang yang tidak bisa menahan dirinya dari mengganggu orang dan lingkungan, maka ia tidak mempunyai akhlaq yang baik.

Jika seseorang berbuat aniaya kepada manusia dengan melakukan pengkhianatan, atau berbuat aniaya dengan memukul, dan kejahatan, atau berbuat aniaya kepada manusia dalam kehormatannya, atau mencela, atau ghibah, maka hal ini tidak termasuk berakhlaq baik kepada manusia, karena ia tidak menahan diri dari mengganggu orang lain. Dan dosanya semakin besar manakala perbuatan aniaya itu dilakukan kepada seseorang yang mempunyai hak paling besar dari Anda.

Misalnya jika seseorang berbuat jahat kepada kedua orangtua, maka dosanya lebih besar, dan akan lebih besar daripada dosa perbuatan jahat kepada selain mereka. Perbuatan jahat kepada karib kerabat lebih besar dosanya daripada dosa perbuatan jahat kepada orang yang lebih jauh hubungan kekerabatannya. Perbuatan jahat kepada tetangga lebih besar dosanya dari perbuatan jahat kepada selain tetangga. Karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَاللهِ لاَ يُؤْمِن، وَاللهِ لاَ يُؤْمِن ، وَاللهِ لاَ يُؤْمِن

“Demi Allah, tidaklah beriman! Demi Allah, tidaklah beriman! Demi Allah, tidaklah beriman!”

Para sahabat bertanya, “Siapa yang tidak beriman wahai Rasulullah?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بِوَائِقِهِ

“Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya”.

2. Suka Membantu/Dermawan (Badzlun Nada)

rescuekitten_1753783cMakna “Badzlun Nada” adalah bersikap dermawan dan suka membantu. Kedermawanan di sini tidaklah seperti yang dipahami oleh sebagian orang bahwa terbatas pada harta saja. Tapi yang dimaksud kedermawanan di sini adalah mendermakan jiwa, kedudukan, dan harta.  Jika kita melihat seseorang memenuhi kebutuhan manusia, membantu mereka, menyebarkan ilmu di antara manusia, mendermakan hartanya kepada manusia, maka kita pun akan mensifati orang tersebut sebagai orang yang berakhlaq baik, karena ia adalah seorang yang dermawan dan suka menolong. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Bertaqwalah kepada Allah di manapun engkau berada. Ikutilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapuskan perbuatan jelek. Dan bergaul-lah dengan manusia dengan akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad, At Tirmidzi dan Ad Darimi)

Dan termasuk dalam sifat ini adalah jika Anda dianiaya atau dipergauli dengan perbuatan buruk, maka Anda pun memberi maaf. Sungguh Allah telah memuji orang-orang yang memaafkan kesalahan manusia, Allah berfirman tentang penghuni surga,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran:134)

Allah ta’ala berfirman,

وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

“Dan jika kalian memaafkan maka itu lebih dekat kepada takwa.” (Al Baqarah: 237)

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada.” (An Nur: 22)

فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

“Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah” (Asy Syuura: 40)

Dalam berhubungan dengan sesama manusia, seseorang pasti akan mengalami suatu gangguan. Maka dalam menghadapi menghadapi seperti ini, hendaknya dia memaafkan dan berlapang dada. Dan hendaknya ia berkeyakinan kuat bahwa sikap pemaaf dan lapang dada serta berharap untuk mendapatkan balasan kebaikan kelak di akhirat bisa merubah permusuhan antara dia dengan saudaranya menjadi kasih sayang dan persaudaraan.

Allah ta’ala berfirman,

وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman setia.” (Al Fushilat: 34)

Ketiga: Wajah yang Berseri (Thalaqatul Wajh)

Senyumlah

Senyumlah

Yaitu seseorang selalu berwajah ceria, tidak bermuka masam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لا تَحْقِرنَّ مِنَ المَعرُوفِ شَيئاً وَلَوْ أنْ تَلقَى أخَاكَ بِوَجْهٍ طَليقٍ

“Janganlah meremehkan sesuatu kebaikan sekecil apapun, walaupun engkau berjumpa dengan saudaramu dengan wajah berseri-seri.” (HR. Muslim)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya tentang apa itu kebaikan. Beliau menjawab, “Kebaikan itu adalah wajah yang ceria dan lisan yang lembut.”

Berwajah ceria akan memasukkan kegembiraan pada manusia, mendatangkan rasa kasih sayang dan cinta, mendatangkan kelapangan dalam hati, bahkan mendatangkan rasa lapang dada bagi Anda sendiri dan orang-orang yang Anda temui. Sebaliknya, jika Anda bermuka masam, maka manusia akan menjauh dari diri Anda. Mereka tidak akan suka untuk duduk bersama dan bicara dengan Anda. Dan bisa jadi karena ini Anda ditimpa stress dan tekanan jiwa. Wajah yang ceria dan berseri adalah obat yang mencegah dari penyakit stress atau tekanan jiwa.

Tahukah Anda kalau para dokter menasehati orang yang ditimpa penyakit stress untuk untuk menjauhi dari perkara-perkara yang bisa memicu amarah, karena amarah hanya akan menambah tekanan jiwanya?

Sebaliknya wajah yang ceria akan mengobati penyakit ini, karena orang-orang di sekitar Anda akan mencintai Anda dan Anda menjadi mulia di sisi mereka.

Ditulis oleh: Abu Umar Al Bankawy
Referensi:
– Makaarimul Akhlaq karya Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Uji Kejujuran

Oleh : Al-Ustadz Abu Nasiim Mukhtar “iben” Rifai La Firlaz

image

Berkawan dengan seseorang yang jujur itu sangat menyenangkan.Bukan hanya terbatas pada kawan saja, kejujuran akan menjadi anugrah indah yang melekat seorang tetangga, pegawai, pimpinan, anak, suami, istri, murid, guru, relasi bisnis atau siapa saja yang berinteraksi dengan kita…Marilah bersama melatih diri untuk bersikap jujur…

Dahulu kala…
Abul Hasan An Najjar –seorang ulama di masa itu- bertetangga dengan seseorang yang dikenal dermawan. Kita sebut saja tetangga beliau dengan Si Fulan. Dalam sebuah kesempatan di malam hari, seorang buta melintas di depan rumah Si Fulan. Orang buta itu belum pernah dikenal sebelumnya oleh Si Fulan. Rasa iba yang berdasar dari sikap dermawannya, mendorong Si Fulan ingin berbagi dengan cara bersedekah.

Apa yang ia lakukan?

Ada dua kantong uang yang selalu dibawa oleh Si Fulan kemanapun ia pergi. Satu kantong berisi uang dinar, kantong lainnya berisi uang dirham. Ketika itu, Si Fulan hendak bersedekah sebesar satu dirham..akan tetapi ia keliru memilih kantong sehingga justru sekeping uang dinar yang malah berpindah tangan ke orang buta tersebut.

Senang sekali orang yang buta itu!

Keesokan harinya…si buta berangkat menuju sebuah toko kelontong yang berada tak jauh dari rumahnya untuk sekadar berbelanja..Ia berjalan dengan penuh keyakinan, sekeping uang pemberian dari Si Fulan adalah sekeping uang dirham.. “Silahkan Anda menerima sekeping dirham ini…Untuk membayar barang belanjaanku,maka sisanya adalah sekian”, kata orang buta itu kepada si penjual setelah memilih barang-barang belanjaan.

Si penjual terheran-heran dengan kejadian tersebut,” He…darimana kamu mempunyai uang dinar ini????!!!”

“Tadi malam aku diberi oleh Si Fulan”,jawab si buta. Kata si penjual menerangkan,”Uang yang engkau bayarkan bukan sekeping dirham..Uang ini adalah sekeping dinar”

Tahukah Anda berapa besaran uang dinar dan dirham???

Sekeping dinar adalah uang emas dengan berat 4,25 gr…sementara sekeping dirham adalah uang perak dengan berat 2,975 gr…

Hari berikutnya…si buta berusaha menemui kembali Si Fulan yang telah bersedekah untuknya.Setelah bertemu,sambil menyerahkan sekeping dinar itu…

“Anda kemarin bersedekah untukku dengan uang ini. Saya berpikir ; sebenarnya Anda ingin bersedekah dengan sekeping dirham, namun Anda keliru mengambil. Dan saya tidak ingin menerima pemberian yang keliru semacam ini…Silahkan Anda mengambil kembali sekeping dinar ini”,kata si buta kepada Si Fulan.

 Mendengar kejujuran luar biasa semacam itu, Si Fulan langsung menyatakan,

“Kalau begitu,uang dinar ini aku berikan untuk Anda saja..Kemudian, silahkan Anda datang menemui saya di setiap awal bulan agar saya bisa membalas kejujuran Anda”

Sejak hari itu…setiap awal bulan si buta datang menemui Si Fulan untuk menerima lima keping dirham sebagai pemberian darinya.

Subhaanallah! Sangat…dan sangat-sangat luar biasa sekali!

Si buta mampu mengendapkan rasanya untuk tidak terseret oleh arus “mengejar kesempatan”…ia bisa mengendapkan rasanya untuk tidak terbawa oleh gelombang “menangkap peluang”…Dengan tenang dan indahnya ia mengatur perasaan agar berjalan dan bersikap di atas kejujuran…Padahal bisa saja ia bersukacita karena telah memperoleh sekeping dinar.. Namun, ia tidak ingin bersukacita dengan cara semacam itu.

 Begitupun sang penjual…Sebenarnya ia memiliki kesempatan untuk menipu orang buta.Ia cukup mengiyakan jika uang itu memang benar-benar sekeping dirham sebagaimana keyakinan dan pengakuan si buta.Sejatinya ia mempunyai peluang untuk memperoleh untung besar dalam waktu sepersekian menit hanya dengan bersikap diam tanpa perlu menjelaskan bahwa uang yang dibawa si buta adalah sekeping uang dinar.

Namun….sang penjual sangat pandai mengendapkan rasa..

Jika saja hal di atas terjadi pada diri kita..kira-kira bagaimana perasaan kita???

Mungkin nafas menjadi naik turun tidak teratur,pandangan mata berbinar-binar dan gejolak-gejolak perasaan lainnya. Bayangkan jika Anda menjadi si buta! Bayangkan jika Anda menjadi si penjual !

Dan bagaimanakah sikap dengan keputusan Anda jika Anda menjadi Si Fulan???

Abul Hasan An Najjar mengatakan, “Aku belum pernah menemui kejadian yang lebih menakjubkan dari kejujuran si penjual dan orang buta itu.Seandainya hal semacam ini ada di zaman kita,pasti akan terjadi yang sebaliknya”

Nikmat Pedang Bermata Dua

image

Dari sekian banyak kenikmatan yang Allah SWT limpahkan kepada hamba-hamba-Nya, termasuk yang paling agung adalah nikmat lisan. Dengan lisannya, seorang hamba akan mampu berkomunikasi dan mengungkapkan apa yang ada pada dirinya. Allah SWT berfirman:

Lisan yang kecil tak bertulang seperti pedang bermata dua. Jika tidak memberi manfaat kepada pelakunya, maka dia justru akan membinasakan tuannya. Allah SWT berfirman:

ﻣَﺎ ﻳَﻠْﻔِﻆُ ﻣِﻦْ ﻗَﻮْﻝٍ ﺇِﻻَّ ﻟَﺪَﻳْﻪِ ﺭَﻗِﻴﺐٌ ﻋَﺘِﻴﺪٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 18)

Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata: “Sungguh, as-salafush shalih rahimahumullah telah sepakat bahwa malaikat yang ada di samping kanan seorang hamba adalah malaikat yang akan mencatat seluruh amal kebaikan. Sedangkan malaikat yang ada di samping kirinya adalah malaikat yang akan mencatat amalan kejelekan.” (Jami’ Al-‘Ulum wal Hikam, 1/336)

Rasulullah n bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِكَلِمَةٍ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِكَلِمَةٍ مِنْ سُخْطِ اللهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا إِلَى جَهَنَّمَ

“Sungguh seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang diridhai Allah, yang dia tidak ingat atau pikirkan, yang dengannya Allah akan mengangkat derajatnya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang dimurkai Allah yang dia tidak ingat atau pikirkan, maka dengan sebab itu, dia akan masuk ke dalam Jahannam.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Abu Hurairah ra)

Sehingga, orang yang bijak adalah orang yang berpikir sebelum berbicara; apakah perkataan yang ingin dia ucapkan akan mendatangkan keridhaan Allah SWT atau kemurkaan-Nya? Akan mendatangkan keuntungan di akhirat ataukah kerugian?

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَـحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa menjamin apa yang ada di antara dua tulang rahangnya (yakni lisan), dan apa yang ada di antara kedua kakinya (yakni kemaluan), niscaya aku menjamin jannah (surga) baginya.” (Muttafaqun ‘alaih, dari Sahl bin Sa’d)

Rasulullah SAW juga bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.” (Muttafaqun ‘alaih dari hadits Abu Hurairah ra)

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Makna hadits ini adalah apabila seorang hamba ingin berbicara, hendaknya dia berpikir terlebih dahulu. Apabila telah nampak jelas baginya bahwa tidak ada kerugian/madharat terhadap dirinya, hendaknya dia mengatakannya. Namun apabila nampak jelas baginya kerugian/madharat atau dia ragu-ragu, maka hendaknya dia diam.” (Syarh Shahih Muslim, 1/222)

Sumber: Majalah Asy-Syariah