Posts from the ‘Telur Patin’ Category

KERAGAAN IKAN PATIN SIAM UNGGUL TUMBUH CEPAT DARI BRPI SUKAMANDI

Oleh: Jadmiko Darmawan, Suharyanto, Evi Tahapari, Wahyu Pamungkas dan Ika Nurlaela

Pengantar

Saat ini 80% pangsa pasar ikan Patin di dunia dikuasai oleh Vietnam. Indonesia dengan sumber daya yang melimpah seharusnya mampu bersaing dalam rangka pemenuhan pangsa pasar tersebut dengan peningkatan produksi ikan Patin nasional. Peningkatan produksi dapat dilakukan melalui perbaikan mutu genetik salah satunya adalah melakukan kegiatan seleksi untuk mendapatkan ikan Patin Siam unggul tumbuh cepat. Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi, selama 10 tahun terakhir telah melakukan kegiatan seleksi ikan Patin Siam dalam rangka pembentukan kandidat ikan Patin Siam unggul tumbuh cepat.

Proses Seleksi

Kegiatan seleksi diawali dengan pembentukan populasi dasar (FO) yang diperoleh melalui persilangan ikan Patin Siam koleksi yang ada di BRPI. Saat ini kegiatan seleksi telah menghasilkan ikan Patin Siam generasi kedua (F2). Ikan Patin Siam generasi pertama (F1) memiliki nilai respon seleksi 20,91% dan generasi kedua menghasilkan nilai respon seleksi sebesar 17,95%, sehingga akumulasi nilai respon seleksi pada dua generasi sebesar 38,86%. Dengan nilai respon seleksi yang relatif besar diharapkan ikan Patin Siam generasi kedua memiliki performa pertumbuhan lebih baik dibandingkan dengan ikan Patin Siam dari masyarakat (benih UPR). Dengan demikian diharapkan mampu mendongkrak produksi ikan Patin nasional untuk pemenuhan kebutuhan domestik dan ekspor fillet ikan Patin dunia.

Metodologi

Penelitian dilakukan pada berbagai ekosistem dan lokasi sentra budidaya ikan Patin Siam. Lokasi yang digunakan untuk uji performa meliputi daerah dataran tinggi, yaitu di Waduk Darma – Kuningan dengan menggunakan kerambajaring apung. Sedangkan untuk di daerah dataran rendah yaitu di Balai Penelitian Ikan Sukamandi dengan menggunakan kolam tembok ukuran 50 m2. Untuk uji multilokasi di sentra budidaya dilakukan di Lampung dan Tulungagung (Gambar 1). Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan PatinSiam F2 dengan ukuran 4-5 inchi (t20 g) dan sebagai pembanding digunakan ikan Patin Siam yang berasal dari UPR Lokal. Padat penebaran ikan uji berkisar antara 10 — 22 ekor/m’, menyesuaikan kebiasaan pemeliharaan yang dilakukan oleh pembudidaya di masing-masing lokasi pengujian. Pakan ikan yang diberi berupa pelet komersial tenggelam dengan kadar protein 28% sebanyak 3-5% bobot biomas per hari.

Patin Perkasa

Gambar 1. Lokasi Uji Multilokasi Pembesaran Ikan Patin Seleksi. (A= KJA Waduk Darma Kuningan; B= Kolam Tembok Politeknik Negeri Lampung; C= Kolam Jaring Sukamandi Pengamatan dilakukan pada pertumbuhan (panjang total, panjang standar dan bobot), FCR dan SR yang dilakukan setiap bulan

Hasil dan Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan Patin Siam unggul tumbuh cepat generasi kedua dari BRPI Sukamandi memiliki perforrnapertumbuhan 16,61 — 35,98 % lebih baik dibandingkan dengan ikan Patin Siam yang berasal dari UPR lokal pada berbagai lokasi dan ekosistem budidaya selama 6 bulan pemeliharaan (Gambar 1).

Sumber: https://bppisukamandi.kkp.go.id/

Keseimbangan: Ikan, Lingkungan dan Patogen.

Setidaknya ada tiga penyebab utama penyakit pada ikan:

  • Keberadaan patogen lingkungan
  • Daya tampung kolam.
  • Lingkungan air yang tidak nyaman.

Keseimbangan.

Patogen (misalnya bakteri, virus, jamur dan parasit) umumnya ditemukan di semua perairan, namun ikan memiliki daya tahan yang cukup terhadap pantogen. Mereka juga dapat menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan dan sehingga dapat menghindari penyakit akibat infeksi patogen.

Keseimbangan Ikan, Patogen dan Lingkungan

Patogen Meningkat

Bila keberadaan patogen dalam air meningkat tajam karena faktor eksternal, dan ketahanan alami ikan tidak dapat mengatasi jumlah patogen yang semakin meningkat, ikan akan menjadi rentan terhadap infeksi dan penyakit.

Pantogen Meningkat


Lingkungan Memburuk

Selain itu, faktor eksternal juga dapat menyebabkan perubahan drastis pada kualitas air, sehingga kesehatan ikan memburuk dan daya tahan  ikan menjadi rendah. Menjadi rawan terhadap infeksi patogen dan penyakit ikan atau kematian meningkat.

Lingkungan Tidak Memadahi


#CatfishFabrication

Desinfektan: Glutaraldehyde

Definisi

Glutaraldehyde merupakan desinfektan golongan aldehyde, termasuk desinfektan yang kuat, spektrum aplikasi luas, dapat membunuh mikroorganisme dan virus. Bekerja dengan cara denaturasi protein dan umum digunakan dalam campuran air konsentrasi 0,5% – 5%. Keunggulan golongan aldehyde adalah sifatnya yang stabil, persisten, efek samping minimal, dapat dibiodegradasi dan tidak menyebabkan kerusakan pada material peralatan. Larutan glutaraldehyde 2% efektif terhadap bakteri vegetative seperti Mycobacterium tuberculosis, fungi dan virus akan mati dalam waktu 10 – 20 menit (Rusmah, 1993; Sukhija et al., 2010).

Mekanisme Kerja

Mikroorganisme Target Mekanisme Aksi Glutaraldehyde
Spora bakteri Konsentrasi rendah: Menghambat perkecambahan spora

Konsentrasi tinggi: Berinteraksi kuat dengan lapisan luar sel.

Mycobacteria Aksi belum diketahui secara pasti, namun kemungkinan melibatkan interaksi dengan dinding sel mycobacteria.
Bakteri lain yang tidak berspora Membentuk ikatan yang kuat dengan lapisan  pada bakteri gram positif dan gram negatif, hubungan silang asam amino pada protein, menghambat proses transport ke dalam sel
Fungi Berinteraksi dengan dinding sel fungi
Virus Mekanisme aksi melalui interaksinya dengan DNA-protein secara silang dan pergantian capsid.
Protozoa Mekanisme aksi belum diketahui.

 

Dosis

Larutan glutaraldehyde 2% direkomendasikan untuk sterilisasi peralatan bedah, daerah operasi, perawatan endodontik intrakanal dan sterilisasi bahan cetak alginat pada bidang kedokteran gigi. Studi menunjukkan bahwa glutaraldehyde adalah fiksatif yang efektif dengan efek samping minimal, penetrasi terbatas dan kerja cepat. Studi pulpotomi menggunakan glutaraldehid sebagai agen fiksatif menghasilkan tingkat keberhasilan yang tinggi (Rusmah, 1993).

Produk

  • Agrigerm (sedian cair, setiap liter mengandung glutaraldehida 40 g, glikosal 32 g, formaldehyde 31,5 g, oimetil didesil ammonium klorida 100 g. produksi lab.ceetal-perancis.
  • Aldekol des 02 (sedian cair, mengandung isopropanole, formaldehyde, glutaraldehide, dan benzalkonium chloride. Produksi ewabo chemikalien GmbH, jerman/satwa jawa jaya.
  • Alcide (sedian cair, mengandung glutaraldehide, coco benzyl dimethylammonium chloride . digunakan untuk desinfeksi. Produksi surya hidup satwa.
  • Biodan (sedian cair, komposisinya glutaraldehyde 15%, cocobenzil dimethyl ammonium kloride 10 % sebagai desinfektan. Produksi vaksindo satea nusantara.
  • Formades (sedian cair, setiap liter mengandung formalin 240 g, glutaraldehide 40 g, benzalkoinun klorida 30 g. penggunaan desinfektan, produksi medion.
  • Omnicide (sedian cair, mengandung glutaraldehide, dimetil cocobenzil ammonium chloride. Desinfeksi, produksi Coventry chemical limited inggris/pimaimas citra.
  • Sanitas-151 (sedian cair, komposisi glutaraldehide 15 % benzalkonium chloride 10 %. Sebagai antiseptic dan desinfektan. Produksi mitravet.

Penulis: Munajat Putri

Tempat Kongkow Parasit pada Ikan

Ada tiga kemungkinan penyebab kematian populasi ikan di kolam atau di perairan lain, yaitu stress linkungan atau keracunan, infeksi mikroba dan infeksi metazoan. Kesehatan ikan dalam akuakultur adalah hal yang paling penting. Dan tentunya kesehatan ikan dipengaruhi oleh faktor lingkungan, nutrisi dan patogen. Penyakit diartikan sebagai suatu keadaan fisik, morfologi dan atau fungsi yang mengalami perubahan dari kondisi normal  Secara umum penyakit dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu penyakit infeksi dan non infeksi. Penyakit infeksi disebabkan oleh organisme hidup seperti parasit, jamur, bakteri, dan virus dan penyakit non infeksi disebabkan oleh faktor non hidup seperti pakan, lingkungan, keturunan dan penanganan.
Parasit dapat diartikan sebagai organisme yang hidup pada organisme lain yang mengambil makanan dari tubuh organisme tersebut, sehingga organisme yang tempatnya makan (inang) akan mengalami kerugian. Dialam parasit mempunyai peranan penting dalam dalam suatu ekosistem. Sedangkan dalam budidaya kehadiran parasit sangat dihindari. Parasit ikan ada pada lingkungan perairan yang ada ikannya, tetapi belum tentu menyebabkan ikan menderita sakit.
Berikut ini adalah bagian tubuh ikan yang dapat dihinggapi parasit.
  1. Telur
  • Fungi: Saprolegnia dan keluarga.
  • Protozoan: Carchesium (Walleye dan Trout), Epistylis (Catfish), Pleistophora variae (Golden Shiner), sulci (Polyodon spathula ), dan Thelohania baueri (Pungitius pungitius),
  1. Kumis
  • Protozoa: Henneguya (Ictalurus nebulosus), Ichthyophthirius (terkadang).
  • Trematoda: Gyrodactylus
  1. Kulit dan Sirip
  • Fungi: Saprolegnia dan keluarga, Exophiala pisciphila
  • Protozoa: Ambiphrya, Amphileptus, Bodomonas, Chilodonella, Colponema, Cyclochaeta, Epistylis, Ichthyoboda, Ichthyophthirius, Oodinium, Trichodina, Trichophrya, Microsporidea, Myxosporidea, Myxobolus squamalis
  • Monogenea: Gyrodactylus,
  • Trematoda: Neascus (black spot)
  • Crustacea: Argulus, Lernaea, Ergasilus, Salmincola.
  1. Lubang Hidung
  • Protozoa: Apiosoma , Amphileptus, Chilodenella, Myxobolus, Tetrahymena, Trichodina, Trichodinella.
  • Monogenea: Aplodiscus nasalis (Hypentellium etowanum), Cleidodiscus monticelli, Pellucidhaptor catostomi, P. nasalis, P.
  • Nematoda: Philometra (bluegills danlargemouth black bass)
  • Copepoda: Ergasilus megaceros (fallfish dan catfish), Ergasilus rhinos (centrarchids), Gamidactylus, Gaminispatulus, Gaminispinus, Lernaea, Paragasilus,
  1. Insang
  • Fungi: Dermocystidium
  • Protozoa: Ambiphrya, Amphileptus, Bodomonas, Chilodonella, Cryptobia, Dermocystidium, Epistylis, Ichthyoboda (Costia), Ichthyophthirius, Microspora, Myxosporea, Piscinoodinium, Trichodina, Trichophrya
  • Monogenea: Gyrodactylus, Dactylogyrus, Cleidodiscus, dan masih banyak spesies lain
  • Trematoda: Sanguinicola
  • Copepoda: Achtheres, Argulus, Lernaea, Ergasilus, Salmincola, Lepeophtheirus
  1. Mulut
  • Protozoa: Apiosoma, Myxosporea
  • Trematoda: Leuceruthrus
  • Nematoda: Philometra nodulosa (pada ikan Suckers dan Buffalo Fishes)
  • Copepoda: Lernaea cyprinacea, Salmincola (S. lotae pada ikan Burbot)
  1. Darah
  • Protozoa: Trypanosoma (Cryptobia), Trypanoplasma, Babesiosoma, Dactylosoma, Haemogregaerina dalam sel darah merah, Kudoa, Sphaerospora
  • Trematoda: Sanguinicola pada pembuluh darah, termasuk pembuluh darah pada insang
  • Nematoda: Philometra sanguinea in pada pembuluh darah sirip ekor ikan mas, P. obturans pada pembuluh darah insang ikan Pike
  1. Kerongkongan
  • Trematoda: Azygia, Cotylaspis, Derogenes, Halipegus, Proterometra
  1. Perut
  • Protozoa: Schizamoeba
  • Monogenea: Enterogyrus , Enterogyrus sp.
  • Trematoda: Allocreadium, Aponeurus, Azygia, Caecincola, Centrovarium, Derogenes, Genolinea, Hemiurus, Leuceruthrus
  • Nematoda: Haplonema
  1. Usus
  • Protozoa: Hexamita, Schizamoeba, Eimeria.
  • Trematoda: Allocreadium, Crepidostomum, Lissorchis,
  • Cestoda: Proteocephalus, Bothriocephalus, Eubothrium.
  • Nematoda: Contracaecum, Camallanus,
  • Acanthocephala: Neoechinorhynchus, Echinorhynchus,
  1. Gelembung Renang
  • Trematoda: Acetodextra
  • Nematoda: Cystidicola , Huffmanella huffmanella
  1. Selaput rongga perut, Hati, Limpa
  • Fungi: Ochroconis humicola,; O. tshawytscha, Phoma herbarum.
  • Protozoa: Myxosporea, Microsporea, Goussia
  • Trematoda: Ornithodiplostomum, Posthodiplostomum, Paurorhynchus, Acetodextra (pada ikan Lele)
  • Cestoda: Diphyllobothrium, Haplobothrium, Ligula, Proteocephalus, Schistocephalus, Triaenophorus.
  • Acanthocephala: Echinorhynchus salmonis, Leptorhynchoides thecatus, Pomphorhynchus bulbocolli
  • Nematoda: Philonema,
  • Copepoda: Lernaea.
  1. Kantung Empedu
  • Protozoa: Myxosporea, Hexamita.
  • Trematoda: Crepidostomum cooperi, C. farionis, Derogenes , Plagioporus sinitsini, Prosthenhystera sp., Pseudochaetosoma.
  • Cestoda: Eubothrium salvelini, Dilepidae (Pleurocercoids)
  • Nematoda: Rhabdochona , Capillaria catostomi
  1. Saluran Empedu
  • Trematoda: Phyllodistomum
  1. Ginjal
  • Fungi: Ichthyophonus hoferi, Ochroconis
  • Protozoa: Myxosporea
  • Trematoda: Nanophyetus salmincola, Posthodiplostomum minimum centrarchi, Phyllodistomum pada saluran kencing dan ginjal.
  1. Kandung Kemih
  • Protozoa: Myxosporea, Vauchomia (trichodinid) pada Esox
  • Monogenea: Acolpenteron.
  • Trematoda: Phyllodistomum.
  1. Indung Telur (Ovarium)
  • Protozoa: Henneguya oviperda pada ikan Esox lucius, Pleistophora ovariae pada ikan Golden Shiners, Thelohania baueri pada ikan Gasterosteus aculeatus,
  • Trematoda: Acetodextra ameiuri
  • Nematoda: Philonema pada ikan Salmon
  • Cestoda: Proteocephalus
  1. Testis (Kantung sperma)
  • Protozoa: Hexamita
  • Cestoda: Proteocephalus
  1. Mata
  • Protozoa: Henneguya episclera pada ikan Lepomis gibbosus, H. zikaweiensis pada ikan Carassius auratus, Myxobolus corneus pada korna ikan Lepomis macrochirus, M. hoffmani pada selaput mata ikan Pimephales promelas
  • Digenea: Diplostomum spathaceum pada lensa mata, Diplostomulum scheuringi di cairan pada mata.
  • Nematoda: Philometroides di rongga bola mata pada ikan southeastern centrarchids
  1. Tulang Rawan
  • Protozoa: Henneguya brachyura pada ikan Notropis , H. schizura pada ikan Esox lucius, Henneguya sp. pada ikan Pomoxis spp., M. cartilaginis pada ikan Centrarchids, Myxobolus cerebralis pada ikan salmonids, M. hoffmani pada ikan Pimephales promelas, M. scleropercae pada ikan Perch
  1. System Saraf
  • Fungi: Ichthyophonus hoferi pada otak
  • Protozoa: Mesencephalicus pada otak ikan Cyprinus carpio (Europe), Myxobolus cerebralis mengganggu CNS (Central Nervous System / System Saraf Pusat), M. hendricksoni pada otak ikan Pimephales promelas, M. arcticus, M. kisutchi, M. neurobius pada CNS ikan Salmonids
  • Trematoda: Diplostomulum, Euhaplorchis, Ornithodiplostomulum, Parastictodora, Psilostomum
  1. Jaringan Otot
  • Protozoa: Myxobolus insidiosus pada ikan Cutthroat Trout, Chinook dan Coho Salmon, Heterosporis pada ikan Yellow Perch, serta beberapa Myxosporea dan Microsporea
  • Trematoda: Clinostomum dan black spot (Neascus )
  • Cestoda: Larval Diphyllobothrium, Triaenophorus
  • Nematoda: larval Eustrongylides

 

Sumber: Parasites of North American freshwater fishes by Glenn L. Hoffman 1999

PEMBERSIHAN : Cara Mudah Sterilisasi Ruang Pembenihan

Sterilisasi Ruangan Pembenihan sangat diperlukan untuk memutus rantai penyakit yang mungkin mulai tumbuh dan berkembang dari proses produksi benih sebelumnya. 

Proses Sterilisasi atau Disinfektan dibagi menjadi beberapa tahap kegiatan.

PEMBERSIHAN
Setelah selesai digunakan semua peralatan tempat kultur artemia, baskom pakan, baskom benih, scoope net, selang siphon, baru airasi dan lain-lain dilepas untuk dicuci dan disterilkan, dan ruangan pembenihan harus dibersihkan dari semua bentuk kotoran. Baik kotoran di dalam wadah pembenihan (akuarium/kolam terpal/kolam beton), maupun permukaan luar kolam dan di lingkungan kerja pembenihan. Kotoran yang terkumpul dibuang jauh dari lingkungan kandang atau dimusnahkan dengan cara dibakar sampai habis. Karena kotoran merupakan salah satu media hidup mikroba parasit, bakteri, jamur dan virus.

Bersambung….

Berikutnya PENCUCIAN

MEMONITOR DAN MEREKONDISI KIMIA AIR

24 Februari 2015, dapat kiriman JBL TESTLAB dengan spesifikasi

JBL pH Test-Set 3,0-10,0
JBL pH Test-Set 6,0-7,6
JBL GH-Test
JBL KH-Test
JBL Phosphate TestSet PO4
JBL Ammonium TestSet NH4
JBL Nitrite TestSet NO2
JBL Nitrate TestSet NO3
JBL Iron Test-Set Fe

testlab JBL

Langkah selanjutnya adalah memahami kimia air seperti berikut

Kekerasan Air / Total Hardness (gH)
Saran monitor : Mingguan atau pada saat penggantian air.
Nilai ideal : 6 – 16 dGH
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan : memberikan kondisioner untuk menurunkan kekerasan air atau mengganti air secara parsial dengan air yang lebih lunak.
o menaikan : memberikan kondisioner untuk menaikan kekerasan air.

Kekerasan Karbon / Carbonate Hardess (kH)
Saran monitor : Mingguan
Nilai ideal : 5 – 10 dKH
Nilai ideal : 8 – 12 dKH
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan : memberikan kondisioner untuk menurunkan kekerasan air atau mengganti air secara parsial dengan air yang lebih lunak.
o menaikan : memberikan kondisioner untuk menaikan kekerasan air.

Ke – asam / basa -an Air (pH)
Saran monitor : Mingguan
Nilai ideal : 6 – 8 ( untuk kebanyakan ikan ), 7.5 – 8.5 untuk jenis ikan Cichlid yang berasal dari Malawi & Tanganyika
Nilai ideal untuk akuarium air laut : 8.2 – 8.4
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan : menambahkan karbondioksida (CO2 ) untuk air tawar, mengganti air secara parsial dengan air yang lebih asam, memberikan kondisioner untuk menurunkan pH air (pH Down)
o menaikan : memberikan kondisioner untuk menaikan pH air, mengganti air secara parsial dengan air yang lebih basa

Ammonium / Ammonia (NH4 / NH3)
Saran monitor : Mingguan atau pada saat diperlukan seperti ada gejala / gerakan yang tidak normal pada ikan.
Nilai ideal : 0.0 mg/l (ppm)
Nilai bahaya : 0.02 mg/l (ppm) – tergantung nilai pH
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan :

– mengganti air secara parsial dan memeriksa pH air
– dalam keadaan yang akut ammonium/ammonia dapat diturunkan dengan memberikan kondisioner penurun nilai pH
– memberikan kondisioner untuk menurunkan jumlah kandungan ammonium/ammonia pada air.
– memeriksa biofilter filter
– mengurangi populasi ikan dan tidak memberikan makanan ikan yang berlebihan
– menambah jumlah tanaman

Nitrit / Nitrite (NO2)
Saran monitor : Mingguan atau pada saat diperlukan seperti ada gejala ikan sakit.
Nilai ideal  : 0.0 mg/l (ppm)
Nilai cukup bahaya : 0.3 – 0.9 mg/l (ppm)
Nilai bahaya : 0.9 mg/l (ppm)
Nilai sangat bahaya : 3.3 mg/l (ppm)
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan :

– memberikan kondisioner untuk menurunkan kadar Nitrit
– memeriksa filter – biofilter
– mengurangi populasi ikan dan pemberian makanan ikan yang berlebihan
– periksa apakah ada ikan yang hilang (mati)
– memeriksa penyebab yang berasal dari polutan lainnya
– mengganti 30% air secara parsial, ulangi penggantian air ini setelah 12-24 jam

Nitrat / Nitrate (NO3)
Saran monitor : Mingguan atau pada saat diperlukan seperti adanya pertumbuhan lumut (algae)
Nilai ideal : 20 mg/l (ppm)
Nilai cukup : 20 mg/l (ppm)
Nilai bahaya : 100 mg/l (ppm)
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan :

– memberikan kondisioner untuk menurunkan kadar nitrat
– menambah tanaman air yang cepat tumbuh pada akuarium air tawar / kolam, atau
– menambah makro-alga pada akuarium air laut
– mengganti air secara parsial dengan yang rendah nitrat
– mengurangi jumlah / populasi ikan
– mengurangi penggunaan makanan ikan yang berlebihan
– mengganti 30% air secepatnya, dan kemudian diberikan kondisioner kembali

Besi / Iron (Fe)
Saran monitor : Mingguan atau pada saat diperlukan seperti adanya pertumbuhan lumut (algae) dan penurunan perkembangan tanaman air.
Nilai ideal .: 0.5 – 1.0 mg/l (ppm)
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan : memberikan kondisioner untuk menurunkan kadar besi, dan mengganti air secara parsial
o menaikan : memberikan kondisioner untuk meningkatkan kadar besi, dan memberi pupuk tanaman yang mengandung besi

Oksigen / Oxygen (O2)
Saran monitor : dua mingguan pada pagi dan sore hari, kadar oksigen pada pagi hari lebih rendah dari sore hari adalah normal , atau ada gerakan tidak normal pada ikan seperti kesulitan bernafas / megap-megap pada permukaan air.
Nilai ideal : 4 mg/l (ppm)
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menaikan :

– meningkatkan kadar oksigen dengan tambahan kondisioner
– memberi tambahan aerasi
– memeriksa apa yang menjadi penyebab turunnya kadar oksigen, dan segera perbaiki

Karbondioksida / Carbon dioxide (CO2)
Saran monitor : setiap hari
Nilai ideal : 10 – 40 mg/l (ppm)
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan : mengurangi (penggunaan) karbondioksida
o menaikan : menambahkan kondisioner penambah CO2

Tembaga / Copper (Cu)
Saran monitor : setiap penggantian air, terutama penggunaan dengan air ledeng (PAM)
Nilai ideal : 0.0 mg/l (ppm), diatas 0.3 mg/l (ppm) fatal untuk jenis keong dan invertebrata, diatas 1.0 mg/l (ppm) fatal bagi kehidupan air tawar, kolam, dan laut.
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan : mengganti sebagian besar air dengan air yang bebas tembaga.

Fosfat / Phosphate (PO4)
Saran monitor : mingguan atau adanya pertumbuhan lumut (algae)
Nilai ideal : 1.0 mg/l (ppm)
Nilai ideal : 0.1 mg/l (ppm)
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan :

– mengganti air secara mingguan (10-30%)
– menambah tanaman air yang cepat tumbuh
– mengurangi jumlah populasi ikan dan pemberian makanan yang berlebihan

Klorin / Chlorine (Cl)
Saran monitor : setiap penggantian air, terutama penggunaan dengan air ledeng (PAM)
Nilai ideal : dibawah 0.02 mg/l (ppm)
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan : memberikan kondisioner penurun klorin dan meng-aerasi-kan air dengan baik

Kalsium / Calsium (Ca)
Saran monitor : mingguan atau ada gejala pertumbuhan koral yang lambat / melambat
Nilai ideal untuk akuarium air laut : 400 – 450 mg/l (ppm)
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan : mengganti air secara parsial
o menaikan : memberikan kondisioner penambah kalsium

Magnesium (Mg)
Saran monitor : mingguan atau ada gejala pertumbuhan invertebrata dan alga merah melambat
Nilai ideal untuk akuarium air laut : sekitar 1300 mg/l (ppm)
Kegiatan untuk merekondisi air :
o menurunkan : mengganti air secara parsial
o menaikan : memberikan kondisioner penambah kalsium

Catatan :
1. Dalam penggunaan air untuk memelihara ikan hias dan tanaman air sebaiknya air diendapkan dahulu     selama sehari.
2. Dalam keadaan tertentu dapat didahulukan penggunaan air tersebut, terutama air yang berasal dari
air ledeng (PAM) dengan penambahan kondisioner untuk mengatasi kandungan berbahaya pada air     tersebut, seperti klorin, tembaga, dll.
3. Oleh karena hal tersebut diatas, sebaiknya dilakukan pengujian terlebih dahulu terhadap air yang akan     digunakan.
4. Untuk mengetahui kondisioner mana yang sesuai kebutuhan, ada beberapa referensi yang dapat     digunakan, silahkan klik ” Produk Kondisioner Air ” .
5. Dalam memilih dan membeli kondisioner air perlu diperhatikan baik-baik tanggal kadaluarsanya, tabel     tester (jika ada), penggunaannya apakah untuk air tawar, kolam atau laut.
6. Kegiatan untuk merekondisi, baik untuk kegiatan menurunkan dan menaikan berurut mulai dari tindakan     untuk mengatasi kondisi yang ringan sampai ke berat.

Sumber: http://www.jelambaraquaticlife.com

VAKSINASI IKAN

pale skin with patches1

Koi Herpes Virus

Peningkatan produksi perikanan adalah impian dari setiap pembudidaya. Hal ini juga didukung oleh pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan yang mencanangkan program bahwa pada tahun 2015, Indonesia mampu meningkatkan produksi perikanan sebesar 353 %. Program ini dapat diartikan sebagai tekad dari Kementerian Kelautan dan Perikanan bahwa Indonesia semaksimal mungkin mampu meningkatkan produksinya di bidang perikanan.

Serangan Motile Aeromonas Septicemia (MAS)

Serangan Motile Aeromonas Septicemia (MAS)

Untuk menjawab pertanyaan “Bagaimana caranya agar produksi ikan di Indonesia bisa meningkat?” Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah melakukan beberapa hal yang dapat dilakukan agar produksi perikanan dapat meningkat. Salah satunya yaitu melalui Pengendalian Penyakit Ikan dengan Cara Vaksinasi. Hal ini diharapkan mampu mengurangi tingkat mortalitas atau kematian pada ikan-ikan konsumsi yang dibudidayakan oleh para pembudidaya ikan. Ini merupakan suatu langkah atau upaya yang dilakukan pemerintah agar indonesia mampu meningkatkan produksi perikanan sebesar 353 % pada tahun 2015.

Serangan Streptococcus

Streptococcus iniae pada ikan Nila

Vaksin merupakan suatu produk biologi yang terbuat dari mikroorganisme yang dilemahkan, dimatikan atau direkayasa genetika sehingga berguna untuk merangsang kekebalan tubuh secara aktif. Dapat diartikan bahwa fungsi dari vaksinasi itu sendiri yaitu untuk meningkatkan kekebalan atau sistem imun pada ikan, sehingga apabila suatu saat ikan itu terkena penyakit atau mikroorganisme patogen yang dapat menyebabkan infeksi pada ikan, ikan tersebut mampu melawan infeksi tersebut.Vaksinasi ini dilakukan bertujuan untuk mencegah timbulnya penyakit yang dapat menyerang ikan. Seperti yang kita ketahui, pencegahan sejak dini merupakan cara yang paling ideal untuk pengendalian penyakit pada ikan.

Penggunaan vaksinasi  telah terbukti memiliki kontribusi postif pada dunia perikanan. Hal ini dapat dilihat dari keberhasilan industri salmon dan trout di Eropa yang terus meningkat. Keberhasilan penggunaan vaksinasi ini diyakini akan memiliki dampak pada produksi khususnya perikanan budidaya. Dampak yang dapat terjadi pada keberhasilan vaksinasi ini diantaranya: 1) menurunnya penggunaan zat-zat antibiotik pada ikan, 2) tingkat Mortalitas atau kematian pada ikan yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme patogen akan menurun. Kesemua hal diatas pada akhirnya akan menyebabkan meningkatnya produksi perikanan budidaya.

hydrovac-vaksin-KHVJenis-jenis Vaksin

Secara umum vaksin dapat digolongkan kedalam 5 jenis yaitu :

  1. Vaksin In-aktif : vaksin yang mengandung mikroorganisme patogen yang dimatikan. Cara kerja vaksin ini yaitu dengan menstimulasi sistem kekebalan tubuh spesifik (respon kekebalan humoral).
  2. Vaksin Hidup/dilemahkan : vaksin yang mengandung mikroorganisme patogen yang telah dilemahkan. Vaksisn ini menstimulasi sebagian (sel perantara) atau seluruh sistem kekebalan tubuh spesifik (respon kekebalan humoral).
  3. Vaksin toxoid : vaksin yang mengandung unsur toksik (ekstar cellular product) dari mikroorganisme patogen yang telah diinaktivkan, sehinggatidak akan mampu lagi menimbulkan penyakit pada ikan.
  4. Vaksin sub-unit : vaksin yang mengandung sebagian kecil epitop atau locus dari sel utuh mikroorganisme patogen yang digandakan atau diproduksi secara massal melalui perantara mikroorganisme lain yang dilemahkan sehingga tidak mampu menimbulkanpenyakit.
  5. Vaksin DNA : vaksin yang mengandung sebagian materi genetik dari mikroorganisme patogen. Vaksin ini dapat menstimulasi kekebalan tubuh spesifik secara terus menerus.

Vaksin yang Terdaftar di Indonesia

No Nama Vaksin Manfaat No. Registrasi
1. Aquavac Garvetil Pencegah bakteri Streptococcus iniae DKP RI. No. I 0703071 VKC
2. Aquavac Garvetil Oral Pencegah bakteri Streptococcus iniae DKP RI. No. I 0703070 VKC
3. Norvax Strep Si Pencegah bakteri Streptococcus iniae DKP RI. No. I 060641 VKC
4. Himmvac Agilban S – Plus Pencegah bakteri Streptococcus iniae KKP RI. No. I 1105165 VKC
5. Aquavac Strep Sa Pencegah bakteri Streptococcus agalactiae KKP RI. No. I 1105166 VKC
6. KV3 Pencegah bakteri Koi Herpes Virus KKP RI. No. I 1101152 VKC
7. Caprivac Aero – L Pencegah bakteri Aeromonas hydrophila KKP RI. No. D 1206201 BKC
8. Caprivac Vibrio – L Pencegah bakteri Vibrio sp. KKP RI. No. D 1206202 BKC
9. HydroVac Pencegah bakteri Aeromonas hydropilla KKP RI. No. D 1206203 BKC
10. Caprivac Vibrio Pencegah bakteri Vibrio sp KKP RI. No.  D 1207206 BKC
11. Aquavac ® Irido-V Pencegah Iridovirus KKP RI. No. D 1211221 BKC
12 Caprivac ICTA Pencegah bakteri Edwardsiela ictaluri KKP RI. No. D 1212222 BKC

Sumber : Direktorat  Jenderal Perikanan Budidaya, 2013


Aplikasi vaksin pada ikan

Melalui perendaman

Perendaman dapat dilakukan di dalam fiberglass, akuarium atau ember. Kepadatan ikan di dalam bak sekitar 100-200 gr/liter air. Dosis faksin disesuaikan dengan jenis vaksin. Biasanya tertera didalam kemasan vaksin. Contoh : untuk vaksin KV3 dosisnya yaitu 100 ml vaksin : 1000 liter air (1ml vaksin : 10 liter air). Selama proses perendaman sebaiknya diberikan aerasi dan dilakukan pemantauan. Apabila ada ikan yang terlihat aneh, segera pindahkan ke air segar.

Melalui penyuntikan

Cara pemberian vaksin melalui suntikan lebih tepat untuk ikan-ikan yang berukuran relatif besar, jumlahnya tidak terlalu banyak, misalnya induk ikan. Keuntungan pemberian vaksin melalui penyuntikan adalah 100% vaksin dapat masuk ke dalam tubuh ikan. Cara penyuntikan yang biasa dilakukan, yaitu dimasukkan ke rongga perut (intra peritoneal) dan dimasukkan ke otot/daging (intra muscular) dengan sudut kemiringan jarum suntik (needle) kira-kira 30o.

Melalui oral (dicampur dengan pakan)

Teknik ini lebih sesuai untuk ikan-ikan yang sudah dipelihara dalam kolam pemeliharaan ataupun sebagai upaya vaksinasi ulang (booster). Dosis vaksin yang digunakan untuk teknik ini sesuai dengan dosis yang direkomendasikan (sebagai contoh untuk vaksin HydroVac adalah 3-5 ml/kg bobot tubuh ikan) dan pemberian vaksin melalui pakan sebaiknya dilakukan selama 5 – 7 hari berturut-turut.

Tulisan terkait:

Vaksin perikanan dari PT Caprifarmindo Laboratories

Kematian Diatas 80% akibat Bakteri Edwardsiella Ictaluri

Sumber: POS Penyuluhan Korwil V Regional Kalimantan