Tempat Kongkow Parasit pada Ikan

Ada tiga kemungkinan penyebab kematian populasi ikan di kolam atau di perairan lain, yaitu stress linkungan atau keracunan, infeksi mikroba dan infeksi metazoan. Kesehatan ikan dalam akuakultur adalah hal yang paling penting. Dan tentunya kesehatan ikan dipengaruhi oleh faktor lingkungan, nutrisi dan patogen. Penyakit diartikan sebagai suatu keadaan fisik, morfologi dan atau fungsi yang mengalami perubahan dari kondisi normal  Secara umum penyakit dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu penyakit infeksi dan non infeksi. Penyakit infeksi disebabkan oleh organisme hidup seperti parasit, jamur, bakteri, dan virus dan penyakit non infeksi disebabkan oleh faktor non hidup seperti pakan, lingkungan, keturunan dan penanganan.
Parasit dapat diartikan sebagai organisme yang hidup pada organisme lain yang mengambil makanan dari tubuh organisme tersebut, sehingga organisme yang tempatnya makan (inang) akan mengalami kerugian. Dialam parasit mempunyai peranan penting dalam dalam suatu ekosistem. Sedangkan dalam budidaya kehadiran parasit sangat dihindari. Parasit ikan ada pada lingkungan perairan yang ada ikannya, tetapi belum tentu menyebabkan ikan menderita sakit.
Berikut ini adalah bagian tubuh ikan yang dapat dihinggapi parasit.
  1. Telur
  • Fungi: Saprolegnia dan keluarga.
  • Protozoan: Carchesium (Walleye dan Trout), Epistylis (Catfish), Pleistophora variae (Golden Shiner), sulci (Polyodon spathula ), dan Thelohania baueri (Pungitius pungitius),
  1. Kumis
  • Protozoa: Henneguya (Ictalurus nebulosus), Ichthyophthirius (terkadang).
  • Trematoda: Gyrodactylus
  1. Kulit dan Sirip
  • Fungi: Saprolegnia dan keluarga, Exophiala pisciphila
  • Protozoa: Ambiphrya, Amphileptus, Bodomonas, Chilodonella, Colponema, Cyclochaeta, Epistylis, Ichthyoboda, Ichthyophthirius, Oodinium, Trichodina, Trichophrya, Microsporidea, Myxosporidea, Myxobolus squamalis
  • Monogenea: Gyrodactylus,
  • Trematoda: Neascus (black spot)
  • Crustacea: Argulus, Lernaea, Ergasilus, Salmincola.
  1. Lubang Hidung
  • Protozoa: Apiosoma , Amphileptus, Chilodenella, Myxobolus, Tetrahymena, Trichodina, Trichodinella.
  • Monogenea: Aplodiscus nasalis (Hypentellium etowanum), Cleidodiscus monticelli, Pellucidhaptor catostomi, P. nasalis, P.
  • Nematoda: Philometra (bluegills danlargemouth black bass)
  • Copepoda: Ergasilus megaceros (fallfish dan catfish), Ergasilus rhinos (centrarchids), Gamidactylus, Gaminispatulus, Gaminispinus, Lernaea, Paragasilus,
  1. Insang
  • Fungi: Dermocystidium
  • Protozoa: Ambiphrya, Amphileptus, Bodomonas, Chilodonella, Cryptobia, Dermocystidium, Epistylis, Ichthyoboda (Costia), Ichthyophthirius, Microspora, Myxosporea, Piscinoodinium, Trichodina, Trichophrya
  • Monogenea: Gyrodactylus, Dactylogyrus, Cleidodiscus, dan masih banyak spesies lain
  • Trematoda: Sanguinicola
  • Copepoda: Achtheres, Argulus, Lernaea, Ergasilus, Salmincola, Lepeophtheirus
  1. Mulut
  • Protozoa: Apiosoma, Myxosporea
  • Trematoda: Leuceruthrus
  • Nematoda: Philometra nodulosa (pada ikan Suckers dan Buffalo Fishes)
  • Copepoda: Lernaea cyprinacea, Salmincola (S. lotae pada ikan Burbot)
  1. Darah
  • Protozoa: Trypanosoma (Cryptobia), Trypanoplasma, Babesiosoma, Dactylosoma, Haemogregaerina dalam sel darah merah, Kudoa, Sphaerospora
  • Trematoda: Sanguinicola pada pembuluh darah, termasuk pembuluh darah pada insang
  • Nematoda: Philometra sanguinea in pada pembuluh darah sirip ekor ikan mas, P. obturans pada pembuluh darah insang ikan Pike
  1. Kerongkongan
  • Trematoda: Azygia, Cotylaspis, Derogenes, Halipegus, Proterometra
  1. Perut
  • Protozoa: Schizamoeba
  • Monogenea: Enterogyrus , Enterogyrus sp.
  • Trematoda: Allocreadium, Aponeurus, Azygia, Caecincola, Centrovarium, Derogenes, Genolinea, Hemiurus, Leuceruthrus
  • Nematoda: Haplonema
  1. Usus
  • Protozoa: Hexamita, Schizamoeba, Eimeria.
  • Trematoda: Allocreadium, Crepidostomum, Lissorchis,
  • Cestoda: Proteocephalus, Bothriocephalus, Eubothrium.
  • Nematoda: Contracaecum, Camallanus,
  • Acanthocephala: Neoechinorhynchus, Echinorhynchus,
  1. Gelembung Renang
  • Trematoda: Acetodextra
  • Nematoda: Cystidicola , Huffmanella huffmanella
  1. Selaput rongga perut, Hati, Limpa
  • Fungi: Ochroconis humicola,; O. tshawytscha, Phoma herbarum.
  • Protozoa: Myxosporea, Microsporea, Goussia
  • Trematoda: Ornithodiplostomum, Posthodiplostomum, Paurorhynchus, Acetodextra (pada ikan Lele)
  • Cestoda: Diphyllobothrium, Haplobothrium, Ligula, Proteocephalus, Schistocephalus, Triaenophorus.
  • Acanthocephala: Echinorhynchus salmonis, Leptorhynchoides thecatus, Pomphorhynchus bulbocolli
  • Nematoda: Philonema,
  • Copepoda: Lernaea.
  1. Kantung Empedu
  • Protozoa: Myxosporea, Hexamita.
  • Trematoda: Crepidostomum cooperi, C. farionis, Derogenes , Plagioporus sinitsini, Prosthenhystera sp., Pseudochaetosoma.
  • Cestoda: Eubothrium salvelini, Dilepidae (Pleurocercoids)
  • Nematoda: Rhabdochona , Capillaria catostomi
  1. Saluran Empedu
  • Trematoda: Phyllodistomum
  1. Ginjal
  • Fungi: Ichthyophonus hoferi, Ochroconis
  • Protozoa: Myxosporea
  • Trematoda: Nanophyetus salmincola, Posthodiplostomum minimum centrarchi, Phyllodistomum pada saluran kencing dan ginjal.
  1. Kandung Kemih
  • Protozoa: Myxosporea, Vauchomia (trichodinid) pada Esox
  • Monogenea: Acolpenteron.
  • Trematoda: Phyllodistomum.
  1. Indung Telur (Ovarium)
  • Protozoa: Henneguya oviperda pada ikan Esox lucius, Pleistophora ovariae pada ikan Golden Shiners, Thelohania baueri pada ikan Gasterosteus aculeatus,
  • Trematoda: Acetodextra ameiuri
  • Nematoda: Philonema pada ikan Salmon
  • Cestoda: Proteocephalus
  1. Testis (Kantung sperma)
  • Protozoa: Hexamita
  • Cestoda: Proteocephalus
  1. Mata
  • Protozoa: Henneguya episclera pada ikan Lepomis gibbosus, H. zikaweiensis pada ikan Carassius auratus, Myxobolus corneus pada korna ikan Lepomis macrochirus, M. hoffmani pada selaput mata ikan Pimephales promelas
  • Digenea: Diplostomum spathaceum pada lensa mata, Diplostomulum scheuringi di cairan pada mata.
  • Nematoda: Philometroides di rongga bola mata pada ikan southeastern centrarchids
  1. Tulang Rawan
  • Protozoa: Henneguya brachyura pada ikan Notropis , H. schizura pada ikan Esox lucius, Henneguya sp. pada ikan Pomoxis spp., M. cartilaginis pada ikan Centrarchids, Myxobolus cerebralis pada ikan salmonids, M. hoffmani pada ikan Pimephales promelas, M. scleropercae pada ikan Perch
  1. System Saraf
  • Fungi: Ichthyophonus hoferi pada otak
  • Protozoa: Mesencephalicus pada otak ikan Cyprinus carpio (Europe), Myxobolus cerebralis mengganggu CNS (Central Nervous System / System Saraf Pusat), M. hendricksoni pada otak ikan Pimephales promelas, M. arcticus, M. kisutchi, M. neurobius pada CNS ikan Salmonids
  • Trematoda: Diplostomulum, Euhaplorchis, Ornithodiplostomulum, Parastictodora, Psilostomum
  1. Jaringan Otot
  • Protozoa: Myxobolus insidiosus pada ikan Cutthroat Trout, Chinook dan Coho Salmon, Heterosporis pada ikan Yellow Perch, serta beberapa Myxosporea dan Microsporea
  • Trematoda: Clinostomum dan black spot (Neascus )
  • Cestoda: Larval Diphyllobothrium, Triaenophorus
  • Nematoda: larval Eustrongylides

 

Sumber: Parasites of North American freshwater fishes by Glenn L. Hoffman 1999

Advertisements

PEMBERSIHAN : Cara Mudah Sterilisasi Ruang Pembenihan

Sterilisasi Ruangan Pembenihan sangat diperlukan untuk memutus rantai penyakit yang mungkin mulai tumbuh dan berkembang dari proses produksi benih sebelumnya. 

Proses Sterilisasi atau Disinfektan dibagi menjadi beberapa tahap kegiatan.

PEMBERSIHAN
Setelah selesai digunakan semua peralatan tempat kultur artemia, baskom pakan, baskom benih, scoope net, selang siphon, baru airasi dan lain-lain dilepas untuk dicuci dan disterilkan, dan ruangan pembenihan harus dibersihkan dari semua bentuk kotoran. Baik kotoran di dalam wadah pembenihan (akuarium/kolam terpal/kolam beton), maupun permukaan luar kolam dan di lingkungan kerja pembenihan. Kotoran yang terkumpul dibuang jauh dari lingkungan kandang atau dimusnahkan dengan cara dibakar sampai habis. Karena kotoran merupakan salah satu media hidup mikroba parasit, bakteri, jamur dan virus.

Bersambung….

Berikutnya PENCUCIAN

Resistensi Antibiotik

Resistensi antibiotik adalah kemampuan mikroorganisme untuk mengatasi pengaruh antibiotik.

Dengan kata lain, mikroorganisme yang resisten terhadap antibiotik, misalnya bakteri, akan kebal dan tidak mati walau diberi antibiotik.

Resistensi bakteri terhadap obat terdiri atas beberapa jenis, yaitu

  • Resistensi primer yang merupakan resistensi alamiah terhadap kuman, contohnya bakteri Staphylococcus yang mengandung enzim penisilinase dapat mengubah penisilin menjadi asam penisilinoat yang tidak mampu membunuh kuman itu;
  • Resistensi sekunder, yaitu karena adanya muatan-muatan yang berkembang biak menjadi spesies yang resisten;
  • Resisten episomal atau plasmid yang dapat terjadi karena bakteri mentransfer DNA kepada bakteri lain melalui kontak antarsel bakteri sejenis dan antarbkateri yang berlainan jenis;
  • Resistensi silang, yaitu resistensi bakteri terhadap suatu antibiotic dengan semua derivatnya. Sebagai contoh, penisilin dengan ampisilin, rifampisin dengan rifamisin, dan berbagai jenis sulfonamide. Untuk menghindari resistensi silang, digunakna dosis antibiotic yang relative lebih tinggi daripada dosis efektif minimum dalam waktu singkat.

Cara kerja antibiotik diantaranya:

  • melumpuhkan produksi dinding sel bakteri yang melindungi sel dari lingkungan eksternal
  • mengganggu sintesis protein dengan mengikat mesin yang membangun protein, asam amino dengan asam amino
  • mendatangkan malapetaka dengan proses metabolisme, seperti sintesis asam folat, sebuah vitamin B yang dibutuhkan bakteri untuk berkembang
  • memblokir sintesis DNA dan RNA (1)

Bahaya resistensi antibiotika merupakan salah satu masalah yang dapat mengancam kesehatan ikan. Hampir semua jenis bakteri saat ini menjadi lebih kuat dan kurang responsif terhadap pengobatan antibiotika. Bakteri yang telah mengalami resistensi terhadap antibiotika ini dapat menyebar dari satu akuarium ke akuarium yang lain, dari satu hatchery ke hatchery tetangga lain, sehingga mengancam usaha perikanan dengan hadirnya jenis penyakit infeksi baru yang lebih sulit untuk diobati dan lebih mahal juga biaya pengobatannya.

Gunakan antibiotik dengan bijak untuk Akuakultur yang bertanggung jawab.

Mencegah lebih baik daripada mengobati.

Kandungan Gizi Dalam Ikan Patin

Di dalam ikan Patin terdapat banyak kandungan nutrisi yang di butuhkan oleh tubuh manusia, dan berkut adalah kandungan nutrisi ikan Patin :

image

Kandungan Gizi Dalam Ikan Patin

Kandungan lemak lebih rendah dibandingkan jenis ikan lainya, terutama dua asam lemak esensial DHA adalah sekitar 4,74% dan EPA adalah sekitar 0,31%. Kedua jenis asam lemak omega-3 biasanya dihasilkan dari jenis ikan yang hidup di air dingin seperti ikan Salmon, tuna, dan sarden.

image

Total kandungan lemak dalam daging ikan Patin adalah 2,55% menjadi 3,42%, di mana asam lemak tak jenuh di atas 50%. Asam oleat merupakan asam lemak tak jenuh tunggal yang paling melimpah di dalam daging ikan Patin yaitu sebesar 8.43%.

Berdasarkan hasil penelitian, kandungan gizi dalam ikan Patin dalam bentuk lemak tak jenuh (USFA 50%) sangat baik untuk mencegah risiko penyakit kardiovaskular.

Lemak tak jenuh juga berguna untuk mengurangi jumlah kolesterol total dan kolesterol LDL dalam darah terkandung sehingga dapat mencegah dan mengurangi penyakit jantung koroner.

Manfaat Ikan Patin Bagi Kesehatan

Kandungan Kolesterol Yang Rendah

Di dalam ikan Patin terdapat banyak kandungan gizi, Rendahnya kadar kolesterol dalam ikan Patin membuat ikan ini sangatlah sehat untuk dikonsumsi dalam jangka panjang. Ikan Patin merupakan salah satu ikan yang baik untuk diet dan mengurangi kadar kolesterol.

Mencegah Penyakit Jantung Koroner

Di dalam ikan patin terdapat kandungan lemak tak jenuh sangatlah baik untuk mencegah penyakit kardiovaskular. Lemak tak jenuh juga sangat bermanfaat menekan/menurunkan kolesterol total dan kolesterol LDL pada darah. Hal ini dapat mencegah penyakit jantung koroner.

Kandungan Nutrisi Yang Tinggi

Di dalam ikan patin terdapat kandungan nutrisi. Nilai kandungan gizi berupa protein hewani yang terkandung pada ikan patin memiliki keunggulan relatif lebih besar dari pada protein yang dihasilkan oleh ikan tawar jenis lain. Asupan nutrisi yang di butuhkan dalam tubuh kita dapat terpenuhi dengan mengkonsumsi ikan patin ini secara teratur.

Manfaat Ikan Patin Untuk Ibu Hamil

Ibu hamil sangat membutuhkan banyak asupan nutrisi yang juga dibutuhkan untuk menjaga agar bayi dalam kandungan tetap sehat, kuat dan terjaga, mengkonsumsi ikan patin bermanfaat untuk mencerdaskan otak karena mengandung omega-3 yang cuku(p tinggi. Di sisi lain ikan patin juga terdapat kandungan DHA yang berfungsi untuk menjaga pertumbuhan bayi agar tetap normal dan sehat.

image

Olahan Ikan Patin

Sumber: http://www.SeputarIkan.com

Trik Mas Kesit Sehatkan Si Kumis

image

Pembudidaya harus memperhatikan kesehatan lele dan lingkungan budidaya.

Hujan turun yang tidak menentu bisa mengganggu proses budidaya ikan berkumis ini hingga menimbulkan kematian. Curah hujan tinggi seharian penuh dan tanpa perlindungan tambahan menyebabkan lele siap panen berukuran 5 ekor/kg milik salah seorang pembudidaya lele sistem bioflok di Sukabumi, Jawa Barat, mengalami kematian massal. Akibatnya, pembudidaya rugi dan kehilangan sebanyak 180 kg lele siap panen. Lantas, bagaimana mencegahnya?

Waspada Hujan

Menurut Kesit Tisna Wibawa, perekayasa di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat, hujan yang datang terus menerus bisa menyebabkan rendahnya kualitas lingkungan budidaya secara mendadak. Yaitu: perubahan derajat keasaman (pH), fluktuasi suhu, kematian plankton dan bakteri bermanfaat, dominasi amonium, hingga penumpukan logam berat yang terbawa air hujan.

Perubahan lingkungan budidaya yang mendadak membuat lele kaget dan menjadi stres. “Awalnya pasti stres, nggak mau makan, terus imun tubuh menurun karena tidak ada nutrisi yang mendukung dia, hasilnya rentan penyakit. Penyakit akan gampang menyerang ditambah dengan kondisi lingkungan yang tidak mendukung,” ulas Kesit terperinci. Apalagi pada budidaya lele sistem probiotik dan bioflok yang mengandalkan padat tebar tinggi, kualitas air kolam budidaya memerlukan perhatian intensif. Salah kelola, kerugianlah yang didapat.

Secara fisik, lele stres terlihat pucat dengan produksi lendir meningkat sehingga lapisan lendirnya menipis dan aktif melompat-lompat di di pinggiran kolam. Kesit menjabarkan, “Kalau lendirinya tipis, akan mudah ditempeli jamur. Apalagi dia bergesekan sama temennya, akhirnya ada yang luka. Di situ mulai diserang.” Kolam yang awalnya hijau atau cokelat juga akan berubah menjadi bening karena kematian plankton dan bakteri. Lele juga bisa keracunan amonium yang mendorong kematian massal secara mendadak. Jika kondisi ini dibiarkan, dalam hitungan jam hingga dua hari, lele yang dibudidaya mulai menggantung di permukaan air, respon makan hilang, kemudian mati massal.

Imunostimulan

Menurut Kesit, saat cuaca tidak menentu antara panas dan hujan, kunci utama keberhasilan budidaya adalah kesehatan ikan. Caranya dengan meningkatkan daya tahan tubuh pemilik nama ilmiah Clarias battracus itu dengan memberikan imunostimulan dan vitamin. “Itu harus selalu tersedia. Karena kalau sudah lingkungan yang penyebabnya, tidak ada cara lagi kecuali kita harus membikin daya tahan tubuh lele benar-benar kuat,” papar penemu kolam sistem paket padat tebar tinggi (budidaya lele sistem probiotik) ini.

Kesit menerangkan, saat musim penghujan dengan intensitas tinggi nafsu makan lele akan berkurang sehingga mudah terserang penyakit. Imunostimulan meningkatkan daya tahan lele dengan cara mendorong nafsu makan seperti pada cuaca normal. Ia menyarankan penggunaan imunostimulan herbal yang mengandung ekstrak bawang putih, kencur, rumput teki, dan bakteri Bacillus karena efeknya lebih terlihat. Imunostimulan ini diberikan cukup satu hari sekali jika hujan berlangsung terus menerus. Bilaintensitas hujan mulai menurun, imunostimulan cukup diimbuhkan 2 – 7 hari sekali.

Imunostimulan

Imunostimulan

Sementara, pemberian vitamin C akan memberikan efek hangat dalam tubuh ikan sehingga nyaman untuk makan. Vitamin rutin disajikan sekali setiap hari sesuai dosis yang tertera pada label kemasan. Kesit memberikan dua jenis pakan, yaitu pakan apung dan pakan tenggelam. Pakan apung diberikan berdasarkan adlibitum (sekenyangnya),sedangkan pakan tenggelam sebanyak 3% – 5% bobot tubuh. “Karena kalau pakan apung dia kenyang atau tidak ‘kan kelihatan dari respon makan dan kecepatan makannya,” ulas dia.

Lingkungan Budidaya

Untuk menjaga lingkungan budidaya, sambung Kesit, perlu perlakuan khusus seperti penambahan kapur dolomit atau kapur tohor sebanyak 15 – 25 gr/msore hari. “Tergantung ukuran ikan. Kalau masih ukuran 3 – 7 cm, kasih 15 gr/m3,” sarannya. Penambahan kapur bertujuan menstabilkan pH agar perairan tidak masam dan perubahan suhu tidak terlalu rendah. Suhu air pada cuaca normal berkisar 26° – 29°C. Namun, saat musim penghujan suhu bisa turun hingga 24°C. Yang harus dihindarkan pembudidaya, imbuhnya, suhu meluncur tajam dari 29°C langsung ke 24°C.

Selanjutnya, tambahkan mineral air berupa garam dengan dosis sebanyak dolomit selepas hujan turun. Probiotik pun wajib diberikan. Probiotik bermanfaat menguraikan sisa-sisa makanan yang terbuang dan menjaga kestabilan komposisi bakteri dalam air. Kesit mengingatkan,  setidaknya probiotik harus mengandung dua jenis bakteri. Yakni, bakteri yang berfungsi untuk menguraikan nitrit seperti Bacillus atau Nitrobacter dan bakteri yang menguraikan amoniak, seperti Nitrosomonas.

Kolam yang berbau terjdi karena banyak sisa pakan dan menghasilkan amoniak. Ini memerlukan kerja bakteri Nitrosomonas untuk menguraikan amoniak agar tidak meracuni ikan. Amoniak diurai menjadi nitrit. Selanjutnya, nitrit dimanfaatkan Bacillus atau Nitrobacter menjadi nitrat yang dimanfaatkan sebagai unsur hara bagi fitoplankton. Kesit menilai, hal inilah yang kurang diperhatikan pembudidaya. Mereka memberikan probiotik tanpa melihat komposisi bakteri yang terkandung di dalamnya sehingga probiotik tidak bisa bekerja secara efektif. “Makanya banyak kejadian kolam bau walaupun dikasih probiotik yang harganya mahal, itu karena fungsinya tidak sesuai,”cetusnya.

Kandungan amoniak tinggi akan sangat bahaya kala hujanturun. Polutan kondisi air yang menurun karena amoniak tinggi masih dibebani tambahan polutan logam berat atau asam yang terbawa air hujan. Lele pun semakin stres.

Windi Listianingsih
Sumber: http://www.agrina-online.com

Tulisan terkait:

Rumput Teki

Alicin Bawang Putih

VAKSINASI IKAN

pale skin with patches1

Koi Herpes Virus

Peningkatan produksi perikanan adalah impian dari setiap pembudidaya. Hal ini juga didukung oleh pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan yang mencanangkan program bahwa pada tahun 2015, Indonesia mampu meningkatkan produksi perikanan sebesar 353 %. Program ini dapat diartikan sebagai tekad dari Kementerian Kelautan dan Perikanan bahwa Indonesia semaksimal mungkin mampu meningkatkan produksinya di bidang perikanan.

Serangan Motile Aeromonas Septicemia (MAS)

Serangan Motile Aeromonas Septicemia (MAS)

Untuk menjawab pertanyaan “Bagaimana caranya agar produksi ikan di Indonesia bisa meningkat?” Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah melakukan beberapa hal yang dapat dilakukan agar produksi perikanan dapat meningkat. Salah satunya yaitu melalui Pengendalian Penyakit Ikan dengan Cara Vaksinasi. Hal ini diharapkan mampu mengurangi tingkat mortalitas atau kematian pada ikan-ikan konsumsi yang dibudidayakan oleh para pembudidaya ikan. Ini merupakan suatu langkah atau upaya yang dilakukan pemerintah agar indonesia mampu meningkatkan produksi perikanan sebesar 353 % pada tahun 2015.

Serangan Streptococcus

Streptococcus iniae pada ikan Nila

Vaksin merupakan suatu produk biologi yang terbuat dari mikroorganisme yang dilemahkan, dimatikan atau direkayasa genetika sehingga berguna untuk merangsang kekebalan tubuh secara aktif. Dapat diartikan bahwa fungsi dari vaksinasi itu sendiri yaitu untuk meningkatkan kekebalan atau sistem imun pada ikan, sehingga apabila suatu saat ikan itu terkena penyakit atau mikroorganisme patogen yang dapat menyebabkan infeksi pada ikan, ikan tersebut mampu melawan infeksi tersebut.Vaksinasi ini dilakukan bertujuan untuk mencegah timbulnya penyakit yang dapat menyerang ikan. Seperti yang kita ketahui, pencegahan sejak dini merupakan cara yang paling ideal untuk pengendalian penyakit pada ikan.

Penggunaan vaksinasi  telah terbukti memiliki kontribusi postif pada dunia perikanan. Hal ini dapat dilihat dari keberhasilan industri salmon dan trout di Eropa yang terus meningkat. Keberhasilan penggunaan vaksinasi ini diyakini akan memiliki dampak pada produksi khususnya perikanan budidaya. Dampak yang dapat terjadi pada keberhasilan vaksinasi ini diantaranya: 1) menurunnya penggunaan zat-zat antibiotik pada ikan, 2) tingkat Mortalitas atau kematian pada ikan yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme patogen akan menurun. Kesemua hal diatas pada akhirnya akan menyebabkan meningkatnya produksi perikanan budidaya.

hydrovac-vaksin-KHVJenis-jenis Vaksin

Secara umum vaksin dapat digolongkan kedalam 5 jenis yaitu :

  1. Vaksin In-aktif : vaksin yang mengandung mikroorganisme patogen yang dimatikan. Cara kerja vaksin ini yaitu dengan menstimulasi sistem kekebalan tubuh spesifik (respon kekebalan humoral).
  2. Vaksin Hidup/dilemahkan : vaksin yang mengandung mikroorganisme patogen yang telah dilemahkan. Vaksisn ini menstimulasi sebagian (sel perantara) atau seluruh sistem kekebalan tubuh spesifik (respon kekebalan humoral).
  3. Vaksin toxoid : vaksin yang mengandung unsur toksik (ekstar cellular product) dari mikroorganisme patogen yang telah diinaktivkan, sehinggatidak akan mampu lagi menimbulkan penyakit pada ikan.
  4. Vaksin sub-unit : vaksin yang mengandung sebagian kecil epitop atau locus dari sel utuh mikroorganisme patogen yang digandakan atau diproduksi secara massal melalui perantara mikroorganisme lain yang dilemahkan sehingga tidak mampu menimbulkanpenyakit.
  5. Vaksin DNA : vaksin yang mengandung sebagian materi genetik dari mikroorganisme patogen. Vaksin ini dapat menstimulasi kekebalan tubuh spesifik secara terus menerus.

Vaksin yang Terdaftar di Indonesia

No Nama Vaksin Manfaat No. Registrasi
1. Aquavac Garvetil Pencegah bakteri Streptococcus iniae DKP RI. No. I 0703071 VKC
2. Aquavac Garvetil Oral Pencegah bakteri Streptococcus iniae DKP RI. No. I 0703070 VKC
3. Norvax Strep Si Pencegah bakteri Streptococcus iniae DKP RI. No. I 060641 VKC
4. Himmvac Agilban S – Plus Pencegah bakteri Streptococcus iniae KKP RI. No. I 1105165 VKC
5. Aquavac Strep Sa Pencegah bakteri Streptococcus agalactiae KKP RI. No. I 1105166 VKC
6. KV3 Pencegah bakteri Koi Herpes Virus KKP RI. No. I 1101152 VKC
7. Caprivac Aero – L Pencegah bakteri Aeromonas hydrophila KKP RI. No. D 1206201 BKC
8. Caprivac Vibrio – L Pencegah bakteri Vibrio sp. KKP RI. No. D 1206202 BKC
9. HydroVac Pencegah bakteri Aeromonas hydropilla KKP RI. No. D 1206203 BKC
10. Caprivac Vibrio Pencegah bakteri Vibrio sp KKP RI. No.  D 1207206 BKC
11. Aquavac ® Irido-V Pencegah Iridovirus KKP RI. No. D 1211221 BKC
12 Caprivac ICTA Pencegah bakteri Edwardsiela ictaluri KKP RI. No. D 1212222 BKC

Sumber : Direktorat  Jenderal Perikanan Budidaya, 2013


Aplikasi vaksin pada ikan

Melalui perendaman

Perendaman dapat dilakukan di dalam fiberglass, akuarium atau ember. Kepadatan ikan di dalam bak sekitar 100-200 gr/liter air. Dosis faksin disesuaikan dengan jenis vaksin. Biasanya tertera didalam kemasan vaksin. Contoh : untuk vaksin KV3 dosisnya yaitu 100 ml vaksin : 1000 liter air (1ml vaksin : 10 liter air). Selama proses perendaman sebaiknya diberikan aerasi dan dilakukan pemantauan. Apabila ada ikan yang terlihat aneh, segera pindahkan ke air segar.

Melalui penyuntikan

Cara pemberian vaksin melalui suntikan lebih tepat untuk ikan-ikan yang berukuran relatif besar, jumlahnya tidak terlalu banyak, misalnya induk ikan. Keuntungan pemberian vaksin melalui penyuntikan adalah 100% vaksin dapat masuk ke dalam tubuh ikan. Cara penyuntikan yang biasa dilakukan, yaitu dimasukkan ke rongga perut (intra peritoneal) dan dimasukkan ke otot/daging (intra muscular) dengan sudut kemiringan jarum suntik (needle) kira-kira 30o.

Melalui oral (dicampur dengan pakan)

Teknik ini lebih sesuai untuk ikan-ikan yang sudah dipelihara dalam kolam pemeliharaan ataupun sebagai upaya vaksinasi ulang (booster). Dosis vaksin yang digunakan untuk teknik ini sesuai dengan dosis yang direkomendasikan (sebagai contoh untuk vaksin HydroVac adalah 3-5 ml/kg bobot tubuh ikan) dan pemberian vaksin melalui pakan sebaiknya dilakukan selama 5 – 7 hari berturut-turut.

Tulisan terkait:

Vaksin perikanan dari PT Caprifarmindo Laboratories

Kematian Diatas 80% akibat Bakteri Edwardsiella Ictaluri

Sumber: POS Penyuluhan Korwil V Regional Kalimantan