Posts by EmpangQQ

Pewarnaan Gram

Dengan pewarnaan Gram, bakteri-bakteri dapat dibagi atas 2 golongan yaitu:

✓ Gram positif, berwarna violet (ungu) karena mengikat zat warna utama “kristal violet”.
✓ Gram negatif, berwarna pink (merah jambu) karena melepaskan zat warna utama dan menangkap zat warna penutup ”fuchsin”.

Prinsip atau pokok-pokok pewarnaan gram meliputi 4 tingkatan yaitu :
1. Pewarnaan dengan zat warna utama (kristal gentian violet yang warnanya violet).
2. Merekatkan (mengintensifkan) dengan suatu larutan mordant, yaitu larutan lugol (J-KJ).
3. Menambahkan zat decolorisasi (bahan peluntur) misalnya alkohol atau alkohol-asam.
4. Pemberian zat penutup (counter stain), misalnya : larutan fuchsin, safranin, dll.
Kesalahan Prosedur.

Kesalahan biasanya terdapat pada ”overstaining” dan ”overdecolozing”, yaitu terlalu lama memberikan zat-zat warna atau pancucian dengan alkohol. Akibatnya Gram-positif dapat menjadi Gram negatif. Teknik mewarnai hendaknya dikontrol juga dengan melakukan pemulasan terhadap bakteri yang telah diketahui Gramnya. Larutan-larutan zat warna yang digunakan senantiasa diperiksa, apakah sudah terdapat kristal-kristal atau kotoran-kotoran lainnya. Gunakanlah selalu larutan-larutan zat warna yang disaring dengan kertas saring.

Perlu kita ketahui bahwa perbedaan sifat antara kedua golongan bakteri tadi, tidaklah absolut tegas dan spesifik, melainkan tergantung juga pada beberapa faktor, antara lain:
a) Bakteri-bakteri Gram positif sering kali tidak dapat menyerap dan mengikat zat warna kristal violet, terutama apabila dibuat preparat dari bakteri-bakteri biakan murni yang telah tua (rough).
b) Ada bakteri-bakteri tertentu yang sangat peka terhadap cara-cara yang mengalami sedikit perubahan.
c) Selain itu ada juga bakteri-bakteri yang bersifat ”gram variable”, dll.
Gentian violet dapat diganti dengan crystalviolet atau methylviolet, jika gentian violet tidak ada.

Kualitas Benih Jadi Prioritas

Perlu percepatan penerapan teknologi pembenihan lele guna mendongkrak kualitas, bukan sekadar mengejar kuantitas.


Kondisi suplai dan permintaan yang tidak berimbang terjadi dalam budidaya lele antara segmen pembenihan dan pembesaran.  Seiring bertambahnya permintaan pasar akan komoditas ini maka sektor hulu dituntut untuk memproduksi benih lele secara besar-besaran.

Sahban I. Setioko merupakan salah satu pembudidaya lele segmen pembenihan di Bogor menyampaikan kondisi tersebut. “Daerah Sawangan, Parung, Bogor merupan salah satu sentra budidaya lele segmen pembesaran dalam skala besar, dan permintaan akan benih sangat tinggi. Terdapat beberapa pembudidaya berskala besar dan mereka kebutuhanya sekitar 11 juta ekor per bulan. Namun sampai saat ini kami hanya mampu mensuplai sekitar 10 – 15 % nya saja atau sekitar 1,2 – 1,6 jutaan ekor dari kebutuhan tersebut, selebihnya benih didatangkan dari luar daerah seperti Jawa Tengah dan Indramayu,” ungkap sahban saat ditemui Trobos Aqua di lokasi usahanya.


Penerapan Teknologi
Guna memenuhi tingginya permintaan benih lele, perlu ada sentuhan teknologi budidaya. Seperti yang diterapkan Sahban dengan konsep budidaya Catfish Fabrication. Ia menjelaskan, konsep ini harus diterapkan oleh Unit Pembenihan Rakyat (UPR) di berbagai daerah baik mereka yang menjalankan skala besar maupun kecil.

Catfish Fabrication maksudnya, kata Sahban, adalah dalam pembenihan tidak hanya menghasilkan produk dari UPR, akan tetapi harus ada value (nilai) lebih daripada hanya sekedar memproduksi benih yang dihasilkan UPR. Value akan dirasakan pembeli produk (benih lele) jika UPR mengaplikasikan teknologi seperti penerapan pemijahan buatan secara striping, pemberian pakan larva berkualitas berupa artemia, serta penambahan obat-obatan herbal berupa bawang putih serta kunyit pada benih lele. “Jadi bukan hanya UPR yang mendapatkan untung dengan menjual produknya, namun pembeli dari produk UPR juga akan mendapatkan hasil atau keuntungan dikarenakan benihnya berkualitas,” tutur Sahban.

Ini merupakan dampak positif dalam penerapan teknologi, Jelas Sahban. Diharapkan UPR menerapkan pembenihan dengan intensif agar hasil maksimal dan terukur. Sayangnya, model budidaya ini belum merata di UPR di berbagai daerah.

Senada dengan Sahban, Azzam Bachur Zaidy selaku Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI) juga angkat bicara mengenai perlunya penerapan sistem intensif dalam pembenihan lele. Lanjutnya, bicara mengenai benih lele, masih banyak UPR yang sifatnya masih tradisional.

Azzam menggambarkan, saat ini posisi pembenihan dan pembesaran sudah berubah, segmen pembesaran sudah mulai bergerak dan banyak yang mengadopsi budidaya sistem intensif dan fokus. Segmen pembenihan pergerakkannya masih cenderung lambat dalam menerapkan teknologi dan inovasi budidaya lele. Diharapkan UPR baik beskala kecil sampai besar menerapkan teknologi dan inovasi agar pencapaian hasil maksimal.

“Di Bogor ada yang menerapkan juga pembenihan lele secara intensif dan dilihat dari hasil prosuksinya juga cukup besar, sekitar produksi 500 – 700 ribu ekor benih per siklus produksinya, dan lokasinya indoor semua. Ini merupakan aplikasi dari penerapan teknologi demi mendukung pencapaian benih baik secara kualitas dan kuantitas,” ungkap Azzam.

Benih Berkualitas
Lalu bagaimana menghasilkan benih berkualitas? Tanya Sahban. Lebih rinci ia jelaskan, pembenihan dimulai dari indukan lele yang unggul, dan tidak sampai di situ saja, manajemen induk penting diterapkan. Di UPR Pasir Gaok – Bogor pihaknya melakukan tagging (penanaman microchip pada ikan), jadi pada saat pemijahan akan didata kode induk sehingga benih yang dihasilkan akan mempunyai rekam data pemijahannya.

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-74/15 Juli – 14 Agustus 2018

Sumber: http://www.trobos.com/detail-berita/2018/07/15/12/10488/kualitas-benih-jadi-prioritas

Kunjungan Pemerintah Bangladesh Ke UPR PASIR GAOK FISH FARM Bogor

Bogor, merupakan salah satu lokasi dimana Usaha Pembenihan Ikan Patin berkembang. Salah satu kelompok yang cukup maju dalam mengembangkan pembenihan ikan Patin adalah UPR Pasir Gaok Fish Farm yang berlokasi di Kecamatan Rancabungur Kabupaten Bogor. Kelompok ini melaksanakan usaha mulai dari pengelolaan induk, pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva sampai berukuran 0.75 inci (2 cm) sebagai segmen pendederan I. Kemudian dilanjutkan tahap pendederan II dikolam tembok dan kolam bundar untuk menghasilkan bibit patin berukuran 1 – 3 inci.

Dengan dukungan empat buah indoor hatchery yang masing-masing berisi 40, 45, 35 dan 35 unit aquarium ukuran 200x100x50 cm, kapasitas produksinya bisa mencapai 4,5 juta ekor bibit ukuran 0.75 inci (2 cm) perbulan.

Dari informasi tersebut, Pemerintah Republik Bangladesh berdasarkan rekomendasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia melalui Direktorat Perbenihan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) dan Rekomendasi Penyuluhan Perikanan di Kabupaten Bogor, Kelompok tersebut menjadi salah satu destinasi Pemrintah Republik Bangladesh dalam melakukan Kunjungan ke kelompok tersebut.

Kunjungan Delegasi Bangladesh tersebut dalam rangka studi banding usaha pembenihan Ikan Patin di Indonesia yang nantinya akan menjadi bahan referensi dalam pengembangan Ikan Patin di Negara tersebut. Delegasi Negara tersebut meliputi; Mr. Narayon Chandra Chanda, MP Menteri Perikanan dan Peternakan, Mr. Mostafa Peneliti, serta Duta Besar Berkuasa Penuh Negara Bangladesh Mr. H.E. Major General Azmal Kabir, OSP, psc. Dari Indonesia sendiri turut Hadir, Bapak Ir. Coco Kokarkin Soetrisno, M.Sc Direktur Perbenihan DJPB, Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor, Camat Rancabungur, Kepala Desa Pasir Gaok, serta Penyuluh Perikanan se-Kabupaten Bogor.

Acara tersebut dimulai dengan pemaparan profil Kelompok Pasir Gaok Fish Farm oleh Ketuanya Bapak Saban, kemudian dilanjutkan diskusi terkait pengelolaan usaha Patin, dan pengembangan Ikan patin di Indonesia. Dalam diskusi tersebut, Ketua Kelompok menyampaikan bahwa UPR Pasir Gaok merupakan unit pembenihan yang bersertifikan CPIB (Cara Pembenihan Ikan yang Baik) dengan predikat excellent (Sangat Baik) yang ditetapkan pada tanggal 28 Oktober 2015. Kelompok yang berdiri sejak tahun 2012 tersebut juga sudah memiliki Stock Induk bersertifikast yang awalnya diberikan oleh Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan. Delegasi tersebut menyampaikan bahwa dengan studi banding tersebut akan menjadi bahan referensi dan akan berkomunikasi secara intens dengan pemerintah Indonesia dalam rangka pengembangan Ikan Patin di Negaranya (red: Bangladesh)

Dalam acara tersebut, delegasi dari Bangladesh juga berkeliling meninjau Lokasi Kolam Induk, Penetasan Telur, Pemeliharaan larva dan Sistem Manajemen pakan yang dilakukan oleh Kelompok tersebut. Selain ke UPR Pasir Gaok Fish Farm, Delegasi tersebut juga dijadulkan akan melakukan kunjungan ke Arwana Farm di Cibubur, dan akan bertolak ke Bali esok harinya untuk meninjau kegiatan usaha Budidaya Rumput Laut.

 

KONTRIBUTOR:
Nia Karuniawati S., S.Pi.
(Penyuluh Perikanan Kab. Bogor)

Siklus Hidup Oodinium (Piscinoodinium)

Siklus hidup parasit ini dapat dibagi menjadi empat tahap, dan berlangsung selama 10-14 hari pada suhu 23-25 °C, siklus akan lebih lambat dibawah suhu 23 ℃.

Siklus Hidup Oodinium

Sumber gambar bettasource.com

Tahap pertama adalah tahap mendapatkan makanan. Parasit dinoflagellata menempel pada ikan, kemudian menjadi kista, yang menembus kulit, darah serta jaringan lunak insang. Kista terus menghancurkan sel dan memakan nutrisi di dalamnya. Tumbuh di bawah kulit sampai meninggalkan inangnya. Menginfeksi insang adalah salah satu hal yang membuat Velvet berbeda dari penyakit serupa yang disebut Ich (white spot). Tahap kista ini sangat tahan terhadap kimia. Tidak jarang membutuhkan beberapa aplikasi pengobatan untuk sepenuhnya menghilangkan parasit.

Tahap kedua adalah ketika parasit matang meninggalkan inang masuk ke dalam air, lalu jatuh ke dasar kolam.

Tahap ketiga dimulai ketika memasuki proses reproduksi. Parasit membentuk kista, yang memungkinkannya untuk bertahan hidup. Tahapan ini juga sangat tahan terhadap perawatan kimia. Kista benar-benar membagi dan membentuk antara 34 dan 64 sel baru di mana pada membran menyemburkan sel-sel ke dan memasuki tahap keempat.

Selama tahap keempat ini organisme yang berenang bebas disebut dinospore. Sebuah dinospore memiliki dua flagela, salah satunya ditutupi oleh lipatan tubuh dan memiliki mata kemerahan. Silia dan flagela mendorong sebuah dinospora melalui air. Dinospora berenang mencari inang dan akan mencoba untuk melekat pada inang dalam waktu 70 jam – ini adalah tahap infeksi dan dapat diobati. Mereka harus menemukan inang dalam 24 jam, atau mati. Sekali hinggap pada inang, dinospora masuk ke lapisan epitel kulit dan sirip dan siklus kehidupan dimulai dari awal lagi.

KERAGAAN IKAN PATIN SIAM UNGGUL TUMBUH CEPAT DARI BRPI SUKAMANDI

Oleh: Jadmiko Darmawan, Suharyanto, Evi Tahapari, Wahyu Pamungkas dan Ika Nurlaela

Pengantar

Saat ini 80% pangsa pasar ikan Patin di dunia dikuasai oleh Vietnam. Indonesia dengan sumber daya yang melimpah seharusnya mampu bersaing dalam rangka pemenuhan pangsa pasar tersebut dengan peningkatan produksi ikan Patin nasional. Peningkatan produksi dapat dilakukan melalui perbaikan mutu genetik salah satunya adalah melakukan kegiatan seleksi untuk mendapatkan ikan Patin Siam unggul tumbuh cepat. Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi, selama 10 tahun terakhir telah melakukan kegiatan seleksi ikan Patin Siam dalam rangka pembentukan kandidat ikan Patin Siam unggul tumbuh cepat.

Proses Seleksi

Kegiatan seleksi diawali dengan pembentukan populasi dasar (FO) yang diperoleh melalui persilangan ikan Patin Siam koleksi yang ada di BRPI. Saat ini kegiatan seleksi telah menghasilkan ikan Patin Siam generasi kedua (F2). Ikan Patin Siam generasi pertama (F1) memiliki nilai respon seleksi 20,91% dan generasi kedua menghasilkan nilai respon seleksi sebesar 17,95%, sehingga akumulasi nilai respon seleksi pada dua generasi sebesar 38,86%. Dengan nilai respon seleksi yang relatif besar diharapkan ikan Patin Siam generasi kedua memiliki performa pertumbuhan lebih baik dibandingkan dengan ikan Patin Siam dari masyarakat (benih UPR). Dengan demikian diharapkan mampu mendongkrak produksi ikan Patin nasional untuk pemenuhan kebutuhan domestik dan ekspor fillet ikan Patin dunia.

Metodologi

Penelitian dilakukan pada berbagai ekosistem dan lokasi sentra budidaya ikan Patin Siam. Lokasi yang digunakan untuk uji performa meliputi daerah dataran tinggi, yaitu di Waduk Darma – Kuningan dengan menggunakan kerambajaring apung. Sedangkan untuk di daerah dataran rendah yaitu di Balai Penelitian Ikan Sukamandi dengan menggunakan kolam tembok ukuran 50 m2. Untuk uji multilokasi di sentra budidaya dilakukan di Lampung dan Tulungagung (Gambar 1). Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan PatinSiam F2 dengan ukuran 4-5 inchi (t20 g) dan sebagai pembanding digunakan ikan Patin Siam yang berasal dari UPR Lokal. Padat penebaran ikan uji berkisar antara 10 — 22 ekor/m’, menyesuaikan kebiasaan pemeliharaan yang dilakukan oleh pembudidaya di masing-masing lokasi pengujian. Pakan ikan yang diberi berupa pelet komersial tenggelam dengan kadar protein 28% sebanyak 3-5% bobot biomas per hari.

Patin Perkasa

Gambar 1. Lokasi Uji Multilokasi Pembesaran Ikan Patin Seleksi. (A= KJA Waduk Darma Kuningan; B= Kolam Tembok Politeknik Negeri Lampung; C= Kolam Jaring Sukamandi Pengamatan dilakukan pada pertumbuhan (panjang total, panjang standar dan bobot), FCR dan SR yang dilakukan setiap bulan

Hasil dan Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan Patin Siam unggul tumbuh cepat generasi kedua dari BRPI Sukamandi memiliki perforrnapertumbuhan 16,61 — 35,98 % lebih baik dibandingkan dengan ikan Patin Siam yang berasal dari UPR lokal pada berbagai lokasi dan ekosistem budidaya selama 6 bulan pemeliharaan (Gambar 1).

Sumber: https://bppisukamandi.kkp.go.id/

Patin PERKASA

Patin Perkasa usia 2,5 tahun

Patin PERKASA

Patin PERKASA atau Patin suPER Karya Anak bangSA adalah ikan Patin Siam (Pangasianodon Hypophthalmus Sauvage, 1878, sinonim Pangasius Hypophthalmus Sauvage, 1878; Pangasius Sutchi Fowler, 1937) unggul tumbuh cepat hasil seleksi. Penelitian dalam rangka pembentukan ikan Patin “PERKASA” dimulai sejak tahun 2010 yang didorong oleh laporan masyarakat pembudidaya bahwa telah terjadi penurunan mutu genetis ikan Patin Siam yang ada di masyarakat, yang diindikasikan dengan penurunan karakter pertumbuhan. Kelompok Peneliti komoditas Ikan Patin di Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI) Sukamandi mengawali kegiatan penelitian ini dengan melakukan karakterisasi populasi induk pembentuk pada tahun 2010. Selanjutnya, dilakukan pembentukan populasi dasar pada tahun 2011, kemudian dilakukan pembentukan populasi generasi pertama pada tahun 2013 dan pembentukan populasi generasi kedua pada tahun 2015. Pembentukan populasi-populasi tersebut dilakukan melalui seleksi famili pada karakter pertumbuhan menggunakan parameter ukuran bobot tubuh. Respon seleksi sebagai indikator keberhasilan program seleksi yang berupa peningkatan keragaan pertumbuhan berdasarkan parameter bobot pada ukuran konsumsi (>500 g) diperoleh sebesar 20,91% pada populasi generasi pertama dan sebesar 17,95% pada populasi generasi kedua, sehingga diperoleh respon seleksi kumulatif pada dua generasi sebesar 38,86%.

Pertumbuhan

Hasil pengujian keragaan pertumbuhan pada uji lapang (uji multilokasi dan multisistem) menunjukkan bahwa pertumbuhan dan tingkat produktivitas ikan Patin Siam “PERKASA” lebih unggul daripada ikan Patin Siam dari UPR Lokal pada masing-masing lokasi uji, yaitu sebesar

  • 20,62% (7 bulan pemeliharaan di Sukamandi),
  • 20,60% (6 bulan pemeliharaan di Kuningan),
  • 46,42% (8 bulan pemeliharaan di Tulungagung) dan
  • 16,61% (6 bulan pemeliharaan di Lampung).

Daya Tahan

Hasil pengujian daya tahan terhadap infeksi bakteri Aeromonas Hydrophila pada dosis LD, 1,8×10′ CFU/mL juga menunjukkan bahwa benih ikan patin Siam tumbuh cepat generasi kedua lebih tahan (mortalitas 33,33% pada jam ke-24 dan 58,86% pada jam ke-168) daripada benih ikan patin Siam UPR Lokal (mortalitas 60,00% pada jam ke-24 dan 76,67% pada jam ke-168).

Toleransi Lingkungan

Hasil uji toleransi lingkungan juga menunjukkan bahwa benih ikan patin Siam tumbuh cepat generasi kedua memiliki ketahanan yang lebih tinggi daripada benih ikan patin Siam UPR Lokal terhadap paparan pH asam (H4,5) dan salinitas 18 g/L.

Berdasarkan hasil-hasil pengujian tersebut, populasi ikan patin Siam tumbuh cepat generasi kedua yang kemudian diusulkan nama patin “PERKASA”, merupakan kandidat baru strain ikan patin Siam unggul, yang sedang diajukan permohonannya agar dapat dilepas sebagai strain unggul baru ikan Patin Siam tumbuh cepat.

Sumber: https://bppisukamandi.kkp.go.id/

Pertahanan Canggih Pada Ikan

Ikan selalu berhubungan erat dengan air, lingkungan tempat mereka hidup. Oleh karena itu, mereka secara permanen menjadi taget serangan mikroorganisme lain yang sangat bervariasi, seperti bakteri aerob dan anaerob, virus, parasit, jamur dan polutan.

Untuk melawan mikroorganisme patogen, epidermis dan sekresinya, lendir (mucus) berperan sebagai pelindung antara ikan dan lingkungan. Ikan dikelilingi oleh lapisan lendir yang terus menerus yang berperan sebagai penghalang fisik, kimia dan biologi pertama dari infeksi dan tempat interaksi pertama antara sel kulit dan patogen ikan.

Komposisi lendir sangat kompleks dan mencakup banyak faktor antibakteri yang disekresikan oleh sel kulit ikan, seperti imunoglobulin, aglutinin, lektin, lysin dan lisozim. Faktor-faktor ini memiliki peran yang sangat penting untuk membedakan antara mikroorganisme patogenik dan komersal dan untuk melindungi ikan dari patogen yang menyerang.

Selanjutnya, lendir kulit merupakan pintu utama masuknya patogen, karena menginduksi perkembangan biofilm, dan merupakan lingkungan mikro yang baik bagi bakteri, agen penyakit utama untuk ikan.

Salah satu pertahanan ikan adalah Imunoglobulin atau antibodi yaitu sekelompok glikoprotein yang terdapat dalam serum atau cairan tubuh pada hampir semua mamalia.

Imunoglobulin termasuk dalam famili glikoprotein yang mempunyai struktur dasar sama, terdiri dari 82-96% polipeptida dan 4-18% karbohidrat.

Komponen polipeptida membawa sifat biologik molekul antibodi tersebut.

Molekul antibodi mempunyai dua fungsi yaitu

– Mengikat antigen secara spesifik dan memulai reaksi fiksasi komplemen

– Pelepasan histamin dari sel mast.

Jadi Imunoglobulin adalah senyawa protein yang digunakan untuk melawan kuman penyakit (virus, bakteri, racun bakteri dll.

Lendir adalah pertahanan canggih pada ikan, dan dapat hancur karena banyak sebab. Untuk itu, menjaga ketersediaan lendir yang berkecukupan pada ikan akan menjadikan ikan hidup sejahter, sehat dan tidak mudah sakit.