Oleh Ah Ming

analisa_solihin

Solihin hanya mencoba berjuang menepati janji pada yang PM Solihin, gaess…

Sebelumnya Solihin mohon maaf kalo tulisan ini nggak lengkap, nggak tepat, atau menciderai buat siapapun. Solihin hanya sedikit menganalisa satu komponen, yakni Harga Pokok Produksi (HPP) dan sedikit evaluasi.

Sebelum membuat strategi kedepan, alangkah baiknya kita evaluasi dulu peta kekuatan kita, terutama angka HPP yang menjadi barometer penting yang menunjukkan usaha kita secara faktual menguntungkan apa nggak.

Dari komponen HPP yg ada di gambar bawah, kita bisa mencermati dan mengetahui dimanakah kita bisa melakukan efisiensi atau penghematan.

Biaya terbesar adalah di pakan, angkanya bisa 68,6 % dari total HPP, (dengan asumsi FCR 1:1). Rp. 10.500 dari total biaya Rp. 15.300. sebuah langkah yang tepat jika kita berkonsentrasi untuk otak atik di komponen ini.

Langkahnya bisa apa saja, bisa berusaha menurunkan FCR, membuat pakan yang lebih murah atau bla bla bla …

Walaupun tentunya tidak bisa dilakukan secara parsial atau sendiri-sendiri, sebagai contoh untuk menurunkan FCR otomatis, harus menggunakan benih yang qualified dan manajemen air yang bagus, sebagus apapun benih kalo hidup di air jelek juga nggak akan tumbuh dengan bagus. Sebaliknya, sehebat apapun high tech yang kita pakai kalau benih jelek ya percuma. Belajar dari petani padi yang selalu menyemai padi dengan menggunakan benih terbaik, atau peternak ayam yang selalu menggunakan DOC terbaik, atau Udang yang petaninya selalu mencari benur yang recommended.

Seandainya masih menggunakan pellet pabrikan, FCR bisa turun satu poin menjadi 0,9. Maka biaya pakan menjadi Rp. 9.450 atau ada penghematan sebesar Rp. 1.050. jika langkah ini yang diambil, maka yang harus kita lakukan adalah membuat FEEDING PROGRAM yang tepat, bukan FEELING PROGRAM. Perencanaan program pakan yang matang dan controlling yang ketat. Ini membutuhkan wawasan yang lumayan detail. Salah satu kaidahnya adalah : Porsi pakan harus sesuai dengan ADG (average daily gain, atau daya tumbuh maksimal ikan rata rata per hari) karena mau kita kasih pakan sebanyak apapun waktu panennya akan sama aja, maksudnya kalo dikasih pakan sehari 5 kali jadi lebih cepet panen gitu? Owh tentu tidak Fergusso.., kaidah kedua, frekwensi dan waktu pemberian pakan harus tepat, harus memperhatikan pola pencernaan lele yang berusus pendek dan fish behaviornya. Kaidah ke 3,4 5,6, dst bisa anda tonton divideo ruang kepala sekolah, bukan ruang guru loh yaa…

Seandainya kita bisa mengusahakan pakan dengan harga Rp. 8.000 (entah pakan mandiri atau yang lainnya). Sementara FCR nya jadi naik menjadi 1,2. Masih terjadi penghematan sebesar Rp. 900. Karena biaya pakan menjadi Rp. 9.600. tentunya otak atik pakan ini harus tetap dalam koridor keuangan juga koridor GAP (good aquaculture practices). Misalnya penggunaan maggot, sebaiknya dirubah bentuk dulu menjadi pellet. Kelebihannya, Bisa distok di gudang dan penggunaan bisa dikontrol dan tidak merusak citra Lele itu sendiri, paling tidak menghindari kesan jorok. Tentunya peleting maggot juga harus dihitung biayanya jangan sampai lebih mahal dari pellet pabrik dan FCR nya sesuai.

Sebaliknya jika kita berkonsentrasi pada probiotik dengan segala teknologinya seperti yang kita cermati pada diskusi di group. Berapa penghematan yang bisa dilakukan dari angka Rp. 800 dari total biaya Rp. 15.300. ? yang ini nggak usah dibahas yaa… sensitif.

Setelah kita bisa melakukan evaluasi HPP tadi baru kita masuk ke strategi selanjutnya, strategi harga termasuk harga psikologis, cara pemasaran dan sebagainya.

Cukup sekian, dan Solihin nggak janji meneruskan pembahasannya,

Solihin Cuma petani android garis lucu yang berbudidaya di buku…

Salam.