Archive for July 31st, 2018

Kualitas Benih Jadi Prioritas

Perlu percepatan penerapan teknologi pembenihan lele guna mendongkrak kualitas, bukan sekadar mengejar kuantitas.


Kondisi suplai dan permintaan yang tidak berimbang terjadi dalam budidaya lele antara segmen pembenihan dan pembesaran.  Seiring bertambahnya permintaan pasar akan komoditas ini maka sektor hulu dituntut untuk memproduksi benih lele secara besar-besaran.

Sahban I. Setioko merupakan salah satu pembudidaya lele segmen pembenihan di Bogor menyampaikan kondisi tersebut. “Daerah Sawangan, Parung, Bogor merupan salah satu sentra budidaya lele segmen pembesaran dalam skala besar, dan permintaan akan benih sangat tinggi. Terdapat beberapa pembudidaya berskala besar dan mereka kebutuhanya sekitar 11 juta ekor per bulan. Namun sampai saat ini kami hanya mampu mensuplai sekitar 10 – 15 % nya saja atau sekitar 1,2 – 1,6 jutaan ekor dari kebutuhan tersebut, selebihnya benih didatangkan dari luar daerah seperti Jawa Tengah dan Indramayu,” ungkap sahban saat ditemui Trobos Aqua di lokasi usahanya.


Penerapan Teknologi
Guna memenuhi tingginya permintaan benih lele, perlu ada sentuhan teknologi budidaya. Seperti yang diterapkan Sahban dengan konsep budidaya Catfish Fabrication. Ia menjelaskan, konsep ini harus diterapkan oleh Unit Pembenihan Rakyat (UPR) di berbagai daerah baik mereka yang menjalankan skala besar maupun kecil.

Catfish Fabrication maksudnya, kata Sahban, adalah dalam pembenihan tidak hanya menghasilkan produk dari UPR, akan tetapi harus ada value (nilai) lebih daripada hanya sekedar memproduksi benih yang dihasilkan UPR. Value akan dirasakan pembeli produk (benih lele) jika UPR mengaplikasikan teknologi seperti penerapan pemijahan buatan secara striping, pemberian pakan larva berkualitas berupa artemia, serta penambahan obat-obatan herbal berupa bawang putih serta kunyit pada benih lele. “Jadi bukan hanya UPR yang mendapatkan untung dengan menjual produknya, namun pembeli dari produk UPR juga akan mendapatkan hasil atau keuntungan dikarenakan benihnya berkualitas,” tutur Sahban.

Ini merupakan dampak positif dalam penerapan teknologi, Jelas Sahban. Diharapkan UPR menerapkan pembenihan dengan intensif agar hasil maksimal dan terukur. Sayangnya, model budidaya ini belum merata di UPR di berbagai daerah.

Senada dengan Sahban, Azzam Bachur Zaidy selaku Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI) juga angkat bicara mengenai perlunya penerapan sistem intensif dalam pembenihan lele. Lanjutnya, bicara mengenai benih lele, masih banyak UPR yang sifatnya masih tradisional.

Azzam menggambarkan, saat ini posisi pembenihan dan pembesaran sudah berubah, segmen pembesaran sudah mulai bergerak dan banyak yang mengadopsi budidaya sistem intensif dan fokus. Segmen pembenihan pergerakkannya masih cenderung lambat dalam menerapkan teknologi dan inovasi budidaya lele. Diharapkan UPR baik beskala kecil sampai besar menerapkan teknologi dan inovasi agar pencapaian hasil maksimal.

“Di Bogor ada yang menerapkan juga pembenihan lele secara intensif dan dilihat dari hasil prosuksinya juga cukup besar, sekitar produksi 500 – 700 ribu ekor benih per siklus produksinya, dan lokasinya indoor semua. Ini merupakan aplikasi dari penerapan teknologi demi mendukung pencapaian benih baik secara kualitas dan kuantitas,” ungkap Azzam.

Benih Berkualitas
Lalu bagaimana menghasilkan benih berkualitas? Tanya Sahban. Lebih rinci ia jelaskan, pembenihan dimulai dari indukan lele yang unggul, dan tidak sampai di situ saja, manajemen induk penting diterapkan. Di UPR Pasir Gaok – Bogor pihaknya melakukan tagging (penanaman microchip pada ikan), jadi pada saat pemijahan akan didata kode induk sehingga benih yang dihasilkan akan mempunyai rekam data pemijahannya.

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-74/15 Juli – 14 Agustus 2018

Sumber: http://www.trobos.com/detail-berita/2018/07/15/12/10488/kualitas-benih-jadi-prioritas

Kunjungan Pemerintah Bangladesh Ke UPR PASIR GAOK FISH FARM Bogor

Bogor, merupakan salah satu lokasi dimana Usaha Pembenihan Ikan Patin berkembang. Salah satu kelompok yang cukup maju dalam mengembangkan pembenihan ikan Patin adalah UPR Pasir Gaok Fish Farm yang berlokasi di Kecamatan Rancabungur Kabupaten Bogor. Kelompok ini melaksanakan usaha mulai dari pengelolaan induk, pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva sampai berukuran 0.75 inci (2 cm) sebagai segmen pendederan I. Kemudian dilanjutkan tahap pendederan II dikolam tembok dan kolam bundar untuk menghasilkan bibit patin berukuran 1 – 3 inci.

Dengan dukungan empat buah indoor hatchery yang masing-masing berisi 40, 45, 35 dan 35 unit aquarium ukuran 200x100x50 cm, kapasitas produksinya bisa mencapai 4,5 juta ekor bibit ukuran 0.75 inci (2 cm) perbulan.

Dari informasi tersebut, Pemerintah Republik Bangladesh berdasarkan rekomendasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia melalui Direktorat Perbenihan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) dan Rekomendasi Penyuluhan Perikanan di Kabupaten Bogor, Kelompok tersebut menjadi salah satu destinasi Pemrintah Republik Bangladesh dalam melakukan Kunjungan ke kelompok tersebut.

Kunjungan Delegasi Bangladesh tersebut dalam rangka studi banding usaha pembenihan Ikan Patin di Indonesia yang nantinya akan menjadi bahan referensi dalam pengembangan Ikan Patin di Negara tersebut. Delegasi Negara tersebut meliputi; Mr. Narayon Chandra Chanda, MP Menteri Perikanan dan Peternakan, Mr. Mostafa Peneliti, serta Duta Besar Berkuasa Penuh Negara Bangladesh Mr. H.E. Major General Azmal Kabir, OSP, psc. Dari Indonesia sendiri turut Hadir, Bapak Ir. Coco Kokarkin Soetrisno, M.Sc Direktur Perbenihan DJPB, Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor, Camat Rancabungur, Kepala Desa Pasir Gaok, serta Penyuluh Perikanan se-Kabupaten Bogor.

Acara tersebut dimulai dengan pemaparan profil Kelompok Pasir Gaok Fish Farm oleh Ketuanya Bapak Saban, kemudian dilanjutkan diskusi terkait pengelolaan usaha Patin, dan pengembangan Ikan patin di Indonesia. Dalam diskusi tersebut, Ketua Kelompok menyampaikan bahwa UPR Pasir Gaok merupakan unit pembenihan yang bersertifikan CPIB (Cara Pembenihan Ikan yang Baik) dengan predikat excellent (Sangat Baik) yang ditetapkan pada tanggal 28 Oktober 2015. Kelompok yang berdiri sejak tahun 2012 tersebut juga sudah memiliki Stock Induk bersertifikast yang awalnya diberikan oleh Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan. Delegasi tersebut menyampaikan bahwa dengan studi banding tersebut akan menjadi bahan referensi dan akan berkomunikasi secara intens dengan pemerintah Indonesia dalam rangka pengembangan Ikan Patin di Negaranya (red: Bangladesh)

Dalam acara tersebut, delegasi dari Bangladesh juga berkeliling meninjau Lokasi Kolam Induk, Penetasan Telur, Pemeliharaan larva dan Sistem Manajemen pakan yang dilakukan oleh Kelompok tersebut. Selain ke UPR Pasir Gaok Fish Farm, Delegasi tersebut juga dijadulkan akan melakukan kunjungan ke Arwana Farm di Cibubur, dan akan bertolak ke Bali esok harinya untuk meninjau kegiatan usaha Budidaya Rumput Laut.

 

KONTRIBUTOR:
Nia Karuniawati S., S.Pi.
(Penyuluh Perikanan Kab. Bogor)