Archive for November, 2017

Jaringan Epitel

Jaringan Epitel Benih Lele

Jaringan Epitel Benih Lele


Jaringan epitel adalah jaringan yang melapisi permukan tubuh, baik permukaan dalam maupun luar. Jaringan epitel dibagi tiga yaitu epitellum, endothellum dan mesothellum.

Jaringan epitellum adalah jaringan epitel yang melapisi permukaan luar tubuh. Endothellum adalah jaringan yang membatasi organ dalam. Sedangkan Mesotellum adalah jaringan epitellum yang membatasi rongga.

Jaringan epitel bersifat unisellur dan multiseluler yang tersusun kompak serta tidak memiliki ruang antarsel. Ada banyak fungsi dari jaringan epitel, namun fungsi utama jaringan epitel adalah sebagai lapisan pelindung yang melindungi jaringan dibawahnya.

Selain dari fungsi utama, terdapat pula fungsi khusus jaringan epitel berdasarkan dari setiap letak jaringan epitel. Fungsi khusus jaringan epitel adalah sebagai berikut..

  • Sebagai Perlindungan, sel epitel di kulit berfungsi dalam melindungi jaringan dibawahnya dari jaringan mekanik, bahan kimia berbaya, bakteri yang masuk dan dari kehilangan air yang banyak atau berlebihan
  • Sebagai Penerima Impuls, sel epitel khusus ditembus dari rangsangan sensorik dimana sel epitel terdapat ujung saraf sensorik yang berada pada telinga, kulit, lidah, dan hidung.
  • Sebagai Alat Absorpsi, sel epitel yang melapisi usus kecil menyerap nutrisi dari pencernaan makanan
  • Sebagai Alat Sekresi, Pada kelenjar, jaringan epitel khusus untuk mengeluarkan zat-zat kimia tertentu seperti hormon, cairan pelumas dan enzim.
  • Sebagai Alat Penyaring atau Filtrasi,epitel bersilia membantu dalam menghilangkan partikel debu dan benda asing yang masu ke saluran udara.
  • Sebagai Alat Ekskresi, jaringan epitel pada ginjal mengekskresikan produk limbah dari tubuh dan menyerap bahan bahan yang diperlukan dari urin. Keringat juga dikeluarkan dari tubuh oleh sel-sel epitel di kelenjar keringat.
  • Mengurangi Gesekan,sel-sel epitel yang halus, erat dan saling terkait melapisi seluruh sistem peredaran darah mengurangi gesekan antara darah dan dinding pembuluh darah.
  • Sebagai Alat Difusi,epitel sederhana meningkatkan difusi gas, cairan dan nutrisi. Karena mereka membentuk lapisan tipis, mereka ideal untuk difusi gas seperti pada dinding kapiler dan paru-paru.
  • IndoGAP : Sertifikasi Akan Disatukan

    Sertifikasi Akan Disatukan

    Indonesia Hadapi Persaingan Perikanan Budidaya

    Kompas, 3 Apr 2017
    JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah mulai menyiapkan penyatuan ratusan sertifikasi perikanan budidaya ke dalam satu sertifikasi, yakni IndoGAP. Sertifikasi ini diharapkan dapat memberikan jaminan mutu produk perikanan, baik untuk pasar di dalam negeri maupun di luar negeri. Hal itu dikemukakan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto. ”IndoGAP merupakan suatu bentuk sertifikasi dan SNI yang dikenal dan akan menjadi ciri Indonesia,” katanya di Jakarta, akhir pekan lalu. IndoGAP adalah Indonesian Good Aquaculture Practices. KKP dan Badan Standardisasi Nasional sudah menerbitkan sejumlah sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI), antara lain 98 SNI untuk benih, 32 SNI tentang cara pembuatan pakan ikan yang baik (CPPIB), dan 1 SNI tentang cara pembenihan ikan yang baik (CPIB). Selain itu, ada 89 SNI pembesaran ikan, 5 SNI komoditas udang ikan air tawar Karamba Jaring Apung, serta 62 SNI untuk metode uji. Tahun ini, pemerintah mewajibkan penerapan SNI bagi benih dan pakan. Menurut Slamet, IndoGAP adalah persyaratan usaha budidaya ikan untuk menjamin keamanan pangan, mutu produk perikanan budidaya secara kontinu, serta keberlanjutan usaha perikanan budidaya yang ramah lingkungan. IndoGAP diharapkan tidak sekadar menjadi standar produk perikanan budidaya yang beredar di Indonesia, tetapi juga meningkatkan daya saing produk di pasar lokal, regional, dan global.

    Persaingan
    Slamet menambahkan, persaingan dengan negara produsen perikanan budidaya mengharuskan Pemerintah Indonesia mendukung peningkatan produksi ikan budidaya dengan memperhatikan persyaratan pembeli. Pemenuhan SNI akan mendorong daya saing di pasar global, keamanan pangan, serta menjamin keberlanjutan usaha di bidang perikanan budidaya. ”Pemenuhan SNI harus menjadi perhatian agar produk perikanan budidaya di pasar lokal, regional, dan internasional dapat dipertahankan dan terus ditingkatkan,” ujar Slamet. Secara terpisah, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan Ternak, Denny Indradjaja, berpendapat, sertifikat yang dihasilkan Indonesia dapat diterapkan untuk pasar dalam negeri, tetapi belum tentu diakui pasar internasional. Hal itu, antara lain, karena pasar luar negeri selama ini mengacu pada sertifikasi yang berbeda-beda. Ia mencontohkan, Amerika Serikat mengacu pada sertifikasi Best Aquaculture Practices (BAP). 

    Sementara Uni Eropa mengikuti standar Global Good Aquaculture Practices (Global GAP). Sertifikasi internasional tersebut masih terbagi lagi ke dalam sertifikasi untuk setiap komoditas perikanan. Menurut Denny, jika pemerintah ingin menerbitkan sertifikat yang diakui pasar internasional, pemerintah perlu mengundang lembaga sertifikasi untuk mendapat masukan terkait kualifikasi yang memenuhi standar dunia.
    Slamet menambahkan, persaingan dengan negara produsen perikanan budidaya mengharuskan Pemerintah Indonesia mendukung peningkatan produksi ikan budidaya dengan memperhatikan persyaratan pembeli. Pemenuhan SNI akan mendorong daya saing di pasar global, keamanan pangan, serta menjamin keberlanjutan usaha di bidang perikanan budidaya. ”Pemenuhan SNI harus menjadi perhatian agar produk perikanan budidaya di pasar lokal, regional, dan internasional dapat dipertahankan dan terus ditingkatkan,” ujar Slamet. Secara terpisah, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan Ternak, Denny Indradjaja, berpendapat, sertifikat yang dihasilkan Indonesia dapat diterapkan untuk pasar dalam negeri, tetapi belum tentu diakui pasar internasional. Hal itu, antara lain, karena pasar luar negeri selama ini mengacu pada sertifikasi yang berbeda-beda. Ia mencontohkan, Amerika Serikat mengacu pada sertifikasi Best Aquaculture Practices (BAP). Sementara Uni Eropa mengikuti standar Global Good Aquaculture Practices (Global GAP). Sertifikasi internasional tersebut masih terbagi lagi ke dalam sertifikasi untuk setiap komoditas perikanan. Menurut Denny, jika pemerintah ingin menerbitkan sertifikat yang diakui pasar internasional, pemerintah perlu mengundang lembaga sertifikasi untuk mendapat masukan terkait kualifikasi yang memenuhi standar dunia.
    Slamet menambahkan, persaingan dengan negara produsen perikanan budidaya mengharuskan Pemerintah Indonesia mendukung peningkatan produksi ikan budidaya dengan memperhatikan persyaratan pembeli. Pemenuhan SNI akan mendorong daya saing di pasar global, keamanan pangan, serta menjamin keberlanjutan usaha di bidang perikanan budidaya. ”Pemenuhan SNI harus menjadi perhatian agar produk perikanan budidaya di pasar lokal, regional, dan internasional dapat dipertahankan dan terus ditingkatkan,” ujar Slamet. Secara terpisah, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan Ternak, Denny Indradjaja, berpendapat, sertifikat yang dihasilkan Indonesia dapat diterapkan untuk pasar dalam negeri, tetapi belum tentu diakui pasar internasional. Hal itu, antara lain, karena pasar luar negeri selama ini mengacu pada sertifikasi yang berbeda-beda. Ia mencontohkan, Amerika Serikat mengacu pada sertifikasi Best Aquaculture Practices (BAP). Sementara Uni Eropa mengikuti standar Global Good Aquaculture Practices (Global GAP). Sertifikasi internasional tersebut masih terbagi lagi ke dalam sertifikasi untuk setiap komoditas perikanan. Menurut Denny, jika pemerintah ingin menerbitkan sertifikat yang diakui pasar internasional, pemerintah perlu mengundang lembaga sertifikasi untuk mendapat masukan terkait kualifikasi yang memenuhi standar dunia.

    #IndoGAP

    Tempat Kongkow Parasit pada Ikan

    Ada tiga kemungkinan penyebab kematian populasi ikan di kolam atau di perairan lain, yaitu stress linkungan atau keracunan, infeksi mikroba dan infeksi metazoan. Kesehatan ikan dalam akuakultur adalah hal yang paling penting. Dan tentunya kesehatan ikan dipengaruhi oleh faktor lingkungan, nutrisi dan patogen. Penyakit diartikan sebagai suatu keadaan fisik, morfologi dan atau fungsi yang mengalami perubahan dari kondisi normal  Secara umum penyakit dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu penyakit infeksi dan non infeksi. Penyakit infeksi disebabkan oleh organisme hidup seperti parasit, jamur, bakteri, dan virus dan penyakit non infeksi disebabkan oleh faktor non hidup seperti pakan, lingkungan, keturunan dan penanganan.
    Parasit dapat diartikan sebagai organisme yang hidup pada organisme lain yang mengambil makanan dari tubuh organisme tersebut, sehingga organisme yang tempatnya makan (inang) akan mengalami kerugian. Dialam parasit mempunyai peranan penting dalam dalam suatu ekosistem. Sedangkan dalam budidaya kehadiran parasit sangat dihindari. Parasit ikan ada pada lingkungan perairan yang ada ikannya, tetapi belum tentu menyebabkan ikan menderita sakit.
    Berikut ini adalah bagian tubuh ikan yang dapat dihinggapi parasit.
    1. Telur
    • Fungi: Saprolegnia dan keluarga.
    • Protozoan: Carchesium (Walleye dan Trout), Epistylis (Catfish), Pleistophora variae (Golden Shiner), sulci (Polyodon spathula ), dan Thelohania baueri (Pungitius pungitius),
    1. Kumis
    • Protozoa: Henneguya (Ictalurus nebulosus), Ichthyophthirius (terkadang).
    • Trematoda: Gyrodactylus
    1. Kulit dan Sirip
    • Fungi: Saprolegnia dan keluarga, Exophiala pisciphila
    • Protozoa: Ambiphrya, Amphileptus, Bodomonas, Chilodonella, Colponema, Cyclochaeta, Epistylis, Ichthyoboda, Ichthyophthirius, Oodinium, Trichodina, Trichophrya, Microsporidea, Myxosporidea, Myxobolus squamalis
    • Monogenea: Gyrodactylus,
    • Trematoda: Neascus (black spot)
    • Crustacea: Argulus, Lernaea, Ergasilus, Salmincola.
    1. Lubang Hidung
    • Protozoa: Apiosoma , Amphileptus, Chilodenella, Myxobolus, Tetrahymena, Trichodina, Trichodinella.
    • Monogenea: Aplodiscus nasalis (Hypentellium etowanum), Cleidodiscus monticelli, Pellucidhaptor catostomi, P. nasalis, P.
    • Nematoda: Philometra (bluegills danlargemouth black bass)
    • Copepoda: Ergasilus megaceros (fallfish dan catfish), Ergasilus rhinos (centrarchids), Gamidactylus, Gaminispatulus, Gaminispinus, Lernaea, Paragasilus,
    1. Insang
    • Fungi: Dermocystidium
    • Protozoa: Ambiphrya, Amphileptus, Bodomonas, Chilodonella, Cryptobia, Dermocystidium, Epistylis, Ichthyoboda (Costia), Ichthyophthirius, Microspora, Myxosporea, Piscinoodinium, Trichodina, Trichophrya
    • Monogenea: Gyrodactylus, Dactylogyrus, Cleidodiscus, dan masih banyak spesies lain
    • Trematoda: Sanguinicola
    • Copepoda: Achtheres, Argulus, Lernaea, Ergasilus, Salmincola, Lepeophtheirus
    1. Mulut
    • Protozoa: Apiosoma, Myxosporea
    • Trematoda: Leuceruthrus
    • Nematoda: Philometra nodulosa (pada ikan Suckers dan Buffalo Fishes)
    • Copepoda: Lernaea cyprinacea, Salmincola (S. lotae pada ikan Burbot)
    1. Darah
    • Protozoa: Trypanosoma (Cryptobia), Trypanoplasma, Babesiosoma, Dactylosoma, Haemogregaerina dalam sel darah merah, Kudoa, Sphaerospora
    • Trematoda: Sanguinicola pada pembuluh darah, termasuk pembuluh darah pada insang
    • Nematoda: Philometra sanguinea in pada pembuluh darah sirip ekor ikan mas, P. obturans pada pembuluh darah insang ikan Pike
    1. Kerongkongan
    • Trematoda: Azygia, Cotylaspis, Derogenes, Halipegus, Proterometra
    1. Perut
    • Protozoa: Schizamoeba
    • Monogenea: Enterogyrus , Enterogyrus sp.
    • Trematoda: Allocreadium, Aponeurus, Azygia, Caecincola, Centrovarium, Derogenes, Genolinea, Hemiurus, Leuceruthrus
    • Nematoda: Haplonema
    1. Usus
    • Protozoa: Hexamita, Schizamoeba, Eimeria.
    • Trematoda: Allocreadium, Crepidostomum, Lissorchis,
    • Cestoda: Proteocephalus, Bothriocephalus, Eubothrium.
    • Nematoda: Contracaecum, Camallanus,
    • Acanthocephala: Neoechinorhynchus, Echinorhynchus,
    1. Gelembung Renang
    • Trematoda: Acetodextra
    • Nematoda: Cystidicola , Huffmanella huffmanella
    1. Selaput rongga perut, Hati, Limpa
    • Fungi: Ochroconis humicola,; O. tshawytscha, Phoma herbarum.
    • Protozoa: Myxosporea, Microsporea, Goussia
    • Trematoda: Ornithodiplostomum, Posthodiplostomum, Paurorhynchus, Acetodextra (pada ikan Lele)
    • Cestoda: Diphyllobothrium, Haplobothrium, Ligula, Proteocephalus, Schistocephalus, Triaenophorus.
    • Acanthocephala: Echinorhynchus salmonis, Leptorhynchoides thecatus, Pomphorhynchus bulbocolli
    • Nematoda: Philonema,
    • Copepoda: Lernaea.
    1. Kantung Empedu
    • Protozoa: Myxosporea, Hexamita.
    • Trematoda: Crepidostomum cooperi, C. farionis, Derogenes , Plagioporus sinitsini, Prosthenhystera sp., Pseudochaetosoma.
    • Cestoda: Eubothrium salvelini, Dilepidae (Pleurocercoids)
    • Nematoda: Rhabdochona , Capillaria catostomi
    1. Saluran Empedu
    • Trematoda: Phyllodistomum
    1. Ginjal
    • Fungi: Ichthyophonus hoferi, Ochroconis
    • Protozoa: Myxosporea
    • Trematoda: Nanophyetus salmincola, Posthodiplostomum minimum centrarchi, Phyllodistomum pada saluran kencing dan ginjal.
    1. Kandung Kemih
    • Protozoa: Myxosporea, Vauchomia (trichodinid) pada Esox
    • Monogenea: Acolpenteron.
    • Trematoda: Phyllodistomum.
    1. Indung Telur (Ovarium)
    • Protozoa: Henneguya oviperda pada ikan Esox lucius, Pleistophora ovariae pada ikan Golden Shiners, Thelohania baueri pada ikan Gasterosteus aculeatus,
    • Trematoda: Acetodextra ameiuri
    • Nematoda: Philonema pada ikan Salmon
    • Cestoda: Proteocephalus
    1. Testis (Kantung sperma)
    • Protozoa: Hexamita
    • Cestoda: Proteocephalus
    1. Mata
    • Protozoa: Henneguya episclera pada ikan Lepomis gibbosus, H. zikaweiensis pada ikan Carassius auratus, Myxobolus corneus pada korna ikan Lepomis macrochirus, M. hoffmani pada selaput mata ikan Pimephales promelas
    • Digenea: Diplostomum spathaceum pada lensa mata, Diplostomulum scheuringi di cairan pada mata.
    • Nematoda: Philometroides di rongga bola mata pada ikan southeastern centrarchids
    1. Tulang Rawan
    • Protozoa: Henneguya brachyura pada ikan Notropis , H. schizura pada ikan Esox lucius, Henneguya sp. pada ikan Pomoxis spp., M. cartilaginis pada ikan Centrarchids, Myxobolus cerebralis pada ikan salmonids, M. hoffmani pada ikan Pimephales promelas, M. scleropercae pada ikan Perch
    1. System Saraf
    • Fungi: Ichthyophonus hoferi pada otak
    • Protozoa: Mesencephalicus pada otak ikan Cyprinus carpio (Europe), Myxobolus cerebralis mengganggu CNS (Central Nervous System / System Saraf Pusat), M. hendricksoni pada otak ikan Pimephales promelas, M. arcticus, M. kisutchi, M. neurobius pada CNS ikan Salmonids
    • Trematoda: Diplostomulum, Euhaplorchis, Ornithodiplostomulum, Parastictodora, Psilostomum
    1. Jaringan Otot
    • Protozoa: Myxobolus insidiosus pada ikan Cutthroat Trout, Chinook dan Coho Salmon, Heterosporis pada ikan Yellow Perch, serta beberapa Myxosporea dan Microsporea
    • Trematoda: Clinostomum dan black spot (Neascus )
    • Cestoda: Larval Diphyllobothrium, Triaenophorus
    • Nematoda: larval Eustrongylides

     

    Sumber: Parasites of North American freshwater fishes by Glenn L. Hoffman 1999

    Menjahit Induk Jantan Ikan Lele Pasca Pemijahan – Alat dan Bahan.

    Dalam pemijahan ikan Lele secara buatan, belum ada cara lain untuk mengeluarkan sperma dari induk jantan ikan Lele, kecuali dengan cara melakukan pembedahan diarea perut untuk dapat mengambil kantung sperma dengan mudah. Dengan demikian, pemijahan Lele buatan banyak memerlukan induk jantan yang harus dikorbankan.

    Teman di Balai Perikanan mengatakan bahwa induk jantan yang diambil kantung spermanya, dapat kembali tumbuh normal dan kantung sperma tumbuh kembali apabila luka terbuka diarea perut dijahit kembali.

    Untuk tujuan tersebut tulisan ini mendokumentasikan tatacara menjahit luka terbuka induk jantan ikan Lele. Tulisan bagian pertama adalah memperkenalkan alat dan bahan yang akan digunakan.

    Alat dan bahan yang diperlukan untuk menjahit perut induk jantan ikan Lele setelah diambil kantung sperma adalah :
    Alat (Instrumen)
    a. Tissue forceps ( pinset ) terdiri dari dua bentuk yaitu tissue forceps bergigi ujungnya (surgical forceps) dan tanpa gigi di ujungnya yaitu atraumatic tissue forceps dan dressing forceps.
    b. Scalpel handles dan scalpel blades.
    c. Dissecting scissors ( Metzen baum )
    d. Suture scissors
    e. Needleholders
    f. Suture needles ( jarum ) dari bentuk 2/3 circle, Vi circle , bentuk segitiga dan bentuk bulat
    g. Sponge forceps (Cotton-swab forceps)
    h. Hemostatic forceps ujung tak bergigi ( Pean) dan ujung bergigi (Kocher)
    i. Retractors, double ended
    j. Towel clamps

    Bahan
    a. Benang (jenis dan indikasi dijelaskan kemudian )
    b. Cairan desifektan : Povidon-iodidine 10 % (Bethadine )
    c. Cairan Na Cl 0,9% dan perhydrol 5 % untuk mencuci luka.
    d. Anestesi lokal lidocain 2%.
    e. Sarung tangan.
    f. Kasa steril.

    Bersambung: CARA MEMEGANG ALAT

    Referensi:

    – Ratih Astarida