Archive for May, 2017

Ikan Mola, Ikan Mas Silver dari Cina

Penulis:

Genta Fabiyanto, S.St.Pi  danTatang, S.St.Pi

Ikan Mola

Ikan Mola

Ikan mola ( Hypophtalmichthys molitrix ) seperti telah di jelaskan pada bab.I berasal dari daratan Cina dan masuk ke Indonesia pada tahun ’70 an oleh Lembaga Penelitian Perikanan Darat ( LPPD ) Bogor dan kemudian oleh swasta. Ikan mola di tempat asalnya dapat memijah secara alami selama periode bulan April – Juli pada air mengalir sesuai habitatnya. Di sungai Thone, Jepang ikan mola juga dapat memijah secara alami pada sekitar bulan Juni – Juli. Namun diluar daerah tsb diatas ikan mola tidak dapat mimijah secara alami dan harus melalui pemijahan buatan. Ikan ini mulai dapat dipijahkan tergantung umur dan daerah pengembangannya. 

Menurut Kuronoma (1988) di Cina bagian selatan ikan berumur   2 – 3 tahun dengan berat 2 5 kg. di Cina Tengah umur 4 – 5 tahun dengan berat 2 – 5 kg, di Cina bagian utara umur 5 – 6 tahun dengan berat 2 – 5 kg, di Negara Rumania umur 6 – 9 tahun dengan berat 6 – 8 kg dan di Indonesia umur 2 – 3 tahun dengan berat 3 – 5 kg ( Effendi.P 2000 ). 

Di Indonesia pengembang biakan ikan Mola hanya dilakukan oleh Institusi Pemerintah ( Balikanwar, BBBAT, BBI ) dengan tujuan penelitian dan uji coba; sedang beberapa petani mencoba dijaring apung hanya sekedar hobby dan koleksi . Pada tahun 1987 pernah dilakukan penebaran ikan Mola bersama jenis ikan lainnya di waduk Saguling, namun sayangnya monitoring perkembangan ikan yang ditebar tidak dilakukan; sehingga perkembangan dan dampak dari penebaran tersebut tidak nampak.

Hasil pengamatan dilapangan ikan mola menunjukkan pertumbuhan yang tinggi dari sejak ukuran kebul sampai ikuran konsumsi baik di pelihara di kolam air tenang maupun di KJA di waduk yang penting ketersediaan pakan alami yang cukup. Sebagai perbandingan pertumbuhan ikan mola di Negara asalnya yang beriklim sub tropis, menunjukkan bahwa pertumbuhan tertinggi ikan mola yaitu pada umur 10 hari pertama dapat mencapai panjang 19 mm dengan berat 0,09 gr menjadi 47 mm panjang dan berat 1,1 gr dalam 20 hari, dan mencapai 17 cm panjang dan berat 5,5 gr dalam 60 hari,  pertumbuhan berat rata-rata 0,01 – 0,02 gr / hari pada 10 hari pertama dan 4,2 gr perhari selama ukuran fingerling. Perkembangan panjang badan yang paling tinggi yaitu pada umur tahun kedua dan pertumbuhan berat pada tahun ketiga. Tingkat pertumbuhan baik panjang maupun berat akan menurun setelah tahun ketiga.

Menurut Chang 1983,  panjang dan berat ikan Mola pada tingkat budidaya tertentu adalah sbb:

Umur ( Thn )

Panjang badan ( cm )

Berat ( gr )

 

2

3

4

5

50

57,6

60,3

63

1.803

4.650

5.340

6.400

Di Negara Nepal di kaki gunung Himalaya pertumbuhan karper Cina dari 15 gr ke 200 gr memerlukan waktu 160 hari ( BR.Pradhan and D.Swar 1987 ) sedang di Indonesia yang beriklim tropis pertumbuhannya lebih baik lagi dari berat 100 gr dipelihara di KJA dalam waktu 1 tahun dapat mencapai berat 700 gr – 1.000 gr, dalam 2 tahun dapat mencapai berat 2,5 kg – 3 kg dan dalam 3 tahun dapat mencapai 4 kg – 6 kg.

»✩«

​Sop ikan patin bening

Bahan-bahan

1 kg ikan patin,jeruk nipis

Bumbu yang di haluskan:

  • 5 siungbawang putih
  • Lada secukupnya

Bumbu yang tidak di haluskan

  • 2 butir cengkeh
  • 1/2 butir biji pala ukuran besar
  • jahe di geprek
  • 2 batang daun bawang
  • 1 buah tomat apel besar
  • 1 bungkus royco (jika suka)
  • garam secukup nya
  • daun kemangi
  • bawang goreng
  • cabe rawit merah utuh
  • bawang merah mentah ukuran kecil utuh (bila suka)
  • sedikit minyak buat menumis.

Langka

  • Potong ikan patin, bersihkan darah dan lemak yg menempel sampe bersih, beri jeruk nipis, diamkan lalu cuci kembali..sisihkan.
  • Tumis bawang putih dan lada yg sdh dihaluskan sampe harum.. matikan api nya.
  • Tempatkan panci diatas kompor beri air secukup nya..masukan biji paia, cengkeh dan jahe geprek serta bumbu halus yg udah ditumis.. tunggu sampe mendidih.
  • Masukan ikan nya tunggu sampe mendidih kembali, setelah mendidih beri royco dan garam.. masukan bawang mentah yg di iris tebal atau utuh, serta cabe rawit merah utuh.. icip icip, setelah ikan matang.. matikan apinya.. masukan daun bawang yg sdh di potong”, terus tomat yg sdh dipotong” .. kemangi terakhir bawang goreng… sajikan dgn sambal rebus dan jeruk limau.

Selamat mencoba, 

jangan lupa bumbu cinta.

Bagaimana Bakteri makan ?

​Bakteri dapat ditemukan di hampir setiap lingkungan. Mereka adalah organisme bersel satu yang bereproduksi dengan menggunakan pembelahan sel. Reproduksi ini membutuhkan energi, artinya bakteri perlu memberi makan. Keberadaan bakteri dan pemberian makan mereka, pada umumnya, bermanfaat bagi manusia dan alam.
Bakteri adalah parasit yang mendapatkan makan ditempat mereka hidup. Misalnya, saluran pencernaan manusia penuh bakteri. Mereka berada di inang sejak lahir dan terus tumbuh dan memberi makan saat tempat mereka hidup tumbuh dan makan.
Kebanyakan bakteri disebut dekomposer. Jenis bakteri ini mengurangi limbah dan membantu dalam siklus hidup. Parasit yang hidup di saluran pencernaan manusia, seperti contoh di atas, memakan bahan makanan yang membusuk, yang membantu mengurainya, memberi nutrisi pada makhluk tempat mereka hidup.

Dekomposer lain hidup pada benda mati dan mengurai hal-hal yang, jika dibiarkan sendiri, dapat menciptakan kondisi kehidupan yang tidak sehat bagi penghuni Bumi. Misalnya, beberapa bakteri diketahui mengurai hal-hal seperti binatang mati dan bahkan ada bakteri yg ditemukan dalam minyak.

​Belajar Air Lagi …

Water Quality Management

Water Quality Management

Parameter kualitas air kolam itu diantaranya adalah: Oksigen, CO2, Amoniak, Nitrit, Nitrat, pH, Temperatur, hardness, alkalinity.
Oksigen. 

Pada sistim green water, oksigen dihasilkan dari proses photosintesis. diperlukan cahaya matahari. makanya kalo mendung berhari-hari lele harus puasa karena diantaranya oksigen lagi ‘sedikit’

Pada sistim intensif (bioflok, ras/sirkulasi/autotrop), oksigen dihasilkan dari ‘aerator’. jadi tidak tergantung ‘cuaca’.

CO2
.

Pada sistim green water CO2 ‘dihilangkan’ dengan proses photosintesis. jadi saat tidak ada matahari kadar CO2 tinggi. air akan ‘asam’/pH rendah dan ikan akan stress.

Pada sistim intensif (bioflok, sirkulasi/autotrop), CO2 dihilangkan dengan ‘aerator’. jadi tidak tergantung cuaca.
Amoniak.

Bisa dihilangkan dengan cara:

1. Sistim green water (photosintesis), perlu cahaya matahari

2. Sistim bioflok, tidak perlu cahaya matahari.

3. Sistim ras/sirkulasi/nitrifikasi, tidak perlu cahaya matahari.

4. Sistim ganti air. tidak perlu cahaya matahari.

Jadi amoniak bisa dihilangkan dengan menggunakan salah satu sistim diatas atau gabungannya.

Jadi perlu cahaya matahari? tergantung sistem mana yg kita pake.
Nitrit.

Nitrit adalah produk ‘antara’. yaitu perubahan amoniak ke nitrat. nitrit sangat beracun. tapi tingkat racunnya bisa dikurangi/dihilangkan oleh Cl (clorida).

Cl ini terdapat pada garam (NaCl). agar aman usahakan perbandingan Cl:N itu 6:1.

Jadi jangan lupa kasih garam ke dalam kolam kita. 100 mg/L. untuk menghindari ‘serangan’ nitrit.

Pergantian sebagian air juga mengurangi konsentrasi nitrit dlm air.
Nitrat.

Produk akhir proses nitrifikasi. kurang beracun. tapi terlalu banyak juga bahaya. pergantian air rutin akan mengurangi konsentrasi nitrat.
pH.

Pada pH tinggi (>9). amoniak jadi bersifat racun (NH3 menjadi banyak).

Untuk menjaga pH agar tidak tinggi, tambahkan dolomit atau soda kue 150 mg/L. ini disebut naikin alkalinity.

Pada sistem green water pH dipengaruhi oleh sinar matahari. sistim lain tidak.
Hardness (Ca/Mg), 

Penting untuk osmoregulasi. untuk nambah tingkat hardness tambahkan dolomite. krn dolomite mengandung Ca dan Mg.
Pada sistim green water = sistim alga = sistim phytoplankton = sistim phytoautotropic = sistim photosintesis = sistim air hijau, 

Amoniak ‘dihilangkan’ dgn cara ‘dikonsumsi’ oleh phytoplankton/alga untuk pertumbuhan dan memperbanyak diri lewat proses photosistesis. hasilnya alga makin banyak, amoniak berkurang CO2 berkurang.

Proses photosintesis ini memerlukan sumber N (nitrogen) dan sumber C inorganik (carbon). sumber N-nya dari amoniak dan sumber carbonnya dari CO2.
Pada sistem bioflok = sistim heterotrop, 

‘amoniak’ dihilangkan dgn cara ‘dikonsumsi’ oleh bakteri heterotrop untuk pertumbuhan dan memperbanyak diri, hasilnya bakteri heterotrop menjadi banyak dan ‘gemuk’.

proses ‘pembentukan’ flok ini memerlukan sumber N (nitrogen) dan sumber C organik (carbon). sumber N-nya dari amoniak dan sumber carbonnya dari carbohydrat (mis. mollase, gula, tepung, alkohol, dedak, dll).

hasilnya amoniak berkurang, carbohidrat berkurang dan flok makin banyak.

Perbandingan C:N yg bagus itu katanya 20:1.

Proses biologis dalam budidaya bioflok

Proses Biologis Dalam Budidaya System Bioflok

Sumber : FaceBook Mina 

Rasio Karbon terhadap Nitrogen


Rasio karbon terhadap nitrogen atau rasio C/N adalah rasio dari massa karbon terhadap massa nitrogen di suatu zat. Di antara zat yang dianalisis menggunakan metode ini adalah sedimen dan kompos. Rasio C/N digunakan untuk mengetahui kondisi iklim pada masa lalu. Rasio karbon dan nitrogen dapat digunakan untuk mempelajari keberadaan tumbuhan di suatu tempat karena nitrogen diserap tumbuhan dan mikroorganisme, dan tumbuhan dan mikroorganisme yang mati meninggalkan sedimen karbon. Besarnya perbedaan antara nitrogen dan karbon tersebut juga membedakan jenis ekosistem yang pernah berada di atasnya.

Rasio C/N yang rendah, antara 4-10:1 umumnya bersumber dari laut, sedangkan rasio yang lebih tinggi bersumber dari daratan. Tumbuhan berpembuluh di daratan akan memberikan sedimen dengan rasio C/N lebih dari 20. Selulosa yang memiliki kandungan karbon yang tinggi tidak ditemukan di alga sehingga itulah yang membedakan antara sedimen yang dihasilkan dari tumbuhan berpembuluh di daratan dengan alga di lautan. Alga juga memiliki kandungan protein dan lemak yang lebih tinggi relatif dibandingkan tumbuhan di daratan.

PertanianSunting

Pada pengomposan, mikroba aktif secara optimal pada rasio C/N 30-35:1, dan rasio yang lebih tinggi akan menyebabkan laju pengomposan menurun. Mulsa yang memiliki rasio C/N lebih tinggi dapat menyebabkan konsentrasi unsur nitrogen di dalam tanah berkurang karena aktivitas organisme tanah cenderung menghabiskan nitrogen untuk pertumbuhannya. Namun belum diketahui apakah hal ini berdampak negatif bagi tanah atau tidak.

KelautanSunting

Materi organik yang tertimbun di sedimen lautan memberikan informasi mengenai sumber dan proses yang terjadi sebelum sedimen tersebut menyentuh dasar lautan, diantaranya dengan menganalisis rasio C/N dari sedimen tersebut. Alga di lautan secara umum memiliki rasio C/N antara 4 hingga 10. Namun kini telah diketahui bahwa massa alga yang mati akan terdekomposisi oleh bakteri sebelum menyentuh dasar lautan, hanya 10% yang mencapai dasar laut, dan hanya 1% yang permanen menjadi sedimen di dasar laut. Komunitas mikroba yang mendekomposisi membutuhkan nitrogen lebih banyak dibandingkan karbon sehingga rasio C/N sedimen dasar lautan akan meningkat dibandingkan dengan massa alga hidup. Rasio C/N meningkat seiring dengan kedalaman lautan, mencapai rasio 10 pada kedalaman 1000 meter dan hingga 15 pada kedalaman lebih dari 2500 meter. Marka rasio C/N di sedimen lautan cenderung tetap hingga terjadinya proses diagenesis yang mengubah rasio C/N tersebut. Selain itu, amonia diketahui teradsorpsi oleh mineral tanah liat sehingga memungkinkan rasio C/N yang didapatkan dari suatu lokasi lebih rendah dari yang diperkirakan.

LakustrinSunting

Tidak seperti sedimen di lautan, diagenesis pada ekosistem danau tidak mengganggu rasio C/N dalam jumah besar. Kayu yang menjadi sedimen di dasar danau cenderung memiliki rasio C/N yang lebih rendah dari pohon yang hidup di sekitar danau, namun tidak mengganggu perbedaan mendasar antara rasio C/N sedimen tumbuhan berpemubuluh dan alga.

Dua studi yang dilakukan di Danau Mangrove, Bermuda, dan Danau Yunoko, Jepang menunjukan ketidakteraturan dan fluktuasi rasio C/N antara 11 hingga 18. Fluktuasi ini dikarenakan keberadaan alga yang lebih dominan di danau dibandingkan tumbuhan berpembuluh. Dominasi tumbuhan berpembuluh dan alga yang berbeda-beda di setiap titik memberikan kesimpulan mengenai kondisi danau pada masa lalu. Danau yang dalam akan lebih didominasi alga, dan danau yang dangkal, mengering secara musiman, atau bersifat rawa akan didominasi tumbuhan berpembuluh.

Sumber: Rasio C/N