Archive for March, 2017

Rahasia Di Balik Enzim Papain

Papain adalah enzim jenis protease yang terdapat pada getah pepaya. Cairan putih kental layaknya susu ini banyak dijumpai pada bagian batang, buah maupun daunnya. Volume getah pepaya ini jauh lebih banyak pada bagian yang muda ketimbang yang tua. Sebagai enzim, papain sangat ampuh memecah molekul protein. Berkat hal tersebut, enzim papain kemudian memiliki beragam manfaat bagi manusia. Baik itu dalam sektor rumah tangga dan juga skala besar seperti industri.

Manfaat Enzim Papain

Kemampuan enzim papain memecah molekul protein membawa berkah untuk manusia. Ada beragam manfaat papain ini, antara lain:

  1. Dalam skala industri, enzim papain populer digunakan dalam pengolahan daging. Kandungan enzim yang satu ini mampu melunakkan daging (meet tenderizer) yang alot. Dengan pemakaian papain, para pengusaha terhindar dari kerugian sebab pasar lebih menyukai daging yang gampang diolah ketimbang yang keras. Papain pelunak daging ini telah tersedia di pasaran. Komposisi papainnya telah ditakar dengan cermat dan bisa digunakan langsung pada daging. Persoalan takaran ini penting, sebab jika cermat, papain akan membuat rasa daging menjadi pahit.
  2. Selain digunakan sebagai pelunak daging yang alot, enzim papain juga banyak dimanfaatkan sebagai salah satu bahan untuk menghancurkan sisa atau hasil buangan industri utamanya pengalengan ikan. Papain juga populer sebagai konsentrat pengurai protein yang dipakai memproses pakan ternak juga ikan. Tidak berhenti sampai di situ.
  3. Oleh karena daya pecah proteinnya yang kuat, papain juga digunakan untuk menghidrolisis molekul protein. Papain diperlukan dalam pembuatan pepton juga sejumlah asam amino. Kedua unsur ini sangat diperlukan khususnya dalam penelitian mikrobiologi dan juga dalam beberapa jenis industri.
  4. Manfaat lain papain adalah sebagai pelembut kulit dalam industri penyemakan kulit. Dengan papain, manusia bisa menggunakan sarung tangan dari kulit yang telah lembut, jaket kulit, dan beragam produk dari kulit lainnya.
  5. Papain digunakan sebagai salah satu bahan aktif dalam proses prefarat farmasi misalnya obat gangguan pencernaan utamanya protein, gastritis, obat cacingan, dispesia dan masih banyak lagi lainnya.
  6. Papain banyak digunakan dalam kosmetik utamanya untuk wajah. Papain memang dikenal ampuh melarutkan sel kulit yang telah mati sehingga kulit wajah selalu segar. Selain untuk kosmetik, enzim papain juga digunakan dalam komposisi bahan pembuatan pasta gigi sebab ia bisa melenyapkan kotoran yang menempel di gigi.
  7. Sebagai bahan pencuci kain khusus misalnya sutera. Papain bisa mengeliminasi serat pada kain yang berlebih.
  8. Berperan sebagai pelarut gelatin utamanya dalam proses recovery perak yang sudah tidak lagi digunakan.
  9. Sebagai komponen bahan untuk merenyahkan kue kering misalnya cracker.
  10. Sebagai bahan untuk menjernihkan teh.
  11. Sebagai komponen penggumpal susu dalam proses pembuatan keju.
  12. Sebagai pencuci lensa sehingga lebih lembut dan bersih.

Untuk mengambil manfaat enzim pepaya ini, kita sebaiknya menggunakan pepaya dengan umur antara 2,5 sampai 3 bulan. Buah yang terlalu matang biasanya memiliki sedikit getah. Selain itu, saat menyadap getah pepaya, usahakan buah tersebut jangan dipetik melainkan dibiarkan menggelantung di pohonnya. Waktu penyadapan juga tidak sembarangan. Sebaiknya di pagi hari dimulai dari jam 5.30 sampai 8.00. Dan di sore hari, dimulai dari pukul 17.30 sampai 18.30.

Sumber: http://khasiatdaunpepaya.blogspot.co.id

Pengertian Sertifikasi dan Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB)

Sertifikasi adalah adalah rangkaian kegiatan dimana lembaga sertifikasi pemerintah atau lembaga sertifikasi yang telah diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional memberikan jaminan tertulis bahwa produk, jasa, proses atau individu telah memenuhi persyaratan standar atau spesifikasi teknis tertentu yang dipersyaratkan (Direktorat Perbenihan Dirjen Perikanan Budidaya, 2014).

Dalam Pedoman Umum CPIB (2008) disebutkan bahwa Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) adalah cara mengembangbiakan ikan dengan cara melakukan manajemen induk, pemijahan,  penetasan telur, pemeliharaan larva/benih dalam lingkungan yang terkontrol, melalui penerapan teknologi yang memenuhi persyaratan  biosecurity, mampu telusur (traceability) dan keamanan pangan (food safety).

Dijelaskan lebih lanjut dalam Panduan Check List Audit CPIB Skala Kecil (2014), bahwa persyaratan yang harus dipenuhi dalam CPIB adalah sebagai berikut :

A.      Persyaratan Teknis

1)   Persyaratan lokasi : Bebas banjir dan bahan cemaran, mudah dijangkau, tersedia sumber energi / listrik, serta tersedianya sarana komunikasi dan transportasi.

2)   Persyaratan prasarana dan sarana, meliputi :

a.       Ruangan/Tempat : pengemasan, administrasi, mesin, penyimpanan peralatan, dan penyimpanan pakan, bahan kimia, dan obat-obatan.

b.      Bak/kolam : pengendapan/filterisasi/tandon, karantina induk, pemeliharaan induk, pemijahan dan penetasan, pemeliharaan benih, kultur pakan hidup, penampungan benih hasil panen, dan pengolahan limbah.

c.       Peralatan/mesin : kelengkapan peralatan produksi dan peralatan laboratorium (pH meter dan termometer).

3)   Pengelolaan air, meliputi :

a.       Pengendapan / filtrasi / sterilisasi sehingga air layak untuk pemeliharaan induk/benih dan produksi pakan hidup,

b.      Pengukuran parameter kualitas air (suhu, pH dan Salinitas)

4)   Pengelolaan induk, meliputi :

a.       Pemilihan induk : umur, ukuran dan kualitas sesuai persyaratan serta memiliki Surat Keterangan Asal (SKA)

b.      Karantina induk untuk mencegah masuknya organisme pathogen

c.       Pemeliharaan Induk: kondisi ruangan dan wadah sesuai untuk pematangan gonad, perkawinan, pemijahan, fertilisasi dan penetasan.

5)      Persyaratan pakan, meliputi :

a.       Pakan komersial :

1.      Pakan Komersial yang digunakan telah terdaftar di KKP

2.      Kandungan nutrisi pakan sesuai dengan kebutuhan nutrisi induk/benih

3.      Kemasan pakan harus mencantumkan kandungan nutrisi, cara penyimpanan dan waktu kadaluarsa

4.      Penyimpanan sesuai persyaratan label kemasan

5.      Penyimpanan terpisah dari bahan kontaminan berbahaya

6.      Pemberian pakan sesuai jenis, dosis dan frekuensi

b.      Pakan formula buatan sendiri :

1.      Bahan yang digunakan tidak berbahaya dan tidak dilarang

2.      Kandungan nutrisi pakan sesuai dengan kebutuhan nutrisi induk dan benih yang didukung dengan hasil uji

3.      Penyimpanan sesuai dengan persyaratan

4.      Pemberian pakan sesuai dengan jenis, dosis dan frekuensi

c.       Pakan hidup :

1.      Wadah pakan hidup terpisah dengan bagian lainnya dan tidak mudah terkontaminasi

2.      Pupuk/bahan yang digunakan tidak dilarang

3.      Dilakukan treatment (disinfeksi / bahan lain yang tidak dilarang) untuk pakan hidup dari alam

d.      Pakan segar : Penyimpanan pakan segar harus pada lemari pembeku (freezer)

6)      Pengelolaan Benih : Aklimasi benih di setiap tahapan pemeliharaan, Pengamatan pertumbuhan, sintasan,keseragaman dan abnormalitas, serta Pengamatan kesehatan dilakukan berkala secara visual

7)      Pemanenan Benih : Peralatan dan bahan panen bersih dan sesuai kebutuhan dan Pemanenan benih dilakukan dengan baik untuk mencegah kerusakan fisik dan stress

8)      Pengemasan Benih : Peralatan dan bahan pengemasan bersih dan sesuai kebutuhan dan Kepadatan benih sesuai jenis, umur dan ukuran ikan serta waktu tempuh.

B.       Persyaratan Manajemen

1)      Struktur Organisasi dan SDM

2)      Dokumentasi dan Rekaman

C.       Persyaratan Keamanan Pangan

1)      Sumber air terbebas dari pencemaran

2)      Tidak menggunakan bahan kimia dan obat-obatan yang dilarang oleh KKP

D.      Persyaratan Lingkungan

1)      Sanitasi lingkungan

2)      Melakukan biosecurity

Penulis: Miskun Susilo, A.Md. (Penyuluh Perikanan Pelaksana Lanjutan) 

Induk dan Bibit Unggul

Salah satu faktor penentu keberhasilan dalam budidaya adalah pemakaian  induk dan benih unggul. Unggul dalam arti mempunyai sifat yang istimewa, seperti laju pertumbuhan yang cepat, dan relatif tahan terhadap penyakit. 

Dalam sektor perbenihan keberadaan induk unggul sangat menentukan hasil, pembudidaya tentu berharap induk yang digunakan mengandung telur yang banyak dan berkualitas baik sehingga tingkat kelangsungan hidup (survival rate) benih  tinggi.

Dalam usaha pembesaran juga demikian, hendaknya seorang pembudidaya mengetahui sumber dan keunggulan benih sebelum dimasukkan dalam wadah pembesaran. 

Artinya pembudidaya harus membiasakan diri bertanya tentang asal usul benih, mengetahui dengan pasti “bapak-ibu” benih yang akan dibeli. Hal ini untuk menghindari benih yang didapatkan tersebut hasil inbreeding atau kawin sedarah. Karena benih inbreeding cenderung berpengaruh pada laju pertumbuhan  dan rentan terhadap penyakit. 

Untuk itu pembudidaya hendaknya mendapatkan benih dari sumber atau pembenih yang memang paham dan menjaga kualitas benih.
-end-

Meningkatkan kekebalan tubuh benih Patin

Suatu penelitian telah dilakukan di laboratorium dengan menggunakan ikan jambal Siam (Pangasius hypophthalmus Fowler) untuk melihat tingkat kekebalan ikan dengan menambahkan vitamin C pada pakan (0, 1.000, 2.000 dan 3.000 mg/kg pakan).

Ikan jambal Siam ukuran 15-20 g dipelihara dalam aquarium selama 6 minggu dengan kepadatan 15 ekor/wadah. Pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari sebanyak 5-10% dari bobot biomasa, pengambilan contoh darah dilakukan setiap minggu.

Uji tantang dilakukan pada hari ke-30 dengan bakteri Aeromonas hydrophila (106 sel/mm3) secara intramuskular.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan vitamin C sebanyak 2.000 mg/kg pakan menyebabkan meningkatnya respon seluler antara lain:

✩ total lekosit (34.850 sel/mm3),

  • limfosit: 72,2%, 
  • monosit: 8,0%, 
  • netrofil: 7,7% dan 
  • trombosit: 17,6% 

✩ indeks fagositik 13% dan

✩ respon humoral (titer antibodi: 0,829 unit serum aglutinasi).

Kelangsungan hidup ikan jambal Siam dengan respon seluler demikian mencapai 100%.

Peneliti Prof.Dr. Fachriyan Hasmi Pasaribu DVM, D. Dana, R. Affandi.

Continuous improvement ~ Inovasi Tanpa Henti.

Deming Cycle (Plan – Do – Check – Act)

 

Deming Cycle (Plan – Do – Check – Act)

Apa itu Continuous Improvement (CI)?

Continuous improvement adalah usaha-usaha berkelanjutan yang dilakukan untuk mengembangkan dan memperbaiki produk, pelayanan, ataupun proses. 

Usaha-usaha tersebut bertujuan untuk mencari dan mendapatkan “bentuk terbaik” dari improvement yang dihasilkan, yang memberikan solusi terbaik bagi masalah yang ada, yang hasilnya akan terus bertahan dan bahkan berkembang menjadi lebih baik lagi.

Diantara semua tool yang digunakan untuk menjalankan misi Continuous Improvement adalah “pemodelan kualitas empat langkah” yang disebut PDCA (Plan-Do-Check-Act), yang dikenal juga dengan sebutan Siklus Deming atau Siklus Shewhart.

PDCA Adalah…

Plan: Tahap dilakukannya identifikasi peluang untuk perubahan dan rencana bentuk perubahan yang akan dilakukan.

Do: Implementasi perubahan dalam skala kecil.

Check: Menggunakan data untuk menganalisa hasil dari perubahan dan menentukan apakah perubahan yang dilakukan telah / akan mendatangkan perbedaan yang berarti.

Act: Jika perubahan dianggap sukses, implementasikan perubahan tersebut dalam skala yang lebih besar dan pertahankan hasilnya. Jika perubahan belum mendatangkan perbedaan yang berarti, ulangi kembali siklus PDCA.

Metode lain yang sangat populer untuk Continuous Improvement, seperti Lean, Six Sigma, atau TQM (Total Quality Management), mendorong keterlibatan karyawan dan membutuhkan kemampuan teamwork yang baik. Metode tersebut mendorong perusahaan untuk mengukur dan melakukan sistematisasi proses, mengurangi variasi, mengurangi cacat (defect), dan memperpendek cycle time.

Continuous atau Continual?

Continuous dan continual improvement adalah dua istilah yang sering digunakan secara bersilangan. Namun beberapa praktisi quality berpendapat bahwa keduanya memiliki makna yang berbeda. Berikut perbedaannya:

Continual Improvement: adalah istilah yang lebih luas, yang digunakan oleh W. Edwards Deming untuk merujuk kepada proses improvement yang sifatnya umum (luas) dan meliputi improvement yang “terputus”. Terdapat beberapa pendekatan yang berbeda dan meliputi bidang-bidang yang berbeda pula.

Continuous Improvement: adalah bagian tersendiri dari continual improvement, dengan fokus yang spesifik merujuk kepada improvement yang linear dan terus berkembang untuk diterapkan pada proses yang telah ada. Beberapa praktisi juga mengaitkan continuous improvement dengan teknik-teknik proses kontrol yang akrab dengan utilisasi ilmu statistik.

 Sumber: Shift Indonesia