Archive for October, 2016

Pentingnya Aplikasi Recall dalam Industri Perikanan

Dalam sistem industri perikanan, prosedur recall adalah tahapan penting dan wajib untuk diinformasikan dalam bentuk dokumentasi. Pemahaman mengenai recall itu sendiri dijelaskan dalam aspek pemastian bahwa produk yang telah didistribusikan dapat secara sistematik terlacak dan terkendali sesuai dengan kaidah keamanan pangan.
Langkah penting yang harus dipastikan diimplementasikan oleh industri pangan sebelum menjalankan prosedur recall adalah sebagai berikut:

(1) Menyusun sistem penelusuran terhadap proses produksi.

Penetapan sistem penelusuran yang sistematis di dalam internal proses adalah suatu strategi penting yang menjadi dasar dari suatu kegiatan traceability. Pemberian identifikasi dapat dilakukan dalam bentuk kode produksi, tanggal, nama operator ataupun jam proses dijalankan.

(2) Melakukan proses pengembangan sistem penelusuran dalam sistem distribusi
Penting bagi perusahaan untuk dapat menjalankan fungsi sistem koordinasi dengan pihak distributor dan retailer terkait dengan penelusuran produk yang sudah dilepas di lapangan. Adanya prosedur pencatatan alokasi produk berdasarkan kode produksi dan sistem pengaturan terhadap sistem expired date dalam proses produksi menjadi hal yang sangat penting.

(3) Sistem Penelusuran kepada Pemasok

Pemasok sebagai bagian penting untuk penelusuran terhadap bahan baku menjadi bagian yang tidak boleh dilupakan dalam sistem penelusuran. Penetapan prosedur di dalam sistem operasional pemasok khususnya untuk pencatatan dalam sistem fishing ground untuk mendapatkan informasi yang akurat dimana bahan baku tersebut diambil.
(4) Sistem Koordinasi Internal

Recall adalah suatu konsep manajemen yang ditetapkan untuk dapat mengaplikasikan bagaimana suatu proses penelusuran dapat dijalankan secara tepat dan akurat. Perusahaan berkewajiban untuk mengembangkan jalur komunikasi operasional yang tepat dan efektif untuk memastikan proses pelaksanaan koordinasi recall dapat dijalankan secara maksimal dan efektif.

Bagaimana dengan konsep manajemen recall yang dijalankan dalam manajemen operasional perusahaan Anda? Susunlah prosedur yang tepat agar proses recall Anda dapat dijalankan secara tepat dan sistematis. 

#BisnisKokoh

MENINGKATKAN KESEHATAN IKAN DENGAN TANAMAN HERBAL


Ikan yang kebal terhadap serangan penyakit memiliki sistem pertahanan tubuh yang kuat yang berkaitan dengan sistem imun yang berasal dari tubuh ikan. Sistem imun itu tergantung dari efektifitas sel darah putih yang dapat melindungi tubuh ikan dari infeksi sekunder yang disebabkan oleh serangan penyakit.

Saat ini pencengahan dan pengobatan terhadap ikan yang sakit sangat di anjurkan untuk memakai bahan herbal atau alami karena dengan memanfaatkan bahan herbal untuk pencengahan dan pengobatan terhadap ikan yang sakit dapat memperkecil biaya yang dikeluarkan bahkan kita dapat melakukan budidaya ikan yang ramah lingkungan.

Penggunaan bahan herbal dikatakan ramah lingkungan dikarenakan bahan herbal yang dipakai akan mudah terurai dialam dibandingkan bahan kimia buatan sehingga dengan pemakaian bahan herbal atau alami tidak mencemari lingkungan serta ikan yang dihasilkan aman untuk dikonsumsi.

Fitofarmaka atau obat herbal adalah obat alamiah yang bahan bakunya disarikan dari tanaman untuk digunakan dalam pengobatan (Anonimous, 2004). Terdapat lebih kurang 250.000 jenis tumbuhan tingkat tinggi dan sekitar 54% diantaranya terdapat di hutan-hutan tropika. Namun hanya sekitar 0,3% dari jumlah tumbuhan tersebut yang telah diselidiki manfaatnya oleh peneliti. Sebagai negara yang beriklim tropis, hutan tropika Indonesia sangat potensial dikembangkan sebagai sumber obat herbal (Inayah dan Ernayenti, 2007).

Fitofarmaka memiliki kelebihan karena murah, mudah didapat, aman dan efektif sehingga telah lama dimanfaatkan sebagai obat manusia, tetapi belum banyak digunakan dalam pengelolaan kesehatan ikan.

Beberapa jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan oleh pembudidaya ikan dalam menjaga kesehatan ikan yang dipelihara antara lain :

1. Bawang Putih (Allium sativum)

Aplikasi

:

Melalui perendaman untuk penyakit Koi Herpes Virus (KHV), bakteri dan parasit

Target patogen

:

Bakteri : penyakit bercak merah Aeromonas hydrophila pada ikan patin.

Virus : penyakit KHV pada ikan mas

Parasit : penyakit gatal, bintik putih pada benih ikan air tawar akibat infeksi parasit Ich dan cacing Trichodina sp.

Kandungan aktif

:

Minyak atsiri, allicin 50g/100 ml melalui pakan untuk Aeromonas hydrophila

Dosis Efektif

 

:

25 mg bawang butih dihaluskan dan dicampur air 1 liter untuk perendaman ikan sakit.

Untuk penyakit KHV, sebanyak 30 g dalam 100 ml air untuk perendaman ikan sakit

 

 

 

 

2. Ciplukan (Physalis angulata L)

 

Aplikasi

:

Melalui perendaman

Target patogen

:

Bakteri penyebab radang, bengkak dan kemerahan atau borok

Kandungan aktif

:

Asam klorogenat, elaidic acid, physalin

Dosis Efektif  

:

Daun dan buahnya direbus (15-30 g) dalam 100 ml air atau kering (5-10 g) dalam 100 ml air, lalu digunakan untuk perendaman

 

3. Eceng Gondok (Eichornia crassipes)

 

Aplikasi

:

Untuk menjaga kualitas air karena dapat menyerap polutan, jika populasi tanaman sudah padat, segera dikurangi

Untuk tempat menempel telur ikan, setelah menetas larva ikan berlindung di akar-akar eceng gondok

Target patogen

:

Berfungsi untuk memperbaiki kualitas air.

Kandungan aktif

:

Si02, kalsium, magnesium, kalium, natrium, klorida, copper, mangan, zat  besi, saponin, carotene, polifenol,delphinidin 3-diglucoside

Dosis efektif

:

Masukkan tanaman ini pada 20 sampai 25%  bagian dari kolam

 

4. Gamal, Liridiyah (Glyriceridia sephium)

 

Aplikasi

:

Daun segar yang digunakan diremas dicampur air, disaring dan hasil saringannya yang dimasukkan ke kolam

Target patogen

:

Hama dan predator : ikan liar, ular, burung, kepiting, katak

Kandungan aktif

:

Saponin, flavonid, polifenol

Dosis efektif

:

6 kg daun dicacah, dicampur dengan air, hasil saringannya dimasukkan ke kolam dengan luas 100m2, 2 hari kemudian bangkai predator mengapung, air dibuang dan air diganti 2-3 kali hingga air tidak berasa pahit lagi

 

5. Jambu Biji (Psidium guajava)

 

Aplikasi

:

Melalui pakan dan perendaman

Target patogen

:

Bakteri : Aeromonas hydrophilapenyebab penyakit bercak merah

Kandungan aktif

:

Daun jambu biji kaya akan tanin, tripenoid, guaijavolic, oleanolic, asam ursolic, asam psidiolic dan flavonoid. Selain itu juga mengandung polifenol yang bersifat minyak esensial yang bekerja dengan menghambat kerja enzim tertentu dan aktivitas antioksidan.

Dosis Efektif

:

4-5 g daun dicacah halus dicampur air 1 liter, dan selanjutnya dicampur dengan pakan

1-2 g daun dicacah halus dicampur air sebanyak 5 liter, digunakan untuk perendaman ikan yang sakit selama 48 jam

 

6. Kelor (Moringa oleifera Lamk.)

 

Aplikasi

:

Melalui perendaman

Target patogen

:

Bakteri : Aeromonas hydrophila penyebab penyakit bercak merah dan  Streptococcus agalactiae penyakit dengan gejala berenang tak beraturan, mata menonjol, badan kehitaman

Kandungan aktif

:

minyak behen, minyak terbang, myrosine, emulsine, alkaloida pahit tidak beracun, vitamin A, B1,

Dosis Efektif  

:

5 g daun dicacah halus dicampur air 100 ml, hasil saringannya dicampur air  digunakan untuk perendaman

 

7. Ketapang (Temmalia cattapa)

 

Aplikasi

:

Melalui perendaman

Daun ketapang dijemur selama 6 jam lalu masukkan ke kolam selama 2-3 hari untuk menurunkan pH air sebelum ikan dimasukkan ke kolam. PH air yang terlalu tinggi (8-9) akibat penumpukan bahan organik.

 

Target patogen

 

 

:

Bakteri :Aeromonas hydrophila penyebab penyakit bercak merah dan untukmenurunkan PH.

 

Kandungan aktif

 

:

Tanin bersifat astringen

Dosis Efektif

:

Sebanyak 60 g daun dicacah halus dicampur dalam 1 liter air digunakan untuk perendaman

 

8. Kunyit, Kunir Turmeric  (Curcuma longa

 

Aplikasi

:

Melalui pakan yang diberikan selama beberapa hari pada ikan yang sakit

Target patogen

:

Bakteri : Aeromonas hydrophilapenyebab penyakit bercak merah (borok)

Kandungan aktif

:

Curcomin,curcuminoid, desmethoxycurcumin, bidesmethoxycurcumin,pati, tanin, damar, sesgnitepen alkohol, borneol, phellandrene, turmerone, zingiberene, artormeroner

Dosis Efektif  

:

1.0  g kunyit dihaluskan atau dibuat bubuk dan dicampurkan dalam 1 kg pakan

 

9. Lidah Buaya (Aloe vera)

 

Aplikasi

:

Perendaman menggunakan daun yang telah diambil daging daunnya yang berwana putih

Target patogen

:

Bakteri penyebab borok/luka, keradangan, bengkak dan kemerahan

Kandungan aktif

:

Alkaloid

Dosis Efektif

 

:

Daging daun yang berwarna putih  dicacah halus dicampur air, airnya digunakan untuk perendaman. Dosis belum diketahui

 

10. Mengkudu (Orinda citrifolia L.)

 

Aplikasi

:

Daun dan buah sangat baik untuk pakan harian ikan nila dan tawes

Target patogen

:

Imunostimulan (meningkatkan kekebalan tubuh ikan), pengobatan penyakit cacing

Kandungan aktif

:

Alkaloid, saponin, flavonoid, antrakinon, polifenol, morindin, morindon, aligarin –d-metiltet, sorandijiol, alkaloid  (triterpenoid, proxeronin),  polisakarida (damnacanthal), sterol, coumarine, scopeletin, ursolicacid, linoleic acid, caproic acid, caprilic acid,  alizarin, acubin, iridoid glikoside, Lasperuloside, vit C,A dan karoten

Dosis efektif

:

10 lembar daun dicacah atau diremas-remas dalam 5 liter air dan airnya digunakan untuk perendaman

3 mg ekstrak daun dilarutkan dalam 1 liter air digunakan untuk perendaman ikan yang terkena penyakit cacingan

 

11. Meniran (Phyllanthus niruri L., Phyllanthus urinariaLinn.)

 

Aplikasi

:

Melalui perendaman selama 5 jam

Target patogen

:

Bakteri :Aeromonas hydrophila penyakit bercak merah dan borok, Edwarsiella tarda penyakit bisul dan luka pada kulit

Kandungan aktif

:

filantin, hipofilantin, hipotetralin, nirantin, nir tetrakin

Dosis Efektif

:

5 g daun yang sudah dibuat bubuk dicampur air 1 liter untuk perendaman selama 5 jam

Jika dicampur pakan dibutuhkan 20 g daun dicacah halus dan dicampur dalam 1 kg pakan

 

12. Nanas (Ananas comusus Merr)

 

Aplikasi

:

Tanam nanas di tanggul kolam

Target patogen

:

Hama dan predator kepiting yang sering merusak tanggul kolam

Kandungan aktif

:

Saponin, flavonoid, polifenol, vitA, vitC, kalsium, fosfor, sukrosa, enzim bromelin, kalsium, natrium, delestrosa, magnesiumbesi.

Dosis efektif

:

Nanas dicacah lembut dan di campur tanah kolam dan diletakkan pada radius 0,5 m di sekitar lubang kepiting

 

13. Orang-aring (Eclipta alba)

 

Aplikasi

:

Perendaman

Target patogen

:

Parasit Helminthosis (cacingan, Dactyrogiriasis, Gyrodactyliasis), bakteri : Aeromonas hydrophila penyebab penyakit bercak merah, Edwardsiella tarda penyebab bisul dan luka-luka pada kulit.

 

Kandungan aktif

:

Isoflavonoid, phytosterol, briterpenoid saponins (nicoline, ecliptine, α-terthienyl, α-terthienyl methanol, α-formyl, α-therthienyl thiophene, wedeloluctone, tanin

 

Dosis Efektif  

:

Daun dan batang dicacah dan dicampur air, airnya untuk perendaman ikan yang sakit. Dosis belum diketahui.

 

14. Pegagan (Centela asiatica)

 

Aplikasi

:

Melalui perendaman

Target patogen

:

Bakteri : Aeromonas hydrophilapenyebab penyakit bercak merah dan borok

 

Kandungan aktif

:

asiaticoside, thankunside, madecassoside, brqahmocide, brahmic acid, madasiatic acid, meso-inosetol, centellose, carotenoids,garam K, Na, Ca, Fe, vellarine, tanin, mucilago, resin, pektin, gula, vitamin B.

 

Dosis Efektif

:

Konsentrasi larutan pegagan dengan dosis sampai 10 mg dalam 10 ml air dengan cara perendaman dapat meningkatkan respon ketahanan tubuh ikan terutama sel darah putih

Dosis untuk penyakit bercak merah adalah 250 mg dari ekstrak daun pegagan dalam 1 liter

 

15. Pepaya (Carica papaya L.) fam. Caricaceae

 

Aplikasi

:

Melalui pakan dan dapat disebarkan ke kolam

Target patogen

:

Bakteri : Aeromonas hydrophila,penyebab bercak merah danparasit Ichtyopthirius multifilis penyebab penyakit bintik putih atau white spot.

Kandungan aktif

:

Biji (glucoside cacirin, carpaine). Getah (papain chymopapain, lisosim, lipase, glutamin dan siklotransferase). Daun (enzim papain,alkaloid carpaine, pseudokarpaina, glikosid, karposid, saponin, sakarosa, dekstrosa dan levulosa). Buah (papain, chymopapain menyerupai enzim pepsin, knyptoxanthine, betakarotene, pectin, d-galaktosa, L-arabinosa, papayotimin papain, tikokinase, vit A dan C)

 

Dosis Efektif  

:

Batang dan daun pepaya dapat dimanfaatkan sebagai pakan dengan dosis 15 kg untuk 100 kg bobot ikan. Daun segar disebar merata di kolam.

Untuk mencegah stres selama transportasi dengan cara dimasukkan dua lembar daun pepaya diameter 30 cm, diremas-remas masukkan ke tong/jerigen. Jika menggunakan kantong plastik diambil air daun perasan saja tanpa ampas daunnya

2 g daun pepaya yang dicacah halus dalam 100 ml air digunakan untuk perendaman ikan yang sakit selama 1 jam

 

 

16. Petai cina, Kemlandingan, Lamtoro (Fam.mimesacea)

 

Aplikasi

:

Melalui pakan

Target patogen

:

Parasit Helminthosis(cacingan: Dactyrogiriasis, Gyrodactyliasis)) pada catfish (lele dan patin)

Dosis Efektif  

:

2 g daun dicacah untuk diberikan per 1 kg ikan

 

17. Pisang (Musa paradisiaca)

 

Aplikasi

:

Ditebarkan ke dalam kolam

Target patogen

:

Menurunkan pH kolam

Kandungan aktif

:

Saponan, alkaloid, tanin, polifenol

Dosis efektif

:

30 kg batang pisang dicacah dan ditebarkan pada kolam ukuran 24 m2

Untuk menurunkan pH air, batang dan bonggol pisang dicacah ukuran 1-2 cm, ditebarkan ke kolam selama 24 jam

– Dapat sebagai media pakan alami, dengan dipotong ukuran agak besar dan dimasukkan ke kolam sehingga akan tumbuh jasad renik/cacing untuk pakan ikan

18. Sente (Alocasia macrorrhiza schott)

 

Aplikasi

:

Melalui pakan

Target patogen

:

Sebagai imunostimulan pertumbuhan, meningkatkan fekunditas telur hingga 12,5%

Kandungan aktif

:

Saponin, flavonoid, polifenol, asam oksalat, alocasin, tripsin, kemotripsin

Dosis efektif

:

Bonggol sente sumber protein pakan, bonggol dicacah diberi ragi tempe, setelah 3 hari proses fermentasi diberikan ke ikan secara teratur

Diberikan 30% bobot badan diberikan 3 kali sehari

 

19. Sirih (Piper betle L.)

 

Aplikasi

:

Melalui perendaman

Target patogen

:

Bakteri :Aeromonas hydrophilapada ikan  penyebab penyakit bercak merah dan borok

Kandungan aktif

:

daun sirih mengandung minyak atsiri

Dosis Efektif

:

2 g ekstrak daun dalam 60 ml air untuk perendaman ikan yang sakit.

Perendaman untuk ichthyophtthirius multifilisselama 12 jam

 

20. Temulawak (Curcuma Xanthorrhiza ROXB)

 

Aplikasi

:

Untuk obat luar atau perendaman

Target patogen

:

Bakteri : Aeromonas hydrophila penyebab penyakit bercak merah dan borok

Kandungan aktif

:

Phenol demetoksikurkumin, kurkumin, minyakatsiri xanthorrhizol, trimeron

Dosis Efektif  

:

Rimpang segar direbus, airnya untuk perendaman ikan yang sakit

Untuk obat luar, rimpang segar diparut, dioleskan pada luka atau borok.

 

21. Ubi Jalar  (Ipomoea batatas poir)

 

Aplikasi

:

Melalui pakan dan perendaman

Target patogen

:

Sebagai imunostimulan dan mencegah stres selama transportasi

Kandungan aktif

:

Saponin, flavonoid, polifenol

Dosis efektif

:

30 kg daun diremas-remas untuk mengangkut total 100 kg bobot ikan

Sebagai pakan ikan dan pencegah stres selama transportasi, di dalam jerigen untuk 300 ekor benih, masukkan 20 lembar daun diremas. jika memakai kantong plastik, ambil cairan berwarna hijau dan berlendir dimasukkan ke air dalam kantong.

 

Sumber : Buku Herbal, Balai Riset Perikanan Air Tawar, Bogor

 

(Rika Putri, S.St.Pi, Widyaiswara BPPP Tegal)

Kolam Bekas Timah Menjadi Kolam Ikan


Lubang bekas galian tambang timah yang menyerupai kubangan di Provinsi Bangka Belitung yang selama ini tidak menghasilkan apa-apa, tampaknya akan segera berubah. Kementerian Kelautan dan Perikanan ingin memanfaatkan lubang bekas tambang yang menyerupai kolam-kolam raksasa tersebut untuk budidaya ikan konsumsi.

Adapun, beberapa jenis ikan yang akan dibudidayakan di kolam-kolam tersebut, antara lain ikan nila, bawal, gurame dan ikan mas. Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad bilang, saat ini di Bangka Belitung terdapat sekitar 100 hektare (ha) lahan bekas galian tambang yang berpotensi untuk budidaya ikan. Lokasinya tersebar di beberapa wila-yah. “Secara bertahap, kita akan sebarkan benih di lokasi tersebut,” ujar Fadel usai melepas benih ikan di Sungai Liat, Bangka Belitung, Rabu (7/7).

Gubernur Bangka Belitung, Eko Maulana Ali bilang, selama ini Pemerintah Daerah Bangka Belitung mengabaikan potensi perikanan darat tersebut. Pasalnya, selama ini, mereka menganggap lubang bekas galian tersebut tidak punya manfaat Namun kini, lubang-lubang bekas galian timah tersebut bisa menjadi lahan bagi para pembudidaya ikan. Mereka tidak perlu lagi investasi untuk membuat kolam atau tambak sendiri.

Ketika kolong tersebut dijadikan kolam ikan, maka masyarakat tinggal melakukan perawatan saja dan memberi makan ikan saja. “Ikan budidaya dan rumput laut kinimenjadi fokus pembangunan kami,” kata Eko.

Fadel mengatakan, tahun 2010 ini Pemerintah Provinsi Bangka Belitung hanya kebagian dana pengembangan perikanan sebesar Rp 7,3 miliar dari KKP. Namun, KKP akan menambah anggaran tersebut menjadi Rp 17 miliar sampai Rp 20 miliar. Karena, “Saya melihat ada kesempatan pertumbuhan produksi untuk rumput laut dan perikanan,” jelasnya

Tidak semua aman

Namun, tidak semua bekas galian tambang bisa dijadikan kolam budidaya. “Karena tidak semuanya aman,” kata Yulistio, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bangka Belitung.

Menurutnya, ada syarat khusus agar sebuah lubang galian bisa dijadikan kolam budidaya. Yaitu, umur lubang galian tersebut harus di atas 10 tahun bahkan di atas 15 tahun. Pasalnya, jika sudah mencapai usia tersebut, maka kadar PH (keasaman) tanah di sekitar lubang galian sudah mulai turun, sehingga aman bagi perkembangbiakan ikan.

Sementara itu kolam-kolam bekas tambang timah yang umurnya muda, kadar PH tanahnya masih sangat tinggi. Selain itu, bekas tambang galian baru juga masih memiliki kandungan mineral yang cukup tinggi. Kandungan mineral tersebut berbahaya bagi ikan, termasuk bagi orang yang mengkonsumsi ikan tersebut.

Yulistio menambahkan, di antara sekian banyak lubang-lubang bekas tambang timah yang tersebar hingga pelosok-pelosok tersebut, tidak banyak yang memenuhi syarat aman untuk budidaya ikan.

Dari pengamatan KONTAN, cara pemanfaatan kolam bekas tambang timah tersebut belum tersosialisasikan dengan baik sehingga belum banyak yang mengetahuinya.

Asnil Bambani Amri
Sumber : Harian Kontan 

Zooplankton : Chordata

Chordata

Chordata termasuk dalam ordo Mamalia,menurut evolusi merupakan keturunan dari spesies-spesies yang hidup sebagai zooplankton dan bentuknya mirip dengan larva-larva Echinodermata. Dari 4 subfilum dari Chordata hanya ada 2 yang hidup sebagai zooplankton yaitu Enteropneusta dan Urochordata. Larva-larva dari Enteropneusta inilah yang bentuknya seperti larva Echinodermata, seperti Tornaria-larva (Sachlan, 1982). Contoh genus dari filum Chordata antara lain : Thalia, Oikopleura, dan Fritillaria (Hutabarat dan Evans, 1986).

Urochordata

Urochordata

 

Zooplankton : Echinodermata

Echinodermata

Phylum Echinodermata hanya larva-larva dari beberapa ordo yang termasuk meroplankton. Ada larva yang bentuknya seperti larva Chordata, sehingga ada anggapan bahwa Chordata adalah keturunan Echinodermata. Genus-genus Echinodermata yang larva-larvanya merupakan meroplankton ialah Bipinaria, Brachiolarva dan Auricularia, yang ada pada waktunya akan mengendap semua pada dasar laut sebagai benthal-fauna (Sachlan, 1982).

Semua Echinodermata melalui fase larva pelagik dalam perkembangannya. Sama seperi hewan lainnya lamanya menjadi larva pelagik tergantung pada telurnya, kurang baik atau sudah bagus (Newell dan Newell, 1977). Contoh genus dari filum Echinodermata antara lain : Echinopluteus, Ophiopluteus, dan Auricularia   (Hutabarat dan Evans, 1986).

 

Zooplankton : Moluska

Moluska

Gastropoda

Moluska terdiri dari klas Gastropoda, Pelecypoda (Bivalvea) dan Cephalopoda. Di periran air tawar, meroplankton dari Gastropoda dan Bivalvea tidak begitu berperan penting (Sachlan, 1982).

Filum Moluska biasanya terdiri dari hewan-hewan bentik yang lambat. Namun, terdapat pula bermacam moluscka yang telah mengalami adaptasi khusus agar dapat hidup sebagai holoplankton. Moluska planktonik yang telah mengalami modifikasi tertinggi ialah ptepropoda dan heteropoda.  Kedua kelompok ini secara taksonomi dekat dengan siput dan termasuk kelas Gastropoda. Ada dua tipe pteropoda, yang bercangkang (ordo Thecosomata) dan yang telanjang (ordo Gymnosomata). Pteropoda bercangkang adalah pemakan tumbuhan (herbivora), cangkangnya rapuh dan berenang menggunakan kakinya yang berbentuk sayap. Pteropoda telanjang dapat berenang lebih cepat daripada yang bercangkang. Heteropoda adalah karnivora berukuran besar dengan tubuh seperti agar-agar yang tembus cahaya (Nybakken, 1992). Contoh genus dari filum Moluska antara lain : Creseis, Limacina, Cavolina, Diacria, Squid ( Hutabarat dan Evans, 1986).

 

Zooplankton : Arthropoda

Arthropoda

Mnurut Nybakken (1992) bagian terbesar zooplankton adalah anggota filum arthropoda. Dari phylum Arthropoda hanya Crustacea yang hidup sebagai plankton dan merupakan zooplankton terpenting bagi ikan di perairan air tawar maupun air laut. Crustacea berarti hewan-hewan yang mempunyai sel yang terdiri dari kitin atau kapur yang sukar dicerna. Crustacea dapat dibagi menjadi 2 golongan: Entomostracea atau udang-udangan tingkat rendah dan Malacostracea atau udang-udangan tingkat tinggi. Sebagian besar dari larva Malacostracea merupakan meroplankton dan sebagian besar mati sebagai plankton karena di makan oleh spesies hewan yang lebih besar atau mati karena kekurangan makanan. Entomostracea yang terdiri dari ordo-ordo Branchiopoda, Ostracoda, Copepoda dan Cirripedia, tidak mempunyai stadium zoea seperti halnya Malocostracea. Entomostracea yang merupakan zooplankton ialah Cladocera, Ostracoda dan Copepoda, sedangkan dari Malacostracea hanya Mycidacea dan Euphausiacea yang merupakan zooplankton kasar atau makrozooplankton (Sachlan, 1982).

Salah satu subkelas Crustacea yang penting bagi perairan adalah Copepoda. Copepoda adalah crustacea holoplanktonik berukuran kecil yang mendominasi zooplankton di semua laut dan samudera. Pada umumnya copepoda yang hidup bebas berukuran kecil, panjangnya antara satu dan beberapa milimeter. Kedua antenanya yang paling besar berguna untuk menghambat laju tenggelamnya. Copepoda makan fitoplankton dengan cara menyaringnya melalui                rambut–rambut (setae) halus yang tumbuh di appendiks tertentu yang mengelilingi mulut (maxillae), atau langsung menangkap fitoplankton dengan apendiksnya (Nybakken, 1992).

Bougis (1974) menjelaskan bahwa copepoda merupakan biota plankton yang mendominasi jumlah tangkapan zooplankton yang berukuran besar       (2500 µm) pada suatu perairan dengan kelimpahan mencapai 30% atau lebih sepanjang tahun dan dapat meningkat sewaktu-waktu selama masa reproduksi.

Copepoda mendominasi populasi zooplankton di perairan laut dengan persentase berkisar antara 50-80% dari biomassa zooplankton dalam ekosistem laut. Beberapa diantaranya bersifat herbivor (pemakan fitoplankton) dan membentuk rantai makanan antara fitoplankton dan ikan. Copepoda merupakan organisme laut yang sangat beragam dan melimpah, dan merupakan mata rantai yang sangat penting dalam rantai makanan dan ekonomi lautan (Wickstead 1976).   Contoh genus dari Arthropoda antara lain Paracalanus, Pseudocalanus, Acartia, Euchaeta, Calanus, Oithona, Microsetella (Hutabarat dan Evans, 1986).

 Sumber: strukturkomunitasplankton.wordpress.com