Ektoparasit Pada Ikan Patin

​Ektoparasit adalah sejenis parasit yang hidupnya pada inangnya (hewan tuan rumah). Hewan sejenis Ektoparasit ini juga dikenal dengan sebutan epizoa. Hewan ektoparasit yang hidup secara parasit pada tubuh lain ini hidup dipermukaan bagian luar tubuh atau bagian-bagian lain yang mudah di jangkau dari luar.

Eksoparasit yang sering ditemukan pada ikan Patin diantarnya adalah:

Monogenea 

Monogenea adalah kelas dari anggota hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filum Platyhelminthes. Hewan dari kelas Monogenea umumnya parasit. Hewan ini juga tidak memiliki rongga tubuh. Monogenea mempunyai sistem pencernaan sederhana yang mencakup lubang mulut, usus, serta anus. Contohnya Noebenedenia.

Monogenea

Monogenea

Pada tahap awal hidupnya, Monogenea memiliki sebuah organ mirip kait di bagian posteriornya yang disebut haptor. Hewan dewasa memiliki prohaptor (untuk makan) dan opisthaptor (untuk menempel). Monogenea dapat ditemukan dikulit, sirip, dan insang ikan. Monogenea biasanya hermafrodit. Siklus hidupnya tidak mengalami reproduksi aseksual. Pada reproduksinya dihasilkan telur yang akan mengalami tahap larva, disebut onkomirasidium. Hewan dewasanya memakan darah, lendir, serta sel-sel epitel inangnya.

Tanda-tanda ikan Patin tejangkit parasit Monogenea adalah:

– berenang perlahan-lahan di permukaan air, 

– banyak mengeluarkan lendir untuk mencoba menghilangkan parasit 

– warna kulit menjadi pucat, 

– insang terlihat bengkak. 

– nafsu makan berkurang akibatnya ikan menjadi lemah dan rentan terhadap infeksi bakteri.  

Monogenea dapat dibasmi dengan cara merendam ikan dalam larutan formalin 25 ppm selama 24 jam.

Trichodina.

Trichodina merupakan ektokomensal yaitu menggunakan inang sebagai daerah untuk mencari makanannya (partikel air, bakteri dan detritus). Infeksi organisme ini dapat menyebabkan iritasi yang disebabkan oleh penempelan cawan adhesivenya. Jika permukaan tubuh ikan ditutupi oleh lapisan tebal parasit ini, maka dapat menimbulkan kerusakan yang serius pada sel epidermal. Dalam kondisi ini, Trichodinid berlaku seperti ektoparasit sejati yang memakan sel rusak dan bahkan dapat menembus masuk ke dalam  insang dan jaringan kulit. 

Trichodina

Trichodina

Ikan yang terserang parasit Trichodina sp., akan menjadi lemah dengan warna tubuh yang kusam dan pucat (tidak cerah), produksi lendir yang berlebihan dan nafsu makan ikan turun sehingga ikan menjadi kurus, gerakan lamban, sering menggosok-gosokkan tubuhnya pada dinding kolam, iritasi, tubuh ikan tampak mengkilat karena produksi lendir yang bertambah dan pada benih ikan sering mengakibatkan sirip rusak atau rontok.

Beberapa penelitian membuktikan bahwa ektoparasit Trichodina sp., mempunyai peranan yang sangat penting terhadap penurunan daya tahan tubuh ikan dengan rendahnya sistem kekebalan tubuh maka akan terjadinya infeksi sekunder. Kematian umumnya terjadi karena ikan memproduksi lendir secara berlebihan dan akhirnya kelelahan atau bisa juga terjadi akibat terganggunya sistem pertukaran oksigen, karena dinding lamela insang dipenuhi oleh lendir. Pengobatan penyakit ini dapat dilakukan dengan cara merendam ikan ke dalam larutan garam 200-1000 mg/L air selama 24 jam, atau ke dalam larutan formail 25 mg/L selama 24 jam.

Ichthyophthirius
Parasit Ichthyophthirius multifiliis atau white spot adalah parasit protozoa berbentuk cilia, yang menyebabkan penyakit bintik putih pada ikan. Penyakit ini merupakan masalah utama bagi produsen ikan di seluruh jaringan dunia. Ichthyophthirius multifiliis merupakan penyakit yang sangat penting diketahui untuk ikan daerah tropis, ikan mas, dan pakan ikan. Ukuran dewasa dari parasit ini dapat mencapai ukuran 0,5 sampai 1 mm.

Ciri ikan yang terserang Ichthyophthirius multifiliis adalah terdapat bercak putih pada tubuh dan siripnya. Ikan yang sudah terinfeksi Ichthyophthirius multifiliis cenderung berenang di permukaan atau bergerak menuju inlet dan biasanya akan menggosok badannya kedasar perairan. Pengobatan penyakit ini dilakukan dengan merendam ikan pada larutan formalin 25 ppm selama 24 jam dengan larutan garam dapur (NaCl) selama 10 menit dengan kadar 10 – 30 ppm.


Advertisements

Silakan Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s