Archive for June, 2016

Hama Ikan: Ucrit

image

Ucrit

Hama benih ikan yang dikenal dengan nama ucrit ini merupakan larva dari Cybister atau kumbang air. Bentuknya memanjang seperti ulat, berwarna ke hijauan, dan memiliki panjang sekitar 3-5 cm. Ikan-ikan yang sering menjadi mangsa ucrit adalah benih ikan ukuran 1–3 cm. Cara kerja ucrit adalah mula-mula ikan di tangkap kemudia dilumpuhkan dengan ujung ekor yang bercabang dua dan tajam. Akibat tusukan ekornya tersebut, ikan menjadi tidak berdaya. Sambil terus di genggam erat, mangsanya di makan sedikit demi sedikit dengan cara di gigit.

image

Cybister (Kumbang Air)

Pencegahan
Gunakan sistem filter (saringan) air masuk pada kolam pembenihan maupun kolam penderan agar ucrit dan induk kumbang tidak ikut masuk ke dalam kolam bersama aliran air.

Hindari penebaran benih ikan pada kolam yang sudah di genangi air lebih dari satu minggu.

Gunakan benih ikan dengan ukuran tidak terlalu kecil, semakin kecil maka semakin mudah dimangsa para predator ikan.

Padat penebaran jangan terlalu tinggi.

Hindari penumpukan bahan organik di sekitar kolam. Jika pemupukan dengan pupuk organik usahakan jangan mengumpul di satu tempat (misal di dalam karung) karena tempat tersebut disukai ucrit.

Gunakan sumber air yang kira-kira tidak mengandung hama.

Pemberantasan
Meskipun ucrit maupun kumbang air sulit di basmi di kolam tetapi upaya penaggulangan harus dilakukan. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:

Dengan cara mekanis,
Menggunakan alat tangkap berupa seser. Penggunaan seser sebenarnya cukup efektif karena jika dengan tangan akan sulit dilakukan karena bisa meloloskan diri bahkan dapat menggigit tangan. Ucrit yang tertangkap dikumpulkan dan segera dimusnahkan.

Dengan bahan kimia, Pengendalian ucrit merupakan langkah terakhir jika pengendalian secara mekanis sulit dilakukan. Bahan yang di gunakan adalah minyak tanah. Banyak pembudidaya melakukanya dengan cara menyiramkan/menyemprotkan minyak tanah ke permukaan air kolam. Pertimbangannya adalah karena sifat minyak tanah yang mengapung di air. Dengan demikian, ucrit tidak dapat mengambil oksigen dari udara bebas sehingga pada akhirnya pun akan mati. Penggunaan minyak tanah tidak berbahaya pada ikan karena umumnya ikan ada di dalam air. Namun, penggunaan pada ikan lele tidaklah tepat karena ikan lele sering muncul kepermukaan. Setelah ucrit mati, masukan air baru ke dalam kolam dan buka pembuangan air sehingga ucrit yang mati ikut terbuang bersama minyak tanahnya.

Membuat Pelet Apung

Membuat adonan pelet tidak sulit terutama pada pembuatan pelet yang biasa, namun pelet yang biasa pengolahanya, sangat mudah sekali tenggelam.

image

Untuk pelet yang bisa terapung, perlu melalui tahapan pengolahan secara khusus, penyebab pakan pelet tidak bisa lama terapung di air dikarenakan bahan yang dicampur belum komplek atau belum pas pada takaranya. Biasanya terdapat pada bahan ikan yang di haluskan belum cukup kering, ikan bekas yang di haluskan harus benar-benar berbentuk tepung dan kering, cara pengerjaanya juga sangat mudah yaitu dengan cara menjemur ikan tersebut atau menggunakan bantuan mesin oven dan mesin penepung halus.

Tahap Pembuatan Pakan Apung

✩ Langkah awal untuk membuat pelet apung adalah dengan memasukkan bahan yang bersifat perekat (misalnya tepung tapioka, tepung gaplek atau tepung onggok) dengan pemakaian sekitar 10% sampai 20% dari total campuran pakan total.
✩ Tambahkan air secukupnya agar bisa mengikat adonan lainnya.
✩ Masukkan bahan sumber protein utama (misalnya tepung ikan, tepung kepala udang atau tepung tulang) minimal 20% dari total campuran pakan total.
✩ Masukkan bahan pelengkap lainnya seperti dedak halus maksimal sebanyak 30% dari total campuran pakan total. Atau bila menggunakan bungkil kedelai bisa dengan konsentrasi maksimal 40%.
✩ Untuk pelengkap lainnya seperti minyak ikan maksimal 10% dari total campuran pakan total. Bisa juga ditambahkan 1% sampai 2% kalsium karbonat atau kapur dan juga sekitar 1% sampai 3% vitamin B komplek dan vitamin lainnya.
✩ Semua bahan ini kemudian dimixer selama 10 menit hingga benar-benar rata.
✩ Terakhir campuran ini diolah dengan mesin ekstruder sistem kering. Secara otomatis pelet yang dihasilkan sudah dalam keadaan kering dan memiliki sifat pakan apung.

Penggunaan Mesin Ekstruder

Gunakan mesin Ekstruder sebagai alat bantu pada tahap pencampuran atau homogen. Mesin Ekstruder dapat berguna untuk menghasilkan pakan sesuai ukuran yang anda inginkan. Guna untuk mengkompres kepadatan pada pelet karena homogen pada adonan, menggunakan mesin ini dapat mengirit waktu dan tenaga, jika anda ingin membuat dengan sekala besar maka menggunakan mesin sangat cocok.

PENERAPAN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB)

PENERAPAN

CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB)

PADA UNIT USAHA BUDIDAYA

image

CBIB - Cara Budidaya Ikan yang Baik

Pendahuluan
Dalam rangka menghadapi era globalisasi, maka produk perikanan diharapkan aman untuk dikonsumsi sesuai persyaratan yang dibutuhkan pasar sebagai konsekuensi dari kebutuhan pasar global, produk perikanan budidaya harus mempunyai daya saing, baik dalam mutu produk maupun efisiensi dalam produksi. Hal tersebut akan berpengaruh positif dalam upaya meningkatkan ekspor dan menekan impor serta pertumbuhan ekonomi yang pada gilirannya dapat meningkatkan devisa dan pendapatan masyarakat.

Peningkatan mutu produk perikanan budidaya lebih diarahkan untuk memberikan jaminan keamanan pangan (food safety) mulai bahan baku hingga produk akhir hasil budidaya yang bebas dari bahan cemaran seperti sesuai persyaratan pasar.

Cara budidaya Ikan Yang Baik (CBIB) adalah penerapan cara memelihara dan atau membersarkan ikan serta mamanen hasilnya dalam lingkungan yang terkontrol sehingga memberikan jaminan pangan dari pembudidayaan dengan memperhatikan sanitasi, pakan obat ikan dan bahan kimia serta bahan biologi.

Dalam menerapkan CBIB, pembudidaya perlu memahami ketentuan yang dipersyaratkan sehingga dapat juga melakukan pengawasan internal terhadap pelaksanaan usaha budidaya dengan menggunakan checklist CBIB.

Dokumen yang harus dimiliki dan diterapkan oleh suatu unit usaha budidaya dalam menerapkan CBIB adalah
1) SPO (Standar Prosedur Operasional), yang merupakan prosedur yang harus dipedomani dalam melakukan kegiatan usaha budidaya.
2) Catatan / rekaman sebagai bukti tertulis bahwa kegiatan usaha budidaya yang dilakukan sudah sesuai dengan prosedur SPO.

Untuk menjamin bahwa penerapan CBIB telah memenuhi persyaratan, maka perlu dilakukan Sertifikasi terhadap unit usaha budidaya yang bersangkutan.
Dengan cara penilaian yang obyektif dan transparan, sertifikasi diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan baik produsen maupun konsumen dan pada gilirannya akan meningkatkan daya saing produk perikanan budidaya.

Persyaratan penilaian kesesuaian meliputi :
1. Lokasi
2. Suplai air
3. Tata letak dan desain
4. Kebersihan fasilitas dan perlengkapan
5. Persiapan wadah budidaya
6. Pengelolaan air
7. Benih
8. Pakan
9. Penggunaan bahan kimia, bahan biologi dan obat ikan
10. Penggunaan es dan air
11. Panen
12. Penanganan hasil
13. Pengangkutan
14. Pembuangan limbah
15. Pencatatan
16. Tindakan perbaikan
17. Pelatihan
18. Kebersihan Personil

1. Lokasi
Unit usaha budidaya berada pada lingkungan yang sesuai dimana resiko keamanan pangan dari bahan kimiawi, biologis dan fisik diminimalisir.

2. Suplai Air
Unit usaha budidaya mempunyai sumber air yang baik dan air pasok terhindar dari sumber polusi.

3. Tata Letak dan Desain
(1). Area usaha budidaya hanya digunakan untuk pembudidayaan ikan
(2). Unit usaha budidaya mempunyai desain dan tata letak yang dapat mencegah kontaminasi silang
(3). Toilet, septic tank, gudang dan fasilitas lainnya terpisah dan tidak berpotensi mengkontaminasi produk budidaya
(4). Unit usaha budidaya memiliki fasilitas pembangunan limbah cair ataupun padat yang ditempatkan di area yang sesuai
(5). Wadah budidaya seperti karamba dan jaring didesain dan dibangun agar menjamin kerusakan fisik ikan yang minimal selama pemeliharaan dan
panen

4. Kebersihan Fasilitas dan Perlengkapan
(1). Unit usaha budidaya dan lingkungan dijaga kondisi kebersihan dan higienis
(2). Dilakukan tindakan pencegahan terhadap binatang dan hama yang menyebabkan kontaminasi
(3). BBM, bahan kimia (desinfektan, pupuk, reagen), pakan dan obat ikan disimpan dalam tempat yang terpisah dan aman
(4). Wadah, perlengkapan dan fasilitas budidaya dibuat dari bahan yang tidak menyebabkan kontaminasi
(5). Fasilitas dan perlengkapan dijaga dalam kondisi higienis dan dibersihkan sebelum dan sesudah digunakan serta (bila perlu) didesinfeksi dengan desinfektan yang diizinkan

5. Persiapan Wadah Budidaya
(1) Wadah budidaya dipersiapkan dengan baik sebelum penebaran benih
(2) Dalam persiapan wadah dan air, hanya menggunakan pupuk, probiotik dan bahan kimia yang direkomendasikan.

6. Pengelolaan Air
(1). Dilakukan upaya filterisasi air atau pengendapan serta menjamin kualitas air yang sesuai untuk ikan yang dibudidayakan
(2). Monitor kualitas air sumber secara rutin untuk menjamin kualitas air yang sesuai untuk ikan yang dibudidayakan

7. Benih
Benih yang ditebar dalam kondisi sehat dan berasal dari unit pembenihan bersertifikat (memiliki sertifikat CPIB) dan tidak mengandung penyakit berbahaya maupun obat ikan.

image

UPR Pasir Gaok Fish Farm bersertifikat CPIB

8. Pakan
(1). Pakan ikan yang digunakan memiliki nomor pendaftaran / sertifikat yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal atau surat jaminan dari institusi yang berkompeten
(2). Pakan ikan disimpan dengan baik dalam ruangan yang kering dan sejuk untuk menjaga kualitas serta digunakan sebelum tanggal kadaluarsa
(3). Pakan tidak dicampur bahan tambahan seperti antibiotik, obat ikan, bahan kimia lainnya atau hormon yang dilarang dan bahan tambahan yang digunakan harus terdaftar pada DJPB.
(4). Pakan buatan sendiri harus dibuat dari bahan yang direkomendasikan oleh DJPB dan tidak dicampur dengan bahan-bahan terlarang (antibiotik,
pestisida, logam berat.
(5). Pemberian pakan dilakukan dalam efisiensi sesuai dengan dosis yang direkomendasikan
(6). Pakan berlabel / memiliki informasi yang mencantumkan komposisi, tanggal kadaluarsa, dosis dan cara pemberian dengan jelas dalam bahasa Indonesia

9. Penggunaan Bahan Kimia, Bahan Biologi dan Obat Ikan
(1). Hanya menggunakan obat ikan, bahan kimia dan biologis yang diijinkan (dengan nomor registrasi dari DJPB).
(2). Penggunaan Obat ikan yang diijinkan sesuai petunjuk dan pengawasan (obat keras harus digunakan dibawah pengawasan petugas yang berkompeten).
(3). Obat ikan, bahan kimia dan biologis disimpan dengan baik sesuai spesifikasi.
(4). Penggunaan obat ikan, bahan kimia dan biologis sesuai instruksi dan ketentuan / petunjuk pada label
(5). Dilakukan test untuk mendeteksi residu obat ikan dan bahan kimia dengan hasil dibawah ambang batas
(6). Obat ikan, bahan kimia dan bahan biologis yang digunakan mempunyai label yang menjelaskan: dosis dan aturan pemakaian, tanggal kadaluarsa
dan masa henti obat yang ditulis dalam bahasa Indonesia

10. Penggunaan Es dan Air
(1) Air bersih digunakan dan tersedia dalam jumlah yang cukup untuk panen, penanganan hasil dan pembersihan
(2) Es hanya berasal dari pemasok yang disetujui dan menggunakan air minum / air bersih
(3) Es diterima dalam kondisi saniter
(4) Es ditangani dan disimpan dalam kondisi higienis

11. Panen
(1) Perlengkapan dan peralatan mudah dibersihkan dan dijaga dalam kondisi bersih dan higienis
(2) Panen dipersiapkan dengan baik untuk menghindari pengaruh temperatur yang tinggi pada ikan
(3) Pada saat panen dilakukan upaya untuk menghindari terjadinya penurunan mutu dan kontaminasi ikan
(4) Penanganan ikan dilakukan secara higienis dan efisien sehingga tidak menimbulkan kerusakan fisik.

12. Penanganan Hasil
(1) Peralatan dan perlengkapan untuk penanganan hasil mudah dibersihkan dan didisinfeksi (bila perlu) serta selalu dijaga dalam keadaan bersih.
(2) Ikan mati segera didinginkan dan diupayakan suhunya mendekati 0°C di seluruh bagian
(3). Proses penanganan seperti pemilihan, penimbangan, pencucian, pembiasaan, dll dilakukan dengan cepat dan higienis tanpa merusak produk
(4) Berdasarkan persyaratan yang berlaku, bahan tambahan & kimia yang dilarang tidak digunakan pada ikan, yang diangkut dalam kondisi mati
atau hidup

13. Pengangkutan
(1). Peralatan dan fasilitas pengangkutan yang digunakan mudah dibersihkan dan selalu terjaga kebersihannya (boks, wadah, dll)
(2). Pengangkutan dalam kondisi higienis untuk menghindari kontaminasi sekitar (seperti udara, tanah, air, oli, bahan kimia, dll) dan kontaminasi silang.
(3). Suhu produk selama pengangkutan mendekati suhu cair es (0°C) pada seluruh bagian produk
(4). Ikan hidup ditangani dan dijaga dalam kondisi yang tidak menyebabkan kerusakan fisik atau kontaminasi

14. Pembuangan Limbah
Limbah (cair, padat dan berbahaya) dikelola (dikumpulkan dan dibuang) dengan cara yang higienis dan saniter untuk mencegah kontaminasi

15. Pencatatan
(1). Dilakukan rekaman pada jenis dan asal pakan (pakan pabrikan) serta bahan baku pada ikan (untuk pakan buatan sendiri)
(2). Penyimpanan rekaman penggunaan obat ikan, bahan kimia dan bahan biologi atau perlakuan lain selama masa pemeliharaan
(3). Penyimpanan rekaman kualitas air (air sumber, air pasok, air pemeliharaan dan limbah cair) sesuai kebutuhan (lihat poin 6)
(4). Penyimpanan rekaman kejadian penyakit yang mungkin berdampak pada keamanan pangan produk perikanan
(5). Rekaman panen disimpan dengan baik
(6). Catatan / rekaman pengangkutan ikan disimpan dengan baik

16. Tindakan Perbaikan
Tindakan perbaikan (atas bahaya keamanan pangan) dilakukan sebagai kegiatan yang rutin dan terkendali. Tindakan perbaikan dilakukan dengan tepat dan segera sesuai masalah yang ditemukan.

17. Pelatihan
Pemilik unit usaha atau pekerja sadar dan terlatih (pelatihan, seminar, workshop, sosialisasi, dsb) dalam mencegah dan mengendalikan bahaya keamanan pangan dalam perikanan budidaya.

18. Kebersihan Personil
Pekerja yang menangani ikan dalam kondisi sehat

Sumber: Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya
Direktorat Produksi
(2010)

Manajemen Kesehatan Ikan

Oleh : Komarudin O. dan J.Slembrouck

image

Penyakit ikan merupakan problem utama yang dihadapi oleh pembudidaya.
Karena kesulitan diagnosa, implementasi penanganan dan pengobatan yang tepat serta identifikasi penyebab. Kerugian ekonomis bagi para
pembudidaya cukup terasa baik karena hilangnya produksi akibat kematian dan pertumbuhan ikan yang lambat atau biaya pengobatan yang tinggi.
Umumnya, stres menyebabkan turunnya kemampuan daya tahan ikan dan dianggap sebagai salah satu penyebab utama penyakit ikan dalam sistem budidaya yang intensif. Namun demikian, stres pada ikan yang dibudidayakan bisa dihindari atau dicegah. Banyak penelitian menunjukkan
bahwa ikan yang sehat tidak mudah terinfeksi oleh patogen, sementara ikan yang lemah akan mudah terinfeksi (Woynarovich dan Horvath, 1980).
Penting untuk diingat bahwa stres juga bisa mengurangi penyerapan pakan dan bisa dengan serius mempengaruhi keberhasilan peneluran oleh induk ikan.

Sumber Stres

Kualitas air

Kualitas air budidaya (kandungan bahan organik yang tinggi, terdapatnya amoniak atau nitrat, konsentrasi oksigen larut yang rendah, pH yang tidak memadai, variasi suhu yang tinggi dan berganti-ganti secara cepat) memaksa ikan mempertahankan keseimbangan metabolismenya,
memperlemah ikan dan akhirnya mudah terserang penyakit.
Pencemaran air karena zat kimia juga bisa menjadi penyebab kematian secara tiba-tiba, dan melemahkan ikan, terutama apabila ikan dibesarkan dalam air terbuka atau dengan perairan yang berasal dari sungai atau waduk
penampungan.

image

Bibit Patin Sehat berkwalitas

Kondisi-kondisi pembesaran
Dalam budidaya intensif, kepadatan ikan yang tinggi sering melampaui kemampuan alamiah tempat pembesaran. Karena itu, ikan rentan terhadap stres, dengan demikian cenderung mudah terserang infeksi patogen.
Kepadatan ikan yang tinggi juga memudahkan penyebaran penyakit, sebab. kontak yang dekat antara sesama ikan mendorong terjadinya penyebaran patogen.
Manajemen yang buruk dari aktivitas rutin dan pemberian pakan bisa juga menyebabkan keadaan lemah melalui gizi yang tidak memadai serta kualitas air yang tidak seimbang.

Penanganan
Penangkapan, penanganan serta pengangkutan bisa mempengaruhi
pematangan dan pertumbuhan gonad dan bisa menimbulkan penyakit.

PEMBERANTASAN DAN PENCEGAHAN
Perilaku ikan harus diamati secara seksama. Jika pengamatan secara visual memperlihatkan perilaku yang tidak normal, evaluasi lanjutan harus dilakukan dengan teliti untuk mementukan apakah hal tersebut karena adanya patogen atau kondisi dan kualitas air yang buruk. Pengamatan ini harus dilakukan sesegera mungkin untuk mencegah akibat negatif selanjutnya pada ikan budidaya. Jika diakibatkan oleh patogen, pengobatan harus diberikan segera dengan jenis dan dosis obat yang tepat.
Beberapa metode yang bisa digunakan untuk mencegah dan mengontrol infeksi yang disebabkan patogen:
• Sebelum digunakan, tempat pembesaran harus dibersihkan,
disucihamakan serta dikeringkan; setelah panen ikan pengeringan kolam-kolam yang terbuat dari tanah harus dilakukan secara teratur;
• Melakukan disinfeksi peralatan secara rutin akan sangat membantu mencegah kontaminasi patogen;
• Menjaga ikan budidaya selalu berada dalam keadaan yang optimal (kepadatan ikan yang tepat, kualitas air yang baik, prosedur budidaya
yang benar);
• Pemberian preventif anti parasit dan anti jamur harus dilakukan secara teratur;
• Sebelum penanganan dan pengangkutan ikan tidak diberi pakan;
• Vaksinasi benih ikan juga bisa efektif untuk menstimulasi reaksi kekebalan serta mencegah infeksi penyakit.

Cara pembasmian kuman
• Kolam yang terbuat dari tanah
Kolam harus benar-benar dikosongkan dan kemudian dikeringkan selama 5 – 7 hari. Jika dasar kolam tidak bisa kering, tabur kapur bakar pada takaran 200 – 250 gram/m2
• Wadah yang lebih kecil
Bak beton, fiberglass dan akuarium bisa disucihamakan dengan formalin atau klorin.

image

• Peralatan
Semua peralatan (jaring penampung, ember, selang plastik, dsb.) bisa disucihamakan dengan mencelupkannya selama 20-30 detik dalam larutan klorin 6 ml dalam 1 liter air bersih.

image

UPR Pasir Gaok Fish Farm bersertifikat CPIB

Berdagang ala Master of Treader

image

Nabi Muhammad SAW tercatat dalam sejarah adalah pembawa kemaslahatan dan kebaikan yang tiada bandingan untuk seluruh umat manusia. Bagaimana tidak karena Rasulullah SAW telah membuka zaman baru dalam pembangunan peradaban dunia. Beliaulah adalah tokoh yang paling sukses dalam bidang agama (sebagai Rasul) sekaligus dalam bidang duniawi (sebagai pemimpin negara dan peletak dasar peradaban Islam yang gemilang selama 1000 tahun berikutnya).

Kesuksesan Rasulullah SAW itu sudah banyak dibahas dan diulas oleh para ahli sejarah Islam maupun Barat. Namun ada salah satu sisi Muhammad SAW ternyata jarang dibahas dan kurang mendapat perhatian oleh para ahli sejarah maupun agama yaitu sisinya sebagai seorang pebisnis ulung. Padahal manajemen bisnis yang dijalankan Rasulullah SAW hingga kini maupun di masa mendatang akan selalu relevan diterapkan dalam bisnis modern. Setelah kakeknya yang merawat Muhammad SAW sejak bayi wafat, seorang pamannya yang bernama Abu Thalib lalu memeliharanya.

Abu Thalib yang sangat menyayangi Muhammad SAW sebagaimana anaknya sendiri adalah seorang pedagang. Sang paman kemudian mengajari Rasulullah SAW cara-cara berdagang (berbisnis) dan bahkan mengajaknya pergi bersama untuk berdagang meninggalkan negerinya (Makkah) ke negeri Syam (yang kini dikenal sebagai Suriah) pada saat Rasulullah SAW baru berusia 12 tahun. Tidak heran jika beliau telah pandai berdagang sejak berusia belasan tahun. Kesuksesan Rasulullah SAW dalam berbisnis tidak terlepas dari kejujuran yang mendarah daging dalam sosoknya.

Kejujuran itulah telah diakui oleh penduduk Makkah sehingga beliau digelari Al Shiddiq. Selain itu, Muhammad SAW juga dikenal sangat teguh memegang kepercayaan (amanah) dan tidak pernah sekali-kali mengkhianati kepercayaan itu. Tidak heran jika beliau juga mendapat julukan Al Amin (Terpercaya). Menurut sejarah, telah tercatat bahwa Muhammad SAW melakukan lawatan bisnis ke luar negeri sebanyak 6 kali diantaranya ke Syam (Suriah), Bahrain, Yordania dan Yaman. Dalam semua lawatan bisnis, Muhammad selalu mendapatkan kesuksesan besar dan tidak pernah mendapatkan kerugian.

image

Jalur perjalanan berdagang Rasulullah

Lima dari semua lawatan bisnis itu dilakukan oleh beliau atas nama seorang wanita pebisnis terkemuka Makkah yang bernama Khadijah binti Khuwailid. Khadijah yang kelak menjadi istri Muhammad SAW, telah lama mendengar reputasi Muhammad sebagai pebisnis ulung yang jujur dan teguh memegang amanah. Lantaran itulah, Khadijah lalu merekrut Muhammad sebagai manajer bisnisnya. Kurang lebih selama 20 tahun sebelum diangkat menjadi Nabi pada usia 40 tahun, Muhammad mengembangkan bisnis Khadijah sehingga sangat maju pesat. Boleh dikatakan bisnis yang dilakukan Muhammad dan Khadijah (yang menikahinya pada saat beliau berusia 25 tahun) hingga pada saat pengangkatan kenabian Muhammad adalah bisnis konglomerat.

Pola manajemen bisnis apa yang dijalankan Muhammad SAW sehingga bisnis junjungan kita itu mendapatkan kesuksesan spektakuler pada zamannya ? Ternyata jauh sebelum para ahli bisnis modern seperti Frederick W. Taylor dan Henry Fayol pada abad ke-19 mengangkat prinsip manajemen sebagai sebuah disiplin ilmu, ternyata Rasulullah SAW telah mengimplementasikan nilai-nilai manajemen modern dalam kehidupan dan praktek bisnis yang mendahului masanya. Berdasarkan prinsip-prinsip manajemen modern, Rasulullah SAW telah dengan sangat baik mengelola proses, transaksi, dan hubungan bisnis dengan seluruh elemen bisnis serta pihak yang terlihat di dalamnya.

Seperti dikatakan oleh Prof. Aflazul Rahman dalam bukunya “Muhammad: A Trader” bahwa Rasulullah SAW adalah pebisnis yang jujur dan adil dalam membuat perjanjian bisnis. Ia tidak pernah membuat para pelanggannya mengeluh. Dia sering menjaga janjinya dan menyerahkan barang-barang yang dipesan dengan tepat waktu. Muhammad SAW pun senantiasa menunjukkan rasa tanggung jawab yang besar dan integritas yang tinggi dalam berbisnis. Dengan kata lain, beliau melaksanakan prinsip manajemen bisnis modern yaitu kepuasan pelanggan (customer satisfaction), pelayanan yang unggul (service exellence), kemampuan, efisiensi, transparansi (kejujuran), persaingan yang sehat dan kompetitif. Dalam menjalankan bisnis, Muhammad SAW selalu melaksanakan prinsip kejujuran (transparasi). Ketika sedang berbisnis, beliau selalu jujur dalam menjelaskan keunggulan dan kelemahan produk yang dijualnya.

Ternyata prinsip transparasi beliau itu menjadi pemasaran yang efektif untuk menarik para pelanggan. Beliau juga mencintai para pelanggannya seperti mencintai dirinya sehingga selalu melayani mereka dengan sepenuh hatinya (melakukan service exellence) dan selalu membuat mereka puas atas layanan beliau (melakukan prinsip customer satisfaction).

Dalam melakukan bisnisnya, Muhammad SAW tidak pernah mengambil margin keuntungan sangat tinggi seperti yang biasa dilakukan para pebisnis lainnya pada masanya. Beliau hanya mengambil margin keuntungan secukupnya saja dalam menjual produknya.Ternyata kiat mengambil margin keuntungan yang dilakukan beliau sangat efektif, semua barang yang dijualnya selalu laku dibeli Orang-orang lebih suka membeli barang-barang jualan Muhammad daripada pedagang lain karena bisa mendapatkan harga lebih murah dan berkualitas. Dalam hal ini, beliau melakukan prinsip persaingan sehat dan kompetitif yang mendorong bisnis semakin efisien dan efektif.

Boleh dikatakan Rasulullah SAW adalah pelopor bisnis yang berdasarkan prinsip kejujuran, transaksi bisnis yang adil dan sehat. Beliau juga tidak segan mensosialisasikan prinsip-prinsip bisnisnya dalam bentuk edukasi dan pernyataan tegas kepada para pebisnis lainnya. Ketika menjadi kepala negara, Rasulullah SAW mentransformasikan prinsip-prinsip bisnisnya menjadi pokok-pokok hukum. Berdasarkan hal itu, beliau melakukan penegakan hukum pada para pebisnis yang nakal. Beliau pula yang memperkenalkan asas “Facta Sur Servanda” yang kita kenal sebagai asas utama dalam hukum perdata dan perjanjian. Di tangan para pihaklah terdapat kekuasaan tertinggi untuk melakukan transaksi bisnis yang dibangun atas dasar saling setuju.

image

Sesibuk apapun shalatlah berjamaah

Ketika Nabi Muhammad SAW, berusia 25 tahun, sebelum diangkat menjadi seorang nabi dan rasul, beliau pernah menjalankan perniagaan bersama Siti Khadijah ke negeri Syam. Pada waktu berdagang, ia ditemani oleh Maisarah, budak Siti Khadijah.

Tips Berdagang Cara Nabi Muhammad SAW

✩ Jujur
✩ Amanah
✩ Ramah bersahaja
✩ Sopan santun

Jika barang dagangannya dijual jelek maka dikatakan jelek. Begitu pun sebaliknya, jika barang-barang itu baik dikatakan baik. Beliau tidak menyembunyikan barang-barang yang jelek di balik barang-barang yang baik. (sanggup bro …. ?)

Biliau membawa barang dagangan orang lain, Siti Khadijah (tidak membayar tunai barang dagangan yang beliau bawa). Harga yang ditawarkan kepada pembeli sesuai dengan yang disepakati Siti Khadijah. Ia tidak mengambil untung diluar yang disepakati. Oleh karena itu, banyak pembeli yang terkesan dan tertarik cara berdagang beliau.

Sumber:
https://thetruthislamicreligion.wordpress.com

Budidaya Ikan Patin Pada Keramba Apung

image

Karamba Jaring Apung

Dalam melakukan usaha budidaya ikan Patin, petani harus mengetahui dan mengerti apa saja yang harus dipersiapkan dan dilakukan. Apabila petani sudah mengetahui teknik dan hal-hal dalam pembudidayaan ikan Patin dengan baik khususnya pada media keramba, kegiatan budidaya tidak akan terlalu rumit.  

Hal-hal yang harus dilakukan sebelum pelaksanaan usaha tani ikan ini adalah pengetahuan mengenai syarat lokasi budidaya, penyiapan sarana dan prasarana seperti media budidaya, dan peralatan-peralatan pendukung.   Media yang biasa digunakan dalam budidaya ikan ini adalah kolam, jaring apung, dan keramba.

1. Persiapan Wadah dan Media Pemeliharaan
Persiapan wadah dan media merupakan salah satu kegiatan yang menunjang keberhasilan pembesaran.  Keramba adalah salah satu wadah yang dapat digunakan untuk kegiatan pembesaran ikan Patin.  Bahan-bahan yang diperlukan untuk pembuatan keramba terdiri dari balok kayu dan bambu.  Balok kayu berfungsi sebagai rangka dan bambu sebagai dinding dan penutup yang diikatkan dengan tali nilon pada rangka kayu.  Bentuk keramba adalah kotak segi empat yang pada bagian bawahnya terbuka dengan ukuran panjang 4 meter, lebar 2 meter dan tinggi 1,5 meter. Penempatan keramba adalah 2/3 di dalam air dan 1/3 diatas permukaan air. Pada bagian tengah penutup keramba dibuat lubang terbuka berukuran 0,5 x 0,5 meter yang berfungsi sebagai tempat pemberian pakan dan pengontrolan ikan.
Di bagian dalam karamba dimasukkan jaring yang diikat pada dinding keramba, sebagai wadah penampung ikan patin yang dipelihara.  Ukuran mata jaringnya lebih kecil dari ukuran benih ikan patin yang ditebar.  Jaring ukuran tersebut sudah tersedia dan mudah dibeli di pasaran.
Karamba ditempatkan di pinggir sungai secara berkelompok dan setiap kelompok terdapat 20 – 40 karamba.  Penempatannya secara berpasangan dan diantara pasangan karamba ditempatkan bambu bulat yang berfungsi sebagai tempat pengikat, sekaligus sebagai pelampung karamba.  Di antara tiap karamba dibuat jalan penghubung dari papan kayu.  Kedua ujung bambu tersebut di ikat pada tiang yang ditancapkan kedasar sungai sebagai penahan agar karamba tidak terbawa arus air sungai.  Untuk setiap kelompok, diatas bambu pelampung dibuat pondok ukuran 1,5 x 1,5 x 1,5 meter sebagai tempat berteduh bagi petugas yang jaga di malam hari. Rangka pondok terbuat dari bambu dan kayu, lantai dari bambu dan atap dari daun rumbia atau nipah

2. Penebaran Benih
Setelah wadah dan media siap, maka dilakukan penebaran benih. Sebelum dilakukan penebaran, dilakukan aklimatisasi agar benih tidak stress.  Proses aklimatisasi ini dengan cara menambahkan sedikit demi sekit air kolam pemeliharaan ke bak atau kantong benih agar kualitas airnya sama.  Benih yang digunakan untuk pembesaran adalah benih yang memiliki berat antara 50 – 100g/ekor dengan kepadatan 100 – 200 ekor/m3. Penebaran benih ikan sebaiknya dilakukan pada sore hari atau pagi hari saat kondisi perairan tidak terlalu panas. Agar ikan tidak stress, sebelum ikan di tebarkan, perlu dilakukan aklimatisasi (penyesuaian kondisi lingkungan) sekitar 5-10 menit.

image

3. Pengelolaan Pakan
Pakan merupakan faktor penting dalam pertumbuhan ikan. Pemberian pakan pada ikan Patin dibedakan sesuai ukuran ikan.  Pada umur ikan satu bulan pertama diberikan pakan berupa pakan dengan butiran halus dan selanjutnya pakan dengan butiran yang agak besar dan kemudian butiran yang besar yang telah disesuaikan dengan bukaan mulut ikan. Frekuensi pemberian pakan sebanyak dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari.
Jumlah pakan yang diberikan dapat dilihat pada tabel berikut.

image

4. Kualitas air
Kualitas air merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi pertumbuhan.  Adapun parameter kualitas air meliputi
a) Suhu.
Suhu air pada umumnya ditentukan oleh suhu udara, sedangkan suhu udara dipengaruhi oleh ketinggian lokasi dari muka laut. Semakin tinggi lokasi di atas muka laut semakin rendah suhu udaranya dan sebaliknya).  Suhu air merupakan salah satu sifat fisika yang dapat mempengaruhi nafsu makan ikan dan pertumbuhan badan ikan.  Perubahan suhu yang mendadak menyebabkan ikan mati, meskipun
kondisi lingkungan lainnya optimal (Purnamawati, 2002).  Suhu untuk pemeliharaan ikan patin yang optimal yaitu 25-33°C.
b) Kecerahan. 
Kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan, yang ditentukan secara visual dengan menggunakan Secchi disk. Secchi disk dikembangkan oleh profesor Secci pada sekitar abad 19, yang berusaha menghitung tingkat kekeruhan air secara kuantitatif.  Tingkat kekeruhan air tersebut dinyatakan dengan suatu nilai yang dikenal dengan kecerahan Secchi disk.  Perairan yang aman bagi ikan Patin adalah perairan yang dapat ditembus oleh sinar matahari hingga kedalaman lebih dari 40 cm.

image

Cara membuat Secchi Disk

c) Derajat keasaman (pH).
Derajat keasaman atau pH merupakan ukuran konsentrasi ion hidrogen yang menunjukkan suasana asam atau basa suatu perairan. Derajat keasaman suatu perairan dipengaruhi oleh konsentrasi CO2 dan senyawa yang bersifat asam.  Ikan Patin mempunyai toleransi yang panjang terhadap derajat keasaman yaitu antara 5,0-9,0 dan derajat keasaman yang optimum adalah 7,0.   pH antara 6,5-9 merupakan kadar optimum untuk pertumbuhan ikan dan pH 11 merupakan titik mati basa.
d) Oksigen terlarut (DO).  Kandungan oksigen yang optimal untuk pemeliharaan ikan patin yaitu antara 5-6 ppm.   Peningkatan kandungan oksigen dalam air dapat dilakukan dengan aerasi, filter mekanis dan penambahan bahan penyegar. Dengan aerasi berarti oksigen atau udara bebas dialirkan ke dalam air sehingga dapat menempati rongga-rongga yang ditinggalkan oleh gas yang lebih ringan yang terusir.
Dengan filter mekanis berarti mengurangi kandungan bahan organik dan koloid dalam air sehingga memungkinkan oksigen atau udara bebas memasuki rongga dalam air. Dengan penambahan bahan penyegar berarti memasukkan bahan yang dapat mengikat gas-gas dalam air sehingga rongga yang ditinggalkan dapat
diisi oleh oksigen atau udara bebas.
e) Laju/Kecepatan Arus Air.
Laju/kecepatan (rate) pertukaran air di dalam sebuah keramba berbanding langsung dengan laju aliran air dan jarak linier yang melintasi keramba; oleh karenanya, semakin kecil keramba semakin besar laju pertukaran air potensialnya. Laju aliran air sebesar 1 m/menit akan berganti air satu kali dalam satu menit dalam keramba dengan lebar sisi 1-m (1-m3), tetapi hanya satu kali dalam tujuh menit dalam keramba dengan lebar sisi 7-m (98-m3). Kecepatan arus yang ideal untuk pembesaran adalah antara 15-30 cm/detik.

5. Hama dan Penyakit
Penyakit ikan adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan pada ikan, baik secara langsung maupun tidak langsung.  Gangguan terhadap ikan dapat disebabkan oleh organisme lain, pakan maupun kondisi lingkungan yang kurang menunjang kehidupan ikan.  Jadi timbulnya serangan penyakit ikan di bak merupakan hasil interaksi yang tidak serasi antara ikan, kondisi lingkungan dan organisme penyakit.

a) Bintik Putih (White spot)
Penyakit bintik putih biasa menyerang benih ikan Patin. Penyakit bintik putih dapat diketahui dengan gejala seperti benih berenang di permukaan kolam.  Apabila diperhatikan, badan benih ikan patin terdapat bintik-bintik putih dan nafsu makan berkurang.  Cara mengatasi penyakit ini dengan menyurutkan air kolam sampai setengah, kemudian di beri garam sampai salinitas 3 ppt (30 garam/10 liter) disertai peningkatan suhu air media sampai 31℃.

b) Bakteri
Penyakit bakteri yang dapat menyerang ikan Patin adalah Aeromonas sp. dan Pseudomonas sp. Bakteri ini menyerang bagian perut, dada dan pangkal sirip sehingga menimbulkan pendarahan dan lendir di tubuh berkurang yang dicirikan dengan kulit ikan terasa kasap ketika diraba.  Pengobatan yang dapat dilakukan adalah dengan merendam ikan ke dalam :
✩ Larutan PK (Kalium Permangnat) 10-20 ppm selama 30-60 menit, atau
✩ Larutan Nitrofuran 5-10 ppm selama 12-24 jam, atau
✩ Larutan Oksiterrasiklin 5 ppm selama 24 jam.

c) Jamur.
Jamur datang karena adanya luka-luka di bagian badan ikan. Penyebab luka dikarenakan penanganan yang kurang baik pada saat pemanenan atau pengangkutan. Jamur yang menyerang ikan patin dari golongan Achlya sp. dan Saprolegnia sp.

image

Ikan yang diserang Saprolegnia sp.

Ciri-ciri ikan yang terkena jamur adalah bagian tubuh terluka, terutama pada tutup insan, sirip dan bagian punggung ditumbuhi benang-benang halus, seperti kapas yang berwarna putih hingga kecoklatan.  Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kualitas air sesuai kebutuhan ikan dan menjaga agar ikan tidak mengalami luka-luka pada bagian tubuh seperti tutup insang, sirip dan bagian punggung.  Pengobatan yang dapat dilakukan adalah dengan merendamnya ke dalam larutan Malachyte Green Oxalate (MGO) dengan dosis 2-3 g/m3 air selama 30 menit.  Pengobatan dilakukuan hingga tiga hari berturut-turut agar ikan patin benar-benar sembuh.

image

Achlya sp. (Esporangios)

6. Panen
Pemanenan adalah saat yang ditunggu pada budi daya ikan patin.  Meski terlihat sederhana pemanenan juga perlu memperhatikan beberapa aspek agar ikan tidak mengalami kerusakan, kematian, cacat saat dipanen.  Untuk pemanenan ikan di keramba, dilakukan dengan menggunakan serok atau alat tangkap lainnya.
Penanganan saat pemanenan harus hati-hati dan menghindari adanya luka karena dapat menurunkan mutu dan harga jual ikan.  Penangkapan langsung menggunakan tangan sebaiknya tidak dilakukan karena tangan bisa terluka terkena patil atau duri sirip ikan.  Untuk menjaga mutu ikan yang dipanen, sehari sebelum dipanen biasanya pemberian pakan dihentikan (diberokan). Ikan patin yang dipanen dimasukkan dalam wadah yang telah diisi dengan air jernih sehingga ikan tetap hidup dan tidak stress.
Untuk pemanenan pada pemeliharaan di kolam tanah, dilakukan dengan cara mengeringkan kolam hingga air yang tersisa hanya di kemalir saja. Ikan yang berada di kemalir diambil dengan menggunakan jarring. Ikan digiring ke arah saluran pembuangan kemudian diangkat dan ditampung pada tempat penampungan.  Penangkapan ikan dengan menggunakan jala sebaiknya tidak dilakukan karena akan mengakibatkan ikan mengalami luka-luka.

7. Pasca Panen
Penanganan pascapanen ikan patin dapat dilakukan dengan cara penanganan ikan hidup maupun ikan segar.