Catfish Fabrication

Home » Bibit » Pembangunan Perikanan melalui Budidaya Lele

Pembangunan Perikanan melalui Budidaya Lele

Katagori

Harga Bibit Patin

TUJUAN 3/4" 1"
AMBON 208 253
AMPENEN 173 208
BANDA ACEH 188 227
BALIKPAPAN 187 225
BANJARMASIN 175 210
BATAM 171 204
BENGKULU 172 205
BIAK 241 297
DENPASAR 156 197
GORONTALO 206 251
JAMBI 169 202
JAYAPURA 243 290
KENDARI 208 253
KUPANG 206 251
LAMPUNG 164 195
MAKASAR 187 225
MALANG 166 197
MANADO 208 253
MEDAN 174 209
PADANG 171 204
PALANGKARAYA 175 210
PALEMBANG 164 195
PALU 215 262
PANGKAL PINANG 169 202
PANGKALANBUN 195 237
PAKANBARU 173 206
PONTIANAK 175 210
SAMPIT 192 232
SEMARANG 162 192
SOLO 160 190
SORONG 267 332
SURABAYA 162 192
TANJUNG PANDAN 178 213
TANJUNG PINANG 178 213
TARAKAN 213 260
TERNATE 206 251
TIMIKA 307 368
KETENTUAN: Jarak antara bandara ke kolam kurang dari 3 jam. Kapasitas Produksi 3 Juta Ekor per Bulan

Pemesanan Bibit Hubungi

0813-8030-3274
0878-7714-4003
EmpangQQ
E-mail:EmpangQQ

Klik Pada Peta Untuk memperbesar Peta Lokasi EmpangQQ

Budidaya Ikan Patin

Pangasius Farms Standards Guidelines

Fish Hatchery Management

Comments on BAP Standards Pangasius Farm Standards

Aquaculture Facility Certification Finfish and Crustacean Farms

Fish to 2030 Prospects for Fisheries and Aquaculture

FAO Aquaculture Department

ASC Pangasius Standards

Prof Kamiso H N
Guru Besar Jurusan PerikananUniversitas Gadjah Mada

image

Saat ini di dunia sekitar 800 ribu orang mengalami malnutrisi terutama protein hewani dengan sendirinya termasuk rakyat Indonesia. Jumlah tersebut akan terus bertambah sejalan dengan pertambahan penduduk. Suatu tantangan besar bagi kita bagaimana mengatasi hal tersebut agar generasi mendatang tidak semakin parah.

Perikanan dituntut untuk berperan sangat besar untuk mengatasi masalah tersebut. Belum pernah sebelumnya bahwa tingkat ketergantungan dunia sangat tinggi pada ikan. Saat ini ikan menjadi salah satu komoditas perdagangan yang paling dibutuhkan dunia. Kecepatan kenaikan permintaan ikan (demand) sudah melampaui kecepatan peningkatan produksi (supply).

 Akibatnya kebutuhan ikan untuk non pangan terbatas dan harga komoditas perikanan cenderung meningkatatau mahal. Untuk itu peran perikanan budidaya menjadi sangat vital karena perikanan tangkap sudah jenuh (leveling off), bahkan dibeberapa wilayah sudah terjadi over fishing (FAO, 2014). Peningkatan permintaan yang tinggi melebihi peningkatan produksi sangat sulit dicukupi oleh perikanan tangkap, karena perikanan tangkap sudah sangat terbatas.

Kondisi ini merupakan peluang pasar dan peluang usaha budidaya yang sangat besar.Masalahnya komoditas apa yang memenuhi berbagai kriteria pasar, sekaligus penyediaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi, serta ramah lingkungan. Pemenuhan pasar tidak saja pasar lokal, tetapi juga nasional dan dunia. Pertimbangan lain adalah ketersediaan sumberdaya lahan dan air, sarana produksi, teknologi dan kesiapan masyarakat sebagai pelaku budidaya dan usaha terkait.

Lele dumbo tampaknya dapat memenuhi berbagai kriteria tersebut, karena lele dumbo sudah disukai masyarakat luas tidak saja masyarakat Indonesia tetapi sebagian masyarakat dunia, dengan demikian lele dumbo sudah menjadi komoditas universal. Masalah berikutnya bagaimana membuat komoditas universal menjadi bahan baku pangan universal dan akhirnya menjadi makanan universal.

 Lele dumbo tidak memerlukan lahan yang luas, volume dan kualitas air yang tinggi, dengan demikian dapat dibudidayakan di berbagai daerah. Ditinjau dari aspek rekayasa budidaya, teknologi budidaya lele dumbo sudah sangat maju, bahkan sudah sampai tingkat super intensif, dengan padat tebar 1.000 ekor/m2. Dengan demikian pembudidaya mempunya banyak pilihan teknologi, dari tradisional sampai super intensif tergantung penguasaan teknologi, pengalaman dan modal finansial.

Sudah tersedia induk unggul yang telah dirilis pemerintah yaitu lele sangkuriang dan beberapa varietas yang belum dirilis.Mudah dibudidayakan, karena tidak memerlukan volume air yang besar dan tidak memerlukan kualitas air yang tinggi, tahan terhadap oksigen terlarut (DO) rendah.Dapat dibudidayakan oleh pembudidaya dengan berbagai tingkatan pengusaan teknologi  dari tradisional, semi intensif, intensif,sampai super intensif (padat tebar 100–1.000 ekor/m2).Waktu budidaya relatif singkat, lebih singkat dari ikan lain 2-3 bulan tergantung ukuran benih dan ukuran ikan saat panen.Responsif terhadap teknologi, sehingga “selalu dapat ditingkatkan” teknologinya “the sky is the limit”.Lele dumbo mudah diangkut dalam keadaan hidup, disamping tidak memerlukan air yang banyak juga dapat bertahan hidup dalam waktu yang relatif lama.Lele dumbo dapat dijadikan bahan baku industri pengolahan, karena semua bagian tubuh dapat digunakan baik daging, kulit, sirip, maupun tulangnya.Kandungan gizi tinggi terutama protein serta harga relatif murah sehingga sangat tepat untuk mengatasi kekurangan gizi (malnutrisi) bagi masyarakat

Perlu sistem dan kegiatan promosi yang intensif dan masif baik secara terus menerus maupun periodik dengan materi, metode, dan berbagai media komunikasi dan  informasi oleh instansi terkait (dinas perikanan dan kelautan, pariwisata, Depdiknas, dinas kesehatan, perguruan tinggi, dan lainnya), bahkan secara mandiri oleh masyarakat pelaku usaha.

Perlu data base dan peta distribusi lokasi perbenihan, pembesaran, pengolahan, konsumen, dan pasar. Kemudian pengembangan sistem logistik dan pemasaran benih dan ikan konsumsi (hidup, segar, maupun olahan).

Dengan program dan kegiatan yang terencana serta  dilakukan secara baik dari tingkat nasional sampai tingkat daerah. Diharapkan hal ini akan dapat terlaksana untuk mencapai berbagai tujuan dan manfaat antara lain peningkatan produksi, produktivitas, kualitas, efisiensi, nilai tambah dan daya saing seperti prinsip yang digunakan KKP yaitu blue economydalam rangka mewujudkan pembangunan pro poor, pro job, pro growth dan pro environment.

Dengan 4.000 ton/ha/tahununtuk mengejar Cina yang total produksinya 53,91 juta ton, Indonesia 18,51 juta ton (FAO, 2014)  berarti hanya 35,4 juta ton atau setara dengan lahan budidaya 8.850 ha. Hal ini berarti hanya 268,2 ha/provinsi atau sekitar 20 ha/kabupaten/kota. Untuk kabinet mendatang yang sangat peduli dengan masyarakat tingkat bawah dan gencarnya program ketahanan pangan pengembangan budidaya lele dumbo secara luas berskala nasional dapat dijadikan salah satu program unggulan.

Advertisements

Silakan Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Kalender

March 2015
S M T W T F S
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Jadwal Shalat

Pasir Gaok Fish Farm

Flag Counter

Info Produksi Lele

Bulan Bobot
Januari 2015 1.010 kg
Desember 2014 1.020 kg
November 2014 2.100 kg
Oktober 2014 1.330 kg
September 2014 1.200 kg
Agustus 2014 400 kg
Juli 2014 2.100 kg
Juni 2014 110.000 ekor
Mei 2014 25.000 ekor
Info Produksi Bibit LELE

Mitra Budidaya Anda

Tamu

%d bloggers like this: