Benahi Kualitas dan Kuantitas Patin Lokal

Oleh: Sudiarso
Pemilik Pengolah Patin Fillet
CV Karunia Mitra MakmurKarawang

Pertumbuhan pengolahan patin lokal mulai bergairah ketika adanya momentum pelarangan impor patin Vietnam. Komoditas yang dulu dipandang sebelah mata ini, mulai dilirik untuk dikembangkan

Sajian Ikan Patin

Sajian Fillet Patin

Sejak adanya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen-KP) nomor 15/2011 yang berlaku padaJanuari 2012 lalu, impor produk olahan patin asal Vietnam diperketat. Kebijakan ini  membuat industri patin lokal semakin menggeliat. Demi memenuhi kebutuhan pasarnya, para penjual fillet (daging tanpa tulang) patin yang sebelumnya mengandalkan produk impor, kini beralih ke fillet patin yang berbahab baku dari lokal.

Permintaan industri pengolahan meningkat, namun pasokan yang sesuai keinginan pasar masih kurang. Masalahnya ada pada kualitas. Pertama, ukuran bahan baku (patin) untuk fillet. Sebagai contoh di Jawa Barat, para pembudidaya patin terbiasa memproduksi patin berukuran 500 gram per ekor. Sementara kebutuhan pengolahan fillet adalah ukuran 800 gram ke atas per ekornya.

Pelaku pengolahan fillet patin pun tak tinggal diam, harus turun langsung ke lapangan menyampaikan standar kebutuhan. Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar bahkan hingga bertahun-tahun untuk mensosialisasi dan menggerakkan pembudidaya untuk berproduksi sesuai standar pasar.

Harus diakui pula memproduksi ukuran yang dibutuhkan para pengolah fillet patin itu memang tidak mudah bagi pembudidaya. Sebab dibutuhkan tambahan waktu pemeliharaan, dari yang biasanya 6 bulan jadi 10 bulan, dan biaya pakan pun meningkat. Tapi kabar baiknya, kini sudah mulai banyak perusahaan pakan yang mau bekerjasama memberikan kredit pakan.

Kedua,performa patin lokal yang kalah bersaing dengan patin impor. Tak bisa dipungkiri, pasar fillet patin dalam negeri masih berpatokan pada kualitas dari fillet patin asal Negeri Paman Ho, terutama dalam hal warna, yaitu warna putih. Sebab yang pertama kali mengedukasi pasar dalam negeri dengan fillet patin adalah produk asal Vietnam.

Untuk merubah cara pandang konsumen pada fillet patin lokal yang memiliki karakteristik warna tersendiri adalah butuh waktu. Warna daging patin lokal cenderung kuning atau merah muda (pink). Sudah pernah di uji balai perikanan di Karawang, bahwa perbedaan warna daging patin lokal dipengaruhi oleh banyaknya jenis mikroorganisme yang hidup diperairan kolam.

Belum Optimal
Ikan patin merupakan salah satu ikan domestik yang sangat potensial dikembangkan secara massal di Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan sejak tahun 1980-an, dimulai dari penelitian sampai pengembangan industri hilir akhir-akhir ini. Namun demikian, ternyata potensi tersebut belum dapat diaktualisasikan sebagaimana diharapkan. Vietnam sebagai negara “patin” di dunia, telah semakin menguasai pasar dunia (termasuk Indonesia), padahal jejak Vietnam dalam industri patin tidak berbeda banyak dengan Indonesia.

Kendati telah ada pengolahan patin di tanah air tapi harus diakui  bahwa Vietnam masih menjuarai olahan patin di dunia. Industri patin disana hampir bisa dikatakan sebagai industri zero waste (tak ada limbah). Pasalnya, semua bagian patin bisa digunakan baik sebagai pakan ikan maupun pangan olahan.

Sementara di Indonesia belum mengolah limbahnya secara optimal. Secara komersial baru mengolah fillet saja. Ditambah, limbah-limbah yang tersisa setelah fillet yang didapatkan saat ini masih sedikit. Pada umumnya pelaku pengolahan fillet patin berproduksi tiap hari hanya sebanyak 3 ton, otomatis limbahnya hanya sekitar 200 – 300 kg/hari.

Target produksi 1,1 Juta ton

Target produksi 1,1 Juta ton tahun 2013

Untuk mencapai industri pengolahan patin yang zero waste, jumlah tersebut belum bisa menutupi biaya produksi, limbah tersebut sampai sekarang hanya dijual mentah (tanpa perlakuan olahan) dengan harga murah. Jadi memang berbeda, dan pasar limbah patin tetap ada, walau jumlahnya masih sedikit.

Itu salah satu penyebab Vietnam lebih maju. Selain itu di sana dari hulu ke hilirnya dalam konteks budidaya jauh lebih maju. Pemerintahnya sudah lebih bekerjasama, mulai dari dukungan, perizinan, sampai ke teknis sudah membantu. Pemerintah Indonesia masih minim sekali dalam menyokong kemajuan industrialisasi ppatin Indonesia.

Bantuan yang diberikan oleh pemerintah dinilai tidak tepat sasaran. Kucuran dana yang besar diberikan ke pembudidaya dalam bentuk mesin-mesin olahan yang rumit untuk dijalankan bagi orang yang tidak berpengalaman. Seharusnya bantuan tersebut diberikan kepada swasta atau pelaku yang biasa mengoperasikan mesin-mesin tersebut agar bantuan tersebut tepat guna.

Sumber : Majalah TROBOS Aqua Edisi 15 Agustus – 14 September 2013

Advertisements

Silakan Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s