Archive for March 17th, 2015

Benahi Kualitas dan Kuantitas Patin Lokal

Oleh: Sudiarso
Pemilik Pengolah Patin Fillet
CV Karunia Mitra MakmurKarawang

Pertumbuhan pengolahan patin lokal mulai bergairah ketika adanya momentum pelarangan impor patin Vietnam. Komoditas yang dulu dipandang sebelah mata ini, mulai dilirik untuk dikembangkan

Sajian Ikan Patin

Sajian Fillet Patin

Sejak adanya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen-KP) nomor 15/2011 yang berlaku padaJanuari 2012 lalu, impor produk olahan patin asal Vietnam diperketat. Kebijakan ini  membuat industri patin lokal semakin menggeliat. Demi memenuhi kebutuhan pasarnya, para penjual fillet (daging tanpa tulang) patin yang sebelumnya mengandalkan produk impor, kini beralih ke fillet patin yang berbahab baku dari lokal.

Permintaan industri pengolahan meningkat, namun pasokan yang sesuai keinginan pasar masih kurang. Masalahnya ada pada kualitas. Pertama, ukuran bahan baku (patin) untuk fillet. Sebagai contoh di Jawa Barat, para pembudidaya patin terbiasa memproduksi patin berukuran 500 gram per ekor. Sementara kebutuhan pengolahan fillet adalah ukuran 800 gram ke atas per ekornya.

Pelaku pengolahan fillet patin pun tak tinggal diam, harus turun langsung ke lapangan menyampaikan standar kebutuhan. Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar bahkan hingga bertahun-tahun untuk mensosialisasi dan menggerakkan pembudidaya untuk berproduksi sesuai standar pasar.

Harus diakui pula memproduksi ukuran yang dibutuhkan para pengolah fillet patin itu memang tidak mudah bagi pembudidaya. Sebab dibutuhkan tambahan waktu pemeliharaan, dari yang biasanya 6 bulan jadi 10 bulan, dan biaya pakan pun meningkat. Tapi kabar baiknya, kini sudah mulai banyak perusahaan pakan yang mau bekerjasama memberikan kredit pakan.

Kedua,performa patin lokal yang kalah bersaing dengan patin impor. Tak bisa dipungkiri, pasar fillet patin dalam negeri masih berpatokan pada kualitas dari fillet patin asal Negeri Paman Ho, terutama dalam hal warna, yaitu warna putih. Sebab yang pertama kali mengedukasi pasar dalam negeri dengan fillet patin adalah produk asal Vietnam.

Untuk merubah cara pandang konsumen pada fillet patin lokal yang memiliki karakteristik warna tersendiri adalah butuh waktu. Warna daging patin lokal cenderung kuning atau merah muda (pink). Sudah pernah di uji balai perikanan di Karawang, bahwa perbedaan warna daging patin lokal dipengaruhi oleh banyaknya jenis mikroorganisme yang hidup diperairan kolam.

Belum Optimal
Ikan patin merupakan salah satu ikan domestik yang sangat potensial dikembangkan secara massal di Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan sejak tahun 1980-an, dimulai dari penelitian sampai pengembangan industri hilir akhir-akhir ini. Namun demikian, ternyata potensi tersebut belum dapat diaktualisasikan sebagaimana diharapkan. Vietnam sebagai negara “patin” di dunia, telah semakin menguasai pasar dunia (termasuk Indonesia), padahal jejak Vietnam dalam industri patin tidak berbeda banyak dengan Indonesia.

Kendati telah ada pengolahan patin di tanah air tapi harus diakui  bahwa Vietnam masih menjuarai olahan patin di dunia. Industri patin disana hampir bisa dikatakan sebagai industri zero waste (tak ada limbah). Pasalnya, semua bagian patin bisa digunakan baik sebagai pakan ikan maupun pangan olahan.

Sementara di Indonesia belum mengolah limbahnya secara optimal. Secara komersial baru mengolah fillet saja. Ditambah, limbah-limbah yang tersisa setelah fillet yang didapatkan saat ini masih sedikit. Pada umumnya pelaku pengolahan fillet patin berproduksi tiap hari hanya sebanyak 3 ton, otomatis limbahnya hanya sekitar 200 – 300 kg/hari.

Target produksi 1,1 Juta ton

Target produksi 1,1 Juta ton tahun 2013

Untuk mencapai industri pengolahan patin yang zero waste, jumlah tersebut belum bisa menutupi biaya produksi, limbah tersebut sampai sekarang hanya dijual mentah (tanpa perlakuan olahan) dengan harga murah. Jadi memang berbeda, dan pasar limbah patin tetap ada, walau jumlahnya masih sedikit.

Itu salah satu penyebab Vietnam lebih maju. Selain itu di sana dari hulu ke hilirnya dalam konteks budidaya jauh lebih maju. Pemerintahnya sudah lebih bekerjasama, mulai dari dukungan, perizinan, sampai ke teknis sudah membantu. Pemerintah Indonesia masih minim sekali dalam menyokong kemajuan industrialisasi ppatin Indonesia.

Bantuan yang diberikan oleh pemerintah dinilai tidak tepat sasaran. Kucuran dana yang besar diberikan ke pembudidaya dalam bentuk mesin-mesin olahan yang rumit untuk dijalankan bagi orang yang tidak berpengalaman. Seharusnya bantuan tersebut diberikan kepada swasta atau pelaku yang biasa mengoperasikan mesin-mesin tersebut agar bantuan tersebut tepat guna.

Sumber : Majalah TROBOS Aqua Edisi 15 Agustus – 14 September 2013

Pembangunan Perikanan melalui Budidaya Lele

Prof Kamiso H N
Guru Besar Jurusan PerikananUniversitas Gadjah Mada

image

Saat ini di dunia sekitar 800 ribu orang mengalami malnutrisi terutama protein hewani dengan sendirinya termasuk rakyat Indonesia. Jumlah tersebut akan terus bertambah sejalan dengan pertambahan penduduk. Suatu tantangan besar bagi kita bagaimana mengatasi hal tersebut agar generasi mendatang tidak semakin parah.

Perikanan dituntut untuk berperan sangat besar untuk mengatasi masalah tersebut. Belum pernah sebelumnya bahwa tingkat ketergantungan dunia sangat tinggi pada ikan. Saat ini ikan menjadi salah satu komoditas perdagangan yang paling dibutuhkan dunia. Kecepatan kenaikan permintaan ikan (demand) sudah melampaui kecepatan peningkatan produksi (supply).

 Akibatnya kebutuhan ikan untuk non pangan terbatas dan harga komoditas perikanan cenderung meningkatatau mahal. Untuk itu peran perikanan budidaya menjadi sangat vital karena perikanan tangkap sudah jenuh (leveling off), bahkan dibeberapa wilayah sudah terjadi over fishing (FAO, 2014). Peningkatan permintaan yang tinggi melebihi peningkatan produksi sangat sulit dicukupi oleh perikanan tangkap, karena perikanan tangkap sudah sangat terbatas.

Kondisi ini merupakan peluang pasar dan peluang usaha budidaya yang sangat besar.Masalahnya komoditas apa yang memenuhi berbagai kriteria pasar, sekaligus penyediaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi, serta ramah lingkungan. Pemenuhan pasar tidak saja pasar lokal, tetapi juga nasional dan dunia. Pertimbangan lain adalah ketersediaan sumberdaya lahan dan air, sarana produksi, teknologi dan kesiapan masyarakat sebagai pelaku budidaya dan usaha terkait.

Lele dumbo tampaknya dapat memenuhi berbagai kriteria tersebut, karena lele dumbo sudah disukai masyarakat luas tidak saja masyarakat Indonesia tetapi sebagian masyarakat dunia, dengan demikian lele dumbo sudah menjadi komoditas universal. Masalah berikutnya bagaimana membuat komoditas universal menjadi bahan baku pangan universal dan akhirnya menjadi makanan universal.

 Lele dumbo tidak memerlukan lahan yang luas, volume dan kualitas air yang tinggi, dengan demikian dapat dibudidayakan di berbagai daerah. Ditinjau dari aspek rekayasa budidaya, teknologi budidaya lele dumbo sudah sangat maju, bahkan sudah sampai tingkat super intensif, dengan padat tebar 1.000 ekor/m2. Dengan demikian pembudidaya mempunya banyak pilihan teknologi, dari tradisional sampai super intensif tergantung penguasaan teknologi, pengalaman dan modal finansial.

Sudah tersedia induk unggul yang telah dirilis pemerintah yaitu lele sangkuriang dan beberapa varietas yang belum dirilis.Mudah dibudidayakan, karena tidak memerlukan volume air yang besar dan tidak memerlukan kualitas air yang tinggi, tahan terhadap oksigen terlarut (DO) rendah.Dapat dibudidayakan oleh pembudidaya dengan berbagai tingkatan pengusaan teknologi  dari tradisional, semi intensif, intensif,sampai super intensif (padat tebar 100–1.000 ekor/m2).Waktu budidaya relatif singkat, lebih singkat dari ikan lain 2-3 bulan tergantung ukuran benih dan ukuran ikan saat panen.Responsif terhadap teknologi, sehingga “selalu dapat ditingkatkan” teknologinya “the sky is the limit”.Lele dumbo mudah diangkut dalam keadaan hidup, disamping tidak memerlukan air yang banyak juga dapat bertahan hidup dalam waktu yang relatif lama.Lele dumbo dapat dijadikan bahan baku industri pengolahan, karena semua bagian tubuh dapat digunakan baik daging, kulit, sirip, maupun tulangnya.Kandungan gizi tinggi terutama protein serta harga relatif murah sehingga sangat tepat untuk mengatasi kekurangan gizi (malnutrisi) bagi masyarakat

Perlu sistem dan kegiatan promosi yang intensif dan masif baik secara terus menerus maupun periodik dengan materi, metode, dan berbagai media komunikasi dan  informasi oleh instansi terkait (dinas perikanan dan kelautan, pariwisata, Depdiknas, dinas kesehatan, perguruan tinggi, dan lainnya), bahkan secara mandiri oleh masyarakat pelaku usaha.

Perlu data base dan peta distribusi lokasi perbenihan, pembesaran, pengolahan, konsumen, dan pasar. Kemudian pengembangan sistem logistik dan pemasaran benih dan ikan konsumsi (hidup, segar, maupun olahan).

Dengan program dan kegiatan yang terencana serta  dilakukan secara baik dari tingkat nasional sampai tingkat daerah. Diharapkan hal ini akan dapat terlaksana untuk mencapai berbagai tujuan dan manfaat antara lain peningkatan produksi, produktivitas, kualitas, efisiensi, nilai tambah dan daya saing seperti prinsip yang digunakan KKP yaitu blue economydalam rangka mewujudkan pembangunan pro poor, pro job, pro growth dan pro environment.

Dengan 4.000 ton/ha/tahununtuk mengejar Cina yang total produksinya 53,91 juta ton, Indonesia 18,51 juta ton (FAO, 2014)  berarti hanya 35,4 juta ton atau setara dengan lahan budidaya 8.850 ha. Hal ini berarti hanya 268,2 ha/provinsi atau sekitar 20 ha/kabupaten/kota. Untuk kabinet mendatang yang sangat peduli dengan masyarakat tingkat bawah dan gencarnya program ketahanan pangan pengembangan budidaya lele dumbo secara luas berskala nasional dapat dijadikan salah satu program unggulan.

Protozoa

Protozoa secara umum dapat dijelaskan bahwa protozoa adalah berasal dari bahasa Yunani, yaitu protos artinya pertama dan zoon artinya hewan. Jadi,Protozoa adalah hewan pertama. Protozoa merupakan kelompok lain protista eukariotik. Kadang-kadang antara algae dan protozoa kurang jelas perbedaannya. Kebanyakan Protozoa hanya dapat dilihat di bawah mikroskop. Beberapa organisme mempunyai sifat antara algae dan protozoa. Sebagai contoh algae hijau Euglenophyta, selnya berflagela dan merupakan sel tunggal yang berklorofil, tetapi dapat mengalami kehilangan klorofil dan kemampuan untuk berfotosintesa. Semua spesies Euglenophyta yang mampu hidup pada nutrien komplek tanpa adanya cahaya, beberapa ilmuwan memasukkannya ke dalam filum protozoa. Contohnya strain mutan algae genus Chlamydomonas yang tidak berklorofil, dapat dimasukkan ke dalam kelas Protozoa genus Polytoma. Hal ini merupakan contoh bagaimana sulitnya membedakan dengan tegas antara algae dan protozoa. Protozoa dibedakan dari prokariot karena ukurannya yang lebih besar, dan selnya eukariotik. Protozoa dibedakan dari algae karena tidak berklorofil, dibedakan dari jamur karena dapat bergerak aktif dan tidak berdinding sel, serta dibedakan dari jamur lendir karena tidak dapat membentuk badan buah.

protozoans

Bentul Tubuh

Biasanya berkisar 10-50 µm, tetapi dapat tumbuh sampai 1 mm, dan mudah dilihat di bawah mikroskop. Mereka bergerak di sekitar dengan cambuk seperti ekor disebut flagela. Mereka sebelumnya jatuh di bawah keluarga Protista. Lebih dari 30.000 jenis telah ditemukan. Protozoa terdapat di seluruh lingkungan berair dan tanah, menduduki berbagai tingkat trophic. Tubuh protozoa amat sederhana, yaitu terdiri dari satu sel tunggal (unisel). Namun, Protozoa merupakan system yang serba bisa. Semua tugas tubuh dapat dilakukan oleh satu sel saja tanpa mengalami tumpang tindih. Ukuaran tubuhnya antaran 3-1000 mikron.Bentuk tubuh macam-macam ada yang seperti bola, bulat memanjang, atau seperti sandal bahkan ada yang bentuknya tidak menentu. Juga ada memiliki fligel atau bersilia.

Habitat

Protozoa hidup di air atau setidaknya di tempat yang basah. Mereka umumnya hidup bebas dan terdapat di lautan, lingkungan air tawar, atau daratan. Beberapa spesies bersifat parasitik, hidup pada organisme inang. Inang protozoa yang bersifat parasit dapat berupa organisme sederhana seperti algae, sampai vertebrata yang kompleks, termasuk manusia. Beberapa spesies dapat tumbuh di dalam tanah atau pada permukaan tumbuh-tumbuhan. Semua protozoa memerlukan kelembaban yang tinggi pada habitat apapun. Beberapa jenis protozoa laut merupakan bagian dari zooplankton. Protozoa laut yang lain hidup di dasar laut. Spesies yang hidup di air tawar dapat berada di danau, sungai, kolam, atau genangan air. Ada pula protozoa yang tidak bersifat parasit yang hidup di dalam usus termit atau di dalam rumen hewan ruminansia. Beberapa protozoa berbahaya bagi manusia karena mereka dapat menyebabkan penyakit serius. Protozoa yang lain membantu karena mereka memakan bakteri berbahaya dan menjadi makanan untuk ikan dan hewan lainnya. Protozoa hidup secara soliter atau bentuk koloni. Didalam ekosistem air protozoa merupakan zooplankton. Permukan tubuh Protozoa dibayangi oleh membransel yang tipis, elastis, permeable, yang tersusun dari bahan lipoprotein, sehingga bentuknya mudah berubah-ubah. Beberapa jenis protozoa memiliki rangka luar (cangkok) dari zat kersik dan kapur. Apabila kondisi lingkungan tempat tinggal tiba-tiba menjadi jelek, Protozoa membentuk kista. Dan menjadi aktif lagi. Organel yang terdapat di dalam sel antara lain nucleus, badan golgi, mikrokondria, plastida, dan vakluola. Nutrisi protozoa bermacam-macam. Ada yang holozoik (heterotrof), yaitu makanannya berupa organisme lainnya,. Ada pula yang holofilik (autotrof), yaitu dapat mensintesis makanannya sendiri dari zat organic dengan bantuan klorofit dan cahaya. Selain itu ada yang bersifat saprofitik, yaitu menggunakan sisa bahan organic dari organisme yang telah mati adapula yang bersifat parasitik. Apabila protozoa dibandingkan dengan tumbuhan unisel, terdapat banyak perbedaan tetapi ada persamaannya. Hal ini mungkin protozoa meriupakan bentuk peralihan dari bentuk sel tumbuhan ke bentuk sel hewan dalam perjalanan evolusinya.

Ciri-ciri

Protozoa adalah mikroorganisme menyerupai hewan yang merupakan salah satu filum dari Kingdom Protista. Seluruh kegiatan hidupnya dilakukan oleh sel itu sendiri dengan menggunakan organel-organel antara lain membran plasma, sitoplasma, dan mitokondria. Ciri-ciri umum :

–   Organisme uniseluler (bersel tunggal)
–   Eukariotik (memiliki membran nukleus)
–   Hidup soliter (sendiri) atau berkoloni (kelompok)
–   Umumnya tidak dapat membuat makanan sendiri (heterotrof)
–   Hidup bebas, saprofit atau parasit
–   Dapat membentuk kista untuk bertahan hidup
–   Alat gerak berupa pseudopodia, silia, atau flagela.

Ciri-ciri prozoa sebagai hewan adalah gerakannya yang aktif dengan silia atau flagen, memili membrane sel dari zat lipoprotein, dan bentuk tubuhnya ada yang bisa berubah-ubah. Adapun yang bercirikan sebagai tumbuhan adalah ada jenis protozoa yang hidup autotrof. Ada yang bisa berubah-ubah. Adapun yang mencirikan sebagai sebagai tumbuhan adalah ada jenis protozoa yang hidup autotrof. Perkembangbiakan bakteri dan amuba Perkembangbiakan amuba dan bakteri yang biasa dilakukan adalah dengan membela diri. Dalam kondisi yang sesuai mereka mengadakan pembelahan secara setiap 15 menit. Peristiwa ini dimulai dengan pembelahan inti sel atau bahan inti menjadi dua. Kemudian diikuti dengan pembelahan sitoplasmanya, menjadi dua yang masing-masing menyelubungi inti selnya. Selanjutnya bagian tengah sitoplasma menggenting diikuti dengan pemisahan sitoplasma. Akhirnya setelah sitoplasma telah benar-benar terpisah, maka terbentuknya dua sel baru yang masing-masing mempunyai inti baru dan sitoplasma yang baru pula. Pada amuba bila keadan kurang baik, misalnya udara terlalu dingin atau panas atau kurang makan, maka amuba akan membentuk kista. Didalam kista amuba dapat membelah menjadi amuba-amuba baru yang lebih kecil. Bila keadaan lingkungan telah baik kembali, maka dinding kista akan pecah dan amuba-amuba baru tadi dapat keluar. Selanjutnya amuba ini akan tumbuh setelah sampai pada ukuran tertentu dia akan membelah diri seperti semula.

Morfologi Protozoa

Semua protozoa mempunyai vakuola kontraktil. Vakuola dapat berperan sebagai pompa untuk mengeluarkan kelebihan air dari sel, atau untuk mengatur tekanan osmosis. Jumlah dan letak vakuola kontraktil berbeda pada setiap spesies. Protozoa dapat berada dalam bentuk vegetatif (trophozoite), atau bentuk istirahat yang disebut kista. Protozoa pada keadaan yang tidak menguntungkan dapat membentuk kista untuk mempertahankan hidupnya. Saat kista berada pada keadaan yang menguntungkan, maka akan berkecambah menjadi sel vegetatifnya. Protozoa tidak mempunyai dinding sel, dan tidak mengandung selulosa atau khitin seperti pada jamur dan algae. Kebanyakan protozoa mempunyai bentuk spesifik, yang ditandai dengan fleksibilitas ektoplasma yang ada dalam membran sel. Beberapa jenis protozoa seperti Foraminifera mempunyai kerangka luar sangat keras yang tersusun dari Si dan Ca. Beberapa protozoa seperti Difflugia, dapat mengikat partikel mineral untuk membentuk kerangka luar yang keras. Radiolarian dan Heliozoan dapat menghasilkan skeleton. Kerangka luar yang keras ini sering ditemukan dalam bentuk fosil. Kerangka luar Foraminifera tersusun dari CaO2 sehingga koloninya dalam waktu jutaan tahun dapat membentuk batuan kapur. Protozoa merupakan sel tunggal, yang dapat bergerak secara khas menggunakan pseudopodia (kaki palsu), flagela atau silia, namun ada yang tidak dapat bergerak aktif. Berdasarkan alat gerak yang dipunyai dan mekanisme gerakan inilah protozoa dikelompokkan ke dalam 4 kelas. Protozoa yang bergerak secara amoeboid dikelompokkan ke dalam Sarcodina, yang bergerak dengan flagela dimasukkan ke dalam Mastigophora, yang bergerak dengan silia dikelompokkan ke dalam Ciliophora, dan yang tidak dapat bergerak serat merupakan parasit hewan maupun manusia dikelompokkan ke dalam Sporozoa. Mulai tahun 1980, oleh Commitee on Systematics and Evolution of the Society of Protozoologist, mengklasifikasikan protozoa menjadi 7 kelas baru, yaitu Sarcomastigophora, Ciliophora, Acetospora, Apicomplexa, Microspora, Myxospora, dan Labyrinthomorpha. Pada klasifikasi yang baru ini, Sarcodina dan Mastigophora digabung menjadi satu kelompok Sarcomastigophora, dan Sporozoa karena anggotanya sangat beragam, maka dipecah menjadi lima kelas. Contoh protozoa yang termasuk Sarcomastigophora adalah genera Monosiga, Bodo, Leishmania, Trypanosoma, Giardia, Opalina, Amoeba, Entamoeba, dan Difflugia. Anggota kelompok Ciliophora antara lain genera Didinium, Tetrahymena, Paramaecium, dan Stentor. Contoh protozoa kelompok Acetospora adalah genera Paramyxa. Apicomplexa beranggotakan genera Eimeria, Toxoplasma, Babesia, Theileria. Genera Metchnikovella termasuk kelompok Microspora. Genera Myxidium dan Kudoa adalah contoh anggota kelompok Myxospora.

Fisiologi Protozoa

Protozoa umumnya bersifat aerobik nonfotosintetik, tetapi beberapa protozoa dapat hidup pada lingkung ananaerobik misalnya pada saluran pencernaan manusia atau hewan ruminansia. Protozoa aerobik mempunyai mitokondria yang mengandung enzim untuk metabolisme aerobik, dan untuk menghasilkan ATP melalui proses transfer elektron dan atom hidrogen ke oksigen. Protozoa umumnya mendapatkan makanan dengan memangsa organisme lain (bakteri) atau partikel organik, baik secara fagositosis maupun pinositosis. Protozoa yang hidup di lingkungan air, maka oksideng dan air maupun molekul-molekul kecil dapat berdifusi melalui membran sel. Senyawa makromolekul yang tidak dapat berdifusi melalui membran, dapat masuk sel secara pinositosis. Tetesan cairan masuk melalui saluran pada membran sel, saat saluran penuh kemudian masuk ke dalam membrane yang berikatan denga vakuola. Vakuola kecil terbentuk, kemudian dibawa ke bagian dalam sel, selanjutnya molekul dalam vakuola dipindahkan ke sitoplasma. Partikel makanan yang lebih besar dimakan secara fagositosis oleh sel yang bersifat amoeboid dan anggota lain dari kelompok Sarcodina. Partikel dikelilingi oleh bagian membran sel yang fleksibel untuk ditangkap kemudian dimasukkan ke dalam sel oleh vakuola besar (vakuola makanan). Ukuran vakuola mengecil kemudian mengalami pengasaman. Lisosom memberikan enzim ke dalam vakuola makanan tersebut untuk mencernakan makanan, kemudian vakuola membesar kembali. Hasil pencernaan makanan didispersikan ke dalam sitoplasma secara pinositosis, dan sisa yang tidak tercerna dikeluarkan dari sel. Cara inilah yang digunakan protozoa untuk memangsa bakteri. Pada kelompok Ciliata, ada organ mirip mulut di permukaan sel yang disebut sitosom. Sitosom dapat digunakan menangkap makanan dengan dibantu silia. Setelah makanan masuk ke dalam vakuola makanan kemudian dicernakan, sisanya dikeluarkan dari sel melalui sitopig yang terletak disamping sitosom.

Adaptasi

Sebagai predator, mereka memangsa uniseluler atau berserabut ganggang, bakteri, dan microfungi. Protozoa memainkan peran baik sebagai herbivora dan konsumen di decomposer link dari rantai makanan. Protozoa juga memainkan peranan penting dalam mengendalikan populasi bakteri dan biomas. Protozoa dapat menyerap makanan melalui membran sel mereka, beberapa, misalnya amoebas, mengelilingi dan menelan makanan itu, dan yang lain lagi memiliki bukaan atau “mulut pori-pori” ke mana mereka menyapu makanan. Semua protozoa yang mencerna makanan di perut mereka seperti kompartemen disebut vakuola.

Sebagai komponen dari mikro-dan meiofauna, protozoa merupakan sumber makanan penting bagi microinvertebrates. Dengan demikian, peran ekologis protozoa dalam transfer bakteri dan ganggang produksi ke tingkat trophic berurutan adalah penting. Protozoa seperti parasit malaria (Plasmodium spp.), Dan Leishmania trypanosomes juga penting sebagai parasit dan symbionts dari hewan multisel.

Beberapa protozoa memiliki tahap kehidupan bolak-balik antara tahap proliferatif (misalnya trophozoites) dan kista aktif. Seperti kista, protozoa dapat bertahan hidup kondisi yang sulit, seperti terpapar ke suhu yang ekstrem dan bahan kimia berbahaya, atau waktu lama tanpa akses terhadap nutrisi, air, atau oksigen untuk jangka waktu tertentu. Menjadi spesies parasit kista memungkinkan untuk bertahan hidup di luar tuan rumah, dan memungkinkan mereka transmisi dari satu host ke yang lain. Ketika protozoa adalah dalam bentuk trophozoites (Yunani, tropho = untuk memberi makan), mereka secara aktif memberi makan dan tumbuh. Proses mana protozoa yang mengambil bentuk kista disebut encystation, sedangkan proses mentransformasikan kembali ke trophozoite disebut excystation.

Protozoa dapat mereproduksi dengan pembelahan biner atau beberapa fisi. Beberapa protozoa bereproduksi secara seksual, beberapa aseksual, sementara beberapa menggunakan kombinasi, (mis. Coccidia). Seorang individu protozoon adalah hermaphroditic.

Nama lain untuk protozoa adalah Acrita (R. Owen, 1861). Mereka dapat menyebabkan malaria atau disentri amuba.

Kelas Berdasarkan Alat Gerak

Protozoa dibagi menjadi 4 kelas berdasarkan alat gerak:

Rhizopoda (Sarcodina),alat geraknya berupa pseudopoda (kaki semu) Bergerak dengan kaki semu (pseudopodia)yang merupakan penjuluran protoplasma sel. Hidup di air tawar, air laut, tempat-tempat basah, dan sebagian ada yang hidup dalam tubuh hewan atau manusia.Jenis yang paling mudah diamati adalah Amoeba.Ektoamoeba adalah jenis Amoeba yang hidup di luar tubuh organisme lain (hidup bebas), contohnya Ameoba proteus, Foraminifera, Arcella, Radiolaria.Entamoeba adalah jenis Amoeba yang hidup di dalam tubuh organisme, contohnya Entamoeba histolityca, Entamoeba coli.

–    Amoeba proteus memiliki dua jenis vakuola yaitu vakuola makanan dan vakuola kontraktil.
–    Entamoeba histolityca menyebabkan disentri amuba (bedakan dengan disentri basiler yang disebabkan Shigella dysentriae)
–    Entamoeba gingivalis menyebabkan pembusukan makanan di dalam mulut radang gusi (Gingivitis)
–    Foraminifera sp. fosilnya dapat dipergunakan sebagai petunjuk adanya minyak bumi. Tanah yang mengandung fosil fotaminifera disebut tanah globigerina.
–    Radiolaria sp. endapan tanah yang mengandung hewan tersebut digunakan untuk bahan penggosok.

Flagellata (Mastigophora),alat geraknya berupa flagel (bulu cambuk).Bergerak dengan flagel (bulu cambuk) yang digunakan juga sebagai alat indera dan alat bantu untuk menangkap makanan.Dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :

Fitoflagellata Flagellata autotrofik (berkloroplas), dapat berfotosintesis. Contohnya : Euglena viridis, Noctiluca milliaris, Volvox globator.Zooflagellata.

Flagellata heterotrofik (Tidak berkloroplas).Contohnya : Trypanosoma gambiens, Leishmania Dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:

Golongan phytonagellata

– Euglena viridis (makhluk hidup peralihah antara protozoadengan ganggang) – Volvax globator (makhluh hidup peralihah antara protozoa dengan ganggang) – Noctiluca millaris (hidup di laut dan dapat mengeluarkan cahaya bila terkena rangsangan mekanik)

Golongan Zooflagellata, contohnya :

– Trypanosoma gambiense & Trypanosoma rhodesiense. Menyebabkan penyakit tidur di Afrika dengan vektor (pembawa) Þ lalat Tsetse (Glossina sp.) Trypanosoma gambiense vektornya Glossina palpalis Þ tsetse sungai Trypanosoma rhodeslense vektornya Glossina morsitans Þ tsetse semak – Trypanosoma cruzl Þ penyakit chagas – Trypanosoma evansi Þ penyakit surra, pada hewan ternak(sapi). – Leishmaniadonovani Þ penyakit kalanzar – Trichomonas vaginalis Þ penyakit keputihan

Ciliata (Ciliophora),alat gerak berupa silia (rambut getar). Anggota Ciliata ditandai dengan adanya silia (bulu getar) pada suatu fase hidupnya, yang digunakan sebagai alat gerak dan mencari makanan. Ukuran silia lebih pendek dari flagel.Memiliki 2 inti sel (nukleus), yaitu makronukleus (inti besar) yang mengendalikan fungsi hidup sehari-hari dengan cara mensisntesis RNA, juga penting untuk reproduksi aseksual, dan mikronukleus (inti kecil) yang dipertukarkan pada saat konjugasi untuk proses reproduksi seksual. Ditemukan vakuola kontraktil yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan air dalam tubuhnya. Banyak ditemukan hidup di laut maupun di air tawar. Contoh : Paramaecium caudatum, Stentor, Didinium, Vorticella, Balantidium coli.

Paramaecium caudatum Þ disebut binatang sandal, yang memiliki dua jenis vakuola yaitu vakuola makanan dan vakuola kontraktil yang berfungsi untuk mengatur kesetimbangan tekanan osmosis (osmoregulator).

Memiliki dua jenis inti Þ Makronukleus dan Mikronukleus (inti reproduktif). Cara reproduksi, aseksual Þ membelah diri, seksual Þ konyugasi.

Balantidium coli Þ menyebabkan penyakit diare.

Sporozoa,adalah protozoa yang tidak memiliki alat gerak. Cara bergerak hewan ini dengan cara mengubah kedudukan tubuhnya. Pembiakan secara vegetatif (aseksual) disebut juga Skizogoni dan secara generatif (seksual) disebut Sporogoni.Marga yang berhubungan dengan kesehatan manusia Þ Toxopinsma dan Plasmodium.. Tidak memiliki alat gerak khusus, menghasilkan spora (sporozoid) sebagai cara perkembang biakannya. Sporozoid memiliki organel-organel kompleks pada salah satu ujung (apex) selnya yang dikhususkan untuk menembus sel dan jaringan inang.Hidupnya parasit pada manusia dan hewan.Contoh : Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae,Plasmodium vivax. Gregarina.

Jenis-jenisnya antara lain:

–    Plasmodiumfalciparum Þ malaria tropika Þ sporulasi tiap hari
–    Plasmodium vivax Þ malaria tertiana Þ sporulasi tiap hari ke-3(48 jam)
–    Plasmodium malariae Þ malaria knartana Þ sporulasi tiap hari ke-4 (72 jam)
–    Plasmodiumovale Þ malaria ovale.

 

Sumber: http://id.wikipedia.org

Pantogen

Patogen (Bahasa Yunani: “penyebab penderitaan”) adalah agen biologis yang menyebabkan penyakit pada inangnya.[1] Sebutan lain dari patogen adalah mikroorganisme parasit.[2] Umumnya istilah ini diberikan untuk agen yang mengacaukan fisiologi normal hewan atau tumbuhan multiselular. Namun, patogen dapat pula menginfeksi organisme uniselular dari semua kerajaan biologi.[1]
disease_venns
Umumnya, hanya organisme yang sangat patogen yang dapat menyebabkan penyakit, sementara sisanya jarang menimbulkan penyakit. Patogen oportunis adalah patogen yang jarang menyebabkan penyakit pada orang-orang yang memiliki imunokompetensi (immunocompetent) namun dapat menyebabkan penyakit/infeksi yang serius pada orang yang tidak memiliki imunokompetensi (immunocompromised).[1] Patogen oportunis ini umumnya adalah anggota dari flora normal pada tubuh.[1] Istilah oportunis sendiri merujuk kepada kemampuan dari suatu organisme untuk mengambil kesempatan yang diberikan oleh penurunan sistem pertahanan inang untuk menimbulkan penyakit.[1]

Pada umumnya semua patogen pernah berada di luar sel tubuh dengan rentang waktu tertentu (ekstraselular) saat mereka terpapar oleh mekanisme antibodi, namun saat patogen memasuki fase intraselular yang tidak terjangkau oleh antibodi, sel T akan memainkan perannya.[3]

Sel T adalah sel di dalam salah satu grup sel darah putih yang diketahui sebagai limfosit dan memainkan peran utama pada kekebalan selular. Sel T mampu membedakan jenis patogen dengan kemampuan berevolusi sepanjang waktu demi peningkatan kekebalan setiap kali tubuh terpapar patogen. Hal ini dimungkinkan karena sejumlah sel T teraktivasi menjadi sel T memori dengan kemampuan untuk berkembangbiak dengan cepat untuk melawan infeksi yang mungkin terulang kembali. Kemampuan sel T untuk mengingat infeksi tertentu dan sistematika perlawanannya, dieksploitasi sepanjang proses vaksinasi, yang dipelajari pada sistem kekebalan tiruan.

Virulensi

Virulensi adalah derajat tingkat patogenitas yang diukur oleh banyaknya organisme yang diperlukan untuk menimbulkan penyakit pada jangka waktu tertentu.[4][2] Virulensi berkaitan erat dengan infeksi dan penyakit: infeksi merujuk pada suatu situasi di mana suatu mikroorganisme telah menetap dan tumbuh pada suatu inang, dalam hal ini mikrorganisme tersebut dapat melukai atau tidak melukai inangnya; sementara penyakit adalah kerusakan atau cedera pada inang yang mengganggu fungsi tubuh inang. [2] Sebagai contoh, dosis letal 50%/ 50%lethal dose (LD50) adalah jumlah organisme yang diperlukan untuk membunuh setengah dari jumlah inang yang diserang.[4] Sementara dosis infeksius 50%/ 50%infectious dose (ID50) adalah jumlah organisme patogen yang dibutuhkan untuk menginfeksi 50% dari total inang yang diserang. ID50 dari tiap organisme berbeda-beda, sebagai contoh, Shigella memiliki ID50 kurang dari 100 organisme sementara Salmonella memiliki ID50 sekitar 100.000 organisme.[4] Dosis infeksius dari suatu organisme tergantung dari faktor virulensi mereka.[4]
Faktor Virulensi Bakteri

Transmisibilitas: Tahap pertama dari proses infeksi adalah masuknya mikroorganisme ke dalam inang melalui satu atau beberapa jalur: pernapasan, pencernaan (gastrointestinal), urogenitalia, atau kulit yang telah terluka. setelah masuk, patogen harus melalui brmacam-macam sistem pertahanan tubuh sebelum dapat hidup dan berkembangbiak di dalam inangnya.[4] Contoh sistem pertahanan inang meliputi kondisi asam pada perut dan saluran urogenitalia, fagositosis oleh sel darah putih, dan bermacam-macam enzim hidroitik dan proteolitik yang dapat ditemukan di kelenjar saliva, perut, dan usus halus.[4] Bakteri yang memiliki kapsul polisakarida di bagian luarnya seperti Streptococcus pneumoniae dan Neisseria meningitidis memiliki kesempatan lebih besar untuk bertahan hidup.[4]
Pelekatan: Beberapa bakteri seperti Escherichia coli menggunakan en:pili untuk melekat pada permukaan sel inang mereka.[4] Bakteri lain memilki molekul adhesi/pelekatan pada permukaan sel mereka atau dinding sel yang hidrofobik seingga mereka dapat menempel pada membran sel inang.[4] Pelekatan meningkatkan virulensi dengan cara mencegah bakteri terbawa oleh mukus atau organ karena aliran cairan seperti pada saluran urin dan pencernaan.[4]
Kemampuan invasif: bakteri invasif adalah bakteri yang dapat masuk ke dalam sel inang atau menembus permukaan kelenjar mukus sehingga menyebar dari titik awal infeksi.[4] Kemampuan invasif didukung oleh adanya enzim yang mendegradasi matriks ektraseluler seperti kolagenase.[4]
Toksin bakteri: Beberapa bakteri memproduksi toksin atau racun yang dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu: endotoksin dan eksotoksin.[4] Eksotoksin adalh protein yang disekresikan oleh bakteri gram positif dan gram negatif. Di sisi lain, endotoksin adalah lipopolisakarida yang tidak disekresikan melainkan terdapat pada dinding sel bakteri gram negatif.[4]

 

Rujukan:

1 ^ a b c d e Warren Levinson. 2008. Review of Medical Microbiology & Immunology, Tenth Edition. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc
2 ^ a b c d Madigan MT, Martinko JM, Brock TD. 2006. Brock Biology of Microorgnisms. New Jersey: Pearson Prentice Hall.
3 ^ (Inggris)”Figure 10.4. Pathogens found in various compartments of the body”. Charles A. Janeway, et al. Diakses 2010-03-17.
4 ^ a b c d e f g h i j k l m n Harvey RA, Champe PC, Fisher BD, Strohl WA. 2007. Microbiology. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkin

Sumber: id.wikipedia.org