Archive for March, 2015

ETIKA BUDIDAYA PERAIRAN

Panduan Pembudidaya Pemula

(Sukses Budidaya Perikanan dalam Kolam Nurani dan Ilmu)

Oleh: Agus Chandra, S.Pi

(Pengurus FORKOMNAS P2MKP)

do_fish_feel_pain1

PENDAHULUAN

Seiring dengan program pemerintah untuk meningkatkan jumlah penggiat usaha dibidang perikanan di Indonesia, maka muncul ribuan wirausaha baru bidang perikanan, khususnya dibidang Perikanan budidaya. Masyarakat yang sebelumnya berprofesi bukan “tukang ikan”, setelah berlatih beberapa  hari  di P2MKP (Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan) yaitu lembaga pelatihan yang dimiliki dan dikelola oleh para pelaku usaha yang mau berbagi pengetahuan dan ketrampilan dalam usaha dibidang perikanan, Peserta pelatihan menjelma menjadi “wirausahawan baru sebagai pembudidaya”.  Ada  yang tidak berhasil  dan kembali pada profesi semula atau tetap menganggur setelah mengikuti pelatihan, namun tidak sedikit yang berhasil dan sukses dengan menerapkan hasil pelatihan telah   meningkatkan produksi usahanya, menambah karyawan atau banyak yang  mulai merintis usaha dibidang budidaya yang sebelumnya tidak pernah terpikir untuk menjadi seorang wirausaha dibidang perikanan.

Perikanan Indonesia ini akan maju pesat melalui program pelatihan di P2MKP, Pembudidaya memang adalah ujung tombak perikanan budidaya, untuk itu tumbuhnya pembudidaya baru yang handal sangat diharapkan.

 Kegiatan budidaya khususnya dibidang perikanan merupakan kegiatan usaha yang sangat  komplek masalah. Menurut penulis, masalah terbesar wirausahawan dibidang budidaya perikanan bukan hanya terletak pada ketersediaan lahan,  dana (modal) dan ilmu saja, namun jauh lebih penting adalah pada kesiapan mental dan spritual  pelaku/ pembudidaya itu sendiri. Tak terhitung berapa banyak pembudidaya ikan tergolong besar di negeri ini yang tutup kolam dan gulung terpal, padahal sudah mengeluarkan banyak modal dan tingkat pengetahuan (ilmu) tentang teknik budidaya cukup mumpuni.  Namun sebaliknya, tidak sedikit pembudidaya kecil dipelosok negeri yang tetap eksis dan tetap tersenyum ketika harga pakan pabrikan melonjak naik. Kenapa bisa begini? Hasil pengamatan dan diskusi dengan beberapa pembudidaya dilapangan, dapat disimpulkan bahwa  pembudidaya kecil nan eksis tadi sudah menjalankan usaha budidaya ikan dengan menggabungkan antara Hati, Nurani dan ilmu serta keuletan yang tinggi.

Apakah pembudidaya seperti diatas bisa dilahirkan atau ditumbuhkan? Bukan suatu yang mustahil. Salah satu upayanya adalah disamping memberikan  ilmu tentang teknik budidaya yang tepat, peserta latih (pembudidaya) harus dibekali dengan pengetahuan dasar atau konsep berpikir yang dalam mengarah pada spiritualitas tentang usaha yang dikelola.

Berdasarkan studi pustaka, pengalaman dilapangan, diskusi dan berbagi pengetahuan  dengan beberapa pembudidaya yang berhasil serta peneliti dan perekayasa perikanan budidaya, akhirnya penulis dapat menuangkan tulisan dalam artikel berjudul “Etika budidaya ikan” yang kiranya dapat menjadi bahan pembelajaran bagi pembudidaya pemula.

Panduan ini disajikan dalam bahasa yang sederhana, mudah dipahami dengan harapan dapat mengurangi kegagalan-kegagalan dalam usaha yang baru mulai dijalani oleh para pembaca. Artikel ini masih jauh dari sempurna, kritik dan saran pembaca sangat penulis harapkan.

 

Tujuan

  1. Pembudidaya baru tidak mengalami kegagalan serupa yang pernah dialami oleh para pembudidaya sebelumnya.
  2. Pembudidaya dapat memahami karakteristik lingkungan dan potensi yang dapat dikembangkan.
  3. Mengajak pembudidaya perairan untuk kreatif berpikir dan berkarya
  4. Membentuk mental dan spiritual pembudidaya yang tangguh

URAIAN

Etika berasal dari bahasa yunani yaitu “Ethos” yang berarti adat istiadat atau kebiasaan. Ada tiga teori mengenai pengertian etika, yaitu: etika Deontologi, etika Teologi, dan etika Keutamaan. Etika Deontologi adalah suatu tindakan di nilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. Etika Teologi adalah baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan atau akibat suatu tindakan. Sedangkan Etika keutamaan adalah mengutamakan pengembangan karakter moral pada diri setiap orang

 Apa itu BUDIDAYA?

Kata budidaya dalam beberapa literatur diterjemahkan berbeda-beda, namun mengandung makna yang hampir sama yaitu: Usaha yang bermanfaat dan memberikan hasil, dengan menggunakan suatu sistem untuk memproduksi dibawah kondisi buatan.

Budidaya perikanan umumnya disebut budidaya perairan atau akuakultur, mengingat organisme air yang dibudidayakan bukan hanya dari jenis ikan saja, tetapi organisme air lainnya seperti kerang-kerangan (Bivalve), udang (Crustacea) dan tumbuhan air (Hidrophytic). Istilah akuakultur diambil dari bahasa Inggris yaitu aquaculture.

Menurut Bardach dkk., Akuakultur merupakan upaya produksi biota atau organisme perairan melalui penerapan teknik domestikasi (membuat kondisi lingkungan yang mirip dengan habitat asli organisme yang dibudidayakan),  penumbuhan hingga pengelolaan usaha yang berorientasi ekonomi. Namun terlepas dari arti budidaya yang sudah ada, mari kita mencoba kaji lebih dalam makna BUDIDAYA. Bila kata budidaya dipenggal (BUDI –  DAYA) maka akan didapat dua kata mengandung makna yang masing-masing berdiri sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, BUDI adalah alat batin yg merupakan paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk. Sedangkan DAYA adalah kemampuan melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak. Kalau digabungkan makna dari dua kata tersebut, berarti BUDIDAYA adalah Paduan Akal dan Perasaan (naluri) serta tenaga untuk menciptakan suatu kegiatan yang bermanfaat/menguntungkan.

Menyikapi makna Budidaya diatas berarti seorang pembudidaya disamping memiliki bekal ilmu dan pengetahuan tentang teknik budidaya yang baik juga harus membekali diri dengan perasaan dan naluri yang baik pula.

Dengan naluri yang baik pembudidaya diharapkan dapat kreatif mengatasi masalah di lapangan, diantaranya kreatif mengatasi masalah pakan, penanggulangan penyakit, pemilihan induk dan bibit yang baik (unggul), menentukan jadwal panen dan sampai kepada yang paling utama manajemen kualitas air.

Untuk mengasah ketajaman naluri pembudidaya dapat melalui tuntunan dengan metode mengenal lebih dekat tentang Air sebagai media utama dan biota yang dibudidayakan, dengan kata lain pembudidaya harus “bersatu” dengan air dan organisme yang dipeliharanya. Upaya untuk menimbulkan naluri budidaya yang baik dapat melalui jalan yang akan dijabarkan dibawah ini.

Air adalah Mahluk Hidup?

Profesor Masaru Emoto, seorang peneliti dari Hado Institute di Tokyo, Jepang pada tahun 2003 melalui penelitiannya mengungkapkan suatu keanehan pada sifat air. Melalui pengamatannya terhadap lebih dari dua ribu contoh foto kristal air yang dikumpulkannya dari berbagai penjuru dunia, Emoto menemukan bahwa partikel molekul air ternyata bisa berubah-ubah tergantung perasaan manusia disekelilingnya, yang secara tidak langsung mengisyaratkan pengaruh perasaan terhadap klasterisasi molekul air yang terbentuk oleh adanya ikatan hidrogen.

Dr. Emoto berkeliling dunia melakukan percobaan dengan air di Swiss, Berlin, Prancis, Palestina, dan ia kemudian diundang ke Markas Besar PBB di New York untuk mempresentasikan temuannya pada bulan Maret 2005. Ternyata air bisa “mendengar” kata-kata, bisa “membaca” tulisan, dan bisa “mengerti” pesan. Dalam bukunya The Hidden Message in Water, Dr. Masaru Emoto menguraikan bahwa air bersifat bisa merekam pesan, seperti pita magnetik atau compact disk. Emoto juga menemukan bahwa partikel kristal air terlihat menjadi “indah” dan “mengagumkan” apabila mendapat reaksi positif disekitarnya, misalnya dengan kegembiraan dan kebahagiaan.

Namun partikel kristal air terlihat menjadi “buruk” dan “tidak sedap dipandang mata” apabila mendapat efek negatif disekitarnya, seperti kesedihan dan bencana. Lebih dari dua ribu buah foto kristal air terdapat didalam buku Message from Water (Pesan dari Air) yang dipajangnya sebagai pembuktian kesimpulannya, sehingga hal ini berpeluang menjadi suatu terobosan dalam meyakini kebesaran keajaiban alam. Emoto menyimpulkan bahwa partikel air dapat dipengaruhi oleh suara musik, doa-doa dan kata-kata yang ditulis dan dicelupkan kedalam air tersebut.

Dr. Masaru Emoto memang tidak secara langsung menyebutkan bahwa air adalah mahkluk atau benda hidup, namun paling tidak pesan yang diungkap Emoto menggambarkan bahwa air adalah benda atau mahluk hidup yang membutuhkan perlakukan atau adab khusus. Sebenarnya secara tidak langsung pula Emoto telah mengungkapkan kebenaran  keterangan dalam Al-Quran : “……Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup” (Q.S. Al Anbiya:30)

 Berkaitan dengan budidaya, informasi tentang air ini jelas sangat penting untuk diketahui dan dipahami oleh pembudidaya. Seorang pembudidaya harus benar-benar bisa “bersatu” dengan air sebagai media usahanya. Air mempunyai “hak” untuk menerima atau tidak biota (ikan) dimasukkan dalam “dirinya”. Maka dari itu pembudidaya harus memperlakukan air dengan benar sesuai dengan kaidah budidaya yang baik (menjaga kualitas air), dan juga yang tak kalah penting “meminta izin” dan “berharaplah” terhadap air dengan baik, berdoa menurut Agama dan kepercayaan masing-masing setiap melakukan aktifitas di air/kolam.

Sebagai ilustrasi, beberapa kali penulis bertandang kebeberapa pesantren yang kebetulan ada kolam ikan, terutama di Jawa Barat. Bila diperhatikan ikan yang dipelihara di kolam-kolam tersebut tumbuh relatif cepat, sehat dan berkembang dengan baik walau tidak dipelihara secara intensif. Bila ditanya pada pimpinan pesantren atau pengelola kolam tersebut ikannya dikasih pakan apa? Pasti mereka akan menjawab dikasih “seaya-aya” atau “seadanya” (bahasa Sunda), padahal sepanjang sepengetahuan penulis, belum pernah ada pellet bermerk “seaya-aya”. Kenapa ini bisa terjadi?  Bisa jadi salah satu faktornya karena ditempat tersebut tak henti dibacakan ayat Suci, Shalawat dan Doa, sehingga berpengaruh pada kenyamanan air yang selanjutnya dapat memberikan dampak positif terhadap makhluk yang ada didalamnya.

 Bersatu dengan Ikan

Pepatah mengatakan semakin banyak yang kita tahu maka akan semakin banyak pula yang kita tidak tahu. Kita mengenal banyak sekali jenis ikan, bilamana seseorang menyebut ikan lele misalnya, maka yang ada dibenak kita terbayang seekor ikan berbentuk panjang agak bulat pipih, mempunyai kumis dan bertubuh licin tanpa sisik. Namun berapa banyak diantara kita yang tahu sejarah, cara bertahan hidup dan berkembang biak, makanan asli dan lain sebagainya dari lele tersebut? Padahal info dasar tentang biota yang akan dipelihara ini merupakan modal utama demi suksesnya budidaya. Pembudidaya harus paham betul dengan sifat dan karakteristik mahluk/ biota yang sudah menjadi tanggung jawabnya untuk memelihara dan mengasuh demi mendapatkan hasil yang diharapkan.

Beberapa faktor yang harus diketahui pembudidaya sebagai upaya mempersatukan diri terhadap organisme yang dibudidayakan;

  1. Karakteristik dan Tingkah laku

Sebagian besar ikan yang saat ini dibudidayakan di Indonesia adalah ikan introduksi (bukan asli Indonesia), yang sudah beradaptasi (menyesuaikan diri) dengan perairan Indonesia sesuai dengan sifat dan kebutuhan hidupnya. Beberapa jenis ikan introduksi diantaranya Lele Dumbo (Clarias sp.), Nila (Oreochromis sp.), dan Mas (Cyprinus carpio).

Masing-masing jenis ikan berasal dan membutuhkan perairan yang berbeda, hal ini sesuai dengan daya dukung organ ikan tersebut. Pembudidaya diharapkan mendapatkan info pasti tentang habitat atau cara hidup dilingkungan aslinya, hal ini berkaitan dengan karakteristik dan tingkah laku yang menentukan manipulasi lingkungan yang akan dilakukan. Sebagai contoh, lele di habitat aslinya hidup diperairan yang keruh/berlumpur, artinya lele tidak/kurang cocok dipelihara di air yang bening, begitu sebaliknya dengan ikan Mas yang tidak cocok di air yang keruh/berlumpur.

Sifat dan tingkah laku lainnya, ada ikan yang aktif dimalam hari dan ada yang siang hari. Tingkah laku waktu aktifitas ikan tersebut tentu berpengaruh pada pola makan. Ikan yang aktif dimalam hari mencari atau membutuhkan makan lebih banyak di malam hari. Dengan demikian pembudidaya harus lebih banyak memberi makan pada malam hari, begitu juga sebaliknya.

Tak sedikit pembudidaya pemula mengalami kegagalan menjalankan usahanya gara-gara tidak memahami karakter ikan yang dibudidayakan. Pembudidaya yang berhasil umumnya sudah sangat mengenal tingkah laku biota/ ikan yang dipeliharanya, dengan kata lain jiwanya seakan sudah “menyatu” dengan ikan tersebut. Apabila rasa bersatu itu sudah didapat, maka lambat laun pembudidaya sudah bisa mengatasi permasalahan yang ada pada biota yang dipeliharanya, misalnya soal penyakit dan obatnya, pakan “kesukaan” si ikan dan lain sebagainya termasuk tingkah laku ikan ketika ingin memijah.

Contoh, pembudidaya ikan gurame yang cukup terkenal dan berhasil salah satunya H. Suryadi yang juga pengelola P2MKP di Bogor. Beliau sudah berpuluh tahun menggeluti usaha budidaya ikan gurame. Menurut penuturannya, pada awal memulai usaha dirinya hampir tiap waktu “bergaul” dan mengamati tingkah pola gurame, sampai Suryadi  sangat hapal apa maunya ikan pilihan budidayanya itu. “Kalau mau pelihara ikan atau binatang lainnya lebih bagus dimulai dari hobi, harus ditumbuhkan rasa sayang dan cinta kepada apa yang kita pelihara, artinya seorang pembudidaya harus  memulai dari sini,” kata Suryadi sambil menunjuk dada sebelah kirinya.

Hal senada dijelaskan oleh salah seorang peneliti senior Perikanan Budidaya di Badan Penelitian dan Pengembangan Perikanan KKP, Sidi Asih. Peneliti yang kerap meneliti ikan endemik (ikan asli Indonesia) yang masih liar untuk dijadikan ikan budidaya ini, mengatakan bahwa selain penguasaan ilmu dan teknologi, kunci keberhasilan domestikasi dan budidaya adalah penggunaan naluri dan hati, berupa kasih sayang dan penuh perhatian yang terus-menerus atau dari generasi ke generasi berikutnya sepanjang waktu.

Lebih jauh Sidi Asih menjelaskan, pada prinsipnya biota budidaya harus diperlakukan sedemikian rupa sehingga tercipta suasana nyaman dan aman diluar habitat aslinya (eksitu). Salah satu contoh bentuk menciptakan rasa aman dan nyaman tersebut ketika akan memegang ikan, seorang pembudidaya harus terlebih dahulu mencelupkan tangan dalam air tempat ikan tersebut berada. Tujuan dari perlakuan ini untuk berusaha menyamakan suhu tangan terhadap suhu badan ikan, sehingga ikan tidak stress dan nyaman bila dipegang.

“Terlebih pada induk ikan yang siap pijah, pembudidaya harus menanam pemikiran bahwa didalam perut ikan tersebut terdapat ribuan telur yang sangat sensitif terhadap perlakuan yang kasar. Mulai dari cara menangkap, memegang, meletakkan, dan sebagainya harus menggunakan perasaan yang halus. Artinya kita harus sadar bahwa ikan adalah mahluk hidup yang peka sehingga kita harus menjadi pelindung sekaligus pengasuh,” jelas Sidi Asih, yang telah berhasil memijahkan ikan-ikan liar Indonesia diantaranya Ikan Tangadak, Kalabo dan Torsoro.

 

  1. Pakan dan Pola Makan

Semua mahkluk hidup sudah dijamin rizkinya oleh sang Pencipta, keterangan ini harus diyakini bahwa benar adanya. Bagaimana dalam konteks budidaya? Bukankah mahluk hidup tersebut dibatasi ruang gerak dalam mencari rizkinya,  “dikurung” dengan sengaja oleh manusia/ pembudidaya? Sudah menjadi resiko, Tentu pembudidaya harus ikut bertanggung jawab menyediakan makanan yang sesuai dengan keperluan ikan yang dipelihara.

Dalam memberi pakan yang tepat tentu harus kembali ke pengetahuan dan naluri dasar pembudidaya, sebab masing-masing jenis ikan memiliki sifat menentukan  makanan yang berbeda, terbagi dalam tiga golongan, yaitu herbivora (pemakan tumbuhan), karnivora (pemakan daging) dan omnivora (pemakan segala). Begitu juga dalam kategori pakan, ada makanan utama dan ada makanan bersifat pelengkap.

Seorang pembudidaya ikan yang sudah menggunakan naluri dalam budidaya tidak akan pernah panik ketika harga pakan pabrikan (pellet) merembet naik. Sebab pembudidaya tersebut sadar betul, jauh sebelum pellet ada, ikan sudah ada dimuka bumi ini, dan hidup normal serta berkembang dengan sangat baik di habitatnya. Disinilah daya pikir dan naluri pembudidaya harus diasah, mencoba menempatkan diri sendiri pada ikan yang dipelihara, “andaikan aku jadi lele, aku pilih pellet apa maggot atau keong?” atau ”andai aku jadi gurame, aku pilih pellet apa daun sente?”.

Dengan mengetahui sifat, pola dan jenis makanan yang dibutuhkan oleh ikan yang akan dipelihara, paling tidak sebelum pembudidaya bertanya pada ahli atau pedagang pakan tentang jenis makanan yang cocok buat ikannya, terlebih dahulu hendaknya mulailah belajar untuk ”bertanya” pada ikan itu sendiri, apa sesungguhnya makanan kesukaannya?.

Bila hal ini sudah diketahui, mulailah kreatif menciptakan pakan yang sesuai dengan keinginan ikan yang dipelihara, perhatikan lingkungan seputar kita, apa yang bisa menjadi sumber makanan ikan, karena pada prinsipnya alam sudah menyediakan makanan tersebut, lengkapi pengetahuan dengan menyaring banyak info, yang tentunya juga harus mempertimbangkan banyak aspek, terutama dampak dari terciptanya hasil kreatifitas tersebut, yaitu kesehatan terhadap ikan, air dan manusia yang mengkonsumsinya.

Saat ini sudah ada pembudidaya yang kreatif menciptakan pakan sendiri, ada yang sifatnya hanya menekan penggunaan pellet pabrikan bahkan ada yang sama sekali sudah tidak menggunakan pakan pabrikan. Beberapa instansi pemerintah dibawah kementerian Kelautan dan Perikanan dan Dinas Perikanan Propinsi dan Kabupaten juga gencar memberikan bantuan berupa mesin pakan dan ilmu cara meramu pakan dengan memanfaatkan sumber daya alam lokal. Dengan harapan upaya ini bisa menekan biaya produksi budidaya dan menaikkan pendapatan pembudidaya menuju kehidupan yang makmur.

Dalam pemberian pakan harus memperhatikan beberapa hal, yaitu:

  1. Tepat ukuran,
  2. Tepat Kandungan
  3. Tepat takaran,
  4. Tepat waktu
  5. Tepat cara penyajian.

Pengertian dari tepat cara penyajian yaitu bagaimana seorang pemberi pakan menciptakan suasana nyaman pada ikan ketika memberikan makanan, sehingga ikan merasa dekat, tanpa ada rasa takut bahkan sebaliknya menjadi jinak. Menurut Sidi Asih, ikan yang jinak memberikan kecenderungan efisiensi  pakan lebih baik, sehingga pertumbuhannya optimal, hal ini karena energi yang digunakan untuk memperoleh pakan tidak besar.

Sebaiknya sebelum dikasih pakan, ikan dibiasakan untuk berkumpul terlebih dahulu di area tempat pemberian pakan dengan cara pemberian kode, misalnya dengan menepuk air atau memberi nada tertentu. Metode seperti ini juga bermanfaat untuk menciptakan rasa adil pada ikan dalam memperoleh jatah pakannya, dengan kata lain pemerataan dengan harapan semua ikan mendapat asupan yang sama dan pada akhirnya ikan akan tumbuh seragam.

  1. Induk dan Benih Unggul

Salah satu faktor penentu keberhasilan dalam budidaya adalah pemakaian  induk dan benih unggul. Unggul adalah mempunyai sifat yang istimewa seperti laju pertumbuhan yang cepat, dan relatif tahan terhadap penyakit. Dalam sektor perbenihan keberadaan induk unggul sangat menentukan hasil, pembudidaya tentu berharap induk yang digunakan mengandung telur yang banyak dan berkualitas baik sehingga tingkat kelangsungan hidup (survival rate) benih  tinggi.

Dalam usaha pembesaran juga demikian, hendaknya seorang pembudidaya mengetahui sumber dan keunggulan benih sebelum dimasukkan dalam wadah pembesaran. Artinya pembudidaya harus membiasakan diri bertanya tentang asal usul benih, mengetahui dengan pasti “bapak-ibu” benih yang akan dibeli. Hal ini untuk menghindari benih yang didapatkan tersebut hasil inbreeding atau kawin sedarah. Karena benih inbreeding cenderung berpengaruh pada laju pertumbuhan  dan rentan terhadap penyakit. Untuk itu pembudidaya hendaknya mendapatkan benih dari sumber atau pembenih yang memang paham dan menjaga kualitas benih.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah bahwa keunggulan satu jenis atau varietas ikan tertentu akan lebih berpengaruh positif bila ditunjang oleh lingkungan yang sesuai. Ahli Genetik Ikan Institut Pertanian Bogor, Alimuddin, mengatakan saat ini belum ada satu jenis ikan yang cocok untuk semua daerah di Indonesia. Maka dari itu menyikapi banyaknya jenis lele yang sekarang beredar di masyarakat,  Alimuddin menganggapnya ini sebuah fenomena yang wajar, karena karakter alam setiap daerah di Indonesia berbeda-beda, sementara belum ada data atau bukti laporan yang menyebutkan satu varietas lele bagus dibudidayakan disemua lingkungan.

Bogor, Januari 2015

Sumber : ETIKA BUDIDAYA PERAIRAN

INVENDO – Mitra Budidaya Anda

ADE IRWAN INVENDO

HP/WA: 081297249463

PIN BBM : 5B23FAE2

Call Me

1. Artemia SUPRAME 425 gram harga hubungi 081297249463

Suprame

2. Artemia MACKAY 454 gram harga hubungi 081297249463

artemia mackay3. OVAPRIM 10 ml harga Rp. 200.000/botol

1-ovaprim4. CHORULON isi 5 pasang Rp. 450.000/set

Chorulon_tcm50-23024

5. PREGNYL 1.500iu isi 3 pasang Rp, 325.000/set

pregnyl-1500-250x2506. PREGNYL 5.000iu isi 1 pasang Rp. 250.000/set

buy_pregnyl_online_no_prescription_5000_1500_IU_HCG

7. ELBAYOU 50 gram Rp. 100.000

Elbayou

PRODUK KESEHATAN INVE UNTUK AKUAKULTUR

A. UNTUK LINGKUNGAN BUDIDAYA

1. SANOLIFE PRO W

SANOLIFE PRO W

SANOLIFE PRO W

Formulasi mikroba (bakteri) dengan performa tinggi untuk menekan keberadaan Vibrio di lingkungan dan mendekomposisikan bahan buangan. merupakan produk probiotik akuakultur yang unik dengan keistimewaan khusus untuk budi daya udang di tambak maupun ikan di kolam pembesaran lainnya. Keistimewaan strainnya dijaga pada tingkat kemurnian yang tinggi dengan spesialisasi untuk menekan bakteri-bakteri pathogen, mendekomposisikan kotoran dengan cepat. Dikemas dalam bentuk spora, praktis dan terjamin hingga 2 tahun.

Kandungan : Terdiri dari Strain-strain Bacillus subtilis dan Bacillus licheniformis dengan konsentrasi 5 x 1010 cfu/g

Penggunanan

Dosis 200 gram/Ha/3 hari. Campurkan Pro W dengan air kolam dalam wadah diamkan ± 15 menit dan tebarkan merata ke kolam

Kemasan : 500 gram/kaleng (6 kaleng/dus)

No. Registrasi DKP RI NO. I. 0606034 PBS

2. SANOCARE PUR

SANOCARE  PUR

SANOCARE PUR

Merupakan Disinfektan yang efektif untuk membunuh Pathogen (bakteri, virus dan jamur) di akuakultur. Aman untuk masa budidaya dan ramah lingkungan

Kandungan : Potassium peroxymonosulfate, Sulfamic acid, Malic acid, Sodium chloride, dan Sodium polymetaphosphate

Penggunaan

Dosis untuk kontrol rutin bakteri dan virus 0.5 ppm/15 hari, untuk kondisi bakteri tinggi 1 ppm diulang tiap hari sampai 2 hari. Pemakaian dilarutkan dalam wadah dan disebarkan merata ke kolam. Untuk persiapan kolam gunakan 1% larutan PUR (800 gram/80liter/Ha lahan) sebarkan ke dasar dan dinding kolam.

Kemasan : 800 gram/kaleng (6 kaleng/dus)

No. Registrasi DKP RI NO. I. 0511023 FTS

3. SANOLIFE AFM

SANOLIFE  AFM

SANOLIFE AFM

Merupakan extrak dari Yucca schidigera yang berfungsi untuk mengikat amoniak dan menurunkan nitrit

Penggunaan

Dosis untuk kontrol rutin 0.3 ppm/2 minggu, dan kondisi amoniak tinggi 0.3 ppm tiap hari selama 3 hari. Kocok dulu AFM sebelum digunakan, campurkan dengan air kolam 1:10 dan sebarkan merata ke dalam kolam

Kemasan : 1 liter/botol (9 botol/dus)

No. Registrasi DKP RI NO. I. 0512025 FBC

4. SANOLIFE NUTRILAKE

SANOLIFE  NUTRILAKE

SANOLIFE NUTRILAKE

Produk natural terbuat dari bahan-bahan mineral yang bisa digunakan untuk pemupukan sehingga meningkatkan produksi micro algae, suplly oksigen dan bio-regulator, mudah digunakan dan ramah lingkungan. Sumber nitrogen dan silicate untuk pertumbuhan algae dan tidak menimbulkan ammonia. Ramah lingkungan dan meningkatkan daya dukung lingkungan.

Selain untuk pemupukan sanolife Nutrilake adalah Oksidan yang kuat dan membantu kolam dalam menjaga konsentrasi oksigen terlarut di air, Oksidasi tanah kolam, memperbaiki dokomposisi bahan organik tanpa memproduksi bahan berbahaya, mengurangi beberapa komponen besi, Mangan dan H2S.

Penggunaan

Dapat diaplikasikan langsung disebarkan dalam bentuk powder atau dilarutkan dengan air kolam dan disebarkan merata

Untuk Oksidasi tanah kolam, gunakan 50Kg/Ha nutrilake sebarkan ke dasar kolam

Untuk pemupukan Dosis 35 kg/Ha

Kemasan : 10 kg/sak

B. UNTUK UDANG DAN IKAN

1. SANOLIFE PRO 2 Atau PRO F

Formulasi mikroba (bakteri) dengan performa tinggi untuk menekan keberadaan Vibrio di dalam saluran pencernaan dan memaksimalkan proses pencernaan udang untuk pertumbuhan dan menurunkan konversi pakan.

Kandungan

Terdiri dari Strain-strain Bacillus subtilis, Bacillus licheniformis, Bacillus pumilus dengan konsentrasi 2 x 1010 cfu/g

Penggunaan

Dosis 2 gram/kg pakan, dengan air bersih campurkan Sanolife Pro 2 dengan 100 ml/kg pakan, aduk secara merata diamkan beberapa saat ( biar meresap ke dalam pakan ) dan siap digunakan.

Kemasan : 500 gram/kaleng (6 kaleng/dus)

No. Registrasi DKP RI NO. I. 0606036 PBS

2. SANOGUARD TOP S

Terdiri dari bahan-bahan alami penambah kekebalan yang spesifik β-1,3/1,6-glucans, free nucleotida, alginate dan chitosan, termasuk sudah mengandung level tinggi vitamin B-komplek, C dan E, mineral selenium, carotenoid, asam amino dan beberapa trace element

Penggunaan

Dosis 5-10 gram/kg pakan, campurkan TOP S dengan minyak ikan/cumi dengan perbandingan 1:3 secara merata diamkan sekitar 30 menit (jauhkan dari panas matahari langsung). Pemakaian secara periodik digabung dengan TOP SC, tiap hari selama 1 minggu pakai TOP S dan 1 minggu berikutnya memakai TOP SC

Kemasan : 500 gram/kaleng (6 kaleng/dus)

No. Registrasi DKP RI NO. D. 0512027 PBS

3. SANOGUARD TOP SC

Suplemen dan multivitamin level tinggi, Vit C, E, B1,2,3,5,6, Choline, Inositol, Asam amino Lysine, Methionine, trace mineral, Carotenoids.

Pemakaian dikombinasikan dengan TOP S dengan dosis yang sama

Kemasan : 500 gram/kaleng (6 kaleng/dus)

No. registrasi DKP RI NO. D. 0512028 PBS

Untuk informasi lebih lanjut

Hub. PT. INVE INDONESIA

M. Nadjib .

Email mnadjib01@gmail.com ,

HP: 08111 76808

DPR Apresiasi Minapolitan Perikanan Budidaya

Neraca.co.id – Kamis, 26/02/2015

Banjar-Pengembangan kawasan minapolitan telah mendorong peningkatan produksi secara signifikan. Kawasan minapolitan berbasis perikanan budidaya yang merupakan konsepsi pembangunan ekonomi yang berbasis kawasan berdasarkan prinsip – prinsip terintegrasi, efisiensi, dan percepatan pembangunan, telah memunculkan kawasan perikanan budidaya yang baru dan mendukung perekonomian daerah.

“Minapolitan perikanan budidaya telah berhasil menjadi contoh daerah lain yang memiliki potensi serupa, sehingga memberikan dampak yang positif bagi daerah lainnya,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto, pada saat mendampingi Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI di Cindai Alus, Kab. Banjar, Kalimantan Selatan, kemarin.

Kabupaten Banjar salah satu sentra budidaya ikan Patin

Kabupaten Banjar salah satu sentra budidaya ikan Patin

Kabupaten Banjar merupakan salah satu kabupaten minapolitan berbasis perikanan budidaya dengan komoditas utama adalah patin. “Kawasan minapolitan perikanan budidaya di Kabupaten Banjar ini, mampu secara nyata mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Dalam satu hari mampu menghasilkan 35 – 40 ton patin untuk dipasarkan ke Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Disamping itu, kawasan minapolitan ini telah mampu menyerap tenaga kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya,” papar Slamet.

Pakan Mandiri

Gerakan Pakan Mandiri (GERPARI) yang telah dicanangkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan juga telah di terapkan di kawasan budidaya patin Cindai Alus. Pabrik pakan mandiri yang di kelola oleh Bapak Suhadi telah mampu memproduksi pakan patin setiap hari secara rutin. Menurut Pak Suhadi, produksi pakan mandiri yang dia kelola, mampu memproduksi 5 ton pakan setiap hari. “Pakan yang saya produksi ini belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pakan di wilayah Cindai Alus. Tetapi dengan Pakan Mandiri ini, kami bisa menurunkan biaya produksi karena harga pakan yang kita produksi harganya lebih murah di banding dengan pakan komersil tetapi kualitasnya tidak kalah dengan pakan pabrikan. Margin yang kita dapat dari budidaya menggunakan pakan mandiri juga meningkat sampai 30 %”, ungkap Suhadi.

FB Upload -Indukan - 1 small

Produksi patin dari kolam Pak Suhadi dengan ukuran 20 x 24 m2, benih 3 inch sebanyak 40 ribu ekor, lama waktu budidaya 7 – 8 bulan, dapat dihasilkan patin ukuran > 800 gr sebanyak 40 ton dengan harga saat ini Rp. 20.000,-/kg.

Data sementara produksi Patin di Propinsi Kalimantan Selatan pada 2014 adalah 25,5 ribu ton. Volume ini setara dengan 6,3 % produksi patin nasional yang mencapai 403 ribu ton. Target produksi patin nasional pada 2015 adalah 604,7 ribu ton dengan target kontribusi produksi dari Kalimantan Selatan sebesar 48,6 ribu ton.

Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, menambahkan bahwa program GERPARI adalah salah satu cara untuk mewujudkan Perikanan Budidaya yang Mandiri, berdaya Saing dan Berkelanjutan. “Dengan kemandirian dalam hal pakan, maka margin atau keuntungan pembudidaya akan meningkat dan kesejahteraannya pun akan meningkat. Melalui GERPARI akan di dorong untuk dibentuk Kelompok Pakan Mandiri yang terpisah dari Kelompok Pembudidaya. Kelompok Pakan Mandiri tugasnya adalah memproduksi pakan untuk di gunakan atau dijual ke pembudidaya. Pemerintah akan mensertifikasi pakan yang di produksi oleh Kelompok Pakan Mandiri ini sehingga kualitasnya terjaga. Ini sejakan dengan kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan, Ibu Susi Pudjiastuti, untuk menjadikan pembudidaya ini menjadi pengusaha UMKM bukan hanya buruh. Sehingga upaya ini harus di dukung dan didorong untuk diwujudkan,” jelas Slamet.

Ditambahkan pula bahwa melalui GERPARI maka minat pembudidaya untuk meningkatkan produksi ikannya menjadi lebih besar karena keuntungan yang dihasilkan akan meningkat. Ini sejalan dengan target produksi perikanan budidaya yang terus di tantang untuk meningkat setiap tahunnya.

Di tempat yang sama, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, mengatakan bahwa DPR cukup puas dengan keberhasilan pembudidaya patin di kawasan minapolitan perikanan budidaya yang berlokasi di Cindai Alus , Kab. Banjar ini.

“Produksi pakan mandiri terbukti mampu meningkatkan gairah pembudidaya untuk berbudidaya. Karena lebih menguntungkan dan terbukti menyerap tenaga kerja. Masyarakat sekitar lokasi budidaya juga lebih sejahtera. Lokasi ini dapat dijadikan contoh kawasan lain sehingga keberhasilan ini bisa di tularkan. DPR terus mendukung program pemerintah yang berpihak pada rakyat dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Titiek.

Sumber: http://www.Neraca.co.id

Benahi Kualitas dan Kuantitas Patin Lokal

Oleh: Sudiarso
Pemilik Pengolah Patin Fillet
CV Karunia Mitra MakmurKarawang

Pertumbuhan pengolahan patin lokal mulai bergairah ketika adanya momentum pelarangan impor patin Vietnam. Komoditas yang dulu dipandang sebelah mata ini, mulai dilirik untuk dikembangkan

Sajian Ikan Patin

Sajian Fillet Patin

Sejak adanya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen-KP) nomor 15/2011 yang berlaku padaJanuari 2012 lalu, impor produk olahan patin asal Vietnam diperketat. Kebijakan ini  membuat industri patin lokal semakin menggeliat. Demi memenuhi kebutuhan pasarnya, para penjual fillet (daging tanpa tulang) patin yang sebelumnya mengandalkan produk impor, kini beralih ke fillet patin yang berbahab baku dari lokal.

Permintaan industri pengolahan meningkat, namun pasokan yang sesuai keinginan pasar masih kurang. Masalahnya ada pada kualitas. Pertama, ukuran bahan baku (patin) untuk fillet. Sebagai contoh di Jawa Barat, para pembudidaya patin terbiasa memproduksi patin berukuran 500 gram per ekor. Sementara kebutuhan pengolahan fillet adalah ukuran 800 gram ke atas per ekornya.

Pelaku pengolahan fillet patin pun tak tinggal diam, harus turun langsung ke lapangan menyampaikan standar kebutuhan. Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar bahkan hingga bertahun-tahun untuk mensosialisasi dan menggerakkan pembudidaya untuk berproduksi sesuai standar pasar.

Harus diakui pula memproduksi ukuran yang dibutuhkan para pengolah fillet patin itu memang tidak mudah bagi pembudidaya. Sebab dibutuhkan tambahan waktu pemeliharaan, dari yang biasanya 6 bulan jadi 10 bulan, dan biaya pakan pun meningkat. Tapi kabar baiknya, kini sudah mulai banyak perusahaan pakan yang mau bekerjasama memberikan kredit pakan.

Kedua,performa patin lokal yang kalah bersaing dengan patin impor. Tak bisa dipungkiri, pasar fillet patin dalam negeri masih berpatokan pada kualitas dari fillet patin asal Negeri Paman Ho, terutama dalam hal warna, yaitu warna putih. Sebab yang pertama kali mengedukasi pasar dalam negeri dengan fillet patin adalah produk asal Vietnam.

Untuk merubah cara pandang konsumen pada fillet patin lokal yang memiliki karakteristik warna tersendiri adalah butuh waktu. Warna daging patin lokal cenderung kuning atau merah muda (pink). Sudah pernah di uji balai perikanan di Karawang, bahwa perbedaan warna daging patin lokal dipengaruhi oleh banyaknya jenis mikroorganisme yang hidup diperairan kolam.

Belum Optimal
Ikan patin merupakan salah satu ikan domestik yang sangat potensial dikembangkan secara massal di Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan sejak tahun 1980-an, dimulai dari penelitian sampai pengembangan industri hilir akhir-akhir ini. Namun demikian, ternyata potensi tersebut belum dapat diaktualisasikan sebagaimana diharapkan. Vietnam sebagai negara “patin” di dunia, telah semakin menguasai pasar dunia (termasuk Indonesia), padahal jejak Vietnam dalam industri patin tidak berbeda banyak dengan Indonesia.

Kendati telah ada pengolahan patin di tanah air tapi harus diakui  bahwa Vietnam masih menjuarai olahan patin di dunia. Industri patin disana hampir bisa dikatakan sebagai industri zero waste (tak ada limbah). Pasalnya, semua bagian patin bisa digunakan baik sebagai pakan ikan maupun pangan olahan.

Sementara di Indonesia belum mengolah limbahnya secara optimal. Secara komersial baru mengolah fillet saja. Ditambah, limbah-limbah yang tersisa setelah fillet yang didapatkan saat ini masih sedikit. Pada umumnya pelaku pengolahan fillet patin berproduksi tiap hari hanya sebanyak 3 ton, otomatis limbahnya hanya sekitar 200 – 300 kg/hari.

Target produksi 1,1 Juta ton

Target produksi 1,1 Juta ton tahun 2013

Untuk mencapai industri pengolahan patin yang zero waste, jumlah tersebut belum bisa menutupi biaya produksi, limbah tersebut sampai sekarang hanya dijual mentah (tanpa perlakuan olahan) dengan harga murah. Jadi memang berbeda, dan pasar limbah patin tetap ada, walau jumlahnya masih sedikit.

Itu salah satu penyebab Vietnam lebih maju. Selain itu di sana dari hulu ke hilirnya dalam konteks budidaya jauh lebih maju. Pemerintahnya sudah lebih bekerjasama, mulai dari dukungan, perizinan, sampai ke teknis sudah membantu. Pemerintah Indonesia masih minim sekali dalam menyokong kemajuan industrialisasi ppatin Indonesia.

Bantuan yang diberikan oleh pemerintah dinilai tidak tepat sasaran. Kucuran dana yang besar diberikan ke pembudidaya dalam bentuk mesin-mesin olahan yang rumit untuk dijalankan bagi orang yang tidak berpengalaman. Seharusnya bantuan tersebut diberikan kepada swasta atau pelaku yang biasa mengoperasikan mesin-mesin tersebut agar bantuan tersebut tepat guna.

Sumber : Majalah TROBOS Aqua Edisi 15 Agustus – 14 September 2013

Pembangunan Perikanan melalui Budidaya Lele

Prof Kamiso H N
Guru Besar Jurusan PerikananUniversitas Gadjah Mada

image

Saat ini di dunia sekitar 800 ribu orang mengalami malnutrisi terutama protein hewani dengan sendirinya termasuk rakyat Indonesia. Jumlah tersebut akan terus bertambah sejalan dengan pertambahan penduduk. Suatu tantangan besar bagi kita bagaimana mengatasi hal tersebut agar generasi mendatang tidak semakin parah.

Perikanan dituntut untuk berperan sangat besar untuk mengatasi masalah tersebut. Belum pernah sebelumnya bahwa tingkat ketergantungan dunia sangat tinggi pada ikan. Saat ini ikan menjadi salah satu komoditas perdagangan yang paling dibutuhkan dunia. Kecepatan kenaikan permintaan ikan (demand) sudah melampaui kecepatan peningkatan produksi (supply).

 Akibatnya kebutuhan ikan untuk non pangan terbatas dan harga komoditas perikanan cenderung meningkatatau mahal. Untuk itu peran perikanan budidaya menjadi sangat vital karena perikanan tangkap sudah jenuh (leveling off), bahkan dibeberapa wilayah sudah terjadi over fishing (FAO, 2014). Peningkatan permintaan yang tinggi melebihi peningkatan produksi sangat sulit dicukupi oleh perikanan tangkap, karena perikanan tangkap sudah sangat terbatas.

Kondisi ini merupakan peluang pasar dan peluang usaha budidaya yang sangat besar.Masalahnya komoditas apa yang memenuhi berbagai kriteria pasar, sekaligus penyediaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi, serta ramah lingkungan. Pemenuhan pasar tidak saja pasar lokal, tetapi juga nasional dan dunia. Pertimbangan lain adalah ketersediaan sumberdaya lahan dan air, sarana produksi, teknologi dan kesiapan masyarakat sebagai pelaku budidaya dan usaha terkait.

Lele dumbo tampaknya dapat memenuhi berbagai kriteria tersebut, karena lele dumbo sudah disukai masyarakat luas tidak saja masyarakat Indonesia tetapi sebagian masyarakat dunia, dengan demikian lele dumbo sudah menjadi komoditas universal. Masalah berikutnya bagaimana membuat komoditas universal menjadi bahan baku pangan universal dan akhirnya menjadi makanan universal.

 Lele dumbo tidak memerlukan lahan yang luas, volume dan kualitas air yang tinggi, dengan demikian dapat dibudidayakan di berbagai daerah. Ditinjau dari aspek rekayasa budidaya, teknologi budidaya lele dumbo sudah sangat maju, bahkan sudah sampai tingkat super intensif, dengan padat tebar 1.000 ekor/m2. Dengan demikian pembudidaya mempunya banyak pilihan teknologi, dari tradisional sampai super intensif tergantung penguasaan teknologi, pengalaman dan modal finansial.

Sudah tersedia induk unggul yang telah dirilis pemerintah yaitu lele sangkuriang dan beberapa varietas yang belum dirilis.Mudah dibudidayakan, karena tidak memerlukan volume air yang besar dan tidak memerlukan kualitas air yang tinggi, tahan terhadap oksigen terlarut (DO) rendah.Dapat dibudidayakan oleh pembudidaya dengan berbagai tingkatan pengusaan teknologi  dari tradisional, semi intensif, intensif,sampai super intensif (padat tebar 100–1.000 ekor/m2).Waktu budidaya relatif singkat, lebih singkat dari ikan lain 2-3 bulan tergantung ukuran benih dan ukuran ikan saat panen.Responsif terhadap teknologi, sehingga “selalu dapat ditingkatkan” teknologinya “the sky is the limit”.Lele dumbo mudah diangkut dalam keadaan hidup, disamping tidak memerlukan air yang banyak juga dapat bertahan hidup dalam waktu yang relatif lama.Lele dumbo dapat dijadikan bahan baku industri pengolahan, karena semua bagian tubuh dapat digunakan baik daging, kulit, sirip, maupun tulangnya.Kandungan gizi tinggi terutama protein serta harga relatif murah sehingga sangat tepat untuk mengatasi kekurangan gizi (malnutrisi) bagi masyarakat

Perlu sistem dan kegiatan promosi yang intensif dan masif baik secara terus menerus maupun periodik dengan materi, metode, dan berbagai media komunikasi dan  informasi oleh instansi terkait (dinas perikanan dan kelautan, pariwisata, Depdiknas, dinas kesehatan, perguruan tinggi, dan lainnya), bahkan secara mandiri oleh masyarakat pelaku usaha.

Perlu data base dan peta distribusi lokasi perbenihan, pembesaran, pengolahan, konsumen, dan pasar. Kemudian pengembangan sistem logistik dan pemasaran benih dan ikan konsumsi (hidup, segar, maupun olahan).

Dengan program dan kegiatan yang terencana serta  dilakukan secara baik dari tingkat nasional sampai tingkat daerah. Diharapkan hal ini akan dapat terlaksana untuk mencapai berbagai tujuan dan manfaat antara lain peningkatan produksi, produktivitas, kualitas, efisiensi, nilai tambah dan daya saing seperti prinsip yang digunakan KKP yaitu blue economydalam rangka mewujudkan pembangunan pro poor, pro job, pro growth dan pro environment.

Dengan 4.000 ton/ha/tahununtuk mengejar Cina yang total produksinya 53,91 juta ton, Indonesia 18,51 juta ton (FAO, 2014)  berarti hanya 35,4 juta ton atau setara dengan lahan budidaya 8.850 ha. Hal ini berarti hanya 268,2 ha/provinsi atau sekitar 20 ha/kabupaten/kota. Untuk kabinet mendatang yang sangat peduli dengan masyarakat tingkat bawah dan gencarnya program ketahanan pangan pengembangan budidaya lele dumbo secara luas berskala nasional dapat dijadikan salah satu program unggulan.

Protozoa

Protozoa secara umum dapat dijelaskan bahwa protozoa adalah berasal dari bahasa Yunani, yaitu protos artinya pertama dan zoon artinya hewan. Jadi,Protozoa adalah hewan pertama. Protozoa merupakan kelompok lain protista eukariotik. Kadang-kadang antara algae dan protozoa kurang jelas perbedaannya. Kebanyakan Protozoa hanya dapat dilihat di bawah mikroskop. Beberapa organisme mempunyai sifat antara algae dan protozoa. Sebagai contoh algae hijau Euglenophyta, selnya berflagela dan merupakan sel tunggal yang berklorofil, tetapi dapat mengalami kehilangan klorofil dan kemampuan untuk berfotosintesa. Semua spesies Euglenophyta yang mampu hidup pada nutrien komplek tanpa adanya cahaya, beberapa ilmuwan memasukkannya ke dalam filum protozoa. Contohnya strain mutan algae genus Chlamydomonas yang tidak berklorofil, dapat dimasukkan ke dalam kelas Protozoa genus Polytoma. Hal ini merupakan contoh bagaimana sulitnya membedakan dengan tegas antara algae dan protozoa. Protozoa dibedakan dari prokariot karena ukurannya yang lebih besar, dan selnya eukariotik. Protozoa dibedakan dari algae karena tidak berklorofil, dibedakan dari jamur karena dapat bergerak aktif dan tidak berdinding sel, serta dibedakan dari jamur lendir karena tidak dapat membentuk badan buah.

protozoans

Bentul Tubuh

Biasanya berkisar 10-50 µm, tetapi dapat tumbuh sampai 1 mm, dan mudah dilihat di bawah mikroskop. Mereka bergerak di sekitar dengan cambuk seperti ekor disebut flagela. Mereka sebelumnya jatuh di bawah keluarga Protista. Lebih dari 30.000 jenis telah ditemukan. Protozoa terdapat di seluruh lingkungan berair dan tanah, menduduki berbagai tingkat trophic. Tubuh protozoa amat sederhana, yaitu terdiri dari satu sel tunggal (unisel). Namun, Protozoa merupakan system yang serba bisa. Semua tugas tubuh dapat dilakukan oleh satu sel saja tanpa mengalami tumpang tindih. Ukuaran tubuhnya antaran 3-1000 mikron.Bentuk tubuh macam-macam ada yang seperti bola, bulat memanjang, atau seperti sandal bahkan ada yang bentuknya tidak menentu. Juga ada memiliki fligel atau bersilia.

Habitat

Protozoa hidup di air atau setidaknya di tempat yang basah. Mereka umumnya hidup bebas dan terdapat di lautan, lingkungan air tawar, atau daratan. Beberapa spesies bersifat parasitik, hidup pada organisme inang. Inang protozoa yang bersifat parasit dapat berupa organisme sederhana seperti algae, sampai vertebrata yang kompleks, termasuk manusia. Beberapa spesies dapat tumbuh di dalam tanah atau pada permukaan tumbuh-tumbuhan. Semua protozoa memerlukan kelembaban yang tinggi pada habitat apapun. Beberapa jenis protozoa laut merupakan bagian dari zooplankton. Protozoa laut yang lain hidup di dasar laut. Spesies yang hidup di air tawar dapat berada di danau, sungai, kolam, atau genangan air. Ada pula protozoa yang tidak bersifat parasit yang hidup di dalam usus termit atau di dalam rumen hewan ruminansia. Beberapa protozoa berbahaya bagi manusia karena mereka dapat menyebabkan penyakit serius. Protozoa yang lain membantu karena mereka memakan bakteri berbahaya dan menjadi makanan untuk ikan dan hewan lainnya. Protozoa hidup secara soliter atau bentuk koloni. Didalam ekosistem air protozoa merupakan zooplankton. Permukan tubuh Protozoa dibayangi oleh membransel yang tipis, elastis, permeable, yang tersusun dari bahan lipoprotein, sehingga bentuknya mudah berubah-ubah. Beberapa jenis protozoa memiliki rangka luar (cangkok) dari zat kersik dan kapur. Apabila kondisi lingkungan tempat tinggal tiba-tiba menjadi jelek, Protozoa membentuk kista. Dan menjadi aktif lagi. Organel yang terdapat di dalam sel antara lain nucleus, badan golgi, mikrokondria, plastida, dan vakluola. Nutrisi protozoa bermacam-macam. Ada yang holozoik (heterotrof), yaitu makanannya berupa organisme lainnya,. Ada pula yang holofilik (autotrof), yaitu dapat mensintesis makanannya sendiri dari zat organic dengan bantuan klorofit dan cahaya. Selain itu ada yang bersifat saprofitik, yaitu menggunakan sisa bahan organic dari organisme yang telah mati adapula yang bersifat parasitik. Apabila protozoa dibandingkan dengan tumbuhan unisel, terdapat banyak perbedaan tetapi ada persamaannya. Hal ini mungkin protozoa meriupakan bentuk peralihan dari bentuk sel tumbuhan ke bentuk sel hewan dalam perjalanan evolusinya.

Ciri-ciri

Protozoa adalah mikroorganisme menyerupai hewan yang merupakan salah satu filum dari Kingdom Protista. Seluruh kegiatan hidupnya dilakukan oleh sel itu sendiri dengan menggunakan organel-organel antara lain membran plasma, sitoplasma, dan mitokondria. Ciri-ciri umum :

–   Organisme uniseluler (bersel tunggal)
–   Eukariotik (memiliki membran nukleus)
–   Hidup soliter (sendiri) atau berkoloni (kelompok)
–   Umumnya tidak dapat membuat makanan sendiri (heterotrof)
–   Hidup bebas, saprofit atau parasit
–   Dapat membentuk kista untuk bertahan hidup
–   Alat gerak berupa pseudopodia, silia, atau flagela.

Ciri-ciri prozoa sebagai hewan adalah gerakannya yang aktif dengan silia atau flagen, memili membrane sel dari zat lipoprotein, dan bentuk tubuhnya ada yang bisa berubah-ubah. Adapun yang bercirikan sebagai tumbuhan adalah ada jenis protozoa yang hidup autotrof. Ada yang bisa berubah-ubah. Adapun yang mencirikan sebagai sebagai tumbuhan adalah ada jenis protozoa yang hidup autotrof. Perkembangbiakan bakteri dan amuba Perkembangbiakan amuba dan bakteri yang biasa dilakukan adalah dengan membela diri. Dalam kondisi yang sesuai mereka mengadakan pembelahan secara setiap 15 menit. Peristiwa ini dimulai dengan pembelahan inti sel atau bahan inti menjadi dua. Kemudian diikuti dengan pembelahan sitoplasmanya, menjadi dua yang masing-masing menyelubungi inti selnya. Selanjutnya bagian tengah sitoplasma menggenting diikuti dengan pemisahan sitoplasma. Akhirnya setelah sitoplasma telah benar-benar terpisah, maka terbentuknya dua sel baru yang masing-masing mempunyai inti baru dan sitoplasma yang baru pula. Pada amuba bila keadan kurang baik, misalnya udara terlalu dingin atau panas atau kurang makan, maka amuba akan membentuk kista. Didalam kista amuba dapat membelah menjadi amuba-amuba baru yang lebih kecil. Bila keadaan lingkungan telah baik kembali, maka dinding kista akan pecah dan amuba-amuba baru tadi dapat keluar. Selanjutnya amuba ini akan tumbuh setelah sampai pada ukuran tertentu dia akan membelah diri seperti semula.

Morfologi Protozoa

Semua protozoa mempunyai vakuola kontraktil. Vakuola dapat berperan sebagai pompa untuk mengeluarkan kelebihan air dari sel, atau untuk mengatur tekanan osmosis. Jumlah dan letak vakuola kontraktil berbeda pada setiap spesies. Protozoa dapat berada dalam bentuk vegetatif (trophozoite), atau bentuk istirahat yang disebut kista. Protozoa pada keadaan yang tidak menguntungkan dapat membentuk kista untuk mempertahankan hidupnya. Saat kista berada pada keadaan yang menguntungkan, maka akan berkecambah menjadi sel vegetatifnya. Protozoa tidak mempunyai dinding sel, dan tidak mengandung selulosa atau khitin seperti pada jamur dan algae. Kebanyakan protozoa mempunyai bentuk spesifik, yang ditandai dengan fleksibilitas ektoplasma yang ada dalam membran sel. Beberapa jenis protozoa seperti Foraminifera mempunyai kerangka luar sangat keras yang tersusun dari Si dan Ca. Beberapa protozoa seperti Difflugia, dapat mengikat partikel mineral untuk membentuk kerangka luar yang keras. Radiolarian dan Heliozoan dapat menghasilkan skeleton. Kerangka luar yang keras ini sering ditemukan dalam bentuk fosil. Kerangka luar Foraminifera tersusun dari CaO2 sehingga koloninya dalam waktu jutaan tahun dapat membentuk batuan kapur. Protozoa merupakan sel tunggal, yang dapat bergerak secara khas menggunakan pseudopodia (kaki palsu), flagela atau silia, namun ada yang tidak dapat bergerak aktif. Berdasarkan alat gerak yang dipunyai dan mekanisme gerakan inilah protozoa dikelompokkan ke dalam 4 kelas. Protozoa yang bergerak secara amoeboid dikelompokkan ke dalam Sarcodina, yang bergerak dengan flagela dimasukkan ke dalam Mastigophora, yang bergerak dengan silia dikelompokkan ke dalam Ciliophora, dan yang tidak dapat bergerak serat merupakan parasit hewan maupun manusia dikelompokkan ke dalam Sporozoa. Mulai tahun 1980, oleh Commitee on Systematics and Evolution of the Society of Protozoologist, mengklasifikasikan protozoa menjadi 7 kelas baru, yaitu Sarcomastigophora, Ciliophora, Acetospora, Apicomplexa, Microspora, Myxospora, dan Labyrinthomorpha. Pada klasifikasi yang baru ini, Sarcodina dan Mastigophora digabung menjadi satu kelompok Sarcomastigophora, dan Sporozoa karena anggotanya sangat beragam, maka dipecah menjadi lima kelas. Contoh protozoa yang termasuk Sarcomastigophora adalah genera Monosiga, Bodo, Leishmania, Trypanosoma, Giardia, Opalina, Amoeba, Entamoeba, dan Difflugia. Anggota kelompok Ciliophora antara lain genera Didinium, Tetrahymena, Paramaecium, dan Stentor. Contoh protozoa kelompok Acetospora adalah genera Paramyxa. Apicomplexa beranggotakan genera Eimeria, Toxoplasma, Babesia, Theileria. Genera Metchnikovella termasuk kelompok Microspora. Genera Myxidium dan Kudoa adalah contoh anggota kelompok Myxospora.

Fisiologi Protozoa

Protozoa umumnya bersifat aerobik nonfotosintetik, tetapi beberapa protozoa dapat hidup pada lingkung ananaerobik misalnya pada saluran pencernaan manusia atau hewan ruminansia. Protozoa aerobik mempunyai mitokondria yang mengandung enzim untuk metabolisme aerobik, dan untuk menghasilkan ATP melalui proses transfer elektron dan atom hidrogen ke oksigen. Protozoa umumnya mendapatkan makanan dengan memangsa organisme lain (bakteri) atau partikel organik, baik secara fagositosis maupun pinositosis. Protozoa yang hidup di lingkungan air, maka oksideng dan air maupun molekul-molekul kecil dapat berdifusi melalui membran sel. Senyawa makromolekul yang tidak dapat berdifusi melalui membran, dapat masuk sel secara pinositosis. Tetesan cairan masuk melalui saluran pada membran sel, saat saluran penuh kemudian masuk ke dalam membrane yang berikatan denga vakuola. Vakuola kecil terbentuk, kemudian dibawa ke bagian dalam sel, selanjutnya molekul dalam vakuola dipindahkan ke sitoplasma. Partikel makanan yang lebih besar dimakan secara fagositosis oleh sel yang bersifat amoeboid dan anggota lain dari kelompok Sarcodina. Partikel dikelilingi oleh bagian membran sel yang fleksibel untuk ditangkap kemudian dimasukkan ke dalam sel oleh vakuola besar (vakuola makanan). Ukuran vakuola mengecil kemudian mengalami pengasaman. Lisosom memberikan enzim ke dalam vakuola makanan tersebut untuk mencernakan makanan, kemudian vakuola membesar kembali. Hasil pencernaan makanan didispersikan ke dalam sitoplasma secara pinositosis, dan sisa yang tidak tercerna dikeluarkan dari sel. Cara inilah yang digunakan protozoa untuk memangsa bakteri. Pada kelompok Ciliata, ada organ mirip mulut di permukaan sel yang disebut sitosom. Sitosom dapat digunakan menangkap makanan dengan dibantu silia. Setelah makanan masuk ke dalam vakuola makanan kemudian dicernakan, sisanya dikeluarkan dari sel melalui sitopig yang terletak disamping sitosom.

Adaptasi

Sebagai predator, mereka memangsa uniseluler atau berserabut ganggang, bakteri, dan microfungi. Protozoa memainkan peran baik sebagai herbivora dan konsumen di decomposer link dari rantai makanan. Protozoa juga memainkan peranan penting dalam mengendalikan populasi bakteri dan biomas. Protozoa dapat menyerap makanan melalui membran sel mereka, beberapa, misalnya amoebas, mengelilingi dan menelan makanan itu, dan yang lain lagi memiliki bukaan atau “mulut pori-pori” ke mana mereka menyapu makanan. Semua protozoa yang mencerna makanan di perut mereka seperti kompartemen disebut vakuola.

Sebagai komponen dari mikro-dan meiofauna, protozoa merupakan sumber makanan penting bagi microinvertebrates. Dengan demikian, peran ekologis protozoa dalam transfer bakteri dan ganggang produksi ke tingkat trophic berurutan adalah penting. Protozoa seperti parasit malaria (Plasmodium spp.), Dan Leishmania trypanosomes juga penting sebagai parasit dan symbionts dari hewan multisel.

Beberapa protozoa memiliki tahap kehidupan bolak-balik antara tahap proliferatif (misalnya trophozoites) dan kista aktif. Seperti kista, protozoa dapat bertahan hidup kondisi yang sulit, seperti terpapar ke suhu yang ekstrem dan bahan kimia berbahaya, atau waktu lama tanpa akses terhadap nutrisi, air, atau oksigen untuk jangka waktu tertentu. Menjadi spesies parasit kista memungkinkan untuk bertahan hidup di luar tuan rumah, dan memungkinkan mereka transmisi dari satu host ke yang lain. Ketika protozoa adalah dalam bentuk trophozoites (Yunani, tropho = untuk memberi makan), mereka secara aktif memberi makan dan tumbuh. Proses mana protozoa yang mengambil bentuk kista disebut encystation, sedangkan proses mentransformasikan kembali ke trophozoite disebut excystation.

Protozoa dapat mereproduksi dengan pembelahan biner atau beberapa fisi. Beberapa protozoa bereproduksi secara seksual, beberapa aseksual, sementara beberapa menggunakan kombinasi, (mis. Coccidia). Seorang individu protozoon adalah hermaphroditic.

Nama lain untuk protozoa adalah Acrita (R. Owen, 1861). Mereka dapat menyebabkan malaria atau disentri amuba.

Kelas Berdasarkan Alat Gerak

Protozoa dibagi menjadi 4 kelas berdasarkan alat gerak:

Rhizopoda (Sarcodina),alat geraknya berupa pseudopoda (kaki semu) Bergerak dengan kaki semu (pseudopodia)yang merupakan penjuluran protoplasma sel. Hidup di air tawar, air laut, tempat-tempat basah, dan sebagian ada yang hidup dalam tubuh hewan atau manusia.Jenis yang paling mudah diamati adalah Amoeba.Ektoamoeba adalah jenis Amoeba yang hidup di luar tubuh organisme lain (hidup bebas), contohnya Ameoba proteus, Foraminifera, Arcella, Radiolaria.Entamoeba adalah jenis Amoeba yang hidup di dalam tubuh organisme, contohnya Entamoeba histolityca, Entamoeba coli.

–    Amoeba proteus memiliki dua jenis vakuola yaitu vakuola makanan dan vakuola kontraktil.
–    Entamoeba histolityca menyebabkan disentri amuba (bedakan dengan disentri basiler yang disebabkan Shigella dysentriae)
–    Entamoeba gingivalis menyebabkan pembusukan makanan di dalam mulut radang gusi (Gingivitis)
–    Foraminifera sp. fosilnya dapat dipergunakan sebagai petunjuk adanya minyak bumi. Tanah yang mengandung fosil fotaminifera disebut tanah globigerina.
–    Radiolaria sp. endapan tanah yang mengandung hewan tersebut digunakan untuk bahan penggosok.

Flagellata (Mastigophora),alat geraknya berupa flagel (bulu cambuk).Bergerak dengan flagel (bulu cambuk) yang digunakan juga sebagai alat indera dan alat bantu untuk menangkap makanan.Dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :

Fitoflagellata Flagellata autotrofik (berkloroplas), dapat berfotosintesis. Contohnya : Euglena viridis, Noctiluca milliaris, Volvox globator.Zooflagellata.

Flagellata heterotrofik (Tidak berkloroplas).Contohnya : Trypanosoma gambiens, Leishmania Dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:

Golongan phytonagellata

– Euglena viridis (makhluk hidup peralihah antara protozoadengan ganggang) – Volvax globator (makhluh hidup peralihah antara protozoa dengan ganggang) – Noctiluca millaris (hidup di laut dan dapat mengeluarkan cahaya bila terkena rangsangan mekanik)

Golongan Zooflagellata, contohnya :

– Trypanosoma gambiense & Trypanosoma rhodesiense. Menyebabkan penyakit tidur di Afrika dengan vektor (pembawa) Þ lalat Tsetse (Glossina sp.) Trypanosoma gambiense vektornya Glossina palpalis Þ tsetse sungai Trypanosoma rhodeslense vektornya Glossina morsitans Þ tsetse semak – Trypanosoma cruzl Þ penyakit chagas – Trypanosoma evansi Þ penyakit surra, pada hewan ternak(sapi). – Leishmaniadonovani Þ penyakit kalanzar – Trichomonas vaginalis Þ penyakit keputihan

Ciliata (Ciliophora),alat gerak berupa silia (rambut getar). Anggota Ciliata ditandai dengan adanya silia (bulu getar) pada suatu fase hidupnya, yang digunakan sebagai alat gerak dan mencari makanan. Ukuran silia lebih pendek dari flagel.Memiliki 2 inti sel (nukleus), yaitu makronukleus (inti besar) yang mengendalikan fungsi hidup sehari-hari dengan cara mensisntesis RNA, juga penting untuk reproduksi aseksual, dan mikronukleus (inti kecil) yang dipertukarkan pada saat konjugasi untuk proses reproduksi seksual. Ditemukan vakuola kontraktil yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan air dalam tubuhnya. Banyak ditemukan hidup di laut maupun di air tawar. Contoh : Paramaecium caudatum, Stentor, Didinium, Vorticella, Balantidium coli.

Paramaecium caudatum Þ disebut binatang sandal, yang memiliki dua jenis vakuola yaitu vakuola makanan dan vakuola kontraktil yang berfungsi untuk mengatur kesetimbangan tekanan osmosis (osmoregulator).

Memiliki dua jenis inti Þ Makronukleus dan Mikronukleus (inti reproduktif). Cara reproduksi, aseksual Þ membelah diri, seksual Þ konyugasi.

Balantidium coli Þ menyebabkan penyakit diare.

Sporozoa,adalah protozoa yang tidak memiliki alat gerak. Cara bergerak hewan ini dengan cara mengubah kedudukan tubuhnya. Pembiakan secara vegetatif (aseksual) disebut juga Skizogoni dan secara generatif (seksual) disebut Sporogoni.Marga yang berhubungan dengan kesehatan manusia Þ Toxopinsma dan Plasmodium.. Tidak memiliki alat gerak khusus, menghasilkan spora (sporozoid) sebagai cara perkembang biakannya. Sporozoid memiliki organel-organel kompleks pada salah satu ujung (apex) selnya yang dikhususkan untuk menembus sel dan jaringan inang.Hidupnya parasit pada manusia dan hewan.Contoh : Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae,Plasmodium vivax. Gregarina.

Jenis-jenisnya antara lain:

–    Plasmodiumfalciparum Þ malaria tropika Þ sporulasi tiap hari
–    Plasmodium vivax Þ malaria tertiana Þ sporulasi tiap hari ke-3(48 jam)
–    Plasmodium malariae Þ malaria knartana Þ sporulasi tiap hari ke-4 (72 jam)
–    Plasmodiumovale Þ malaria ovale.

 

Sumber: http://id.wikipedia.org

Pantogen

Patogen (Bahasa Yunani: “penyebab penderitaan”) adalah agen biologis yang menyebabkan penyakit pada inangnya.[1] Sebutan lain dari patogen adalah mikroorganisme parasit.[2] Umumnya istilah ini diberikan untuk agen yang mengacaukan fisiologi normal hewan atau tumbuhan multiselular. Namun, patogen dapat pula menginfeksi organisme uniselular dari semua kerajaan biologi.[1]
disease_venns
Umumnya, hanya organisme yang sangat patogen yang dapat menyebabkan penyakit, sementara sisanya jarang menimbulkan penyakit. Patogen oportunis adalah patogen yang jarang menyebabkan penyakit pada orang-orang yang memiliki imunokompetensi (immunocompetent) namun dapat menyebabkan penyakit/infeksi yang serius pada orang yang tidak memiliki imunokompetensi (immunocompromised).[1] Patogen oportunis ini umumnya adalah anggota dari flora normal pada tubuh.[1] Istilah oportunis sendiri merujuk kepada kemampuan dari suatu organisme untuk mengambil kesempatan yang diberikan oleh penurunan sistem pertahanan inang untuk menimbulkan penyakit.[1]

Pada umumnya semua patogen pernah berada di luar sel tubuh dengan rentang waktu tertentu (ekstraselular) saat mereka terpapar oleh mekanisme antibodi, namun saat patogen memasuki fase intraselular yang tidak terjangkau oleh antibodi, sel T akan memainkan perannya.[3]

Sel T adalah sel di dalam salah satu grup sel darah putih yang diketahui sebagai limfosit dan memainkan peran utama pada kekebalan selular. Sel T mampu membedakan jenis patogen dengan kemampuan berevolusi sepanjang waktu demi peningkatan kekebalan setiap kali tubuh terpapar patogen. Hal ini dimungkinkan karena sejumlah sel T teraktivasi menjadi sel T memori dengan kemampuan untuk berkembangbiak dengan cepat untuk melawan infeksi yang mungkin terulang kembali. Kemampuan sel T untuk mengingat infeksi tertentu dan sistematika perlawanannya, dieksploitasi sepanjang proses vaksinasi, yang dipelajari pada sistem kekebalan tiruan.

Virulensi

Virulensi adalah derajat tingkat patogenitas yang diukur oleh banyaknya organisme yang diperlukan untuk menimbulkan penyakit pada jangka waktu tertentu.[4][2] Virulensi berkaitan erat dengan infeksi dan penyakit: infeksi merujuk pada suatu situasi di mana suatu mikroorganisme telah menetap dan tumbuh pada suatu inang, dalam hal ini mikrorganisme tersebut dapat melukai atau tidak melukai inangnya; sementara penyakit adalah kerusakan atau cedera pada inang yang mengganggu fungsi tubuh inang. [2] Sebagai contoh, dosis letal 50%/ 50%lethal dose (LD50) adalah jumlah organisme yang diperlukan untuk membunuh setengah dari jumlah inang yang diserang.[4] Sementara dosis infeksius 50%/ 50%infectious dose (ID50) adalah jumlah organisme patogen yang dibutuhkan untuk menginfeksi 50% dari total inang yang diserang. ID50 dari tiap organisme berbeda-beda, sebagai contoh, Shigella memiliki ID50 kurang dari 100 organisme sementara Salmonella memiliki ID50 sekitar 100.000 organisme.[4] Dosis infeksius dari suatu organisme tergantung dari faktor virulensi mereka.[4]
Faktor Virulensi Bakteri

Transmisibilitas: Tahap pertama dari proses infeksi adalah masuknya mikroorganisme ke dalam inang melalui satu atau beberapa jalur: pernapasan, pencernaan (gastrointestinal), urogenitalia, atau kulit yang telah terluka. setelah masuk, patogen harus melalui brmacam-macam sistem pertahanan tubuh sebelum dapat hidup dan berkembangbiak di dalam inangnya.[4] Contoh sistem pertahanan inang meliputi kondisi asam pada perut dan saluran urogenitalia, fagositosis oleh sel darah putih, dan bermacam-macam enzim hidroitik dan proteolitik yang dapat ditemukan di kelenjar saliva, perut, dan usus halus.[4] Bakteri yang memiliki kapsul polisakarida di bagian luarnya seperti Streptococcus pneumoniae dan Neisseria meningitidis memiliki kesempatan lebih besar untuk bertahan hidup.[4]
Pelekatan: Beberapa bakteri seperti Escherichia coli menggunakan en:pili untuk melekat pada permukaan sel inang mereka.[4] Bakteri lain memilki molekul adhesi/pelekatan pada permukaan sel mereka atau dinding sel yang hidrofobik seingga mereka dapat menempel pada membran sel inang.[4] Pelekatan meningkatkan virulensi dengan cara mencegah bakteri terbawa oleh mukus atau organ karena aliran cairan seperti pada saluran urin dan pencernaan.[4]
Kemampuan invasif: bakteri invasif adalah bakteri yang dapat masuk ke dalam sel inang atau menembus permukaan kelenjar mukus sehingga menyebar dari titik awal infeksi.[4] Kemampuan invasif didukung oleh adanya enzim yang mendegradasi matriks ektraseluler seperti kolagenase.[4]
Toksin bakteri: Beberapa bakteri memproduksi toksin atau racun yang dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu: endotoksin dan eksotoksin.[4] Eksotoksin adalh protein yang disekresikan oleh bakteri gram positif dan gram negatif. Di sisi lain, endotoksin adalah lipopolisakarida yang tidak disekresikan melainkan terdapat pada dinding sel bakteri gram negatif.[4]

 

Rujukan:

1 ^ a b c d e Warren Levinson. 2008. Review of Medical Microbiology & Immunology, Tenth Edition. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc
2 ^ a b c d Madigan MT, Martinko JM, Brock TD. 2006. Brock Biology of Microorgnisms. New Jersey: Pearson Prentice Hall.
3 ^ (Inggris)”Figure 10.4. Pathogens found in various compartments of the body”. Charles A. Janeway, et al. Diakses 2010-03-17.
4 ^ a b c d e f g h i j k l m n Harvey RA, Champe PC, Fisher BD, Strohl WA. 2007. Microbiology. Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkin

Sumber: id.wikipedia.org