Archive for January, 2015

CPIB atau Cara Pembenihan Ikan yang Baik

indoor hatchery

Penulis : Ricky Arsenapati, S.Pi

Apa itu CPIB?

Hal pertama yang terbersit dalam pikiran kita ialah : Apa CPIB itu sendiri? Hal apa yang melatar belakanginya? Manfaat apa yang dapat diperoleh oleh UPR dalam penerapan CPIB ini?

Secara garis besar, CPIB atau Cara Pembenihan Ikan yang Baik merupakan standar sistem mutu perbenihan paling sederhana/dasar yang harus diterapkan oleh pembenih ikan dalam memproduksi benih ikan yang bermutu, dengan cara melakukan manajemen induk, pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva/benih dalam lingkungan yang terkontrol melalui penerapan teknologi yang memenuhi persyaratan SNI atau persyaratan teknis lainnya, serta memperhatikan keamanan lingkungan (biosecurity), mampu telusur (traceability) dan keamanan pangan (food safety).

Faktor-faktor yang melatarbelakangi pentingnya penerapan CPIB ini (Mengapa harus CPIB) diantaranya adalah :

  • Perdagangan global yang sangat kompetitif, sehingga produk benih yang dihasilkan harus sesuai dengan tuntutan pasar global terhadap produk perikanan yang ramah lingkungan, tidak mengandung residu antibiotik dan bahan kimia serta mampu telusur
  • Persyaratan mutu yang ketat dan keamanan pangan
  • Tuntutan konsumen terhadap mutu
  • Penganekaragaman jenis dan bentuk serta penyajian produk
    • Tuntutan melaksanakan tatacara budidaya yg bertanggung jawab dan berkelanjutan (Responsible and sustainable aquaculture)
    • Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 02/MEN/2007 tentang Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB)

Sedangkan, manfaat yang diperoleh dari penerapan CPIB ialah :

  • Meningkatkan efisiensi produksi dan produktivitas
  • Mampu telusur
  • Memperkecil resiko kegagalan
  • Meningkatkan kepercayaan pelanggan
    • Meningkatkan daya saing dengan peningkatan mutu benih serta menjamin kesempatan ekspor.

Aspek apa saja yang termasuk dalam persyaratan CPIB?

Terdapat 4 aspek yang harus dipenuhi untuk setiap unit pembenihan dalam penerapan CPIB (Sesuai dengan Pedoman CPIB oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya)

  1. 1.    Persyaratan Teknis
  • Kelayakan lokasi dan sumber air, diantaranya ialah :
  1. Bebas banjir dan bahan cemaran
    1. Mempunyai sumber air yang layak, bersih sepanjang tahun dan bebas cemaran pathogen, bahan organik dan kimiawi
    2. Mudah dalam memperoleh tenaga kerja yang kompeten, berdedikasi tinggi sesuai dengan kebutuhan
    3. Mudah dijangkau, prasarana cukup
  • Kelayakan fasilitas
  1. Bangunan, diantaranya
  • Tempat penyimpanan pakan
  • Tempat penyimpanan bahan kimia dan obat-obatan
  • Tempat penyimpanan peralatan
  • Kantor/ruang administrasi
  1. Sarana filtrasi, pengendapan dan bak tandon
  2. Bak karantina
  3. Bak pengolah limbah
  4. Bak/kolam pemeliharaan induk
  5. Wadah pemijahan
  6. Wadah penetasan
  7. Bak/kolam pemeliharaan benih
  8. Bak kultur pakan hidup
  9.  Wadah penampungan benih
  10.  Sarana pengolah limbah
  11.  Mesin & Peralatan Kerja
  • Tempat penyimpanan peralatan
  • Kantor/ruang administrasi
  • Peralatan Produksi
  • Bahan dan peralatan panen
  • Peralatan mesin
  • Peralatan laboratorium

13.       Sarana Biosecurity

  • Pagar dan penyekat
  • Sarana sterilisasi
  • Pakaian dan perlengkapan personil unit produksi
  • Proses produksi
  1. Manajemen air sumber dan air pemeliharaan
  • Air media pemeliharaan harus memenuhi standar baku mutu air
  • Dilakukan  proses penjernihan air melalui pengendapan dan filtrasi
  • Dilakukan perlakuan (treatment) air secara fisik, kimiawi atau biologi
  • Dilakukan monitoring periodik
  1. Manajemen induk
  • Pemilihan induk :umur, ukuran, Sertifikat Kesehatan/bebas virus, asal induk  jelas (hasil pemuliaan/ domestikasi)
  • Karantina induk (proses, fasilitas, tes ulang bebas virus, bahan pencegahan penyakit)
  • Pemeliharaan (wadah pemeliharaan, pengelolaan air, pemberian pakan, pengamatan kesehatan, pengamatan gonad, penanganan proses pemijahan dan penetasan telur)
  1. Manajemen benih
  • Unit pembenihan yang hanya melakukan pemeliharaan  sepenggal (telur/larva/nauplius menjadi benih/postlarva ) maka telur/larva/nauplius harus diperoleh dari unit pembenihan yang telah lulus sertifikasi CPIB/sistem mutu perbenihan lain
  • Aklimatisasi benih/karantina
  • Pengelolaan air
  • Pemberian pakan (jenis , dosis dan frekuensi)
  • Perawatan kesehatan benih
  • Pengamatan perkembangan /kesehatan
  1. Panen, pengemasan dan distribusi benih
  • Panen (umur benih , cara panen, peralatan panen, pengecekan mutu benih)
  • Perawatan kesehatan benih
  • Pengamatan perkembangan /kesehatan
  • Pengemasan (peralatan dan bahan kemasan)
  • Distribusi benih (darat, air dan udara)
  • Penerapan biosecurity

Merupakan tindakan yang dilakukan dengan sengaja sebagai usaha untuk mencegah masuknya organisme pathogen dalam lingkungan budidaya yang dapat menginfeksi organisme yang dibudidayakan.

Merupakan usaha untuk mencegah dan mengurangi penyebaran penyakit dalam suatu area

Kegiatan penting dalam penerapan biosecurity :

  1. Pengaturan tata letak
  • Pengaturan berdasarkan alur produksi
  • Pemagaran dan penyekatan
  • Penyimpanan bahan
  1. Pengaturan akses masuk ke lokasi
  2. Sterilisasi wadah, peralatan dan ruangan
  3. Sanitasi lingkungan
  4. Pengolahan limbah
  5. Pengendalian hama penyakit
  6. Pengaturanpersonil/karyawan
    1. 2.    Persyaratan Manajemen
  • Organisasi Unit Pembenihan

Struktur organisasi diperlukan sebagai pedoman untuk melakukan pembagian tugas, kewajiban dan wewenang dalam menjalankan kegiatan, untuk itu unit pembenihan harus menetapkan personil dengan kompetensi dan/atau kualifikasi atas dasar pendidikan, pelatihan, ketrampilan / pengaturan teknik dan pengalaman yang diperlukan dalam melaksanakan  fungsi  pada unit pembenihan tersebut.

  • Dokumentasi & Rekaman

Merupakan proses pengumpulan, pemilihan, pengolahan, dan penyimpanan informasi yang berhubungan dengan CPIB

Manfaat dokumentasi, diantaranya ialah :

  1. Mudah mengakses informasi proses produksi
  2. Dapat diperoleh bukti obyektif tentang kesesuaian proses produksi dengan CPIB
  3. Mampu telusur

Jenis dokumentasi CPIB yang dipersyaratkan:

  1. Permohonan sertifikasi
  2. Standar Operasional Prosedur (SPO)
    1. Formulir dan Rekaman
    2. Dokumen lainnya
  1. 3.       Persyaratan Keamanan Pangan

 

Unit Pembenihan tidak diperbolehkan menggunakan obat-obatan/bahan kimia/bahan biologi yang terlarang, dan menyebabkan residu, termasuk antibiotik.

  1. 4.       Persyaratan lingkungan

Limbah buangan air payau/laut, air tawar dan limbah lainnya, sebelum di dibuang ke lingkungan sekitar pembenihan harus ditampung / diendapkan  terlebih dahulu  dalam bak pengendapan untuk kemudian disalurkan ke bak pengolah limbah dan sterilisasi dengan kaporit 20 ppm selama 60 menit atau secara biologi

Bagaimana proses pengajuan sertifikasi CPIB?

 

Secara umum, langkah-langkah penting dalam penerapan CPIB meliputi :

  1. Komitmen Pimpinan Puncak
  2. Penunjukkan MPM
  3. Pembentukan TIM CPIB
  4. Struktur Organisasi
  5. Pelajari Persyaratan CPIB
  6. Pelatihan Karyawan
  7. Penyusunan Dokumen
  8. Sosialisasi Penerapan CPIB
  9. Penerapan CPIB dan dokumentasi
  • Apabila penerapan CPIB dalam unit pembenihan telah sesuai dengan persyaratan CPIB, maka unit pembenihan dapat mengajukan permohonan sertifikasi ke Direktorat Perbenihan, DJPB (sesuai pedoman sertifikasi CPIB).
  • Unit usaha yang telah menerapkan CPIB akan mendapatkan sertifikat (Sertifikat diberikan oleh Dirjen PB)
  • Bagi unit yang lulus sertifikasi, akan disurveillance setiap 6 bulan sekali atau minimal satu kali dalam setahun.

Apa saja manfaat Sertifikat CPIB?

Manfaat Sertifikat CPIB diantaranya adalah :

  • Peluang untuk menembus pasar ekspor semakin terbuka lebar
  • Usaha pembenihan ikan akan semakin bagus
  • Kondisi lingkungan kolam usaha budidaya ikan akan semakin terjaga
  • Tingkat kepercayaan konsumen akan semakin tinggi
  • Harga jual ikan semakin tinggi

 

 

Siapakah itu MPM?

MPM atau Manajer Pengendali Mutu dalam CPIB adalah personil bersertifikat yang ditunjuk oleh pimpinan unit pembenihan untuk mengemban tugas, wewenang dan tanggung jawab mulai dari tahap perencanaan, penerapan dan konsistensi penerapan CPIB.

Dalam melaksanakan tugasnya, MPM tidak boleh merangkap sebagai manajer produksi. Tugas dari seorang MPM adalah sebagai berikut :

  1. Bertanggung jawab pada perencanaan dan harus memastikan bahwa unit pembenihan memenuhi persyaratan CPIB
  2. Bertanggung jawab memberikan pemahaman dan memastikan semua personil unit pembenihan dapat melaksanakan CPIB
  3. Bertanggung jawab dalam melaksanakan CPIB secara konsisten

Sejauh ini Kabupaten Bogor memiliki 7 orang Penyuluh Perikanan (PNS dan Swadaya) yang telah melalui uji sertifikasi dan dinyatakan lulus serta memiliki sertifikat MPM yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.

  1. Ir. Herlina, MM (Koordinator Penyuluh Perikanan Kabupaten Bogor);
  2. Suhendar, S.ST
  3. N.R. Nia Karuniawati S., S.Pi
  4. Ricky Arsenapati, S.Pi
  5. Bambang Purwanto (PPS)
  6. Sukendar (PPS)
  7. Ook Suherman (PPS)

Pasir Silika Sebagai Media Filter Air

pasir silika

Fungsi Pasir Silika atau biasa disebut pasir kuarsa atau pasir kwarsa (SiO2) adalah untuk menghilangkan kandungan lumpur atau tanah dan sedimen pada air minum atau air tanah atau air PDAM atau air gunung pada industri pengolahan air. Selain di bidang pengolahan air, pasir silika dapat digunakan diberbagai industri seperti industri/pengolahan sand blasting atau pembuatan lapangan futsal dengan berbagai ukuran mesh. Dalam kegiatan industri, penggunaan pasir kuarsa sudah berkembang meluas, baik langsung sebagai bahan baku utama maupun bahan ikutan. Sebagai bahan baku utama, misalnya digunakan dalam industri gelas/kaca, semen, tegel, mosaik keramik, bahan baku fero silikon, silikon carbide bahan abrasit (ampelas dan sand blasting). Sedangkan sebagai bahan ikutan, misal dalam industri cor, industri perminyakan dan pertambangan, bata tahan api (refraktori), dan lain sebagainya. Cadangan pasir kuarsa terbesar terdapat di Sumatera Barat, potensi lain terdapat di Kalimantan Barat, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Pulau Bangka dan Belitung.

Pasir kuarsa pada pembuatan semen berfungsi sebagai pelengkap kandungan silika untuk semen yang dihasilkan. Kandungan silika untuk pabrik semen berkisar 21,3% SiO2. Apabila komposisi SiO2 belum tercapai ditambahkan pasir kuarsa. Pemakain pasir kuarsa di industri ini bervariasi tergantung kandungan silika bahan baku lainnya, biasanya berkisar antara 6 – 7 % . Pada industri keramik, pasir kuarsa merupakan pembentuk badan keramik bersama dengan bahan baku lain, seperti kaolin, lempung, felspar, dan bahan pewarna. Pasir kuarsa ini umumnya pembentuk sifat glazur pada badan keramik, sehingga berbentuk licin dan mudah untuk dibersihkan. Selain itu, pasir kuarsa mempunyai sifat sebagai bahan pengurus yang dapat mempermudah proses pengeringan, pengontrolan, penyusutan, dan memberi kerangka pada badan keramik. Proses akhir pengolahan pasir kuarsa menjadi gelas dan kaca, yaitu dengan jalan meleburkannya bersama bahan-bahan lain seperti soda dan kapur dalam tungku peleburan. Sebagai bahan pembentuk gelas kontribusi silica (SiO2) sangat dominan. Unsur lain seperti soda (Na2O) dimanfaatkan dalam proses pencairan, sedangkan kapur (CaO dan MgO) berfungsi sebagai stabilisator ketika proses pencairan dan pembentukan kembali gelas dan kaca tersebut. Biasanya, pada saat pengolahan ditambahkan belerang untuk membantu pelunakan gelas ketika dicairkan. Untuk proses pembuatan gelas yang berkualitas tinggi perlu ditambahkan aluminium oksida (Al2O3)dan B2O3 untuk menambah ketahanan gelas. Pemanfaatan pasir kuarsa dalam industri pengecoran, karena memiliki titik leleh lebih tinggi dari logam. Fungsi pasir kuarsa di industri ini adalah sebagai pasir cetak dan foundry. Kondisi pasir kuarsa untuk pasir cetak perlu kriteria khusus, seperti penyebaran dan kehalusan butir, bentuk butir, bulk density, base permeability dan titik mensinter, kadar lempung, tempering water, kuat tekan, kuat geser, dan permeabilitas.Pasir kuarsa pada industri bata tahan api dipakai untuk pembentuk konstruksi bata. Pemakaian pasir kuarsa pada industri lainnya, yaitu sebagai bahan pengeras pada pengolahan karet, bahan pengisi (industri cat), bahan ampelas (industri gerinda), bahan penghilang karat (industri logam), bahan penyaring (industri penjernihan air), bahan baku dalam pembuatan ferro silicon carbide, dan lainnya, seperti dalam industri microchip (elektronika).

Saat ini dengan perkembangan teknologi mulai banyak aplikasi penggunaan silika pada industri semakin meningkat terutama dalam penggunaan silika pada ukuran partikel yang kecil sampai skala mikron atau bahkan nanosilika. Kondisi ukuran partikel bahan baku yang diperkecil membuat produk memiliki sifat yang berbeda yang dapat meningkatkan kualitas. Sebagai salah satu contoh silika dengan ukuran mikron banyak diaplikasikan dalam material building, yaitu sebagai bahan campuran pada beton. Rongga yang kosong di antara partikel semen akan diisi oleh mikrosilika sehingga berfungsi sebagai bahan penguat beton (mechanical property) dan meningkatkan daya tahan (durability). Selama ini kebutuhan mikrosilika dalam negeri dipenuhi oleh produk impor. Ukuran lainnya yang lebih kecil adalah nanosilika bnyak digunakan pada aplikasi di industri ban, karet, cat, kosmetik, elektronik, dan keramik. Sebagai salah satu contoh adalah pada produk ban dan karet secara umum. Manfaat dari penambahan nanosilika pada ban akan membuat ban memiiki daya lekat yang lebih baik terlebih pada jalan salju, mereduksi kebisingan yang ditimbulkan dan usia ban lebih pajang daripada produk ban tanpa penambahan nanosilika. Untuk memperoleh ukuran silika sampai pada ukuran nano/ mikrosilika perlu perlakuan khusus pada prosesnya. Untuk mikrosilika biasanya dapat diperoleh dengan metode special milling, yaitu metode milling biasa yang sudah dimodifikasi khusus sehingga kemampuan untuk menghancurkannya jauh lebih efektif, dengan metode ini bahkan dimungkinkan juga memperoleh silika sampai pada skala nano. Sedangkan untuk nanosilika bisa diperoleh dengan metode-metode tertentu yang sekarang telah banyak diteliti diantaranya adalah sol-gel process, gas phase process, chemical precipitation, emulsion techniques, dan plasma spraying & foging proses (Polimerisasi silika terlarut menjadi organo silika). Sebagai tambahan adalah bahwa utilisasi kapasitas produksi industri silika lokal belum maksimal, baru 50% dari kapasitas maksimal yang ada. Hal ini disebabkan karena produk silika lokal yang dihasilkan belum memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan oleh pasar yaitu silika dengan ukuran sub mikron, sementara hasil produksi silika lokal berukuran = 30 µm. Dengan cadangan bahan baku silika yang melimpah dan potensi pasar yang masih terbuka lebar maka perlu dicarikan solusi agar sumber daya yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal bagi perkembangan industri menggunakan bahan baku pasir silika.

Secara ringkas kegunaan pasir silika:
1. Pada pengolahan air untuk penjernihan dengan menyerap lumpur, tanah, sedimen (mesh 4-30, range: 4-6, 8-16, 16-30)
2. Pada industri bahan abrasit yaitu amplas/sand blasting (mesh 8-30, 16-30)
3. Bahan utama industri bentuk silika tepung/silika flour (mesh 50-2500 umumnya mesh 100,150,200,300,325) yaitu untuk gelas/kaca (SiO2>95%, mesh 200-325), semen (SiO2=21,3%, mesh 200-325), tegel/mosaik/keramik (pembentuk sifat licin/mudah dibersihkan, mesh 200-325), fero silikon, silikon carbide, mikrochip/elektronika (ukuran nano silika)
4. Bahan baku ikutan/campuran dalam industri cor/precast (ukuran mikro silika), perminyakan/pertambangan (mesh 200-325), bata tahan api (refraktori,mesh 200-325)
5. Lapangan futsal (mesh 8-16), Landscapping (mesh 60-100)
6. Bahan campuran sebagai bahan pengeras pada industri karet/ban/cat (ukuran nano silika), gerinda.

sumber: http://www.purewatercare.com

Ikan Patin Bumbu Kuning

Ikan Patin dimasak bumbu kuning atau bumbu kunyit memang sudah bukan hal baru. Hal ini karena kunyit terutama untuk menghilangkan bau amis, yang lebih tinggi dari ikan patin. Bumbu lain yang diperlukan juga mudah, cara memasaknya yang sederhana, serta hasilnya yang pasti disukai oleh Anda dan keluarga.

image

Berikut resep cara memasak ikan patin dengan bumbu kuning atau menggunakan kunyit.

Bahan :

– 2 ekor ikan patin, buang isi perutnya dan bersihkan
– 1 batang sereh, memarkan
– 2 cm lengkuas, memarkan
– 1 sdm gula pasir
– 5 buah belimbing wuluh, belah menjadi 2 bagian
– Jeruk nipis
– Daun salam
– 2 buah Cabe merah besar, belah, buang bijinya, dan iris-iris menyerong
– 2 buah tomat sedang, masing-masing diiris menjadi 4 bagian
– Daun bawang, diiris menyerong (jika suka)
– 1/2 sdt garam atau secukupnya
– Minyak goreng secukupnya
– 400ml santan (jika tak suka santan bisa diganti air)

Bumbu dihaluskan :

– 3 siung bawang putih
– 6 siung  bawang merah
– 1 sdm ketumbar
– 5 cm  kunyit
– 2 biji kemiri

Cara Memasak :

Ambil garam dan perasan jeruk nipis pada wadah, Ulet ikan Patin hingga rata untuk menghilangkan amis, biarkan selama 15  menit.Tuangkan minyak kedalam wajan, panaskan  sebenar, lalu masukkan ikan Patin untuk digoreng hingga matang. Angkat dan sisihkan.
Panaskan sedikit minyak, kemudian tumis bumbu yang dihaluskan hingga mengeluarkan aroma sedap. Tambahkan santan, garam, gula, daun bawang iris, tomat iris, belimbing wuluh  dibelah, cabai merah iris, daun salam, dan sereh.
Masukkan ikan Patin yang sudah digoreng tadi, tutup agar bumbu meresap, dan masak hingga air meletup-letup.
Matikan kompor, dan biarkan dulu sejenak sebelum dihidangkan.

Demikian resep sederhana memasak ikan pating bumbu kuning atau mengunakan kunyit yang lezat dan pasti diukai oleh keluarga Anda.

Sumber: http://resepcaramemasak.org

PENGERTIAN AKLIMASI, ADAPTASI, AKLIMATISASI

Morphology Adaptation

Aklimasi adalah perubahan fisiologis dapat balik yang membantu mempertahankan fungsi dari organisme dalam kondisi lingkungan yang berubah.

A. Pengetian, Arti Definisi Adaptasi

Adaptasi adalah kemampuan atau kecenderungan makhluk hidup dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru untuk dapat tetap hidup dengan baik.

B. Jenis-Jenis Dan Macam-Macam Adaptasi

1. Adaptasi Morfologi
Adaptasi morfologi adalah penyesuaian pada bentuk organ tubuh yang disesuaikan dengan kebutuhan organisme hidup. Misalnya seperti gigi singa, harimau, citah, macan, dan sebagainya yang runcing dan tajam untuk makan daging. Sedangkan pada gigi sapi, kambing, kerbau, biri-biri, domba dan lain sebagainya tidak runcing dan tajam karena giginya lebih banyak dipakai untuk memotong rumput atau daun dan mengunyah makanan.

2. Adaptasi Fisiologi
Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang menyebabkan adanya penyesuaian pada alat-alat tubuh untuk mempertahankan hidup dengan baik. Contoh adapatasi fisiologis adalah seperti pada binatang / hewan onta yang punya kantung air di punuknya untuk menyimpan air agar tahan tidak minum di padang pasir dalam jangka waktu yang lama serta pada anjing laut yang memiliki lapisan lemak yang tebal untuk bertahan di daerah dingin.

3. Adaptasi Tingkah Laku
Adaptasi tingkah laku adalah penyesuaian mahkluk hidup pada tingkah laku / perilaku terhadap lingkungannya seperti pada binatang bunglon yang dapat berubah warna kulit sesuai dengan warna yang ada di lingkungan sekitarnya dengan tujuan untuk menyembunyikan diri.

Proses Aklimatisasi Pada Tebar Benur

Pengertian dasar dari proses aklimatisasi seperti telah disebutkan di atas adalah proses penyesuaian dua kondisi lingkungan yang berbeda (dari hatchery ke perairan tambak) sehingga perubahan kondisi tersebut tidak menimbulkan stress bagi benur. Kegiatan ini perlu dilakukan secara cermat dan penuh kesabaran agar tingkat stress benur terhadap perubahan lingkungan dapat ditekan seminimal mungkin sehingga secara kualitas dan kondisi benur dapat dipertahankan secara optimal.

Tahapan-tahapan yang biasa digunakan dalam proses aklimatisasi mencakup:

Pemindahan benur-benur yang masih dalam kemasan ke perairan tambak. Usahakan agar kemasan-kemasan benur tersebut dikumpulkan pada suatu tempat yang mudah untuk dijangkau di dalam petakan tambak (biasanya di pinggir petakan tambak atau di pojok petakan tambak) yang diberi pembatas sehingga kemasan benur tidak menyebar. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengamatan kondisi dan aktivitas benur selama proses aklimatisasi.

Selama proses ini kemasan benur sebaiknya tidak dibuka terlebih dahulu (kecuali kemasan yang telah digunakan untuk sampling benur) dan biarkan selama beberapa saat di dalam perairan dalam keadaan tertutup. Selanjutnya lakukan pengamatan pada beberapa kemasan benur tersebut, jika di dalam kemasan benur tersebut telah terlihat berembun maka kemasan benur sudah dapat dibuka. Indikator ini menunjukkan bahwa suhu antara perairan tambak dan kemasan benur relatif telah sama. Lakukan hal sama pada kemasan-kemasan benur yang telah menunjukkan indikator yang sama.
Pada saat membuka kemasan benur, lakukan penambahan air tambak ke dalam kemasan benur tersebut secara perlahan dengan menggunakan telapak tangan sehingga sebagian kemasan benur dalam kondisi berada di dalam perairan tambak. Biarkan kondisi tersebut untuk beberapa saat, dan lakukan kegiatan yang sama untuk kemasan-kemasan benur lainnya.

Selanjutnya lakukan pengamatan terhadap kondisi dan aktifitas benur pada beberapa kemasan tersebut. Jika benur-benur di dalam kemasan sudah terlihat secara aktif di pinggir kemasan (pada beberapa kasus benur terlihat konvoi) maka hal ini menunjukkan bahwa benur sudah siap dipindahkan ke dalam perairan tambak. Indikator ini menunjukkan bahwa kondisi kualitas air secara umum antara perairan tambak dan kemasan benur relatif telah sama
Pindahkan benur di dalam kemasan ke perairan tambak secara perlahan-lahan jika hasil pengamatan telah menunjukkan indikator seperti item no.2 di atas. Lakukan kegiatan yang sama untuk kemasan-kemasan benur lainnya.
Lakukan pembersihan perairan tambak terhadap sampah/kotoran yang ditimbulkan oleh proses tebar benur ini agar tidak menimbulkan kendala dalam proses budidaya udang berikutnya.

Secara umum hal yang perlu diperhatikan dalam proses tebar benur selain faktor teknis budidaya adalah faktor kecermatan, ketekunan/kesabaran baik dalam melakukan proses tebar maupun pengamatan terhadap indikator-indikator dalam proses aklimatisasi agar tidak menimbulkan kesalahan dalam pengambilan keputusan terkait dengan teknis budidaya udang.

SUMBER :
– Arber A. 1950. The Natural Philosophy of Plant Form. London: Cambridge University.
– Albaugh TJ, Allen HL, Dougherty PM, Kress LW, King JS: Leaf area and above- and          belowground growth responses of loblolly pine to nutrient and water additions. For Sci 1998, 44:317-328.

Sumber: http://hansa07.student.ipb.ac.id

Kandungan Gizi dan Manfaat Ikan Patin Bagi Kesehatan Tubuh

Sajian Ikan Patin

Apakah anda pehobi ikan, terutama ikan patin ? jika “ya” maka anda termasuk orang berpotensi hidup sehat, karena manfaat ikan patin sangatlah baik untuk kesehatan manusia, oleh sebab itu ikan patin termasuk  jenis ikan yang banyak dipilih untuk dibudidayakan oleh para peternak ikan, hal ini untuk memenuhi banyaknya permintaan pasar. Ikan patin termasuk jenis ikan yang relatif gampang diternakan asalkan kita tahu cara membudidayakannya serta dapat mengenali hama dan penyakit ikan patin yang sering menjadi masalah dalam proses pembesarannya. Seperti halnya jenis ikan lain, ikan patin kaya akan kandungan gizi oleh sebab itu banyak orang yang mengkonsumsi ikan ini sebagai sumber protein kualitas tinggi, vitamin dan mineral. Nilai kandungan gizi yang berupa kadar protein hewani yang terkandung dalam ikan patin memiliki keunggulan relatif lebih besar dari pada protein yang dihasilkan oleh ikan tawar jenis lain. Sumber protein yang tersedia dalam daging ikan patin adalah sekitar 23-28 persen.

Manfaat ikan patin bagi kesehatan ditandai dengan adanya kandungan lemak lebih rendah dibanding ikan jenis lain, terutama dua asam lemak esensial DHA yaitu kira-kira sebesar 4,74 % dan EPA yaitu kira-kira sebesar 0,31 %. Kedua jenis omega-3 asam lemak ini biasanya dihasilkan dari jenis ikan yang hidup di air dingin seperti ikan salmon, ikan tuna, dan ikan sarden. Kadar lemak total yang terkandung dalam daging ikan patin adalah sebesar 2,55 % sampai dengan 3,42 %, dimana asam lemak tak jenuh nya adalah di atas 50 %.  Asam oleat adalah asam lemak tak jenuh tunggal yang paling banyak terkandung di dalam daging ikan patin yaitu sebesar 8,43 %.

Berdasarkan hasil dari penelitian, kandungan gizi di dalam ikan patin yang berupa lemak tak jenuh (USFA sebesar 50 %) sangatlah bagus untuk mencegah terjadinya resiko penyakit Kardiovaskular. Lemak tak jenuh juga bermanfaat untuk menurunkan besarnya kadar kolesterol total dan kolesterol LDL yang terkandung di dalam darah sehingga dapat mencegah dan mengurangi terkena penyakit jantung koroner.

Jika di lihat dari rendahnya kadar kolesterol yang terkandung dalam daging ikan patin ( 21-39mg/100 gram),  maka manfaat ikan patin  sangatlah bagus bagi anda yang sedang menjalankan program diet karena bisa mengurangi asupan kolesterol harian di dalam menu makanan anda.

Sumber: http://www.mancingmania.org

LELE HANYA BUTUH KETINGGIAN AIR KOLAM 35 CM

Ketinggan air kolam Lele 35cm

Hari ini saya berdiskusi sangat panjang mulai jam 3 sore hingga 12 malam dengan seorang master lele di kota Banda Aceh bernama Nandar, beliau adalah seorang perwira Polisi yang berdinas di Polda Aceh yang ikut menggeluti bisnis Budidaya Ikan Lele bersama istri tercintanya sejak 5 tahun yang lalu hingga kini.

Hari ini saya berkesempatan meninjau langsung panen lele di 4 kolam dari 50 kolam miliknya di kawasan pinggiran kota dan sekaligus mengunjungi sebuah Ruko tempat pemasaran ikan lele hasil panen kolamnya dan kolam para mitra setiap hari. Dia juga menyewa 5 lapak dagang ikan di 5 pasar ikan tradisional dengan menempatkan orang-orang kepercayaannya yang berjualan langsung hasil panennya kepada konsumen tanpa melalui perantara pengepul maupun tengkulak.

Menariknya, dia kini memiliki 42 orang petani lele binaannya yang siap ia tampung hasil panen mereka dengan harga tertinggi antara Rp.18.000,- s/d Rp.20.000,- per-Kg dengan sistem pembayaran “Cash” di lokasi kolam petani. Harga itu adalah yang tertinggi saat ini daripada harga yang ditawarkan oleh para pengepul lainnya di kota itu yang masih membeli panen petani lele hanya Rp.17.000,- s/d Rp.17.500,- per-Kg dan itupun seringnya dengan pembayaran tunda (hutang) selama 3-12 hari.

Menurut Nandar, selama ini para pengepul-lah yang telah mematikan harapan dan masa depan para petani lele, karena ulah mereka yang selalu membeli lele konsumsi dengan cara HUTANG pada petani, dan pada umumnya melakukan pembayarannya bertahap, yaitu sedikit demi sedikit. Akibatnya petani lele yang tak memiliki modal kuat untuk melanjutkan budidaya lele pasca panen harus gulung terpal dan banting stir ke bisnis lain, itu semua lantaran pembayaran dari para pengepul yang selalu seret alias macet.

Nandar, adalah salah satu dari dua orang pembudidaya lele di kota itu yang berani membeli hasil panen petani binaannya sendiri dengan cara Cash (bayar kontan) selama 5 tahun terakhir ini dan langsung jemput ikannya di kolam petani dengan dua armada pick-up nya. Pemasaran langsung kepada konsumen dia lakukan karena dahulu sudah pernah menjadi korban para pengepul yang sulit membayar ikan hasil panennya.

Dari amatan kami di lokasi tadi sore, yang juga menarik adalah 50 kolam milik Nandar tidak ada yang tinggi, semua kolam lele milik-nya ketinggiannya hanya 50 cm dengan ketinggian Air Hijau 30-35 cm dan sistem tebar benih lele normal rata-rata 200 s/d 250 ekor per-meter kubik.

Menurut pengalaman dia, benih lele ukuran 5-6 cm atau 7-8 cm memang lebih ideal dipelihara dengan ketinggian air hijau 30-35 cm saja, tujuannya agar nanti banyak menghasilkan ukuran panen yang sama. Alasannya, benih ikan lele tak semuanya mampu mencapai ketinggian pakan yang ditebar di atas permukaan air kolam pada ketinggian air lebih dari 40-70 cm.

Dengan ketinggian air kolam 30-35 cm, maka akan semakin mempermudah bagi benih lele untuk naik mencapai permukaan air kolam saat akan makan pelet, sehingga tidak begitu banyak membuang energi lele agar bisa besar dan berat yang sama pada saat panen dalam 60 hari.

Jika ketinggian air kolam lebih dari 40-70 cm, maka akibatnya tak semua benih lele akan mampu makan lebih banyak, karena umumnya kesulitan mencapai permukaan air kolam secara berulang kali. Karena sesungguhnya lele budidaya itu kegiatannya hanya makan dan tidur.

Nanda sudah pernah menggunakan puluhan kolam dgn ketingian air hingga 70 cm, namun hasilnya kurang memuaskan, saat di sortir terlalu banyak ukuran lele yang belum layak panen dalam 60 hari budidaya.

Untuk menjaga suhu air kolam agar tetap stabil, dia menyarankan agar menggunakan kolam terpal dengan dinding kayu (bukan kolam beton atau tanah), dan pada lantai kolam terpal diberi serbuk kayu hasil gergaji atau sekam padi setebal 10-20 cm serta tetap menghijaukan air kolam.

Khusus untuk pakan lele, Nandar bersama 42 petani binaannya selama ini melakukan pemberian pakan kombinasi antara pelet dan usus ayam atau limbah ikan dari pasar ikan sehingga biaya produksi dapat ditekan serendah mungkin agar mendapatkan keuntungan yang lebih besar, namun tidak mengurangi bobot ikan saat panen.

Strategi dalam 5 tahun terakhir yang ia lakukan adalah, saat penebaran benih ukuran 5-6 cm atau 7-8 cm diberikan pakan pelet pabrik F999 serta 781 (-1) selama 25 hari (bulan ke 1), selanjutnya dari hari ke 26 hingga hari 60 (bulan ke 2) ikan lele sudah bisa diberikan rebusan usus ayam atau limbah ikan dari pasar ikan seperti kepala ikan, sirip, insang dan isi perut ikan yang direbus pada suhu 80-100 derajat celsius, diberikan sebanyak 2 kali sehari hingga masuk masa panen di hari ke 60.

Dari amatan kami ke kolam-kolam Nandar, semua ikan lelenya memang sehat dan gesit dibalik air kolam berwarna hijau. Semoga informasi hasil diskusi dan investigasi ini dapat memberikan alternatif lain dalam Budidaya Ikan Lele di Indonesia.

Penulis:Achmad Jauhari Arie

Sumber: https://www.facebook.com/groups/ikanlelehigienis/permalink/996502340376341/