FB Upload -IMG00364-20130625-2108
Selasa, 23 September 2014

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Akibat warna kulit tak bersih, Jepang menolak ikan patin asal Indonesia. Pasar Jepang lebih memilih ikan patin dari Vietnam yang warna kulitnya lebih bersih dan putih ketimbang ikan patin Indonesia.

Menurut penuturan peneliti dari Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Kelautan IPB, Yon Vitner ikan patin di Indonesia memang berwarna kekuningan. “Ini karena sistem budidaya belum baik dan airnya kurang bersih,” kata Yon, Senin (22/9).

Padahal, lanjutnya, menurut penelitian kandungan protein ikan patin Indonesia lebih tinggi ketimbang ikan patin Vietnam. Yon mengatakan kualitas budidaya harus diperbaiki agar kulit ikan patin lebih cerah.

Ketersediaan air bersih mutlak diperlukan untuk menjaga mutu ikan. Dengan demikian Indonesia mampu menghasilkan produk yang bisa diterima pasar lokal maupun internasional.

Selama ini rerata harga jual ikan patin sangat murah yaitu Rp 12 ribu per kilogram. “Padahal jika dihitung BEP ikan patin tercapai kalau harga jualnya Rp 14 ribu per kilogram,” imbuh Yon.

Kurangnya minat masyarakat Indonesia mengonsumsi ikan patin menjadi alasan rendahnya harga jenis ikan tersebut. Sementara itu di pasar internasional permintaan ikan patin sangat tinggi. Peluang ini seharusnya menjadi celah yang dapat dimanfaatkan oleh Indonesia.

Yon mengatakan para peneliti di litbang IPB pernah melakukan percobaan dengan memotong ikan patin dan membersihkan darahnya. Setelah bersih, ikan diletakkan dalam lemari pendingin. Percobaan tersebut akhirnya dapat mengubah kulit yang tadinya kuning menjadi berwarna putih.

Tetapi Yon mengungkapkan percobaan itu belum dapat dilakukan untuk produksi massal. Karena, pemerintah belum dapat menyediakan infrastruktur dasar berupa listrik dan air bersih yang memadai.

Sumber: Repiblika.co.id