Archive for August 29th, 2014

Produksi Bibit Patin ukuran 2-3 inci

Featured image

Spesifikasi kolam yang digunakan berdinding tembok dengan dasar tanah cadas berlumpur dengan ukuran 6 x 12 meter dan ketinggian 120cm.

Persiapan kolam

  • Pengeringan
  • Perbaikan kebocoran
  • Pengolahan tanah dasar
  • Pembuatan kemalir
  • Pengapuran
  • Pemupukan
  • Pengisian air
  • Pembiakan Moina sp

Pengapuran menggunakan kapur tohor (CaO – Kalsium Oksida) dengan dosis 50 gram/m2.

Pupuk yang digunakan adalah

  • kotoran ayam dengan dosis 500 gram/m2,
  • tepung ikan dengan dosis 50 gram/m2
  • dedak dengan dosis 100 gram/m2

Kolam Tembok
Setelah pemupukan selesai, kolam didiamkan sampai sekitar 4-5 hari, atau sampai terlihat banyak kutu air atau Moina sp. Untuk melihat kehadiran kutu air bisa dilihat pada malam hari dengan cara menerangi kolam dengan senter spot sekitar 2 menit. Bila kutu air sudah melimpah, bagian kolam yang terkena cahaya senter akan terlihat seperti gerimis.

Bila telah yakin kutu air sudah tersedia secara alami dalam kolam, pada pagi atau sore hari dapat ditebar benih patin ukuran BB dengan padat tebar 200 ekor/m2.

Pemeliharaan berlangsung selama sebulan dan akan panen benih ikan Patin ukuran 2-3 inci. Selama pemeliharaan diberikan pakan pelet bubuk dengan kandungan protein diatas 28% sebanyak 30% berat biomasa/hari pada 2 minggu pertama, dan 15% pada minggu berikutnya. Frekuensi pemberian pakan 3 kali dalam sehari, sebelum jam 8 pagi, jam 4 sore dan jam 8 malam. Bila cuaca dingin atau setelah hujan, sebaiknya dosis pakan dikurangi atau tidak diberikan pakan.

Saat panen tiba, lakukan penangkapan dengan jaring sebisa/sebanyak mungkin, sisanya ditangkap dengan seser halus saat air kolam dikuras. Jangan lakukan panen saat kondisi cuaca terik.

Hasil panen dari kolam dengan dasar tanah, diberok selama 1 atau 2 hari.

Semoga bermanfaat.

Kutu Air (Moina sp)

Artemia dan Tubifex masih menjadi andalan pakan ikan tapi ke depan Moina sp. Alias kutu air siap menggantikan keduanya.

Ketergantungan pakan larva ikan pada Artemia dan Tubifex menimbulkan kendala tersendiri dalam usaha budidaya perikanan. Hingga saat ini harga Artemia masih cukup tinggi karena pemenuhannya mengandalkan impor. Harga cacing Tubifex pun ikut merangkak lantaran permintaan dari usaha pembenihan naik. Musim penghujan ikut menambah sulitnya pemenuhan tubifex karena lumpur tempat hidup tubifex terusir air hujan.

daphnia b

Moina sp. atau biasa disebut kutu air oleh petani, berpotensi besar menjadi pakan alami bagi larva ikan. Hasil penelitian Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi yang diketuai Rianasari, menunjukkan, Moina sp. dapat dibudidayakan dan menjadi pakan alternatif bagi larva dan pendederan ikan. Jenis yang berhasil dibudidayakan BBAT Jambi mirip Moina macrocopa yang dikembangkan di Kamboja. Negara yang beribukota Phnom Penh ini berhasil membudidayakan M. macrocopa secara massal dan berkelanjutan.

Moina sp, jenis plankton yang penting sebagai pakan alami alternatif karena ukurannya sesuai bukaan mulut larva ikan. Kutu air ini juga bisa menjadi pakan alami pada pendederan ikan patin. Moina sp. dimasukkan ke kolam pendederan sebagai inokulan pada proses persiapan kolam untuk menumbuhkan pakan alami. Selain itu, peralihan penggunaan Moina sp. sebagai pakan alami untuk larva ikan dan pendederan ikan akan menurunkan biaya produksi.

Pakan alami ini mengandung protein cukup tinggi dan mudah dicerna dalam usus benih ikan. Menurut Darmanto, peneliti pada Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Jakarta, kadar kandungan gizi pada Moina sp. berupa protein 37,38%, lemak 13,29%, abu 11%, dengan kadar air sebanyak 90,6%.

Moina sp. pun berpeluang menciptakan lapangan usaha baru, yaitu budidaya pakan ikan alami. Untuk usaha budidaya, pemenuhan wadah, bahan, dan alat budidaya Moina sp. mudah didapat. Hitungan BBAT Jambi, dengan nilai investasi sebesar Rp42 juta dan biaya operasional sebesar Rp1,427 juta, akan diperoleh keuntungan bersih sebesar Rp1,364 juta per bulan. Usaha ini akan balik modal pada dua setengah tahun masa budidaya.

Panen Setiap Hari

Siklus budidaya Moina sp. hanya 4—5 hari. Hari pertama dan kedua dilakukan pembersihan dan penyiapan wadah budidaya, serta pengisian air, fitoplankton, dan inokulan Moina sp. Wadah yang digunakan berupa bak beton persegi panjang volume 5.000 liter sebanyak 6 buah. Sebelum digunakan bak dibersihkan dan disterilisasi dengan klorin.

Hari ketiga dan keempat adalah masa pemeliharaan. Karena makanan Moina sp. terdiri dari fitoplankton, bahan organik, dan bakteri, maka BBAT Jambi menggunakan bahan organik dan bahan anorganik. Bahan organik terdiri dari tepung ikan, dedak, ikan rucah, tepung kedelai, dan kotoran ayam kering. Sedangkan bahan anorganiknya berupa kapur, urea, dan TSP. Sumber bahan tersebut dikombinasikan menjadi pupuk yang ditambah inokulan Moina sp. dan fitoplankton (air hijau).

Masa panen dan pembersihan bak dilakukan pada hari kelima. Supaya panen setiap hari digunakan 6 buah bak. Lima wadah untuk budidaya, satu bak sebagai tempat stok fitoplankton. Hasil panennya bervariasi dipengaruhi faktor cuaca dan kontaminasi, rata-rata 1.345 g per bak per siklus.

Cuaca, terutama musim penghujan, diduga mempengaruhi kelangsungan hidup Moina sp. Turunnya hujan menyebabkan perubahan suhu yang mendadak dan memicu tumbuhnya Rotifera, sejenis zooplankton parasit dan hama. Rotifera ini bisa mengurangi stok pakan dan bisa mematikan Moina sp.

Windi Listianingsih

Sumber: http://www.agrina-online.com