Archive for November, 2013

Daya Tarik Usaha Pembenihan Ikan Patin

Usaha pembenihan menjadi usaha yang lebih menarik dengan beberapa kelebihan, antara lain:

Kepadatan Tinggi

Kepadatan Tinggi

1. Pembenihan adalah awal siklus dari usaha perikanan.
Ibarat membangun rumah, pembenihan adalah membangun pondasi dasar keberhasilan perikanan budidaya. Pada segmen usaha pembenihan ini kwalitas bibit yang dihasilkan lebih diutamakan dari kwantitas produksi. Oleh karena usaha pembenihan adalah awal siklus usaha perikanan, maka tanpa pembenihan, kegiatan pembesaran tidak dapat berjalan. Mutlak kegiatan usaha pembenihan dibutuhkan.

2. Resiko penjualan tidak terlalu besar
Terkadang hasil dari pembenihan tidak dapat diserap pasar seluruhnya sehingga penjualan harus ditunda. Menunda penjualan bibit Patin tidak berarti akan mengalami kerugian, justru dengan penambahan biaya pakan yang sedikit akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar.

3. Periode singkat
Siklus usaha pembenihan ikan Patin relative singkat, dari mulai 4 hari panen (produksi larva) sampai dengan 2 bulan (produksi ukuran 3inci up). Dengan siklus yang pendek maka perputaran uang akan semakin cepat.

4. Area usaha tidak terlalu luas
Hanya dengan kwalitas air yang baik dan kwantitas yang banyak dengan lahan seluas 3 x 4 meter, usaha pembenihan ikan Patin sudah dapat dimulai untuk memproduksi bibit Patin ukuran 1”+ sebanyak 100.000 ekor.

5. Ikan Patin multi fungsi
Pada saat masih kecil (2” – 4”) ikan Patin dengan tubuh yang berwarna keperakan akan berkilap bila terkena cahaya, untuk kilauan tersebut ikan Patin diberi nama iridescent shark (warna warni, seperti pelangi)

Ikan Patin Albino

Ikan Patin Albino

Baca juga:
KEP-02-MEN-2007 tentang Cara Budidaya Ikan yang Baik
SNI 7471.3-2009 Ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar

Budidaya Ikan Patin Konsumsi

Ikan patin adalah ikan air tawar yang mulai populer dibudidayakan karena permintaan pasar cukup baik, terutama di daerah Jawa Barat (Purwakarta dan Cikarang), Sumatera (Palembang dan Jambi) dan Kalimantan (Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah).

wpid-2013-08-03-09.22.12.jpg

Pelepasan Bibit di desa Cipayung di Cikarang

Salah satu keunggulan ikan patin adalah cara memeliharanya tidak terlalu sulit. Untuk budidaya Patin konsumsi, ikan ini tidak memerlukan air yang terlalu jernih atau air mengalir dan bisa hidup dalam air dengan kandungan oksigen rendah.

Karena itu ikan patin bisa dipelihara di lahan marginal (lahan yang kurang produktif), asalkan ada sumber air. Ada beberapa jenis ikan patin yang dipelihara di Indonesia, yang paling umum adalah ikan patin Siam, tetapi ikan patin asli Indonesia sebenarnya adalah ikan patin Djambal. Jenis patin yang baru adalah Pasopati (Patin Super Harapan Petani).

Untuk kebutuhan konsumsi, Ikan Patin dapat dipelihara di kolam tanah biasa, mulai ukuran 300 sampai 2.000 m2. Bisa juga dipelihara di keramba apung di sungai atau dengan jaring tancap dengan kedalaman 1,5 sampai 3 m.

Jika patin dipelihara di kolam maka kolamnya perlu dipersiapkan.  Persiapan kolam yang biasa dilakukan adalah dengan penebaran kapur (kaptan atau dolomit) dengan dosis 10 sampai 25 gram/m2, diikuti dengan pemupukan sebanyak 500 sampai 600 gram/m2.

Bibit Ikan Patin Ukuran Sangkal

Bibit Ikan Patin Ukuran Sangkal

Benih patin yang ditebar biasanya berukuran 2 – 3 inci (5 – 7,5 cm).  Padat tebar untuk di kolam hanya sekitar 15 sampai 20 ekor/m2. Namun kalau di jaring atau keramba kepadatan bisa sangat tinggi (intensif), yaitu mencapai 100 sampai 200 ekor/m2 dengan ukuran tebar 4- 5 inci (10 – 12,5 cm). Hasil panen di jaring/keramba lebih tinggi dibandingkan kolam.

Kematian Diatas 80% akibat Bakteri Edwardsiella Ictaluri

Vaksin Patin Pertama di Indonesia Kini telah hadir vaksin patin untuk penyakit ESC, protektif, aplikasi mudah, dan harga terjangkau. Penyakit mematikan pada semua umur patin ini ditandai perut membesar dan anus memerah bahkan berdarah Budidaya ikan patin di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Jawa merupakan salah satu usaha budidaya ikan air tawar yang berprospek cerah. “Keunggulan budidaya patin antara lain mudahnya dibesarkan dan memiliki toleransi yang tinggi terhadap berbagai penyakit,” dituturkan Edy Barkat Kholidin Perekayasa Muda dari Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi. Namun, dikatakan Edy, budidaya patin bukannya tanpa ancaman penyakit. Terbukti ditemukan pertama kali kasus kematian massal pada usaha pembesaran dan pendederan ikan patin di Desa Tangkit, Kecamatan Sungai Gelam, Jambi yang disebabkan bakteri Edwardsiella Ictaluri. “Bakteri yang menyebabkan penyakit Enteric Septicemia (ESC) itu menjadi problem baru dalam budidaya ikan patin,“ cetusnya. Penyakit ESC Diterangkan Edi, infeksi bakteri Edwardsiella ictaluri sangat patogen pada ikan patin.“Infeksi E. ictaluri biasanya terjadi pada ukuran kecil (0.2 gram) sampai dengan ukuran konsumsi (300 gram) selama periode musim hujan dari Maret hingga Mei,” jelasnya. Dijabarkan Edi, gejala klinis infeksi bakteri E. Ictaluri pada budidaya ikan patin seperti abdomen membesar dan pendarahan atau kemerahan pada sekitar anus, terdapat bintik putih pada organ dalam misalnya limpa. Lalu, lemah, hilang nafsu makan, warna insang pucat, terkadang mata menonjol dan/atau perut bengkak (dropsy) “Kerugian yang besar bagi para pembudidaya dengan mengakibatkan kematian mencapai 80 – 100%,” sebutnya.

Bintik putih pada organ dalam

Bintik putih pada organ dalam

Abdomen membesar

Abdomen membesar

Lanjutnya, penyakit ini menyerang ikan pada berbagai ukuran. Paling merugikan pembudidaya patin adalah jika penyakit ini menyerang pada ukuran menjelang panen.“Vaksin E. Ictaluripada budidaya ikan patin sebagai salah satu cara pengendalian penyakit ESC,” sebutnya.Vaksinasi ikan patin dengan bakteri E. Ictaluri dilakukan dengan metode perendaman dan penyuntikan. “Serta melalui pemberian pakan bervaksin,” ujarnya. Aplikasi vaksin Dijelaskan Edi, vaksinasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan ketahanan tubuh yang bersifat spesifik melalui pemberian vaksin (imunisasi aktif dan pasif). Aplikasi vaksin untuk pencegahan ESC ini merupakan yang pertama di Indonesia. “Pernah dikembangkan di Amerika Serikat, akan tetapi beda isolat. Vaksin patin yang dikembangkan di AS menggunakan isolat yang sudah dimodifikasi atau dimutasi gen,” sebutnya. Untuk proses pembuatan inaktif vaksin, dituturkan Edi melalui 2 tahap, yaitu reaktivasi bakteri dan kultur bakteri (lihat gambar). Terkait respon pembudidaya terhadap vaksin ini, Ia sebutkan pembudidaya patin sangat menunggu kehadiran vaksin ini. “Sekarang sudah mulai diproduksi massal oleh salahsatu perusahaan obat swasta asal Indonesia,” sebutnya. Untuk harganya disebutkan Edi, sangat terjangkau bagi para pembudidaya ikan Patin. Satu botol 60ml digunakan untuk perendaman 15.000 benih. “Pembudidaya akan jauh lebih besar mendapatkan keuntungan dengan penerapan vaksin ini,” ujarnya.

Untuk mendapatkan Vaksin tersebut bisa menghubungi Erdi TokoLele

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi 15 Juni – 14 Juli 2013

Sumber: http://www.trobos.com/show_article.php?rid=19&aid=3972