Yuk Menyembelih Hewan Qurban Sendiri

Hari Selasa, 15 Oktober 2013, Insya Allah muslimin Indonesia akan melaksanakan shalat ‘Idul Adha di tanah lapang dalam rangka memperlihatkan syiar Islam, dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban.

Disunahkan hewan qurban disembelih sendiri oleh muslim yang berqurban, Rasulullah pun menyembelih hewan qurbannya dengan tangannya sendiri.

Tata cara penyembelihan hewan qurban adalah:
1. Persiapkan pisau yang tajam dan diasah sebelum digunakan

مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ فَكُلْ، لَيْسَ السِّنَّ وَالظُّفْرَ، أَمَّا السِّنُّ فَعَظْمٌ وَأَمَّا الظُّفْرُ فَمُدَى الْحَبَشَةِ

“Segala sesuatu yang memancarkan darah dan disebut nama Allah padanya maka makanlah. Tidak boleh dari gigi dan kuku. Adapun gigi, itu adalah tulang. Adapun kuku adalah pisau (alat menyembelih) orang Habasyah.” (HR. Al-Bukhari no. 5498 dan Muslim no. 1968)

يَا عَائِشَةُ، هَلُمِّي الْمُدْيَةَ. ثُمَّ قَالَ: اشْحَذِيهَا بِحَجَرٍ

“Wahai Aisyah, ambilkanlah alat sembelih.” Kemudian beliau berkata lagi: “Asahlah alat itu dengan batu.” (HR. Muslim no. 1967)

Asah Sebelum digunakan

Asah Sebelum digunakan

2. Merebahkan hewan tersebut dan meletakkan kaki (penyembelih) pada rusuk leher hewan qurban

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, tentang tata cara penyembelihan yang dicontohkan Rasulullah:

وَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلىَ صِفَاحِهِمَا

“Dan beliau meletakkan kakinya pada rusuk kedua kambing tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 5565 dan Muslim no. 1966)

Juga hadits Aisyah ra:

فَأَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ

“Lalu beliau rebahkan kambing tersebut kemudian menyembelihnya.”

3. Pastikan letak/posisi Al-Wadjan, Al-Hulqum dan Al-Mari`
Al-Wadjan adalah dua urat tebal yang meliputi tenggorokan
Al-Hulqum adalah tempat pernafasan.
Al-Mari` adalah tempat makanan dan minuman.

Hewan qurban SAH disembelih apabila
– terputus semua maka itu lebih afdhal.
– terputus al-wadjan dan al-hulqum maka sah.
– terputus al-wadjan dan al-mari` maka sah.
– terputus al-wadjan saja maka sah.

Hewan Kurban

Hewan qurban TIDAK SAH disembelih apabila
– terputus al-hulqum dan al-mari`, terjadi perbedaan pendapat. pendapat yang kuat adalah tidak sah.
– terputus al-hulqum saja maka tidak sah.
– terputus al-mari` saja maka tidak sah.
– terputus salah satu dari al-wadjan saja, maka tidak sah. (Syarh Bulugh, 6/52-53)

Hewan Qurban

Hewan Qurban


4. Membaca BISMILAH ALLAHU AKBAR tatkala hendak menyembelih hewan,
Ini merupakan syarat yang tidak bisa gugur baik karena sengaja, lupa, ataupun jahil (tidak tahu). Bila dia sengaja atau lupa atau tidak tahu sehingga tidak membaca basmalah ketika menyembelih, maka dianggap tidak sah dan hewan tersebut haram dimakan.
Dasarnya adalah keumuman firman Allah :
“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.” (Al-An’am: 121)
Syarat ini juga berlaku pada penyembelihan hewan qurban. Dasarnya adalah hadits Anas z riwayat Al-Bukhari (no. 5565) dan Muslim (no. 1966), bahwa Nabi n berqurban dengan dua kambing kibasy yang berwarna putih bercampur hitam lagi bertanduk:

وَيُسَمِّي وَيُكَبِّرُ

“Beliau membaca basmalah dan bertakbir.”

5. Diperbolehkan berdoa kepada Allah agar sembelihannya diterima oleh-Nya.
Sebagaimana tindakan Rasulullah, beliau berdoa:

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ

“Ya Allah, terimalah (sembelihan ini) dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan umat Muhammad.” (HR. Muslim no. 1967, dari Aisyah ra)

Dengan menyembelih sendiri hewan qurban, maka akan terhindar dari perdebatan mengenai upah potong.
Karena tidak diperbolehkan memberikan upah dari hewan qurban tersebut apapun bentuknya, baik itu kulit, kepala atau bagian lain, sebagai upah kepada tukang sembelih. Namun bila diberi dalam bentuk uang atau sebagian dari hewan tersebut dengan niat shadaqah bukan sebagai upah, maka diperbolehkan.

Dalil dari beberapa perkara di atas adalah hadits Ali bin Abi Tahlib ra, dia berkata:

أَمَرَنِي رَسُولُ اللهِ n أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أُقَسِّمَ لُـحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلَالـَهَا عَلَى الْـمَسَاكِينِ وَلَا أُعْطِي فِي جَزَارَتِهَا شَيْئًا مِنْهَا

“Nabi memerintahkan aku untuk menangani (penyembelihan) unta-untanya, membagikan dagingnya, kulit, dan perangkatnya kepada orang-orang miskin dan tidak memberikan sesuatu pun darinya sebagai (upah) penyembelihannya.” (HR. Al-Bukhari no. 1717 dan 1317)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Advertisements

Silakan Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s