Management By Objective

Pada tahun 2002, sebuah perusahaan multi nasional mempekerjakan seorang professional muda sebagai General Manager atau Kepala Divisi. Beliau membawa sebuah konsep management yang tidak umum diterapkan untuk budaya kerja perusahaan tersebut pada saat itu.

Manajemen yang beliau bawa adalah Management By Objective (MBO) , sebuah konsep management yang dipopulerkan oleh Peter Drucker Ferdinand dalam bukunya yang berjudul The Practice of Management pada tahun 1954.

Management By Objective  (MBO) adalah sebuah sistem manajemen dimana tujuan dari suatu organisasi disepakati oleh manajemen dan karyawan, sehingga keduanya tahu persis jalan yang harus dilalui ke depan.

Tujuan MBO bertujuan untuk
–  efisiensi kerja melalui penetapan sistematis prosedur ,
–  memotivasi karyawan dan komitmennya untuk ikut serta dalam proses perencanaan,
–  perencanaan untuk hasil bukan hanya untuk perencanaan kerja .

Proses MBO dimulai dari menetapkan tujuan khusus oleh manajer bersama bawahan mereka, secara periodik dievaluasi tingkat kemajuan dari tujuan yang disepakati, hasil akhir dievaluasi, dan penghargaan dialokasikan atas dasar kemajuan.

image
Tujuan harus memenuhi lima kriteria
(1)  diatur dalam urutan kepentingannya,
(2)  sedapat mungkin dinyatakan secara kuantitatif,
(3)  realistis,
(4)  saling mendukung satu sama lain.
(5)  sejalan dengan kebijakan institusi,

MBO sangat popularitas selama beberapa waktu tetapi segera jatuh karena dinilai terlalu kaku dan membebani proses administrasi. Akan tetapi konsep dasar yang menekankan pada pengaturan tujuan yang jelas, telah diakui memiliki pengaruh besar bagi kemajuan institusi.

Penyelarasan tujuan masih digunakan di beberapa institusi keuangan, dimana biasanya diawal tahun setiap pegawai akan diminta untuk mengisi formulir target kerja pada tahun berjalan dan akan dievaluasi pada akhir tahun untuk menentukan nilai kinerja kerjanya.

image

Pada umumnya seorang pegawai akan melihat siapa yang mengerjakan (subjeknya), bukan apa yang dikerjakan (objeknya). Sehingga apabila terjadi penyimpangan yang tidak sesuai dengan tujuan perusahaan atau institusi, seperti penggelapan, korupsi dan hal lain yang merugikan perusahaan atau institusi, maka terkadang tidak ada seorang pun yang berani meluruskan apabila subjek yang melakukan adalah atasan atau pimpinan atau preman. Lebih dari itu, banyak pegawai datang ke kantor terkadang tidak tahu akan mengerjakan apa kecuali sekedar memenuhi absensi, pegawai tidak mengerti apa tujuan kelompoknya, divisinya dan institusinya dalam kurun waktu tertentu.

Mungkinkah konsep ini diterapkan kepada ABK dengan tingkat pendidikan seadanya? Harusnya mungkin selama ada keinginan diri untuk berkembang selangkah lebih maju setiap hari setiap saat.

Advertisements

Silakan Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s