Budidaya Ikan Patin di Desa Cipayung

Entah tepat atau tidak penggunaan kata ‘pedaging’ untuk petani budidaya ikan patin yang membeli bibit ikan dengan ukuran 10-15 ekor per kilogram dan dipanen 3 – 4 bulan kemudian saat ikan berukuran diatas 500 gram per ekor.

image

Desa Cipayung di Cikarang Timur banyak dijumpai empang bekas pengrajin genteng. Ukurannya beragam seadanya galian tanah membentuk kolam yang tergenang air.

Kang Uus salah satu petani disana bercerita, bahwa biaya sewa satu kolam ukuran 150 – 200 m2 sekitar 5 juta rupiah pertahun. Kemudian beliau merinci biaya yang dikeluarkan sampai panen

1. Pembelian Bibit 3 kwintal ukuran sangkal (10-15 ekor/kg) @ Rp 12.000/kg, total Rp. 3.600.000
2. Pelet 1 karung, Rp. 250.000 hanya untuk awal pemeliharaan.
3. Limbah ketering 20 mobil pick-up, perminggu 1 mobil @ Rp. 250.000/mobil, total Rp. 5.000.000.

Bibit ikan Patin sangkal (1kg isi 10 - 15 ekor)

Bibit ikan Patin sangkal (1kg isi 10 – 15 ekor)

Pada 20 minggu kemudian saat panen, biasanya dapat menghasilkan ikan Patin konsumsi kisaran 1.4 ton per kolam, dengan harga jual berkisar antara Rp.11.000 – Rp.12.000 /kg. Total panen dalam 20 minggu diatas 15 juta rupiah. Untuk biaya operasinal penangkapan pada saat panen ditanggung oleh pembeli.

Kalau dihitung keuntungan dengan kolam sewa 1.7 juta per musim tanam, 3.6 juta untuk bibit, 5,24 juta untuk pakan maka total biaya yang dikeluarkan sekitar 10,5 juta. Sedang hasil yang didapat untuk satu kolam adalah 15 juta rupiah. Kang Uus yang pekerjaan utamanya adalah pengrajin furniture dari kayu-kayu sisa, membudidaya ikan patin dijadikan kegiatan untuk tambahan modal bagi usaha tetapnya,

No Pain No Gain.

no-pain-no-gain

Disetiap kesuksesan selalu saja ada rintangan, kang Uus menceritakan beberapa permasalahan, katanya kadang ikan yang dipelihara terkena penyakit atau berprilaku aneh.

Kang Uus bercerita pengalamannya, untuk yang berprilaku aneh biasanya akibat salah makan ransum sisa ketring, ada sambel yang ikut dalam ransum. Ini dapat diatasi dengan mensorit dan mencuci ransum sisa ketring sebelum disimpan dalam wadah pakan. Atau bisa juga disebabkan oleh pemberian makan pada waktu yang salah. Misalkan saat panas yang terik, atau setelah hujan lebat.Kalau untuk gejala ikan sakit,seperti berkeliaran di atas permukaan air, atau menggantung, kang Uus kurang faham cara mengobatinya.
Permasalahan lain adalah saat pengadaan benih ukuran sangkal, sekarang  ini belum ada kesepakatan antara penjual dan pembeli. Kang Uus bercerita, katanya penjual tidak berkenan untuk menimbang bibitnya sebelum bibit dilepaskan ke dalam empang. Anehnya lagi pembeli juga tidak diperkenankan melihat menjual menimbang di tempat penjual. Yang diinginkan penjual saat benih ukuran sangkal sampai di kolam pembeli, langsung dilepas dan pembeli membayar sesuai tagihan.Sebuah cerita yang aneh, tapi kang Uus bercerita penuh keseriusan.Kalau boleh kami saran untuk pembelian bibit patin sebaiknya dihitung perekor saja dari mulai ukuran 3 inci sampai ukuran sangkal. Banyak keuntungan dengan menghitung perekor

  1. Pembeli dan penjual sama-sama memastikan jumlah ikan,
  2. Bibit ikan tidak stress atau terluka saat proses penimbangan,
  3. Ikan lebih sehat

“Kang Uus, coba lihat 6,000 ekor bibit ikan 4 – 6 inci yang baru saya jual, bibit ikan berenang sehat, gak ada satu ekorpun yang mengambang”

Perlu diketahui oleh pembeli bahwa sudah menjadi standard pengangkutan bibit ikan, sebelum dilakukan pengangkutan atau pengepakan selalu dilakukan proses pemberokan atau ikan dipuasakan, minimal 1 hari sebelum diangkut. Tujuannya untuk menjaga kwalitas ikan sampai dikolam pembeli. Bila bibit ikan yang diterima pembeli dalam kondisi sehat (walau sedang puasa) maka akan mudah bagi pembeli untuk membudidayakan ikan dengan tidak terlalu banyak kendala.

Dengan menerapkan standard pengangkutan maka terjawab cerita aneh penjual yang tidak mau menimbang barang dagangannya. Bagai mana pedagang bibit ikan harus menimbang ikan yang sedang puasa ? pasti terjadi penyusutan berat timbangan, yang pasti merugikan penjual.

Ada trik untuk mencari keuntungan penjual dengan cara bibit ditimbang, alih-alih bibit dipuasakan sebelum diangkut, ini malah diberi makan potongan usus ayam atau sosis, dengan maksud timbangan akan meningkat dengan harga pakan Rp. 2.000,-/kg dan harga jual bibit Rp. 12.000,-/ekor, akibatnya banyak ikan keracunan amoniak selama perjalanan yang mengancam kesehatan ikan, bahkan menjadi sebab kematian jumlah besar selama pengangkutan.

image

Cara terbaik adalah sepakati ukuran bibit dan harga perekor bibit, hitung sama-sama antara penjual dan pembeli, ekor per ekor. Penjual senang pembeli senang, ikanpun senang.

EmpangQQ.COM

Advertisements

12 thoughts on “Budidaya Ikan Patin di Desa Cipayung

  1. Pagi Bos,

    artikel nya bagus, cerita yang menurut bapak aneh itu memang begitu kenyataan yang dialami, untuk pemula para pemasok sangkal membuat aturan sendiri dengan tidak mengizinkan pembeli sangkal/bibit untuk melihat jumlah timbangan dengan alasan ikan akan stress dan kemungkinan mati bila ditimbang ulang.

    Perhitungan hasil panen yang didapat dengan menanam ikan sebanyak 3 kwintal seharusnya tidak hanya sejumlah yg didpt kemaren, dengan asumsi :

    10 ekor/kg * 300 kg = 3.000 ekor, tapi yang dihasilkan untuk ikan ukuran +/- 1kg hanya sebanyak 1.400 ekor (itu dihitung manual ketika diangkat/panen), sisa 3.000-1400 = 1.600 ekor, diperkirakan ketika panen ikan yg dibawah 1kg/ekor tidak sampai jumlahnya sekitar 1.600 ekor. mungkin hanya ada 500ekor..sedangkan ikan yg mati selama pemeliharaan 4 bulan hanya 14 ekor, selisih banyak di timbangan itu menurut saya yg membuat keuntungan hasil panen hanya untung sedikit, tetapi saya bersyukur tidak mengalami kerugian. Pembelian sangkal dgn tidak menimbang kembali ibarat membeli kucing dalam karung, untuk itu saya beruntung menemukan alamat bapak di internet sehingga saya bisa beli bibit yang bagus dan dgn jumlah yg benar. mudah2an panen kedepan saya bisa mendapatkan lebih baik lagi. Target saya dengan bibit 6.000 ekor saya harus bisa panen 6 ton atau lebih..doain ya pak..hehehe

    Mohon saran dari Bapak, berhubung saya sudah sewa empang yg sebelah, tetapi bibit masih 6.000 ekor, sebenarnya berapa jlh ideal bibit yg ditanam dgn kapasitas empang sebesar itu? terimakasih

    salam

    ema

    ________________________________ Dari: BIBIT PATIN Kepada: ema_ngl@yahoo.com Dikirim: Kamis, 29 Agustus 2013 0:09 Judul: [New post] Budidaya Ikan Patin Pedaging

    WordPress.com Shidqi posted: “Entah tepat atau tidak penggunaan kata ‘pedaging’ untuk petani budidaya ikan patin yang membeli bibit ikan dengan ukuran 10-15 ekor per kilogram dan dipanen 3 – 4 bulan kemudian saat ikan berukuran diatas 500 gram per ekor. Desa Cipayung di Cikarang Ti”

    • Malam Ito,

      Waduh target panennya terlalu tinggi, untuk survival rate (SR), FAO saja menetapkan 60-70 % untuk bibit patin usia 2 bulan atau lebih. Di Filipina menetapkan angka 85%. Sedangkan Aquaculture Stewardship Council (ASC) menetapkan survival rate diatas 80% maka sudah memenuhi standard budidaya Patin yang berhasil.

      Menurut ASC bila kematian lebih tinggi dari 20%, maka hal yang perlu dilakukan salah satu dari berikut:
      a. Perlu pendamping dari dinas perikanan untuk meningkatkan kesehatan ikan
      b. Beli bibit yang terjamin kesehatannya,
      c. Melepas bibit yang lebih besar lagi.

      Saran saya, dari 6,000 bibit Patin ukuran 4-6 inci tersebut, disortir saat sudah banyak yang masuk ukuran sangkal (10-15 ekor per kilogram), ikan yang berukuran besar dilepaskan dikolam yang baru disewa, kalau tidak salah lebih besar ya.

      Semoga sukses,

      Salam,

  2. kalau mau beli ikan konsumsinya bisa tidak? 1 kg sekarang harganya berapa? perjalananan menuju lokasi gimana kalau dari stasiun?

Silakan Tinggalkan Pesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s