Archive for June 10th, 2013

Atasi Bakteri Ikan Dengan Tanaman Obat

Potensi budidaya ikan tawar cukup besar. Permintaan domestik maupun ekspor cukup besar. Pada 2006 saja, ekspor perikanan budidaya Indonesia mencapai 1.329 juta ton. Nilainya mencapai US$21 miliar atau sekitar Rp 18,9 triliun.

Namun budidaya ikan air tawar dihadapkan pada beberapa kendala. Salah satu kendala penyebab kegagalan budidaya ikan air tawar adalah penyakit. Penyakit yang menyerang ikan tropis tawar umumnya adalah bakteri.

Beberapa penyakit bakterial yang menginfeksi ikan adalah Aeromonas sp, Pseudomonas sp, Staphylococcis sp, dan Streptococcus sp. Bahkan pada 1980, wabah penyakit yang disebabkan Aeromonas hydrophila menyebabkan kematian 82.288 ikan di Jawa Barat.

Tak hanya itu, pada 2005, sebanyak 47 ton ikan gurame dan 2,1 juta ekor benih gurame yang siap dipasarkan mati disebabkan penyakit serupa di Lubuk Pandan, Sumatera Barat.

Berbagai usaha dilakukan untuk mengatasi masalah penyakit ikan tropis tawar. Penanganannya dari mulai menciptakan lingkungan optimal, karantina, vaksinasi, disinfeksi wabah, hingga penggunaan antibiotik.

Zainal Abidin, mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang mengikuti lomba karya tulis tingkat nasional PT. Djarum menilai penggunaan antibiotik yang berlebihan justru akan merugikan.

 Khasiat Tanaman Obat untuk Ikan
       
 No.
Bahan Dosis
Khasiat
 01.
Bawang putih  25mg/l Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan patin
 02. Daun sirih  2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele
 03. Daun jambu biji  0,2gr/60ml
Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele
 04. Daun sambiloto  2gr/60ml Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan lele
 05. Daun jombang       dan ketapang
 60gr/l Obati serangan Aeromonas hydrophila pada ikan patin

Pemberian antibiotik dengan dosis yang tidak tepat dan dilakukan terus menerus dapat pula menyebabkan pencemaran lingkungan. Selain itu, terjadi resistensi pada bakteri. Dampak lebih jauh, ikan-ikan yang mengandung antibiotik melebihi standar tidak laku untuk diekspor. Pasalnya beberapa negara Eropa menerapkan standar antibiotik yang aman.

Zainal melihat bahwa Indonesia sebagai negara tropis memiliki kekayaan tanaman yang berpotensi menjadi obat. Banyak jenis tanaman yang mengandung senyawa yang bersifat antimikroba. Sejumlah tanaman mengandung senyawa bersifat bakterisidal (pembunuh bakteri), dan bakteristatik (penghambat pertumbuhan bakteri).

Salah satu alternatif penanggulangan penyakit ikan air tawar yang aman adalah dengan menggunakan tanaman obat. Fitofarmaka yang dapat dijadikan pengganti antibiotik untuk mengatasi penyakit ikan air tawar adalah bawang putih (Allium sativum), dan daun ketapang (Termmalia cattapa).

Bahan lain yang dijadikan bahan antibiotik adalah daun sirih (Piper betle L), daun jambu biji (Psidium guajava L), jombang (Taraxacum officinale) dan daun sambiloto (Androgaphis paniculata).

Dari beberapa percobaan, fitofarmaka terbukti efektif mengatasi penyakit ikan air tawar. Zainal mengatakan bahwa fitofarmaka untuk budidaya ikan tropis tawar di Indonesia memiliki beberapa keuntungan.

Pertama, fitofarmaka menjadi bahan alami pengganti antibiotik untuk pengendali penyakit yang disebabkan bakteri.

Kedua, fitofarmaka merupakan bahan ramah lingkungan, mudah hancur, dan tidak menimbulkan residu pada ikan dan manusia.

Ketiga, bahan fitofarmaka mudah diperoleh dan tersedia cukup banyak.

Keempat, fitofarmaka harganya ekonomis, dan sangat murah. (Drd/S-4)

Original : Suplemen Media Indonesia Edisi April 2009

Sumber : Sekolah Tinggi Perikanan

Mengapa bibit ikan tidak sehat?

Mengapa bibit yang baru dibeli, banyak yang sakit?
Apakah karena dikirim dari suatu daerah tertentu?

Kadang pertanyaan tersebut muncul dibenak pembudidaya yang baru mulai merintis usaha dibidang perikanan.

Pembeli biasanya menghendaki bibit dengan ukuran seragam. Untuk mendapat ukuran yang seragam itu penjual akan melakukan penyortiran, yang biasanya menggunakan bak sortir, ada pula yang menggunakan jaring sortir. Pada proses penyortiran ini biasanya akan berdapak pada kesehatan ikan bila tidak dilakukan dengan hati.
Untuk ikan yang bersisik seperti gurame, bawal, nila dan yang lainnya, bila ada satu sisik yang terkelupas dan belum sempat diobati, lalu langsung masuk ke kolam budidaya tanpa masuk ke kolam karantina. Maka besar peluang bibit terjangkit parasit seperti cotton wool (jamur) atau trichodina (ban truk).

Cotton Wool

Cotton Wool

Trichodina

Trichodina

Biasanya pembeli (pembudidaya) belum memiliki kolam karantina, untuk itu sangat penting membeli bibit ikan dari penjual yang sudah melakukan pengobatan dan karantina minimal 3 hari sejak dilakukan penyortiran.

Penggunaan antibiotik didunia perikanan adalah hal yang lumrah. Namun penggunaannya sebaiknya dengan cara yang bijak.
Seperti halnya manusia, bila terkena batuk atau radang tenggorokan, sebagian orang meyakini Amoxilin 10 butir dapat menyembukan. Sebagian lagi cukup dengan jeruk nipis plus kecap, atau rebusan daun sirih dapat menyembuhkan penyakit yang sama.

Dalam kasus lain misalnya, seorang pembudidaya gurame membeli telur umur 3 hari, dimana telur sudah menetas dan sudah terlihat buntut halus. Saat ikan dikemas untuk pengiriman jarak jauh untuk plastik 5 kg sebaiknya diisi telur gurame kurang dari 5.000 ekor. Bila keadatan telur berlebih maka pada saat ikan berusia 5 hari akan banyak terlihat ikan tidak normal, bengkok ekor belakang.

Ada beberapa presepsi yang kurang benar dikalangan pembudidaya. Mereka menarik kesimpulan dari apa yang mereka alami, bahwa bibit ikan Patin dari daerah B ‘katanya’ kurang bagus. Pembudidaya dari daerah lain banyak yang bilang, bibit Gurame dari daerah A ‘katanya’ tidak cocok untuk dibudidayakan di daerah B. Daerah tempat budidaya tidak ada hubungannya dengan kwalitas atau kesehatan bibit ikan.

Yang pasti kondisi airlah yang sangat mempengaruhi kesehatan ikan. Unsur  air dalam kolam budidaya seperti kadar oksigen (DO), kesadahan, kadar amoniak, pH, suhu, kadar logam berat selalu terjaga pada ambang batas normal. Selain itu kehadiran parasit, bakteri serta virus dalam kolam budidaya. Tidak kalah penting adalah penanganan bibit saat panen harus dilakukan dengan hati-hati.

Sementara kwalitas bibit ikan dipengaruhi oleh cara berbudidaya.

Secara umum kwalitas dan kesehatan bibit tidak dipengaruhi oleh daerah pembudidaya. Lebih kepada cara berbudidaya yang baik dan benar.

Salam.
empangqq.com