Archive for June, 2013

Bersyukur Atas Segala Nikmat

animated_water

Air adalah sumber daya alam yang paling berharga yang sangat diperlukan oleh makhluk untuk memenui kebutuhan hidupnya. Air di bumi ini sekitar 95% adalah air asin sedangkan 5% berupa airtawar, hal ini tentu saja menjadi perhatian yang sangat penting mengingat keberadaan air yang bisa dimanfaatkan terbatas sedangkan kebutuhan manusia tidak terbatas sehingga perlu suatu pengelolaan yang baik agar air dapat dimanfaatkan secara lestari. Bagaimana kita mengelola air hari ini akan mempengaruhi hampir setiap aspek masa depan kehidupan kita.

Dalam pembibitan ikan sistem tertutup kebutuhan air membutuhaan air setidaknya 250.000 liter per satu kali siklus produksi. Kalau satu unit aquarium ukuran 50 x 100 x 200 cm digunakan sebagai media budidaya bibit ikan Patin, maka diperlukan air sebanyak 800-900 liter per aquarium, bila menggunakan 85 unit aquarium dengan ukuran yang sama maka air yang diperlukan sekitar 70.000 liter air. Kurang lebih setara dengan 2 kali muatan truk Box Tronton ukuran box  6.85 x 2.40 x 2.10 meter.

Padahal dalam jangka waktu budidaya dari mulai tebar telur sampai dengan panen ukuran ¾ inci setidaknya perlu 3 kali 70.000 liter kebutuhan air, yaitu untuk proses penggantian air setelah penyiponan, proses pencucian pakan dan kebutuhan pengisian air saat penjualan hasil panen.

An Nahl - 10

Terkadang terasa miris, manakala daerah lain kekeringan, sulit mencari sumber air, sedangkan kami bersyukur dapat kesempatan hidup didaerah yang mudah mendapatkan air (setidaknya sampai dengan saat ini).  Ya setidaknya sampai dengan saat ini, sampai Yang Maha Kuasa menentukan takdir lain. Sampai kami sekampung, sekelurahan, seprovinsi, senegeri ini melakukan ke dzaliman yang nyata (menjadi musyrikin)

Huud - 44

Semoga kita semua dapat menggunakan air dengan bijak dan seperlunya, dan semoga keimanan tetap dihati kita, tidak mempersekutukan Dia, ALLAH Ta’ala, dengan yang lain.

Percepatan Industrialisasi Perikanan dan Kelautan

image

Pembangunan Kelautan dan Perikanan yang telah dilaksanakan selama ini telah membawa hasil yang cukup menggembirakan, akan tetapi perubahan tatanan global serta nasional yang berkembang dinamis, menuntut adanya percepatan pembangunan Kelautan dan Perikanan.

Oleh karena itu, dengan mengedepankan empat pilar strategi pembangunan sosial-ekonomi, yaitu :
– peningkatan produksi,
– menekan angka kemiskinan
– menciptakan lapangan kerja
– menjaga kelestarian lingkungan,

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melaksanakan kebijakan percepatan industrialisasi kelautan dan perikanan.

“Industrialisasi dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah produk kelautan dan perikanan, sekaligus meningkatkan daya saing yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan teknologi,” demikian yang diungkapkan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C Sutardjo,

Untuk mendukung kebijakan industrialisasi kelautan dan perikanan, terdapat 7 (tujuh) kegiatan yang harus dilakukan. Yaitu:

1. Peningkatan nilai tambah produk perikanan, dengan harapan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

2. Peningkatan daya saing produk perikanan, melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi.

3. Kodernisasi sistem produksi hulu dan hilir, dengan memperhatikan seluruh rantai nilai (value chain).

4. Memperkuatan pelaku industri perikanan, melalui peningkatan jumlah dan kualitas industri perikanan serta pembinaan hubungan antar entitas sesama industri maupun industri dengan konsumen.

5. Meliputi kegiatan yang berbasis komoditas, wilayah dan sistem manajemen, karena industrialisasi difokuskan pada komoditas unggulan sesuai dengan permintaan pasar. Sementara basis wilayah dan sistem manajemen dilakukan agar pelaksanaan program industrialisasi dapat terintegrasi, sesuai dengan sebaran sumberdaya alam yang ada.

6. Masalah keberkelanjutan, dengan mempertimbangkan pemanfaatan sumberdaya perikanan secara optimal disatu sisi dan perlindungan terhadap sumberdaya perikanan dan lingkungan disisi lain.

7. Transformasi sosial, terjadi karena adanya perubahan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri yang modern, baik dalam berfikir maupun berprilaku sesuai karakteristik masyarakat industri,” paparnya.

Sumber : inilah.com

POTENSI IKAN PATIN DI KECAMATAN CIKARANG TIMUR KAB. BEKASI

Kecamatan Cikarang Timur merupakan salah satu dari 23 kecamatan yang ada di Kabupaten Bekasi. Walaupun merupakan daerah penyangga ibukota Jakarta, tetapi potensi lahan usaha tani di Kecamatan Cikarang Timur masih cukup besar. Desa Cipayung yang berada di Kecamatan Cikarang Timur juga merupakan daerah potensial pertanian, karena lahan sawahnya masih cukup luas yaitu 395 Ha yang berpengairan teknis dan 353 Ha merupakan daerah dataran, selain itu 70% penduduknya masih berusaha di bidang pertanian, seperti petani tanaman pangan (padi), peternak domba/sapi dan peternak ikan. Desa Cipayung sendiri sebenarnya adalah daerah subur dengan jenis tanah podsolik merah dan alluvial kelabu, petani di sana lebih banyak menggunakan lahan-lahan tersebut untuk berusahatani tanaman pangan yaitu padi sawah. Namun ada sebagian kecil tanah di sana bersifat lempung/liat, sehingga apabila digunakan untuk menanam padi kurang cocok, karena perbandingan antara lapisan liat/lempung, pasir dan debu tidak seimbang, yang berakibat tidak terserapnya makanan/pupuk dengan baik. Oleh sebab itu banyak warga di Desa Cipayung menggunakan lahan-lahan tersebut untuk pembuatan batu bata, karena memang kondisi tanahnya cocok untuk pembuatan bata, dan jika dianalisis pun, usaha pembuatan batu bata sangat menguntungkan.

Pada awalnya lahan-lahan tanah bekas galian batu bata tersebut dibiarkan terbengkalai, tapi akhirnya ada cara untuk mengisi kolam-kolam bekas galian batu bata tersebut yaitu dengan menanam ikan, salah satu ikan yang dibudidayakan di bekas galian tersebut adalah ikan patin.

Pemilihan Induk

Pemilihan Induk

Ikan Patin (Pangasius pangasius) merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan panjang, berwarna putih seperti perak, punggung berwarna kebiru-biruan. Kepala ikan patin relatif kecil, mulut terletak di ujung kepala agak ke sebelah bawah (merupakan ciri khas golongan catfish). Pada sudut mulutnya terdapat 2 pasang kumis pendek yang berfungsi sebagai peraba. Ikan patin banyak dibudidayakan di Desa Cipayung, Desa Tanjung Baru dan Desa Jatibaru Kecamatan Cikarang Timur karena mempunyai keunggulan antara lain: tahan terhadap kekurangan O2, karena mempunyai labirin seperti juga yang dimiliki oleh ikan lele, gurame dan tembakang. Selain itu ikan senang hidup pada kedalaman +/- 3 m, yang banyak terdapat pada kolam-kolam bekas galian batu bata. Ikan patin yang banyak dibudidayakan di sini adalah berasal dari varietas siam dan patin jambal, karena lebih tahan terhadap penyakit dan telurnya banyak, sehingga lebih menguntungkan. Budidaya ikan patin dimulai dengan menebar benih ikan ukuran 3 inch yang diberi pakan berupa pelet sampai umur 2 bulan, setelah itu diberi pakan limbah makanan/catering. Setelah berumur 6 bulan, ikan-ikan tersebut disortir dengan diambil yang beratnya lebih dari 0,5 Kg, setelah itu setiap sebulan sekali disortir lagi sampai habis. Ada satu sisi yang cukup menggiurkn bagi para peternak ikan patin, yaitu penggunaan limbah catering sebagai pakan, karena untuk daerah Bekasi sendiri limbah catering cukup murah harganya, bahkan sebelum booming nya budidaya ikan patin, limbah catering dapat diperoleh dengan gratis, sehingga dengan rendahnya biaya pakan akan mengurangi biaya produksi dan keuntungan maksimalpun dapat diperoleh. Keberhasilan beberapa peternak dalam membudidayakan ikan patin seperti Bapak Sadar dari Desa Jatibaru dan Bapak Udin dari Desa Cipayung memberikan motivasi tersendiri bagi para peternak yang lain untuk membudidayakan ikan patin secara lebih serius, karena permintaan ikan patin cukup besar yaitu sekitar 500.000 Kg/bulan, permintaan tersebut selain untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal juga untuk di jual ke daerah Karawang, Bandung, Lampung dan Jakarta. Sampai saat ini di Desa Cipayung terdapat +/- 200 peternak ikan patin dengan luas kepemilikan kolam ikan antara 500 sampai dengan 3.000 m2 dan setiap peternak rata-rata memiliki 2 sampai 3 kolam ikan patin. Karena kesamaan kebutuhan dan untuk lebih memudahkan dalam berusaha tani maka para peternak ikan patin membentuk kelompok tani yaitu di Desa Cipayung kelompok tani Mekar Mukti yang diketuai oleh Bapak Kari sedangkan di Desa Jatibaru terbentuk kelompok tani Berkah Jaya yang di ketuai oleh Bapak Sadar dan pada tahun 2010 memperoleh dana bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP). Pada akhirnya, dukungan beberapa pihak seperti Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Pemerintah Kecamatan Cikarang Timur, Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bekasi, Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan Kehutanan dan Ketahanan Pangan (BP4KKP) Kabupaten Bekasi, serta para stakeholder tentunya akan sangat membantu pertumbuhan dan perkembangan ikan patin di Kecamatan Cikarang Timur pada khususnya, sehingga harapan akan kesejahteraan petani/peternak akan segera tercapai dan menjadikan Kecamatan Cikarang Timur sebagai sentra budidaya ikan patin juga akan terwujud.

 

(Nurlita, S.Pt. THL-TBPP Kecamatan Cikarang Timur Kabupaten Bekasi)

source: deptan.go.id

BUDIDAYA PATIN MENUJU ERA INDUSTRIALISASI

BUDIDAYA PATIN

MENUJU ERA INDUSTRIALISASI

EmpangQQ - Farm-II

Industrialisasi Bibit Patin

“Potensi lahan dan sumberdaya di Indonesia untuk budidaya patin sangat bisa diandalkan untuk dapat menyamai produksi patin di Vietnam, bahkan apabila kita bisa memanfaatkan dan menerapkan teknologi yang kita miliki, produksi patin Indonesia bisa melebihi Vietnam. Seperti Sungai Mekong di Vietnam, Sungai Batanghari di Jambi akan mampu menjadi salah satu sentra produksi patin di Indonesia”, demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, pada saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupatan Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, Jum’at (3/5).

Kabupaten Tanjung Jabung Timur adalah salah satu Kabupaten di wilayah provinsi Jambi yang terletak di pantai timur Sumatera. Sebagai salah satu wilayah yang dilalui oleh aliran Sungai Batanghari, Kabupaten Tanjung Jabung Timur memiliki potensi untuk pengembangan budidaya patin. “Salah satu sistem budidaya ikan patin yang dapat dikembangkan di wilayah kabupaten ini adalah sistem budidaya ikan patin kolam dalam pasang surut. Sistem ini memanfaatkan adanya pasang dari sungai batanghari untuk mengisi kolam di sepanjang aliran sungai sekaligus melakukan pergantian air pada saat surut. Dengan adanya dua kali pasang surut di sungai batanghari, maka kualitas air kolam akan terjaga sehingga ikan patin tumbuh lebih cepat”, ungkap Slamet.

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) akan mengembangkan budidaya patin dengan sistem tersebut di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Lokasi yang akan dijadikan percontohan terletak di Kecamatan Sabak Timur. Bekerjasama dengan Pemerintah Propinsi Jambi dan Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur, DJPB akan mencetak 1 hektar lahan menjadi dua kolam percontohan patin kolam dalam dengan sistem pengairan pasang surut. “Tujuan dari percontohan ini adalah menerapkan sistem budidaya baru dengan memanfaatkan teknologi dan sumberdaya alam yang ada di Jambi, dengan tujuan akhir peningkatan produksi patin”, tambah Slamet.

Serapan produksi patin di provinsi Jambi saat ini cukup terbantu dengan adanya Unit Pengolahan Ikan (UPI) yang memiliki kapasitas pengolahan patin sebesar 5 ton per hari. Apabila kapasitas ini sudah terpenuhi, pemerintah propinsi Jambi mempunyai rencana untuk mengembangkan UPI di sekitar lokasi pengembangan budidaya patin kolam dalam dengan sistem pasang surut, sehingga akan mempermudah akses pemasaran hasil produksi patin.

Produksi Bibit Patin Berkwalitas

Produksi Bibit Patin Berkwalitas

Menuju Industrialisasi

Patin yang merupakan salah satu komoditas utama dalam program industrialisasi perikanan budidaya akan terus dipacu peningkatan produksinya dari tahun ke tahun. “Produksi patain harus terus ditingkatkan,melimpahnya sumberdaya perairan seperti sungai, danau, waduk maupun perkolaman, kegemaran masyarakat yang suka mengkonsumsi ikan patin serta peluang pasar ekspor yang cukup besar, menjadikan patin sebagai komoditas yang pantas dikembangkan dan dibesarkan melalui program industrialisasi” jelas Slamet.

Untuk mendukung peningkatan produksi patin, salah satu hal yang perlu dilakukan adalah ketersediaan pakan, induk unggul dan benih bermutu. “Untuk Induk dan benih, Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi telah mengembangkan benih patin siam yang produksinya bagus dan dagingnya putih. Hal itu berbeda dengan daging patin lokal yang cenderung berwarna merah” ungkap Slamet. Sedangkan untuk pakan, Pemerintah propinsi Jambi berencana untuk membangun pabrik pakan untuk mendukung ketersediaan pakan, khususnya untuk wilayah Jambi. Slamet menambahkan bahwa ini merupakan wujud kepedulian dari pemerintah daerah terhadap perkembangan perikanan budidaya dan juga terhadap kesejahteraan para pembudidaya.

Kerjasama pembangunan pabrik pakan ini akan melibatkan pemerintah baik pusat maupun daerah, Asosiasi Pembudidaya Patin Jambi (AP2J), Swasta dan juga perbankan. “Sinergi dan kerjasama ini akan terus dijalin untuk bersama memberikan yang terbaik bagi kemajuan perikanan budidaya dan mendorong pada peningkatan kesejahteraan masyarakat”, pungkas Slamet.

Narasumber :

1. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya
Dr. Slamet Soebjakto, M.Si.

2. Direktur Produksi Ditjen Perikanan Budidaya
Ir. M. Abduh Nurhidayat, M.Si.

 

Sumber: http://www.kkp.go.id

 

Perikanan Budidaya Baru Digarap 11%

Potensi perikanan budidaya di Indonesia baru dimanfaatkan sekitar 11%, sehingga terbuka lebar untuk dioptimalkan agar produksi perikanan naik signifikan.Hal itu dikatakan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo dalam seminar Outlook Perikanan 2012 bertajuk Industrialisasi Perikanan Budidaya; Peluang dan Tantangan Bagi Usaha Budi Daya di Jakarta, Rabu (18/1).

Sharif memaparkan, potensi perikanan budidaya mencapai lebih dari 9,58 juta hektare, tetapi pada 2010 yang tecatat baru dimanfaatkan seluas 1,11 juta hektare.

Menurut dia, potensi perikanan seluas 9,58 juta hektare itu terdiri atas potensi tambak 1,22 juta hektare dan potensi budi daya laut seluas 8,36 juta hektare.

Produksi Bibit Patin Berkwalitas

Produksi Bibit Patin Berkwalitas

“Potensi perikanan budi daya tersebut meliputi budidaya laut, budi dayatambak, budi daya kolam, budi daya keramba, budi daya jaring apung dan budi daya sawah,” kata dia

Namun, menurut Sharif, meski pemanfaatan potensi perikanan budidaya belum optimal, produksi perikanan budidaya menunjukkan kenaikan signifikan dari produksi yang tercatat 4.78 juta ton tahun 2010 naik menjadi sekitar 6,97 juta ton pada 2011.

Dia menjelaskan, peningkatan produksi perikanan tersebut baik perikanan budi daya maupun tangkap belum mampu mencukupi permintaan dalam negeri. Permintaan itu termasuk dari industri pengolahan perikanan untuk dijadikan bahan baku.

“Dari kebutuhan bahan baku pemindangan saja yang sebanyak 157.838 ton per bulan, saat ini hasil produksi ikan tangkap nasional untuk jenis ikan pindang hanya sekitar 76.434 ton per bulan. Artinya, terdapat kekurangan bahan baku ikan pindang sekitar 5137%,” kata dia.

Sharif mengemukakan, Kementerian Kelautan dan Perikanan tidak bisa memaksakan untuk memenuhi kebutuhan baku industri pindang yang berasa) dari perikanan tangkap karena keterbatasan sumber daya ikan di laut maupun faktor cuaca. Untuk itu, menurut dia, salah satu upaya yang dilakukan adalah mengedukasi para pemindang untuk mendiversifikasi usahanya dengan usaha pengolahan perikanan budidaya seperti bandeng presto.

“Tentunya hal ini harus diikuti upaya peningkatan produksi ikan bandeng sebagai bahan bakunya Karena itu, bandeng merupakan salah satu komoditas perikanan budidaya yang kami prioritaskan imtuk dikembangkan, selain udang-dan patin.” kata Sharif,.

Sumber : Investor Daily

Bibit Ikan: Pembelian, Pengangkutan dan Penampungan

Penulis

Michael McGee dan Charles Cichra

Mendapatkan bibit ikan dari pemasok yang punya reputasi baik adalah langkah pertama menuju kesuksesan bisnis perikan. Beberapa pertimbangan yang paling penting berkaitan dengan pembelian, pengangkutan, dan ketersediaan bibit ikan dikaji di bawah ini.

Pembelian,

Carilah pembudidaya yang memproduksi bibit ikan disekitar Anda, untuk mendapatkan harga terbaik untuk kuantitas dan ukuran ikan yang dibutuhkan. Ingat, bibit ikan dengan harga termurah mungkin tidak berkwalitas atau penjual tidak bisa menjamin kesehatan dan kelangsungan hidup mereka.

Tentukan reputasi pemasok bibit ikan dengan cara mendapatakan informasi sebanyak mungkin dari teman atau lingkungan sekitar untuk menentukan apakah pembeli yang pernah beli dari pemasok bibit tersebut telah puas dengan bibit ikan yang diperoleh. Pemasok seharusnya menjamin kesehatan dan kelangsungan hidup ikan sampai mereka ditebar di kolam pembeli. Biasanya, penjual menambahkan beberapa ekor kelebihan ikan dalam rangka untuk mengkompensasi sejumlah kecil kematian.IMG00419-20130704-1959

Pastikan ukuran bibit seseragam mungkin dan yang terpenting adalah bibit ikan dalam keadaan sehat. Penjual bibit harus menjamin ikan yang dijual bebas dari penyakit, bila perlu ada statement tertulis untuk mengganti jika bibit yang diterima pembeli tidak sehat dan kematian bibit dalam jumlah besar (lebih dari 30%). Sementara pembeli bertanggung jawab atas kerugian jika penjual dapat membuktikan bahwa pembeli tidak mengikuti prosedur yang direkomendasikan untuk penanganan bibit yang baru dibeli.

Pengangkutan,

Jika ikan yang akan dikirim melalui jalan darat atau angkutan udara, maka pemasok atau pengirim akan bertanggung jawab atas keamanan ikan selama dalam perjalanan. Bibit ikan biasanya dikemas dalam kantong plastik berisi air dan oksigen. Untuk pengiriman jalan darat yang terbaik diangkut dalam tangki atau drum plastik yang dilengkapi dengan mesin blower udara (airasi). Air harus tetap bersih dan sejuk selama transportasi. Ikan harus dimuat dan dibongkar dengan penanganan yang hati-hati untuk menghindari ikan stres. Dalam kebanyakan kasus pemasok harus mengatur waktu pengiriman ikan atau memastikan bahwa pembeli memiliki peralatan memadahi demi keberhasil pengangkut  benih ikan.

Pengepakan

Pengepakan

Penampungan,

Ikan biasanya “kaget” (perlahan menyesuaikan diri terhadap perubahan yang signifikan dalam suhu air atau kimia), ketika dipindahkan dari wadah pengangkutan (drum atau kantong plastic) ke lingkungan baru. Setidaknya perlu waktu 20 menit untuk menurunkan suhu menurun sampai 12°C. Jika tidak ada termometer, perbedaan suhu antara dua lingkungan harus disesuaikan secara bertahap sampai ada perbedaan dapat dirasakan dengan menggunakan tangan Anda. Jika ikan diterima dikemas dalam kantong plastik dengan oksigen, apungkan kantong di permukaan kolam penampungan tanpa membuka ikatan sampai ikan menyesuaikan diri (kira-kira 10 sampai 15 menit). Bila kantong sudah dibuka tentunya oksigen keluar dari kantong maka ikan harus segera dilepaskan secara bertahap, usahkan ikan berenang dengan sendirinya. Jika ikan dibawa menggunakan drum, secara bertahap campur air kolam penampungan ke dalam drum sampai suhu air sama.

Bibit Patin Berkwalitas

Bibit Patin Berkwalitas

Ikan yang awalnya sehat dari penjual dan ditangani dengan prosedur yang benar, akan tetap aktif berenang menuju kedalaman air tertentu begitu dilepas  ke kolam penampungan. Ikan yang stres dari pengangkutan dan perubahan suhu tidak berenang ke dasar, atau berenang lemah dipermukaan air. Kematian akibat salah penanganan biasanya akan terjadi dalam hitungan jam sampai beberapa hari setelah dilepaskan. Sering kali, stres yang berlebihan pada ikan menyebabkan wabah penyakit atau terjangkit parasit, kemudian kematian beberapa ikan mungkin terjadi sampai beberapa hari setelah tebar.

Pemasok bibit yang punya reputasi baik akan sangat memperhatikan kepuasan pembeli. Dalam kebanyakan kasus, jika masalah timbul dengan ikan, pemasok akan menanggung  kerugian yang terjadi apabila bukan akibat kelalaian dipihak pembeli. Biasanya penjual akan mengatur atau merekomendasikan bagaimana ikan harus diangkut dan memberikan petunjuk tentang metode yang tepat dalam menangani bibit ikan yang masih lemah, lelah dan stress.

Tentang Penulis

Michael McGee, mantan assistant professor aquaculture specialist;

Charles Cichra, professor pada Department of Fisheries and Aquatic Science, Cooperative Extension Service, Institute of Food and Agricultural Sciences, University of Florida, Gainesville, FL 32611.)

 

 

Transportasi Bibit

Produksi gas beracun seperti amonia dan kelebihan jumlah karbon dioksida sebagai produk limbah metabolik adalah penyebab utama dari kondisi stres dan kematian ikan. Beberapa obat-obatan dan bahan kimia dapat digunakan untuk mengurangi tingkat metabolisme, sehingga mengurangi tingkat produksi amonia dan karbon dioksida. Dengan beberapa perlakuan tingkat stres pada ikan dapat dikurangi. Dalam kondisi stres ikan menjadi lebih rentan terhadap serangan bakteri patogen. Penggunaan antibiotik dan beberapa terapi dapat membantu dalam mengurangi risiko mortalitas yang tinggi saat ikan diangkut menggunakan kantong plastik

Beberapa anestesi (obat bius) tersedia dipasaran, seperti Novocaine dengan dosis 50 mg / kg ikan, natrium barbital dosis 50 mg / kg ikan dan tertiary amyl alcohol dengan dosis 2 mg, dapat digunakan untuk anestetik ikan yang akan diangkut. Ms 222 juga merupakan obat penenang yang umum yang dapat digunakan untuk induk ikan. Asam karbonat dengan konsentrasi 500 ppm dapat membatu menenangkan burayak selama waktu transportasi benih ikan.

Pemberian obat anti stres dan luka

Pemberian obat anti stres dan luka

Standard Operasional Prosedur Pengepakan Larva atau Bibit Ikan

  • Puasakan ikan 1-2 hari sebelum transportasi,
  • Lakukan pengepakan ditempat yang teduh,
  • Gunakan air sumur yang sudah diendapkan,
  • Pilih hanya larva atau bibit ikan yang sehat dan kuat saja,
  • kantong plastik harus diperiksa sebelum dan sesudah oksigen diisi kedalam kemasan untuk memeriksa kemungkin kebocoran;
  • Plastik yang sudah berisi ikan ditutup untuk menghindari sinar matahari langsung;
  • Ketika beristirahat selama perjalanan, pembawa bibit harus memarkirkan kendaraan ditempat teduh,
  • Jika suhu udara sekitar tinggi, sesekali memercikkan air dingin (gunakan wadah dari logam) untuk menurunkan suhu
  • Sebelum melepaskan bibit ke kolam, letakan kantong bibit diatas air di mana benih akan dilepaskan, setidaknya selama 10-15 menit untuk menyamakan suhu,
  • perlahan campurkan air kolam dan secara bertahap melepaskan ikan;
  • jika menggunakan anestesi (obat bius), lakukan percobaan dulu untuk menentukan dosis yang bervariasi tergantung dari kualitas air dan jenis ikan.

Bibit diterima dalam keadaan sehat oleh pembeli

Bibit diterima dalam keadaan sehat oleh pembeli

Source: fao.org

Salam,

EmpangQQ.com