Archive for June, 2013

Bersyukur Atas Segala Nikmat

animated_water

Air adalah sumber daya alam yang paling berharga yang sangat diperlukan oleh makhluk untuk memenui kebutuhan hidupnya. Air di bumi ini sekitar 95% adalah air asin sedangkan 5% berupa airtawar, hal ini tentu saja menjadi perhatian yang sangat penting mengingat keberadaan air yang bisa dimanfaatkan terbatas sedangkan kebutuhan manusia tidak terbatas sehingga perlu suatu pengelolaan yang baik agar air dapat dimanfaatkan secara lestari. Bagaimana kita mengelola air hari ini akan mempengaruhi hampir setiap aspek masa depan kehidupan kita.

Dalam pembibitan ikan sistem tertutup kebutuhan air membutuhaan air setidaknya 250.000 liter per satu kali siklus produksi. Kalau satu unit aquarium ukuran 50 x 100 x 200 cm digunakan sebagai media budidaya bibit ikan Patin, maka diperlukan air sebanyak 800-900 liter per aquarium, bila menggunakan 85 unit aquarium dengan ukuran yang sama maka air yang diperlukan sekitar 70.000 liter air. Kurang lebih setara dengan 2 kali muatan truk Box Tronton ukuran box  6.85 x 2.40 x 2.10 meter.

Padahal dalam jangka waktu budidaya dari mulai tebar telur sampai dengan panen ukuran ¾ inci setidaknya perlu 3 kali 70.000 liter kebutuhan air, yaitu untuk proses penggantian air setelah penyiponan, proses pencucian pakan dan kebutuhan pengisian air saat penjualan hasil panen.

An Nahl - 10

Terkadang terasa miris, manakala daerah lain kekeringan, sulit mencari sumber air, sedangkan kami bersyukur dapat kesempatan hidup didaerah yang mudah mendapatkan air (setidaknya sampai dengan saat ini).  Ya setidaknya sampai dengan saat ini, sampai Yang Maha Kuasa menentukan takdir lain. Sampai kami sekampung, sekelurahan, seprovinsi, senegeri ini melakukan ke dzaliman yang nyata (menjadi musyrikin)

Huud - 44

Semoga kita semua dapat menggunakan air dengan bijak dan seperlunya, dan semoga keimanan tetap dihati kita, tidak mempersekutukan Dia, ALLAH Ta’ala, dengan yang lain.

Percepatan Industrialisasi Perikanan dan Kelautan

image

Pembangunan Kelautan dan Perikanan yang telah dilaksanakan selama ini telah membawa hasil yang cukup menggembirakan, akan tetapi perubahan tatanan global serta nasional yang berkembang dinamis, menuntut adanya percepatan pembangunan Kelautan dan Perikanan.

Oleh karena itu, dengan mengedepankan empat pilar strategi pembangunan sosial-ekonomi, yaitu :
– peningkatan produksi,
– menekan angka kemiskinan
– menciptakan lapangan kerja
– menjaga kelestarian lingkungan,

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melaksanakan kebijakan percepatan industrialisasi kelautan dan perikanan.

“Industrialisasi dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah produk kelautan dan perikanan, sekaligus meningkatkan daya saing yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan teknologi,” demikian yang diungkapkan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif C Sutardjo,

Untuk mendukung kebijakan industrialisasi kelautan dan perikanan, terdapat 7 (tujuh) kegiatan yang harus dilakukan. Yaitu:

1. Peningkatan nilai tambah produk perikanan, dengan harapan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

2. Peningkatan daya saing produk perikanan, melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi.

3. Kodernisasi sistem produksi hulu dan hilir, dengan memperhatikan seluruh rantai nilai (value chain).

4. Memperkuatan pelaku industri perikanan, melalui peningkatan jumlah dan kualitas industri perikanan serta pembinaan hubungan antar entitas sesama industri maupun industri dengan konsumen.

5. Meliputi kegiatan yang berbasis komoditas, wilayah dan sistem manajemen, karena industrialisasi difokuskan pada komoditas unggulan sesuai dengan permintaan pasar. Sementara basis wilayah dan sistem manajemen dilakukan agar pelaksanaan program industrialisasi dapat terintegrasi, sesuai dengan sebaran sumberdaya alam yang ada.

6. Masalah keberkelanjutan, dengan mempertimbangkan pemanfaatan sumberdaya perikanan secara optimal disatu sisi dan perlindungan terhadap sumberdaya perikanan dan lingkungan disisi lain.

7. Transformasi sosial, terjadi karena adanya perubahan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri yang modern, baik dalam berfikir maupun berprilaku sesuai karakteristik masyarakat industri,” paparnya.

Sumber : inilah.com

POTENSI IKAN PATIN DI KECAMATAN CIKARANG TIMUR KAB. BEKASI

Kecamatan Cikarang Timur merupakan salah satu dari 23 kecamatan yang ada di Kabupaten Bekasi. Walaupun merupakan daerah penyangga ibukota Jakarta, tetapi potensi lahan usaha tani di Kecamatan Cikarang Timur masih cukup besar. Desa Cipayung yang berada di Kecamatan Cikarang Timur juga merupakan daerah potensial pertanian, karena lahan sawahnya masih cukup luas yaitu 395 Ha yang berpengairan teknis dan 353 Ha merupakan daerah dataran, selain itu 70% penduduknya masih berusaha di bidang pertanian, seperti petani tanaman pangan (padi), peternak domba/sapi dan peternak ikan. Desa Cipayung sendiri sebenarnya adalah daerah subur dengan jenis tanah podsolik merah dan alluvial kelabu, petani di sana lebih banyak menggunakan lahan-lahan tersebut untuk berusahatani tanaman pangan yaitu padi sawah. Namun ada sebagian kecil tanah di sana bersifat lempung/liat, sehingga apabila digunakan untuk menanam padi kurang cocok, karena perbandingan antara lapisan liat/lempung, pasir dan debu tidak seimbang, yang berakibat tidak terserapnya makanan/pupuk dengan baik. Oleh sebab itu banyak warga di Desa Cipayung menggunakan lahan-lahan tersebut untuk pembuatan batu bata, karena memang kondisi tanahnya cocok untuk pembuatan bata, dan jika dianalisis pun, usaha pembuatan batu bata sangat menguntungkan.

Pada awalnya lahan-lahan tanah bekas galian batu bata tersebut dibiarkan terbengkalai, tapi akhirnya ada cara untuk mengisi kolam-kolam bekas galian batu bata tersebut yaitu dengan menanam ikan, salah satu ikan yang dibudidayakan di bekas galian tersebut adalah ikan patin.

Pemilihan Induk

Pemilihan Induk

Ikan Patin (Pangasius pangasius) merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan panjang, berwarna putih seperti perak, punggung berwarna kebiru-biruan. Kepala ikan patin relatif kecil, mulut terletak di ujung kepala agak ke sebelah bawah (merupakan ciri khas golongan catfish). Pada sudut mulutnya terdapat 2 pasang kumis pendek yang berfungsi sebagai peraba. Ikan patin banyak dibudidayakan di Desa Cipayung, Desa Tanjung Baru dan Desa Jatibaru Kecamatan Cikarang Timur karena mempunyai keunggulan antara lain: tahan terhadap kekurangan O2, karena mempunyai labirin seperti juga yang dimiliki oleh ikan lele, gurame dan tembakang. Selain itu ikan senang hidup pada kedalaman +/- 3 m, yang banyak terdapat pada kolam-kolam bekas galian batu bata. Ikan patin yang banyak dibudidayakan di sini adalah berasal dari varietas siam dan patin jambal, karena lebih tahan terhadap penyakit dan telurnya banyak, sehingga lebih menguntungkan. Budidaya ikan patin dimulai dengan menebar benih ikan ukuran 3 inch yang diberi pakan berupa pelet sampai umur 2 bulan, setelah itu diberi pakan limbah makanan/catering. Setelah berumur 6 bulan, ikan-ikan tersebut disortir dengan diambil yang beratnya lebih dari 0,5 Kg, setelah itu setiap sebulan sekali disortir lagi sampai habis. Ada satu sisi yang cukup menggiurkn bagi para peternak ikan patin, yaitu penggunaan limbah catering sebagai pakan, karena untuk daerah Bekasi sendiri limbah catering cukup murah harganya, bahkan sebelum booming nya budidaya ikan patin, limbah catering dapat diperoleh dengan gratis, sehingga dengan rendahnya biaya pakan akan mengurangi biaya produksi dan keuntungan maksimalpun dapat diperoleh. Keberhasilan beberapa peternak dalam membudidayakan ikan patin seperti Bapak Sadar dari Desa Jatibaru dan Bapak Udin dari Desa Cipayung memberikan motivasi tersendiri bagi para peternak yang lain untuk membudidayakan ikan patin secara lebih serius, karena permintaan ikan patin cukup besar yaitu sekitar 500.000 Kg/bulan, permintaan tersebut selain untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal juga untuk di jual ke daerah Karawang, Bandung, Lampung dan Jakarta. Sampai saat ini di Desa Cipayung terdapat +/- 200 peternak ikan patin dengan luas kepemilikan kolam ikan antara 500 sampai dengan 3.000 m2 dan setiap peternak rata-rata memiliki 2 sampai 3 kolam ikan patin. Karena kesamaan kebutuhan dan untuk lebih memudahkan dalam berusaha tani maka para peternak ikan patin membentuk kelompok tani yaitu di Desa Cipayung kelompok tani Mekar Mukti yang diketuai oleh Bapak Kari sedangkan di Desa Jatibaru terbentuk kelompok tani Berkah Jaya yang di ketuai oleh Bapak Sadar dan pada tahun 2010 memperoleh dana bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP). Pada akhirnya, dukungan beberapa pihak seperti Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Pemerintah Kecamatan Cikarang Timur, Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bekasi, Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan Kehutanan dan Ketahanan Pangan (BP4KKP) Kabupaten Bekasi, serta para stakeholder tentunya akan sangat membantu pertumbuhan dan perkembangan ikan patin di Kecamatan Cikarang Timur pada khususnya, sehingga harapan akan kesejahteraan petani/peternak akan segera tercapai dan menjadikan Kecamatan Cikarang Timur sebagai sentra budidaya ikan patin juga akan terwujud.

 

(Nurlita, S.Pt. THL-TBPP Kecamatan Cikarang Timur Kabupaten Bekasi)

source: deptan.go.id

BUDIDAYA PATIN MENUJU ERA INDUSTRIALISASI

BUDIDAYA PATIN

MENUJU ERA INDUSTRIALISASI

EmpangQQ - Farm-II

Industrialisasi Bibit Patin

“Potensi lahan dan sumberdaya di Indonesia untuk budidaya patin sangat bisa diandalkan untuk dapat menyamai produksi patin di Vietnam, bahkan apabila kita bisa memanfaatkan dan menerapkan teknologi yang kita miliki, produksi patin Indonesia bisa melebihi Vietnam. Seperti Sungai Mekong di Vietnam, Sungai Batanghari di Jambi akan mampu menjadi salah satu sentra produksi patin di Indonesia”, demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, pada saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupatan Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, Jum’at (3/5).

Kabupaten Tanjung Jabung Timur adalah salah satu Kabupaten di wilayah provinsi Jambi yang terletak di pantai timur Sumatera. Sebagai salah satu wilayah yang dilalui oleh aliran Sungai Batanghari, Kabupaten Tanjung Jabung Timur memiliki potensi untuk pengembangan budidaya patin. “Salah satu sistem budidaya ikan patin yang dapat dikembangkan di wilayah kabupaten ini adalah sistem budidaya ikan patin kolam dalam pasang surut. Sistem ini memanfaatkan adanya pasang dari sungai batanghari untuk mengisi kolam di sepanjang aliran sungai sekaligus melakukan pergantian air pada saat surut. Dengan adanya dua kali pasang surut di sungai batanghari, maka kualitas air kolam akan terjaga sehingga ikan patin tumbuh lebih cepat”, ungkap Slamet.

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) akan mengembangkan budidaya patin dengan sistem tersebut di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Lokasi yang akan dijadikan percontohan terletak di Kecamatan Sabak Timur. Bekerjasama dengan Pemerintah Propinsi Jambi dan Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur, DJPB akan mencetak 1 hektar lahan menjadi dua kolam percontohan patin kolam dalam dengan sistem pengairan pasang surut. “Tujuan dari percontohan ini adalah menerapkan sistem budidaya baru dengan memanfaatkan teknologi dan sumberdaya alam yang ada di Jambi, dengan tujuan akhir peningkatan produksi patin”, tambah Slamet.

Serapan produksi patin di provinsi Jambi saat ini cukup terbantu dengan adanya Unit Pengolahan Ikan (UPI) yang memiliki kapasitas pengolahan patin sebesar 5 ton per hari. Apabila kapasitas ini sudah terpenuhi, pemerintah propinsi Jambi mempunyai rencana untuk mengembangkan UPI di sekitar lokasi pengembangan budidaya patin kolam dalam dengan sistem pasang surut, sehingga akan mempermudah akses pemasaran hasil produksi patin.

Produksi Bibit Patin Berkwalitas

Produksi Bibit Patin Berkwalitas

Menuju Industrialisasi

Patin yang merupakan salah satu komoditas utama dalam program industrialisasi perikanan budidaya akan terus dipacu peningkatan produksinya dari tahun ke tahun. “Produksi patain harus terus ditingkatkan,melimpahnya sumberdaya perairan seperti sungai, danau, waduk maupun perkolaman, kegemaran masyarakat yang suka mengkonsumsi ikan patin serta peluang pasar ekspor yang cukup besar, menjadikan patin sebagai komoditas yang pantas dikembangkan dan dibesarkan melalui program industrialisasi” jelas Slamet.

Untuk mendukung peningkatan produksi patin, salah satu hal yang perlu dilakukan adalah ketersediaan pakan, induk unggul dan benih bermutu. “Untuk Induk dan benih, Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi telah mengembangkan benih patin siam yang produksinya bagus dan dagingnya putih. Hal itu berbeda dengan daging patin lokal yang cenderung berwarna merah” ungkap Slamet. Sedangkan untuk pakan, Pemerintah propinsi Jambi berencana untuk membangun pabrik pakan untuk mendukung ketersediaan pakan, khususnya untuk wilayah Jambi. Slamet menambahkan bahwa ini merupakan wujud kepedulian dari pemerintah daerah terhadap perkembangan perikanan budidaya dan juga terhadap kesejahteraan para pembudidaya.

Kerjasama pembangunan pabrik pakan ini akan melibatkan pemerintah baik pusat maupun daerah, Asosiasi Pembudidaya Patin Jambi (AP2J), Swasta dan juga perbankan. “Sinergi dan kerjasama ini akan terus dijalin untuk bersama memberikan yang terbaik bagi kemajuan perikanan budidaya dan mendorong pada peningkatan kesejahteraan masyarakat”, pungkas Slamet.

Narasumber :

1. Direktur Jenderal Perikanan Budidaya
Dr. Slamet Soebjakto, M.Si.

2. Direktur Produksi Ditjen Perikanan Budidaya
Ir. M. Abduh Nurhidayat, M.Si.

 

Sumber: http://www.kkp.go.id

 

Perikanan Budidaya Baru Digarap 11%

Potensi perikanan budidaya di Indonesia baru dimanfaatkan sekitar 11%, sehingga terbuka lebar untuk dioptimalkan agar produksi perikanan naik signifikan.Hal itu dikatakan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo dalam seminar Outlook Perikanan 2012 bertajuk Industrialisasi Perikanan Budidaya; Peluang dan Tantangan Bagi Usaha Budi Daya di Jakarta, Rabu (18/1).

Sharif memaparkan, potensi perikanan budidaya mencapai lebih dari 9,58 juta hektare, tetapi pada 2010 yang tecatat baru dimanfaatkan seluas 1,11 juta hektare.

Menurut dia, potensi perikanan seluas 9,58 juta hektare itu terdiri atas potensi tambak 1,22 juta hektare dan potensi budi daya laut seluas 8,36 juta hektare.

Produksi Bibit Patin Berkwalitas

Produksi Bibit Patin Berkwalitas

“Potensi perikanan budi daya tersebut meliputi budidaya laut, budi dayatambak, budi daya kolam, budi daya keramba, budi daya jaring apung dan budi daya sawah,” kata dia

Namun, menurut Sharif, meski pemanfaatan potensi perikanan budidaya belum optimal, produksi perikanan budidaya menunjukkan kenaikan signifikan dari produksi yang tercatat 4.78 juta ton tahun 2010 naik menjadi sekitar 6,97 juta ton pada 2011.

Dia menjelaskan, peningkatan produksi perikanan tersebut baik perikanan budi daya maupun tangkap belum mampu mencukupi permintaan dalam negeri. Permintaan itu termasuk dari industri pengolahan perikanan untuk dijadikan bahan baku.

“Dari kebutuhan bahan baku pemindangan saja yang sebanyak 157.838 ton per bulan, saat ini hasil produksi ikan tangkap nasional untuk jenis ikan pindang hanya sekitar 76.434 ton per bulan. Artinya, terdapat kekurangan bahan baku ikan pindang sekitar 5137%,” kata dia.

Sharif mengemukakan, Kementerian Kelautan dan Perikanan tidak bisa memaksakan untuk memenuhi kebutuhan baku industri pindang yang berasa) dari perikanan tangkap karena keterbatasan sumber daya ikan di laut maupun faktor cuaca. Untuk itu, menurut dia, salah satu upaya yang dilakukan adalah mengedukasi para pemindang untuk mendiversifikasi usahanya dengan usaha pengolahan perikanan budidaya seperti bandeng presto.

“Tentunya hal ini harus diikuti upaya peningkatan produksi ikan bandeng sebagai bahan bakunya Karena itu, bandeng merupakan salah satu komoditas perikanan budidaya yang kami prioritaskan imtuk dikembangkan, selain udang-dan patin.” kata Sharif,.

Sumber : Investor Daily