Archive for May, 2013

Farm II

Alhamdulillah,

Segala puji adalah milik Allah Ta’ala, atas pertolongan-Nya kami dapat mulai membangun farm ikan patin yang kedua.

Farm pertama dengan 40 set aquarium ukuran 50x100x200cm dapat memproduksi bibit patin ukuran 3/4 inci sampai dengan 2 juta ekor per bulan.

IMG00083-20130514-1653

Quality Control

Panen tanggal 18 Mei 2013

Panen tanggal 18 Mei 2013

IMG00082-20130514-1653

Feeding time per 3 hours

Pembangunan farm kedua saat ini

IMG00087-20130514-1719

IMG00086-20130514-1719

IMG00091-20130514-1720

IMG00093-20130514-1720

Pada farm yang kedua ini akan dilengkapi dengan

– 45 unit aquarium ukuran 50x100x200 cm

– Penerapan Recirculating Aquaculture Systems (RAS)

– 3 unit biological filter, 1 unit per 15 aquarium

– 3 unit lampu UV

– 2 unit air blower

Dengan demikian bila dua unit farm sudah beroperasi kami berharap dapat memproduksi bibit ikan patin ukuran 3/4 inci yang berkwalitas sampai dengan 2 juta ekor per dua minggu.

Salam,

Indonesia bisa menyamai budidaya patin Vietnam

 
 
JAKARTA. Budidaya ikan di Indonesia masih banyak tertinggal dari negara-negara lain, contohnya untuk budidaya ikan patin. Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan sungai yang jauh lebih besar dari Vietnam, tapi tidak ada yang mengoptimalkan. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berencana memanfaatkan serta menghidupkan kembali lahan budidaya patin yang mangkrak.
 
Vietnam saat ini adalah negara penghasil dan pengekspor ikan patin terbesar di dunia. Bahkan saat ini konsumsi patin di Eropa yang mencapai 25% berasal dari Vietnam. Budidaya ikan patin Vietnam dilakukan di Karamba dan delta Sungai Mekong. Luas lahan budidaya Vietnam pada tahun 2009 saja sudah mencapai 1,1 juta hektare.
Dibutuhkan Bibit Berkwalitas

Dukungan Bibit Berkwalitas

Rahasia kesuksesan budidaya ikan patinVietnam ternyata berasal dari keberhasilan memanfaatkan kondisi pasang surut Sungai Mekong dengan baik. Di sepanjang pinggiran Sungai Mekong, budi daya ikan patin tumbuh subur. Kondisi pasang surut yang bagus sangat penting bagi perkembangan kualitasdaging ikan patin. “Jadi kenapa ikan patin Vietnam berdaging putih dan tebal, karena sirkulasi air bagus yang diakibatkan pasang surut yang bagus,” ujar Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, saat diwawancarai Kontan, Selasa (7/5). kunjungan kerja di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, Jumat (3/5).
 
Melihat kondisi geografis Indonesia yang lebih luas serta memiliki sumber daya perairan yang amat kaya seperti sungai, danau, waduk maupun perkolaman diyakini menjadi modal penting agar budidaya Patin bisa menyamai Vietnam. Indonesia memiliki banyak sekali sungai besar dengan tingkat pasang surut yang tinggi seperti Sungai Barito, Sungai Kapuas, Sungai Batanghari, Sungai Musi.
Bahkan sungai-sungai di Pulau Jawa sekalipun meski kecil bisa dibudidayakan ikan patin karena memiliki tingkat pasang surut yang tinggi. “Yang terpenting adalah tingkat pasang surut. Karena itu yang menentukan kualitas sirkulasi air yang menjadi penentu utama perkembangan kualitas daging ikan patin itu,” jelas Slamet.
 
Selain memanfaatkan sungai, KKP dalam waktu dekat akan mengoptimalkan berbagai lahan budi daya ikan patin yang selama ini mangkrak. Salah satunya di Provinsi Jambi. KKP akan bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jambi. Selama ini banyak lahan budidaya patin yang terbengkalai karena pasar untuk menjual produk ikan patin tidak ada. Infrastruktur pengolahan ikan patin belum ada. “Kondisi inilah yang dulu membuat pembudidaya ikan patin banyak yang berhenti,” kata Slamet.
 
Untuk itulah, Slamet menegaskan Pemerintah provinsi Jambi berencana untuk membangun pabrik pakan, khususnya untuk mendukung budidaya Patin di wilayah Jambi. Kerjasama pembangunan pabrik pakan ini akan melibatkan pemerintah pusat maupun daerah, Asosiasi Pembudidaya Patin Jambi (AP2J), Swasta serta dukungan perbankan. “Nantinya ini juga akan dikembangkan ke daerah lain,” pungkas Slamet.
 
 
Sumber: KONTAN.CO.ID Tanggal 07 Mei 2013 Hal.1

Prospek Cerah Budidaya Ikan Patin

 

Dari data Kementerian Kelautan dan Perikanan, pemerintah menargetkan produksi ikan patin Indonesia hingga 1,883 juta ton pada 2014. Selama ini untuk memenuhi pasokan ikan patin, pemerintah masih mengimpor dari Thailand. Belakangan pemerintah berjanji akan menghentikan import ikan Patin.

Tahun ini pemerintah telah menetapkan kawasan minapolitan percontohan, dari seluruh total 197 kawasan minapolitan yang telah ditetapkan Kementerian Kelautan dan Perikanan hingga 2014. Semua itu bertujuan untuk menutup keran impor.

Daerah seperti Desa Cinda Alus, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan banyak petani ikan disana sudah merasakan dapat keuntungan mencapai miliaran rupiah dari sekali panen ikan Patin ukuran pedaging. Di kawasan budi daya ikan patin Desa Cindai Alus, setiap hari produksi patin mencapai 4-5 ton. Tidak sedikit dari para pemilik usaha patin di Kabupaten Banjar bisa menabung karena keuntungan mereka hingga ratusan juta rupiah per bulannya.

Sementara di daerah Lampung Timur, petani di sana memilih segmen pendederan sampai ukuran 2 inci, untuk kemudian dijual kepada petani pedaging di Palembang. Dengan menekuni segmen pendederan ini dengan sekala permodalan yang relatif menengah kebawah, seorang petani dapat meraup keuntungan bersih puluhan juta perbulan.

Untuk alasan tersebut, Pasir Gaok Fish Farm yang terletak di desa Pasir Gaok Tengah, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor, bertekat untuk dapat memproduksi bibit patin ukuran 3/4 inci minimal sebanyak 3 juta ekor perbulan. Dengan dukungan dua unit farm diharapkan setiap dua minggu tersedia bibit patin ukuran 3/4 inci sebanyak 1.5 juta ekor.

Tahap berikutnya kami akan membangun area pendederan II, yaitu pemeliharaan benih dari tingkat ukuran 3/4 inci sampai ketingkat benih ukuran 2.5 – 3 inci. Produksi dari pendederan II ini diperuntukan bagi petani karamba waduk di propinsi Jawa Barat.

Semoga tekad pemerintah untuk meningkatkan produksi Patin nasional dapat tercapai.

Salam,