Columnaris: Pencegahan dan Pengobatan

 


Penyebab penyakit Columnaris pada ikan adalah bakteri Flavobacterium columnare atau Fexibacterium columnare

Bio-Ekologi patogen:

• Bakteri gram negatif, berbentuk batang kecil, bergerak meluncur, dan terdapat di ekosistem air tawar.

• Sifat bakteri ini adalah berkelompok membentuk kumpulan seperti column.

• Serangan sering terjadi pada ikan pasca transportasi atau penyortiran.

• Sifat serangan umumnya sub akut, apabila insang yang dominan sebagai target organ, ikan akan mati lemas dan kematian yang ditimbulkannya bisa mencapai 100%.

Pencegahan

Dalam sertifikasi CPIB, dianjurkan setiap ikan yang baru dibeli ditampung terlebih dahulu dalam kolam karantina 1 atau 2 minggu untuk memastikan ikan tidak membawa penyakit. 

Penting untuk memiliki mineral yang memadai di dalam air kolam. Air yang cukup memiliki kandungan minral biasanya ditandai dengan kesadahan air (General Hardeness – GH) dan alkalinitas diatas 20 ppm, lebih baik bila 60 ppm. 

Hindari kepadatan tinggi diwadah dalam transportasi atau dipenampungan ketika melakukan penyortiran. Ikan dalam keadaan lemah ketika mereka dalam kondisi stress.

Hindari suhu air tinggi (diatas 26℃) ketika mengirim ikan atau dalam hapa penampungan ketika sortir. Karena bakteri flavobacterium penyebab penyakit Columnaris sangat cepat berkembang biak dengab suhu air tinggi. 

Baca juga halaman Mengenal Gejala Penyakit Columnaris

Pengobatan

Turunkan suhu air kolam sampai 24℃ untuk membantu memperlambat penyebaran penyakit. Untuk pengobatan penyakit ini, orang Amerika biasanya menggunakan kombinasi antibiotika dengan kandungan Kanaplex dan Nitrofurazon, dari merek obat ikan yang dibolehkan FDA. Diantaranya obat ikan tersebut adalah API Furan-2 atau Tetra Fungus Guard atau Jungle Fungus Clear. 

Kalau sulit mendapatkan obat dengan kandungan Kanaplex dan Nitrofurazon, bisa juga menggunakan antibiotik dengan kandungan minocycline. 

Menggunakan antibiotik dengan kandungan Erthyromycin atau Tetracycline atau Oxytetracycline untuk mengobati Columnaris sepertinya satu kesia-siaan. Karena obat tersebut untuk bakteri gram positif, sedangkan penyebab penyakit Columnaris bakteri negatif.

Pengobatan dengan Garam

Gunakan garam ikan dengan dosis 2 ppt (2 gram/liter air), aduk dulu dalam wadah sebelum ditebar rata ke kolam.  Setelah 12 jam, ulangi lagi tebar garam ikan dengan dosis yang sama. Sekarang salinitas air kolam berada level 4 ppt yang efektif untuk memberantas bakteri dan parasit. Sebagian besar ikan bermasalah dengan salinitas tinggi selama dua minggu. Ada beberapa ikan tidak tahan dengan salinitas tinggi. Bagaimana  dengan ikan Lele, mampukah bertahan dengan salinitas 4 ppt ? Ambil gelas, isi air, tuangkan 1 sendok teh garem ikan, aduk sampai larut, masukkan benih Lele 34, perhatikan sampai esok hari. (Salinitas 12 ppt)

Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga bisa (membantu Anda yang sedang berurusan dengan penyakit yang sering menghantui ikan Lele, Moncong Putih atau Punggung Putih (Saddleback Disease) atau Columnaris atau Sudden Death (mendadak mati, kemarin sehat hari ini mati).

Advertisements

​Mengenali Gejala Penyakit Columnaris

Columnaris adalah bakteri gram negatif, bakteri aerobik. Artinya bakteri ini dapat tumbuh subur dalam kolam yang kadar oksigennya baik, berair ‘bersih’. 

Tidak seperti beberapa penyakit lain yang tumbuh subur di O2 rendah, air kolam keruh atau muatan organik tinggi. 

Penyakit Columnaris atau Saddleback Disease ini disebabkan oleh bakteri flavobacterium umum ditemukan di semua kolam ikan. Keberadaan mereka tidak menjadi masalah sampai ikan baru yang membawa penyakit diditebar ke kolam atau ikan melemah atau terluka sehingga bakteri flavobacterium dapat hinggap dan berkembang biak menjadi penyakit, kemudian akan menyebar dengan cepat keseluruh kolam. 

Bakteri ini akan tumbuh subur dan bereproduksi lebih cepat dengan suhu air di atas 26℃. Dengan suhu dibawah 26℃  bakteri ini tetap bereproduksi, walau tidak akan secepat suhu diatas itu.

Identifikasi 

Penyakit ini membingungkan dan sulit untuk diidentifikasi pada awalnya karena ada empat starin (jenis) yang menyebabkan penyakit ini, kalau flavobacterium yang menyerang strain yang bergerak lambat, gejala penyakit dapat terlihat warna putih pucat di sirip punggung ikan, sehingga penyakit juga dinamai sebagai Saddleback Disease

Untuk strain flavobacterium yang bergerak lebih lambat lagi akan menyebabkan penyakit moncong putih ( Cottonwool atau Cottonmouth Desease),  karena ikan yang sakit akan terlihat seperti ada lapisan  kapas di sirip, sisik dan sering di mulut mereka. 

Dengan strain flavobacterium yang bergerak lebih cepat hampir tidak ada gejala terlihat. Suatu hari ikan akan baik-baik saja, hari berikutnya mati. 

Gejalan umum dari penyakit ini antara lain: 

  • Ikan menyendiri
  • Berenang dipermukaan kesulitan bernafas, 
  • Terlihat pucat dan / atau kembung di sekitar daerah sirip dada atau ventral, 
  • Berenang lemah. 
  • Atau berenang tidak menentu seperti ada sesuatu yang terjadi dengan kandung kemihnya,

Pada akhirnya ikan yang sakit akan berada di dasar kolam dan mati. Diikuti dengan ikan lain dengan cepat. Kematian masal bisa terjadi dalam waktu 12-48 jam. 

Ini akibat bakteri menyerang jaringan insang sehingga ikan akan kesulitan bernafas di dalam kolam atau di permukaan air. Begitu bakteri flavobacterium masuk dalam aliran darah, kematian terjadi sangat cepat.

Sumber: CindiL 

Media Filter Air

Sekilas media filter yang umum digunakan untuk meningkatkan kualitas air. 

Media Filter Air

1. Pasir Silika atau Antrasit , berfungsi untuk menyaring partikel-partikel berukuran besar.

2. Pasir Aktif  atau Manganeese Greensand, berfungsi untuk mengoksidasi besi dan mangan.

3. Karbon Aktif, berfungsi untuk menyerap bau dan warna.

4. Resin Kation , berfungsi untuk menyerap Kalsium (Ca) dan Magnesium ( Mg)  yang terkandung dalam air.

5. Zeolit, berfungsi untuk:

  • Menjaga keseimbangan pH,
  • Meningkatkan kadar oksigen terlarut dalam air,
  • Mampu mengikat logam berat yang bersifat racun misalnya Pb dan Cd.
  • Menyerap unsur NH4, H2S, Besi dan logam lain

6. Bioball, berdasarkan fungsinya bukan sebagai saringan, melainkan  sebagai media tempat/rumah bagi bakteri. Bila dalam bioball dominan bakteri pembersih, makin banyak koloni bakteri ‘tukang bersih-bersih‘ hasilnya air akan lebih bersih.

Demikian beberapa media filter air yang umum digunakan. Semoga bermanfaat.

Meningkatkan Imunitas, Pertumbuhan & Kinerja Biologis Ikan


Vitamin adalah nutrisi penting yang ditemukan dalam makanan. Berbagai macam vitamin melakukan fungsi spesifik dan vital dalam berbagai sistem tubuh untuk menjaga kesehatan optimal. Vitamin adalah kelompok senyawa organik heterogen yang penting untuk pertumbuhan dan pemeliharaan ikan. 

Vitamin berbeda dari nutrisi makanan utama (protein, lipid, dan karbohidrat) karena zat ini tidak terkait secara kimia satu sama lain. Vitamin ada dalam jumlah yang sangat kecil dalam makanan hewan dan tumbuhan. Vitamin dibutuhkan oleh tubuh ikan dalam jumlah sedikit. Secara umum, semua ikan akan tampak tanda kelainan morfologi dan fisiologis yang berbeda saat kebutuhan vitamin tertentu tidak ada dalam pakanannya.

Ada dua jenis vitamin yaitu  Vitamin larut dalam lemak (Fat-soluble vitamins) dan Vitamin yang larut dalam air (Water-soluble vitamins).

Fat-soluble vitamins.

Vitamin yang larut dalam lemak sebelum diserap ke dalam aliran darah untuk menjalankan fungsinya. Kelebihan vitamin ini akan disimpan di hati. Fat-soluble vitamins diserap dari saluran pencernaan dengan adanya lemak dan dapat disimpan di dalam cadangan lemak tubuh setiap kali asupan makanan melebihi tuntutan metabolik.

Vitamin yang larut dalam Lemak: 

  • Vitamin A1 (Retinol, retina, asam retinoat), 
  • Vitamin A2 (Dehydroretinol), 
  • Vitamin D2 (Ergocalciferol),
  • Vitamin D3 (Cholecalciferol),
  • Vitamin E (Tokoferol, tocotrienols), 
  • Vitamin K1 (Phylloquinone),
  • Vitamin K2 (Menaquinone ),
  • Vitamin K (Menadione)

Water-soluble vitamins.

Vitamin yang larut dalam air  dan tidak disimpan oleh tubuh. Karena mereka dieliminasi dalam urin dan memerlukan pasokan harian terus menerus dalam makanan ikan. Water-soluble Vitamin mudah dihancurkan atau dicerna saat penyimpanan makanan. 

Vitamin yang larut dalam air: 

  • Thiamin (Vitamin B1),
  • Riboflavin (Vitamin B2), 
  • Niacin (Vitamin B3), 
  • Vitamin B6 (Pyridoxol, pyridoxal, pyridoxamine), 
  • Asam Pantotenat (Vitamin B5) 
  • Biotin (Vitamin H, vitamin B8), 
  • Asam folat (Vitamin M , Vitamin Bc, Vitamin B9) 
  • Vitamin B12 (Cobalamin), 
  • Kolin (Gossypine), 
  • Vitamin C (Asam askorbat).

Manfaat Multivitamin.

  • Membantu perkembangan tulang, gigi dan eksoskeleton (cangkang pada udang) yang normal, 
  • Menjaga kesehatan kulit dan membran, 
  • Membantu metabolisme energi dan pembentukan jaringan, 
  • Meningkatkan penyerapan kalsium dan fosfor dan pemanfaatan,
  • Meningkatkan rangsangan kekebalan,
  • Menurunkan kejadian penyakit,
  • Bertindak sebagai antioksidan,
  • Bertindak seperti ‘Semen’ untuk jaringan ikat, 
  • Membantu penyembuhan luka,
  • Membuat penyerapan zat besi,
  • Manfaat untuk mata dan penglihatan yang sehat,
  • Dibutuhkan dalam sejumlah besar proses biologis,
  • Membuat kolagen dalam tubuh,
  • Membuat kulit, sendi, exoskeleton dan tulang kuat,
  • Mengatur fase ganti kulit pada udang.

Source: the fish site

Gangguan Insang akibat Bakteri atau Lingkungan

Source FAO

Source FAO

Gangguan pada insang dapat dikatagorikan kedalam kelompok akut kronis, terutama pada ikan budidaya. Karena ikan akan mengalami gangguan pernafasan dan osmoregulatory.

Gangguan insang dapat disebabkan oleh beberapa agen:

1. Myxobacteria (flavobacterium branchiophilum) didukung dengan kondisi lingkungan yang kurang kondusif dapat menyerang insang ikan. 

2. Kekurangan asam pantotenat (Vitamin B5) akan menyebabkan gangguan kesehatan insang, nutrisi yang dibutuhkan insang.

3. Pencemaran atau pestisida kimia dengan infeksi mikotik sekunder (penyakit insang hemoragik). 

Gangguan insang akibat stres biasanya dipicu oleh:

1. Kandungan oksigen rendah.

2. Kekeruhan air yang tinggi.

3. Amonia tinggi dalam air.

4. Perubahan pH air.

5. Padat tebar tinggi.

6. Kekurangan nutrisi ikan.

7. Cedera mekanis pada kulit atau insang.

8. Penumpukan bahan organik anorganik dan beracun

Kasus gangguan insang biasa dijumpai pada sebagian besar spesies ikan yang dibudidayakan. Seperti Salmonids, ikan Mas, ikan Lele, ikan Patin, Belut dan ikan lainya. 

Cara penularan.

Untuk gangguan insang akibat bakteri ( Backterial Gill Disease) penularan terjadi dari air ke ikan dan dapat juga  ditularkan melalui luka insang ikan yang sakit

Tanda klinis ikan yang menderita gangguan insang antara lain:

1. Nafsu makan berkurang.

2. Gerakan ikan lamban.

3. Ikan berenang di dekat permukaan air dan sering berbaris melawan saluran masuk air mencari oksigen (DO) yang tinggi.

4. Salah satu gejala yang paling konstan adalah sekresi mukus yang meningkat oleh insang.

5. Insang bisa bengkak dan sesak, yang berwarna merah lebih tua dari biasanya.

6. Tanda gangguan insang karena bakteri adalah ada bintik putih keabu-abuan putih pada insang. Bintik-bintik ini terlihat saat ikan berenang atau berputar di air.

7. Gangguan insang karena polusi kimia atau pestisida ( (Haemorrhagic gills disease) ditandai dengan adanya tonjolan seukuran butir pasir di kapiler insang.

Bersambung… Kereta sudah sampai stasiun. Bye

Desinfektan: Glutaraldehyde

Definisi

Glutaraldehyde merupakan desinfektan golongan aldehyde, termasuk desinfektan yang kuat, spektrum aplikasi luas, dapat membunuh mikroorganisme dan virus. Bekerja dengan cara denaturasi protein dan umum digunakan dalam campuran air konsentrasi 0,5% – 5%. Keunggulan golongan aldehyde adalah sifatnya yang stabil, persisten, efek samping minimal, dapat dibiodegradasi dan tidak menyebabkan kerusakan pada material peralatan. Larutan glutaraldehyde 2% efektif terhadap bakteri vegetative seperti Mycobacterium tuberculosis, fungi dan virus akan mati dalam waktu 10 – 20 menit (Rusmah, 1993; Sukhija et al., 2010).

Mekanisme Kerja

Mikroorganisme Target Mekanisme Aksi Glutaraldehyde
Spora bakteri Konsentrasi rendah: Menghambat perkecambahan spora

Konsentrasi tinggi: Berinteraksi kuat dengan lapisan luar sel.

Mycobacteria Aksi belum diketahui secara pasti, namun kemungkinan melibatkan interaksi dengan dinding sel mycobacteria.
Bakteri lain yang tidak berspora Membentuk ikatan yang kuat dengan lapisan  pada bakteri gram positif dan gram negatif, hubungan silang asam amino pada protein, menghambat proses transport ke dalam sel
Fungi Berinteraksi dengan dinding sel fungi
Virus Mekanisme aksi melalui interaksinya dengan DNA-protein secara silang dan pergantian capsid.
Protozoa Mekanisme aksi belum diketahui.

 

Dosis

Larutan glutaraldehyde 2% direkomendasikan untuk sterilisasi peralatan bedah, daerah operasi, perawatan endodontik intrakanal dan sterilisasi bahan cetak alginat pada bidang kedokteran gigi. Studi menunjukkan bahwa glutaraldehyde adalah fiksatif yang efektif dengan efek samping minimal, penetrasi terbatas dan kerja cepat. Studi pulpotomi menggunakan glutaraldehid sebagai agen fiksatif menghasilkan tingkat keberhasilan yang tinggi (Rusmah, 1993).

Produk

  • Agrigerm (sedian cair, setiap liter mengandung glutaraldehida 40 g, glikosal 32 g, formaldehyde 31,5 g, oimetil didesil ammonium klorida 100 g. produksi lab.ceetal-perancis.
  • Aldekol des 02 (sedian cair, mengandung isopropanole, formaldehyde, glutaraldehide, dan benzalkonium chloride. Produksi ewabo chemikalien GmbH, jerman/satwa jawa jaya.
  • Alcide (sedian cair, mengandung glutaraldehide, coco benzyl dimethylammonium chloride . digunakan untuk desinfeksi. Produksi surya hidup satwa.
  • Biodan (sedian cair, komposisinya glutaraldehyde 15%, cocobenzil dimethyl ammonium kloride 10 % sebagai desinfektan. Produksi vaksindo satea nusantara.
  • Formades (sedian cair, setiap liter mengandung formalin 240 g, glutaraldehide 40 g, benzalkoinun klorida 30 g. penggunaan desinfektan, produksi medion.
  • Omnicide (sedian cair, mengandung glutaraldehide, dimetil cocobenzil ammonium chloride. Desinfeksi, produksi Coventry chemical limited inggris/pimaimas citra.
  • Sanitas-151 (sedian cair, komposisi glutaraldehide 15 % benzalkonium chloride 10 %. Sebagai antiseptic dan desinfektan. Produksi mitravet.

Penulis: Munajat Putri

Bakteri Yang Biasa Menghantui Ikan

Photobacterium damselae subsp. piscicida

Photobacterium damselae subsp. piscicida (sumber wikipedia.org)

Lingkungan perairan mengandung banyak spesies bakteri, banyak di antaranya bermanfaat bagi keseimbangan alam dan tidak mengganggu kesehatan ikan, namun sekitar 60 sampai 70 jenis bakteri mampu menyebabkan penyakit pada hewan air.Lingkungan perairan terutama perariran budidaya menjadi habitat alami untuk pertumbuhan dan perkembangan bakteri karena ketersediaan bahan organik penghasil nutrisi yang memudahkan bakteri berkembang biak. Selain itupH air, suhu dan karakteristik lingkungan lainnya dapat mempengaruhi  baktari mengganas dan menyebabkan penyakit.

Faktor stres, seperti kualitas air, penanganan, pengangkutan, kekurangan gizi dan parasit yang tidak mematikan, namun berperan penting dalam memicu perkembangan bakteri dan penyebaran penyakit di antara ikan yang dibudidayakan.

Penyakit bakteri terpenting dan umum ditemukan pada budidaya ikan adalah:

  • Motile Aeromonas Septicemia (MAS) (A hydrophila, A. caviae dan A. Sobria )
  • Furunculosis (Aeromonas salmonicida )
  • Bacterial Kidney Disease (BKD) (Renibacterium salmoninarum )
  • Mycobacteriosis of Fishes (M.marinum, M.fortuitum dan M.cheloni )
  • Enteric Redmouth Disease (Hagerman red mouth) (Yersinia ruckeri.)
  • Edwardsiellosis ( Edwardsiella  tarda dan E. ictaluri )
  • Vibriosis ( Vibrio salmonicida, V. carchariae, V. cholerae dan. V. anguillarum )
  • Photobacteriosis (Pasteurellosis / Pseudotuberculosis) ( Photobacterium damselae subsp. piscicida )
  • Pseudomonas Septicaemia ( Pseudomonas fluorescens, P. anguilliseptica )
  • Columnaris disease  (Saddle back disease) ( Flexibacter columnaris  atau Flavobacterium columnare )
  • Peduncle disease  (Bacterial cold water disease) ( Flavobacterium psychophilum )
  • Bacterial /Environmental gills disease. ( Penjelasan diposting berikutnya, agar tidak tertinggal, jangan lupa follow https://www.facebook.com/empangqq/)

Source: http://www.aun.edu.eg/developmentvet/fish disease