DPR Apresiasi Minapolitan Perikanan Budidaya

Neraca.co.id – Kamis, 26/02/2015

Banjar-Pengembangan kawasan minapolitan telah mendorong peningkatan produksi secara signifikan. Kawasan minapolitan berbasis perikanan budidaya yang merupakan konsepsi pembangunan ekonomi yang berbasis kawasan berdasarkan prinsip – prinsip terintegrasi, efisiensi, dan percepatan pembangunan, telah memunculkan kawasan perikanan budidaya yang baru dan mendukung perekonomian daerah.

“Minapolitan perikanan budidaya telah berhasil menjadi contoh daerah lain yang memiliki potensi serupa, sehingga memberikan dampak yang positif bagi daerah lainnya,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Soebjakto, pada saat mendampingi Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI di Cindai Alus, Kab. Banjar, Kalimantan Selatan, kemarin.

Kabupaten Banjar salah satu sentra budidaya ikan Patin

Kabupaten Banjar salah satu sentra budidaya ikan Patin

Kabupaten Banjar merupakan salah satu kabupaten minapolitan berbasis perikanan budidaya dengan komoditas utama adalah patin. “Kawasan minapolitan perikanan budidaya di Kabupaten Banjar ini, mampu secara nyata mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Dalam satu hari mampu menghasilkan 35 – 40 ton patin untuk dipasarkan ke Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Disamping itu, kawasan minapolitan ini telah mampu menyerap tenaga kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitarnya,” papar Slamet.

Pakan Mandiri

Gerakan Pakan Mandiri (GERPARI) yang telah dicanangkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan juga telah di terapkan di kawasan budidaya patin Cindai Alus. Pabrik pakan mandiri yang di kelola oleh Bapak Suhadi telah mampu memproduksi pakan patin setiap hari secara rutin. Menurut Pak Suhadi, produksi pakan mandiri yang dia kelola, mampu memproduksi 5 ton pakan setiap hari. “Pakan yang saya produksi ini belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pakan di wilayah Cindai Alus. Tetapi dengan Pakan Mandiri ini, kami bisa menurunkan biaya produksi karena harga pakan yang kita produksi harganya lebih murah di banding dengan pakan komersil tetapi kualitasnya tidak kalah dengan pakan pabrikan. Margin yang kita dapat dari budidaya menggunakan pakan mandiri juga meningkat sampai 30 %”, ungkap Suhadi.

FB Upload -Indukan - 1 small

Produksi patin dari kolam Pak Suhadi dengan ukuran 20 x 24 m2, benih 3 inch sebanyak 40 ribu ekor, lama waktu budidaya 7 – 8 bulan, dapat dihasilkan patin ukuran > 800 gr sebanyak 40 ton dengan harga saat ini Rp. 20.000,-/kg.

Data sementara produksi Patin di Propinsi Kalimantan Selatan pada 2014 adalah 25,5 ribu ton. Volume ini setara dengan 6,3 % produksi patin nasional yang mencapai 403 ribu ton. Target produksi patin nasional pada 2015 adalah 604,7 ribu ton dengan target kontribusi produksi dari Kalimantan Selatan sebesar 48,6 ribu ton.

Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, menambahkan bahwa program GERPARI adalah salah satu cara untuk mewujudkan Perikanan Budidaya yang Mandiri, berdaya Saing dan Berkelanjutan. “Dengan kemandirian dalam hal pakan, maka margin atau keuntungan pembudidaya akan meningkat dan kesejahteraannya pun akan meningkat. Melalui GERPARI akan di dorong untuk dibentuk Kelompok Pakan Mandiri yang terpisah dari Kelompok Pembudidaya. Kelompok Pakan Mandiri tugasnya adalah memproduksi pakan untuk di gunakan atau dijual ke pembudidaya. Pemerintah akan mensertifikasi pakan yang di produksi oleh Kelompok Pakan Mandiri ini sehingga kualitasnya terjaga. Ini sejakan dengan kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan, Ibu Susi Pudjiastuti, untuk menjadikan pembudidaya ini menjadi pengusaha UMKM bukan hanya buruh. Sehingga upaya ini harus di dukung dan didorong untuk diwujudkan,” jelas Slamet.

Ditambahkan pula bahwa melalui GERPARI maka minat pembudidaya untuk meningkatkan produksi ikannya menjadi lebih besar karena keuntungan yang dihasilkan akan meningkat. Ini sejalan dengan target produksi perikanan budidaya yang terus di tantang untuk meningkat setiap tahunnya.

Di tempat yang sama, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, mengatakan bahwa DPR cukup puas dengan keberhasilan pembudidaya patin di kawasan minapolitan perikanan budidaya yang berlokasi di Cindai Alus , Kab. Banjar ini.

“Produksi pakan mandiri terbukti mampu meningkatkan gairah pembudidaya untuk berbudidaya. Karena lebih menguntungkan dan terbukti menyerap tenaga kerja. Masyarakat sekitar lokasi budidaya juga lebih sejahtera. Lokasi ini dapat dijadikan contoh kawasan lain sehingga keberhasilan ini bisa di tularkan. DPR terus mendukung program pemerintah yang berpihak pada rakyat dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Titiek.

Sumber: http://www.Neraca.co.id

CPIB atau Cara Pembenihan Ikan yang Baik

indoor hatchery

Penulis : Ricky Arsenapati, S.Pi

Apa itu CPIB?

Hal pertama yang terbersit dalam pikiran kita ialah : Apa CPIB itu sendiri? Hal apa yang melatar belakanginya? Manfaat apa yang dapat diperoleh oleh UPR dalam penerapan CPIB ini?

Secara garis besar, CPIB atau Cara Pembenihan Ikan yang Baik merupakan standar sistem mutu perbenihan paling sederhana/dasar yang harus diterapkan oleh pembenih ikan dalam memproduksi benih ikan yang bermutu, dengan cara melakukan manajemen induk, pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva/benih dalam lingkungan yang terkontrol melalui penerapan teknologi yang memenuhi persyaratan SNI atau persyaratan teknis lainnya, serta memperhatikan keamanan lingkungan (biosecurity), mampu telusur (traceability) dan keamanan pangan (food safety).

Faktor-faktor yang melatarbelakangi pentingnya penerapan CPIB ini (Mengapa harus CPIB) diantaranya adalah :

  • Perdagangan global yang sangat kompetitif, sehingga produk benih yang dihasilkan harus sesuai dengan tuntutan pasar global terhadap produk perikanan yang ramah lingkungan, tidak mengandung residu antibiotik dan bahan kimia serta mampu telusur
  • Persyaratan mutu yang ketat dan keamanan pangan
  • Tuntutan konsumen terhadap mutu
  • Penganekaragaman jenis dan bentuk serta penyajian produk
    • Tuntutan melaksanakan tatacara budidaya yg bertanggung jawab dan berkelanjutan (Responsible and sustainable aquaculture)
    • Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 02/MEN/2007 tentang Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB)

Sedangkan, manfaat yang diperoleh dari penerapan CPIB ialah :

  • Meningkatkan efisiensi produksi dan produktivitas
  • Mampu telusur
  • Memperkecil resiko kegagalan
  • Meningkatkan kepercayaan pelanggan
    • Meningkatkan daya saing dengan peningkatan mutu benih serta menjamin kesempatan ekspor.

Aspek apa saja yang termasuk dalam persyaratan CPIB?

Terdapat 4 aspek yang harus dipenuhi untuk setiap unit pembenihan dalam penerapan CPIB (Sesuai dengan Pedoman CPIB oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya)

  1. 1.    Persyaratan Teknis
  • Kelayakan lokasi dan sumber air, diantaranya ialah :
  1. Bebas banjir dan bahan cemaran
    1. Mempunyai sumber air yang layak, bersih sepanjang tahun dan bebas cemaran pathogen, bahan organik dan kimiawi
    2. Mudah dalam memperoleh tenaga kerja yang kompeten, berdedikasi tinggi sesuai dengan kebutuhan
    3. Mudah dijangkau, prasarana cukup
  • Kelayakan fasilitas
  1. Bangunan, diantaranya
  • Tempat penyimpanan pakan
  • Tempat penyimpanan bahan kimia dan obat-obatan
  • Tempat penyimpanan peralatan
  • Kantor/ruang administrasi
  1. Sarana filtrasi, pengendapan dan bak tandon
  2. Bak karantina
  3. Bak pengolah limbah
  4. Bak/kolam pemeliharaan induk
  5. Wadah pemijahan
  6. Wadah penetasan
  7. Bak/kolam pemeliharaan benih
  8. Bak kultur pakan hidup
  9.  Wadah penampungan benih
  10.  Sarana pengolah limbah
  11.  Mesin & Peralatan Kerja
  • Tempat penyimpanan peralatan
  • Kantor/ruang administrasi
  • Peralatan Produksi
  • Bahan dan peralatan panen
  • Peralatan mesin
  • Peralatan laboratorium

13.       Sarana Biosecurity

  • Pagar dan penyekat
  • Sarana sterilisasi
  • Pakaian dan perlengkapan personil unit produksi
  • Proses produksi
  1. Manajemen air sumber dan air pemeliharaan
  • Air media pemeliharaan harus memenuhi standar baku mutu air
  • Dilakukan  proses penjernihan air melalui pengendapan dan filtrasi
  • Dilakukan perlakuan (treatment) air secara fisik, kimiawi atau biologi
  • Dilakukan monitoring periodik
  1. Manajemen induk
  • Pemilihan induk :umur, ukuran, Sertifikat Kesehatan/bebas virus, asal induk  jelas (hasil pemuliaan/ domestikasi)
  • Karantina induk (proses, fasilitas, tes ulang bebas virus, bahan pencegahan penyakit)
  • Pemeliharaan (wadah pemeliharaan, pengelolaan air, pemberian pakan, pengamatan kesehatan, pengamatan gonad, penanganan proses pemijahan dan penetasan telur)
  1. Manajemen benih
  • Unit pembenihan yang hanya melakukan pemeliharaan  sepenggal (telur/larva/nauplius menjadi benih/postlarva ) maka telur/larva/nauplius harus diperoleh dari unit pembenihan yang telah lulus sertifikasi CPIB/sistem mutu perbenihan lain
  • Aklimatisasi benih/karantina
  • Pengelolaan air
  • Pemberian pakan (jenis , dosis dan frekuensi)
  • Perawatan kesehatan benih
  • Pengamatan perkembangan /kesehatan
  1. Panen, pengemasan dan distribusi benih
  • Panen (umur benih , cara panen, peralatan panen, pengecekan mutu benih)
  • Perawatan kesehatan benih
  • Pengamatan perkembangan /kesehatan
  • Pengemasan (peralatan dan bahan kemasan)
  • Distribusi benih (darat, air dan udara)
  • Penerapan biosecurity

Merupakan tindakan yang dilakukan dengan sengaja sebagai usaha untuk mencegah masuknya organisme pathogen dalam lingkungan budidaya yang dapat menginfeksi organisme yang dibudidayakan.

Merupakan usaha untuk mencegah dan mengurangi penyebaran penyakit dalam suatu area

Kegiatan penting dalam penerapan biosecurity :

  1. Pengaturan tata letak
  • Pengaturan berdasarkan alur produksi
  • Pemagaran dan penyekatan
  • Penyimpanan bahan
  1. Pengaturan akses masuk ke lokasi
  2. Sterilisasi wadah, peralatan dan ruangan
  3. Sanitasi lingkungan
  4. Pengolahan limbah
  5. Pengendalian hama penyakit
  6. Pengaturanpersonil/karyawan
    1. 2.    Persyaratan Manajemen
  • Organisasi Unit Pembenihan

Struktur organisasi diperlukan sebagai pedoman untuk melakukan pembagian tugas, kewajiban dan wewenang dalam menjalankan kegiatan, untuk itu unit pembenihan harus menetapkan personil dengan kompetensi dan/atau kualifikasi atas dasar pendidikan, pelatihan, ketrampilan / pengaturan teknik dan pengalaman yang diperlukan dalam melaksanakan  fungsi  pada unit pembenihan tersebut.

  • Dokumentasi & Rekaman

Merupakan proses pengumpulan, pemilihan, pengolahan, dan penyimpanan informasi yang berhubungan dengan CPIB

Manfaat dokumentasi, diantaranya ialah :

  1. Mudah mengakses informasi proses produksi
  2. Dapat diperoleh bukti obyektif tentang kesesuaian proses produksi dengan CPIB
  3. Mampu telusur

Jenis dokumentasi CPIB yang dipersyaratkan:

  1. Permohonan sertifikasi
  2. Standar Operasional Prosedur (SPO)
    1. Formulir dan Rekaman
    2. Dokumen lainnya
  1. 3.       Persyaratan Keamanan Pangan

 

Unit Pembenihan tidak diperbolehkan menggunakan obat-obatan/bahan kimia/bahan biologi yang terlarang, dan menyebabkan residu, termasuk antibiotik.

  1. 4.       Persyaratan lingkungan

Limbah buangan air payau/laut, air tawar dan limbah lainnya, sebelum di dibuang ke lingkungan sekitar pembenihan harus ditampung / diendapkan  terlebih dahulu  dalam bak pengendapan untuk kemudian disalurkan ke bak pengolah limbah dan sterilisasi dengan kaporit 20 ppm selama 60 menit atau secara biologi

Bagaimana proses pengajuan sertifikasi CPIB?

 

Secara umum, langkah-langkah penting dalam penerapan CPIB meliputi :

  1. Komitmen Pimpinan Puncak
  2. Penunjukkan MPM
  3. Pembentukan TIM CPIB
  4. Struktur Organisasi
  5. Pelajari Persyaratan CPIB
  6. Pelatihan Karyawan
  7. Penyusunan Dokumen
  8. Sosialisasi Penerapan CPIB
  9. Penerapan CPIB dan dokumentasi
  • Apabila penerapan CPIB dalam unit pembenihan telah sesuai dengan persyaratan CPIB, maka unit pembenihan dapat mengajukan permohonan sertifikasi ke Direktorat Perbenihan, DJPB (sesuai pedoman sertifikasi CPIB).
  • Unit usaha yang telah menerapkan CPIB akan mendapatkan sertifikat (Sertifikat diberikan oleh Dirjen PB)
  • Bagi unit yang lulus sertifikasi, akan disurveillance setiap 6 bulan sekali atau minimal satu kali dalam setahun.

Apa saja manfaat Sertifikat CPIB?

Manfaat Sertifikat CPIB diantaranya adalah :

  • Peluang untuk menembus pasar ekspor semakin terbuka lebar
  • Usaha pembenihan ikan akan semakin bagus
  • Kondisi lingkungan kolam usaha budidaya ikan akan semakin terjaga
  • Tingkat kepercayaan konsumen akan semakin tinggi
  • Harga jual ikan semakin tinggi

 

 

Siapakah itu MPM?

MPM atau Manajer Pengendali Mutu dalam CPIB adalah personil bersertifikat yang ditunjuk oleh pimpinan unit pembenihan untuk mengemban tugas, wewenang dan tanggung jawab mulai dari tahap perencanaan, penerapan dan konsistensi penerapan CPIB.

Dalam melaksanakan tugasnya, MPM tidak boleh merangkap sebagai manajer produksi. Tugas dari seorang MPM adalah sebagai berikut :

  1. Bertanggung jawab pada perencanaan dan harus memastikan bahwa unit pembenihan memenuhi persyaratan CPIB
  2. Bertanggung jawab memberikan pemahaman dan memastikan semua personil unit pembenihan dapat melaksanakan CPIB
  3. Bertanggung jawab dalam melaksanakan CPIB secara konsisten

Sejauh ini Kabupaten Bogor memiliki 7 orang Penyuluh Perikanan (PNS dan Swadaya) yang telah melalui uji sertifikasi dan dinyatakan lulus serta memiliki sertifikat MPM yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.

  1. Ir. Herlina, MM (Koordinator Penyuluh Perikanan Kabupaten Bogor);
  2. Suhendar, S.ST
  3. N.R. Nia Karuniawati S., S.Pi
  4. Ricky Arsenapati, S.Pi
  5. Bambang Purwanto (PPS)
  6. Sukendar (PPS)
  7. Ook Suherman (PPS)

Penyakit Gas Bubble pada ikan

gas babble disease in fish mata Penyakit gelembung gas atau udara mengacu pada pengembangan gas dalam aliran darah ikan. Hal ini dapat terjadi ketika akuarium atau kolam airnya jenuh dengan gas.

Gejala dan Jenis
Penyakit Gas Bubble adalah penyakit kerusakan jaringan ikan, menyebabkan muncul gelembung gas atau udara kecil pada insang, sirip, atau disekitar mata ikan. Kerusakan jaringan ini, jika luas, dapat menyebabkan kematian ikan.
gas babble disease in fish ekorPenyebab
Ikan adalah makhluk berdarah dingin, yang berarti suhu tubuh ikan tergantung pada suhu lingkungan. Air yang ada di aliran darah ikan, dapat menjadi jenuh dengan gas bila ada kenaikan mendadak suhu atau kenaikan mendadak tekanan air.
Ketika air dingin di akuarium tiba-tiba dipanaskan, dapat melepaskan udara dan perangkap dalam air menyebabkan penyakit gelembung gas dalam akuarium ikan. Demikian pula, kolam atau air tangki dapat menjadi jenuh dengan gas ketika mereka diisi dengan air sumur melalui selang terendam. Gas-gas inilah yang dapat menyebabkan penyakit Gas Bubble.
 
Pencegahan
Penyakit ini dapat dicegah dengan perlahan memanas air ketika ditambahkan ke akuarium. Juga, jangan menenggelamkan selang ketika mengisi air kedalam aquarium.

sumber: http://www.petmd.com

Hujan Asam: Mengganggu Kelangsungan Hidup Larva Ikan Patin

Memasuki bulan November 2013 ditandai dengan intensitas curah hujan yang cukup tinggi, hingga memenuhi sungai-sungai yang berada disepanjang jalur sungai Ciliwung dan Cisadane. Akibatnya para pencari cacing tangkapan alam kesulitan mendapatkan nafkah. Hal ini berdampak pada pembudidaya ikan Patin yang sangat bergantung pada keberadan cacing setelah larva berumur diatas 5 hari. Kelangkaan cacing tidak begitu menjadi masalah bagi pembudidaya, karena bias digantikan dengan pakan alami lain seperti kutu air.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah turunnya kwalitas air sumur akibat hujan asam yang turun pada awal musim penghujan. Air sumur yang biasanya memiliki pH normal 7 dapat turun menjadi asam dikisaran 5.5 sampai 6. Dengan pH yang cenderung asam ini sangat mengganggu kelangsungan hidup larva ikan Patin.

Hujan asam terjadi akibat polutan udara, khususnya gas Sulfur Oksida (SO2) dan gas Nitrogen Oksida (NOx). Polutan ini bersumber dari alam maupun dari aktivitas manusia seperti asap industri, kendaraan bermotor dan lain sebagainya. Ait hujan secara alami bersifat asam mencapai pH 5,65. akibat larutnya gas CO2 dalam air di atmosfir pada konsentrasi 350 ppm (Manahan, 2005). Dengan adanya polutan udara tersebut di atmosfir bereaksi dengan uap air membentuk Asam Sulfat dan Asam Nitrat sehingga menyebabkan pH air hujan rendah <5,65 dan disebut hujan asam (Menz dan Hans, 2004; Manahan, 2005). Hujan asam dapat menyebabkan kerusakan tanaman, kerusakan bangunan, pengasaman tanah dan air tanah, pengasaman air danau serta mempengaruhi makhluk hidup dalam air, dan dapat berpengaruh terhadap kualitas air sumur.

Image

Kualitas air sumur dapat terpengaruh oleh kualitas air hujan terutama pada wilayah yang mengalami hujan asam secara terus menerus. Faktor-faktor lain seperti kondisi tanah juga ikut berpengaruh terhadap kualitas air sumur.

Wilayah Kabupaten Bogor memilki peluang cukup besar untuk mengalami hujan asam, karena Kabupaten Bogor berdekatan dengan Kota padat kendaraan bermotor Jakarta dan beberapa daerah industri seperti Tangerang dan Cibinong yang telah memilki intensitas hujan asam yang tinggi. Rata-rata pH air hujan di kedua kota ini cenderung menurun dari tahun ke tahun dan mencapai pH 4,63 pada tahun 2008 (Eanet, 2009). Selain dari itu aktivitas industri dan transportasi di wilayah Kabupaten Bogor memungkinkan menghasilkan polutan udara cukup tinggi yang dapat menyebabkan hujan asam.

Cibinong-Citeureup Kabupaten Bogor menunjukkan bahwa hujan asam terjadi dengan intensitas tinggi yaitu pH 4,7 terkonsentrasi pada daerah sekitar pusat industri dengan radius beberapa km, dan intensitas hujan asam semakin menurun dengan semakin jauh jarak dari pusat hujan asam sampai radius 10 km kemudian kembali normal (pH>5,6) (Sutanto et al., 2002). Hujan asam telah terjadi di Cisarua-Bogor dengan pH< 5,6 sejak 1989-2004 dengan frekuensi kejadian sebanyak 72% (Budiwati et al., 2006). Pengamatan air hujan di berbagai tempat di daerah Kabupaten Bogor menunjukkan bahwa kualitas air hujan memiliki pH rata-rata 5,09 (Diapari, 2009) artinya daerah Bogor cenderung mengalami hujan asam secara terus-menerus.

Hujan asam secara terus menerus akan menyebabkan peningkatan kadar polutan dalam air khususnya kadar nitrat. Penurunan kualitas air sumur dapat terus berlanjut hingga melebihi ambang batas yang dipersyaratkan dan akan membahayakan kesehatan.

:)

Daya Tarik Usaha Pembenihan Ikan Patin

Usaha pembenihan menjadi usaha yang lebih menarik dengan beberapa kelebihan, antara lain:

Kepadatan Tinggi

Kepadatan Tinggi

1. Pembenihan adalah awal siklus dari usaha perikanan.
Ibarat membangun rumah, pembenihan adalah membangun pondasi dasar keberhasilan perikanan budidaya. Pada segmen usaha pembenihan ini kwalitas bibit yang dihasilkan lebih diutamakan dari kwantitas produksi. Oleh karena usaha pembenihan adalah awal siklus usaha perikanan, maka tanpa pembenihan, kegiatan pembesaran tidak dapat berjalan. Mutlak kegiatan usaha pembenihan dibutuhkan.

2. Resiko penjualan tidak terlalu besar
Terkadang hasil dari pembenihan tidak dapat diserap pasar seluruhnya sehingga penjualan harus ditunda. Menunda penjualan bibit Patin tidak berarti akan mengalami kerugian, justru dengan penambahan biaya pakan yang sedikit akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar.

3. Periode singkat
Siklus usaha pembenihan ikan Patin relative singkat, dari mulai 4 hari panen (produksi larva) sampai dengan 2 bulan (produksi ukuran 3inci up). Dengan siklus yang pendek maka perputaran uang akan semakin cepat.

4. Area usaha tidak terlalu luas
Hanya dengan kwalitas air yang baik dan kwantitas yang banyak dengan lahan seluas 3 x 4 meter, usaha pembenihan ikan Patin sudah dapat dimulai untuk memproduksi bibit Patin ukuran 1”+ sebanyak 100.000 ekor.

5. Ikan Patin multi fungsi
Pada saat masih kecil (2” – 4”) ikan Patin dengan tubuh yang berwarna keperakan akan berkilap bila terkena cahaya, untuk kilauan tersebut ikan Patin diberi nama iridescent shark (warna warni, seperti pelangi)

Ikan Patin Albino

Ikan Patin Albino

Baca juga:
KEP-02-MEN-2007 tentang Cara Budidaya Ikan yang Baik
SNI 7471.3-2009 Ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar

Artemia Instant = VITELLUS

Kultur Artemia bagi pembudidaya ikan adalah rutinitas yang biasa dilakukan sesaat setelah larva menetas.  Untuk menetaskan Artemia secara sempurna diperlukan: air laut atau air tawar dicampur garam non yodium dengan pH 8, airasi yang kencang, sinar lampu, suhu air antara 28o – 30o C, waktu menetas antara 18 – 24 jam dan hasil tetas yang bervariasi, yang pasti tidak akan menetas sampai 100%. Langkah selanjutnya panen artemia: memisahkan cangkang dan nauplli, kemudian membilas nauplli sebelum diberikan ke larva ikan. Belum lagi area yang harus disediakan untuk mengultur artemia dalam jumlah banyak, sampai larva berusia 2 – 6 hari. Artemia Cyst Sebuah trobosan baru dari BernAqua NV, Belgium, telah memproduksi pakan alami berupa ARTEMIA VITELLUS CYSTS. Bahan produk ini sebenarnya adalah Artemia juga, hanya saja VITELLUS atau yolks atau kuning telur Artemia yang dikeluarkan dari cangkangnya dan dikemas dalam kaleng. Secara detail didalam cangkang artemia mengandung embrio yang terbentuk dari sejumlah kecil sel sebagai cikal bakal embrio dan dikelilingi oleh cadangan nutrisi yang sangat banyak yang disebut yolk platelet (Clegg, 2005). Yolk platelet ini tersusun teratur hingga mudah diserap embrio saat proses pertumbuhan dalam cangkang. Yolk platelet berukuran lebar 3 micrometer dan panjang 5 micrometer. Bila yolk platelet ini diekstrak dan diolah menjadi ukuran partikel yang tempat, yolk platelet ini memiliki gizi yang sifatnya mirip atau lebih baik dari Artemia nauplii hidup. Yolk Platelets Cara penggunaan VITELLUS CYSTS cukup mudah langsung diberi makan ke larva tanpa harus mengkultur. Pakan larva VITELLUS CYSTS ini mengapung, tidak mencemari air dan mudah dicerna larva. Produk dikemas dalam kaleng dengan berat 454 gram. Simpan ditempat dingin dan kering, suhu terbaik penyimpanan adalah 4o C, jangan melebihi 20o C dan kadaluarsa dalam waktu 2 tahun. Berikut nutrisi yang terkandung dalam VITELLUS CYSTS. Artemia Cyst Nutrient Untuk keterangan lebih lanjut silakan klik di sini Ade Irwan – INVENDO Akuakultur